JACK THE RIPPER (ii)

KAU?”

Cho Ikha tertegun. Jack menyunggingkan senyum arogan-nya kemudian mendekatkan kembali tubuhnya pada Ikha. Gadis itu menolak dengan menahan kedua bahu tegap Jack. Masih sulit mempercayai wajah di balik topeng tersebut.

“Bukankah kau Lee Hyuk Jae?” ulangnya, meyakinkan bahwa pria yang mendapat julukan itu adalah benar seorang Lee Hyuk Jae, anak angkat dari Park Sebyung—Kepala Polisi Seoul sekaligus atasannya—dan juga adik angkat dari Park Jungsu, calon suaminya.

“Terkejut?” gumam Hyukjae. Jemarinya menyentuh dagu Ikha, sedikit menariknya lebih dekat, menyebabkan hidung mereka saling bergesekan lembut.

Cho Ikha membisu. Akalnya menerawang, mengingat kembali pertemuannya dengan Hyukjae tahun lalu. Ia mengenal pria itu sebagai salah satu kandidat Kepala Polisi Cheongju—selain dirinya dan dua kandidat lain yang tak dikenalnya. Jungsu bahkan pernah mengenalkannya saat makan malam bersama Keluarga Park tahun lalu.

“Kenapa kau—”

“—melakukan ini padamu?” sela Hyukjae, menghirup wangi tubuh Ikha di balik rahangnya yang mengeras. “Tadinya aku ingin memberimu sedikit pelajaran karena telah mengambil posisi yang sangat kudambakan di Kepolisian. Namun ternyata semua telah direncanakan. Ia sengaja mendiskualifikasikanku dari kandidat itu agar kau bisa berdampingan dengan Jungsu. Dan setelah dipikir-pikir, aku ingin bermain-main denganmu terlebih dulu sebelum aku akan disibukkan oleh jadwal theater-ku.”

Hyukjae mengatakan deretan kalimat tersebut sembari memberikan kecupan-kecupan manis di leher dan bibir Ikha. Gadis itu masih mengatupkan mata. Hyukjae benar-benar menggodanya.

“Rasanya tidak adil jika gadis semenarik dirimu akan dinikahi oleh hyung-ku. Kau tahu? Saat di tempat tidur, Jungsu tidak jauh lebih baik dariku.” gumam Hyukjae.

“Tidak seharusnya kau melakukan hal ini pada calon kakak iparmu dan—“

Sstt, jangan banyak bicara, Cho Ikha. Aku tidak bisa menahan hasratku terlalu lama saat melihat bibirmu yang terus menggodaku sejak tadi,” ia meletakkan telunjuknya pada bibir Ikha. Sepasang matanya bergerak bingung, antara menelisik mata cokelat yang dimiliki gadis itu atau pada bagian lain yang sedari tadi mengganggu syarafnya.

“Hentikan,” cegahnya, menghentikan jemari Hyukjae yang nyaris saja mengijinkan otaknya agar pria itu menyentuhnya lebih jauh.

Hyukjae bergeming, menggelitik gadis itu dengan ciuman ringan di bahunya bersama desahnya yang tertahan. Ia menatap sejenak pada Ikha sebelum akhirnya menyeringai lemah. “Pantas saja Jungsu tidak ingin jauh darimu,” bisiknya, menyibak kemeja Cho Ikha dan membuat gadis itu terhenyak saat dirinya menyentuh manis perut hingga rongga punggungnya.

Ikha semakin mengigiti bibirnya, “Hentikan, Lee. Ini tidak benar,” pintanya, memelas.

“Bukankah kau juga sering melakukannya dengan Jungsu?” Hyukjae kembali mencumbunya sementara sepasang tangannya menggerayangi tubuh Ikha.

Gadis itu mengelak dengan mendorong tubuh Hyukjae menjauh. Keduanya saling beradu pandang, terutama Cho Ikha bersama tatapannya yang menantang.

