EXOPLANET “Chapter 02” (Repackaged)

KEPULAN PARTIKEL BERWARNA BIRU MUNCUL DARI UDARA KOSONG YANG selanjutnya memadat membentuk sepasang tubuh manusia. Sekumpul pipit berparuh gagak menyebar ke segala arah, terkejut akan kehadiran mereka yang secara tiba-tiba hinggap di sana.

Tubuh Cho Ikha ambruk di atas rerumputan. Tangan rampingnya menekan dada, berusaha untuk menghirup udara sebanyak yang ia mampu. Ini kali pertama ia berteleportasi dan—demi Steve yang tak pernah memahami perasaannya—ia tak ingin melakukannya lagi sekalipun dalam keadaan genting. Rasanya seperti sesuatu tengah mencabik tiap buku-buku tulang, meremukkan tubuhnya hingga  ke sel-sel terkecil.

“Siapa kau?” ia menatap skeptis pada pria yang tengah berdiri tegak di sampingnya.

Sudut bibir si pengalih materi membentuk seulas ejekan. Jemarinya dengan nyaman bersembunyi di balik saku celana ketatnya. Sepasang mata hitamnya sempat beredar sebelum menatap Cho Ikha yang masih berusaha bernapas dengan susah payah dan kewalahan. Bibirnya menggumamkan sesuatu seperti sedang menggerutu.

“Kau benar-benar beruntung. Chanyeol bahkan nyaris kehilangan kakinya karena terhimpit partikel noménosku,” jelas Kai sembari membenahi letak rambutnya yang tertiup angin.

“What the heck are you talking about?”

Sambil menepuk-nepuk celana yang dikenakannya, Cho mendumal seorang diri. Pria berjaket hitam dengan rambut yang tak kalah hitam tersebut tak memberikan penjelasan lebih. Cho sama sekali tak memiliki gagasan mengenai keberadaannya saat ini. Meski dalam hati ia mengucap syukur karena pria ini tak mengaraknya mengelilingi kota akibat tuduhannya sebagai seorang penguntit.

Ia berdiri semampunya setelah yakin kedua lututnya bekerja dengan sempurna. “Kau harus bertanggung-jawab karena telah membawaku ke tempat asing ini.”

Kai tak peduli. Setelah menyumpahinya karena Cho mengucap kata yang sulit untuk dimengerti, ia beralih untuk menduduki sebongkah kayu yang telah mati dimakan cuaca.

“Mengapa aku berada di sini?” Cho nyaris berbisik. Sepasang pupil keputihannya beredar, mencari-cari sebuah tanda untuk meyakinkan diri bahwa ia belum melintasi batas negara yang ditinggalinya. “Tunggu dulu. Tempat ini bukan Kangweondo.”

Gadis itu berubah panik. Ia kembali memeriksa sekelilingnya dan meskipun ia mencoba menghibur hati, ia tak mampu mengenali hutan lebat di bawah matanya serta kota kecil di ujung penglihatannya.

Ia lalu mengosongkan udara dalam tubuhnya. Menenangkan pikiran di saat genting merupakan cara terbaik yang ia pelajari dari guru olahraga. Setidaknya hal itu berlaku saat ia mengerjakan soal ujian. Cukup dengan mengontrol pikirannya, ia dapat mengerjakan soal tersulit sekalipun. Karena setelahnya ia memiliki banyak ide untuk menyontek.

“Mengapa aku bisa berada di ruangan aneh dengan tirai yang menjulur-julur seperti lidah komodo? Mengapa rambutku berubah? Mengapa kulitku juga berubah?” Suaranya melirih, “dan mengapa aku tidak berpakaian?” kedua tangannya lalu menyilang di dada. Ia mendelik pada Kai, melolong bagai anjing akibat pikiran-pikiran keji yang melintas di benaknya.

“Dasar mata keranjang!” Cho menghantam tubuh Kai dengan pukulan dan tendangan. “Kau menculik dan akan menjualku ke pria nakal di luar sana, ‘kan?” ucapnya membabi-buta.

Sementara si pengalih materi melipat kedua tangan di dada, pria itu membiarkan Cho Ikha menyemburkan amarah dan kekalutan yang tak kunjung diterimanya.

“Duduk,” Kai berucap datar.

Tak peduli, Cho Ikha tetap menghujamnya bersama dengan makian-makian yang ia pelajari dari Amber.

“Kubilang duduk!”

Nada tinggi yang dikumandangkan Kai seketika membuat Cho menjatuhkan diri di atas rerumputan. Wajahnya menunduk memandangi rumput liar yang tertimbun oleh tubuhnya sendiri. Kai sama sekali tak menyodorkan sebilah pisau atau senapan kecil padanya. Namun kata-kata pria bertubuh tegap itu cukup membuat nyalinya menciut.

“Pertama, aku bukanlah pria jalang seperti yang kau kira,” Kai memberi penjelasan berhubung gadis itu menyilangkan kembali kedua tangannya di dada. “Seleraku cukup tinggi untuk memilih calon penerusku kelak.”

Cho Ikha mendongak. Harga dirinya sebagai seorang gadis terhormat seperti tanah tandus di bukit Yeonsang. Pernyataan si pengalih materi diibaratkan sebagai sebuah cangkul tajam; hanya dengan menggali sedikit lubang di sana akan menimbulkan longsor besar yang menghancurkan perasaannya.

Ia tak banyak bersuara mengingat perawakan Kai yang berbahaya. Sepasang mata legamnya semakin menggelap di tengah kesunyian malam. Sementara belati yang terselip pada sepatu tingginya membuat Cho memilih untuk menelan liur bersama makian yang hendak ia tujukan pada si pria.

Kai menyisir rambutnya tak sabaran mengingat ling-lung yang terpancar dari tatapan gadis itu membuatnya tak nyaman. “Kedua, kau harus mendengarkan penuturanku dengan baik atau akan kutahan rohmu di duniaku selamanya.”

