Mermaid “Chapter 01”

LEE HYUK JAE.

Janganlah memberanikan diri untuk menapaki wilayah Timur jika penduduk mereka menemukan ketidaktahuanmu atas nama pria tersebut. Para wanita di sana tak akan segan membuang siapapun ke dalam lubang talaças atas bentuk ketidakhormatan tersebut.

Namanya adalah satu di antara anggota Kerajaan Super Junior, sang penjaga wilayah Timur.

Keberuntungannya hari ini tak berjalan sesuai kehendaknya. Kunjungannya ke Kepulauan Azure bersama Arklys pagi ini berakhir merepotkan. Tentu saja ia tak mampu menolak perintah petingginya untuk berpatroli setiap hari. Lagipula hal tersebut merupakan salah satu dari tugas para penjaga wilayah Timur. Hanya saja permasalahan di kepulauan tersebut seolah-olah tak kunjung mereda.

Bulan lalu, serangan scylla dan sekumpulan troll yang tersesat muncul di salah satu kepulauan tersebut. Kepulauan di perbatasan wilayah Timur dan Selatan pun mengalami hal serupa. Kali ini ia masih beruntung karena menemukan seekor duyung. Ia yakin wanita itu tak akan berbahaya seperti duyung-duyung timur di Laut Aqua.

Hyukjae sempat ragu jika keputusannya untuk membawa wanita ikan tersebut ke dalam istana merupakan keputusan yang tepat. Sisi kemanusiaannya bergejolak mengacuhkan ketidakpedulian yang selalu ia tunjukkan pada siapapun yang ditemuinya selama ini.

Sambil menyeimbangkan tubuhnya dengan gaya terbang Arklys, Hyukjae berbisik lega saat kudanya melewati hutan gorgyle yang terletak di bawah bukit kerajaan. Sayap putih Arklys terlentang lebar. Tanpa mengamati warna-warni dari atap rumah yang membentang di bawah matanya, kuda itu terbang dengan kecepatan konstan menembus angin dingin di udara.

Di sana, tepat pada dinding bebatuan bukit cefa, bangunan besar dengan warna putih yang mendominasi tersebut berdiri kokoh bersama sepasang air terjun yang mengapitnya. Bangunan itu yang paling mencolok—besar, elegan dan berada di tempat tertinggi.

Hyukjae membungkukkan tubuhnya saat Arklys mendarat di balkon utama. Kehadirannya disambut oleh Yesung bersama tanda tanya besar yang tersorot dari tatapan matanya. Pertanyaan Yesung yang bertubi-tubi tak ditanggapi sama sekali. Pria itu memilih untuk memasuki istana megah tersebut dengan langkah kakinya yang besar-besar.

“Hyukjae, sudah kukatakan berkali-kali untuk tidak membawa wanita manapun ke dalam istana! Dan kali ini kau malah membawa seekor ikan?” sungut Yesung. Rambut hitamnya berkibar bersama jubah panjangnya yang terseret-seret di lantai.

“Sediakan sebuah tempat berukuran besar di ruanganku lalu isilah dengan air laut sebanyak mungkin,” titah Hyukjae pada beberapa pelayan istana yang membungkuk atas kedatangannya.

“Hei, hei, hei! Lee Hyukjae!”

Di balik punggungnya, Yesung mencoba menyetarakan langkah Hyukjae saat pria itu tidak mengindahkan kata-katanya. Suaranya menggema di sepanjang lorong istana. Bagaimanapun juga, status yang disandang Yesung sebagai salah satu yang tertua jelas-jelas telah menendang jauh Hyukjae yang berstatus lebih muda.

“Aku menemukannya saat berpatroli bersama Arklys,” terang Hyukjae singkat.

Jawaban itu cukup membungkam mulut Yesung setelahnya. Pengamatan pria yang lebih pendek dari Hyukjae itu terhenti saat ia menyadari lebam dan luka yang memenuhi tubuh sang duyung.