“Jangan menatapku seperti itu. Kau “Kau akan menikah dengan Leeteuk bukan karena cinta. Tahta yang menjadi tujuanmu, bukan? Lalu apa bedanya denganku?” gumamnya sambil meletakan ujung telunjuknya pada bibir Ikha. Jarinya bergerak turun secara perlahan. Melewati leher jenjangnya, dada, hingga terhenti di perutnya yang rata.

Kedua mata Ikha menyipit. Pantas saja Eunhyuk sangat menginginkan posisinya saat ini. Namja berambut blonde tersebut memang terlahir untuk menjadi seorang polisi. Ia pintar mencari informasi dan dapat dengan mudah menebak jalan pikiran orang. Contohnya kecilnya adalah ia tahu alasan dibalik pernikahannya dengan Leeteuk yang akan diselenggarakan dua bulan lagi.

“Apa lagi yang kau tunggu, eum?”

Suara Eunhyuk berhasil membuat Ikha terjaga. Kata-kata Eunhyuk di atas memang ada benarnya juga. Apa bedanya jika ia melakukan ‘itu’ dengan Leeteuk atau dengan Eunhyuk? Keduanya sama-sama ia lakukan tanpa dasar rasa cinta. Mungkin agak terdengar jahat, tapi Ikha memang sudah lama tidak mengenal kata ‘cinta’. Yang ia tahu hanyalah kata ‘puas’.

Jubah Eunhyuk ditariknya cukup kencang sehingga membuat tubuh keduanya saling bersentuhan. Ikha meraup bibir Eunhyuk, menciumnya dengan kasar sambil menggigit bibir bawah namja itu sesekali. Eunhyuk tersenyum. Senang karena kini Ikha menyambutnya.

Ikha menyingkirkan topi yang dipakai Eunhyuk dengan melemparnya ke arah jendela. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, tangannya bergerak melepas jubah bertudung yang menutupi hampir seluruh tubuh—menyisakan Tshirt hitam v-neck dan jeans saja pada tubuhnya. Eunhyuk semakin mengganas, ia mendorong tubuh Ikha hingga yeoja itu terduduk di atas meja rias.

Terdengar bunyi benda-benda berjatuhan yang berasal dari deretan alat make-up yang sengaja disusun rapih saat kedua tangan Ikha menelusuri permukaan meja untuk mencari penopang tubuhnya. Ikha memberi jeda sesaat ketika punggungnya menabrak cermin. Ternyata ia cukup kewalahan menghadapi Eunhyuk. Tidak sabaran dan terkesan menuntut.

“Kau menyakitiku,” bisik Ikha, berusaha untuk mengalihkan perhatian Eunhyuk sementara tangannya menggelayar di tubuh namja itu.

Eunhyuk hanya mendengus dan kembali mencumbu Ikha tiada henti. Hal itu pun Ikha manfaatkan dengan baik. Ia mengusap  tubuh Eunhyuk tanpa terlewatkan barang satu senti pun untuk mencari sesuatu yang mencurigakan. Ia sempat tersenyum puas ketika mendapati sebilah belati terselip di balik punggung namja itu.

Ikha kembali meraba-raba. Setelah kantung jeans belakang, tangannya bergerak meraba kantung jeans bagian depan. Agar namja itu tidak mencurigainya, Ikha sengaja meraba daerah sensitif Eunhyuk sejenak dan berhasil membuat namja itu semakin liar menciumnya.

“Jack,” bisik Ikha saat Eunhyuk sedang menjilati tulang belikatnya. Namja itu hanya berdeham tanpa menggubris bisikannya.

“Aku lebih suka jika kita melakukannya di atas sana,” ujar Ikha seraya mengarahkan pandangannya pada tempat tidur king size miliknya yang belum tersentuh seharian ini.

Aktivitas Eunhyuk terhenti. Ia tesenyum penuh arti pada Ikha kemudian menjilat bibirnya sendiri. “As you wish, Baby.”

Ia beranjak dari tempatnya menuju tempat tidur. Meninggalkan Ikha yang nampak berantakan di atas meja rias. Sambil duduk di tepian ranjang, Eunhyuk melepaskan Tshirt hitamnya kemudian menunduk untuk melepas sepatu yang masih ia kenakan.

