EXO PLANET “Chapter 03” (REPACKAGED)

UNTUK KE SEKIAN KALI, CHO MERASAKAN TUBUHNYA seolah terhisap ke dalam lubang angin hingga memaksa setiap partikel-partikel dalam tubuhnya terpecah-belah oleh kekuatan tersebut. Baginya, teleportasi bukanlah heroin─yang mampu membuatnya ketergantungan, melainkan sebuah malapetaka, siksaan yang tiada henti.

Detik berikutnya, sepasang kaki Cho menapak perlahan di atas lapisan marmer. Bola matanya bergerak mengamati sekelilingnya. Selama berada di planet asing itu, ia hanya mengenali dua tempat saja; markas castè Krypth dan tempat tinggal Sehun. Entah mengapa dengan begitu mudahnya ia mengikuti ajakan si pria jangkung untuk berteleportasi.

Cho kini berada di dalam sebuah ruangan bergaya kontemporer. Atapnya menjulang tinggi, tiang-tiang besar mengapit lorong panjang yang berada tak jauh dari pandangannya. Sentuhan modern yang menghias bentuk jendela membuat ruangan itu semakin mewah diterpa cahaya dari alat penerangan di sana.

Baginya, ruangan besar yang ia anggap sebagai istana kerajaan itu sama megahnya dengan Istana Buckingham yang menjadi kediaman Ratu Inggris. Bahkan ia menemukan karpet merah menjulur sepanjang lorong.

Pria jangkung dengan jubah merah menyala itupun melepas genggamannya. Sepasang tangan kokohnya terlentang, mempersilahkan Cho untuk berjalan mendahuluinya.

“Selamat datang—” ucapnya, menciptakan langkah-langkah menuju tempat yang lebih jauh ke dalam ruangan. “—di Istana Exoplanet,” imbuh si pria. Tak lupa beberapa pengawal membentuk formasi di kedua sisinya.

Cho tak banyak berpikir. Langkahnya kini setara dengan pria berkumis lebat tersebut. Saat melewati belokan ketiga, ia sempat takjub mendapati taman seluas lapangan sepak bola yang dihiasi kolam segi enam tepat di pusatnya. Air keperakan yang muncul dari lambang EXO di kedua tangan patung perempuan berambut panjang pun menarik perhatian gadis itu selama sepersekian detik.

Ketakjuban Cho lantas berbalik menjadi kekaguman.

Pintu besar berukiran sepasang pria dan wanita di seberang taman berkelip indah seperti dikelilingi lampu hias pohon natal. Enam pasang bendera dengan lambang EXO berdasar warna hitam terpajang rapi di tepian pintu. Kumis lebat si pria jangkung menyipitkan mata besarnya. Cho yang terperangah melihat segala keunikan itu bukanlah sesuatu hal yang baru dialaminya.

“Maaf. Kenapa anda membawaku ke tempat ini?” tanya Cho. Matanya menyelidiki wajah si pria lebih detail. “Lalu, siapa anda?”

Hampir saja Cho melupakan pertanyaan tersebut. Sungguh tak lucu jika pria itu adalah penculik keji yang akan menjadikan tubuhnya sebagai hidangan lezat bagi penyihir jahat seperti di dalam film Snow White & The Huntsman; dan bodohnya tanya itu ia ajukan setelah si pria jangkung berkumis membawanya ke istana ini.

“Zaque, panglima perang yang akan segera digantikan oleh Kai,” jawab seseorang dari balik tubuh Cho.

Sontak si pria jangkung, dirinya, dan para pengawal memutar tubuh menghadap sumber suara. Pria bernama Zaque itu membungkuk, meletakkan lengan kirinya di dada seraya berucap diu enim rex Parleemos.

Cho mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Pria yang berbicara itu tak setinggi Zaque namun memiliki kharisma yang terpancar dari tubuh tegapnya. Jubah putih tulangnya yang menyeret-nyeret lantai tak berhasil menyembunyikan otot-otot yang menyembul dari balik kemejanya.

Pria itu menyuruh Zaque untuk berlalu. Diiringi pengawal yang lain, Zaque mengikuti perintah tersebut tanpa ragu.

“Senang bisa bertemu denganmu, Cho Ikha-ssi.”

Pria dengan mahkota perak yang melingkar manis pada rambut ikal kecokelatannya tersebut berjalan dengan langkah pasti ke arah pintu berukir. Kenop pintu tersebut kemudian disentuhnya, menampakkan deretan cahaya yang membentuk sosok sepasang ukiran pada lapisan kayu.

Alis Cho Ikha mengerut sempurna ketika ukiran tersebut membentuk wajah pria bermahkota. Seharusnya ia menyadarinya; bahwa mahkota perak itu merupakan sebuah simbol keagungan.

