IT’S A BOOBY TRAP

Kedua tangannya ia letakkan di dada Hyuk, mendorong tubuh pria berambut blonde tersebut menjauh darinya secara perlahan. Senyumnya mengembang tatkala Hyuk memberikan sebuah reaksi penolakan. Senang rasanya menemukan pria agresif di tengah hiruk pikuk bunyi dentuman lagu yang dimainkan deejay di dalam bar.

Hyuk mengerang, jengah atas sikap Lia yang sedari tadi tak pernah sinkron dengan kemauannya. Setiap kali ia memperkecil jarak antara mereka berdua, tubuh Lia seolah seperti kutub utara pada magnet yang selalu bertolak belakang dengan sesamanya. Bahkan gadis itu menepis tangannya yang mulai nakal menyusup ke balik kaus ketat hitamnya.

“Kenapa?” rutuk Eunhyuk, dagunya mengerut disertai tatapan kekecewaan dari matanya.

Bibir Lia  melengkung sempurna saat melihat ekspresi Eunhyuk. Jemarinya yang semula bertengger manis pada bahu Eunhyuk kini bergerak menelusuri rahang tegas milik pria berkulit putih mulus tersebut. “Kita baru saling mengenal dua jam yang lalu. Apakah tidak terlalu cepat jika kita…”

Saat Lia menggantungkan kalimatnya, bola matanya bergerak pada satu titik pada tubuh Eunhyuk sebagai pengganti kata-kata selanjutnya. Pria itu menyeringai, memahami maksud yang ingin diutarakan olehnya. Rambut ikal sebatas punggungnya yang begitu rapi serta wangi khas hair spray yang menyeruak membuat Eunhyuk tak dapat menahan diri untuk menciuminya. Entah kenapa dengan mencium rambut Lia justru membuat libido-nya semakin meningkat.

“Bukankah kau juga menginginkannya, hmm?” goda Eunhyuk sambil sesekali menggesekan ujung hidung mancungnya pada permukaan leher Lia.

Lagi-lagi Lia menyeringai. Tidak salah jika ia memilih Eunhyuk sebagai teman kencannya malam ini. Sebenarnya masih banyak pria tampan dengan isi dompet yang dipenuhi kartu kredit di dalam bar yang didatanginya saat ini. Namun ia lebih tertarik pada Eunhyuk. Pria berperawakan skinny tersebut memiliki kharisma dan aura yang berbeda.

“Kau memang pandai merayu wanita, Eunhyuk-ssi.” Lia mengganti jemari yang tengah menelusuri rahang Eunhyuk dengan bibirnya, menghembuskan napas hangat melalui sela-sela bibir sambil sesekali membasahi permukaan leher Eunhyuk menggunakan lidahnya.

“Dan kau juga pandai memikat pria, Han Lia-ssi.” Gumam Eunhyuk, mengakui bahwa gadis yang ada di hadapannya ini memang berhasil membuatnya lupa diri.

Bosan karena terlalu lama berbasa-basi, Eunhyuk berinisiatif untuk menyerang lebih dulu.

“Tidak sekarang, Lee Hyuk Jae.” Tolak Lia saat Eunhyuk berusaha melepas cardigan soft floral pink yang melapisi kaus ketatnya.

Ia mendengar Eunhyuk mengaduh. Pria itu menghempaskan tubuh pada dinding sofa yang didudukinya seraya memejamkan mata dan berpura-pura mengacuhkan lawan mainnya. Sedikit childish memang. Tapi justru hal itu merupakan daya tarik tersendiri bagi Lia.

“Disini tidak leluasa, sayang.” ucapnya, mengklarifikasi.

Dielusnya seduktif paha Eunhyuk yang dilapisi jeans belèl abu-abu hingga membuat pria itu kembali mengerang.

Kemudian Lia membisikan sesuatu pada Eunhyuk, membuat pria itu terkekeh pelan. “Such a Bad girl,”

That’s who i am,” ucap Lia, cukup bangga dengan gelar yang diberikan Eunhyuk barusan.

Mereka akhirnya beranjak dari sofa eksklusif yang disediakan pemilik bar menuju hotel terdekat yang direkomendasikan Lia. Tawa mereka ikut menghiasi rentetan suara musik yang menggema. Padahal tak jauh dari sana, seseorang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka. Senyum liciknya mengembang. Sambil meneguk wine, orang itu menatap kedua insan tersebut melalui sudut matanya secara intens.

