EXO PLANET “The Beginning”

TATAPAN GADIS ITU BERKELIARAN DI SEKELILINGNYA. Sepasang telinganya mendengung tajam, tak sanggup menangkap jelas deru mesin dari bus sekolah yang baru saja ia tumpangi.

Bahkan ketika sepasang gadis yang ia kenali sebagai biang gosip di kelas biologi tengah mencemoohi junior berkacamata tebal di tepi pagar utama, hanya gumam samar saja yang menusuk-nusuk kepalanya.

Kelopak matanya kemudian bergerak lambat. Ranselnya digenggam kuat. Angin di sekelilingnya seolah merasuk ke dalam raga hingga dirinya hanya mampu mendengar desah napasnya yang kian menghilang.

Ada yang salah.

Setiap kali perasaan itu muncul, ia akan mengalami hal serupa. Waktu seolah terhenti; dunia seolah membeku; dan hanya dirinya saja yang mampu merasakan hal itu.

Hingga akhirnya…

“Ya! Aku memanggilmu dari ujung jalan sana dan kau tetap berjalan gontai seperti orang dungu! Kau tidak lupa mengerjakan tugas kesenian ‘kan?”

…seseorang berhasil menggugahnya.

Ia terkesiap. Bibirnya mengecap-ecap, berusaha menghilangkan kemarau yang mematikan inderanya. Bingung, ia membenahi helaian rambut pendeknya yang tersapu semilir angin.

“O-oh, tentu saja,” hanya itu jawabannya.

Gadis sebaya di sampingnya ikut menyibak rambut, menunjukkan sebuah name tag bertuliskan ‘Kang Mia’ yang melekat di dada sebelah kiri. “Hei, kau sadar sikapmu akhir-akhir ini begitu aneh, ‘kan? Ada apa, Cho?” tanyanya, kini bersimpati.

Mia menepuk pundaknya, membuatnya menoleh kilat seolah gadis riang itu hendak menikamnya, “Tak apa. Aku… pusing akibat berdesakan dengan bocah-bocah tengil barusan,” ia berbohong.

Come on! Amber dan Jong menunggu kita di kelas Bahasa Inggris. Don’t be late! This is your favorite class!

Cho melayangkan senyum terbaiknya sebelum Mia mendahului menuju kelas di lantai ketiga. Senyum itu tak bertahan lama karena selang setelahnya, ia kembali dirundung perasaan itu lagi. Tubuhnya ditukik tajam ke sudut di balik tubuh lalu beralih ke arah berikutnya. Cho melakukannya beberapa kali dan ia tak mampu menemukan sebuah jawaban. Hanya penghuni sekolahnya saja yang berkeliaran saling memasuki area bangunan.

Jika ia diperintahkan untuk mengucap sebuah pengakuan, ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiran Cho Ikha belakangan ini. Ia merasa seseorang tengah memperhatikannya—tanpa terdeteksi, seperti seorang paparazzi. Tiap kali ia mendengar bisikan-bisikan yang menguasai kepalanya, pikirannya seolah berada di dalam dunia yang hampa.

Firasat yang dimilikinya menguat saat sepasang mata sendunya tertuju pada seseorang yang melintasi pandangannya di kejauhan. Sesosok pria, dengan mata birunya yang mengilat-ngilat—serta debu hitam yang bergerak mengelilinginya—berhasil membuatnya berlari cepat menyusul jejak kaki Mia.

Ia tak ingin menoleh kembali ke arah pohon tua di samping pagar sekolah.

Ia tak ingin lagi terjebak dalam bisikan-bisikan tak nyata yang diterimanya.

***

KAU YAKIN TAK INGIN BERGABUNG DENGAN KAMI nanti malam?” ulang Jong untuk kesekian kalinya.

Cho Ikha hanya mampu mendesah panjang, “Aku menyerah, Jong. Menjadi gadis tolol di mata pria itu membuat mentalku menurun drastis.”

Amber tergelak, nyaris memuntahkan isi mulutnya. Masih diingatnya dengan baik ketika Cho berusaha mati-matian untuk mengalihkan perhatian sang penakluk hawa, Steve Kim, senior dari kelas tiga yang sangat dibanggakannya.

Ia dikenal dengan nama Si Mata Tiga sejak Amber mengetahui keunikannya beberapa tahun lalu.

“Jika kau ingin pria cantik itu memperhatikanmu, ubahlah sedikit gaya pakaian dan rambutmu, Cho Ikha. Lihat, kau bahkan berhasil dikalahkan oleh Key. Si banci itu bisa mengenali seluruh peralatan make-up dalam semenit saja,” olok Amber.

Cho mencibir, mengayun-ayun sedotan ramping dalam gelas anggurnya, sama sekali tak peduli saat ia menciptakan percikan-percikan merah pada serbet. “Aku sudah terbiasa bergaul dengan manusia dekil macam kalian. Karena itu aku tidak tertarik dengan hal-hal berbau feminin,” kemudian ia mendapat pukulan singkat di bahunya dari Jjong.

Mereka terkekeh atas lelucon masing-masing, mengabaikan pandangan para dewasa di sudut lain yang, mungkin saja, tengah memperbincangkan umur mereka. Berterima kasihlah pada Amber. Jika bukan karena ayahnya, sang pemilik kafe, mereka tak akan mungkin diijinkan untuk menikmati si merah jelita tersebut sebelum menginjak umur dua puluh satu.