“Kau hanya cukup menyebutku Leeteuk. Gelar itu tak lebih dari sebutan makhluk-makhluk planet atas kepemimpinanku,” pria itu berucap sebelum akhirnya mengajak gadis itu untuk bergabung bersama langkahnya.

Cho mengeluh.

Ia baru saja mengumandangkan beberapa hal di dalam pikirannya─tentang teka-teki mengenai jati dirinya serta spekulasi-spekulasi lain yang tak masuk akal. Pria bernama Leeteuk tersebut seolah mampu membaca pikirannya.

“Kuijinkan kau menyebutku Leeteuk Oppa, Ahjussi, Haraboji, atau Oraboni. Terserah kau saja.”

Lagi.

Gadis itu terperangah tatkala pria itu berhasil menghimpit kepala kecilnya dengan jawaban-jawaban telak yang ia butuhkan. Ia berani bertaruh jika Baekhyun maupun Sehun tak akan memahami imbuhan –ssi yang Leeteuk ucapkan sebelumnya.

Leeteuk menoleh lalu melemparkan senyum sederhana. Cho lantas merutuki diri. Jika memang pria itu dapat mengetahui pikirannya, ia harus segera menenggelamkan diri ke dalam kolam perak di sana karena telah menyebutnya tampan dan mempesona. Bahkan ia sempat berteriak di dalam hatinya untuk menawarkan diri menjadi pendamping Leeteuk di masa depan.

Sungguh konyol.

Cho Ikha memutuskan untuk mengikuti Leeteuk. Sepatu berhak tinggi yang diperolehnya dari Sehun cukup menyulitkannya untuk berjalan. Hati-hati, gadis itu melangkah seperti balita. Ia yakin Leeteuk sedang menertawakannya saat ini. Ketukan yang Cho lantunkan pada hak setinggi telunjuknya itu terhenti saat ia mengamati ruangan di balik pintu berukir tersebut─tepat setelah Leeteuk membukanya lebar.

“Makan malam kali ini sengaja disediakan khusus untukmu. Selanjutnya, kau tak perlu menyuruh Kai untuk melakukan hal bodoh tersebut.” Leeteuk berucap seraya menghampiri ruang makan megah dengan meja panjang besar sebagai pusat ruangan.

Jika bukan karena kehormatan yang dijaganya, Cho pasti segera menerkam hidangan-hidangan yang membuat isi perutnya meloncat kegirangan. Selain itu, jika saat ini ia berada di dalam dunia kartun, ia yakin bahwa perut ratanya itu berubah menjadi mulut monster yang dipenuhi gigi-gigi taring yang menarik serta tubuhnya untuk menjamah penggugah selera di sana.

“Kai sama sekali tak mengetahui ajakan makan malam ini jadi kau tak perlu mendumal seperti seorang nenek,” Leeteuk berucap diiringi suara alas kursi yang bergesekan dengan lantai marmer.

Dengan menyalin setiap gerak-gerik Leeteuk, Cho memposisikan diri duduk tepat di sayap kirinya. Ia mulai gelisah. Hal itu nampak jelas dari seluruh jemarinya yang bergerak tak karuan di atas pangkuannya.

“Sekalipun aku berusaha untuk tak berpikir, bagaimana mungkin aku bisa menyembunyikan semua kegelisahan ini darimu,” Cho berujar. Seringaiannya berjalan mesra bersama senyum ketirnya.

“Apa yang sedang kau khawatirkan?”

Cho mengangkat kepalanya. “Kau dapat mengetahui apa yang ada di dalam kepala ini, Leeteuk-ssi. Akupun mengira kau telah mengetahui latar belakangku tepat sebelum pria berkumis lebat itu membawaku kemari.”

Sepasang ibu jari Cho saling beradu di ujung kuku panjangnya. Ia kembali menunduk. Rasa lapar yang dirasakannya ternyata jauh lebih kuat dari kegelisahannya. Hal itu terbukti saat ia mencium rempah sup ayam yang menyeruak dari sela penutup mangkuk.

Leeteuk tersenyum, “Kau jauh lebih pintar dari yang kuduga.”

Kemudian sepasang pelayan dengan apron hitam menghampiri keduanya. Cho meyakini bahwa daging panggang medium-well yang dilingkupi lada hitam tersebut merupakan hidangan utama.

“Sehun menyuruhku untuk tidak memberitahu siapapun mengenai keberadaanku. Lalu bagaimana aku menjelaskan pada mereka mengenai semua ini?” tanya Cho, tepat setelah pelayan wanita meletakkan segelas cairan bening berembun di sampingnya.

“Ini hanya rahasia antara kita berdua saja─dan Zaque, pria berkumis lebat yang kau maksud itu. Jika kau tak ingin menimbulkan kepanikan di antara mereka, sebaiknya kita simpan pertemuan ini baik-baik di dalam ingatan kita.”

