NO TITLE

Pagi itu suasana di dalam ruangan sangat sepi. Hanya terdengar bunyi detak jarum dari jam berukuran mini di atas meja dekat ranjang. Cahaya mentari berusaha merengsak masuk ke dalam ruangan. Namun karena terhalang tirai soft-cream yang membentang di sepanjang jendela, cahaya tersebut tidak sepenuhnya menerangi ruangan yang hanya diterangi oleh lampu duduk dimana benda itu menjadi satu-satunya alat penerangan disana.

Wanita itu langsung terjaga ketika mendengar gema yang mengusik mimpinya. Ia mengaduh sambil menggosok kedua kelopak matanya. Jemarinya menggapai ponsel, memastikan bahwa tak ada yang meninggalkan pesan sejak ia terlelap tadi malam.

Setelah meletakkan kembali ponselnya, lengan kokoh di balik punggungnya menjerat  tubuhnya dengan kelembutan.  Wanita itu hanya mendengung lemah, memutar tubuhnya berhadapan dengan pria bertelanjang dada di sampingnya sementara si pria mengerucutkan bibir.

“Hanya mengecek saja, tak ada yang penting,” gumamnya, kemudian melayangkan sejumput ciuman singkat tanpa aba-aba.

Onew menggeram manja, merubah pelukannya menjadi sebuah pemaksaan, membuat tubuh telanjang mereka saling menyentuh satu sama lain. Wajahnya memanas. Okay, ini memang bukan kali pertama mereka saling bersentuhan. Namun Onew selalu dengan mudah membuat jantungnya berdebar-debar.

Myra memandang wajah Onew seksama. Pria itu masih mengeratkan kelopak matanya. Bibirnya sedikit melengkung membentuk senyum tipis. Dan tak lupa, rambut pirang kecokelatan yang sangat disukainya berantakan, membuat Onew terlihat semakin tampan.

Telunjuk Myra begerak menelusuri wajah Onew. Mengusap kelopak mata, pipi, dan dagunya tanpa terburu-buru. Tadinya ia ingin memarahi pria itu karena sudah menghalaunya untuk mengangkat telepon. Tapi hal itu segera terlupakan saat ia menemukan sosok Onew disampingnya. Ya. Dunianya seolah teralihkan oleh pesona Onew.

“Aku tahu kalau kau sedang memuji ketampananku. Iya ‘kan, sayang?” bisik Onew tepat di depan wajahnya.

Myra hanya tersenyum simpul. Jemari yang semula menjelajahi wajah Onew kini bergerak memainkan rambut prianya yang, harus diakui, lebih terawat dari rambutnya sendiri.

“Aku harus bersiap-siap sekarang atau aku akan terlambat,” ucap Myra, mengakhiri kegiatannya mengagumi apa yang ada pada wajah Onew.

Ia mengangkat tubuhnya dan bersiap untuk bangun. Sayang, Onew berkehendak lain. Tangannya masih tak ingin terlepas dari tubuhnya. Otomatis wanita berambut hitam kecokelatan tersebut tak dapat beranjak dari tempat tidur. Lagi, Myra menatap Onew yang masih mengatupkan mata. Pasti Onew menuntut sesuatu.

Morning kiss, sayang,” gumamnya manja.

Terkaannya tepat.

Bola mata Myra berputar seraya mendengus pelan. Ia meletakkan satu telapak tangannya pada pipi Onew, mengecup bibir si pria hanya beberapa detik saja. Hanya mengecup. Tidak intens seperti yang biasa dilakukannya setiap hari. Dan jelas, hal itu membuat Onew membuka mata serta mengerutkan alis. Raut kekecewaan terpancar dari wajahnya.

“Aku akan memberinya lagi setelah aku siap. Okay?” Myra mengedipkan mata, seolah mengerti apa arti dari ekspresi wajah Onew.

Senyum pria itu mengembang. Membuat matanya menyipit seperti seekor kucing yang sedang menguap.

“Sayang,” sahut Onew, menghentikan langkah kaki Myra. Wanitaitu memutar kepala lalu mengangkat sebelah alisnya seolah berkata ‘ada apa lagi, sayang?’.

Onew memperlihatkan gigi-giginya dan kedua matanya semakin tak terlihat. “Kau tak perlu memakai bed cover itu untuk menutupi tubuhmu,” godanya.