Getar di dadanya tiba-tiba menegunkan Cho. Ia merogoh kantung blousenya untuk meraih ponsel yang nyaris terselubung oleh stiker Yuna, skater handal idolanya. Awalnya seberkas senyum menyala dari bibir tebal yang selalu dianggapnya seksi, hingga ringtone itu mulai tersamarkan oleh desing yang menyentak kepalanya, meredupkan antusiasmenya.

Panggilan dari ibunya dihiraukan.

Pupil cokelatnya bergerak liar, mencari-cari sesuatu yang tak nyata di sekelilingnya. Dalam sekejap Cho berubah gelisah. Bisikan itu datang kembali, mengubah penglihatannya menjadi buram. Samar, ia mendengar kedua rekannya menyebut beberapa kata. Namun ia tak mampu mendengarkan dengan jelas terkecuali bisikan misterius yang mengatakan bahwa ia…

“Aku harus pergi!” Cho mendadak berdiri, menyeret kursinya hingga jatuh menyebarkan suara karat yang cukup nyaring.

Raut wajahnya yang mengerikan membuat Amber menepuk pipinya beberapa kali, mencari kesadarannya yang menghilang. “Kau selalu mengatakan hal yang sama tiap kali hantu-hantu itu mengganggumu. Apa lagi yang kau lihat? Pria bermata tiga dengan kulit hijau yang menyala?”

Cho mengerjap, berusaha menatap Amber dan Jong bergantian, menghela napas saat bisikan itu padam di telinganya.

“Sudah saatnya kau pergi ke paranormal untuk menutup penglihatanmu itu. Tidakkah kau merasa khawatir dengan orang-orang di sekelilingmu?” Jong menarik pergelangan tangannya, memaksa Cho untuk duduk kembali.

Cho meringis, sadar bahwa pria itu menggenggamnya seolah ia sedang berusaha melarikan diri. Sebelumnya ia menolak untuk mempercayai hal tersebut saat ayahnya menuturkan keistimewaan yang dimilikinya. Di tahun pertama, ia selalu menjerit dan memaksa sang ayah untuk berpindah tempat. Hingga tahun demi tahun berlalu dan ia mulai beradaptasi dengan berbagai hal tabu di sekelilingnya.

“Aku hanya mampu melihat mereka, Jong, tidak berkomunikasi dengan mereka. Itu sangat berbeda,” seperti biasa, Cho berkilah, berupaya untuk menenangkan diri.

Jong berubah kesal, “Kau sangat terbebani oleh mata tigamu itu. Aku sudah muak melihatmu berteriak histeris saat mereka mengganggumu.”

Gadis itu mengusap keningnya. Hal yang selalu Cho lakukan setelah ia merasakan ketidaknyamanan akan sosok-sosok fana itu, “Mereka hanya tertarik. Lagipula aku hanya membutuhkan beberapa hari saja untuk membiasakan diri dengan yang satu ini.”

Dan jawaban itu membuat Amber memutar bola mata, “Bahkan hantupun tertarik padamu, huh?” Ia meremas jemari Cho, “Kau telah menghabiskan sisa hidupmu untuk menyesuaikan diri, Mata Tiga. Ayo kita pulang,” ajaknya, setengah menyeret.

“Aku bisa melakukannya sendiri,” Cho menolak dengan menepis genggaman Amber. Sebelum mengakhiri pertemuan mereka hari ini, ia bergegas menembus pintu keluar. Sahutan Jong dan Amber yang saling mendahului digubrisnya tanpa helaan. Ia sudah cukup dewasa untuk pulang tanpa diiringi sepasang bodyguard seperti mereka. Lagipula mereka memang bukan bodyguard, lebih tepatnya teman sekelas yang nampak seperti bodyguard.

Hanya butuh beberapa menit saja bagi Cho untuk mencapai persimpangan berikutnya. Kepalanya mendongak, memastikan lampu hijau untuk pejalan kaki masih menyala terang. Ia berjalan dengan kecepatan yang konstan, mempelajari peraturan itu.

Langkahnya mendadak terhenti saat bisikan itu terdengar lagi. Di tengah persimpangan Cho berbisik pada dirinya sendiri, memohon pada siapapun untuk menghentikan suara mengerikan tersebut. Ia menunduk, tak menyadari saat sebuah mobil merah dengan lambang lingkaran yang terbagi menjadi tiga bagian itu menggempur tubuhnya.

Ia terpental jauh, mendarat hebat di permukaan aspal panas petang itu.

Sebelum kesadarannya benar-benar menipis, Cho menemukan sosok bermata biru berdiri tegap di hadapannya, menyebarkan debu hitam seolah partikel-partikel itu patuh pada kehendaknya. Pria itu membisikkan kembali kalimat-kalimat yang selalu menghantuinya, dan yang terakhir, Cho mampu memahaminya dengan baik.

…and the story begins…

 

Hanya satu langit di dunia, dan kita berada di bawah langit yang sama. Jika kau memang seseorang yang kucari, kemarilah dan berdiri bersama Caste Krpyth, sang penjaga Scutuss.