Setelah Leeteuk berucap, tak ada percakapan lain di antara mereka selama beberapa menit. Cho meraih pisau dan garpu. Ia mengiris potongan kecil tanpa melahapnya seperti yang dilakukan Leeteuk. Bau dari bawang putih dan lada yang menyeruak membuatnya malah bermain-main dengan lelehan bumbu di atas daging merah tersebut.

“Jika kau mengetahui siapa diriku, kau pasti mengetahui pula tujuan Castè Krypth membawaku kemari. Dan kurasa kau akan mendiskualifikasikan mereka dari pertandingan,” Cho mulai meracau.

“Mengapa kau terus mengulang kata pasti, Cho Ikha? Apakah hal-hal yang kau sebutkan sebelumnya akan terjadi esok hari?” Leeteuk melakukan jeda sesaat untuk menelan potongan daging. “Tidak ada yang pasti di dunia ini. Bahkan prediksi ahli geologis pun belum tentu mencapai angka sembilan puluh sembilan persen mengenai prakiraan cuaca esok hari.”

“Aku─ugh,” kunyahan pertama Cho membuatnya tersedak. Sambil berucap maaf, gadis itu meraih serbet di pangkuannya dan berharap Leeteuk tak merasa tersinggung saat ia memuntahkan potongan daging pertamanya.

Leeteuk tak merasa risih. Ia masih menikmati hidangannya dengan baik.

“Kau tak ingin gugus yang dinaungi oleh Kai tereliminasi dan kau sama sekali tak menyukai Kris. Beritahu aku jika kedua pernyataan itu adalah salah,” ucap Leeteuk seraya menatap lurus pada Cho.

“Aku belum mengenal Kris. Aku juga mengenal Kai baru sehari saja. Tapi, yeah, sesungguhnya aku tidak peduli,” akunya.

Leeteuk kembali menyantap hidangannya. Senyum itu masih tak dapat disembunyikan dari wajah tampannya.

Disampingnya, Cho mengerut seperti kain lusuh. Ia masih menimang-nimang kembali untuk melahap santapannya atau kejadian itu akan terulang kembali─tersedak.

“Tahun ini usiaku genap seratus tahun dan aku harus segera menentukan siapa yang akan menggantikan tahtaku,” ucap Leeteuk, menyambung kalimat sebelumnya. “Dulu, aku adalah pemimpin dari prajurit Serr Juan. Saat terjadi peperangan besar antara kaum kami dengan SHINee World, para prajurit satu per satu gugur di medan perang. Kami kalah jumlah. Pasukan bayangan mereka terlalu mengerikan dan kejam.”

Cho mendengarkan dengan baik. Ia sama sekali tak menyela meski Leeteuk membuat jeda yang cukup lama setelahnya.

“Sebelum tubuh prajurit lain melebur, kekuatan mereka dikirimkan padaku. Maka aku menjadi makhluk yang mampu melakukan apapun; membangkitkan mayat; menghisap nyawa seseorang; mengetahui segala rutinitas di dalam planet; membaca pikiran; serta usia yang tak berujung.”

“Karena itu kau diangkat menjadi Parleemos berkat kekuatan hebatmu?” tanya Cho, memotong.

Pria itu tersenyum, membuat lesung di pipinya semakin tampak. “Kata-katamu terdengar seperti anak berusia tujuh tahun,” ejeknya. “Kau sadar bahwa evolusi setiap planet berbeda-beda, bukan? Sepertinya nilaimu di kelas Ilmu Alam tak lebih dari tujuh puluh.”

Cho menghentak ujung pisau dan garpunya hingga terdengar bunyi keras pada meja kayu tersebut. “Ini bukanlah saat yang tepat untuk mengungkap aibku di sekolah, Leeteuk-ssi.”

Leeteuk lagi-lagi terkekeh. “Bukan mengungkap aib, Cho Ikha. Namun mengingatkanmu akan keberadaan planet ini di tata surya.”

Cho mengeluh, lagi. Ia sedang tak ingin mendengar ocehan Leeteuk mengenai tata surya. Penghuni kelasnya tahu benar bahwa pelajaran yang amat dikuasainya hanyalah Bahasa Inggris dan Sejarah. Sisanya, ia hanya perlu menghitung kancing saat ujian akhir semester menjelang.

“Kenapa kau terburu-buru untuk turun tahta? Bukankah usiamu masih panjang?Maksudku, kau menyebutkan sebelumnya bahwa usia yang tak berujung adalah salah satu mukjizatmu.”