Ikha menarik napas sebanyak yang ia bisa. Eunhyuk sama sekali tidak memberinya kesempatan saat mereka bercumbu barusan. Setelah napasnya kembali normal, yeoja itu membenahi kemejanya yang hampir tertanggalkan. Dan ia baru sadar jika kancing dan restleting celana seragamnya itu sudah terbuka.

Saat Ikha hendak mengancingkan kemejanya, ia merasakan sesuatu seperti menusuk pinggangnya. Ia menyingkap kemeja dan menemukan sebuah jarum akupuntur tertancap di pinggangnya. Ikha melepas benda itu kemudian membuangnya sembarangan.

Sejenak Ikha mengamati Eunhyuk yang masih berkutat dengan sepatunya. Hati-hati, ia turun dari meja rias kemudian berlari menuju pintu kamarnya. Ia mengaduh dan berteriak kesal saat pintu tersebut tak mau terbuka.

Di belakangnya, Eunhyuk tertawa puas. Ia meregangkan otot tubuh hingga abs di sekitar perutnya semakin tampak.

“Saat kau hendak menutup jendela, aku sengaja mengunci pintu tersebut agar tak ada satu pun yang mengganggu kesenangan kita malam ini,” tutur Eunhyuk sembari memperhatikan sebuah kunci yang ada di tangannya.

Ikha melayangkan pukulannya pada daun pintu hingga menimbulkan bunyi ‘dug’ yang cukup kencang. Saat memutar tubuh, ia memperhatikan gerak-gerik Eunhyuk yang tengah memasukan kunci tersebut ke dalam jeans-nya. Ke dalam jeans, bukan ke dalam kantong jeans.

Eunhyuk kemudian memposisikan dirinya duduk bersandar pada kepala ranjang. Sambil merentangkan tangan, ia tersenyum licik pada Ikha. “Wanna tryna take it?” godanya.

Yeoja itu mendengus. Ia berlari menuju laci meja riasnya lalu mengambil sebuah kunci cadangan. Selangkah lagi, Ikha dapat keluar dari tempat itu dan menghubungi Key agar Jack tak lagi kabur. Namun sebelum ia mencapai pintu, Eunhyuk telah beranjak dan lebih dulu membekap tubuhnya. Ikha mengerang saat Eunhyuk menyeret dan membanting tubuhnya ke atas ranjang.

Eunhyuk menindih tubuh Ikha saat yeoja itu berniat untuk menghindar lagi. Mengunci kedua kaki Ikha dengan melilitkan kakinya sendiri lalu menekan kedua pergelangan tangan yeoja itu agar ia tidak memberontak.

“Sekalipun kau mencoba lari dariku, aku akan dengan mudah menangkapmu lagi.” ucap Eunhyuk tepat di depan wajah Ikha.

Ikha memalingkan wajah sambil terus menggerakkan tubuhnya dan berharap cengkeraman namja itu dapat terlepas.

“Kau tidak akan pernah bisa meniduriku. Biarkan aku menjadi salah satu korban pembunuhanmu saja,” Ikha kembali mengejangkan tubuhnya meski Eunhyuk dengan kuat menahannya.

“Jika aku membunuhmu, aku akan kesulitan menemukan mainan baru.” Bisiknya di telinga Ikha.

Let me go, you bastard!!” tukas Ikha sambil terus berusaha melepas lilitan kaki Eunhyuk.

Seringaian Eunhyuk kembali tampak. Ia mendekatkan wajahnya pada Ikha. Membisikkan sesuatu yang membuat amarah yeoja itu semakin memuncak. “Try it. If you can,”

Ikha mengerang. Eunhyuk benar-benar telah membuatnya naik pitam. Belum lagi pelecehan seksual yang ia terima dari namja itu. Rasanya ia ingin mencabik-cabik wajah monyetnya hingga tak berbentuk lagi.