Cho Ikha hendak menyela sebelum Kai menghentikannya dengan sekali gerakan tangan. Pria itu tak ingin mendengar bantahan. Dan lagi-lagi Cho Ikha hanya mampu menelan liur yang semakin pahit kian detiknya.

“Terakhir, jaga sikapmu saat berada di dalam markas─ruangan semula saat pertama kali kau terjaga, dan jangan terlalu mencolok saat berada di tengah publik.”

Sambil menyelipkan sejumput rambut di balik cuping telinganya, Cho Ikha mengamati sosok si pengalih materi dari untaian rambut yang bergerak liar tertiup angin. Sejujurnya, kekagetannya belum mereda sejak pria dengan wajah datar nan menawan itu melakukan aksi sihir─berteleportasi. Hal itu belum bisa meredakan pikiran kotornya.

“Kumohon kembalikan aku pada ibuku, preman tampan.” Mendadak gadis itu mencengkeram sepasang kaki Kai, “Aku tidak secantik Yuna dan Sera. Aku juga tidak sekaya Amber ataupun Bora. Aku masih ingin hidup. Jangan jual aku pada mereka. Aku masih muda,”

“Hentikan!” Kai meraung dan gadis itu serta-merta menjauh darinya, “Kau benar-benar tak mampu berpikir tenang,” desisnya.

Seketika Cho Ikha beranjak dari duduknya yang bersimpuh. Rambut panjangnya disibak beberapa kali karena angin malam tak mengijinkannya untuk mengamati wajah Kai lebih seksama dengan pandangan bebas.

“Dengarkan aku, pria menyeramkan. Aku hanya membutuhkan jawaban-jawaban yang ingin kudengar darimu, bukan ocehanmu yang panjang-lebar itu!” Ia mengarahkan telunjuknya angkuh pada Kai.

Pria itu menyeringai, menggelengkan kepala. Ia menyaluti perubahan yang ditunjukkan Cho Ikha padanya. Sebelumnya gadis itu menyebut preman tampan sambil menyembah di kakinya. Detik berikutnya, ia malah memakinya.

“Ingat poin kedua, dasar bodoh.” Kai berdiri, telapak tangannya menepuk kening Cho  Ikha hingga gadis itu nyaris terjungkal.

Iapun meringis, mengucapkan sumpah-serapah yang tak dimengerti Kai. Ia mendelik. Ditepuk-tepuknya kembali celana pria yang dikenakannya sambil menggerutu tak karuan.

“Tunggu sebentar,” gadis itu membeku sejenak. Sepasang alisnya mengeryit, nyaris menyatu membentuk gelombang. “Kau bukan hantu yang kulihat beberapa waktu lalu, ‘kan?”

Tiba-tiba Cho Ikha teringat sosok yang menghantuinya sebelum ia menjejaki tanah yang sama dengan Kai. Saat ia menatap Kai lebih seksama, sepasang pupil hitam yang dimiliki si pria berkilau kebiruan, mengingatkannya pada makhluk halus bermata biru yang mengekorinya.

Pria itu duduk kembali pada bongkahan kayu, meluruskan kedua kakinya yang letih. “Ingatanmu ternyata jauh lebih baik dari yang kukira.”

Dan jawaban itu membuat Cho Ikha menepuk kasar kedua pipi tirusnya bersamaan. “Jika kau adalah hantu, maka sekarang ini─”

Exoplanet,” Kai berkata sebelum gadis itu menyebut satu kata bodoh yang baginya tak pernah eksis di dunia. “Kau tidak sedang berada di surga atau di neraka, Cho Ikha,” imbuhnya.

Kebingungan, ia menyisir rambut panjangnya lagi lebih kasar─yang diartikan oleh Kai sebagai frustasi dan depresi yang berlebihan. “Ini tidak masuk akal. Seingatku, kulihat kau bergerak cepat bersama partikel hitam yang mengelilingimu sebelum sebuah kendaraan menghantamku.”

“Aku hanya mencoba untuk menolongmu saat itu. Sayangnya aku tak bisa menyentuh apapun. Tubuhmu masih terbaring di bumi setelah terjungkal hebat oleh benda beroda empat yang meluncur keras ke tubuhmu,” jelas Kai sesingkat mungkin.

Alih-alih mendumal seperti yang dilakukannya beberapa menit lalu, Cho memilih untuk diam dan memahami apa yang disampaikan pria itu padanya. Ia kembali duduk di atas rerumputan, menyeret bokongnya dengan paksa hingga terdengar gesekan kasar, menyandarkan punggungnya pada bongkah kayu dan membuat punggungnya sejajar dengan kaki panjang Kai.

“Belum kuketahui dengan pasti keadaan tubuhmu di sana. Yang kuingat hanyalah darah segarmu berceceran, nyaris melingkupi seluruh tubuhmu, menyaksikanmu tak berdaya seperti habis ditembak mati.”

Cho meringis. Bahunya bergerak tak karuan untuk merespon penjelasan tersebut. Ia tak sanggup membayangkan terhadap apa yang terjadi pada tubuhnya.

Lantas ia mendongak. Sambil menatap langit gelap, pikirannya tenggelam dalam dilema. “Jadi,” gumamnya, sambil berpikir.

“Jadi kuambil nyawamu selama tabib-tabib bumi menyembuhkan tubuhmu kembali. Berdoalah detak jantungmu di sana masih berfungsi dengan baik. Karena ketika jantungmu tak mampu memompa udara dan alirah darah, kaupun akan menghilang dari planetku seketika.”

Napas kasar gadis itu mengalir dari lubang hidungnya. Bagaimanapun juga, sejak tadi ia masih menyangkal setiap penjelasan Kai meski sebagian dari otaknya berbisik mengiyakan.

Gadis itu memicingkan mata. Satu titik terang di ujung penglihatannya membuatnya tak berkedip. Seolah terhisap jauh ke titik tersebut, benaknya mulai memvisualisasikan apa yang ditangkap oleh inderanya.