Leeteuk meletakkan cangkir sebelum menjawab pertanyaan Cho. Tatapannya meredup dan senyum manisnya nampak kosong. “Tidak semua yang kuperoleh saat ini berdampak baik padaku, Cho Ikha. Kekuatan Ryeowook yang dapat melihat masa depan membuatku harus berhati-hati dalam mengambil keputusan.”

Ia kemudian mengiris dagingnya. Keterangan mengenai Ryeowook pada Cho Ikha membuatnya harus bercerita lebih panjang atas prajurit dengan kekuatan unik tersebut. Bahkan pula ia harus menyebutkan tiga belas nama lain agar gadis itu mengerti. Pertemuan ini nyatanya bukanlah sesuatu hal yang mudah.

“Jika aku menyantap daging hewan bumi ini maka aku akan terserang diare yang berkepanjangan. Namun jika aku memilih untuk tidak melahapnya, pelayanku di belakang sana akan menyantapnya diam-diam─atau mungkin anjing penjaga─dan mereka akan mengalami hal serupa.”

“Aku tak mengerti,” Cho menggeleng pelan.

Dilahapnya potongan daging berikutnya sebelum Leeteuk melanjutkan, “Setiap keputusan yang kuambil memiliki konsekuensi, Cho Ikha.”

Gadis itu belum mengerti, namun ia terlalu lelah untuk berpikir. Terlebih karena potongan dagingnya masih terasa aneh di mulut. Bagaimana mungkin ia dapat memfokuskan diri pada setiap pernyataan Leeteuk jika sebagian besar saraf otaknya hanya dipenuhi oleh hidangan untuk memuaskan napsunya.

“Visualisasi apa yang kau lihat jika Kai tak membawaku kemari?” tanya Cho, ingin tahu, membuat pria berotot penuh di kedua lengannya itu terhenti sesaat.

Leeteuk tidak menjawab.

“Sedetail itukah kekuatan yang kau miliki?” Meski sedikit berbelok dari topik semula, Cho mengerti bahwa Leeteuk mengetahui sesuatu hingga yang terburuk sekalipun. Leeteuk sengaja tidak menghentikan Kai untuk membawanya kemari. Itu yang ia petik dari sikapnya yang bungkam saat ini.

“Sejak dulu aku menginginkannya─turun tahta. Sayangnya, jika kulakukan hal itu lebih awal, keputusan itu akan berdampak lebih buruk dari yang kukira,” jelasnya.

Lalu sang penguasa planet sempat menyebutkan dua belas nama bergelar castè di kedua gugus besar EXOPLANET. Termasuk Kai, Baekhyun, Sehun dan Chanyeol; pria-pria yang ia temui setelah kesadaran yang diperolehnya hari lalu.

Sepasang mata Leeteuk lantas dirundung kesenduan. Senyumnya tak lagi setulus semula.

“Sejujurnya, sulit bagiku untuk menghadapi sikap keras kepala Kai. Apa kau memiliki resepnya?” Cho melayangkan tanya dengan maksud untuk menghiburnya.

Tawa Leeteuk lalu berkumandang. Ia mengakhiri santapannya sebelum pria berapron hitam mengganti piring tersebut dengan kue berlapis cokelat. “Dia sangat mirip dengan ayahnya. Keras kepala,” ujarnya.

Senyum Cho mengembang. Gadis itu meneguk secangkir teh di sampingnya. Hasilnya masih sama, minuman tersebut seperti seteguk pasir. Sama halnya saat ia melahap potongan daging sebelumnya─yang rasanya seperti karet mentah.

“Tentang dirimu,” Leeteuk memberi jeda. “Apa kau sadar bahwa kau hanyalah segenggam  roh yang memadat membentuk tubuh manusia?” tanyanya.

Cangkirnya ia letakkan di atas meja. Cho berdeham, tak banyak bicara.

“Tubuhmu masih terbaring di bumi. Di rumah sakit lebih tepatnya,” jelas Leeteuk.

“Bagaimana keadaan orang-tuaku? Apa mereka baik-baik saja?” Cho menyelipkan rambutnya ke balik telinga saat bagian tubuhnya itu sempat menghalangi penglihatannya. Ada rasa keingintahuan yang luar biasa dari caranya bicara.

“Mereka baik-baik saja.”

“Bisakah kau kembalikan aku ke bumi, Leeteuk-ssi? Aku tak ingin menjadi bagian dari urusan kalian,” Cho meminta dengan sedikit memohon.

“Semua sudah digariskan. Lagipula hanya Kai yang mampu membawamu ke sana.”

“Tapi kau bisa melakukan apapun!”

“Kau masih tak mengerti dengan apa yang telah kukatakan sebelumnya.” Kedua mata Leeteuk tertuju lurus pada Cho, membuat gadis itu menunduk.

Sepasang bahu Cho terkulai setelah tegak sempurna karena ketegangan yang melingkupinya. Leeteuk mengetahuinya, bahwa gadis itu masih belum mempercayai sepenuhnya dengan keberadaannya.