Setelah hampir lima menit Ikha terus memberontak, yeoja itu akhirnya mulai melemah dan memutuskan untuk berhenti. Percuma saja. Usahanya sia-sia karena Eunhyuk mampu mengunci tubuhnya dengan baik. Sambil mengatur napasnya yang kelelahan, Ikha menatap Eunhyuk sarat dengan kebencian.

Sayangnya Eunhyuk sama sekali tak gentar. Justru ia mengedipkan mata dengan nakal padanya. “Kau semakin cantik saat menatapku seperti itu,” pujinya.

Ikha memutar bola mata lalu mendengus. Ia sudah terlalu banyak mendengar kata-kata omong-kosong dari Eunhyuk malam ini. Ketika yeoja itu tengah menenangkan diri di dalam jeratan Eunhyuk, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya memanas hingga ke ubun-ubun. Rasanya seperti sesuatu membakar tubuhnya.

Ada yang tidak beres…

Ya! Apa yang kau lakukan padaku, uh?” tanya Ikha pada Eunhyuk.

Eunhyuk terkekeh. “Apa? Aku tidak melakukan apapun,” jawanya basa-basi.

Ikha mendelik. Ia tahu bahwa Eunhyuk pasti melakukan sesuatu padanya. Ia masih baik-baik saja beberapa menit yang lalu. Hingga akhirnya ia merasa seperti orang ling-lung dan tak mampu menahan hasrat-nya yang semakin memuncak. Saat melihat perubahan wajah Ikha, namja itu melepas jeratannya seketika itu juga dan membiarkan yeoja itu meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.

Wae? Kau mulai merasakan reaksinya?” tanya Eunhyuk yang setengah terbaring disamping Ikha, mengamati yeoja itu dengan seksama.

“Apa yang—“

“Yang aku masukan ke dalam jarum itu?” potong Eunhyuk seolah dapat menerka apa yang akan Ikha katakan selanjutnya.

Mmm, sedikit perangsang?” jawabnya sambil pura-pura berpikir.

Ikha mengerang sambil berguling di atas ranjang. Tubuhnya bergetar hebat seperti sedang terkena demam tinggi.

“Kau—“ Ikha menelan kembali kata-katanya saat merasakan panas membara di dalam tubuhnya. Ia yakin Air Conditioner-nya masih baik-baik saja. Tapi kenapa ia merasa seperti berada di tengah padang pasir? Yeoja itu kembali berguling. Bantal serta guling yang ada di atas ranjang ia lempar ke segala arah.

Sambil mengusap tengkuknya, Ikha memperhatikan Eunhyuk yang hanya berdiam diri saja memperhatikannya di tepi ranjang. Sialnya, entah kenapa ia merasa bahwa ia begitu menginginkan Eunhyuk saat ini. Yeoja itu menelan ludah, berusaha membuang jauh-jauh pikiran busuknya dan tetap berperang dengan perangsang yang Eunhyuk berikan padanya.

Sayangnya, meski ia sudah mencoba, Ikha tetap saja tak mampu menahannya. Ia kembali menatap Eunhyuk yang sepertinya sedang menunggunya. Matanya tak bisa teralihkan dari bibir Eunhyuk yang merah merona jika dibandingkan dengan bibir Leeteuk yang agak menghitam akibat sering merokok. Sejenak ia membayangkan ciuman yang mereka lakukan sebelumnya dan hal itu justru membuatnya semakin menggila.

“Sampai kapan kau akan terus menahan diri, eum?” goda Eunhyuk.

Lagi-lagi Ikha berguling di atas ranjang. Menahan hasrat untuk tidak menatap Eunhyuk barang sedetikpun. Kedua tangannya meremas bed-cover dengan kasar, kakinya mendendang-nendang tak karuan, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin dan memerah sedangkan mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan suara erangan serta desahan yang bagi Eunhyuk terdengar begitu menggoda.

Dengan kondisi setengah sadar, yeoja itu mendelik sinis pada Eunhyuk. “Kau harus membayar semua ini, Jack.” Bisiknya.

Eunhyuk menyeringai seraya menghampiri Ikha, menarik kedua tangan yeoja itu agar terbangun dari posisinya. Namja itu menuntun Ikha agar duduk di pangkuannya dan Ikha sama sekali tidak menolak. Ia masih sibuk meraba-raba tubuhnya sendiri.

