EXO PLANET “CHAPTER 04” (REPACKAGED)

IKHA. CHO IKHA.” TERBATA, GADIS ITU MENJAWAB. Ia menyambut uluran tangan Luhan dengan anggun—meski setelahnya kekecewaan Cho muncul akibat jabatan si pria yang tak lebih dari dua detik.

“Sebelumnya Kai tidak pernah mengajak seorang gadis kemanapun ia pergi. Tidak pernah,” Luhan sengaja mengulang dua kata terakhir kemudian mengejek Kai melalui kerlingan matanya. Detik berikutnya ia terkekeh, Kai meyambutnya dengan sebuah pukulan kecil di perut.

Cho Ikha kemudian bergerak mengikuti langkah Kai. Pria dengan lapisan kulit yang tak lebih putih darinya itu beranjak menuju pohon besar tak jauh dari balik punggungnya. Dilihatnya Kai membaringkan diri di atas lengkungan akar pohon yang menyembul dari dalam tanah. Disampingnya, Luhan, hanya menggeleng lemah. Ia bersiul memanggil Fugore saat kuda itu menghampiri Kai.

Kai, yang tak pernah menyebut fratheer pada siapapun─selain kepada Luhan, kembali merasakan letih yang sama. Luhan mengetahui perasaan itu dengan baik. Letih yang muncul acap kali pria yang memiliki darah yang sama dengan ayah kandungnya tersebut berteleportasi bersama beban yang dibawanya.

“Bukankah kau salah satu dari enam castè Myrath?” tanya Cho, sadar bahwa pria itu sempat disinggung Leeteuk pada pertemuan singkat mereka.

Sambil mengusap punggung Fugore, Luhan tersenyum seadanya. Pria itu mengamati Cho sesaat. Selebihnya ia memusatkan kembali pada kuda bertanduk, sang kekasih virtualnya. “Pakaianmu tak begitu menyatu dengan hutan ini, Cho Ikha.”

Cho menunduk, mengamati dirinya sendiri dari pantulan warna yang tertangkap lensa di kedua matanya. “Hanya ini yang nampak normal bagiku. Sisanya lebih mirip pakaian usang yang terbuat dari karung goni. Lagipula aku tak tahu jika Kai akan pergi ke tempat terbuka seperti ini,” jelasnya membela diri.

Agak canggung, Cho menarik ujung dress hijau pastelnya yang menggelembung di atas lutut. Punggung tangan Luhan lantas menyentuh bibirnya, menyembunyikan suara tawa yang tertahan.

Luhan mendongak. Dedaunan aglaonema yang berjatuhan di atas kepalanya seketika bergerak mengikuti alunan jemarinya. Cho sempat menghindari daun-daun yang berterbangan bak kumpulan kupu-kupu. Hingga dengan satu gerakan terakhir, Luhan menyatukan dedaunan tersebut membentuk coat yang membalut tubuh Cho hingga mata kaki.

“Untuk menutupi tubuhmu,” ucap Luhan.

Cho terpana, tentu saja.

“Terima kasih,” balas Cho. Kepuasan muncul dari rona di wajahnya.

Luhan mengajak gadis itu untuk mengikutinya. Setelah yakin bahwa Kai tak akan mendumal atau sekedar mengoceh singkat, Cho mengekor di belakang Luhan. Hutan ini tak jauh berbeda dengan hutan tropis Kalimantan. Cho menyadari hal itu karena Luhan sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun selama mereka berjalan menuju pepohonan terakhir yang menghiasi hutan tersebut.

Stepa yang berdampingan manis dengan hutan itu terbentang luas di hadapan keduanya. Cho bahkan mendeteksi kehidupan di sana. Ia yakin binatang-binatang aneh yang berkeliaran di padang rerumputan itu memiliki nama tertentu. Sekedar menerka, gadis itu menyebut “banteng gaul” saat menangkap kehadiran hewan besar setinggi kerbau dengan tanduk beruntaian paku tajam serta ujung ekornya yang membentuk mata pedang.

“Kudengar gugus ini dan gugus Kai tidak berdampingan dengan baik. Melihat keakraban kalian, sepertinya aku salah menduga.”

Cho berinisiatif untuk memulai. Ia mencoba menelisik respon Luhan di tengah langkah mereka yang belum terhenti juga.

“Sudah berapa lama kau mengenal Kai?” Luhan melempar gadis itu dengan pertanyaan lain. Langkahnya sengaja memelan untuk menyeimbangi langkah Cho. Lagipula ia sedang tidak terburu-buru.

“Kurang lebih dua hari. Oh, mungkin tiga,” jawab Cho sekenanya, tubuhnya sempat oleng saat ujung sepatunya menginjak bebatuan.

“Itu berarti kau belum mengenalnya dengan baik,” ucap Luhan kemudian menghentikan langkahnya tepat di pinggir genangan air yang cukup luas.

Cho mengikuti gerak-gerik Luhan di sisi kirinya begitu pria itu beranjak duduk di tepian genangan.

“Kau belum merespon kata-kataku─menyangkut gugus kalian,” tuntut Cho.

Ia menoleh ke balik punggungnya. Kai masih dapat tertangkap jelas di balik rentetan pepohonan tinggi yang menjadi perbatasan antara hutan dan stepa. Kedua bahu Cho bergerak pelan─malah hampir tak terdeteksi. Bersyukur karena Luhan tak mengajaknya untuk berjalan lebih jauh lagi dari Kai.