“Kau harus belajar beberapa hal. Kemarilah.”

Leeteuk mengulurkan tangan, mengajak gadis itu mendekat padanya. Cho menurut tanpa menuntut. Diajaknya ia menuju jendela besar dengan tinggi yang hampir setara dengan dinding kokoh istana, meninggalkan sisa hidangan yang belum terjamah oleh keduanya.

Jendela kaca tersebut terbuka lebar, menyingkap beranda luas yang dibatasi oleh pagar semen berbentuk garis-garis lurus. Keduanya berjalan menuju pusat beranda. Disampingnya, Cho, hanya mampu mengamati. Kegelapan malam di sekelilingnya hanya mampu membuatnya menangkap titik-titik cahaya di bawah istana─tempat para penghuni planet di sepanjang lapisan tanah.

“Disana adalah Bukit Taash yang sempat kau kunjungi waktu lalu bersama Kai.”

Pandangan Cho bergerak mengikuti arah telunjuk Leeteuk. Kedua matanya menyipit saat mengamati sebuah perbukitan yang hampir tertutup kabut tipis.

“Kau sempat melihatku saat matamu menembus mengamati titik terang di sini,” jelas Leeteuk, seraya menyisir rambutnya yang menari-nari.

Cho tertegun. Ia mengingatnya, peristiwa aneh yang ia alami saat sepasang mata itu menghisapnya jauh melewati hutan lebat dan danau pekat.

“Bagaimana mungkin─“

Huglooms,” potong Leeteuk.

Mendengus, gadis itu memutar bola mata seolah candaan Leeteuk hanyalah bualan semata. Kedua mata Cho bertemu dengan mata Leeteuk setelah itu. Kemudian ia melempar pandangannya ke tempat lain. Sulit baginya untuk menolak kenyataan tersebut─bahwa sepasang mata hitam Leeteuk sangat mirip dengan yang ditemuinya di bukit sana.

“Jangan menyebut kata itu seolah-olah aku adalah makhluk yang kalian cari. Ini tidak masuk akal. Aku hanya seorang murid sekolah menengah atas yang selalu menakuti teman-temanku dengan hantu-hantu yang dapat kulihat. Bukan hoogloms, hoooklams, atau apalah itu yang kau sebut barusan,” oceh Cho.

“Justru itu, aku membawamu kemari karena kau perlu belajar untuk mengenal dirimu, makhluk-makhluk di sekitarmu, dan juga planet ini.”

Jawaban Leeteuk membuat Cho mendengus. Entah mengapa Cho menangkap sinyal bahwa ia akan tinggal di planet ini jauh lebih lama dari yang ia prediksikan.

“Apa kau tahu kekuatanmu hingga kau dapat menggiring mereka ke pedang tersebut?”

Cho menjawab ‘tidak’ dengan lantang. Matanya tersorot pada bangunan-bangunan tinggi di tengah kota.

“Matamu,” jawab Leeteuk singkat.

Alis Cho mengerut membentuk sebuah gelombang saat pria bermahkota itu menjelaskan perihal indera yang dimilikinya. Serta alasan mengapa ia dapat mengamati istana dari Bukit Taash dengan jarak sejauh itu.

Ia mendongak, memilih untuk mengamati langit malam yang semakin kelam dan suram.

“Jangan heran jika kau selalu melihat awan-awan gelap itu menyelubungi seisi planet. Letak planet ini tidak begitu dekat dengan sumber cahaya. Matahari ketiga begitu sulit menembus dari atmosfernya,” tutur Leeteuk.

Ia berjalan perlahan ke sisi beranda, menopang diri pada pagar pembatas seraya menatap lurus ke langit yang ditutupi awan hitam.

“Kau adalah roh manusia. Saat tubuhmu mulai melemah, kau akan merasakan lapar. Bahkan kau tak akan terluka kecuali saat kekuatanmu mulai menghilang,” paparnya.

“Hentikan,” gadis itu berkata nyaris berbisik. “Kau semakin membuatku gila.”

Disertai sunggingan senyum di bibirnya, Leeteuk menghampiri gadis itu dengan langkah gontai. Tangannya mengusap halus puncak kepala Cho Ikha.

“Ketika kau melemah─” Leeteuk meraih tangan kanan Cho, menelungkupkan kedua telapak tangannya untuk mengapit jemari gadis itu hingga terbungkus sempurna.

Tubuh Cho hanya sebatas bahu tegapnya. Gadis itu ternyata jauh lebih kecil saat berdiri sejajar dengannya. Leeteuk memejamkan mata, sementara Cho Ikha hanya terpaku mengamati pria tegap di hadapannya. Seiring nyala sapphire blue dari mahkota perak di kepala Leeteuk, Cho merasakan hangat yang muncul dari sela-sela jemari si pria.