“Tentu saja. Aku akan membayarnya dengan memuaskanmu malam ini,” goda Eunhyuk seraya mencium Ikha membabi-buta.

Tak sabaran, yeoja berambut panjang dan bergelombang itu menanggalkan pakaiannya satu per satu, membuat Eunhyuk tertawa puas karena berhasil mengontrol pikiran Ikha akibat kinerja obat tersebut. Tidak sia-sia dia mengeluarkan uang sebesar $ 46,9 untuk satu jarum perangsang yang sengaja ia import khusus dari Jepang.

***

SAYUP-SAYUP terdengar suara jam weker menggema di tengah suasana pagi yang begitu sunyi. Ikha menjulurkan tangannya pada rak kecil yang terletak disamping tempat tidur. Dengan mata tertutup, ia meraba-raba permukaan rak mencari letak weker kemudian mematikannya.

Ikha menguap seraya menggeliat. Sinar matahari sudah lebih terang menggantikan sinar lampu LED yang ada di kamarnya. Ia mengerang dan kembali menggeliat. Tubuhnya serasa remuk dan linu di beberapa titik. Sepertinya hal ini diakibatkan oleh perlakuan Jack tadi malam. Ia tidak ingat berapa kali mereka melakukannya. Yang jelas, Jack memang lebih kasar dan lebih lihai dibanding Leeteuk.

Kedua mata Ikha menyipit saat menemukan sebuah notes berwarna kuning keemasan yang tertempel pada bantal di sampingnya. Ia melepas notes tersebut kemudian membaca isi pesan yang sengaja di tulis oleh Eunhyuk.

Aku sangat puas dengan permainan kita tadi malam. Sebagai gantinya, Jack The Ripper tak akan pernah muncul lagi di wilayahmu. Lain kali aku akan mengunjungimu lagi. I can’t wait to play some games with you…

-Jack The Ripper-

Ikha meremas kertas tipis itu dengan kasar kemudian membuangnya sembarangan. Ia masih tak menyangka jika pada akhirnya melakukan hal tersebut dengan Eunhyuk. Yeoja itu menendang-nendang bed-cover-nya. Kesal, karena ia jadi merasa seperti seorang pelacur sekarang.

Sambil mendudukkan tubuhnya, Ikha mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar. Tempat itu sangat berantakan. Ia bahkan berkomat-kamit memaki Eunhyuk karena namja itu menggantungkan bra yang semalam dipakainya di ambang jendela. Ikha kemudian menatap cermin hias yang ada di seberang tempat tidur. Rambutnya ia kibas ke belakang saat mendapati tubuhnya dipenuhi bercak-bercak kemerahan.

“Lee Hyuk Jae!” geramnya.

Dengan membelitkan bed-cover ke seluruh tubuhnya, ia berusaha turun dari tempat tidur untuk meraih tas kerja—mengambil handphone. Setelah menekan speed dial dan orang yang ditujunya mengangkat panggilannya, tanpa basa-basi yeoja itu segera berkata,

“Key, setibanya di kantor, kau harus segera menyerahkan semua data tentang Lee Hyuk Jae padaku. Jangan sampai ada yang terlewat.”

***

IKHA MELEMPARKAN KUNCI mobilnya pada seorang valet yang biasa bertugas di Kepolisian. Langkahnya begitu terburu-buru. Bahkan saat ia melewati beberapa orang yang menyapa dan membungkukkan tubuh padanya, yeoja itu tetap berjalan tanpa membalas atau sekedar menyunggingkan senyum.

Sambil menunggu lift terbuka, ia memperhatikan pantulan tubuhnya pada pintu yang terbuat dari besi dan alumunium tersebut. Meski make-up telah menyembunyikan lelahnya, tubuhnya tetap tak memungkiri rasa kantuk dan lemas yang tiada tara. Ia ingin secepat mungkin menemukan Eunhyuk. Rasanya ia ingin mengubur namja itu hidup-hidup di dalam peti mati.