Di tengah kumpulan pohon-pohon tinggi, ia menemukan danau hijau pekat yang dikelilingi oleh bebatuan besar dan berlumut. Kemudian ia menembus rerantingan dan seperti terseret mesin waktu, ia kini melewati beberapa rumah penduduk yang sebagian di antaranya berada di dalam tanah kering dengan pintu besar yang menjadi satu-satunya akses jalan keluar.

“Lagipula jika kau mati di tempat kejadian, Baekh akan kesulitan untuk menemukan generasi Huglooms berikutnya.” Kai masih menjelaskan.

Suara pria itu menghentikan visualisasi yang ditemukannya. Gadis itu menoleh sejenak lantas kembali terpaku pada titik terang tersebut.

“Siapa Huglooms?”

Cho mendengar Kai berdecak.

“Kau,” jawab si pengalih materi.

Lagi, ia menatap Kai seolah pria itu sedang bergurau.

“Ya. Kau. Huglooms.” Kai mengulang kembali.

Gadis itu menggeleng. Ia membungkam diri karena saat ini visualisasi yang ditangkapnya berakhir dengan menampakkan sebuah gedung tinggi bercat putih yang dikelilingi tiga menara.

“Kau ingin menipuku lagi, huh? Setelah bonsai aneh, tirai hidup, teleportasi yang kau tunjukkan padaku, klaim yang kau ajukan atas tempat ini sebagai Exoplanet, lalu kau menyebutku Huglooms?” ocehnya. Ia sama sekali tidak menatap Kai saat bicara.

Pria itu jelas merasa tak dihormati. Melihat bahwa gadis disampingnya itu tak begitu tertarik untuk sekedar bicara, Kai memutuskan untuk mengikuti arah bola mata Cho Ikha tanpa banyak bertanya.

“Sejak tadi kau hanya menatap ke satu arah. Kau tak akan menemukan bumi di sana.” Dagu Kai menunjuk pada titik terang di ujung bukit.

Gadis itu menggeram, “Tidak. Istana Puteri Tidur di Disneyland jauh lebih indah dari bangunan itu. Hanya saja, kurasa ada sepasang mata di sana yang memperhatikan kita saat ini.”

“Kau dapat melihatnya? Maksudku, istana di sana?” tanya Kai secepat angin lantas dijawab oleh anggukan dari Cho.

Pria itu lekas beranjak dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya, meninggalkan guratan aneh yang jarang Cho tunjukkan di wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?” Ia tak banyak memberikan reaksi penolakan saat Kai merapatkan tubuhnya. Setidaknya wangi segar dari tubuh pria tinggi di hadapannya itu berhasil membuatnya tak berkutik.

“Seharusnya aku menyadari hal itu sejak tadi,” rutuk Kai.

Cho hampir memberinya jawaban sebelum ia sadar bahwa pria itu sedang menggerutu pada dirinya sendiri.

“Satu lagi yang harus kau ingat, Cho Ikha.” Kai meremas kedua bahu Cho tanpa melihat ekspresi gadis itu yang diartikan sebagai erangan singkat. “Jangan mengenakan pakaianku sembarangan atau akan kupaksa kau untuk melepasnya.”

“Kau─”

Kemudian keduanya menghilang tanpa kesempatan yang cukup bagi Cho Ikha untuk menyelesaikan gerutuannya.

-o-

CHO IKHA MUNDUR BEBERAPA LANGKAH SETELAH KAI MELUNCUR di atas permukaan kerikil jalan setapak. Ia terbatuk-batuk. Rasa sesak itu kembali merenggutnya. Ternyata menembus waktu bukanlah sesuatu hal yang menarik. Seperti itulah yang ia pelajari hari ini.

Sambil memijat pergelangan kakinya, Cho menengadah meneriaki Kai yang tak peduli dengan keeksisannya. Pria itu memasuki pintu besar yang berada di ujung jalan setapak. Padahal di balik punggungnya, wajah Cho mendadak pucat saat menyadari seekor hewan berkaki empat setinggi dadanya tengah terpekur di pojok halaman.

Beberapa pasang taring si hewan yang saling melengkung tajam di antara sisi-sisinya membuat Cho menelan liur dengan susah payah. Kulit hewan itu bersisik tajam seiring desahan napasnya yang memberat. Belum lagi deretan tulang tajam yang tersusun lurus di sepanjang tulang punggungnya.

Jangan tanyakan mengapa Cho mengetahui jumlah gigi si anjing besar. Hanya itu yang dapat ia lakukan karena Kai sama sekali tak membantunya.

“Aku tak peduli kau membawaku ke planet mana. Tapi bisakah pelankan sedikit langkah kakimu? Aku sama sekali tidak memakai alas kaki!”

Cho tertatih. Kaki telanjangnya tak mampu menapaki kerikil-kerikil di sepanjang halaman rumah besar yang menjadi tujuan Kai kali ini.

Tubuh pria itu berputar, sejenak memperhatikannya yang sedang membungkuk rendah tanpa alas kaki. “Pilihannya hanya dua. Ikuti aku atau akan kubiarkan Rooby13 menggigitmu,” ucap Kai datar.

Gigi Cho bergemeretak.

Kai seperti teroris-teroris dunia yang selalu memberinya pertanyaan jebakan yang selalu berakhir pada kesialannya. Sambil menyumpahi Kai dalam hati, Cho mengerang-erang acap kali menapaki kerikil tersebut. Karena gelar gadis tomboi yang ia sandang di sekolah, Cho tak pernah diperlakukan tak layak oleh seniornya sekalipun. Steve mungkin iya. Namun Cho memberikan pengecualian untuk pria tampan pecinta Putri Elsa tersebut.

Suara gaduh di dalam rumah besar itu kemudian menggugah benak Cho.

Diam-diam ia memasuki ruangan setelah berhasil melewati tantangan batu-batu tajam. Terdapat beberapa bilik dinding yang menguasai pandangannya. Cho hanya berjalan mengikuti arah suara. Tanpa banyak kesulitan, gadis itu menemukan Kai berbincang dengan pria tinggi dengan kulit putihnya yang nampak bersinar di antara lampu penerang di dalam ruangan.

