EXOPLANET “Chapter 01” (Repackaged)

Sehun mendongak. Debam di langit-langit berhasil menyentak fokusnya dan hal itu membuatnya kesal. Sepasang alis tebalnya mengernyit, membuat kacamata bulat di wajahnya merosot dari hidung lancipnya. Buku setebal lima sentimeter yang menjadi pusat perhatiannya sejak separuh jam lalu lantas ia letakkan di pangkuan. Sulit baginya untuk duduk manis di perpustakaan, dan ia tak ingin mengulanginya lagi hanya karena bising tersebut.

Pada akhirnya ia beranjak, tak sanggup membayangkan amukan Dio jika seekor helot berhasil merasuki kamarnya, merobek selimut dan ranjang seperti yang terjadi beberapa waktu lalu saat ia meninggalkan kamar sang fratheer dengan jendela terbuka.

Sambil berjalan menuju lantai kedua, Sehun meletakkan bukunya pada meja besar di ruang makan. Kali ini ia hampir menyelesaikan buku berjudul Sang Pelindung Scutuss setelah berhasil mengakhiri Derita Penyihir Mallum, si pemakan tubuh pria tampan.

Debam berikutnya membuat Sehun berhenti membanggakan diri. Tangga melingkar di sudut ruang utama ia jejaki seperti langkah kuda. Ia hendak membentuk perintah pada angin di sekelilingnya hingga ia menyadari bahwa debam itu bukan berasal dari ruangan Dio. Sehun menahan napas, membenahi celana ketatnya yang sedikit longgar di pinggang saat mendengar langkah seseorang. Suara itu muncul dari ruang di seberang tempat Dio—sedangkan ruang itu adalah milik Kai.

Jemari Sehun bergerak lihai, menciptakan segumpal udara yang membentuk lapisan padat. Ia mengintip sebisanya. Bayangan gelap yang menembus kelambu nyaris membuat nyali si termuda di Castè Krypth menciut. Beruntung hal itu tidak berlangsung lama. Sehun mengenali potongan rambut dari sosok tersebut dan membuatnya lega setengah mati.

Ya, itu dia. Kai, si pengalih materi.

Ini bukan kali pertama ia menemukan Kai muncul tanpa terdeteksi. Pria itu selalu memberikan kejutan singkat, terutama saat partikel ajaibnya menampakkan diri di tengah ketelanjangannya di kamar mandi. Namun kali ini ada yang lebih menarik melebihi sosok Kai dengan wajahnya yang pucat.

Sesuatu yang terbaring di atas bulu ovess membuat otot di wajahnya membeku.

Sesuatu dari serpihan-serpihan cahaya itu lantas memadat, membentuk tubuh sesempurna dirinya.

Sesuatu yang tak masuk akal itu membuatnya semakin bertanya-tanya.

Sehun kemudian mengalihkan perhatiannya pada Kai. Pria itu menyentuhkan ujung telunjuk dan jari tengahnya, tepat di pusat kepala pada benda yang samar tersebut, membisikkan kalimat-kalimat yang rumit dan tak dimengertinya. Seiring bisikan dari bibir Kai, muncul titik-titik cahaya yang menyebar di sekujur tubuh si benda fana. Sehun menyerukan nama Kai beberapa kali meski pria itu menggubrisnya.

Sebelum menampakkan diri lebih nyata, Kai menarik bulu ovess menutupi sebagian dari seberkas cahaya yang kini berwujud sesosok wanita. Sepasang mata legam Sehun membelalak. Bibirnya membeku seolah tertimbun salju dari puncak Mare Glacies.

“Kau tidak sungguh-sungguh mengiyakan perintah Suho, ‘kan?” tanya yang diajukan Sehun menggantung di ujung bibir. Ia melangkah seperti di atas pelaminan, mengamati sosok dengan keindahan yang sulit untuk dicerna. Meskipun keingintahuannya menggunung tinggi, Sehun mengurungkan niatnya untuk menginterogasi, tepatnya saat tubuh si pengalih materi jatuh ke lantai seperti pohon tua yang roboh.

Sehun menjerit, meneriaki siapapun yang mampu menolongnya mengembalikan kesadaran Kai.

***

DALAM SEKALI TARIKAN NAPAS, BAEKH BERLARI MENUJU pusat perhatiannya. Ia tidak memedulikan Chanyeol maupun Dio. Keduanya masih tertinggal jauh di balik pintu utama. Berita itu mengiang di telinga castè lain secepat kilatan petir. Sepasang pupil hitamnya membulat untuk memindai setiap sudut ruangan Kai, dan Baekh terlalu berbinar untuk sekedar diperingati.

Memasuki langkah pertamanya, tubuh Baekh mendadak terhenti. Ada sesuatu yang menariknya jauh, seolah menghalanginya untuk tidak bertindak senonoh. Ia mengaduh, hendak memaki siapapun yang berhasil menghentikannya.