Myra tersenyum seraya mengibas rambut sebahunya. Sengaja menggoda suaminya itu dengan memperlihatkan kedua bahunya yang telanjang.

“Kau yakin aku juga tidak perlu untuk menemanimu di dalam sana?” tawar Onew tepat sebelum Myra sepenuhnya menutup pintu kamar mandi.

You wish,” ucap Myra dari dalam.

Onew terkekeh seraya menaikkan selimut tipis yang menutupi tubuhnya itu hingga sebatas leher. Tawa Onew berubah menjadi senyum licik saat ia memperhatikan ponsel Myra yang sempat berdering mengganggu paginya. Ia menggeleng. Tiga panggilan dari Taemin, teman satu kantor Myra, dan tujuh pesan dari atasannya. Jari Onew bergerak lincah di atas keypad, mengetik sesuatu yang mampu membuat Myra mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor.

***

Kedua tangan Myra sedari tadi sibuk membelit syal bermotif bunga-bunga di lehernya. Ia sangat terburu-buru karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.38  pagi. Selang beberapa detik kemudian, tangan Myra bergerak mengambil dua lembar roti yang muncul dari pemanggang lalu meletakkannya di atas piring. Kemudian matanya beralih pada mesin pembuat kopi.

Meskipun terlihat rumit, Myra sudah terbiasa melakukan kegiatan tersebut. Karena semenjak menikah dengan Onew, ia sudah meyakinkan hati bahwa dirinya akan menjadi istri yang baik —disamping pekerjaannya yang cukup padat. Onew adalah seorang aktor musikal. Bukanlah seorang anggota boyband atau pemain drama. Ia hanya bertemu Onew setiap pagi dan malam saat pulang bekerja. Jadi ia harus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melayani sang suami dengan baik.

“Oh!” pekik Myra ketika mendapati sepasang tangan melingkar manis di kedua pinggangnya.

Kepalanya memutar beberapa derajat saat Onew meletakkan dagu pada bahu miliknya. Pria itu mengokohkan pelukan dengan menarik tubuh Myra mendekat padanya. Ia hanya terkekeh pelan. Onew memang selalu seperti itu —pagi hari ia akan berubah seperti anak kecil  yang haus akan kasih sayang dan pada malam hari ia sangat liar seperti harimau hutan.

Hentikan, sayang,” pinta Myra dengan halus. Ia tidak ingin Onew membuat blouse yang dipakainya mengusut.

“Aku sudah menghubungi Taemin kalau kau terkena demam. Jadi kau tidak perlu pergi bekerja hari ini,” seloroh Onew tanpa dosa.

Myra memutar tubuhnya menghadap Onew, membuat pria itu menegakkan kepalanya yang semula ia benam di lehernya. “Kenapa kau malah—“

Kalimat Ikha diinterupsi oleh Onew saat ia serta merta mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Myra. “Aku hanya ingin menghabiskan hari ini bersamamu. Apa itu salah?” rajuknya, bertingkah manis seperti anak kecil.

Bola mata Myra berputar. Ia kalah telak jika Onew sudah memasang tampang seperti itu. Seolah-olah Onew mempunyai daya magis yang kuat agar ia tidak bisa menolak permintaannya. Myra memundurkan tubuh agar menyender pada kitchen-set dan Onew mengikuti pergerakannya. Sepertinya pria ini tak ingin menyisakan jarak sedikitpun antara mereka berdua.

Myra lagi-lagi terkekeh melihat tingkah suaminya itu. Setidaknya Onew tak lagi telanjang seperti yang ia lihat tiga puluh menit lalu. Kini ia sudah terbalut kaus putih tipis serta boxer ungu bertuliskan ‘raise me up’. Dan ah, entah kenapa sepertinya Onew sedikit menyisir rambutnya —terlihat lebih rapih jika dibandingkan saat ia masih di atas tempat tidur.

“Kalau begitu sebutkan saja apa yang kau mau,” ucap Myra langsung pada intinya. Matanya sempat memperhatikan mesin pembuat kopi. Hanya sekedar memastikan bahwa mesin itu sudah tidak menyala.

“Pertama-tama—“ Onew memberi jeda pada kalimatnya dengan memperhatikan wajah Myra. Kedua tangannya bergerak melepas syal yang semula Myra pakai. Setelah itu, Onew membuka dua kancing blouse yang melekat pada tubuh bagian atasnya, ia tidak suka jika melihat Myra memakai pakaian tertutup di hadapannya.