“Jangan katakan padaku bahwa kau kembali beradu mulut dengan Suho. Dia mencarimu sejak tadi.” Si pria tinggi itu bicara. Suaranya terdengar lembut dan menggoda, seperti suara Orlanda Bloom saat aktor Hollywood itu berperan sebagai Legolas dalam The Lord of The Ring.

“Aku tidak ada urusan dengan pria aneh itu. Kau sendiri? Mengapa masih disini dan tak kembali ke markas?”

Cho mendapati Kai menggerakkan kepalanya ke arah lain.

“Kau pikir aku ingin kembali ke sana dan menjadi bahan ocehan Suho?”

Tepat sesuai dugaannya. Suara maskulin itu merupakan bukti bahwa terdapat kehadiran makhluk lain di antara mereka. Cho tak dapat menemukan sosok tersebut yang tersembunyi di balik sekat putih berbentuk belahan-belahan jajar genjang.

“Sudah kuduga kau bersamanya.”

Cho, yang sebelumnya tak pernah disangka akan tertangkap oleh lensa hitam di kedua mata si pria tinggi, seketika terpaku.

Pria itu sama sekali tak berpaling darinya meski Kai membalikkan tubuh dan ikut menjurus tajam. Cho melempar sebilah senyum kaku. Jari-jari kakinya saling beradu di atas permukaan keramik putih sementara sebagian tubuhnya terhalang dinding.

“Kau membiarkannya tanpa alas kaki?!”

Pria itu bertanya dengan sedikit histeris kemudian menghampiri Cho tanpa basa-basi. Rambutnya yang berkilau kecokelatan ikut terbang bersama langkahnya yang besar-besar. Cho dibuatnya kikuk karena pria itu melontarkan beberapa pertanyaan dalam detik yang sama. Bahkan Cho sempat tersanjung sebelum akhirnya delikan tajam Kai membuatnya berhenti mengagumi keramahan si pria.

“Kenapa kau bawa sang Huglooms kemari?” Si pria menuntunnya menuju ruangan di balik sekat putih.

Itu dia.

Di sana, pria lain dengan sepasang telinga fairy-nya sedang menganga tak percaya. Cho mencuri pandang kepada Kai tapi pria itu sama sekali tak menggubris. Ia malah disibukkan dengan pakaiannya yang nampak berat seolah dilapisi kulit buaya berbaja.

“Akhir-akhir ini aku tak bisa mempercayai Suho. Jika kau tak keberatan, aku ingin pelayanmu mengurus gadis cerewet ini selama beberapa hari,” pinta Kai.

Mulut Cho menyebut serapah kotor sekencang mungkin pada Kai. Beruntunglah tak ada satupun yang memahami makna dari ucapannya.

Si pria tinggi berkulit putih itu tersenyum di hadapannya. “Tentu. Dengan senang hati,” ucapnya lembut.

“Hentikan, Chanyeol! Kau membuatnya ketakutan!” Sergahan Kai membuat pria bertelinga lebar itu menghentikan tatapannya. Namun setelah itu Chanyeol tetap kikuk dan sama sekali tak mengucapkan apa pun selain ‘oh’ dan ‘ah’.

“Temui aku di markas esok hari. Pemimpinmu itu benar-benar membuatku jengkel,” rutuk Kai sembari melempar aksesori bergerigi dari pergelangan tangannya ke sembarang tempat.

Seketika Cho menyergap lengan Kai. Ia tak perlu kesulitan melakukannya karena Kai masih berada di dalam jangkauannya. “Kau tidak berniat untuk meninggalkanku di tempat ini, ‘kan?”

“Jika kau ingin tidur bersama tirai yang menurutmu seperti binatang hidup di ruanganku─”

“Setuju!” Buru-buru Cho memotong kalimat Kai. “Aku akan tinggal di rumah ini asal kau berjanji tak akan kabur dariku! Hanya kau yang dapat mengembalikanku ke bumi!” imbuhnya.

“Kau tidak akan menetap di sini selamanya, Cho Ikha. Kai akan kembali jadi tenanglah.” Lagi-lagi si pria tinggi putih itu yang berbicara, menenangkan.

Cho melirik hati-hati pada Kai. Alisnya mengerut, membuat Kai tak dapat memahami makna yang sedang Cho sampaikan padanya.

“Aku bukan orang jahat,” ucap si pria seolah mengerti benar maksud Cho.

Senyum yang pria itu berikan padanya membuat Cho berubah tenang. Kegusaran di hatinya seketika lenyap dihujani oleh ketulusan dari senyum si pria yang seolah tak pernah padam seperti obor di wilayah industri kilang minyak.

“Aku akan kembali. Ada yang harus kuurus.”

Kai melepaskan cengkeraman Cho di lengannya. Pria itu menjentikkan jari seraya menghilang dan menyisakan partikel berwarna biru pekat.

Di hadapan gadis itu, si pria menunduk, melayangkan tanda hormat padanya disertai gerakan tangan di dada yang tak dimengerti Cho. Kemudian ia menunjuk ke arah tertentu, mempersilahkan si penyandang Huglooms itu untuk mengikutinya.

Sejenak Cho mencurigai pria itu. Ditambah lagi kehadiran Chanyeol membuatnya risih sekaligus takut. Chanyeol tak bersuara dan hanya memandangnya tanpa jeda. Cho bahkan mengira Chanyeol sedang kerasukan hantu sekolahnya.

Beruntunglah pria tinggi putih itu begitu tampan dan mempesona.  Cho mengikuti instruksinya tanpa kecurigaan yang membuncah. Setidaknya pria itu sempat menyebutkan nama sebelum ia memutuskan untuk tinggal di rumah mewah tanpa tirai hidup dan benda-benda aneh lainnya.

“Namaku Sen Charitomenos, dan kau hanya cukup memanggilku Sehun,” ucapnya disertai sepasang mata yang melengkung sempurna seperti kue bulan.