“Oh, hai Kai.” Baekh tersenyum bersama getar di bibir bawahnya yang sulit untuk disembunyikan saat ia berbohong. Si pengalih materi tengah menantang tubuhnya yang lebih pendek, selalu berhasil mengintimidasinya.

“Jangan tunjukkan wajah itu padaku, Baekh. Kau masih harus berlatih untuk menjadi pembohong yang baik di hadapanku,” ucap Kai.

Baekhyun mengatupkan bibir, seperti yang telah diduganya.  “Kau tahu mengapa kutunggangi kudaku dengan cepat dari penjagaanku di Distrik Sembilan? Itu karena aku mencemaskanmu, adikku sayang,” kemudian ia berpura-pura membenahi seragamnya.

Kai menyeret Baekh dari ruangannya, diikuti oleh Sehun yang masih menikmati kekehannya seorang diri. Selain pintar merayu wanita, Baekh juga lihai mengada-ada. Kepandaiannya untuk berdalih tak dapat diragukan oleh seluruh Ahli Berdalih di gugus Krypth. Sayang sekali, Kai telah belajar banyak hal, dan Baekhyun belum cukup mampu mengelabuinya.

“Siapa dia?”

“Kau bawa gadis cantik ini dari planet mana?”

“Kenapa dia tidak berpakaian?!”

“Sudah kau apakan gadis itu itu? Tak kusangka kau jauh lebih rendah dariku!”

Rentetan kalimat tanya itu hanya sebagian dari yang dilontar Baekh padanya. Kai menolak untuk menjawab, terutama saat si pengendali cahaya berkata dengan menyelipkan bahasa planet kuno yang tak dimengertinya. Dibantu oleh Sehun, Kai berjalan gontai menuju ruang utama di lantai dasar. Kicauan Baekhyun mengekorinya, membuatnya terjaga akibat tekanan batin yang dideritanya. Jika saja ia tidak mengingat status Baekh sebagai seorang fratheer, Kai bisa saja mematahkan tenggorokan Baekh akibat suara lengkingannya yang memuakkan.

“Seharusnya kau mendiskusikan keputusanmu dulu sebelum berteleportasi. Apa kau tahu betapa bahagianya Lucios setelah mendengar kabar ini?” suara pria lain di lantai dasar menajamkan tatapan Kai, “Maksudku, Suho,” ucap Dio mengoreksi, tahu betul si pengalih materi tak menyukai nama asli Suho yang diberikan oleh Leeteuk saat mereka lahir ke dunia.

Kai menginjak anak tangga terakhir. Di hadapannya, hanya Suho yang absen dari penglihatan. “Namanya Cho Ikha. Aku tak perlu menjelaskan perincian lainnya karena kurasa kalian telah mengetahuinya dari Baekh,” ia memposisikan diri duduk di kursi panjang bersama Sehun.

“Apa yang harus kulakukan saat sang Huglooms sadarkan diri?” lalu Chanyeol menatapnya seolah mengajukan tanya apakah ia baik-baik saja.

Kai mengaduh saat Baekh sengaja menendang kaki kirinya yang masih lesu, membuat Sehun merusak rambutnya yang indah oleh kekuatan angin yang diciptakannya. “Biarkan gadis itu memaki hingga suaranya menghilang. Setelah itu kalian bisa meninggalkannya seorang diri. Butuh waktu baginya untuk memahami segala kegilaan ini,” jelasnya.

“Tak kusangka sang Huglooms lebih menawan dari Krystal.”

Baekh mendadak diam setelah ia berbisik, sadar bahwa gumamannya menyeret hujaman tajam dari keempat pasang mata yang mengelilinginya. Bahunya bergedik dan bertanya mengapa. Selanjutnya justru Chanyeol menyemburkan api dan membuat si pengendali cahaya lagi-lagi berteriak histeris.

“Aku harus pergi menemui seseorang. Jaga gadis itu dan jangan membuatnya ketakutan,” titah Kai.

“Kau baru saja berteleportasi jauh dari planet ketiga. Sebaiknya istirahatkan tubuhmu terlebih dahulu.” Kali ini Dio yang berbicara.

“Aku sudah melakukan apa yang kalian mau. Jadi jangan merengek dan melakukan pemungutan suara tak berguna mengenai sesuatu hal yang sulit, ” lalu Kai memaksakan diri untuk berdiri tegap. “Namanya Cho Ikha. Jangan sampai lupa,” tandasnya, menatap Dio sekilas sebelum partikel nomênos menghilangkan tubuhnya.

Dio menyisir rambut hitamnya sambil mengeluh. Si pengalih materi telah pergi menyisakan partikel biru pekat yang memudar di antara mereka. “Aku tidak menyukai sikap otoriternya. Dia melupakan satu hal bahwa aku lebih tua darinya,” dumalnya.