“—kau harus memberiku sebuah ciuman manis,” gumam Onew sambil melepas jepitan di kepala Myra, membuat rambut sebahunya menjuntai indah.

Myra mendengus. Ia sudah menerkanya. Onew memang selalu mengawali apapun dengan sebuah ciuman. Dan tidak sulit baginya untuk mengabulkan permintaan Onew. Jarinya meraup dagu Onew, menariknya perlahan seraya mendekatkan wajahnya sendiri pada wajah Onew.

Myra sempat menahan napas terlebih dahulu ketika hidung mereka saling bergesekan. Entah kenapa ia merasakan seperti ada sesuatu yang mengaduk perutnya setiap kali ia akan berciuman. Ia memantapkan ciumannya dengan melumat bibir Onew saat bibir mereka saling bertemu. Onew menyukainya. Sangat menyukainya.

“You’re so fine,” puji Onew. Membuat kedua pipi Myra berubah warna.

“Aku belajar darimu,” akunya, disertai sebuah tawa kecil.

Onew meraih beberapa helai rambut Myra kemudian menyelipkan di balik telinga mungilnya. Telunjuknya sempat menelusuri bentuk bibirnya. Raut wajah Onew seketika berubah sendu saat terhenti pada kedua bola mata cokelatnya.

“Maaf, sayang,” ucap Onew setengah berbisik.

Myra memiringkan kepalanya, “Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf padaku? Kau tidak melakukan kesalahan apapun, sayang.”

Onew menunduk sejenak. Bibirnya mengeluarkan senyum tipis yang tak begitu kentara. Kedua tangannya yang semula memainkan rambut Myra kini beralih ke perut istrinya itu. Ia mengusap permukaan perutnya dengan halus dan lembut. “Aku telah mengecewakanmu,” bisiknya.

Myra meraih kedua tangan Onew yang masih asyik mengelus permukaan perutnya kemudian menggenggamnya cukup kuat. Hangat. Hanya itu yang dirasakan oleh Onew. Myra memang mampu memberikan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari orang lain. Meskipun kehangatan itu ia dapat hanya melalui genggaman tangannya.

“Tidak ada yang perlu diungkit lagi, sayang. Yang lalu biarlah berlalu. Okay?” tutur Myra. Nadanya sangat halus dan hal itu —lagi-lagi— mampu membuat Onew merasa tenang.

“Tapi jika kecelakaan itu tidak pernah terjadi, kita pasti—“

Ssstt!

Segera Myra menghentikan Onew. Ia paling tidak suka jika siapapun —entah itu anggota keluarga ataupun temannya sendiri— mulai mengungkit kecelakaan yang sempat menimpanya satu tahun lalu.

Kecelakaan itu terjadi tepat setelah Onew selesai melakukan pertunjukan drama musikalnya. Myra mengatakan bahwa ia tengah mengandung anak dari suaminya itu hingga pada akhirnya Onew memutuskan untuk membawa Myra ke rumah orang-tuanya di Ilsan. Berita bahagia itu tidak boleh terlewatkan oleh keluarga besarnya bukan? Sayangnya, di tengah perjalanan, mobil yang dikendarai Onew menabrak sebuah truk. Nyawapun menjadi taruhannya. Salah satunya adalah jabang bayi yang dikandung Myra.

“Semua itu bukan salahmu, sayang. Harus berapa kali kukatakan hal itu padamu, hmm? Hanya kecelakaan dan itu memang sudah takdir kita. Untuk masalah bayi —hmm— kita masih bisa membuatnya lagi bukan?” ucap Myra setengah menggoda.

Onew mengacak rambut Myra saking gemasnya. wanita ini memang selalu bisa mencairkan suasana. “Kalau begitu berjanjilah satu hal padaku,” pintanya.

Myra mengangkat satu alisnya.

“Karena aku selamanya tidak bisa membahagiakanmu, jadi kau harus bahagia tanpa aku.” ucap Onew mantap.

Kekehan Myra menggema di seluruh sudut dapur. “Kau mengatakan hal itu seolah-olah akan pergi meninggalkanku, sayang. Aku bahagia selama kau ada disampingku. Hanya itu,” jelasnya, masih tertawa mendengar pernyataan Onew yang menurutnya tidak masuk akal.