-o-

APA KALIAN SUDAH MENDENGAR DESAS-DESUS YANG BEREDAR di luar?” Kris menyesap minuman berwarna merah maroon pada cangkir berbentuk setengah lingkaran miliknya.

Ia dikelilingi kelima Castè Myrath. Kris duduk di pusat perhatian. Hanya meja besar saja yang menjadi penghalangnya dengan anggota lain.

“Perihal apa?” tanya Lay acuh─meski bagi Chen pria itu justru sedang berpura-pura peduli terhadap pertanyaan Kris.

“Kunjungan Kai ke bumi,” jawab pemimpin Castè Myrath dengan nada bassnya yang menggema di keheningan.

Tao—yang hanya memusatkan diri pada kura-kura kecil bercangkang istana—angkat bicara. “Meski Kai memiliki kemampuan berteleportasi, kita semua paham betul jika Kai tak pernah suka bepergian ke tempat jauh. Apalagi ke bumi.”

“Berhentilah mendengarkan gosip-gosip murahan. Lebih baik kau tanyakan langsung pada Kai.” Chen ikut menimpali. Buku bacaan yang semula bertengger manis di pangkuannya dilemparkan ke arah rak. Seperti dikendalikan oleh sihir, buku itu seketika tersimpan rapih di antara buku lain.

“Lalu bagaimana dengan syarat terakhir, Kris? Apa kau tetap akan melakukannya?” tanya Xiumin. Tak seperti anggota lain, ia lebih memilih untuk fokus pada setiap pertemuan castè yang selalu Kris adakan setiap minggu.

Kris mendengus kasar. “Menikah itu hanya sebuah simbol. Apa salahnya jika aku mencoba?”

“Sampai kapan kau akan bersikap berlebihan seperti ini? Pertandingan ini juga hanya sebuah permainan─sama seperti pernikahan bodoh itu. Kapan kau akan berhenti menyuruh kami untuk tidak bertegur-sapa dengan Castè Krypth?”

Ocehan Chen membuat Kris menatap tajam padanya. Kedua bahu pria dengan bibir Jokernya itu bergerak naik-turun. Sungguh disesali saat Parleemos menyuruh para anggota untuk mengikuti setiap instruksi pemimpin.

Ia masih belum memaafkan pemimpinnya saat pria itu hampir membakar Tao beberapa waktu lalu. Penyebabnya sepele, Kris menemukan Tao berbagi tawa dengan Baekhyun. Lihatlah, jangan salahkan pria termuda itu saat ia tak lagi memandang Kris.

Chen yakin. Saat ini anggota lain hanya dirundung rasa takut. Siapa yang ingin dibakar hidup-hidup oleh api sharon yang dimiliki Kris? Jawabannya tentu saja ‘tak ada’.

Dilihatnya jemari Kris menyentuh mulut nephencea di atas meja. Tanaman itu mengeluarkan sebatang rokok dari daun anggrek hitam. Ia mengeluarkan sejumput api dari ujung kelingking. Tak lama kemudian kepulan asap hitam saling berdayu-dayu muncul dari napas Kris.

“Kita gunakan rencana kedua. Waktu pertandingan semakin dekat,” ucap Kris disertai kepulan asap hitam dari mulutnya.

Paham dengan ucapan Kris, para castè yang ada di dalam ruangan seketika tertuju pada Luhan. Sedari tadi pria itu sibuk membaca perkamen-perkamen tua. Ia sama sekali tak ikut berargumen atau sekedar mengucap satu kata.

Luhan tersenyum simpul, menyadari bahwa seluruh perhatian castè terpusat padanya.

“Jangan gunakan aku sebagai kaki tanganmu. Bersikap sportif lebih baik ‘kan?” ucap Luhan, masih berkutat dengan perkamennya tanpa menoleh pada Kris.

Kris, bagaimana pun juga, kadang jengah dengan sikap Luhan yang seolah-olah membela Krypth dan tak pernah mendengarkan perintahnya. Meski Luhan telah membuktikan kesetiaannya pada Myrath, hal itu tetap tak mengurangi kecurigaan Kris. Tao dan Chen bahkan membela Luhan acap kali muncul pertengkaran kecil di antara keduanya.

“Ingatlah akan ketidakadilan yang selalu gugus kita terima selama ini,” ujar Kris.

“Alasan itu tidak cukup kuat untuk meyakinkanku, Kris. Aku hanya ingin kita semua bersikap dewasa dalam menanggapi pemilihan ini. Kau ingin menjadi penerus Parleemos? Lakukanlah dengan caramu sendiri.”

Kris memperhatikan gerak-gerik Luhan dari sudut matanya. Entah mengapa ucapan Luhan selalu berhasil mematahkan setiap pernyataannya. Jujur saja, ia tak mampu mengartikan senyum yang sejak tadi mengembang di bibir Luhan saat ini: apakah senyum itu adalah senyum tulus atau senyum hina yang sengaja ditujukan Luhan padanya.

-o-

WAJAH CHO TAK LAGI MENGUSUT SEJAK PAGI TADI IA terbangun dari tidur lelapnya. Harus ia akui, kebangsawanan Sehun telah berhasil membuatnya nyaman berada di dalam rumah yang hanya dihuni oleh beberapa pelayan eksklusifnya.

Gadis itu menoleh saat suara langkah seseorang tertangkap inderanya. Sehun muncul bersama sepasang pelayan lain. Dari cara pria itu memandang, Cho memahami bahwa si anak bangsawan itu cukup terpana oleh sosoknya.

Cho tak lagi mengenakan celana ketat Kai dan kaus sederhana. Kali ini ia mengenakan gaun sebatas lutut yang menutupi pergelangan tangannya. Seorang pelayan petite menata rambut dan memoles wajahnya dengan bubuk beraroma manis yang kental. Tak lupa sepasang sandal membalut indah kaki telanjangnya.

Ada berbagai ketertarikan tersendiri yang Sehun rasakan saat ini. Mungkin karena gadis itu bukan berasal dari planetnya─yang notabene memiliki penampilan berbeda. Atau mungkin karena Cho adalah seorang Huglooms─yang ia pelajari sebagai si penjaga Scutuss dengan pesona yang terpendam.

