MY NAME IS LEE HYUK JAE “Prologue”

IA BERLARI TANPA HENTI. SESEKALI IA MENOLEH, memastikan bahwa tak ada seorangpun yang membuntutinya. Sepasang kakinya yang merenta bukanlah sesuatu yang begitu ia banggakan. Lagipula, berlari juga bukan hobinya.

Matanya yang layu beredar ke sekelilingnya. Ketika ia menemukan setumpuk kotak di pojok jalan, ia memutuskan untuk menjadikan tempat itu sebagai persembunyian sementaranya—lagipula jantungnya menderu tak beraturan. Seperti mesin penggiling tua yang berkarat.

Si pria tua mendekap tubuhnya erat. Napasnya tersengal-sengal sementara suhu tubuhnya semakin memanas.

Ketika ia mencoba untuk menenangkan diri, sepasang telinga besarnya menegang saat bunyi derap saling menggaung di udara. Derap langkah tersebut terdengar semakin mendekat. Si pria tua menekan dadanya. Jantungnya bergemuruh. Peluhnya pun menetes perlahan dari dagu dan pelipisnya.

Derap yang terseret-seret itu berhenti.

Memberanikan diri, si pria tua menelisik dari celah-celah kotak; memastikan bahwa pemilik derap kaki tersebut pergi menjauh darinya. Tapi tidak, dugaannya salah. Dari celah yang sempit dan hampir tertutup bayangan kegelapan malam, pria tua itu menemukan sosok lain yang tengah berdiri tegap di pusat jalanan.

Tubuh si pria tua bergetar hebat.

Itu dia. Sosok yang terbias cahaya remang dari lampu jalan itulah yang berhasil membuatnya meraung-raung di dalam hati—menyebutkan berbagai pengampunan kepada Tuhan supaya Ia menyelamatkannya. Terlebih saat si pria tua menemukan siluet tajam yang digenggam erat oleh sosok menyeramkan tersebut.

Hei, Lee Sooman. Come on, buddy. No need to hide, I can easily find you.” Sosok itu berkata dengan sebuah nyanyian.

Si pria tua semakin meringkuk di tempatnya. Keheningan malam semakin membuat Sooman dilanda ketakutan. Tak ada seorang pun yang melintas dan bodohnya ia tak sempat mengambil ponsel karena sosok tersebut terus berusaha untuk mendapatkannya.

Fine! You can probably get away from me. But next time, I’ll assure you that you can’t.”

Sooman menghembuskan napasnya dengan hati-hati. Sepertinya sosok itu telah menyerah.  Tubuh kurusnya yang menjulang kemudian berbalik, menyeret-nyeret kaki telanjangnya untuk menjauh ke tempat yang lebih gelap.

Yakin bahwa sosok tersebut tak lagi di sana, segera Sooman berlari dan berhenti beberapa blok dari tempat semula. Ia merogoh kantung celananya. Dan betapa bersyukurnya ia saat menemukan koin won yang terselip. Mata sayunya mencari-cari sebelum akhirnya memaksakan tubuhnya yang melemah itu untuk berlari menuju telepon umum di blok selanjutnya.

Sooman memasukkan koin keberuntungannya ke dalam benda berwarna merah tersebut; menekan angka 911 secepat cahaya kemudian menunggu dengan was-was. Setahunya, kepolisian nasional melayani warga negaranya setiap saat. Menghubungi mereka adalah cara yang lebih tepat ketimbang mendobrak pintu penghuni jalanan di pagi buta.

“Saya Lee Sooman dari daerah Cheongnan. Saya ingin melaporkan bahwa terjadi pembunuhan di rumahku. Istriku meninggal dan sekarang akupun dalam bahaya. Dan—”

Pria tua itu terhenti saat manusia di seberang teleponnya menginterupsi. Jantung Sooman semakin berdebar. Sesungguhnya yang diinginkannya kali ini hanyalah laporan singkatnya hingga polisi setempatnya menemukannya.

“Tidak! Dengarkan aku, wanita sialan! Saat ini aku dalam bahaya dan anakku—argh!

Lee Sooman tercekat. Sesuatu yang menyakitkan menyesak punggungnya. Sebelum tubuhnya roboh, ia mencengkeram lengan dingin yang membantu pisau tajam tersebut menembus bagian tubuhnya.

Sosok itu.

Sosok misterius yang selalu dihindarinya tersebut mendapatkannya. Senyumnya membuat sosok itu semakin mengerikan. Wajah tirusnya tak berwarna dan tak ada pengertian lain dari raut wajahnya selain kepuasan yang diterimanya.

“Kau—“ Sooman terbata. Rasa sakit yang menjalar di punggungnya membuat dirinya kehilangan kesadaran.

Sosok itu kemudian menyeringai puas. “You deserved it, buddy.” Ia bergumam kemudian melayangkan pisau di tangannya dan menusuk-nusuk tubuh Sooman berulang-ulang.