“Kau tahu? Tetangga sebelah cukup tampan untukmu,” katanya lagi. Onew kemudian pura-pura meringis saat Myra melayangkan pukulan ringan pada lengannya.

“Ya! Ingat! Aku sudah bersuami dan suamiku itu bernama Onew!” rutuk Myra hampir hilang kendali. Serta merta Onew menarik tubuhnya kemudian memeluk wanita itu dengan erat. Ia tahu bahwa selama ini ia tidak salah menikahinya. Myra balas memeluk Onew. Setidaknya pagi ini ia tidak menyesal untuk tidak datang ke tempat kerjanya.

“Sayang,” gumam Myra di sela kegiatannya memeluk Onew.

Hmm,” Hanya itu balasan Onew.

“Entah kenapa hari ini aku sangat merindukanmu,” bisiknya, makin mengeratkan pelukannya. Sekarang ia tak peduli jika blouse-nya mengusut. Yang penting saat ini adalah ia dapat merasakan kehangatan Onew yang serasa telah lama tak didapatkannya.

“Aku mencintaimu,” ucap Onew tak kalah bergumam. Kata itu sengaja ia lontarkan agar dapat menjawab semua kerinduan yang Ikha rasakan sekarang.

***

Bunyi dering ponsel Myra sedari tadi terus menggema mengusik ketenangannya. Ia sengaja untuk tidak mematikan ponselnya karena ingin mendengar celotehan yang biasa ia dengar setiap paginya. Ponsel itu sempat terhenti beberapa detik lalu berdering kembali. Namun sampai dering yang ketiga kalinya, ia tak mendengar suara yang ingin ia dengar.

Dengan berat hati, Myra membuka kelopak matanya. Yang pertama kali ia lihat pagi itu adalah tempat kosong yang ada disampingnya. Ia sempat terdiam selama beberapa menit. Tangannya bergerak mengusap permukaan sprai disampingnya dengan tatapan hampa.

Puas menatap tempat kosong tersebut, ia pun beranjak dari pembaringannya. Kepalanya seketika pening saat berusaha bangun hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu di tepian tempat tidur. Myra meraih ponselnya lalu mendapati tiga panggilan dari Taemin dan tujuh pesan dari atasannya. Ia mendesah. Untuk kali ini ia merasa bosan dengan pekerjaannya itu.

Tangan Myra menari-nari di atas keypad, mengetik sebuah pesan yang sengaja ia kirimkan pada Taemin. Setelah melihat kalender yang ada disamping tempat tidurnya, ia memutuskan untuk tidak masuk hari ini. Hari ini adalah hari yang sangat penting dalam hidupnya. Jadi moment ini jangan sampai terlewatkan.

Sekali lagi, mata Myra bergerak menelusuri sekeliling kamar. Hening. Tak ada seorangpun yang ada disana kecuali dirinya. Wanita itu mendengus. Mengibas poninya seraya beranjak menuju kamar mandi. Ia lupa kalau selama setahun terakhir ini ia hanya sendirian. Tak lagi bersama orang yang dicintainya.

Syal bermotif bunga-bunga menjadi pilihannya hari ini setelah menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam di depan lemari hanya untuk mengutak-atik seluruh pakaiannya. Entah kenapa syal itu mengingatkannya pada sesuatu. Setelah itu ia berjalan menuju dapur. Matanya hanya menatap kosong cangkir kopi yang sedari kemarin belum dibersihkannya. Ia kembali tersenyum tipis ketika mendapati dapur yang sangat ia banggakan begitu kotor dan berantakan.

Myra memutar tubuhnya menuju ruang tamu. Ia tak ingin berlama-lama di rumah ini. Rasanya begitu menyakitkan jika mengingat hal-hal indah yang pernah ia lewatkan disini. Sebelum benar-benar menutup pintu rumah, Myra sempat menatap sebuah bingkai foto yang memperlihatkan dirinya dan Onew saling berpelukan. Ia masih ingat, foto itu diambil ketika mereka berbulan madu di Maldive. Puas menatap foto itu dari kejauhan, iapun beranjak dari tempatnya dan berlalu menuju suatu tempat.