“Jadi,” Sehun mencoba untuk memulai pembicaraan.

Keduanya kemudian duduk di halaman rumah. Dikelilingi oleh rerumputan dan bunga-bunga, gazebo berbentuk segi enam yang meneduhi Cho terlihat seperti singgasana pengantin. Bagi Sehun, duduk bersama Cho ternyata jauh lebih menarik ketimbang menemani Baekhyun ke pasar raya. Dan untungnya ia tak perlu menemaninya hari ini.

“Pria yang membawaku kemari─”

“Namanya Kai,” jawab Sehun.

Cho hanya mengangguk. Bibirnya bergerak membentuk huruf O tanpa suara.

Sejak tadi malam, gadis itu sama sekali tak berani untuk mengucapkan kata selain terima kasih dan maaf. Sehun sangat menghargai setiap kata yang muncul dari bibir Cho saat ini. Gadis itu tak pernah tahu seberapa banyak kekaguman Sehun atas Huglooms itu sendiri.

Sehun melipat kedua tangan di atas meja, tepat di depan dadanya. “Kau bahkan mengerti bahasa kami dengan baik,” ucapnya. Sepasang matanya menatap lurus pada manik mata Cho.

Alis gadis itu mengerut. Setahunya, ia selalu mengucap bahasa buminya sejak tiba di planet ini. Cho paham betul dengan apa yang diucapkan Sehun dan Kai, dan ia dapat berkomunikasi dengan baik sejauh ini.

“Kau masih tak mengerti juga?” Sehun kembali bertanya lalu Cho menggelengkan kepala.

Sehun berdeham, geli. Jemarinya menyuruh gadis itu mendekat. Cho menurut, kemudian Sehun meletakkan telapak tangannya pada sepasang telinga mungil Cho. Perlahan ia merasakan suara di sekelilingnya meredam. Ia tak dapat mendengar selain desing angin dari telapak tangan Sehun.

Sehun memejamkan mata sejenak kemudian menatap lurus, membisikkan sesuatu seperti mantra sihir yang dipenuhi ilmu hitam.

“Kau mendengar apa yang kukatakan?” ucap Sehun setelah menyingkirkan lengannya.

Cho mengeryitkan dahi. Wajahnya sedang menerka-nerka. “Seperti bahasa latin kuno,” ucapnya lirih.

Tawa Sehun menggema di sela-sela udara pagi. “Itu bahasa kami,” tandasnya.

“Jika kau mengucapkan bahasa planetmu, mengapa aku bisa mengerti apa yang kau katakan?” tanya Cho, masih tidak paham.

“Karena kau seorang Huglooms,” jawab Sehun.

Mendadak gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Sehun. Tubuhnya memanas saat ia menyadari bahwa pria itu mengerling manis padanya. Ia meraih cangkir kecil yang disediakan pelayan untuknya. Cairan hijau pekat itu menyesak ke dalam tenggorokan Cho. Jika saat ini Jong yang ada di hadapannya, ia yakin teriakan hebat akibat rasa aneh yang meluncur di tenggorokannya tersebut akan membuat Rooby menggigitnya seketika.

“Apa itu Huglooms? Kai sempat menyebut kata itu saat ia membawaku kemari,” tanya Cho, sedikit mendesak.

Sehun meneguk minumannya sebelum melanjutkan obrolan. Cho hanya menatap miris cairan hijau pekat yang jika diaduk perlahan lalu mengental seperti lumpur di padang beras.

Huglooms itu─”

“Itu dia!”

Teriakan seseorang di balik punggung Cho membuat gadis itu terperanjat. Seorang pria yang nyaris menggapai tinggi badannya, berlari dengan kekuatan penuh untuk mencapai kursi kosong di samping Sehun.

Ia menunduk, memberi penghormatan yang sama seperti yang dilakukan Sehun sebelumnya kemudian tersenyum lebar seindah yang ia mampu.

“Hai, aku Baekh. Chanyeol memberitahuku bahwa kau bersama Sehun kemarin malam.” Pria itu menjulurkan tangan yang lantas ditepis kasar oleh Sehun.

“Jangan bersentuhan dengannya. Dia itu seekor razour14,” sergah Sehun.

Senyum aneh Cho berubah menjadi kekeh tawa setelah Sehun menjelaskan binatang buas bernama razour tersebut. Baekh mengikuti alunan tawa Cho sebelum akhirnya ia memberikan pukulan kecil di sudut perut si pengendali angin.

Baekh menyeret kursinya perlahan. Tentu saja agar bisa lebih dekat dengan Cho. “Butuh bantuanku untuk menjelaskan?” tanyanya.

Belum sempat Sehun mengucap satu kata, pria itu mengangkat tangan menyuruhnya untuk diam. Cho menahan tawa. Jelas sekali Sehun tak kuasa menahan hasratnya untuk melayangkan pukulan balasan di wajah Baekhyun.

“Aku akan menceritakan garis besarnya saja,” Baekh berdeham. “Ada sebuah cerita yang menyebutkan perihal pedang Aftheurcaly yang dijaga oleh Prajurit Samudera Maritimo. Pedang itu dilansir memiliki kekuatan yang dahsyat. Jika pedang itu berhasil dikendalikan oleh seseorang, maka tak akan ada yang mampu mengalahkannya. Sejauh ini apa kau paham?”

Cho mengangguk lemah. Ia menatap Sehun dan pria itu ikut mengangguk pelan─pertanda bahwa gadis itu harus memaklumi cara bicara Baekhyun yang hampir menyaingi kecepatan sinar matahari.

“Sayangnya, hingga saat ini tak ada yang mengetahui dimana letak pedang tersebut. Desas-desus menyebutkan bahwa pedang itu ada di planet ketujuh. Sedangkan satu-satunya makhluk yang mengetahui letak Afftheurcaly hanyalah sang Huglooms,” lanjutnya.