Luhan mengucapkan kata-kata pujian begitu Fugore berlari kencang menuju tempatnya berada. Kuda itu menunduk, melipat kaki depannya lantas bersimpuh di samping sang majikan. Cho menatap Fugore takjub. Tanduk di kening Fugore masih menjadi pusat perhatiannya sejak pertama kali gadis itu melihat sosok kuda tampan tersebut.

“Sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh penghuni planet bahwa aku dan Kai bersaudara─ibu yang berbeda dengan ayah yang sama. Keakraban kami bukanlah sesuatu hal yang sangat langka terjadi di planet ini. Sebenarnya kau berasal dari mana, Cho Ikha?”

Cho menelan liurnya ketir. Jika ia memberitahu Luhan mengenai statusnya yang tak masuk akal tersebut─selain ia mengingkari poin kedua yang Kai ajukan padanya, mungkin akan timbul kekacauan yang tak terduga.

“Aku tidak pernah tertarik dengan cerita atau desas-desus yang orang-orang bicarakan di sekelilingku. Lagipula aku tidak punya cukup waktu untuk mengurusi urusan orang lain,” Cho mencoba berdalih.

Sejenak Luhan memutar kepala. Dari sela-sela bahu tegap miliknya, ia sedang menimang-nimang. “Apa yang ingin kau ketahui?” tanyanya dengan nada yang sangat pelan.

“Tentu saja tentang Kai. Namun alangkah baiknya jika kau menjelaskan perihal gugus kalian terlebih dahulu─juga tentang siapa dirimu,” seloroh Cho.

Luhan menghembuskan napas. Hanya menghembuskan, tanpa menghirup udara baru untuk mengisi kekosongan organ dalamnya. “Semua berawal dari Kelleher, prajurit Serr Juan terkuat pada masa pemerintahan Chóir Shinhwa.”

Pria itu memberi jeda sesaat. Seekor binatang sebesar tikus yang melintas di kakinya membuat Luhan menggunakan kembali kekuatannya. Ketiga kaki binatang kecil itu bergerak mencakar udara. Cho memperhatikan. Bahkan ia bergidik jijik saat si tikus mengeluarkan lendir kehijauan dari sela-sela mulutnya.

Dengan mengayunkan telunjuknya, Luhan membuat tikus berbulu ijuk itu terlempar ke pusat genangan. Riak kecil yang ditimbulkan tikus itu berubah menjadi gelombang besar. Teriakan histeris Cho berkumandang seiring kemunculan ikan pipih selebar paus yang menyambar binatang berlendir tersebut. Cipratan air yang mengenai kedua kakinya membuat gadis itu mundur dari tepian. Gusi hitam berbercak merah dan mata kuning mengilat membuat piranha jumbo itu nampak seperti monster laut.

“Sama seperti genangan air tersebut. Kau mengira bahwa Kai hanyalah pria biasa yang angkuh karena gelar castè yang disandangnya. Namun ketika kau berusaha untuk mengenalnya lebih jauh, genangan air yang nampak dangkal itu nyatanya memiliki kedalaman yang tak berujung.”

Luhan melingkari kedua kaki dengan tangan kurusnya yang terbalut pakaiannya. Ia sama sekali tak merasa risih dengan makian Cho Ikha terhadap kemunculan monster ikan tersebut. Sesekali pria itu mengamati permukaan air, tubuh pipih si ikan bergerak liar membentuk garis-garis abstrak─menunggu Luhan untuk melempar santapan baru padanya.

“Kelleher adalah yang terkuat di antara lima belas prajurit penjaga Scutuss pada masa itu. Ia menjadi kebanggaan planet, digilai wanita serta harta yang berlimpah. Ke semua faktor itulah yang membuatnya menjadi pria yang didambakan oleh semua kalangan,” ungkap Luhan

Cho bergumam. Gadis itu masih bersikap waspada terhadap genangan maut di hadapannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Luhan lantas dijawab oleh anggukan Cho. “Namanya Bauw’. Salah satu peliharaanku.” Dagunya menunjuk ke arah si ikan pipih.

Alih-alih tertarik dengan cerita Luhan, sepasang bilah bibir Cho Ikha menganga lebar setelah menemukan fakta lain yang diungkapkan Luhan.

Sungguh.

Fugore jauh lebih baik.

“Lebih baik kau lanjutkan ceritamu,” Cho kemudian mendekap kedua kakinya, berharap dapat menghilangkan gusar.

Tawa Luhan terselip di antara hembusan angin. Bulan lalu ia melihat ikan pipihnya menyantap salah satu ‘banteng gaul’ saat binatang besar itu melewati ‘rumahnya’. Luhan tak ingin jam makan siang si ikan terlewati lagi atau penghuni stepa akan dilahap habis olehnya.

“Chóir Junjin, Penguasa EXO saat itu, menjodohkan Kelleher dengan Tiffany, salah satu dari dewi Gal Gadz. Kelleher tak dapat menolaknya karena salah satu sumpah  prajurit adalah memenuhi perintah sang penguasa. Kenyataannya adalah ia sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. Seorang wanita dari kalangan biasa bernama Yoonji.”