***

Seikat bunga yang baru saja dibeli Myra digenggam dengan cukup erat. Langkahnya pelan namun pasti menuju hamparan gundukan pada tanah lapang di hadapannya. Jejak kakinya terhenti di depan sebuah batu nisan yang masih terlihat bersih dan terawat. Sejenak ia menatap nama yang tertera pada benda padat itu, mengusapnya hingga ke celah-celah terkecil.

Ia menyunggingkan senyum seraya meletakkan bunga yang sengaja ia bawa di dekat batu nisan. Matanya serasa memanas. Dan benar saja, sedetik kemudian setetes air mata mendarat mulus di pipinya. Myra menekan dadanya sendiri dengan maksud untuk menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. Sesak. Ya. Dadanya serasa sesak setiap kali mengingat bahwa orang yang dicintainya tak lagi menemaninya menjalani hidup.

Myra mengusap air matanya perlahan. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, berusaha untuk menenangkan pikiran dan juga emosinya. Tubuhnya ia rendahkan agar sejajar dengan batu nisan. Nama Onew yang terukir pada batu tersebut lagi-lagi mampu membuat Myra terisak.

“Sayang,” gumamnya, setengah terisak. Airmatanya semakin deras mengalir di pelupuk matanya dan hal itu membuatnya kesulitan untuk melihat. Ia mengusap matanya berkali-kali namun tetap saja air itu menggenangi kedua matanya.

“I miss you,” ucapnya lirih. Ia—dengan menghilangkan rasa malunya—menangis tersedu di hadapan nisan Onew.

“Sepertinya tadi malam aku memimpikanmu lagi. Tapi mimpi itu rasanya begitu nyata,”

Myra mengeluarkan selembar tisu dari tasnya seraya mengelap ingus yang mulai mengalir melewati hidungnya. Ya. Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, ia terus mengingat mimipnya tadi malam.

“Kau bicara denganku, memelukku, bahkan menciumku seperti yang biasa kau lakukan dulu,” imbuhnya. Suara Myra bergetar disertai isakan tangisnya.

Ia memang memimpikan Onew tadi malam. Mimpi itu selalu datang setiap kali ia merindukan Onew. Mungkin pria itu ingin menghibur sang istri dari atas sana. Namun justru yang didapat Myra adalah kesedihan. Karena ketika ia bangun tidur, wajah Onew tak lagi menjadi hal pertama yang dilihatnya.

Hari ini adalah tepat satu tahun pasca meninggalnya Onew. Kecelakaan tahun lalu telah berhasil mengambil nyawa pria yang sangat dicintainya serta jabang bayi yang dikandungnya.

“Kapan kau akan kembali?” tanyanya skeptis. Ia tahu pertanyaan itu sangat bodoh dan selamanya tak akan terjawab oleh siapapun. Onew tidak akan kembali kecuali jika pria itu tiba-tiba bangkit dari kubur setelah satu tahun ia terbaring di dalam tanah.

“Aku tahu kau disini,” ucap seseorang dari balik punggung Myra.

Myra hanya memutar kepala beberapa derajat ketika si pemilik suara memutuskan untuk berlutut di depan batu nisan seperti yang dilakukannya saat ini. Ia meletakan buket bunga yang dibawanya tepat disamping bunga yang diletakkan Myra.

“Lee Taemin?” tanya Myra, meyakinkan bahwa orang tersebut memang benar Taemin.

Taemin hanya melemparkan senyum manis. Tak mempedulikan ekspresinya yang sulit diterka. Myra memang tak menyangka jika pria berparas cantik ini akan datang kemari. Apa dirinya tahu jika hari ini ia tidak masuk kerja untuk datang ‘menjenguk’ Onew?

“Sudah satu tahun bukan?” terka Taemin. Ia memberanikan diri mendekatkan jemarinya untuk mengusap air mata Myra yang mulai membekas di pipinya.

Myra memundurkan wajah perlahan agar tidak membuat Taemin kecewa. Ia tidak ingin memberikan sedikitpun pada pria yang dikenalkan ibunya beberapa minggu lalu. Taemin memang mengatakan secara gamblang bahwa ia tertarik padanya. Tapi toh Myra masih tidak bisa meninggalkan Onew demi pria lain. Usaha ibunya tetap akan sia-sia.