***

Stop,” sergah Lia saat Eunhyuk melewati sebuah pagar besar yang menjulang setinggi tiga meter disertai tulisan ‘Do Not Enter’ menggelantung di antara besi penyangga.

Refleks, Eunhyuk menginjak pedal rem dengan tiba-tiba dan membuat tubuh keduanya agak condong ke depan. “Ada apa lagi, Han Lia-ssi? Shangri La masih beberapa blok lagi dari sini,” ucapnya, tak sabaran.

Tanpa menjawab rengekan Eunhyuk, gadis berambut ikal itu membuka pintu White Audi A6 seraya mengedipkan mata pada pria yang tengah duduk di kursi pengemudi di sebelahnya. Sejenak ia memperhatikan pagar dengan seksama, kemudian memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan ke arah pagar tersebut. Dengan tubuh rampingnya, ia berusaha menerobos taman melalui celah-celah sempit. Pekikan Lia terdengar tatkala ia berhasil masuk ke dalamnya.

Eunhyuk kembali mendesah. Sedari tadi Lia selalu saja mengulur-ulur waktu. Mesin mobil pun ia matikan kemudian menarik rem tangan sebelum akhirnya benar-benar keluar dari dalam alat transportasi kesayangannya itu.

“Ayolah, tidak ada yang menarik di dalam sana!” sahut Eunhyuk setengah berteriak. Ia memperhatikan jalanan yang lengang—sepi tanpa satu kendaraan pun yang melintas—lalu kembali tertuju pada Lia.

Meski hanya cahaya dari lampu jalan raya serta sinar bulan purnama yang menerangi keadaan sekitar, Eunhyuk masih bisa melihat dengan jelas ketika Lia berjalan semakin jauh ke dalam taman. Dilihatnya Lia melepas wedges lalu membuangnya sembarangan. Entah karena efek wine yang diteguknya barusan atau karena ia terlalu menginginkan Lia sekarang, ia merasa bahwa gadis itu tengah menggodanya seraya melepas cardigan serta kaus yang sulit ia tanggalkan sejak di bar.

Sudut bibir Eunhyuk tertarik ke atas. Kini ia tak peduli lagi dengan Shangri La. Taman ini sepertinya tak kalah nyaman. Ditambah lagi gadis itu terus saja memicunya. Imannya seketika runtuh dalam sekejap.

Catch me, my man!” teriak Lia dari kejauhan.

Merasa ditantang, akhirnya Hyuk berusaha masuk ke dalam taman dengan cara memanjat pagar. Tidak sampai semenit, ia bisa masuk tanpa mengalami kesulitan. Seolah ia memang sudah terbiasa dalam hal panjat-memanjat. Bola mata Eunhyuk dengan liar mencari keberadaan Lia. Keadaan taman yang gelap gulita membuatnya agak kesulitan mencarinya, ia hanya mengandalkan sinar rembulan. Itu saja.

“Lia, kau akan merasakan akibatnya jika aku berhasil menangkapmu,” tantang Eunhyuk.

Ia berlari menyusuri taman, mengikuti arah suara tawa Lia yang menggema di udara. Taman itu sepertinya tidak lebih dari dua hektare tapi ia tak menemukan Lia disana.

Saat Eunhyuk mendekati sebuah pohon berbatang besar tak jauh dari tempatnya, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan seseorang dari balik tubuhnya. Dengan sigap ia berputar sembari memicingkan telinga. Suara itu seperti suara seorang gadis. Suara orang ketakutan.

“Han Lia! Kau dimana?” teriak Eunhyuk. Ia berjalan mengikuti arah timbulnya suara sambil diliputi kecemasan. Tidak lucu bukan jika ia tidak bisa menikmati malam ini bersama Lia hanya karena gadis itu celaka.

“Jangan bercanda, Han Lia! Ini tidak lucu!” teriaknya untuk kedua kali. Kecemasannya semakin menjadi saat mendengar pekikan suara gadis dari kejauhan sana. Eunhyuk memperhatikan keadaan sekitar dengan seksama namun percuma saja. Hanya kegelapan yang menyelubunginya sekarang dan ia tak dapat melihat apapun kecuali semak-semak serta beberapa pohon yang tumbuh jarang.

Setelah bergumul dalam hati, Eunhyuk memutuskan untuk mencari Ikha. Ia menerobos kegelapan sambil mencoba mengikuti arah datangnya suara. Hingga saat ia menyingkirkan pohon bambu kuning yang menghalangi jalannya, ia memandang tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.