“Hati-hati, Fratheer. Terakhir kali kuingat, kau nyaris kehilangan kepalamu saat mengaduh di belakang Kai.”

Ejekan Chanyeol seketika menyentak ingatan Dio.

Waktu lalu, Kai dapat dengan mudah membuatnya pingsan dan melempar tubuhnya ke pusat The Eye dalam satu jentikan jari. Penyebabnya sepele: status casté yang disandang Kai baru-baru ini menimbulkan berbagai pertanyaan di antara mereka, dan D.O tanpa sengaja mengajukan sebuah canda mengenai ibunya. Alhasil Suho dan dirinya harus menata ulang interior markas Casté Krypth setelah Kai mengobrak-abrik gedung tersebut.

Namun harus Dio akui bahwa Kai begitu gesit dalam bertindak. Pantas ia suka berkelahi dan membuat onar. Di umurnya yang menjelang dewasa, Kai mampu menyaingi Zaque, si pemimpin tentara istana.

“Hei, apa kalian yakin jika gadis itu adalah sang Huglooms? Kurasa Kai hanya berkunjung ke rumah bordir di Distrik Tiga dan menyeret salah satu stardus kemari.”

Lagi, Baekh menuturkan spekulasi yang berkeliaran di kepalanya tanpa alat penyaring di mulutnya. Berlagak seperti detektif, si pengendali cahaya mengoceh tiada henti mengenai gadis pucat tanpa rona yang masih terbaring kaku di ruangan Kai. Sisa castè hanya menggelengkan kepala. Satu per satu mereka meninggalkan Baekh yang masih menyebutkan hal-hal bodoh dan tidak masuk akal.

***

MENJELANG SORE HARI, TAK ADA YANG MENGISI KEHENINGAN hutan Pinèss selain gesekan dedaunan serta burung-burung yang saling bersahutan. Tak jauh dari satu-satunya sungai dangkal yang ada di tepi hutan, seorang pria dengan pakaian serba putihnya tengah asyik mengusap kuda bertanduk peliharaannya.

Sesekali sepasang mata lembut pria itu menyipit tatkala kaki kudanya menyentuh tanduk solomon yang menjadi hiasan sepatu selututnya. Menyisakan waktu bersama Fugore selalu berhasil membantunya mengusir kepenatan. Baginya, hanya Fugore yang memahami perasaannya. Meski sangat disayangkan bahwa Fugore hanyalah hewan peliharaannya saja.

Ia memicingkan kedua telinga. Indera pendengarnya menangkap hembusan angin dari balik punggungnya. Bunyi ranting kering yang bergemeretak membuatnya tersenyum. Pola dari langkah kaki itu sangat dikenalnya dengan baik. Tergesa-gesa, tak sabaran, siapa lagi jika bukan makhluk itu.

“Sudah lama kau tak berkunjung kemari semenjak Parleemos mengadakan pemilihan penguasa baru,” sahut Luhan—si pemilik Fugore.

Makhluk yang masih berjalan kasar di balik punggungnya menyeringai. Luhan menoleh saat sosok itu meraba-raba punggung Fugore. Seragam biru perlambang gugus Krypth yang dikenakannya sangat mencolok di antara kontras warna hutan Pinèss. Ia berharap tak ada satupun yang mengetahui kedatangan Kai ke wilayahnya.

Ya, Kai.

Satu-satunya makhluk yang berani melintasi Selat Hitam sejak Suho dan Kris menyatakan diri mereka untuk tidak melewati garis tersebut menjelang pemilihan penguasa baru. Terakhir kali Kai mengunjunginya, Tao berhasil membuat darah segar meluncur dari hidung mancungnya.

Tao adalah si termuda dari Castè Myrath, si penghenti waktu, lihai berkelahi namun berhati bayi. Kemampuan mengendalikan waktunya tak lebih dari kemampuan shaman yang selalu mereka gunakan untuk berjudi di kedai Bapak Ghom. Kurang lebih seperti itulah penuturan Kai acap kali makhluk lain bertanya mengenai status Tao.

“Aku hanya merasakan persaingan di sana-sini. Tidak ada persahabatan. Dan kumohon, Luhan. Berhentilah menyebut Leeteuk dengan gelar itu,” tukas Kai, mengerutkan bibir.

Luhan memamerkan senyum tipisnya seraya menggelengkan kepala. Ia tak menyangkal adanya perbedaan pandangan antara keduanya. Bukan hanya mengenai gelar Parleemos yang dimiliki Leeteuk, tetapi dari hal kecil sekalipun—contohnya adalah saat Luhan memutuskan menamai kudanya.

“Hai, Fugore. Sepertinya majikanmu selalu merawatmu dengan baik,” sapa Kai pada si kuda bertanduk. “Bagaimana kabar castè lain?”

