STEP FORWARD (i)

Hampir seperempat jam, ia masih memerhatikan poster selebar bahu di hadapannya bersama kedipan matanya yang lambat. Pupilnya bersinar kecokelatan, menelusuri rangkaian warna dan garis-garis biru yang mendominasi. Kuku di ujung telunjuknya yang dipolesi cat merah muda itu menekan-nekan beberapa tanda; terkadang sengaja ia mengajak jemarinya bergesekan hingga menimbulkan derit kertas yang hampir robek.

Ia mendesah, menyingkirkan dengan kasar poni rambut yang menjuntai menyembunyikan bulu mata lentiknya. Keengganan tersebut ternyata masih berusaha untuk memenangi pertandingan singkat di hatinya. Tak disangka, semangatnya tidak berhasil melampaui ketakutannya.

 

“Sedang mempertimbangkan berjuta kali untuk mengikuti audisi itu, bukan?”

Luna menyikut bahunya, melempar sekilas kerling genit yang selalu gadis itu tujukan pada petugas keamanan di gerbang kampus.

Ia membalas dengan cemoohan, kembali tertuju pada poster yang dipenuhi tipografi murahan. “Waktuku hanya akan terbuang sia-sia,” sanggahnya, lalu beranjak menjauh.

Luna menyusul langkahnya setelah merobek kertas tersebut. Satu tangannya ia letakkan di pundak Ikha, membuat yeoja yang kini tengah mengunyah permen karet tersebut menoleh padanya.

“Kurasa aku tahu mengapa kau tak berniat untuk mengikuti audisi itu,” goda Luna. Pantatnya sengaja menyenggol pantat Ikha hingga membuat yeoja itu agak tersungkur di tengah langkah kakinya.

Ikha hanya menyeringai lalu meletupkan permen karetnya. “Kalau begitu jangan tanyakan hal itu lagi,” ucapnya, memberi penekanan pada apa yang ia katakan.

“Aku akan ikut. Mungkin aku juga akan mengajak Amber dan Sulli,” jelas Luna. Jemarinya kini menari-nari di atas keypad ponselnya. Sepertinya ia serius untuk menghubungi kedua temannya untuk mengikuti audisi.

“Audisi itu memang bidangmu. Ikuti saja. Tapi suatu hari jangan memaksaku untuk menemanimu audisi,” rajuk Ikha. Ia menghentikannya tepat di depan halte kampus, menunggu bus selanjutnya.

Arayo. Tapi kau juga jangan meminta tanda tanganku jika suatu hari nanti aku akan menjadi bintang besar setelah berhasil menjadi salah satu diantara pemain drama musikal itu,” oceh Luna tak mau kalah.

Ikha hanya tersenyum simpul menanggapi Luna. Ia memasang ear-phone pada kedua telinganya, memutar lagu kesukaannya, kemudian berjalan masuk ke dalam bus yang berhenti tepat di depannya. Sengaja ia memilih bangku dekat jendela agar bisa melihat pemandangan sepanjang perjalanan menuju rumah.

Drama musikal.

Lagi-lagi Ikha menyeringai mengingat perbincangan singkatnya dengan Luna barusan. Ia sudah mengubur dalam-dalam semua mimpinya. Jadi apa lagi yng patut untuk diperjuangkan? Saat ini ia menikmati apa yang dijalaninya—meski hal itu terasa cukup sulit. Dan tak ada yang boleh menggoyahkan apa yang sudah diputuskannya.

Ia merogoh kantung cardigan abu-abu miliknya, mengambil ponsel dengan hiasan gambar Angry Bird tersebut kemudian menekan speed dial. Hanya menunggu beberapa detik saja dan telefonnya langsung tersambung. Seseorang di seberang sana sempat menyapa, namun Ikha lebih memilih untuk bicara pada intinya.

“Oppa, dia kembali…”

and the story begins