“Ia bukan berasal dari wilayah kita. Bentuk ekornya sangat lain,” Yesung berujar. Sepasang mata hitamnya terpusat pada bagian tubuh yang paling mencolok dari si duyung.

“Inilah alasanku membawanya kemari—mengobati sekaligus menginterogasinya,” jawab Hyukjae lugas.

“Baiklah. Aku akan memanggil Leeteuk dan Donghae sementara kau menyembuhkannya. Keduanya baru saja tiba dari konferensi empat-penjuru di istana Sonyeo Shidae.”

Hyukjae mengangguk. Fokusnya kali ini tertuju pada duyung yang terkulai lemah. Ia mengerutkan alis. Jemarinya bergerak mengusap permukaan wajah wanita setengah ikan tersebut. Kulitnya yang semula putih mulus mulai mengerut dan bersisik. Ekor keunguannya pun menghitam secara perlahan.

“Tidak mungkin,” bisik Hyukjae parau.

Ia kemudian berteriak, melanglang buana, menyuruh pelayannya yang tergopoh-gopoh membawa tub kaca untuk mempercepat gerakan mereka. Teburu-buru, Hyukjae meletakkan tubuh yang hampir mati itu ke dalam wadah. Mereka meninggalkan Hukjae karena pria itu membentak tajam, membiarkannya berjuang dan merengek seorang diri saat limpahan air tersebut membasahi ruangannya.

Hyukjae menggulung kemeja putihnya hingga siku, mulai mengusap lengan sang duyung dengan gerakan yang lambat. Sejujurnya ia tidak memiliki bakat untuk menyembuhkan luka seperti halnya Ryeowook. Ia melakukan hal itu sekedar untuk memberikan sedikit rasa aman pada duyung tersebut.

Diraihnya pergelangan tangan si duyung lantas digenggamnya tanpa memberikan tekanan yang menyakitkan.

Aneh.

Ia sama sekali tak menemukan denyut nadi di sana.

Hyukjae mendesah berat. Sepasang lengan kokohnya kemudian bertumpu pada sisi tub, membiarkan bilah bibir duyung tersebut kian membiru.

Sia-sia, pria itu beranjak dari tempatnya. Sepatunya menjejaki genangan air dan menciptakan percikan-percikan tak berirama. Ia hanya perlu menunggu kedatangan Leeteuk—untuk membahas kemana mayat duyung tersebut akan dibuang.

Asumsi buruk itu kemudian tidak bertahan lama.

Hyukjae kembali mendekati tub saat tubuh duyung yang terendam sempurna di dalam air tersebut menyilaukan sejumput cahaya keunguan. Dengan cekatan pria itu meraih tubuh sang duyung. Rambut hitamnya mengempis di balik punggungnya saat Hyukjae mengangkat sebagian tubuhnya.

Duyung itu mengerjap.

Kulitnya tak lagi menghitam dan mengerucut. Dari gerakan tubuhnya, Hyukjae menerka-nerka bahwa sang duyung menolak pertolongannya. Ia mengibas ekornya, mengoyak air laut di dalam wadah hingga membasahi sebagian tubuh Hyukjae.

“Aku sama sekali tak mengerti apa yang kau ucapkan,” frustasi, Hyukjae bergumam.

Desisan mengalir dari kecapan bibir si duyung yang mulai memerah. Tubuhnya mengerang saat Hyukjae menyentuh luka di torsonya.

“Kau bukan dari wilayah ini,” Hyukjae kembali bergumam.

Duyung itu hanya mendesis memberi jawaban. Hyukjae menyeringai. Sungguh bodoh menjadi seorang penjaga wilayah Timur yang tak mampu memahami bahasa kaum duyung.

“Duyung EXO?”

Hyukjae melonjak kaget begitu hentakan dari suara di balik punggungnya itu menusuk jantungnya. Ia mengenali suara itu dengan baik. Suara dengan setengah lengkingan itu milik Leeteuk, pemimpin para penjaga wilayah Timur.

