STEP FORWARD “Chapter 01”

“Jadi…”

Kyuhyun menjinjitkan kaki di tengah langkah kecil menuju ayunan kayu dimana Ikha tengah memusatkan diri menatap pergerakan awan musim panas. Ia mengeluarkan suara puh pelan. Dengan salah satu kakinya yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, ia cukup kesulitan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Apa keputusanmu?” selidiknya. Ia menatap Ikha intens, mencermati mimik wajah adiknya dengan seksama.

“Aku hanya ingin tahu apa motif pria ini menulis namaku di urutan pertama. Jelas-jelas aku tidak mengikuti audisi itu,” tutur Ikha datar tanpa sedikitpun mengalihkan perhatian dari awan-awan tersebut.

“Kalau begitu jangan pergi. Aku tidak ingin kau terlibat dengannya.”

“Tiga alasan, Oppa!” tukas Ikha. Suaranya agak meninggi dari semula dan kini pusat matanya teralihkan pada Kyuhyun. “Tiga alasan kuat mengapa aku akan mengikuti permainannya,” ucapnya setengah bergumam.

Ikha sedikit memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Kyuhyun hingga ayunan kayu pun bergerak perlahan.

“Pertama, dia telah membuatmu seperti ini,” desisnya kemudian mengeryit saat melihat kaki kiri Kyuhyun yang terpasang gips. Belum lagi luka yang cukup dalam di pipi kirinya. Oke, Kyuhyun memang sudah melakukan operasi plastik untuk mengembalikan wajah tampannya. Tapi Ikha masih tidak terima dengan perlakuan orang yang telah membuat Kyuhyun harus merelakan impiannya.

“Kedua, hubunganku dengan Luna dan teman-temanku yang lain pasti tidak akan berjalan mulus. Mereka pasti akan mengira bahwa aku melakukan sebuah trik agar bisa lolos tanpa audisi. Dia begitu menginginkan salah satu peran di musikal ini.” ocehnya untuk kedua kali.

“Terakhir—“ Ikha membuat jeda sesaat sebelum melanjutkan kata-katanya dengan meyelipkan rambut di balik telinga mungilnya. “—aku ingin tahu seperti apa wajah orang yang telah menghancurkanmu.”

Kyuhyun mendengus. Puncak kepala Ikha diusapnya dengan lembut. “Rasa dendam sepertinya lebih menguasaimu, Cho. Kau tahu? Jika kau melakukan apapun dengan niat yang tidak baik, hasilnya pun tak akan baik.” Ucapnya bijak.

Ia mengerucutkan bibir. Tidak suka karena kali ini Kyuhyun tidak sependapat dengannya.

“Kau yakin tidak ada alasan yang lebih kuat lagi selain tiga poin yang sudah kau sebutkan barusan?”

Ikha menggelengkan kepala. Berusaha meyakinkan Kyuhyun bahwa hanya itulah alasannya mengikuti apa yang diutarakan Sound Entertainment melalui sepucuk surat yang diterimanya beberapa hari yang lalu.

Sejak awal ia sudah mencium bau busuk dari balik surat tersebut. Siapa yang menyangka jika agensi sebesar mereka meloloskannya dari audisi terbuka dan menjadikannya peringkat pertama dari dua puluh orang manusia berbakat—yang berasal dari seluruh penjuru Korea Selatan? Bukankah mereka belum mengetahui kemampuannya?

Ah, benar. Ia baru mengingat satu hal. “Oppa. Kurasa mereka salah memilih. Bukankah mereka membuka audisi itu untuk mencari manusia berbakat di bidang musikal?” selidik Ikha agak ragu.

Kyuhyun menggedikan bahu. “Kecuali jika mereka mendeteksi kemampuanmu.”

Tidak mungkin. Aku sudah melupakan semuanya dan—“

“Mungkin dia tahu jika kau adalah adikku. Pasti ada yang sedang direncanakannya,” potong Kyuhyun. Membuat Ikha berdecak pelan.

“Kalau begitu aku akan tetap mengikuti kemauan mereka hingga semua fakta terungkap,” tantangnya pada Kyuhyun.