Sekelilingnya kini dipenuhi pohon-pohon yang menjulang tinggi—mirip seperti hutan tropis. Merasa ada sesuatu yang janggal, Eunhyuk mencoba untuk kembali ke tempat semula. Namun ia tak menemukan pohon bambu kuning yang ia lewati barusan. Seolah tempat yang dilewatinya lenyap seketika. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan. Rasanya begitu aneh jika ada sebuah hutan tropis di tengah-tengah kota. Setahunya, Seoul tidak memiliki jenis hutan seperti ini.

“Han Lia!” sahut Eunhyuk. Setidaknya ia harus menemukan gadis itu sekarang. Ia tidak ingin dianggap seorang pengecut dengan meninggalkan teman kencannya itu menghilang di tempat aneh ini.

Di tengah kegelapan malam tersebut, Eunhyuk berjalan dengan meraba-raba tanah menggunakan kakinya. Hening. Tak ada suara apapun selain suara angin yang mendesir serta bunyi oak burung hantu yang saling bersahutan. Saat ia menginjak ranting-ranting kering, jantungnya langsung melompat tak karuan di dalam dadanya. Demi apapun, ia paling benci ketika sudah berurusan dengan kegelapan.

Eunhyuk memutar tubuh dengan cepat ketika merasakan sesuatu seperti bayangan melintas di belakangnya. Sayangnya, ia tak menemukan siapa-siapa disana. Hanya pepohonan. Tak ada yang lain. Ia  sesekali menghirup dan menghembuskan udara lewat mulutnya untuk menenangkan diri—meski cara itu tidak cukup jitu.

“Han Lia, berhenti bermain petak umpet denganku.” Ucapnya, hampir bergumam.

Sedetik kemudian, ia mendengar tawa seorang wanita menggema di udara. Tawa itu seperti datang dari segala arah. Bulu kuduk Eunhyuk seketika berdiri tegak. Angin semilir yang berhembus di sekitarnya memberi nuansa yang berbeda. Ia memang hanya sendirian di hutan antah berantah ini, tapi ia merasa seperti ada beberapa pasang mata yang memperhatikan.

Tangan Eunhyuk mengusap punduk lehernya sesekali. Ia tak tahu harus kemana sekarang—karena ia tak dapat kembali ke taman tersebut karena pohon bambu sialan itu. Ia berjalan mundur. Ia harus memastikan bahwa tak ada yang mengikutinya atau memperhatikannya sekarang.

Saat ia berjalan perlahan sambil terus mengedarkan pandangannya ke depan, tubuhnya seketika terhenti saat merasakan sesuatu menabrak tubuhnya. Eunhyuk membeku selama beberapa detik. Apapun itu—yang menabraknya—terasa begitu dingin dan padat. Perlahan, kepalanya berputar untuk memastikan benda apa yang telah ditabraknya.

Eunhyuk berteriak saat mendapati sesosok nenek-nenek tua dengan mata kucing yang menyala-nyala berdiri kokoh dibelakangnya. Saking kagetnya, tubuh Eunhyuk terjungkal ke belakang. Sambil merapaki tanah, ia bergerak menjauh ketika wanita tua tersebut menyeringai padanya.

“Di—dimana Han Lia?” tanya Eunhyuk terbata-bata. Ia harus mendapat jawaban dari nenek-nenek tersebut karena pakaian yang dikenakannya sangat mirip dengan apa yang dikenakan Lia sewaktu di bar.

Nenek itu tersenyum seraya menampakan gigi-giginya yang mulai keropos dan menguning. Peluh di pelipis Eunhyuk mengalir. Yang ada dibenaknya sekarang adalah, nenek-nenek yang entah berasal dari mana ini telah melakukan sesuatu pada Lia. Wanita tua itu mengucapkan sebuah kalimat yang tidak dimengerti Eunhyuk sambil menggerakan kedua tangannya, melambai-lambai.

“A—apa yang kau lakukan padaku?” tanya Eunhyuk histeris.

Nenek tua itu menjulurkan satu tangannya pada Eunhyuk dan detik berikutnya pria itu langsung merengkuh lehernya sendiri. Ia merasakan ada sesuatu yang begitu kuat mencekiknya. Nenek tua itu berjalan perlahan mendekati Eunhyuk yang terkapar di tanah dan yang masih berusaha menghilangkan sesak pada lehernya. Saat jemari-jemari nenek itu yang notabene sudah mengerut termakan usia, ia menyentuh permukaan wajah Eunhyuk sambil merapalkan sesuatu dari mulutnya.