“Ini sangat mudah. Kau adalah anak dari Tiffany dan Kai adalah anak dari Yoonji,” Cho menyela.

Luhan mengangguk, mengiyakan. “Kai tak tahu-menahu mengenai fakta itu hingga Parleemos mengungkapkannya sebelum Kai diangkat menjadi salah satu castè Krypth. Mengetahui fakta yang selama ini selalu disembunyikan oleh keluarganya justru membuat Kai menjadi labil dan berhati batu. Ia merasa bahwa semua orang memandangnya rendah sebagai anak haram. Terutama konflik di dalam istana yang menyebutkan bahwa ia tak pantas menyandang gelar castè.”

“Namun Kai tak membencimu,” Cho kembali menyela.

“Ia memahami ketulusanku,” jawab Luhan singkat. Ia mengusap rambut Fugore sebelum melanjutkan, “Suatu malam ibuku berkunjung ke dalam mimpiku, memintaku untuk menjaga Kai. Beliau merasa bersalah karena menjadi orang ketiga antara ayah kami dan Yoonji. Awalnya Kai begitu kasar terhadapku. Bahkan ia selalu memukulku setiap kali kutengoknya di rumah pengasuh.”

Cho mengangguk. “Lalu kenapa Kai begitu membenci Parleemos?”

“Dulu, SHINee World menyerang planet ini. Mereka melakukan hal itu untuk memperoleh klaim atas planet-planet di jagad raya. Sayangnya, ayah kami berhasil tertembus oleh tombak G-Dragon di medan perang. SHINee World bersekutu dengan Big Bang untuk menyerang planet kami.”

“Lantas apa hubungannya dengan Leeteuk?”

“Alasan internal. Kau akan sulit memahaminya.”

Cho mengeratkan mantelnya seraya menatap Luhan.

Benar.

Pria itu sama sekali tak memiliki kemiripan dengan Kai. Agak sulit mengiyakan jika mereka bersaudara. Ia tak mampu meraba rupa wajah orang-tua mereka. Sepertinya ketampanan Luhan diperoleh dari Tiffany. Lagipula ia lebih lembut ketimbang Kai yang selalu ketus jika diajak bicara.

“Tak kusangka jika di dalam semesta ini terdapat kehidupan lain selain di planetku. Selama ini kukira alien hanyalah cerita busuk yang dikarang oleh astronot-astronot gagal.” Cho mendengus kasar. Masih mencoba memercayai setiap penuturan Luhan.

“Apa Kai selalu berkunjung ke sini?” tanya Cho.

Luhan tersenyum. Senyum yang hampir menyaingi Steve, senior di sekolahnya yang lagi-lagi menjadi bahan perbandingan. “Selalu. Bahkan ia pernah adu pukul dengan castè Myrath lain karena dianggap sebagai penguntit. Kau tahu, sejak diadakannya pemilihan penguasa baru—“

“Ya, ya, ya. Aku tahu. Bukankah para castè saling berteman satu sama lain? Kenapa hanya karena pemilihan ini kalian jadi semakin kompetitif?” tuduh Cho.

Tak jauh berbeda dengan di bumi. Setiap kandidat pemimpin berusaha untuk menjatuhkan kandidat lain dengan mencari kelemahan atau bertindak curang demi mendapatkan tahta yang mereka idamkan. Namun tidak seburuk ini.

“Pemikiran kami, aku dan Kai, berbeda jauh dengan yang lain. Kami tidak pernah tertarik dengan pemilihan ini. Dan entah disengaja atau tidak, kami sengaja dipasangkan untuk bertarung satu sama lain saat pertandingan nanti,” imbuh Luhan.

“Pertandingan?”

Luhan menoleh padanya. Kepalanya bergerak mengayun ke kiri dan kanan. Fugore mengikuti gerakan yang sama diiringi lenguhan pendek selama beberapa kali. Suatu keharmonisan yang tak pernah ditemui Cho sebelumnya.

“Bagaimana jika sekarang giliranmu untuk bicara? Aku cukup lelah untuk sekedar berucap,” Luhan berkilah.

Gadis itu menyeringai. “Tak ada yang patut untuk kuceritakan. Aku hanyalah gadis biasa,” ujarnya.

“Bisakah kau memberitahuku satu alasan saja mengapa Kai tertarik padamu? Setahuku, dia paling tidak suka dengan gadis-gadis yang selalu bertingkah manis dan terlalu feminin.”

Tawa Cho lantas menggelegar dan tak lagi ketakutan. “Dia tak mungkin tertarik padaku, Luhan-ssi. Asal kau tahu, kami selalu bertengkar hanya karena hal-hal kecil. Dia sangat keras kepala dan tak mau mengalah, termasuk pada seorang gadis.”

Keheranan, Cho menyipitkan kedua matanya mendengar tawa rendah Luhan. “Kenapa kau malah tertawa?”

Lantas Luhan menepuk-nepuk lututnya.

Tawanya terhenti seketika itu juga. Ia membatu, tidak menciptakan gerakan sekecil apapun. Disampingnya, Fugore seketika berdiri tegak, melengking, menghentakkan kaki depannya ke atas tanah.

“Ada apa?” tanya Cho, keheranan.

“Apakah kau bisa berlari menggunakan sepatumu?” tanya Luhan. Pria itu meraih tali kendali Fugore lalu menumpangi punggung kudanya dalam sepersekian detik.