“Sepertinya kau belum melupakannya,” tanya Taemin, membuat Myra menundukkan kepala seraya menatap nisan Onew dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Sederhana saja. Karena aku sangat mencintainya,” Telapak tangannya mengusap wajah cukup lama untuk menghilangkan sisa air mata yang hampir membasahi seluruh permukaan wajahnya.

Taemin menggenggam satu tangan Myra kemudian meremasnya. “Jangan terlalu larut dengan kesedihanmu, Kang Myra. Kau harus menata kembali kehidupanmu,”

“Namaku Lee Myra, Taemin-ssi.” Jelasnya, menekankan.

“Kalau begitu kau harus menerima tawaranku dulu. Setidaknya jika kau menerimaku, kau tidak perlu mengganti marga,” goda Taemin.

Myra hanya mendengus pelan. Harus diakui, Taemin memang tidak pantang menyerah meskipun ia selalu menolaknya.

“Haruskah kukatakan berkali-kali padamu, Taemin-ssi? Aku masih mencintai Onew dan—“

“Aku tahu. Ini hanya masalah waktu. Kau hanya perlu waktu untuk membiasakan diri denganku,” potong Taemin. Senyumnya mengembang sempurna pada wajah cantiknya. Dan hal itu membuat Myra menarik kesimpulan bahwa pria ini memang serius dengan ucapannya.

***

Myra berjalan dengan lemah ke arah pintu apartemen. Saat langkahnya terhenti di depan pintu, desahan napas beratnya kembali terdengar. Ia harus menjalani hari-harinya sendirian lagi tanpa Onew. Sang ibu memang memaksanya untuk tinggal bersama. Tapi tempat ini adalah satu-satunya tempat baginya untuk mengenang suaminya. Jadi ia tak ingin meninggalkan semua kenangan manisnya itu dengan cuma-cuma.

“Dammit!!” pekik seseorang tak jauh dari tempat Myra berdiri.

Myra mengerutkan alis ketika menemukan seorang pria tengah berkutat dengan pintu samping apartemen miliknya. Penasaran, iapun menghampiri pria berambut pirang kecokelatan tersebut. Mungkin saja ia pencuri atau semacamnya bukan?

“Maaf,” sapa Myra sesopan mungkin.

Pria berambut pirang itu melirik sekilas kemudian membungkukkan diri ketika mendapati Myra tengah berdiri tegap di sampingnya. “Tak apa. Tapi… bisakah anda menolong saya membuka pintu ini?”

Alis Myra seketika mengkerut. Pria itu seolah mengerti apa arti dari ekspresi wajahnya. Iapun tersenyum seraya mengibas poni kecokelatannya dengan anggun. “Saya penghuni baru apartemen ini. Jadi… saya tidak begitu mengerti bagaimana cara membuka pintu dan—“

“Oh, syukurlah,” tukas Myra. Setidaknya pria ini bukanlah perampok atau semacamnya. Gawat jika ia harus berhadapan dengannya. Ditambah lagi suasana di sekelilingnya begitu sepi.

Tanpa ragu, iapun mengajari si pria bagaimana membuka pintu apartemen yang memang cukup membingungkan jika dibandingkan apartemen lain di daerah Apgujung. Awalnya ia sempat memandang remeh karena pria itu seperti seorang wanita—karena ia memakai aksesoris serba pink yang mencolok. Tapi ketika ia melihat pria itu lebih dekat, Myra menemukan sisi maskulin.

“Karena kau telah membantuku membuka pintu, aku mengundangmu untuk minum teh sore ini. Bagaimana?” tawarnya.

Myra memasang wajah pura-pura berpikir. “Hmm, tidak terlalu buruk juga.” Ucapnya sambil mengangguk pelan.

“Key, namaku,” pria itu mengulurkan tangannya pada Myra.

“Lee Myra,” sambil menyambut tangan Key.

Tepat setelah itu, Key masuk ke dalam apartemennya sendiri. Meninggalkan Myra yang masih terdiam di tempatnya. Saat Myra hendak beranjak, tubuhnya seolah membeku di tempat. Ia ingat. Setahunya, apartemen yang ditempati Key saat ini selalu kosong selama dua tahun terakhir. Serta merta ia teringat dengan mimpinya tadi malam bersama Onew. Dahinya mengerut dan alisnya menyatu.

“Apakah orang yang kau maksud itu adalah dia?” tanyanya pada diri sendiri.

— Selesai —

Header 01 (Cut)