STEP FORWARD (iii)

“One, two, three, left!”

“Berputar, pasang kuda-kuda, dan.. oh tidak. Jinyoung, tanganmu harus terlentang!”

“Ya! Sudah berapa kali kukatakan untuk berjinjit pada gerakan berikutnya, Han Sora!”

“Ga In! Perhatikan posisimu!”

Eunhyuk sedari tadi terus saja melontarkan deretan kalimat pada anak didiknya yang telah ia ajar kurang lebih dua bulan terakhir. Rasanya ia mulai lelah meneriaki mereka setiap kali salah melakukan gerakan sekecil apapun. Ia memijat keningnya sambil berkacak pinggang. Jika bukan karena uang, ia tidak ingin mengajar di tempat usang ini.

“Seonsaeng-nim,” sapa seseorang dari balik pintu.

Eunhyuk menoleh dan mendapati Park Myeongsu, pemilik sanggar tari, tengah berdiri di ambang pintu. Pria berambut pirang tersebut mengatupkan mulut rapat-rapat. Entah kenapa ia harus menahan tawa setiap kali menatap Myeongsu. Perawakannya yang kecil-berisi serta matanya yang sangat hypocrative membuat pria yang kini menginjak umur tiga puluh sembilan itu lebih mirip seekor hyena ketimbang manusia sejenisnya.

Ya, bos,” sahut Eunhyuk seraya menghampiri Myeongsu.

Ia mengikuti kemana arah pria paruh baya itu pergi dengan mengekorinya dari belakang. Myeongsu sempat membenahi letak kacamata bingkai hitamnya sejenak sebelum akhirnya menyodorkan secarik kertas pada Eunhyuk.

Pria itu meraih kertas tersebut kemudian mencermati apa yang tertulis di atasnya. Alisnya bertautan. Membuat wajah usia dua puluh lima miliknya nampak seperti ahjussi beranak dua.

Apa ini?” Eunhyuk menampakan deretan tulisan tersebut pada Myeongsu.

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa kau memang mengikuti audisi itu?”

Nope,” tandasnya cepat.

Myeongsu menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa seraya menghembuskannya dengan kasar. Punggungnya ia senderkan pada bangku. Tubuhnya nampak lunglai. Masalahnya, siapa yang tidak mengenal Sound Entertainment? Agensi paling terkenal di Seoul yang telah melahirkan artis-artis musical ternama dalam negeri.

Myeongsu juga tak bisa memungkiri fakta bahwa Eunhyuk adalah salah satu pria yang berhasil lolos audisi. Sayangnya, pemilik sanggar tari itu sangat tertarik pada Eunhyuk. Pria bertubuh skinny itu begitu berbakat. Jarang ada pelatih tari berbakat dengan tarif yang murah seperti Eunhyuk.

Lalu?” Myeongsu mengucapkan kata itu agak hati-hati.

Eunhyuk mengerucutkan bibir. “Entahlah. Aku tidak pernah ikut audisi itu. Lagipula aku bukan tipe manusia yang mudah tertipu,” dengusnya seraya meremas kertas tersebut tak peduli dan membuangnya ke tempat sampah.

Ada sedikit kelegaan pada diri Myeongsu ketika Eunhyuk sama sekali tak tertarik dengan surat kelulusan audisi tersebut. Setidaknya ia tidak akan kehilangan salah satu pelatih dance di sanggar tarinya dalam waktu dekat.

***

Beberapa murid sanggar tari membungkuk sopan pada Eunhyuk ketika mereka pamit untuk pulang. Dua jam menghabiskan waktu untuk latihan dalam rangka Dance Competition yang akan diadakan di daerah Gwangju ternyata cukup melelahkan. Ya, melelahkan karena Eunhyuk terus saja meneriaki mereka yang sulit menghafal gerakan meski sudah satu bulan yang lalu gerakan itu diajarkan.

Eunhyuk mengeratkan jaket motif harimau dan masker saat melangkah keluar dari gedung berlantai tiga tersebut. Baru saja ia melewati belokan pertama, sebuah mobil merk Toyota memblokir jalannya. Ia merutuki mobil tersebut sambil menendang ban depan mobil. Saat si pemilik mobil itu menampakan diri, serta merta Eunhyuk menajamkan penglihatan.

Wajah itu sama persis dengan wajah seseorang yang begitu dikenalnya—dulu. Si pengemudi mobil mendekati Eunhyuk sedangkan pria itu masih terpaku di tempatnya. Tidak, bukan ini yang diharapkannya—bertemu dengan orang yang paling tidak ingin dilihatnya di dunia.

“Lama tak berjumpa,” sapa si pengendara mobil.

Eunhyuk mendengus saat orang itu menyodorkan telapak tangannya—mengajak untuk berjabat tangan. “Kau masih berani menampakan batang hidungmu di hadapanku?” rutuknya.

Orang itu menggedikkan bahu. “Aku hanya ingin menyapa teman lama. Apa itu salah?”

Bola mata Eunhyuk berputar. “Jangan harap aku akan menjadi bagian dari drama musikalmu,” ucapnya, seolah mengerti benar akan kedatangan orang tersebut.

“Aku tahu kau butuh sejumlah dana untuk menghidupi keseharianmu. Aku hanya sekedar membantu,” tawar orang tersebut.

“Kejadian tiga tahun lalu sudah cukup membantuku, Lee Donghae. Pergilah. Usahamu sia-sia,” decak Eunhyuk pada Donghae, si pengemudi Toyota.

“Aku hanya ingin memperbaiki hubungan persahabatan kita, Lee Hyuk Jae.” Ujar Donghae, masih bersikukuh dengan tujuan utamanya.

“Tidak ada yang perlu diperbaiki Donghae-ssi. Dan lagi, aku tidak pernah menganggap jika kita pernah berteman.”

Tepat setelah Eunhyuk menyelesaikan kalimatnya, ia melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda dengan sedikit menyentuh bahu Donghae hingga pria itu sempat mundur ke belakang.

Kedua tangan Eunhyuk dimasukkan ke dalam kantung jaketnya. Donghae memang teman dekatnya. Sangat dekat hingga orang menganggap bahwa mereka itu seperti saudara kembar. Hanya saja ada satu hal yang membuat Eunhyuk membenci Donghae. Ya, alasan mengapa hidupnya menjadi terpuruk seperti ini adalah karena namja itu.

Ya, Lee Donghae.

…and the story begins…