“Dan kalian mengira bahwa aku ini adalah seorang Huglooms? Begitu?” tanya Cho, sedikit retoris.

Gadis itu mengeluarkan tawanya saat sepasang pria di hadapannya mengangguk bersamaan. “Pernyataan kalian begitu konyol! Maksudku, bagaimana mungkin aku bisa berubah menjadi seorang Huglooms?”

“Baekhyun memiliki kekuatan cahaya corion yang mampu menuntun siapapun menemukan tujuannya. Ketika ia mencoba mencari Huglooms, tak disangka corion menuju ke arah planetmu bernaung,” ungkap Sehun.

Cho terdiam. Penjelasan Sehun membuatnya merenung cukup lama. “Sejujurnya aku masih tak percaya bahwa Kai telah membawaku kemari. Tubuh ini,”

Gadis itu menatap sepasang telapak tangannya yang tak lagi memerah seperti yang ia miliki sebelumnya. Kulitnya pucat seperti mayat. Ia tak pernah menyukai orang-orang berkulit putih selama hidupnya. Kecuali Steve─lagi. Dan kali ini ceritanya sungguh berbeda.

“Ada beberapa alasan yang menguatkan kami bahwa kau memang benar seorang Huglooms,” Sehun memperhatikan Cho Ikha yang sedari tadi menggerakkan seluruh jemarinya.

“Pertama, kau mampu melihat Kai saat ia berkunjung ke duniamu. Manusia lain belum tentu dapat melihat Kai dengan kemampuan yang sama.”

Cho mendesah panjang. Sejauh ini ia tak menyangkal pernyataan Sehun.

“Kedua, rohmu tidak memudar saat Kai membawanya berteleportasi.”

Cho mendongak. Ia kemudian mendesah berat. Sehun mencondongkan tubuhnya untuk mendekat. Gadis itu sempat menghindarinya namun Baekhyun tak kalah menakutkan. Pria itu menatapnya seolah dirinya santapan razour. Sungguh menyeramkan.

“Rohku tidak memudar,” Cho merenung. “Maksudmu, Kai telah memusnahkan banyak roh dari bumi hanya untuk mencariku?” kali ini ia nyaris berteriak.

Sehun dan Baekh saling bertatapan, menatap gusar diselingi deham yang tak mampu menyangkal maupun membenarkan ucapannya.

“Terakhir, kau satu-satunya makhluk bumi yang memahami bahasa kami.” Sehun mengakhiri kalimatnya dengan tegas.

Bola mata Cho berputar. Sepasang tangannya bergerak di depan dada, menyuruh keduanya menjauh dan tetap menjaga jarak pribadi dengannya.

“Itu tidak membuktikan apapun, Sehun-ssi,” sanggah Cho.

Satu-satunya makhluk bumi yang mengetahui bahasa kami, Cho kembali mengiangkan kalimat tersebut dalam benaknya. Entah berapa kali mereka mencoba untuk membawa manusia-manusia di bumi ke dunia mereka. Konyol sekali jika dipikir lebih dalam.

Huglooms memiliki kekuatan yang hanya diketahui oleh Penjaga Samudera Maritimo. Selama kau disini, aku akan membantu menemukan keahlianmu.” Baekhyun menawarinya bantuan.

Cho mengetuk meja, gusar. “Jika aku adalah Huglooms, setidaknya aku dapat mengingat masa laluku atau apapun itu yang dapat mengingatkanku pada pedang itu,” ocehnya. Ia teringat akan beberapa film fantasi yang ia tonton di televisi. Setidaknya tontonan itu sedikit membantunya untuk berpikir.

“Dari buku yang kubaca, Huglooms sengaja menutup pikirannya agar reinkarnasinya tak mengetahui letak pedang tersebut. Ia hanya menyisakan satu kekuatan yang mampu membawanya pada pedang itu.” Sehun kembali menjelaskan dengan gamblang.

Cho memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Baginya, legenda maupun dongeng yang diceritakan para orang-tua hanyalah akal-akalan mereka saja untuk mengelabui anak kecil. Ternyata ia salah. Justru saat ini ia sedang berada di dalam dunia tersebut.

“Baiklah, aku tak peduli kalian akan menganggapku ini sebagai apa. Aku akan membantu kalian menemukan pedang itu—meski aku sama sekali tak tahu bagaimana caranya. Aku hanya meminta kalian untuk membawaku kembali ke bumi. Itu saja,” ujar Cho mengalah.

Pasrah pada akhirnya.

“Yang bisa membawamu kembali hanya Kai. Jadi bersikap manislah padanya,” ucap Baekh.

Serasa tertimbun batu pegunungan sebesar gajah Thailand, kepala Cho kembali berdenyut saat si pengendali cahaya menuturkan pria berhati dingin itulah yang akan membawanya pulang. Ia cukup lelah menghabiskan tenaganya untuk memaki pria itu. Apa lagi ini? Mengemis agar ia membawanya pulang?

“Mengapa kalian begitu menginginkan pedang itu? Pasti ada sebuah kepentingan disini,” Cho merubah arah pembicaraan.

Baekhyun menopang dagunya. “Kau akan mengetahuinya nanti,” jawabnya, disertai sebuah kerlingan yang membuat Cho harus menelan liurnya.

Bukan karena terpesona, melainkan karena takut Baekhyun akan menikamnya.

“Kalau boleh tahu, apa yang kau katakan ketika kedua telingaku ditutup?” Cho beralih pada Sehun.

Bicara pada Sehun jauh lebih baik. Sungguh. Baekhyun itu harus digaris-bawahi.

“Oh, kalimat itu? Artinya ‘aku adalah pria tampan sejagad raya’,” jelas Sehun penuh percaya diri.

-o-

02.00 AM.

Cho tak tahu pasti waktu menunjukkan pada angka mana. Ia hanya sekedar menerka-nerka karena di sana ia sama sekali tak menemukan jam atau pun pasir dalam botol yang jatuh perlahan.