-o-

PAGI ITU SEMUA NAMPAK NORMAL DAN BIASA. Saat sinar matahari menyelusup dari sela tirai, pria muda itu terbangun dan mendesah pelan. Sejujurnya ia tidak begitu menyukai pergantian hari. Terutama saat pagi menjelang. Itu berarti bahwa ia harus memulai sebuah hari baru yang dipenuhi kesengsaraan penyiksaan.

Tak ada yang berubah selama belasan tahun ia dilahirkan ke dalam dunia fana ini.

Si pria muda mengusap wajahnya. Jemarinya memijit lehernya pelan. Entah kenapa bagian tubuhnya itu terasa begitu menyakitkan.

Kemudian ia meraba kaki kirinya, membuat benaknya seketika terjaga sepenuhnya. Tak ada besi yang melingkar di sana. Bukan hanya itu, ketika ia memperhatikan sekelilingnya, ia baru menyadari bahwa ruangan ini bukanlah tempat biasa yang ia tempati.

Ini adalah kamar kedua orang-tuanya.

Tak banyak waktu untuk mencari jawaban, ia kembali dikejutkan oleh pakaiannya yang dilumuri darah kering.

“Apa ini?” tanyanya pada diri sendiri.

Ia beranjak dari tempatnya dan kembali tercengang saat melihat sebagian lantai tersebut dipenuhi oleh darah yang berceceran. Pria itu mundur hingga ke pojok ruangan. Tubuhnya merosot. Otaknya kini berputar-putar dengan cepat.

Apa yang telah terjadi?

Ketika si pria muda masih disibukkan oleh pikirannya, ia mendengar suara pintu ruangan tersebut dibuka paksa. Beberapa orang berseragam kepolisian mengarahkan pistol mereka kepadanya.

“Ada apa ini?” tanyanya kebingungan.

Tanpa mempedulikan pertanyaannya, sepasang polisi berbadan tegap mencengkeram kedua lengannya dan memastikan bahwa pria itu tak memberikan perlawanan.

“Tunggu. Apa yang kalian lakukan?”

“Anda kami tangkap karena melakukan praktek pembunuhan,” ucap seorang polisi dengan beige aneh di dadanya.

“Pembunuhan? Tunggu, kalian salah tangkap. Aku tidak mengerti!” kilah si pria lantas berusaha melepas diri dari sepasang pria yang mencengkeramnya.

“Jelaskan hal itu di kantor polisi,” ucap si Kepala polisi kemudian menyuruh kedua anak buahnya menyeret pria itu keluar.

“Aku tidak mengerti! Sungguh! Lagipula siapa yang terbunuh?” Si pria masih mengelak seraya menatap mata-mata mereka yang tertuju padanya.

“Tadi malam Lee Sooman-ssi dan Lee Hyora-ssi dibunuh dan semua bukti yang ada mengarah padamu,” jelas si Kepala polisi yang kini berjalan di hadapannya.

“Tidak! aku tidak melakukannya! Ini salah paham! Aku semalaman tidur di sini dan tidak kemana-mana karena ayah mengunciku di kamar!” Ungkap si pria muda, membela diri.

Kepala polisi menghentikan langkahnya. “Lalu bagaimana kau menjelaskan darah di pakaianmu dan sebilah pisau di sana?” terangnya lalu menunjukkan benda tajam yang ia masih tergeletak di samping ranjang.

Pria itu menggeleng. Seingatnya, ia tak menemukan pisau atau benda apa pun di di sekitar ruangan. Mengapa tiba-tiba polisi menemukannya?

“Aku tak tahu. Tolong jangan tangkap aku!” pinta si pria, setengah memohon.

Si Kepala polisi memerintahkan anak buahnya untuk menyeret pria itu dari ruangan. Si pria muda mengerang. Masih mengumandangkan alibinya yang kuat dan tak terbantahkan

Hyung!” Pria itu merengek pada seorang pria muda lain yang bersembunyi di balik pembatas tangga. “Katakan pada mereka bahwa aku bukan pembunuhnya! Aku tidak melakukannya!” erang si pria, berusaha meyakinkan pria lain yang merupakan kakak kandungnya sendiri.

Pria muda itu hanya menatapnya datar. Ia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

Hyung! Katakan pada mereka aku tidak bersalah! Aku dijebak, hyung! Tolong aku!” Si pria muda semakin histeris dan terus berusaha melepaskan diri.

Para polisi menggiringnya paksa, membuat pria muda itu meringis kesakitan. “Tidak! Lepaskan aku!”

Di lain pihak, beberapa petugas forensik tengah mengamati mayat seorang wanita tua yang tergeletak di ruang tengah. Terdapat beberapa sayatan di perut dan juga dadanya. Pria muda yang dipanggil hyung itu mengamati dari kejauhan. Ia meringis tatkala salah satu petugas mencoba menyatukan organ di dalam perut si mayat .

Di tengah kejijikannya, hyung itu menyeringai. Ia berjalan menuju bagian luar rumah. Langkahnya terhenti ketika ia menemukan sebuah foto keluarga dimana terdapat sepasang suami istri dan kedua anak laki-laki mereka tengah tersenyum riang.

Thank you,” bisiknya seraya memandang foto tersebut.

…and the story begins….