“Apa yang terjadi?”

“Kris mengetahui keberadaan Kai. Aku akan menghalaunya agar Kai memiliki cukup waktu untuk berteleportasi.”

-o-

GEMERISIK DEDAUNAN DAN SUARA SAMAR DARI KICAUAN burung-burung tak mampu mengusik gendang telinga Kai. Terkecuali ringkihan kuda yang menggema memasuki sela-sela pepohonan. Pria itu mengerjap malas. Kelopak matanya terbuka perlahan. Sepasang kaki panjangnya masih meringkuk sementara tangan kiri menahan kepalanya untuk mendapatkan posisi terbaik.

Tanpa melakukan gerakan di tubuhnya, ia menangkap Fugore bersama Luhan di padang stepa yang masih terjangkau indera penglihatannya. Warna hijau dari pakaian Cho pun tak luput dari lensanya. Kai menghela napas panjang. Tubuhnya telah kembali normal dan ia mensyukurinya.

Dari kegelapan yang menelungkupinya, patahan ranting yang berirama menajamkan seluruh indera yang dimiliki Kai. Suara itu semakin mendekat, dan Kai meyakini bahwa hal itu merupakan pertanda atas kehadiran seseorang.

Berpura-pura mati, atau lebih tepatnya mengatupkan kembali kelopak mata, Kai mencoba untuk tidak memberikan respon negatif terhadap sosok apa yang tengah menghampirinya. Ia dapat menjatuhkan apapun itu dengan mudah. Kai mengetahui dengan baik kemampuan terpendamnya.

“Menjauh darinya!”

Itu suara Cho Ikha.

Kai menyakininya karena suara yang muncul dari kejauhan tersebut lebih lembut dari suara Luhan. Mendengar ocehan tersebut yang tak kunjung mereda, Kai mengetahuinya dengan baik saat suara itu kian mendekat.

“Jauhkan tangan busukmu itu dari Kai!”

Cho Ikha, menepis tangan pria berapi itu saat dirinya tiba di sisi Kai. Gadis itu menghalau makhluk tinggi dengan wajah kakunya yang terbungkus oleh keangkuhan yang hampir sama dengan Kai.

Makhluk itu menyeringai. Bibir tebalnya membentuk raut yang menyeramkan. Kedua lengan kokohnya mengerat kuat di balik pakaian ketatnya. Makhluk itu tak melakukan gerakan lain meski rambut pirangnya tersapu angin.

“Gadis lemah,” ia berbisik seraya menciptakan garis api dari ujung telunjuknya.

Cho menghalau wajahnya dengan tangan kosong. Sepasang matanya tertutup rapat meskipun ia yakin tak akan mampu menghindari lecutan api dari makhluk asing tersebut. Gadis itu mendadak linglung. Hingga ia merasakan seseorang memeluknya erat seolah memberikan tumpangan singkat untuk menahan tubuhnya yang hampir saja roboh.

“Sampai kapan kau akan terus menggangguku, Kris?”

Cho segera mendongak.

Kai kini berada di hadapannya. Pria itu terpusat pada satu titik dan Cho baru menyadarinya. Kai membawanya berpindah tempat. Hanya berjarak beberapa meter saja dari balik punggung Kris.

Gadis itu bergidik ngeri. Genggamannya begitu kuat pada lengan atletik Kai. Pohon tempat pria itu bersandar kini telah hangus dilalap api. Siapa lagi jika bukan Kris, sang pelaku utama.

“Kenapa kau selalu saja seenaknya datang dan pergi dari wilayah ini? Apakah kau tak memiliki tempat tinggal yang layak?” hardik Kris. Percikan-percikan api masih berkeliaran di sekitar tubuhnya.

“Bukankah gugus ini juga masih bagian dari EXO? Tentu saja aku bebas datang kemari karena tak ada peraturan yang menuliskan semua larangan bodohmu itu, Kris.” jawab Kai lantang. Pria itu menguap, tak sadar bahwa Cho tengah menatapnya was-was.

Kris melirik pada Cho. Gadis itu berusaha untuk tidak melakukan kontak mata dengannya. Pria berapi itu memiringkan kepala, mengamatinya. “Kunjungan singkat bersama seorang gadis? Ini benar-benar di luar gayamu.”

Sambil menarik tubuh Cho mendekat padanya, Kai kembali menguap seperti kuda nil raksasa. “Aku tidak sedang mengunjungi Luhan jika itu yang sedang kau pikirkan. Aku hanya butuh tempat privasi untuk kita berdua. Benar begitu, Gean16?”

Tepat ketika Kai mengatakan hal tersebut, pria itu segera menatap Cho dan memberinya sebuah kerlingan nakal. Cho membulatkan mata sambil berkomat-kamit tak jelas. Meski Kris tak dapat melihat ekspresi wajahnya, Cho khawatir jika sandiwara Kai akan terbongkar. Sejak kapan pria itu mengajaknya kemari untuk menghabiskan waktu berdua?

“Apakah sudah tidak ada tempat yang menarik lagi di gugus yang sangat kau banggakan itu?” ejek Kris. Seringaian mencemoohnya semakin jelas terlihat.

“Lebih tepatnya aku bosan. Ayolah, Kris. Aku hanya ingin berduaan dengannya. Kau boleh menghajarku jika aku sendirian. OK?” tawar Kai.

Percikan api seketika melebur di tiap ujung jemari Kris. Ia sama sekali tak memalingkan wajahnya dari Kai, menunggu pria itu untuk segera pergi dari wilayahnya. Kai terkekeh pelan tanpa gentar. Sifat si pemimpin castè Myrath itu sangat mirip dengannya, keras kepala dan tak mau mengalah. Mengerti bahwa Kris tak akan beranjak dari sana membuat sebuah ide jahil melintas di otaknya.

“Kalau kau ingin melihat kami bermesraan, silahkan saja. Aku tidak melarangnya,” goda Kai.

Ia meraih lengan Cho Ikha. Tanpa ragu ia menjatuhkan tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Cho hendak mengaduh sebelum bibir Kai berhasil membungkamnya.

Kris memalingkan wajah. Sepasang tangan kokoh Kai yang membelit mesra tubuh Cho Ikha memberi kesan kuat bahwa dua insan itu tengah menikmati momen tersebut. Ia tak menyadari betapa kekakuan dan kekikukkan Cho lebih kentara di balik sikap yang Kai tunjukkan.

“Lakukan saja sesuka hatimu dan segera enyahlah dari tempat ini,” rutuk Kris lantas menyulut tubuhnya oleh kobaran api dan berlalu dari tempatnya.

Sadar bahwa pemimpin keji itu telah menghilang, Kai melepaskan tautan bibirnya, menciptakan kikuk saat keduanya saling berbagi pandang.

“Apa kau gila?” bisik Cho. Gigi-giginya bergemeretak menahan malu yang ditahannya sejak beberapa detik lalu. Kesenonohan pria itu membuat bibirnya membeku.

Sstt,” Kai meletakkan telunjuk pada bibir tebalnya. Ia menyentuh kedua bahu Cho Ikha, merasakan sedikit getaran yang timbul dari dalam tubuhnya.

Sesungguhnya, Kai tak yakin dengan apa yang telah dilakukannya. Ia termenung sejenak menelusuri makna yang ditimbulkan Cho. Gadis itu membungkam mulutnya rapat-rapat, bahkan mengigigit bibir bawahnya hingga ia kesulitan untuk meneliti.

Kasar, Kai menarik tubuh Cho kembali ke dalam pelukannya. Ia berbisik lirih hingga Cho mendengar lantunan tersebut di telinganya. Partikel nomènos mengalir indah seiring nyanyian panjang yang tak dimengerti Cho. Dilingkupi oleh sihir, partikel tersebut melalap tubuh keduanya buku demi buku. Rasanya Kai ingin berteriak. Tak ada sebersit niat baginya untuk mencumbu Cho Ikha. Apa daya kekuatan pikirannya tak mampu membohongi segala penolakan egonya.

Terhisap oleh lorong waktu, keduanya menapaki tanah berumput di samping pagar tinggi yang melingkari sebuah gedung besar.

Cho menghela napas kuat. Teleportasi itu lebih menyakitkan dari semula. Di hadapannya, Kai hanya mampu berdiam diri. Kedua lengan pria itu melepas sentuhan di bahunya, mengiringi daun-daun agloanema yang berguguran dari mantel yang diciptakan Luhan.

Tanpa suara, Kai memilih untuk meninggalkannya seorang diri. Langkahnya bergerak pasti menuju pintu utama. Begitu pula dengannya. Ia hanya mampu mengikuti. Cukup disesali pula olehnya saat dedaunan itu tak lagi dinaungi sihir Luhan.

Maka ia beranjak pergi, sebelum gelap semakin merundung hatinya yang tak menentu.

-o-

LIMA BELAS MENIT BERLALU NAMUN SEPASANG MAKHLUK itu seolah hanya berkomunikasi melalui pikiran mereka. Suapan ketiganya sengaja mengulur waktu. Ia masih berharap pria di hadapannya untuk sekedar mengucap kata sederhana. Hingga hidangan itu nyaris dilahap habis oleh si pria, waktupun seolah berpihak padanya.

“Sampai kapan kita akan terus berdiam diri seperti ini, Suho?”

Gadis berambut ikal itu mengayun gagang besi yang terjepit di antara jemarinya. Ia tak lagi memiliki keinginan yang sama saat kekasihnya memutuskan untuk menikmati makan siang yang sulit untuk dilakukan keduanya akhir-akhir ini.

Pria yang diajak bicara membenamkan sorot matanya pada irisan daging terakhir. Lirih ia berkata,  “Ada sesuatu yang ingin kudiskusikan, Gean.”

Tajam, gadis itu menancapkan ujung garpu pada hidangannya berulang kali. Tak ada senyum di wajahnya selain guratan penuh kekecewaan dan kemurkaan. “Kuharap apa yang ingin kau bicarakan bukanlah mengenai pembatalan pernikahan kita,” ia berucap lantang. Suaranya menggema di dalam ruang besar yang─kali ini─hanya dihuni oleh keduanya.

Suho menyeka tiap sudut bibirnya. Sikap tenangnya justru membuat gadis itu menggeram di perutnya.

“Kau telah berubah,” imbuhnya, mengutarakan apa yang selama ini tersimpan dengan baik dalam hatinya.

“Tidak. Tidak ada yang berubah padaku, Sangri. Hanya saja—“

Mendadak suara yang terdengar berat dari pintu utama menghentikan Suho. Sangri memutar bola mata karena perhatian Suho malah terpusat pada titik tersebut. Setahunya, para castè melaksanakan tugas yang selalu mereka lakukan pada jam-jam tertentu. Ia sengaja memilih siang ini tanpa kehadiran mereka yang akan mengusiknya. Begitu sosok Kai muncul di sana, Suho kini melupakan satu hal.

Pria itu hendak menaiki tangga hingga sadar bahwa ada sepasang mata yang mengikutinya. Sigap, ia memalingkan wajah. Ruang makan yang berseberangan dengan ruang utama bukanlah struktur yang tepat. Ini kali ketiga setelah Kai mau tak mau memergoki Baekhyun tengah bercumbu dengan Krystal di sana dan makan malam D.O yang berantakan akibat gadis yang diajaknya berkencan malah berbalik menyukainya.

“Aku hanya berpapasan saja. Silahkan lanjutkan,” ucap Kai kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Pintu kembali terbuka.

Tak perlu banyak menerka karena Suho dapat dengan mudah mengetahuinya. Cho Ikha, dengan langkah gontai, menunduk kaku pada keduanya lantas beranjak pergi. Baginya, tak ada yang lebih diinginkan selain hinggap di atas tempat tidur.

Sangri lantas tersenyum hambar. “Aku mengerti sekarang.”

Ucapannya menyentak lamunan Suho. Ia melirik pada gadisnya dan ia memahami arti dari sorot matanya. “Tidak. Bukan gadis itu,” bantah Suho.

“Aku sama sekali tak menyinggung soal gadis itu, Suho.”

Sangri memutuskan untuk mengakhiri hidangannya. Suara gesekan tiap-tiap ujung kursi terdengar kasar di telinga—terkesan bahwa gadis itu terburu-buru dan enggan untuk sekedar duduk lebih lama.

Suho menyeimbangi gerakan Sangri. Tak ingin gadisnya beranjak sebelum ujung sepatunya bergerak menjauh. “Aku tahu apa yang ada di benakmu sekarang,” ucapnya sumbang.

“Lalu siapa dia? Dari kalangan mana gadis itu berasal? Mengapa ia bersama Kai dan bisa berkeliaran di tempat ini?”

Rentetan pertanyaan yang diajukan Sangri membuat Suho hanya mampu menghembus napas berat. “Kau cemburu,” ia berucap lirih.

“Jelas aku cemburu, Suho! Kau hanya akan menyebutkan alasan-alasan tak masuk akal mengenai rencana pernikahan kita—yang kuketahui sebagai alibi bodoh untuk melindungi gadis asing itu.”

Suho memejamkan mata sesaat sebelum menghampiri Sangri. Sepatu hak tingginya membuat tubuh keduanya hampir sejajar. “Tak ada yang lebih kuutamakan saat ini selain tahta itu, Gean. Kau harus mengerti,” tuturnya.

Sangri menepisnya kasar. Delikan tajamnya membuat gaun indahnya tak mampu menutupi sorot menyeramkan dari matanya.

“Bukan kebaikan kita, tapi kebaikanmu.”

-o-

SETELAH MENGUNCI DIRI TANPA TERSENTUH OLEH siapapun, Cho melepas flip di antara daun pintu dan berharap tak ada seorangpun yang akan mengganggu. Kepalanya menjulur saat ia mencapai pembatas besi. Hidangan makan malam telah tersedia di ruang makan. Terdapat dua piring kosong—berarti hanya dua makhluk saja yang melewati waktu tersebut.

Cho melangkah melewati dua pintu lain. Menikmati senja di planet EXO tak lebih seperti menikmati kegelapan malam di penghujung hari. Suara gaduh Baekhyun membuatnya terjaga dari tidur siangnya. Pria itu juga tak bosan-bosannya mengetuk pintu tiap separuh jam. Sungguh hal yang sangat mengganggu.

Melewati ruangannya, Cho terhenti sejenak saat seseorang di dalam sana tengah membenahi pakaiannya. Ia menggigit bibir tebalnya hingga perih. Kejadian itu masih membekas dan sulit untuk terhapus dari ingatannya.

Sebelum Cho benar-benar beranjak, pria penghuni ruangan itu lebih dulu menangkap perhatiannya. Tergesa-gesa, gadis itu menuruni anak tangga. Harus ditaruh di mana wajah dan harga dirinya saat ia bertemu kembali dengan Kai. Meski bukan dirinya yang memulai, ciuman singkat itu jelas merupakan sesuatu yang sakral baginya.

Celana woven pria itu terdengar saling bergesekan saat menuruni tangga. Dengan segera Cho tertuju pada meja makan. Kegelisahannya tak mampu bersembunyi dari tubuhnya saat suara derap kaki semakin jelas merasuki gendang telinganya. Hanya beberapa detik saja, Kai kini berada di hadapannya. Tepat di seberang meja. Lelah itu terukir di sekeliling matanya. Sangat kentara meski kaus pink yang dikenakannya membuat Kai lebih berwarna.

“Bukankah kau tak menyukai makanan di planet ini?”

Kai berinisiatif untuk memulai.

Cho berdeham pelan. Ia mengutuk dirinya sendiri saat mengetahui sepasang matanya terpusat pada bibir Kai. Sambil mengamati sup lumpur di hadapannya, ia mencoba untuk menghibur diri bahwa pria itu tak akan menangkap aksinya beberapa detik lalu.

“Aku hanya ingin bertahan hidup,” ucap Cho sembari menarik kursinya lebih dekat. Lapar itu menghinggapinya sore tadi. Seakan-akan hidangan itu menggoda rasa hausnya.

Tanpa menatap Cho, Kai meraih selembaran cokelat di sampingnya lantas menggerakkan bola mata mengikuti deretan kata di sana. Kacamata bingkai hitam bertengger manis pada hidungnya membuat pria itu bak makhluk berintelektual tinggi.

Cho meremas-remas seluruh jemarinya. Dingin seketika menelungkupi tubuhnya. Harapannya pupus sudah saat mendengar percakapan salah satu pelayan dengan Kai─mengenai para castè yang tak akan kembali ke markas hingga esok hari. Itu berarti ia akan menghabiskan waktunya bersama keheningan.

Karena keduanya sama sekali tak banyak bicara.

“Kau tak ingin menjelaskan padaku tentang hal itu?” tanya Cho setelah yakin pelayan terakhir meminta diri untuk meninggalkan ruangan.

“Tak ada yang perlu kujelaskan. Aku hanya ingin menikmati makananku dengan tenang jadi jangan melontarkan pertanyaan-pertanyaan bodoh padaku.”

Serasa tertusuk ribuan duri landak hutan, lubang hidung Cho bergerak kembang-kempis menahan hasratnya untuk menyerang Kai. Rasanya ia ingin menyiramkan seember air panas tepat di wajahnya.

Kai sama sekali tak terusik seolah tak pernah terjadi apapun antara keduanya. Sambil menggenggam ke jemarinya, Cho berusaha untuk tenang. Mind-control hampir diambang kepunahan jika saja ia tak memiliki rasa malu yang berlebihan.

“Kenapa kau harus berada di tempat ini sementara yang lain tinggal di rumah mereka masing-masing?” Ia mencoba menyerang dengan pertanyaan lain. Berharap akan muncul partikel hitam nomènos yang berkibar-kibar di atas kepala Kai.

“Kurasa Luhan sudah cukup banyak bercerita,” jawab Kai seraya melempar salah satu perkamen mengenai gosip murahan yang dibuat jurnalis atas kedekatannya dengan Sulli.

Helaian rambut Cho berayun saat ia menghembuskan udara kasar dari mulutnya. Sepertinya pria itu menganggap ciuman yang diciptakannya sebagai hal kecil tak bermakna.

Baiklah.

Cho memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Jika pria itu mampu melakukannya, mengapa ia tidak.

“Kau sempat memanggilku gean saat pria berapi itu menampakkan diri. Apa kau sedang mengolok-olokku?” tanya Cho. Ia menarik halus piring kecil berisi potongan bulat berwarna orange─yang ia yakini sebagai wortel raksasa dari perkebunan Yeouido.

Kai meletakkan selembaran lain kemudian melepas kacamata bingkai hitamnya. “Saat kau menyebut gean, sama artinya dengan kau menyebut sayang.”

Cho mengangkat kepala tepat setelah ia menikmati air berembun pada gelasnya. “Kau mengerti bahasaku?”

Jawabannya kemudian dibalas oleh gerakan di bahu Kai. “Kau selalu menyebutkan kata itu setiap kali pria cantik di sekolahmu melintas─saat aku masih mengamati gerak-gerikmu di bumi tentunya.”

“Lihat! Siapa yang lebih disebut penguntit sekarang?!” Cho membuat pembelaan.

Kai menggeleng. Ia kembali meraih sisa perkamen dan membiarkan Cho mendumal tak menentu.

Bosan merutuki Kai─yang sama sekali tak tertarik dengannya, Cho melakukan mind-control seraya mengeratkan sweater yang tersampir di kedua bahunya. Dingin itu semakin menjalar ke dalam tubuhnya. Setahunya kemarin malam ia masih merasakan udara panas di sekelilingnya.

“Kapan kau akan mencari pedang itu?”

Kai mendongak. Kali ini memilih untuk menatap Cho setelah menghindari kontak mata dengannya. “Entahlah. Aku tidak tertarik dengan benda itu. Hanya sekedar mengikuti perintah. Kau bisa tanyakan itu pada Suho keesokan hari,” jawabnya gamblang.

Cho menunduk dan tak lagi menatapnya. Raut itu berubah kelam. Sedalam samudera maritimo yang tak pernah terjamah oleh siapa pun.

“Aku ingin pulang,” gumam Cho nyaris berbisik.

“Nanti.”

Gadis itu terdiam mendengar jawaban Kai. Sudahlah. Ia tak ingin berdebat panjang karena dingin itu mulai menusuk-nusuk kepalanya.

“Aku tidak ingin menjadi bagian dari permainan ini.”

Keheningan itu lantas kembali mengisi kekosongan di antara mereka. Tanpa menyantap hidangan di atas meja, Cho memilih untuk menelan keheningan itu bersama ngilu di tubuhnya. Sekali lagi, ia mengeratkan sweater-nya tak sabaran. Pakaian itu nyatanya tak cukup tebal untuk melindunginya.