Seberkas cahaya.

Cahaya putih nan terang muncul bersama kehangatan yang menjalar di dalamnya. Cho hanya mampu terpana. Perasaan itu begitu aneh diciptakan oleh Leeteuk, sang pemilik kekuatan adidaya.

“─kau hanya memerlukan segenggam cahaya untuk menyinarimu.”

Leeteuk mengakhiri kalimatnya setelah memberikan jeda cukup panjang akibat atraksi yang ditunjukkannya. Sepasang matanya terbuka lebar setelah dipenuhi cahaya biru yang mengilat-ngilat. Dilepasnya genggaman tangan Cho lantas menciptakan jarak antara keduanya.

“Apa itu?” tanya Cho Ikha, masih terkagum-kagum.

“Hanya pertunjukan kecil─untuk memberimu pelajaran baru,” jawab Leeteuk singkat.

Cho memijat halus kedua bahunya. Perasaan aneh itu kembali menjalar di sekitar tubuhnya. Sesuatu yang kuat telah memusnahkan rasa lapar yang merenggut akal dan napsunya. Ia tak lagi merasa lunglai di kedua lututnya. Keajaiban itu seolah datang dari cahaya yang diberikan Leeteuk.

Ya.

Cahaya itu.

“Hidangan malam ini hanyalah benda fana untukmu. Ketika kau mencoba untuk menyantapnya, rasa aneh di lidahmu akan tetap menguasaimu selama bukan tubuh aslimu yang merasakannya. Kau paham?”

“Bagaimana dengan─”

“Perbincangan kita cukup sampai di sini saja.” Leeteuk menginterupsi. Tatapannya melemah dan wajahnya kian memucat. “Aku sudah terlalu tua untuk melakukan sihir kuno.”

“Tapi,”

Leeteuk kemudian mengangkat tangan kanannya, menghentikan segala kata yang hendak terucap oleh Cho Ikha. Pria itu menekan dadanya sesaat, kemudian menghirup udara malam dengan panjang seolah hidupnya bergantung pada sang kasat mata.

Bibir Leeteuk lantas berbisik menyebut sederet kata yang tak dimengerti Cho. Tak lama, tubuh gadis itu seketika terhisap puing-puing waktu yang diciptakan Leeteuk, menyisakan jeritan pendek yang ikut menghilang bersama tubuh gadis mungil tersebut.

Sebelum Cho benar-benar pergi, Leeteuk sempat berbisik memenuhi pikirannya. Bisikan terakhir untuk mengakhiri pertemuan singkat mereka malam ini.

“Saat kau menemukan pedang itu, gunakan kebijaksanaanmu untuk memutuskan. Dan apapun yang terjadi, kau harus bertahan hidup, bagaimanapun caranya.”

-o-

JERITAN SINGKAT CHO IKHA BERAKHIR SETELAH UJUNG SEPATUNYA mendarat kasar di atas tanah. Sempoyongan, gadis itu mencari-cari sesuatu yang dapat menopang tubuhnya. Rasanya seperti duduk di dalam bus selama berjam-jam. Punggung dan bokongnya begitu ngilu dan panas.

“Cho Ikha!”

Gadis itu terkejut mendengar seruan seseorang tak jauh darinya. Ia membuka mata lebar-lebar dan barulah sadar saat pria dengan tinggi badan yang menyerupainya tengah mengusap lembut keningnya.

“Baekh?” Cho menyipit tatkala pria itu kembali meracau. Ia menatap sekelilingnya dan menemukan empat pria lain tengah berdiri dengan tatapan cemas.

“Kemana saja kau? Kami sibuk mencarimu sejak tadi! Bagaimana jika razour benar-benar menikammu, atau helot mencabik-cabik isi perutmu?”

Baekhyun mendeteksi setiap inci tubuhnya. Gadis itu tentu saja risih. Beruntunglah Sehun mengerti lantas menjauhkan pria hidung belang tersebut darinya.

“Aku,” tangannya menekan belakang kepalanya yang berdenyut pelan. “hanya sekedar berjalan-jalan. Tak ada yang menemaniku di sini. Aku bosan,” ia berkilah.

Kesadaran Cho seketika pulih saat Sehun menuntunnya menuju ruang utama. Ia sempat mengutuk Leeteuk saat pria itu mengirimkan tubuhnya kembali dengan sembarangan tak jauh dari gerbang utama markas Caste Krypth.

“Dimana Kai?” tanya Cho penuh spontanitas. Sadar bahwa kehadiran pria itu telah absen dari pandangannya. Pria di samping si telinga fairy jelas bukan Kai. Kulitnya jauh lebih mulus dan jauh lebih tinggi.