Noona!” sahut Key yang tengah berlari menghampirinya. Yeoja itu hanya menoleh dan kembali memperhatikan pantulan tubuhnya. Ia sudah biasa mendengar Key menyebutnya ‘noona’ dan bukannya memanggil ‘hyeongsanim’.

“Aku sudah mendapatkan seluruh data yang kau butuhkan,” ucap Key. Namja itu membuka file pink yang ada di tangannya setelah Ikha menyuruh untuk membacakan data tersebut.

“Setelah ia kalah dalam pemilihan Kepala Polisi tahun lalu, ia dikirim oleh Kepala Polisi Park ke New York Film Academy untuk belajar acting disana. Ia tak pernah terlibat dalam perkelahian atau skandal apapun. Tidak ada yang mencolok,” terang Key sambil menyetarakan langkahnya begitu Ikha masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai tujuh.

Geu saram jigeum eodiye ittji? (Lalu dimana dia sekarang?)” tanya Ikha. Kepalanya tiba-tiba pusing mendadak.

“Dia masih di New York dan belum kembali ke Seoul,”

Seketika yeoja itu langsung mematung mendengar keterangan Key. Tidak mungkin Eunhyuk masih di New York saat ini. Ia mampu melihat dengan jelas bahwa namja yang semalam telah membuatnya seperti wanita tuna susila itu adalah Eunhyuk. Benar-benar Eunhyuk.

Hyeongsanim!”

Sahutan seseorang setelah pintu lift terbuka tersebut membuat perhatian Ikha dan Key teralihkan pada suara tersebut. Yesung, lengkap dengan kacamata lensa besarnya, tergopoh-gopoh menghampiri Ikha sambil membawa selembar kertas yang baru diterimanya beberapa menit lalu.

***

DENGAN HATI-HATI, Ikha berjalan memasuki sebuah gedung tua yang telah diberi garis polisi di sekelilingnya. Ia sempat menjabat tangan seorang namja tua yang dikenalnya sebagai Kepala Polisi wilayah Propinsi Jeollanam-do.

“Kebakaran ini diakibatkan oleh tabung gas yang meledak. Aku sengaja tidak mengotak-atik apapun di ruangan itu karena Jack The Ripper adalah kasus yang kau tangani,” ucap Kepala Polisi Hwang.

Tangannya terjulur menyuruh Ikha untuk masuk ke dalam reruntuhan gedung. Semua menghitam akibat ledakan tersebut. Untunglah pemadam kebakaran datang tepat waktu, jadi tidak semua benda hangus dilalap api.

Langkah Ikha terhenti pada sebuah ruangan yang dipenuhi oleh para penyidik dari Kepolisian Jeollanam-do. Di sekeliling ruangan itu, ia menemukan beberapa benda yang hampir mirip dengan pakaian Jack The Ripper.

“Semua bukti-bukti ini mengarah padanya,” ujar Kepala Polisi Hwang.

Ikha memperhatikan sekeliling ruangan yang setengahnya sudah terbakar. Foto-foto yang tertempel di dinding merupakan korban-korban pembunuhan yang dilakukan Jack. Selain itu, beberapa data dan pakaian khas Jack ditemukan di dalam lemari.

Penasaran, Ikha berjalan menuju sebongkah mayat namja yang masih tergeletak di lantai. Tubuhnya sudah hangus terbakar dan hanya menyisakan sebuah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Setelah mengenakan sarung tangan latex dan masker, ia menyentuh beberapa bagian tubuh mayat tersebut untuk melihat lebih detail.

Jika memang benar namja ini adalah Jack The Ripper, berarti mayat yang teronggok seperti sampah ini adalah Lee Hyuk Jae. Ikha memberenggut selama beberapa detik kemudian beranjak dari tempatnya dan menyuruh semua penyidik untuk membersihkan tempat tersebut.

Ikha berjalan melewati beberapa polisi yang masih berjaga di sekitar gedung seraya masuk ke dalam mobil dimana Key sudah bersiap dengan kemudinya. Yeoja itu menghempaskan tubuh dengan kasar pada punggung jok mobil.