Luhan mengusap lembut puncak kepala Fugore menggunakan jemarinya. Sesekali ia melirik pada Kai. Pria berkulit lebih gelap darinya itu tidak banyak berubah, masih dingin pada siapapun. Kecuali padanya—mungkin.

“Seperti apa yang telah kau sebutkan, semua berubah tegang,” ungkap Luhan singkat.

Kai kemudian menatap pria di sampingnya. Meski silsilah keluarga mereka begitu rumit dan sulit dimengerti, hanya dengan menatap wajah Luhan, ia dapat menemukan ketenangan yang selama ini tak didapatkannya dari siapapun.

“Apa kau akan menghadiri undangan makan malam?”

“Tentu. Jika tidak, Kris akan memanggang kepalaku.”

Jawaban Luhan lantas membuat Kai terkekeh geli.

“Apa kau sudah mengetahuinya? Kita akan melawan satu sama lain di pertandingan nanti,” gumam Kai.

“Lalu?” Luhan meraih kendali pada Fugore, mengajaknya untuk bergerak mengiringinya. Disampingnya, si pengalih materi senantiasa mengikuti. Ketiganya berjalan menyusuri sungai, menikmati keheningan yang tak keduanya temukan di tengah kota.

“Mungkin pertandingan itu hanyalah sebuah jebakan,” Kai sengaja memelankan langkah. Pandangannya kini beralih pada rerumputan. Salah satu hal yang membuatnya takjub adalah hutan Pinèss memiliki rumput yang lain dari biasa. Setelah diinjak, rumput tersebut mengering. Dan tak lama kemudian, rumput itu kembali ke keadaan semula.

“Sedikit hiburan bagi penghuni planet tidaklah seberapa, Kai.” Luhan menyeringai, “Lagipula, meskipun kita tidak menginginkannya, kita akan tetap melakukannya,” imbuhnya.

Fratheer,” Kai menatap Luhan seolah sedang memohon.

“Sebaiknya kau pergi. Gawat jika castè lain mengetahui keberadaanmu di sini,” cegahnya.

“Aku ingin mengajakmu ke kedai biasa. Aku ingin kita berbagi viinum seperti dulu,”

“Aku harus datang ke pertemuan Castè Myrath. Kita bisa melakukannya lain kali,” tolak Luhan halus.

“Lihat betapa aku membenci keadaan dimana kita harus menjaga jarak hanya karena pemilihan tolol ini! Asal kau tahu, aku sama sekali tidak tertarik dengan perebutan tahta itu!” Suara Kai meninggi. Partikel hitam pekat bermunculan di sekeliling tubuhnya—menandakan bahwa ia tengah dilanda amarah.

Detik berikutnya, Kai menghilang dari hadapannya. Luhan memerhatikan partikel tersebut hingga benar-benar memudar di udara. Wajahnya yang semula tersenyum kini berubah datar. Fugore menyentuhkan kepalanya pada bahu Luhan seolah memahami perasaan tersebut. Luhan menyambut Fugore dengan lembut, saling berbagi perasaan masing-masing.

“Kau masih berkomunikasi dengan Castè Krypth itu?” Suara maskulin di balik punggung Luhan membuat alis pria berambut pirang itu mengernyit. Nada itu terdengar seperti geraman harimau buas.

“Namanya Kai,” Luhan membalikkan tubuh, menemukan sosok tinggi nan gagah tak jauh darinya. Percikan api mengelilingi tubuh makhluk tersebut. Rambut mohawknya tersapu angin, mengubah kesannya menjadi semakin menyeramkan. “Bahkan kau telah melupakan namanya,” ia berdecak.

Kris, sang pemimpin Castè Myrath, muncul dari balik pepohonan. Ujung jubah castènya berayun saat pria itu bergerak mendekati Luhan. Ia menanggapinya tanpa banyak bicara. Luhan berbalik untuk mengusap bulu-bulu Fugore yang ikut menari-nari seiring semilir angin yang meniupnya.

“Dia sedang mencari titik kelemahanmu saja, Luhan.” Kris sedikit menggertak.

Luhan tersenyum menanggapi perkataan Kris. Perebutan tahta itu telah membuat mata pemimpinnya berubah tamak. “Kai telah mengetahui kelemahanku sejak dulu, Fratheer.” Ia masih memusatkan diri pada Fugore yang sedari tadi melenguh mengajak pergi.

“Jangan merusak rencana kita,” geram Kris.

Luhan menginjak sanggurdi kemudian menaiki punggung Fugore dalam hitungan detik. “Jangan terlalu serius menanggapi pemilihan ini, Kris. Kau tahu bahwa Parleemos akan memilih antara kau dan Suho saja. Kau tahu bahwa pertandingan ini hanya guyonan bagi penghuni planet dan kau tahu bahwa aku tak akan memberikan informasi itu padamu,” jelasnya, bersama pengontrolan diri yang baik.