“Bagaimana mungkin kau menemukannya di Azure” Ketidakpercayaan yang diutarakan Leeteuk hanya mampu disambut oleh desah panjang dari Hyukjae.

Leeteuk segera bersimpuh di samping sang duyung. Ia meraih dan menggenggam jemarinya. Keduanya mendesis, berkomunikasi satu sama lain. Sesekali Leeteuk menatap Hyukjae. Tatapan serius dan mendalam.

Desisan si duyung kembali terdengar. Iris matanya yang semula berwarna biru terang kini berubah merah menyala. Sementara Hyukjae dan Yesung hanya mampu mengamati. Keduanya sama-sama tak ingin menginterupsi perbincangan mereka.

“Jika kau pikir kami adalah orang jahat, Hyukjae akan segera menghabisimu saat pertama kali ia menemukanmu di sana,” Leeteuk mengutarakan pendapatnya, membela diri.

Duyung itu kemudian menatap Hyukjae. Desisannya semakin menjadi-jadi, menampakkan gigi-giginya yang menyeramkan.

Hyung, akan lebih baik jika kami juga mengetahui apa yang kalian bicarakan,” Yesung angkat bicara. Ia tak mampu menahan keingintahuannya. Menjadi pria dungu yang tak mengerti apa-apa ternyata cukup menyedihkan.

Leeteuk menunduk sementara sang duyung menggeleng lemah seolah menolak. “Baginya, saat ini bukanlah ide yang baik untuk berbicara dengan bahasa manusia.” Itulah jawaban singkat Leeteuk hingga membuat Yesung sedikit frustasi.

“Leeteuk hyung!”

Sahutan seseorang mengalihkan perhatian mereka.

Siwon, anggota ke delapan Kerajaan Timur, muncul bersama sepasang pria dengan kostum yang sama. Ia hanya menatap sepersekian detik saja pada tub besar tersebut karena sorot matanya hanya terarah pada sang pemimpin.

“Ada urusan penting yang harus kuselesaikan. Kau akan ditemani Hyukjae dan Yesung. Mereka akan membantumu,” ucap Leeteuk pada sang duyung, kemudian menghilang diiringi alunan jubah putih tulang yang mewah.

Duyung itu berpaling pada Hyukjae dan Yesung, mengeratkan bibir hingga rahangnya yang tirus berkedut-kedut.

Hyukjae meraih jubahnya yang ia letakkan sembarangan di atas meja. “Kami akan meninggalkanmu di sini untuk sementara waktu. Bicaralah padaku setelah kau tak lagi merasa canggung.”

Sang duyung lantas mendongakkan kepala, mengikuti gerakan tubuh Hyukjae yang membentang tinggi saat ia berdiri.

Hyukjae mendesah, sama sekali tak banyak berucap. Yesung, yang sedari tadi hanya melayangkan senyumnya, melenggang pergi dari ruangan karena Hyukjae menariknya paksa. Keduanya sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun setelah kalimat terakhir yang disebutkan Hyukjae sebelumnya.

“Sebelum kalian pergi, bolehkah aku meminta sesuatu?” si duyung akhirnya melayangkan sebuah tanya dengan penuh hati-hati.

Suaranya lembut, begitu yang dikumandangkan Hyukjae dalam pikirannya sejenak sebelum mereka benar-benar pergi. Ia kemudian mengukir sejumput senyum yang tak kentara, “Tentu. Dengan senang hati.”


BENARKAH?” SUARA HENRY MELENGKING NYARING bersamaan dengan sepasang mata besarnya yang kian membulat.

Ryeowook menepuk pipinya yang mengembung seperti balon, menyuruhnya untuk tidak bicara selama mengunyah makanan.

“Kau tidak sedang bercanda, hyung?” Kembali Henry bertanya pada Yesung dengan penuh antusias. Kali ini ia menelan bulat-bulat makanannya atau Ryeowook benar-benar akan menamparnya.