Setelah Sehun mengantarnya ke markas Krypth, Cho tak mampu memejamkan mata. Tempat ini seperti tak berpenghuni. Meski saat ini ia berada di ruangan terbesar, ia merasa takut dan canggung. Semua keasingan di sekitarnya membuat gadis itu ragu untuk menatap dunia di luar markas. Razour, sedari tadi ia masih berpikir bentuk rupa binatang buas itu.

Cho menyingkap tirai yang melapisi jendela. Bersyukurlah Kai telah mengganti tirai hidup itu menjadi beludru tipis berwarna putih. Sejenak ia mengingat kehidupannya di bumi. Ia merindukan hal-hal yang ada di sana. Di sini, ia tak menemukan minuman kaleng. Tak ada televisi dan juga ponsel. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan di planet ini dengan segala perbedaan yang ada.

Di sini, ia merasa hidup di zaman purbakala.

“Aku tahu kau belum tidur.”

Cho terlonjak mendengar sahutan seseorang di balik punggungnya. “Jangan mengagetkanku seperti itu, Kai,” dumal Cho. Meski sesungguhnya ia cukup lega karena Kai lah yang muncul di sana.

Pria itu menyandarkan tubuh pada ambang pintu. “Saat aku mengamatimu di bumi, kau tidak pernah sekaget ini setiap kali menghadapi makhluk-makhluk halus,” tuturnya.

“Aku belum terbiasa dengan planet ini. Kau lihat, terlalu banyak hal-hal aneh yang kutemui,” ungkap Cho. Dagunya bergerak ke arah beberapa benda yang membuatnya tak mau berlama-lama di ruangan ini.

“Tunggu dulu. Memang sejak kapan kau mengamatiku?” tanya Cho begitu menyadari pengakuan Kai.

Pria itu mengangkat bahu. “Kurang lebih enam puluh hari berdasarkan putaran bumi. Selama itu, aku hanya mengamatimu dari kejauhan. Karena aku tahu, Huglooms dapat menemukan keberadaanku.”

Cho hanya berdeham. Ia sudah bosan mendengar hal-hal yang tidak masuk akal seharian ini. Gadis itu berjalan ke arah tempat tidur hingga suara sesuatu menghentikan langkahnya.

Kepala Kai menunduk menahan tawa. Dilihatnya Cho tengah mengusap perutnya beberapa kali. “Sebaiknya kau makan. Hidangan sudah tersedia.”

Cho menyelipkan beberapa helai rambutnya di balik telinga. “Tak biasanya kau perhatian padaku,” tanyanya berjalan mendekati Kai.

“Baekhyun membawakanmu makanan.”

Bola mata Cho berputar. Ia lupa bahwa Kai memang pria dingin yang tidak punya perasaan.

“Turunlah. Kebetulan aku belum makan. Ada satu menu yang ingin kusantap.”

Bibir Cho mengerucut. Tatapan sebalnya kembali terpancar pada Kai. “Jadi, kau menghampiriku karena ingin menyantap makananku? Kau ini—ya!

-o-

APA INI?!” CHO MELOLONG SEPERTI SERIGALA SAAT menatap hidangan yang tersaji di atas meja.

“Tentu saja makanan,” ucap Kai kemudian menyeret bangku di sudut kanan.

“Ini? Kau bilang ini makanan?” Telunjuk Cho mengarah pada piring terdekat dengan jarak pandangnya. Bagaimana mungkin napsu makan Cho memuncak jika melihatnya saja dapat membuatnya mual seketika.

Pada mangkuk alumunium oval, Cho melihat lintah sebesar ibu jari mengapung di atas sup bening dengan bintik-bintik seperti telur katak di dasar mangkuk. Di sebelahnya, piring bergerigi dengan hiasan lily ungu menyajikan beberapa lidah binatang bersisik, digoreng kering lalu disiram oleh semacam saus tar-tar pekat.

Cho lebih enggan menyentuh ikan besar di tengah hidangan lain. Taring tajam membuat ikan tersebut seperti dragonfish beracun yang dihidangkan bersama daun-daun mint berbulu halus. Mungkin mereka menganggap daun itu seperti selada. Baginya, daun itu lebih mirip sekumpulan ulat bulu yang mati akibat disemprot anti-hama.

“Lebih baik aku tidak makan seumur hidup daripada harus memakan hidangan ini,” desis Cho. Ia membekap mulut, menahan diri untuk tidak memuntahkan isi perutnya di sana.

Kai menatap Cho. Sepertinya ia harus membuat sebuah memo bahwa gadis itu adalah makhluk bumi. “Memang biasanya apa yang kau makan?” tanya Kai.

“Nasi!”

Kai mendesah hebat. Sepasang alat makan yang terselip di jemarinya ia hentakkan dengan kasar sebelum ia menyentuh si dragonfish beracun. “Wanita memang selalu menyusahkan,” kemudian partikel kebiruan yang selalu mengelilinginya tersebut membawanya berteleportasi.

Bibirnya hendak berucap meski teleportasi yang Kai lakukan jauh lebih gesit dari yang ia kira. Maka Cho Ikha memutuskan untuk menunggu, mana tahu pria berkepala batu itu akan kembali bersama permintaannya yang tidak masuk akal. Lagipula siapa yang akan menyantap hal-hal menjijikkan itu di atas meja. Tak apa baginya untuk memungut rempah roti di jalanan, tapi tidak dengan ulat bulu di dalam sup hijau pekat.

Sepi, Cho memutuskan untuk berjalan ringan. Saat ia baru saja membuka pintu utama setinggi tiang bendera, sekelompok pria—lengkap dengan perisai serta tombaknya—membentuk barisan di hadapannya. Seorang pria berjubah merah mencolok di tengah barisan melangkah mendekatinya. Ia tak berucap namun berbisik melalui matanya. Pria berambut hitam pekat itu meraih lengan Cho Ikha kemudian mengecup punggung tangannya dengan lembut. Seiring hal tersebut, cahaya putih terang membawa mereka menghilang dan berlabuh ke suatu tempat.

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms