Sabina Mara: The Violet Mermaid “Chapter 02”

BANGUNAN MEGAH TERSEBUT NAMPAK SEPERTI MAHKOTA dari kejauhan. Ketika sinar matahari menerpanya, pantulan cahaya membuat istana yang dihuni para penjaga wilayah Timur berkilauan seperti berlian.

Sayangnya, tak ada yang dapat menikmati keindahan istana tersebut kala malam menyelubungi. Sepasang tiang besar pada sisi pintu gerbang utama—terbuat dari empat bilah besi berlapis kuningan yang saling menyilang dan menyangga mangkuk besar dengan api yang menyala-nyala di dalamnya—mengingatkan Sabina pada rumah seorang dukun yang mati dibakar oleh Chanyeol di wilayah Utara.

East Kingdom

Pada tepi beranda, wanita dengan rambut hitam menjuntai di balik punggungnya tengah mencoba menghitung titik-titik cahaya yang berasal dari rumah-rumah penduduk di bawah kantung matanya. Sepasang mata besar dengan garis tegasnya itu menyipit. Ia memutuskan untuk menyerah. Ternyata kegiatan yang ia lakukan selama hampir separuh waktu itu telah membuat matanya lelah.

“Matamu terus saja menyorotkan kekecewaan di tengah acara makan malam barusan,” ucap Leeteuk kemudian duduk pada salah satu kursi di balkon seluas kamar tidur Hyukjae.

Sabina hanya melirik sejenak. Ia menyandarkan tubuhnya pada pembatas beranda. Sebenarnya ia tidak begitu mengharapkan kehadiran Hyukjae. Hanya saja, pria itu pantas untuk mendapatkan penghargaan atas keselamatan yang diperolehnya.

“Jadi, apa yang membuatmu bisa terdampar di Azure?” Pertanyaan spontan dari Leeteuk menegunkan Sabina. Tak ada sedikitpun basa-basi dari nada suaranya.

Kepala Sabina menunduk, memperhatikan gerakan kesepuluh jemari kakinya yang merespon atas percikan air terjun yang menghujaninya. “Aku belum sepenuhnya yakin untuk menceritakan apa yang telah menimpaku beberapa waktu lalu,” ia berbisik.

“Kalau begitu perbincangan kita cukup sampai di sini saja,” Leeteuk perlahan berdiri, beringsut dari tempatnya.

“Kata-kataku barusan bukan berarti bahwa aku tidak mempercayaimu,” sergah Sabina, berharap pria itu tak membuat perbincangan mereka berakhir hanya dalam waktu semenit saja.

“Lantas?”

Sabina berdiri tegak. Meluruskan kedua kakinya yang mulai bergetar. Sekalipun ia bertelanjang kaki, sudah cukup lama ia tak membiasakan diri dengan sepasang kaki manusianya. “Terlalu rumit dan—”

Leeteuk melepas jubah putih tulangnya seraya berucap, “Kau meracau saat pertama kali kita bicara, menyebutkan nama seseorang yang harus kau selamatkan. Oh, aku benar-benar lupa,” kemudian ia melayangkan senyum pada Sabina sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi.

Vermillion,

Kening Sabina mengerut. Sambil menggigit bibirnya, ia terpejam. Setelah menimang dalam sepersekian detik saja, ia memutuskan untuk mengucapkan satu kata sakral tersebut. Ia sengaja memekik, tak ingin terkalahkan oleh bunyi deru air terjun yang bergemuruh di kedua sisi istana.

“Tempatku diserang oleh sekelompok vermillion,” nada suara Sabina menurun, menjuruskan tatapannya pada Leeteuk yang memunggunginya.

Langkah pria itu terhenti sebelum mencapai daun pintu. Tubuhnya berputar. Ia membalas tatapan Sabina, menembus pupil sang duyung yang kini berubah violet, mencari sebuah keyakinan yang terpancar di sana; apakah itu merupakan tatapan penghinaan, pendustaan, atau penderitaan.

“Guyonanmu tidak lucu, Sabina,” Leeteuk mencoba menyangkal.

“Aku belum menceritakan semuanya dan kau telah mengira itu hanya sebagai guyonan. Inilah yang membuatku tak yakin untuk mengatakannya padamu,” jelas Sabina. 

Leeteuk membeku di tempat. Sepasang matanya menerawang. Alisnya mengerut dan tak melakukan pergerakan sekecil apapun.

“Aku tak tahu apa yang mereka cari di laut gorgóna. Karena sebelum penyerangan itu terjadi, spesies kami sempat menghilang satu per satu tanpa jejak,” imbuh Sabina.

Leeteuk masih mencerna kata-kata Sabina, kemudian  melangkah mengurangi jarak di antara mereka.

Sabina menegang, menyaksikan tatapan Leeteuk yang tak berkutik di dalam pupilnya yang semakin berwarna violet dalam gelap, “Aku tak tahu apakah masih ada yang tersisa. Yang jelas, aku tak pernah berharap akan selamat dari penyerangan itu. Hingga akhirnya seorang penjaga Timur pemilik kuda bersayap itu menemukanku.”

Ia menunggu reaksi Leeteuk.

“Kau menyelipkan kata penyerangan di antara kalimatmu barusan,” ulang Leeteuk meyakinkan pendengarannya sendiri.

“Ya, penyerangan.”

“Sebelum makan malam berlangsung, aku sempat bertemu Suho dan Kris. Mereka sama sekali tidak membahas sesuatu yang bersangkutan dengan penyerangan yang kau sebutkan,” Leeteuk mengeryitkan dahi, memiringkan kepalanya untuk menelisik apakah ada sedikit kebohongan yang ia temukan dalam penuturan Sabina, “hubungan kami cukup dekat, kau tahu?”

Tenggorokan Sabina mendadak tersumbat. Ia tak dapat berkumandang atau sekedar bernapas. Nama-nama yang Leeteuk sebutkan berhasil mengurungnya dalam kebisuan. Tubuhnya menegang. Aliran darahnya seolah terhenti mengalir ke sekujur organnya.

“Karena mereka tidak peduli,” Sabina menggumam. Ia menunduk. Memburu keberaniannya sendiri yang nyaris hilang.

Leeteuk membenahi letak tubuhnya agar sejajar dengan Sabina. “Apa kau yakin dengan apa yang kau lihat—menyangkut vermillion itu?” tanyanya, kembali meyakinkan.

Sabina mengangguk.

Leeteuk kemudian tersenyum kecut.

“Apakah kau memberi tahu mereka bahwa aku ada di sini?” tanya itu masih menggerogoti tubuh Sabina meskipun Leeteuk menjawabnya dengan menggelengkan kepala.

“Apa kau memiliki hubungan khusus dengan salah satu vermillion itu dan kau meragukan ucapanku?” Keraguan Sabina menguap, menyoroti Leeteuk dengan tatapan penuh kecewa.

“Tidak. Tentu saja tidak,” pria itu mengoreksi.

Keduanya terdiam, membiarkan suara air terjun menelungkupi sekeliling mereka.

“Aku masih belum dapat menangkap inti dari pembicaraanmu, Sabina.” Leeteuk bermaksud untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba membentuk sebuah dinding tebal di antara mereka.

Sabina mendengus. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian. “Karena satu alasan, Leeteuk. Penghuni gorgóna dan para penjaga Wilayah Utara tidak memiliki hubungan yang cukup baik,” ungkapnya.

“Maksudmu, saat penyerangan itu terjadi mereka seolah menutup kabar itu dari publik?” selidik Leeteuk.

“Itu hanya spekulasi sementara yang mengiang di otakku,” jawab Sabina. Ia berbalik berjalan ke tepian beranda.

“Bukankah duyung di sana dipimpin oleh seorang ratu?” Leeteuk pada akhirnya mendekat.

“Ratu Mary hanya sebuah simbol. Ia masih sama dengan duyung lain. Berbeda denganku dan Sviesa—ia tertangkap dan aku tak tahu bagaimana nasibnya sekarang.”

Sabina menunduk. Mengingat Sviesa sama saja dengan menggali mimpi buruk yang mencokol benaknya. Bayangan busur vermillion yang mengacak-acak habitatnya telah merusak semua hal terindah yang ia miliki.

“Apa ada sesuatu yang berharga—yang disimpan oleh spesiesmu?” tanya Leeteuk, bersikap hati-hati di tengah penyelidikannya.

Sabina menggeleng lemah. “Tidak. Kami tidak memiliki apapun yang bisa dijadikan barang untuk ditukar atau sesuatu yang dapat digantikan dengan puluhan batang emas.”