Eunhyuk mengerang. Kulit wajah yang di sentuh oleh nenek itu terasa terbakar. Belum lagi cekikan di lehernya yang membuatnya sulit bernafas. Hal itu membuatnya semakin kesulitan untuk bertindak.

Tidak. Ia harus berbuat sesuatu atau ia akan mati sia-sia di tangan keriput nenek-nenek tersebut. Dengan mengumpulkan sisa tenaganya, Eunhyuk mencoba menjauhkan si nenek yang terus mencoba mendekatinya dengan cara menendang pangkal perutnya. Nenek-nenek itu sempat terjengkang ke belakang. Seketika itu juga leher Eunhyuk terbebas dari cekikan gaib tersebut.

Dengan susah payah, Eunhyuk berusaha berdiri dan berlari menjauh sebisa mungkin. Terbatuk-batuk, ia berusaha untuk menggerakan kedua kakinya yang terasa kaku.

Argh,”

Eunhyuk meringis merasakan sakit yang luar biasa. Jemarinya yang semula mengusap pipinya kini telah dilumuri oleh darahnya sendiri. Tapi ia tak ingin menyerah. Bagaimana pun juga, ia harus bisa keluar dari hutan ilusi ini atau selamanya ia tak akan pernah kembali.

Di tengah langkah kakinya yang semakin cepat, Eunhyuk merintih mengucapkan kalimat-kalimat Tuhan yang ia hafal. Padahal sebelumnya, ia tak pernah melakukan hal itu. Yang ia tahu hanyalah bagaimana bersenang-senang, menghambur-hamburkan uang, atau bermain wanita.

Entah Tuhan mendengar doa’nya atau faktor keberuntungan belaka, Eunhyuk melihat celah yang diterangi lampu jalanan tak jauh dari tempatnya. Sambil menahan sakit di pipinya, ia berlari sekuat tenaga mencapai celah itu, mengeluarkan tubuhnya dari sana sambil terus mengumandangkan do’a.

Ia mendengar tawa nenek-nenek tersebut yang kadang menyebutkan nama aslinya dari belakang. Eunhyuk mencoba menahan diri untuk tidak melihat, ia tak ingin nenek-nenek itu menggapainya dan membuatnya semakin terpuruk seperti ini.

Setelah keluar dari celah itu, akhirnya ia berhasil bertemu dengan jalanan. Selang beberapa meter, mobil White Audi-nya terparkir manis di tempat semula. Saat ia melangkah dengan berat menuju mobilnya, ia mendengar suara bisikan yang terbawa angin malam di sekelilingnya dan membaur dengan kegelapan.

Sebelum menyalakan mesin, ia mengarahkan cermin yang menjadi bagian dari mobilnya sambil menatap wajahnya. Eunhyuk meringis saat menemukan lubang menganga di wajahnya. Ia nampak seperti zombie sekarang. Bagaimana mungkin nenek sialan itu bisa membuat wajahnya menjadi seperti ini?

Saat Eunhyuk baru saja memutar kunci mobilnya, ia melihat sebuah bayangan bergerak di depan mobil. Bayangan tersebut berubah wujud menjadi sesosok nenek yang ia temui di hutan ilusi barusan.

Eunhyuk memicingkan kedua matanya saat menemukan sesuatu yang aneh. Sosok nenek tersebut perlahan-lahan berubah wujud. Keriputnya menghilang dan digantikan oleh kulit putih mulus. Wajahnya yang buruk rupa kini berubah menjadi wajah cantik yang ia kenal tadi malam.

“Eunhyuk-ssi,” bisik nenek tua tersebut yang kini bersosok gadis yang dikenalnya, Han Lia.

Ketakutan. Eunhyuk berusaha mati-matian menyalakan mesin mobil dengan tergesa-gesa. Ia harus pergi sekarang juga. Ia tahu, semua ini sulit untuk dipahami oleh akal sehat. Tapi yang ia inginkan hanyalah pergi secepat mungkin dari tempat terkutuk itu.

“Seharusnya kau jangan menengok ke belakang, Eunhyuk-ssi.”

***

Benarkah?” tanya Heechul di tengah tawanya yang menggelegar. Mendengar kabar yang diceritakan Leeteuk justru membuatnya semakin ingin terbahak.

Yeah. Mayat Eunhyuk ditemukan di sekitar Taman Central. Dan anehnya, tubuh Eunhyuk hanya tersisa kulit dan tulang saja. Sudah tak berbentuk lagi,” celoteh Leeteuk kemudian meneguk ice-blended-chocolate-nya.

“Mengenaskan,” gumam Heechul. Setidaknya ia mencoba untuk bersikap prihatin atas apa yang menimpa Eunhyuk, salah satu teman baiknya.

“Sepertinya kau nampak biasa saja, Chullie. Apa kau tidak merasa khawatir?”

Heechul melepaskan rangkulan tangannya pada gadis yang tengah duduk manis disampingnya untuk mengambil segelas soju di atas meja. “Untuk apa? Kematian, jodoh, rejeki, semua sudah diatur oleh Yang di Atas. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati, dan cara kita meninggalkan dunia pun berbeda-beda. Contohnya Eunhyuk,”

Leeteuk berdecak. Memang susah jika bicara dengan Heechul. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan Tuhan atau hal-hal yang berbau mistik. “Bukan itu. Masalahnya, malam itu Eunhyuk pergi bersama seorang wanita. Sampai sekarang, wanita itu sedang dalam masa pencarian,” tuturnya.

“Dan kau berspekulasi bahwa wanita itu yang membunuh Eunhyuk? Hah! Basi!” oceh Heechul.

Sambil meneguk sojunya, ia sempat mengerling nakal pada seorang wanita yang tengah duduk sendirian pada sofa tak jauh darinya. Kemudian ia merangkul kembali gadis yang ada disampingnya. Melayangkan senyum sejenak lalu memberinya sebuah kecupan di bibir. Leeteuk bahkan sempat berdecak melihat kelakuan Heechul

“Sudahlah. Bersenang-senang saja, Teuki-ah. Apakah perlu kukenal seorang wanita padamu?” tawar Heechul lalu diberi sebuah gelengan dari Leeteuk.

Bosan karena gadis di sampingnya tak begitu pandai berciuman, Heechul memilih meninggalkannya dan juga Leeteuk dan beralih ke tempat lain. Wanita yang sempat beradu kontak dengannya kini tengah menyesap batang rokoknya. Lirikan matanya mengisyaratkan bahwa Heechul diajak bergabung di mejanya. Sambil membenahi jas hitam tipisnya, Heechul bergerak ke arah wanita tersebut lalu memposisikan diri duduk disampingnya.

“Sepertinya kau sendirian. Perlu kutemani?” tanyanya, sedikit berbasa-basi.

Wanita itu mengepulkan asap rokok dari mulutnya kemudian mengedipkan kedua matanya perlahan ke arah Heechul, sengaja menggodanya. Ia menggigit bibir bawahnya sejenak saat kedua matanya dengan liar menelusuri setiap inchi tubuh Heechul.

“Kalau kau tidak keberatan,” jawabnya. Ia mengarahkan bola mata pada wanita yang tengah duduk dengan Leeteuk dari kejauhan, menunggu Heechul kembali padanya.

“Dia tidak begitu menggoda jika dibandingkan denganmu,” aku Heechul. Salah satu tangannya meraih beberapa helai rambut ikal wanita tersebut sambil memilin-milin—memainkan rambutnya.

“Pria memang selalu pintar memuji bukan?” ucap wanita itu, merajuk.

Heechul memberanikan diri untuk mengecup bibirnya. Awalnya mungkin hanya sekedar mengecup, tapi karena si wanita terlihat agresif, Heechul justru mengubah kecupannya menjadi ciuman-ciuman ganas.

Heechul melepas ciumannya. Menyeringai puas karena pada akhirnya ia menemukan wanita yang ia cari—yang pandai berciuman.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyanya sambil mengusap bibir wanita tersebut menggunakan ibu jarinya.

Si wanita menyibakan rambutnya sejenak. “Kau boleh memanggilku dengan nama apapun. Tapi biasanya, semua pria mengenalku dengan nama Han Lia,”

Wow, nama yang sangat indah.” Puji Heechul.

“Aku tahu tempat yang bagus untuk kita berdua. Kurasa kita memang butuh sedikit privasi,” ucap Ikha, bergumam di telinga Heechul.

Heechul terkekeh, “Such a bad girl,”

That’s who I am,” balas Lia.

** Selesai **

Header 01 (Cut)