Tak sadar, Kai memperhatikan tiap gerakan yang diciptakan Cho dengan sikap mengamati. Ada segurat pucat yang timbul seketika dan hal itu membuatnya bertanya, “Kau baik-baik saja?” Kemudian dijawab oleh deham singkat serta anggukan kecil dari Cho.

“Kau yakin?” tanya Kai kedua kali.

Pria itu tertegun begitu sorotan tajam Cho menyayat pusat retinanya. Gadis itu mengulang kembali perkataannya tepat ketika mereka memutuskan untuk duduk bersama di sana. Bunyi derit dari kursi yang diduduki Cho menggema di dalam ruangan. Ketika gadis itu memutuskan untuk meninggalkannya, ada sebersit rasa pilu di dada Kai.

Bola mata Kai bergerak mengikuti sepasang kaki Cho. Baru saja ia meraih alat makan di hadapannya, pria itu berlari dari tempatnya saat tubuhnya ambruk di sisi tangga. Lengan kokohnya menahan kedua bahu Cho yang mendadak sedingin es balok.

“Apa yang terjadi?”

Pria itu meringis menatap tirus di wajah Cho yang kian membentuk. Wajahnya memucat. Kai mengucap sumpah-serapah yang terdengar samar di telinga Cho. Mendadak ia tak mampu berpikir jernih.

“Mengapa tubuhmu sedingin es?” Kai menarik sweater Cho untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Ia memanggil nama pelayan yang dikenalnya namun tak ada sahutan. Kemudian ia menjeritkan kata kotor, sadar bahwa tak ada siapapun di sana selain mereka.

“Sebaiknya kupanggil Chanyeol. Tubuhnya cukup panas untuk menghangatkanmu,” ucap Kai. Kekhawatiran kian mengiris-ngiris wajahnya.

Sambil mendekap tubuh gadis itu di dalam pelukannya, pria itu membawa Cho menuju lantai kedua dengan kekuatan maksimal. Gadis itu menggenggam kaus pink Kai lemah, menarik sebisanya dan menggumamkan sesuatu yang hampir tak terdeteksi pendengarannya.

“Simpan kata-kata terima kasihmu jika itu yang kau ucapkan padaku barusan,” Kai berucap dengan sedikit merutukinya.

Kai menggigit bibir bawahnya kencang. Sentuhan Cho pada tangannya nyaris membuatnya melepas tubuh gadis itu di ambang pintu. Perubahan suhu yang ditunjukkan Cho sama sekali tak terlintas di pikirannya. Ia tak memiliki jawaban atas hal itu dan ia benar-benar tak memahaminya.

Setelah berperang dengan pikirannya sendiri, Kai merebahkan tubuh gadis itu di atas ovess yang melapisi permukaan tempat tidurnya. Cho bergumam aneh meski sepasang matanya terkatup rapat sementara Kai terus mengoceh atas ketidakbecusannya. Gadis itu seolah menahannya untuk pergi. Ia sama sekali tak melepas jeratan kecil pada kaus merah mudanya.

“Katakan padaku apa yang terjadi? Kau membuatku cemas, Cho Ikha!”

Pria itu bersimpuh di sisinya. Perlahan ia menarik jemari Cho untuk melepas pakaiannya. Digenggamnya jemari si gadis untuk merasakan kebekuan yang kian membentuknya menjadi sebongkah es.

“Aku ingin pulang,” jawab Cho terbata.

Ia menggeleng. “Tidak. Aku tak bisa membawamu ke sana jika tubuhmu seperti ini. Aku takut rohmu tak akan terbentuk utuh saat menyatu dengan tubuh aslimu. Apa yang harus kulakukan?” racau Kai tanpa jeda. Bola matanya bergerak liar sementara gigi-giginya terus mengigiti bibir bawahnya.

“Apa karena teleportasi yang selalu kau lakukan beberapa hari ini? Atau karena kau sama sekali tak tertembus cahaya matahari? Mungkin karena beberapa hari ini kau hanya mengonsumsi beberapa potong raspee17. Karena itu tubuhmu melemah. Ingin kubuatkan sesuatu?”

Spekulasi yang dibuat Kai membentuk senyum kaku di wajah Cho. Gadis itu tak melakukan gerakan hebat selain kelopak matanya yang nampak berat untuk terbuka.

“Cho Ikha?”

Kai menyesapi wajah gadis itu dengan telapak tangannya. Cho tergeletak seperti tak bernyawa. Ia membeku bersama senyum kakunya. Kai mencoba meneriaki nama gadis itu berulang kali diiringi tepukan lembut di kedua pipinya.

Tak ada jawaban.

Kai menyentuh setiap inci tubuh Cho Ikha. Ia menemukan sepasang kakinya masih bersuhu normal. Dadanya telah membeku namun daerah di sekitar perut dan pinggang masih utuh seperti semula.

“Oh, tidak! Cho Ikha!” pekik Kai begitu merasakan es tersebut menjalar menuju hatinya.

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

———————————–

17raspee: buah kecil berwarna ungu, berbentuk pil sebesar ibu jari, di dalamnya terdapat bulatan-bulatan kecil berwarna kuning transparan, bagi Cho hanya buah itu saja yang memiliki rasa manis seperti leci.