“Di ruangannya,” aku Sehun.

Cho menyisir rambut panjangnya ke belakang, bergumam seorang diri, “Kurasa setelah meninggalkanku sendirian di tempat ini, ia sama sekali tak peduli.”

“Ia terlibat pertengkaran hebat dengan Yasaka15. Hanya butuh istirahat. Setelah itu dia akan kembali normal,” Baekhyun nyaris berbisik di wajahnya, mencuri pandang pada Cho Ikha setelah ia mendengar gumaman gadis itu diam-diam.

“Maaf, aku belum memperkenalkan diri.” Makhluk yang terselip di antara tubuh si telinga fairy dan Sehun itu membungkukkan diri. “Suho, pemimpin castè Krypth.”

Pria bermata besar serta berambut pirang kecokelatan di samping Suho pun kemudian menunduk. “Ómorfos Ántras Intrepida. Singkatnya, kau bisa memanggilku Chanyeol,” sapanya.

Ia mengingatnya. Pria bertelinga fairy itu adalah makhluk aneh dengan tubuh yang menjulang tinggi bak tiang bendera, dan juga sangat kikuk. Kelakuannya seperti pelawak jalanan. Pria itu juga tak pernah berhenti tersenyum memperlihatkan deretan gigi-giginya.

Makhluk lain disamping Chanyeol dengan rambut hitam legamnya hanya sekedar melambai ringan. Senyumnya kaku dan terpaksa. Tingginya serupa dengan Baekh namun kepribadiannya lebih misterius dan tertutup.

“Kukira para castè telah menjelaskan dengan detail mengenai kehadiranmu di planet ini. Kuharap kita dapat bekerja sama. Selama kau menurut, kami akan membawamu kembali secara utuh ke tempat asalmu sebelumnya,” ucapan Suho terdengar penuh makna dan mengintimidasi. Sehun bahkan melakukan gerakan di tubuhnya seolah sang pemimpin castè mengidap penyakit kutu air berbahaya.

Cho melepas udara panjang dari dalam tubuhnya dengan serakah. Ia tak menyukai cara Suho berkata. Seolah-olah pria bangsawan itu tak diajari cukup tata-krama oleh orang-tuanya.

“Tak apa, Suho. Aku sudah terbiasa menerima gertakan Kai jadi akan kuanggap ucapanmu itu sebagai kata-kata penyambutan,” ucapnya tak kalah menantang.

Suho menyeringai. “Baiklah. Jika kau membutuhkan apapun, katakan saja pada kami.”

Cho menggerakan tubuhnya lalu menggantungkan kedua kaki pada sisi kursi panjang di ruang utama. Kepalanya agak mendongak mengamati tubuh tegap Suho yang memancarkan aura kepemimpinan serta ajakan tunduk pada siapapun yang berhadapan dengannya.

“Apa disini ada kamar mandi?”

-o-

SEMENTARA SEPASANG BOLA MATANYA MEMBEKU, bulu-bulu lembut pada kelopak matanya bergerak liar saat ia mengerjap-ngerjap. Sambil menggeliat, Kai mengamati tirai tipis yang berayun ringan tertiup angin, menyembunyikan sepasang daun jendela yang tingginya melebihi tubuhnya. Hari telah melewati siang namun di luar sana masih dirundung kegelapan.

Lunglai, Kai memaksa tiap sendi dan tulangnya untuk mematuhi perintah otaknya. Ia menyingkap selimut sambil mengerang; menggeliat untuk kedua kalinya lantas menyambar kaus hitam yang tersampir di punggung kursi.

“Apa semalam mimpimu indah?” sahut seseorang di balik tubuhnya.

Kai membalik tubuhnya sigap; nyaris menyerang sosok tersebut jika saja si pemilik suara lembut itu bukanlah gadis yang dikenalnya.

Kai lantas berpaling. Meski gaun hijau muda yang dikenakan Cho Ikha menyatu sempurna dengan tubuhnya, pria itu harus menahan diri untuk tidak menelisik rincian tersebut secara eksplisit. Sosok di ambang pintunya bukanlah gadis-gadis aneh yang ia temui di sepanjang planet. Pikirannya justru semakin berkelakar mengingat ia masih belum mampu memulihkan kesadarannya dari tidur panjang semalam.

“Benar-benar tidak tahu diri,” bisiknya kemudian melangkahkan kaki menuju tangga utama. Jemarinya menyisir rambut hitamnya tanpa menanggapi kehadiran Cho Ikha.

Cho tahu benar bahwa Kai tak menyukai kehadirannya. Tergesa-gesa, ia menyusul setiap langkah yang diciptakan makhluk berhati dingin di hadapannya. Cho mulai berkokok seperti ayam di pagi hari; mengajukan tanya dan tuntutan-tuntutan lain pada Kai tanpa memberinya sedikit celah untuk bernapas. Kai sama sekali tak menggubris. Langkahnya semakin cepat menapaki setiap anak tangga, menginginkan bising itu musnah di telinganya.