Waeyo?” tanya Key saat mendapati atasannya seperti sedang terserang stress berat.

“Apa kau pikir mayat itu benar-benar Jack The Ripper?” gumam Ikha. Matanya terkatup rapat ketika Key melajukan mobilnya.

Key menggedikkan bahu. “Sebelumnya tempat itu memang diduga sebagai markas Jack, bukan? Dan melihat bukti-bukti yang ada, sepertinya kita harus mempercayainya.”

Ikha mendesah berat. Ia meraih selembar kertas yang diberikan Yesung padanya. Kertas fax yang dikirimkan Kepala Polisi Hwang mengenai hasil DNA dari mayat Jack. Ikha menyamakan hasil DNA tersebut dengan DNA Eunhyuk yang ada diantara berkas yang Key berikan. Tidak ada kesamaan. Semuanya berbeda.

“Aku tidak percaya jika mayat itu benar-benar Jack The Ripper,” ucap Ikha lirih. Kertas-kertas yang dipegangnya ia lempar ke jok belakang dengan asal.

Key melirik sekilas pandang pada Ikha. “Kenapa kau begitu yakin?”

Yeoja itu kembali menghembuskan napas beratnya. Sambil bersandar, ia memperhatikan jalanan Kota Yeosu yang mereka lewati selama perjalanan kembali ke Cheongju. Key menoleh, memperhatikan Ikha yang nampak berbeda hari ini. Tidak ada semangat yang selalu terpancar darinya.

“Kau tidak bercinta dengan Jack The Ripper ‘kan tadi malam?” ledek Key, menyorongkan tubuhnya sambil bergumam pada Ikha.

Sontak yeoja itu menendang tulang kering Key hingga namja itu mengaduh. “Jangan asal bicara!”

Key segera membenahi posisinya takut-takut ia menabrak trotoar. Sambil mengaduh menahan sakit ia berkata, “Habis kau tidak menjawab pertanyaanku. Lagipula kenapa kau  yakin jika mayat itu bukan Jack? Kau pasti sudah pernah bertemu dengannya ‘kan? Kau benar-benar melakukannya, Noona? Ah! Ada lagi! Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku mencari semua data tentang mantan sainganmu itu? Apa Jack itu sebenarnya adalah—”

“YA!!”

Serta merta Ikha memukul kepala Key sekuat tenaga menggunakan telapak tangannya. Key memang sangat cerewet jika dibandingkan dengan Eomma-nya sendiri. Ini pasti karena namja itu mengetahui isi pesan Jack yang selalu ditujukan padanya. Ia hanya berharap Key tidak menceritakan pada siapa pun akan hal itu. Jika tersebar, maka tamatlah riwayatnya.

***

IKHA AGAK KAGET saat menemukan dua pasang sepatu berderet di dekat pintu. Tak lama kemudian, terdengar suara tawa dari dua orang yang berbeda di dalam ruangannya. Meski ia dapat menebak suara tawa Leeteuk, ia masih ragu untuk berspekulasi mengenai suara kedua.

Gontai, yeoja itu melangkah memasuki ruangan. Ia nampak terkejut saat mendapati Leeteuk tengah bersama seseorang disana. Mereka sangat akrab dan akrab.

“Akhirnya datang juga!” pekik Leeteuk saat menemukan orang yang sedari ditunggunya sedang terdiam di tempat.

Leeteuk menghampiri Ikha seraya memeluknya erat dan memberinya sebuah kecupan singkat di bibir. Saat-saat itulah, Ikha gunakan untuk memutar bola mata dan memperhatikan orang yang datang bersama Leeteuk. Orang itu hanya tersenyum simpul saat melihat mereka berciuman kemudian berkutat dengan remote TV.

“Apa kau masih ingat dengan Eunhyuk? Ia baru datang dari New York tadi siang. Aku sengaja mengajaknya kemari karena nanti dia akan menjadi pendampingmu saat pernikahan kita,” ucap Leeteuk tepat setelah ia mengakhiri ciumannya.

Ikha menatap Eunhyuk penuh kedengkian. Namja itu masih ber-akting seperti orang yang tak melakukan dosa sedikit pun. Tidak sia-sia namja itu mengenyam pendidikan di sekolah akting internasional.

“Kenapa kau harus membawanya kemari? Aku tidak suka,” ketusnya pada Leeteuk seraya melepas heels yang warnanya senada dengan seragamnya.

“Eunhyuk sekalian ingin mengajak kita berpesta. Dia baru saja mendapat peran utama di sebuah drama musikal yang akan diselenggarakan di Woori Financial Art Hall,” terang Leeteuk, sedikit merengek pada Ikha.

“Apa kau masih lelah, Hyungsonim? Aku melihat siaran live di TV tentang presscon kematian Jack The Ripper bersama Leeteuk Hyung barusan. Kau dan Appa nampak kewalahan menghadapi reporter,”

Giliran Eunhyuk yang angkat bicara. Namja itu melayangkan senyumnya pada Ikha, senyum yang bagi yeoja itu merupakan senyum ter-evil yang pernah dilihatnya di dunia.

“Aku ingin istirahat. Biarkan aku sendiri,” ucapnya lirih pada Leeteuk.

Ia berjalan menuju kamarnya kemudian menutup pintu dan menguncinya sebisa mungkin. Jika ia masih memiliki cukup tenaga, ia akan memilih untuk membunuh Eunhyuk di depan Leeteuk saat itu juga.

***

MANDI MEMANG salah satu cara yang biasa Ikha lakukan jika ia merasakan pusing atau stress yang berkepanjangan. Rasanya ia seperti hidup kembali setelah berendam kurang lebih satu jam di dalam tab kamar mandi. Sambil mengeringkan rambutnya, yeoja itu berjalan ke meja rias dan duduk disana. Begitu ia membuka mata, ia menangkap sesosok manusia tengah duduk di tepian ranjang dari balik cermin hiasnya itu.

Ikha menghembuskan napas lelahnya seraya melempar handuk yang semula ia pakai untuk mengeringkan rambut. Ia mengacuhkan orang itu dan memilih bermain dengan hair dryer-nya.

“Kau tidak bertanya bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam kamarmu?” tanya Eunhyuk sambil menyilangkan kaki dan menopang dagu menatap Ikha dari cermin hias.

“Dimana Leeteuk?” tanyanya ketus. Yeoja itu meletakkan hair dryer setelah rambutnya sudah cukup kering kemudian mengambil lotion yang ada pada deretan alat make-up.

“Dia ada sedikit urusan dan memilih meninggalkan kita berdua disini,”

Eunhyuk memperhatikan gerak-gerik Ikha ketika yeoja itu sedang membalurkan lotion pada kedua kaki dan tangannya. Namja itu terkekeh seraya mengibas rambutnya yang telah di cat hitam.

“Apa kau sedang menggodaku, Cho Ikha?” ejeknya.

Ikha menatap Eunhyuk sengit dari cermin. Ia hanya mendengus dan kembali mengacuhkan namja itu.

“Sesuai janjiku, aku sengaja menghilangkan karakter Jack The Ripper dari dunia ini. Berterima kasihlah padaku, Cho.”

Ikha memutar tubuh agar bisa menatap Eunhyuk yang tengah duduk santai di balik punggungnya. “Kau telah membunuh sebelas yeoja. Tetap saja di mataku kau hanyalah seorang pembunuh,” ucapnya, sarat akan rasa jijik saat mengucapkan hal tersebut.

“Aku hanya ingin mendapatkan perhatianmu,”

“Tapi tidak dengan cara seperti itu,” elak Ikha.

Eunhyuk mengerucutkan bibir sambil menyisir rambut hitamnya seduktif. “Mmm, kalau begitu…”

Ia memberi jeda sesaat untuk mengusap bed-cover tempat tidur Ikha yang kini telah diganti menjadi warna cokelat muda.

“…do you want play another games with me?” ucap Eunhyuk seraya mengerling nakal pada Ikha.

**Selesai**

Header 01 (Cut)