“Kau terlalu menganggap enteng apapun, Cho Ikha.” ujar Kyuhyun. Khawatir dengan sikap Ikha yang terlalu berlebihan menanggapi surat undangan dari Sound Entertainment untuk melakukan kontrak awal dalam drama musikal terbaru mereka yang akan diselenggarakan enam bulan lagi.

Ikha tersenyum. Senyum yang penuh makna. “Tidak. Sebenarnya ada hal lain yang menguatkan alasanku mengikuti step berikutnya,” akunya.

Ia mengambil kertas yang tergeletak sembarangan di bawah kakinya seraya memperlihatkan halaman ketiga dari kertas tersebut. “Aku ingin memastikan bahwa pria di urutan kedua adalah sosok yang kucari selama ini.”

***

Langit sore ini mulai berubah warna dari oranye menjadi kuning kejinggaan. Mungkin bagi sebagian orang waktu terasa begitu cepat berlalu. Tapi tidak bagi Ikha. Ia merasa bahwa hari ini begitu membuatnya tertekan. Tiga jam telah dihabiskannya sia-sia hanya untuk mengurusi beberapa kontrak dengan Manager Personalia Sound Entertainment.

Ada beberapa poin yang dirasa tak adil di dalam kontrak tersebut. Diantaranya, tidak boleh berinteraksi dengan trainee pria selama mereka menjalani kontrak drama musikal; jika terlambat latihan harus membayar sebesar $40 per menit; atau point yang menyebutkan jika akhir minggu mereka tetap hadir di kelas.

Strategi Ikha cukup jitu juga. Mungkin orang-orang penting Sound Entertainment benar-benar menginginkannya menjadi bagian dari musikal ini. Ketika ia memberi pilihan ‘ubah kontrak atau pergi’, mereka dengan berberat hati mengubah beberapa poin sesuai permintaannya setelah berdiskusi dengan CEO melalui telepon singkat.

Ia memijat leher dan bahunya di sela langkah menuju lantai tiga tempat berlangsungnya pertemuan pertama para trainee. Mengapa mereka disebut trainee dan bukan disebut para aktor/artis musikal? Ternyata ke dua puluh orang yang telah lolos audisi tidak langsung menerima peran di drama tersebut.

Selama tiga bulan, mereka akan mengikuti kelas kepribadian, musik, tari, dan olah vokal secara intens dari beberapa pelatih profesional. Mereka akan di tes kembali hingga akhirnya baru terpilih siap-siapa saja yang berhak menjadi pemeran utama dan pembantu di musikal tersebut. Kemudian, mereka akan mendalami peran masing-masing selama tiga bulan berikutnya untuk pentas musikal yang akan berlangsung selama empat bulan nonstop di Gangnam Arts Theater—tempat pertunjukan termewah di Korea Selatan.

Ikha bermaksud untuk memasang earphone di kedua telinganya hingga niatnya itu terurung saat kedua matanya menangkap sesosok manusia yang tengah berjalan tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan langkahnya yang tegap dan penuh percaya diri, orang itu masuk ke dalam lift tanpa menoleh ke kiri ataupun ke kanan.

Mata Ikha menyipit. Tidak. Matanya sejauh ini masih normal dan baik-baik saja. Tidak mungkin ia berhalusinasi atau ber-fatamorgana. Sudut bibir Ikha tertarik sempurna. Ia lebih memilih menghentikan langkahnya ketimbang mengejar orang tersebut untuk sekedar membenarkan instingnya.

“Benar. Itu kau, Eunhyuk-ssi.

***

Lift berhenti bergerak ketika LCD di atas pintu menunjukkan angka sepuluh. Pria itu melangkahkan kakinya dengan pasti saat pintu lift terbuka. Suasana di sekitar penglihatannya begitu hening seolah tak ada seorang pun yang menghuni lantai ini.

Ia tak peduli. Segera saja dirinya bergerak menuju sebuah pintu bertuliskan ‘CEO ROOM’ lalu membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Matanya beredar ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada siapa-siapa disana. Sepi.