“Baiklah, aku minta maaf, okay?” Cho sengaja meningkatkan nada bicaranya, “semalam aku pergi ke luar markas karena suntuk menunggumu datang,” ujarnya, mengada-ada. “Lagipula, kau yang meninggalkanku lebih dulu dan tak kunjung kembali. Etika macam apa yang kau pelajari di sekolahmu, dasar pria ja─”

Tubuh Cho bertubrukan dengan tubuh Kai sesaat setelah pria itu menghentikan langkahnya. Cho mengaduh, sementara Kai berdecak. Tatapan Kai yang tajam memberikan efek yang membingungkan; antara menghisap seluruh keberanian Cho Ikha hingga ia mendadak ciut, atau memudarkan seluruh akal sehatnya atas keindahan yang ia temukan dari wajah sendu Kai.

Cho mengerjap, menghentikan pikirannya untuk tidak mengambil-alih kontrol pada tubuhnya. Sementara keduanya masih saling mengunci pandangan satu sama lain, ia mendeham singkat dan berharap pria itu tak mendeteksi kekagumannya saat ini.

“Kau mau kemana?” tanya Cho, kemudian mendeham sekali lagi.

“Kemana saja yang penting tidak di sini. Melihatmu saja membuatku muak,” sungut Kai, lagi-lagi mendumal.

Cho menggigit bibir bawahnya, menahan kesal. “Kapan kau akan memberikan sedikit rasa hormatmu pada seorang wanita?”

“Sejak kapan kau berubah menjadi seorang wanita?” Kai berdali. Ia membenahi ikat pinggang hitam bermata kepala ular saat mendapati celana panjangnya mengendur. Hampir saja ia lupa mengancingkan celananya.

Cho melayangkan tinjunya di udara tepat setelah Kai memunggunginya. Andai saja ia diberi kesempatan untuk menghajar Kai, ia akan melayangkan sebuah tinju hebat tepat mengenai kemaluannya. Itu juga jika ia memiliki kemaluan yang sama dengan manusia macam dirinya.

“Kau mau kemana? Bolehkah aku ikut?” pinta Cho.

“Tidak.”

“Ayolah,”

“Tidak!” tolak Kai, tetap bersikeras.

Tanpa memperhatikan, Kai kemudian menggerakan jemarinya─tak kuasa menghadapi segala tuntutan yang diajukan Cho terhadapnya. Paham betul dengan arti gerakan tersebut, Cho lantas menggamit lengan pria itu secepat yang ia mampu. Tepat setelahnya, Kai menghilang bersama partikel noménos yang kian memudar di udara.

-o-

KEDUANYA MENDARAT KASAR DI ATAS PERMUKAAN TANAH LANDAI. Cho terjatuh karena tak mampu menyeimbangkan tubuhnya dengan sepatu berhak tinggi yang ia kenakan sebagai alas kakinya hari ini.

“Kenapa kau mengikutiku?!” Kai berteriak.

Gertakannya dijawab oleh ocehan Cho pada detik berikutnya. Kedua saling bersitegang, melontarkan makian-makian mereka tanpa mendengarkan suara masing-masing.

“Kai?”

Sahutan seseorang di antara mereka lantas menghentikan ocehan Cho. Sapaan itu jelas bukan yang diucapkannya karena suara tersebut jauh lebih lembut. Kai menoleh dan selang beberapa detik pria yang sangat dikenalnya itu berjalan mendekatinya.

Fratheer,” sahutnya.

Pria dengan panggilan istimewa itu kemudian tersenyum. Ia sempat mencuri pandang pada Cho lalu meletakkan satu tangannya di dada seraya membungkuk memberinya sebuah penghormatan.

Cho, yang semula siap untuk beradu mulut dengan Kai, seketika terpaku di tempat. Sosok pria berpakaian serba putih dengan boots berwarna senada itu begitu indah di matanya. Awalnya ia mengira bahwa hal yang paling indah di dunia ini hanyalah sosok Steve Kim. Kai ini ia mengubah persepsinya yang sempit.

“Bisakah kau tidak menatapnya seperti itu?” Kai membuyarkan fokus mata Cho Ikha.

“Jangan terlalu kasar pada seorang wanita, Kai,” pria yang diiringi peliharaan bertanduk lengkung itu bergerak mendekatinya. Ia memeluk Kai dan lagi-lagi melayangkan senyum manisnya pada Cho Ikha.

“Namaku Luhan,” ucapnya seraya menjulurkan tangan pada Cho. “Namamu?”

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

————————————————–

15yasaka : si pembawa kabar dari istana.