Kaki terdepan Fugore terangkat tinggi-tinggi. Sepasang sayap dengan warna putih yang serupa muncul diiringi sinar terang yang menyilaukan. Dengan satu kata saja, Luhan menyuruh kudanya pergi menjauh, meninggalkan Kris dengan segala kekecewaannya. Pupil hitam Luhan bergerak ke sudut mata. Ia mengetahui bahwa Kris tak akan berani membantahnya. Namun akhir-akhir ini, ia menemukan kejanggalan akan sosok pemimpin castènya.

Kris mendoktrin castè lain akan ketidakadilan yang Castè Myrath terima dari kerajaan EXOplanet.

Kris mencoba mengorek kelemahan Kai serta kekuatan castè lain yang tak diketahuinya.

Kris mempelajari beberapa sejarah dan selalu menyempatkan waktu untuk pergi ke perpustakaan.

Dan, Kris memaksanya melakukan satu hal yang tak ingin ia lakukan seumur hidupnya.

Membunuh Kai.

***

PRIA BERAMBUT PIRANG KECOKELATAN ITU MASIH memandangi lautan gelap di bawah pelupuk mata. Selanjutnya ia terpejam menyerap udara malam yang sangat disukainya, merasakan berbagai kehidupan yang tersembunyi oleh pohon-pohon tinggi di seluruh penjuru distrik. Suara pintu tua nan berkarat di balik tubuhnya kemudian menghentikan pengamatannya. Bilah kayu tersebut terbuka lebar, pertanda bahwa tamu-tamu istimewanya telah hadir di sana. Seiring langkahnya menghampiri pria-pria gagah berseragam biru, pakaian resmi yang dikenakannya berubah perlahan menjadi kaus beludru sederhana serta celana hitam polos, menunjukkan lekuk tubuhnya yang atletis.

“Terima kasih atas undanganmu, Parleemos.”

Suho, yang terdepan, menunduk dan para castè lain mengiringinya. Disampingnya, Baekh mencoba menarik tubuh Kai untuk mengikuti sapaan hormat mereka. Si pengalih materi menolak dan lebih memilih untuk berdiri tegak. Untungnya pria dengan gelar Parleemos itu tak ambil pusing. Ia mempersilahkan para castè untuk menempati kursi yang telah disediakan. Dari jumlah alat makan di atas meja mahoni, mereka menyadari bahwa sang penguasa planet masih menunggu undangan lain.

“Castè Myrath sudah melewati lobi utama. Kalian bisa menunggu sambil menikmati viinum dan makanan pembuka,” ucap Parleemos seolah dapat membaca pikiran mereka.

Berbeda dengan raut kusut dari wajah porselin Suho, Baekh dan Chanyeol lebih memilih untuk mengamati interior ruang. Keduanya sering mengunjungi menara utama dari istana planet untuk sekedar menyapa panglima Zaque. Namun baru kali ini mereka menjejakkan kaki di menara ketiga.

Beberapa patung pemain harpa bergerak lincah mengalunkan musik sebagai pengiring makan malam. Tak lupa sejumlah brascus berterbangan mengikuti alunan lagu. Belasan lukisan berbingkai segi lima yang berderet manis di dinding saling bergantian menawarkan ketampanan dan keindahan wajah Prajurit Serr Juan dan Dewi Gal Gadz.

Saat merah dari seragam Castè Myrath menarik perhatian mereka, tatapan keseluruh castè kemudian saling bertemu. Sebagian hanya sekilas memandang, sebagian lagi tersenyum kikuk. Sementara Suho masih menatap Kris tak bermakna, si pemimpin Castè Myrath memilih untuk berpaling dalam diam. Parleemos duduk di kursi utama dimana Sora dan Sulli mengapitnya.

Castè Krypth dan Myrath saling berhadapan. Lay dan Chanyeol bahkan saling melempar seringaian. Keduanya merupakan sekutu terbaik di ajang festival musik yang diselenggarakan pihak istana setiap tahunnya. Sangat disayangkan kali ini mereka harus menjaga jarak.

Di tengah obrolan makan malam, acuhlah yang dipilih Kai maupun Luhan. Sepasang pria itu menikmati hidangan tanpa memahami atau sekedar berpura-pura untuk tertarik. Kai mendengus saat Suho dan Kris tak henti-hentinya memuji kehebatan Parleemos. Yang ia butuhkan hanyalah kesabaran selama kurang lebih satu jam berikutnya. Selanjutnya, ia tak perlu lagi bersandiwara.

“Pemilihan penguasa baru akan diadakan dalam waktu singkat. Aku sudah menduduki singgasana itu terlalu lama. Pasti kalian mengerti bagaimana melelahkannya duduk di sana,” ucap Parleemos.