Eunhyuk memutuskan untuk duduk terlebih dahulu pada sofa yang sengaja disediakan di dalam ruangan. Jaket berwarna cokelat tanah dengan sedikit hiasan bulu-bulu halus di sekitar lehernya semakin ia eratkan. Sangat asing. Itulah kesan pertama saat ada di tempat itu. Pria itu memperhatikan sebuah foto yang terpajang di dinding ruangan lalu mendengus. Tak disangka penghuni ruangan ini akan memajang fotonya dulu bersama ‘mantan’ sahabatnya.

“Aku tahu kau pasti akan datang,” ucap seseorang yang muncul dari balik pintu.

Wajah Eunhyuk datar, tak menunjukkan ekspresi sedikitpun. Ia juga tidak berdiri dan membungkuk pada pria itu. Ia masih duduk dengan kaki yang menyilang sempurna. “Aku akan bicara langsung pada intinya. Ubah kontrak itu atau aku tidak akan mengikuti pertunjukanmu,”

Donghae tersenyum. Ia memposisikan dirinya duduk di depan Eunhyuk. “Tentu saja. Lakukan sesuka hatimu,” ucapnya santai.

Eunhyuk memutar bola mata. Donghae terlalu mudah mengiyakan permintaannya. “Jangan berikan senyummu itu padaku, Lee Donghae-ssi.”

Bukannya terdiam, Donghae malah semakin mengumbar senyumnya pada Eunhyuk. “Aku senang karena kau mau mengikuti musikal ini,” akunya.

“Bukankah kau sudah tahu alasannya? Karena aku butuh uang,” Nada suara Eunhyuk tidak berubah sama sekali. Masih datar seperti sedia kala.

“Dengarkan aku, Lee Hyuk Jae,” Donghae agak mencondongkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Eunhyuk. “Aku tahu kejadian itu tidak akan membuatmu merubah persepsimu terhadapku. Aku hanya ingin persahabatan kita kembali seperti dulu.”

Eunhyuk berdiri dari tempatnya kemudian membenahi jaket, bersiap untuk pergi. “Aku harus datang ke pertemuan awal,” ucapnya, agak membungkuk pada Donghae untuk sekedar menghormati si pemilik agensi.

***

“Untuk apa kita datang secepat ini, Taemin-ni? Semua orang tahu jika kita adalah adik kandung dari pemilik agensi ini. Bersikap sombonglah sedikit saja,” Kai sengaja menghentakan tubuhnya setiap kali melangkah karena Taemin sedari tadi menyeretnya tanpa ampun.

“Kita harus menghormati kandidat lain yang datang lebih awal, Kai. Bersikap dewasalah sedikit saja,” Taemin balik menyerang, membuat Kai semakin berdecak kesal.

Meskipun terselip rasa bangga karena Taemin—yang notabene kembarannya—sama-sama pecinta seni, kadang ia menyesali beberapa hal dari pria yang nampak cantik dibandingkan namja normal lainnya. Salah satunya adalah ‘dia lebih baik hati ketimbang dirinya sendiri’.

“Lihat! Tampang mereka semua begitu menyedihkan,” ejek Kai ketika mereka sudah sampai di dalam ruang kelas.

Bola mata Taemin berputar. “Jangan memandang orang dari penampilan saja, Kai. Dan kuharap kau mulai mengubah sifat jelekmu itu atau kau akan ditendang oleh Donghae Hyung. Ingat pembicaraan kita semalam? Jaga sikap kita di depan khalayak,” ucapnya, kembali mengingatkan Kai.

“Kau terlalu banyak bertele-tele. Berhentilah sok bijak padaku,” rutuk Kai seraya memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya.

“Selamat sore semuanya,”

Suara seorang pria dari depan ruang kelas membuat semua orang dengan refleks membentuk barisan. Kai dan Taemin paling depan. Itu karena Kai sempat menyikut beberapa orang yang berdiri di depannya dan menyuruh mereka mundur. Benar-benar tak punya sopan santun.

“Hari ini kalian berkumpul di sini untuk mengikuti Dance Class. Sebelumnya saya mengucapkan selamat kepada kalian semua yangg telah lolos audisi dan perkenalkan, nama saya Leeteuk. Pelatih sekaligus Mentor kalian selama tiga bulan ke depan.”

Riuh tepuk tangan menggema di dalam ruangan seiring berakhirnya perkenalan Leeteuk, sang Mentor. Ia nampak membungkuk beberapa derajat pada ke-sembilan belas trainee. Namun senyum Leeteuk tiba-tiba berubah ketika seseorang masuk ke dalam ruangan dengan langkah santai. Ia membungkuk sejenak pada Leeteuk untuk sekedar memberi hormat lalu bergabung ke dalam barisan.

“Kalau boleh tahu, siapa wanita angkuh yang datang terlambat dan dengan bangganya melenggang masuk ke dalam kelasku?”

Pertanyaan Leeteuk membuat semua mata tertuju pada orang yang kini berdiri di belakang barisan. Bahkan beberapa orang sempat menghindar darinya hingga barisan tersebut terbelah menjadi dua, membuat orang itu berhadapan langsung dengan Leeteuk pada jarak ± 2,1 meter. Orang itu hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Leeteuk berkacak pinggang. “Saya tidak suka dengan orang yang tidak menghargai waktu,” omelnya.

Ikha—orang yang terlambat masuk kelas—lagi-lagi hanya tersenyum simpul. “Apakah anda akan tetap mendengarkan alasan saya meskipun saya berkata jujur? Kurasa tidak.”

Emosi. Leeteuk paling tidak suka dengan orang seperti Ikha yang tidak menghormatinya dan bertindak sembarangan. “Namamu?

“Cho Ikha. You know, Cho Ikha, the great thing.” jawabnya lantang.

Suara riuh dari dalam kelas mulai terdengar. Semua orang nampak tengah saling berbisik sambil sesekali melirik pada Ikha. Leeteuk mendengus dan meniup poninya. Ia ingat. Cho Ikha adalah sosok di urutan pertama yang lolos audisi terbuka.

“Cho Ikha?” bisik Kai tak percaya. Kepalanya serta-merta berputar untuk memperhatikan yeoja yang kini menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kelas.

Pria itu menyikut lengan Taemin agar perhatian kembarannya itu teralihkan padanya. “Wanita ini bukannya tidak hadir ketika pertemuan tadi?”

Taemin menggedikan bahu tak peduli. Memang iya. Ada satu orang yang tidak hadir ketika pertemuan tadi sore bersama PR agensi. Tapi ia benar-benar tak peduli. Hanya saja, ada sesuatu yang menarik perhatiannya saat ini.

“Sepertinya seseorang akan mengalahkan keangkuhanmu, Kai.” Ledek Taemin. Matanya sama sekali tidak lepas dari Ikha. Ia rasa wanita itu memang begitu menarik. Berbeda dengan wanita sejenis yang pernah ditemuinya.

“Jangan mentang-mentang berada di posisi puncak, kau jadi seenaknya masuk kelas.” Sungut Leeteuk, membuyarkan obrolan pribadi para trainee yang masih sibuk membicarakan Ikha.

Wanita itu mengangkat bahunya sekali. “Lihatlah. Saya belum sempat menyebutkan alasan keterlambatan saya tapi anda sudah menghakimi saya seperti itu,” serangnya.

Leeteuk berkacak pinggang. Poni rambutnya sempat melayang saat ia meniupkan udara dari mulutnya. “Kali ini kau kuberi kesempatan. Tapi jika kau tetap seperti ini, aku akan bicara dengan CEO Agency. Masih banyak orang yang ingin menjadi bagian dari musikal ini—lebih serius dan berbakat darimu malah.”

Senyum Ikha mengembang. “Tentu, sir. Aku lebih senang jika ada yang menggantikan posisiku sekarang. Asalkan dia memang lebih berbakat dariku. Dari segi apapun.” ucapnya santai, terdengar seperti sedang menantang Leeteuk.

Jemari Leeteuk sontak mengepal. Mulutnya terkatup rapat menahan emosi. “Kuberi kalian waktu untuk berganti pakaian. Kita akan bertemu lagi lima belas menit kemudian,” titahnya, mengucapkan kalimat tersebut pada seluruh trainee, bukan pada Ikha.

Ikha mendengus seraya menyeringai puas. Entah kenapa saat melihat Leeteuk, ia merasakan aura yang berbeda. Benar saja. Sepertinya pria itu tidak begitu menyukainya. Di tengah kesibukan para trainee yang berlalu-lalang, Ikha merasakan seperti ada seseorang yang memperhatikannya. Tak jauh dari sana, ia melihat namja berambut putih tengah menatap ke arahnya lekat-lekat.

Mata mereka saling bertemu. Ikha menyunggingkan salah satu sudut bibirnya dan dibalas oleh wajah datar pria tersebut. Meski beberapa orang sempat melintas di antara pandangan mereka, baik Ikha maupun pria itu sama-sama tidak melepas kontak. Ikha memberanikan diri mendekatinya lebih dulu. Ia baru menghentikan langkahnya saat jarak antara mereka hanya terpaut satu meter.

Hello, sexy guy,” sapanya seramah mungkin.

Pria itu terdiam. Sama sekali tak berekspresi. Sejak Ikha muncul di tengah keriuhan para trainee, ia masih berusaha untuk meyakinkan diri bahwa wanita yang dihadapannya kini memang benar-benar nyata.

Ternyata iya, Cho Ikha memang nyata.

***

Kepulan uap dari cup teh hangat yang digenggam Ikha membaur dengan udara malam. Ia semakin mengeratkan jemari pada cup tersebut dengan maksud menghangatkan tangannya. Kedua siku tangannya diletakan pada pagar besi sementara kedua matanya memandangi keadaan sekitar gedung. Malam ini jalanan terlihat cukup padat. Sama seperti pikirannya yang penuh dengan pertanyaan yang tak pernah terjawab.

“Tak disangka kita akan bertemu di tempat ini,” Ikha membuka pembicaraan setelah hampir sepuluh menit mereka saling berdiam diri.

“Aku juga baru tahu jika kau adalah kandidat utama musikal ini. Sepertinya aku harus lebih cermat memperhatikan hasil audisi tersebut,” ucap Eunhyuk yang tengah berdiri disamping Ikha, ikut memandangi Kota Seoul dari gedung lantai sepuluh tersebut.

Kenapa? Menyesal karena telah bertemu denganku?” ejeknya. Sengaja Ikha tak melakukan kontak mata dengan Eunhyuk dan lebih memilih memperhatikan mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan.

Bibir Eunhyuk melengkung. Kepalanya ia tundukkan sejenak. “Tidak,”

“Lalu?”

Pria itu mengeluarkan suara phew pelan. “Aku belum sepenuhnya siap bertemu denganmu,” akunya.

Why? Karena kau merasa bersalah pernah meninggalkanku?” ungkap Ikha, tepat mengenai hati Eunhyuk.

Pria berambut putih tersebut menatap Ikha yang masih memperhatikan jalanan. Mencoba menerka-nerka apa yang ada dibalik ekspresi wanita yang juga menjadi bagian dari kisah lamanya.

“Kau banyak berubah,” aku Eunhyuk.

Ikha memutar kepala, balas menatap Eunhyuk. “Kau juga.

“Sebaiknya kita kembali ke kelas atau Leeteuk akan memarahimu lagi,” Eunhyuk mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia mulai memutar tubuh, beranjak dari tempatnya.

“Kukira kau tidak peduli.”

Pria itu menghentikan langkah pertamanya saat mendengar kata Ikha. Ia kembali menatap wanita berambut panjang tersebut lekat-lekat.

Ikha mengedipkan matanya perlahan. “Bahkan saat kita kembali bertemu pun kau tidak mengucapkan kata maaf,” ucapnya seraya meneguk teh hangat untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokannya.

Eunhyuk masih terpaku di tempat. Bingung untuk berucap. Ingin rasanya Ikha mencecar pria yang telah meninggalkannya tiga tahun lalu dengan berbagai pertanyaan yang sampai saat ini belum menemukan jawaban. Tapi melihat Eunhyuk yang lebih banyak diam membuat wanita itu mengeluh.

“Aku seperti sedang berhadapan dengan orang yang tidak kukenal,” gumamnya.

Eunhyuk menghabiskan lattenya dalam sekali teguk. Ia tahu, hari ini pasti akan tiba. Hari dimana ia akan dipertemukan kembali dengan Ikha. Dan sungguh, ia belum siap untuk menjelaskan semuanya. Setelah menimang-nimang, Eunhyuk memilih untuk pergi meninggalkan Ikha. Tanpa suara, tanpa pamit.

Ikha mendengus seraya memutar bola mata. “Baiklah. Jika kau tetap seperti ini, aku akan berusaha untuk mendapatkan perhatianmu lagi. Sama seperti yang pernah kau lakukan padaku dulu,”

Tangan Eunhyuk yang semula berniat untuk membuka pintu kaca pun terhenti. Ia hanya tersenyum dari balik punggungnya mendengar kata-kata Ikha. Kata-kata itu membuatnya kembali mengingat memori yang tak pernah dilupakannya hingga sekarang.

“Senang bisa berbincang denganmu, Cho Ikha. Kita bertemu di kelas nanti,” ucap Eunhyuk kemudian berlalu dari tempatnya, membuat Ikha mengaduh dan melempar cupnya ke arah pintu.

***

Semua trainee duduk membentuk setengah lingkaran dimana Leeteuk menjadi pusat mereka. Ikha masuk kelas paling akhir dan memilih duduk paling belakang sambil menyender pada dinding, memisah dari kerumunan. Ia masih enggan menjadi bagian dari mereka. Semua terasa begitu asing dan sulit untuk digapai.

“Aku tidak akan melihat kemampuan menari kalian karena aku sudah melihatnya ketika audisi minggu lalu. Jadi sekarang, aku akan mengetes sejauh mana kalian bisa bekerja sama dengan orang lain,” kata Leeteuk.

Asistennya menyodorkan sebuah map berwarna biru sapir padanya. Ia pun membuka map tersebut seraya memegang bolpoin. “Aku akan menentukan sepuluh pasang dancer. Kuberi waktu satu minggu untuk latihan dan memilih lagu sesuai keinginan kalian. Tema untuk minggu ini adalah ‘high step’. Kalian bebas menggunakan jenis tarian apapun. Krumph, Hip Hop, Jive, yang penting tarian kalian terkesan kuat dan bertenaga.”

Seorang wanita berambut pirang mengacungkan tangan. Leeteuk mengangguk mempersilahkan wanita itu bicara. “Apa imbalan untuk pasangan dengan tarian terbaik?” tanya Hyeoyeon, si wanita.

“Poin plus yang akan membuat kalian menjadi pemain utama drama musikal,” jawab Leeteuk, membuat semua trainee—kecuali Ikha dan Eunhyuk—mulai membuat gaduh ruangan dengan obolan mereka.

“Team pertama, Jia dan Gikwang. Kedua, Taemin dan Suzy. Selanjutnya Junho bersama dengan Yuri,  Hyorin dengan Lee Joon, Yoona dengan Hyun Joong, Victoria dengan Nichkhun, Hongki dengan Minyoung, Nana dengan Hyunseung, Kai satu tim dengan Ikha dan yang terakhir, Eunhyuk dengan Hyeoyeon.” Leeteuk menerangkan.

Serta merta Kai mengacungkan tangan.

“Ada masalah?” tanya Leeteuk sembari membenahi letak kacamatanya.

“Aku tidak ingin berpasangan dengan wanita yang bernama Ikha itu. Kurasa dia sulit diajak bekerja sama,” ucap Kai. Ia menengok ke arah belakang dan menemukan Ikha tengah menatapnya dengan tatapan mencemooh.