Yesung mengayunkan sepotong daging di ujung garpunya. “Apa kau pikir aku adalah seorang pembual seperti Donghae?” Bibirnya bergerak naik-turun.

Sungmin terkekeh. Rambut putih keabu-abuannya mengembang sempurna seiring tawa renyahnya yang menggelegar. “Lalu dimana duyung itu sekarang?” tanyanya.

“Masih di ruangan Hyukjae. Ia tidak bisa berjauhan dengan air laut atau ia akan mati,” jelas Yesung seraya melahap potongan daging ke dalam mulutnya.

“Bolehkah aku melihatnya?” pinta Henry, mencondongkan tubuhnya agar Yesung mampu mendengarnya bergumam.

Suara derap langkah yang kuat dan mengitimidasi lalu menghentikan Henry. Penjaga termuda itu kemudian membenahi kaki dan letak kursinya. Leeteuk, diiringi Siwon dan Zhoumi, memasuki ruangan tersebut bersamaan. Setelah menyampirkan jubah, mereka duduk di tempat masing-masing seolah kursi berjumlah lima belas tersebut memiliki nama tersendiri.

“Maaf, kami terlambat.” Leeteuk memposisikan diri pada kursi utama. Ia melayangkan pandang, tak menemukan Hyukjae, Kangin, Hangeng, Kibum serta Heechul di sana. Mungkin mereka masih ada kesibukan lain—berkencan atau semacamnya.

“Bagaimana, hyung?” tanya Donghae, kali ini berucap. Baginya, sangat tidak sopan membicarakan hal lain saat hidangan berada di depan mata.

“Perdagangan elf ilegal di hutan trocana ternyata ulah para pembajak dari Barat. Aku sudah menghubungi Onew untuk meminta pertanggungjawaban. Sedangkan para binatang yang mati keracunan limbah rafflesia di pulau horz sudah mendapat pengakuan Taeyeon. Aku tak habis pikir, mengapa para wanita itu membangun pabrik di sana?” Leeteuk berceloteh. Ia sempat mengucapkan terima kasih pada Ryeowook yang, lagi-lagi, memasak seluruh menu makan malam kali ini.

Donghae mengerutkan alis. “Pabrik?”

Leeteuk mendesah panjang, “Aku tak tahu untuk apa pabrik itu dibangun. Yang jelas, mereka menggunakan tenaga beberapa binatang terlarang maupun para kerdil untuk menggerakan pengangkut dan penggiling. Sungguh tidak berperikemanusiaan.”

Zhoumi dan Siwon duduk mengapit Leeteuk. Keduanya tidak berucap, terlalu lelah mengurusi beberapa hal di dalam kota. Belum lagi para wanita yang selalu meneriaki mereka setiap kali datang mengontrol keadaan.

“Oh, Yesung. Bagaimana keadaan duyung itu?” tanya Leeteuk, hampir melupakan manusia ikan yang ditolongnya siang ini.

Yesung membiarkan dangkkoma, kura-kura kecil peliharaannya, melahap potongan wortel di atas meja. “Entahlah. Ia hanya meminta beberapa hal sebelum aku dan Hyukjae meninggalkannya di sana.”

“Beberapa hal?”

“Pakaian, handuk, air laut tambahan, dan seember kerang mentah yang dicampur plankton merah,” jelas Yesung. Tawanya menggelegar saat cangkang dangkkoma terbalik, meringkuk tak berdaya.

“Untuk apa plankton merah dan juga kerang mentah?” Donghae kembali bersuara.

Tak banyak diantara mereka yang memperhatikan perbincangan Yesung dan Leeteuk perihal duyung tersesat tersebut. Hanya Henry dan Donghae. Kyuhyun, Sungmin, dan Ryewook lebih memilih membahas kedai minum terkenal di wilayah Selatan. Siwon dan Zhoumi menikmati hidangan tanpa berkomentar. Sedangkan Shindong memiliki dunianya sendiri setiap kali jam makan tiba.

Yesung menggedikkan bahu, “Untuk dimakan, mungkin.”

Henry seketika menjulurkan lidah mendengar terkaan Yesung.

Di tengah obrolan makan malam mereka, seorang pelayan mendekati Leeteuk, membisikkan sesuatu yang dijawab oleh anggukan singkat darinya. Pria itu menegakkan tubuh menyambut kehadiran seseorang yang akan bergabung bersama mereka.

Seorang wanita meletakkan telapak tangannya di dada kiri, membungkuk sebagai tanda hormat pada Leeteuk. Ia mengenakan gaun sebatas mata kaki. Siluet yang menampakan lekuk tubuhnya semakin menampakkan detail yang sempurna. Warna cokelat muda yang mendominasi gaunnya begitu serasi dengan warna kulit si wanita. Henry bahkan harus menutup kedua cuping telinganya yang mulai memerah.

“Bolehkah saya bergabung dengan anda?” tanyanya sopan.

“Tentu saja,” jawab Leeteuk, mempersilahkannya bersama mereka yang hanya terdiri dari pria-pria lajang.

Siwon beranjak dari tempatnya, menyuruh tamu sang pemimpin untuk duduk di kursinya. Kemudian ia beralih untuk duduk di samping kursi miliknya.

“Siapa yang menata rambutmu?” tanya Leeteuk.

Si wanita tersenyum. Rambut sebatas pinggulnya digulung secara acak. Beberapa helai rambut sengaja menggelantung di kedua sisi kepalanya. “Aku hanya mencoba menyatukannya saat menemukan cermin di dalam ruangan.”

Kemudian ia mengedarkan perhatiannya pada seluruh pria yang ada di sana. Wajahnya menampakkan raut kekecewaan saat sadar bahwa orang yang dicarinya tidak menjadi bagian dari acara makan malam.

“Hyukjae berhalangan hadir malam ini,” ucap Leeteuk singkat.

Wanita itu hanya mampu tersenyum setelah mendengar ucapan Leeteuk.

“Sungguh mengejutkan kau bisa—” Leeteuk menggantungkan kalimatnya, mengarahkan sepasang bola matanya pada sepasang kaki wanita itu.

“Hanya beberapa spesies kami saja yang mampu mengubah ekor ini menjadi sepasang kaki. Dan beruntunglah karena aku adalah salah satu di antara mereka,” tuturnya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat, alangkah baiknya jika kau dapat membagi namamu dengan kami di sini,” giliran Siwon yang bicara, menimbulkan lesung pipi yang cukup dalam saat pria itu membentuk sebilah senyum di wajahnya.

“Kaki? Ekor? Maksudmu?”

“Apa kau adalah duyung yang ditemukan Hyukjae tadi pagi?”

“Benarkah?”

“Tidak mungkin. Dia pasti tamu dari Selatan. Pesuruh Tiffany atau Yoona.”

“Apa kau bercanda, hyung? Jelas-jelas dia menyebut kata ekor. Sudah pasti dia adalah duyung yang berada di ruangan Hyukjae.”

Para penjaga Timur saling bersahutan, menciptakan sebuah perdebatan kecil seperti di pasar malam. Leeteuk lantas mengaum, menghentikan pergunjingan mereka meski bisikan Kyuhyun dan Sungmin masih terdengar jelas.

“Sebaiknya kau memperkenalkan diri terlebih dahulu. Suara-suara mereka membuatku pusing,” saran Leeteuk.

Kemudian hening saja yang mengisi ruangan. Mereka menunggunya untuk berucap tapi justru hal itu menambah kesan horor baginya.

Leeteuk berdecak. Sadar bahwa wanita itu merasa risih dengan tatapan mereka. “Maaf. Jarang sekali ada wanita yang berkunjung ke istana.”

Auman Kyuhyun dan Henry menggema tanda pembelaan diri.

Wanita itu menggeleng. “Tak apa,” sanggahnya. “Namaku Sabina Mara,” sapanya dengan nada yang halus nan tegas.

…bersambung…