Kai memutar bola mata dalam sedetik. Ia mengetahui benar arah pembicaraan Leeteuk. Belum lagi kehadiran Sulli di ujung meja, cucu dari sang penguasa planet, membuatnya jengah setengah mati. Cara gadis itu mencuri perhatiannya kadang terlalu mencolok. Bukan karena Sulli berparas usang seperti kartu tarot yang dimiliki Lay—percayalah bahwa tak ada satupun penduduk planet yang mampu menolak elok tubuhnya, melainkan karena tingkah Baekhyun yang menjengkelkan. Ia bahkan nyaris menusuk sepasang mata si pengendali cahaya saat pria itu memuji-muji kecantikan Sulli diiringi kecemburuan Baekh akan cinta yang gadis itu berikan padanya.

“Kalian adalah kebanggaanku, tetesan darah Serr Juan ada dalam hembusan napasmu. Apapun yang terjadi, kalian harus tetap bersama.”

Ucapan Parleemos diikuti anggukan dari Chanyeol dan Xiumin secara bersamaan.

“Bagaimana jika kau menceritakan silsilah keluarga kami, Parleemos?” Kris menelan sepotong daging hitam di atas piringnya, “Kurasa hal tersebut lebih menarik ketimbang masalah gugus dan distrik yang tak berguna,” kemudian seringaiannya tertuju pada Kai yang tengah bermain-main dengan garpunya di ujung lain.

“Ayolah, Kris. Jangan kau mulai lagi,” Chanyeol menyela.

Si pemimpin Castè Myrath lantas menoleh pada Chanyeol, tepat di samping kursi yang diduduki Kai, “Dimana sopan santunmu, Ómorfos? Panggil aku Fratheer,” ucapnya, nyaris meledek dengan nada yang kurang sopan.

Setelah meletakkan gelas viinumnya, Luhan berdiri lalu menunduk, “Maafkan atas ketidaksopanan ini, Parleemos,” lantas direngkuhnya lengan kanan Kris untuk menyeretnya menjauh dari mereka.

Kris bersikeras dengan menyalurkan beban tubuhnya pada jemari yang masih memegang garpu dan pisau, membiarkan Luhan berdiri di sampingnya dengan  sebuah kegagalan untuk menyingkirkannya. “Bukankah ini alasan Parleemos mengadakan makan malam bersama? Supaya kita mengenal satu sama lain lebih jauh?” tanyanya, menatap Leeteuk dan Luhan bergantian.

Luhan melepas genggamannya setelah Leeteuk mengedipkan mata, menyuruhnya untuk kembali ke tempatnya. Canggung, si telekinesis menduduki kursinya. Lelucon yang diciptakan Baekh dan Lay di tengah situasi tersebut tidak cukup membantunya karena ia harus duduk di sisi Kris hingga makan malam berakhir.

“Kurasa kalian telah mengetahui silsilah keluarga masing-masing. Masa depan jauh lebih penting daripada bernostalgia,” ucap Leeteuk kemudian menyelipkan sebuah lelucon kuno mengenai Sulli dan Sora.

“Saat ini kau sedang memilih penggantimu di antara kami semua. Namun tidaklah adil jika tetesan murni dari Serr Juan berdampingan dengan kandidat lain yang seharusnya tidak pantas mengenakan seragam kebanggaan kami,” Kris kembali berkilah.

Kebanyakan dari mereka lantas melirik gusar pada Kai. Kekecewaan bahkan menghiasi gurat di wajah Leeteuk atas pernyataan tersebut. Mungkin ia cukup lega karena di ujung meja, si pengalih materi masih bersikap acuh seolah ia bukanlah bagian dari kelompok tersebut. Namun sangatlah tidak adil jika ia membiarkan Kris bertindak sesuka hati. Karena dari sisi lain, ia mengetahui bahwa Suho pun menikmati adegan tersebut.

“Kau perlu mengerti segala konsekuensi dari apa yang kau ucapkan, Kris.” Leeteuk menyemburkan frustrasi dalam desah napasnya.

“Terlalu banyak rahasia yang kau sembunyikan dari kami. Bahkan para tetua tidak menyukai keputusanmu itu,” ketusnya. Kris lantas berpaling pada Kai, “Jadi silahkan jelaskan pada kami lebih jauh mengenai kehidupanmu, Kai.”

Pria dengan rambut hitamnya yang ditata rapih itupun kemudian mendongak setelah Sehun menyikut lengan kirinya. Ia membalas tatapan Kris dengan ketajaman yang tak ditemukan oleh mereka sebelumnya. Sambil mengunyah sepotong daging hitam di ujung garpunya, Kai hanya mampu menggedikkan bahu, tak peduli.

“Aku bahkan tak tahu menahu nama aslimu,” giliran Suho yang berbicara, mengembalikan ketakutan Luhan yang sengaja disembunyikannya selama ini.