“Ya! Bocah tengik! Kau pikir siapa yang akan sulit diajak kerja sama? Lagipula aku lebih memilih bersama dengan Eunhyuk ketimbang bersama bocah angkuh sepertimu,” serang Ikha tak mau kalah.

“Ya! Kau bilang aku bocah tengik? Harusnya kau tahu bahwa aku ini adalah adik dari pem—”

“Jangan beradu mulut di kelasku!” bentak Leeteuk, menghentikan ocehan Kai. Taemin menahan tubuh Kai, berusaha menenangkan kembarannya yang memang paling sulit mengendalikan emosi.

“Semua sudah diputuskan. Tidak ada yang bisa dirubah. Bisa bekerja sama atau tidak, itu urusan kalian. Cari solusi dengan cara kalian sendiri. Jika kalian hanya ingin menjadi pemeran pembantu di musikal ini, kalian bisa bekerja sendiri-sendiri,” oceh Leeteuk bersikap tegas.

Ia merapihkan berkas-berkasnya lalu mengenakan mantel. “Kelas dibubarkan. Sampai bertemu minggu depan.”

Setelah Leeteuk dan asistennya pergi, para trainee mulai mencari pasangan mereka masing-masing. Berbeda dengan Taemin, ia masih kesulitan mengendalikan Kai. “Kau harus mengendalikan emosimu, Kai.” Suruhnya.

“Dia yang mengajak perang lebih dulu!” rutuk Kai. Matanya mendelik ke arah Ikha.

Ia semakin kesal ketika menemukan yeoja itu tengah menyender pada dinding dengan headset menempel di kedua telinganya. Ikha nampak tak peduli dengan keadaan ruangan yang riuh dengan para trainee yang sibuk berbincang.

“Itu karena kau duluan yang memancing emosinya. Aku akan berkenalan dengan Suzy. Sebaiknya kau dekati wanita itu atau kau tidak akan mendapat peran utama,” titah Taemin kemudian meninggalkan Kai sendirian.

Pria berambut hitam itu mendengus. Dengan sangat terpaksa ia berjalan ke arah Ikha yang masih asik mendengarkan lagu. Ia memposisikan diri duduk disampingnya dengan radius setengah meter. Kai melirik dari sudut matanya dan mendapati Ikha yang kini tengah menatap lurus pada satu arah.

“Jika kau mendapat kesempatan untuk memilih, kau akan memilih siapa diantara semua yeoja disini?” tanya Ikha pada Kai.

“Yang jelas bukan kau!” sungutnya, masih pada pendirian semula.

Ikha mendengus. “I know.”

Kai ikut menyenderkan tubuhnya pada dinding, merilekskan tubuh. “Hyeoyeon terlihat berkarakter,” ucapnya sembari memperhatikan Hyeoyeon yang sedang asik berbincang dengan Eunhyuk.

“Begitu juga dengan Eunhyuk,” aku Ikha. Sama halnya dengan Kai, matanya tak berkedip mengamati Eunhyuk dari tempatnya. Pria itu sepertinya begitu sumringah berpasangan dengan Hyeoyeon. Dan hal itu sangat tidak disukainya.

“Jika kau menginginkan peran ini, aku akan membantumu untuk mendapatkannya—dengan bekerjasama denganmu tentunya. Tapi jika tidak, lupakan saja.” ujar Ikha sembari membenahi tali sepatu kets-nya.

Kai menimang-nimang. Ia begitu menginginkan peran ini. Mau tak mau ia pun harus bekerja sama dengan Ikha. Itulah satu-satunya cara untuk mendapat poin tambahan. “Kapan kita akan mulai menyusun koreografi?” tanyanya pada akhirnya.

“Segera,” jawab Ikha lantang.

Ia berdiri dari tempatnya kemudian membenahi pakaiannya yang mengusut. Sebelum benar-benar pergi, Ikha sempat memperhatikan Eunhyuk dan juga Hyeoyeon yang tengah tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan atau mereka perbincangkan, yang jelas hal itu membuat lubang di hati Ikha yang selama ini belum menutup semakin rapat.

…bersambung…

Header 01 (Cut)