“Panggil aku sesuka hatimu. Aku tak peduli,” jawab Kai seenaknya.

“Lihatlah, tak ada sedikitpun kehormatan dari caranya bicara.”

Mengejutkan seluruh mata di dalam ruangan, Kai muncul disamping Kris dalam sepersekian detik saja, tepat setelah pemimpin Castè Myrath itu menyelesaikan kalimatnya. Di hadapan Kris, ujung pisau dalam genggaman Kai menusuk sisa daging hitam yang masih utuh di atas piring. Pisau tumpul itu menembus keramik putih hingga potongan-potongan kecil berceceran, semakin menambah ketegangan kesebelas castè dari kedua gugus.

“Terakhir kali kutemui seorang bangsawan sombong dari Cape Shawl, malam harinya ia tidak cukup beruntung,” Kai bergumam di telinga Kris seraya menyantap potongan daging yang besar itu dalam sekali gigitan, mengunyah dalam beberapa kali saja sebelum akhirnya ia telan dengan kasar. “Jika kau begitu membenci kehadiranku, dengan senang hati akan kulepas seragam bodoh ini dan hengkang dari gelar castè yang selalu kau banggakan.”

Tak ada yang berani bicara setelah itu. Bahkan Parleemos sengaja memberi sedikit waktu bagi si pengalih materi untuk mengendalikan segala bentuk perhatian mereka. Ia selalu menikmati ketidakpatuhan Kai. Salah satu alasan mengapa ia mengangkat pria itu sebagai anggota Castè Krypth.

Mengarahkan ujung pisaunya pada Suho yang masih memaku di depan Kris, Kai kembali bicara, “Jangan kira kau akan lolos dari pengawasanku, sang pengendali air. Aku tak akan pernah memanggil nama aslimu ataupun gelar Fratheer, sekalipun kau adalah pemimpinku. Kau tahu itu, ‘kan?” tandasnya.

Sebelum benar-benar pergi, Kai melemparkan pisau tumpulnya di atas meja Leeteuk yang terpisah di antara mereka. Ia menunduk, menunjukkan sedikit hormat pada sang penguasa planet pada akhirnya.

“Satu hal yang perlu kau pahami, Kris. Aku bukanlah pecinta seorang tiran.” Kai menelusupkan seluruh jemarinya ke dalam kantung celana kemudian menghadap kembali pada Leeteuk dan Sora. “Jika kau mengijinkanku, akan kubunuh tirani-tirani bermulut besar ini di pertandingan nanti dalam sekali hembusan napas.”

Sekali lagi Kai menunduk, memberi tanda kehormatan itu pada Sora. Partikel nomênos membawa serta tubuhnya meninggalkan drama yang tak patut untuk ditirunya, menimbulkan riuh dari para castè serta bisikan-bisikan Sulli di telinga Leeteuk yang melelahkan.

“Aku menginginkan pria angkuh itu untuk menjadi pendampingku, Parleemos.” ucap Sulli, dengan matanya yang berbinar.

“Dia sungguh menggairahkan.”

***

SEGALA KEHIDUPAN DI TENGAH KEGELAPAN SEOLAH berhibernasi malam itu. Sahutan penghuni hutan yang mengelilingi markas Castè Krypth ikut meredam. Hanya desau angin malam serta gemerisik pasir halus yang berjatuhan dari alat penghitung waktu saja yang tertangkap inderanya.

Kelopak mata gadis itu perlahan terbuka. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan lensa matanya dengan cahaya terang yang muncul dari balik kap lampu di sudut ruangan. Ia bangun dari tidurnya, duduk diselimuti kehangatan dari bulu ovess sementara mencermati struktur ruang yang dirasa asing baginya.

Benar.

Tempat ini begitu asing dengan fitur ruangan yang unik.

Di atas meja kecil disampingnya, semacam bonsai tengah menggugurkan daunnya yang kecil-kecil. Daun tersebut lalu kembali melekat pada batangnya dan hal itu terus berulang tanpa henti. Pada dinding di hadapan ranjang, sebilah papan kayu setinggi dua kali tubuhnya dilingkupi riak air pada permukaannya, membentuk gelombang sebelum memantulkan parasnya yang pucat di sana.

Ia tercengang.

Bukan karena atraksi riak air yang kini berubah menjadi sebilah cermin, melainkan sesosok gadis dengan bentuk hidung dan bibir yang sama dengan apa yang dimilikinya. Ia menggeleng dan sosok itu menyalin perbuatannya.

Ada yang salah di sana.

Jika pantulan tersebut adalah dirinya, pupil matanya bukanlah berwarna putih, melainkan cokelat tua.

Jika pantulan tersebut adalah dirinya, kulit Asia yang dibanggakannya bukanlah pucat mengerikan tanpa rona.

Jika pantulan tersebut adalah dirinya, rambutnya tidaklah terurai mulus sepanjang punggungnya, melainkan pendek seperti potongan rambut pria.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin meragukan eksistensinya. Ia beranjak, menyampirkan bulu ovess untuk memberikan cubitan kecil di wajah, dada, dan kakinya. Hingga ia menyadari satu hal…

“Mengapa aku tidak berpakaian?!”

***

KAI BERJALAN DENGAN LANGKAHNYA YANG BESAR-BESAR. Pandangannya beredar sejenak, menarik kesimpulan bahwa tak ada siapapun di sana. Pria itu melewati gerbang dengan tergesa-gesa, hendak menjejaki tangga pada pintu utama sebelum kehadiran pria lain berseragam biru di balik tubuh menghentikannya.

“Kau sadar bahwa sikapmu telah menyulutkan api yang selalu berusaha kupadamkan selama ini.”

Kai menyeringai. Suara itu dikenalnya dengan baik.  “Kau jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengejarku?” oloknya, menemukan Suho tengah berdiri dengan jarak yang cukup dekat.

Pria itu menelan udara, bersikap tangguh seperti biasa. “Aku tahu kau tidak akan pernah menyukai Parleemos. Tapi setidaknya tunjukan sedikit hormatmu saat berada di istana.”

“Sejak kapan ucapanmu jadi semanis ini?” lagi-lagi ia menohok Suho tanpa belas kasihan.

Pria dengan rambut sama hitamnya dengan Kai itu berjalan mendekati, menimbulkan bunyi dari sepatu hitamnya yang mengetuk-ngetuk bata pada jalan setapak antara gerbang dan pintu utama.

“Harusnya kau bersyukur karena anak dari stardus yang dikencani ayahmu tak seharusnya menjadi bagian dari bangsawan,” ucap Suho. Ia mendekatkan tubuhnya pada Kai dan berbisik, “Kehadirannya hanya mencoreng kehormatan kerajaan.”

Suasana kemudian berubah tenang.

Tak ada kalimat sanggahan yang dikumandangkan oleh Kai. Jemarinya membentuk kepalan. Urat di sekitar lehernya semakin tegang dan rona di wajahnya memerah. Kai membuang tatapannya ke arah lain. Selama beberapa detik, ia sengaja menatap lurus pada lantai kedua yang menjadi tujuan utamanya.

“Kau tak pandai berterima kasih, Suho. Jangan lupa bahwa aku bisa saja memelintir kepalamu dan membuangnya ke Bukit Taash dengan mudah,” ujarnya, bermaksud untuk mengontrol emosi.

Suho mendengus kasar. “Kau─”

“Tak usah membuang tenagamu hanya untuk menceramahiku. Lebih baik kau segera temui castè lain yang selalu patuh padamu,” dagunya lalu bergerak menunjuk ke balik tubuhnya, mencemooh Suho agar pria itu menjauh darinya.

Tanpa persetujuan si pemimpin castè, Kai kemudian berteleportasi. Tak memakan waktu banyak baginya untuk mencapai ruang privasinya di lantai kedua. Sosok berambut panjang di hadapannya terkejut, nyaris berteriak jika saja Kai tak membungkam mulutnya setelah detik pertama. Pria itu mengamati, meneliti gadis dalam dekapannya yang tengah mengenakan kaus dan celananya.

Kai mencengkeram pergelangan tangan si gadis, “Peraturan ke-453 ayat kedua mengenai kaedah hukum menyebutkan bahwa seorang penguntit harus menjadi santapan razour atau diarak keliling kota dengan tubuh telanjang,” ucapnya, nyaris bergumam.

Mata gadis itu membelalak sepenuhnya. Setelah meronta-ronta seperti kambing liar yang siap untuk dipotong, gadis itu pada akhirnya mampu berucap, “Apa kaubilang?!”

Kai menarik tubuhnya mendekat, “Jangan berteriak dan tahan napasmu saat kubilang siap.”

Si gadis memberontak. Ia sempat mengeluarkan lengkingannya beberapa kali agar Kai melepas jeratannya. Bayangan terburuk sempat melintas di benaknya. Mungkin pria itu akan merealisasikan pilihan kedua dari peraturan yang baru saja ia sebutkan—mengaraknya keliling kota dengan tubuh telanjang.

“Tidak! Lepaskan aku pria jalang!” pekiknya.

Kai menggubrisnya. Ia memejamkan mata seraya membawa serta tubuh gadis itu menghilang dari ruangannya.

Suara langkah ringan terdengar memasuki tempat tersebut.

Suho.

Pria itu mengaduh karena tak mampu menangkap tubuh Kai sebelum ia berteleportasi. Ia yakin bahwa inderanya menangkap kehadiran sosok lain yang berada di dalam ruangan tersebut.

Dan ia mengetahui siapakah sosok yang menjadi tawanan Kai saat ini.

…bersambung…

Header 01 (Cut)