“Jika kalian tidak menyimpan barang pusaka atau semacamnya, mereka seharusnya mengincar duyung kami yang menyimpan p’rizt untuk dijadikan koleksi perhiasan mereka.” Leeteuk memagut dahu. Bibirnya mengerucut dan keningnya mengerut—memikirkan hal yang terlalu mudah untuk dijadikan sebuah kesimpulan.

“Itulah yang menjadi pergunjinganku sejak tadi. Mereka tidak mengincar benda apapun kecuali makhluk-makhluk yang menghuni seisi samudera di sana,” Sabina menghentikan ucapannya. Mendadak ia mengingat sesuatu, terutama perbincangan terakhirnya dengan Sviesa malam itu, “Oh, tidak—mereka hanya menyerang kami. Mereka hanya menyerang kami!” ia seketika mencengkeram pagar balkon mengingat bagaimana kilatan-kilatan emas itu menangkap teman-teman dan keluarganya. Sepasang matanya bergerak tak menentu, mencoba untuk mengingat apapun yang dapat membantunya mencari jawaban.

“Bagaimana kau bisa lolos?” Leeteuk kemudian mendekat, menggenggam tangan Sabina yang masih membelenggu besi-besi pada pagar.

Bibir Sabina bergetar. “Aku memiliki kekuatan yang tak dimiliki oleh sebangsaku. Dan kekuatan itu tak akan nampak jika aku berubah menjadi sepertimu,” kemudian ia mencengkeram lengan Leeteuk, meremasnya dengan kuat membiarkan kebencian dan penyesalan mengalir di sana.

Leeteuk membisu. Sengaja membiarkan kuku-kuku Sabina menyesak kulitnya.

“Di antara spesiesmu, siapa saja yang memiliki kekuatan sepertimu?” Kembali Leeteuk mengajukan pertanyaan.

“Hanya aku dan Sviesa,”

“Ya, Sviesa. Kau menyebut nama itu sebelumnya. Siapakah gerangan Sviesa?”

Sabina membungkam mulut. Tangannya terkulai, terlepas dari cengkeramannya sendiri, “Kakakku.”

Leeteuk kembali membisu. Kali ini cukup lama, membiarkan suara gemuruh dari air terjun di samping istana saling beradu dalam diam.

“Lalu apa yang akan kau perbuat selanjutnya?”

“Pertolonganmu,” jawab Sabina tanpa berpikir. “Aku membutuh pertolonganmu, Leeteuk,” wajahnya yang semula menunduk seketika mendongak. Menatap Leeteuk yang jauh lebih tinggi darinya.

Pria itu tidak langsung mengiyakan, hanya merenung untuk berpikir lebih banyak.

“Untuk kakakku. Kumohon,” Sabina membungkuk, tertunduk di hadapan Leeteuk—sesuatu yang ia pelajari dari Suho dan Kris, para penjaga Wilayah Utara.

“Aku akan membantumu,” ucap Leeteuk memberikan sedikit keceriaan di wajah Sabina. “Namun akan kuselidiki terlebih dahulu kebenaran dari semua ucapanmu. Ada terlalu banyak hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini dan terlalu banyak mata-mata yang mengincar kami.”

Pupil mata Sabina kini dipenuhi cahaya biru laut yang mengilat-ngilat. Bibirnya bergerak, merakit seulas senyum yang mampu membuat Leeteuk terpesona.

“Terima kasih,” ucapnya tulus.

Leeteuk tersenyum. “Meski peraturan istana tidak mengizinkan anggota Wilayah Timur untuk tidur dalam satu ruangan dengan wanita—sebelum menikah, Hyukjae akan kuberi pengecualian malam ini saja.”

Sabina kembali tersenyum, “Terima kasih, Leeteuk.”

Pria dengan mahkota berbentuk mawar hitam yang tersemat pada rambut pirangnya tersebut menatap Sabina. Raut wajahnya mendadak sendu kala mengingat bagaimana Hyukjae menemukannya terkapar tak berdaya di antara bebatuan karang.

“Bisakah kau menyembunyikan identitasku? Aku tidak ingin keberadaanku terdeteksi oleh para anggota EXO,” pintanya.

Leeteuk menghela napas. “Apa kau memiliki konflik dengan mereka? Kau terlihat tidak nyaman saat aku menyebut nama mereka.”

Urat serta sendi di sekujur tubuh Sabina menegang. “Yang jelas, mereka akan menghambatku untuk menemukan Sviesa.”

Masih berdiri di tempatnya, Leeteuk mengamati Sabina yang kini menunduk sambil meremas jemarinya.

“Cho Ikha,” sahut Leeteuk.

“Apa?” Sabina mengangkat dagu mendengar pria gagah di hadapannya menyebutkan sebuah nama.

“Cho Ikha. Nama itu cukup pantas untukmu. Jadi bertingkahlah seperti manusia lain saat kau berada di tengah publik.” Leeteuk menyeret tubuhnya menjauh dari Sabina setelah yakin bahwa wanita itu mendengar ucapannya.

“Lalu bagaimana dengan penjaga Wilayah Timur yang lain? Mereka mengetahui namaku saat makan malam tadi.”

Langkah Leeteuk terhenti. Ia memutar kepala, menyejajarkan dagu dengan bahunya. “Semua sudah diatur. Istirahatlah. Kita akan bertemu lagi besok—untuk membahas hal ini lebih lanjut.”

Tubuh Sabina yang semula menegang kini berangsur normal. Setiap kata yang Leeteuk ucapkan mengandung aura tersendiri baginya. Menenangkan, menyejukkan, sekaligus menentramkan.

Setelah yakin Leeteuk telah meninggalkannya, Sabina memutar tubuh melawan arah. Ia tidak beranjak menuju tempat peristirahatannya, menatap kerlip lampu-lampu kota utama yang nampak seperti hamparan bintang di angkasa.

Ia tidak akan pernah bertemu Leeteuk jika ia mendengarkan perintah Sviesa.

Ia tidak akan pernah terdampar dengan keadaan hampir mati di pulau azure jika  ia mendengarkan perintah Sviesa.

Ia tidak akan melihat para vermillion menyerang habitat dan membawa Sviesa pergi jika ia mendengarkan perintah Sviesa.

Sabina meringis, meremas ujung gaunnya saat membayangkan seseorang yang ia curigai sebagai dalang dari semua kejadian ini. Ia menunduk, mengamati cincin perak yang masih melingkar manis pada salah satu jemarinya.

“Sebesar itukah kekecewaan yang kau limpahkan padaku, Kai?” bisiknya seraya melepas benda mungil tersebut—menjatuhkannya di antara udara hampa dan mendarat di suatu tempat yang ia sendiripun tak mampu menebaknya.


DIA SANGAT MEMPESONA, HYUNG! Kau harus melihatnya!” Henry mengoceh hingga kedua telinga Hyukjae berdengung. Sekalipun Hyukjae sama sekali tak menghentikan langkahnya, Henry tetap mengekorinya tanpa lelah.

“Ah—Henry,” Hyukjae menghentikan langkahnya saat mengingat sesuatu. “Apa yang harus kau lakukan jika nenek sihir itu datang lagi kemari?” tanyanya, lebih tepatnya mengingatkan.

“Menyeretnya ke sungai ghin?” jawabnya asal.

Hyukjae mengangguk, lantas mengacungkan ibu jari pada Henry.

“Apa dia masih sering mengunjungimu?” selidik Henry sambil menyetarakan langkahnya dengan Hyukjae. Topik ini ternyata masih menarik untuk diperbincangkan.

Pria itu menghembuskan napas berat. “Seharusnya istana ini memiliki alat yang dapat mendeteksi keberadaan makhluk asing.”

Henry merapatkan bibir menahan tawa. “Jika aku berada di posisimu, aku akan membiarkan Hyoyeon—“

“Kenapa kau menyebutkan namanya?” Kalimat Hyukjae menginterupsi lidah Henry hingga membuat pria itu menelan kembali ucapannya.

Pria yang terpaut umur empat tahun dengan Hyukjae itu menyeringai kaku; terdiam; kemudian menggeleng cepat. Ia lupa, topik ini sangatlah sensitif bagi Hyukjae. Sebelum Hyukjae melemahkan titik-titik sendinya dan menguburnya hidup-hidup, ia harus meredam amarahnya.

“Kenapa kau tidak suka jika wanita itu ada di sekelilingmu,? Bagaimanapun juga dia adalah mantan kekasih—“

Henry kembali menelan ludah. Jemarinya bergerak menutup garis mulutnya. Tatapan Hyukjae yang mematikan itu ternyata jauh lebih menyeramkan jika dibandingkan kata-kata makiannya. Ia tidak menduga jika seorang pria yang dulunya begitu periang ini berubah serius dan tegas.

“Kau masih mengikutiku?” tanya Hyukjae, nada acuh tak acuhnya memberi kesan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran Henry di sampingnya.

Henry melempar sebuah pukulan di pundak Hyukjae sekeras yang ia mampu kemudian berlari secepat yang ia bisa sebelum Hyukjae menangkapnya. Tawanya menggema di sepanjang lorong istana—tak sadar jika Hyukjae masuk ke dalam ruangannya setelah memaki pria itu tanpa ampun.

Saat tiba di belokan pertama, ia melihat sosok Sabina tengah berjalan dalam diam. Henry berdeham; membenahi pakaiannya; merapihkan tata rambut sebisanya; tak lupa mengecek wangi napasnya.

“Sabina Ma—ehm. Cho Ikha!”

Wanita yang dipanggil namanya itu mengangkat dagu. Dari jarak itu, ia menemukan Henry tengah tersenyum sambil melambaikan tangan.

“Bagaimana kau tahu namaku?” tanyanya. Setahunya hanya Leeteuk saja yang mengetahui nama palsunya.

Henry hanya tersenyum. Ia mengetuk-ngetuk pelipisnya menggunakan ujung telunjuk. “Telepati adalah alat komunikasi terbaik bagi kami,” ucapnya sembari membusungkan dada—mencoba mengikuti gaya Siwon saat bicara.

“Perlu kuantar?” Henry menawarkan bantuan.

“Tak apa,” tolak Sabina halus.

“Tidak usah sungkan. Aku—akh!”

Jemari seseorang berhasil mengapit cuping telinganya hingga memerah. Ia menoleh, menemukan Donghae menatapnya tajam. Henry mengaduh, mengeluarkan kata-kata makian yang justru semakin membuat Donghae bereaksi.

“Apa dia mengganggu privasimu?” tanya Donghae pada Sabina.

Wanita itu tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan.

“Ya! Hyung! Aku hanya menanyakan beberapa hal! Argh!” Henry mengaduh. Donghae bisa saja membuat telinganya berubah seperti telinga kerdil.

“Jika dia mengganggumu lagi, beritahu aku.”

Tanpa melepaskan Henry, Donghae membungkuk sopan seraya meninggalkan Sabina.

Ia tersenyum. Kali ini bukan karena Henry, melainkan karena Donghae. Satu lagi pria tampan dan berwibawa yang ia kenali selain Leeteuk. Ia tidak banyak bicara saat makan malam berlangsung, berbeda dengan Yesung dan Henry.

Hanya memerlukan satu menit saja bagi Sabina untuk mencapai ruangan yang ditujunya. Ia terkesiap menemukan Hyukjae telah berada di ruangannya.

Hyukjae menoleh. Gerakan jemarinya menyuruh Sabina untuk menutup pintu yang masih terbuka. Ia menurut, tak banyak menuntut. Ruangan itu kini kembali seperti sedia kala. Tak ada genangan air dan sisa-sisa makan siangnya. Tub besar diletakkan dekat pintu, jauh dari tempat tidur Hyukjae yang nampak nyaman di sudut kamar.

“Kudengar kau bergabung bersama penjaga lain malam ini.”

Untuk pertama kalinya pria itu menatap lurus pada sepasang mata violetnya. Sabina menyelipkan sejumput rambut di balik telinganya. Keadaan ini sungguh memuakkan. Bukan ini yang ia harapkan saat bertemu penyelamatnya.

“Sangat disayangkan kau tidak hadir saat acara makan malam,” ucap Sabina. Ia berpaling, berjalan ke arah kursi berlapis spons abu-abu di dekat jendela.

“Setidaknya kau mendapat sambutan yang baik dari mereka.”

“Aku akan menganggap hal itu sebagai sebuah pujian,” tutur Sabina.

Ia mendapati Hyukjae tersenyum—atau lebih tepatnya mendengus. Pria itu berjalan menuju sisi lain dari ruangan. Hanya beberapa detik saja dan ia kembali dengan pakaiannya yang lebih sederhana.

“Sampai kau menemukan tujuanmu yang sesungguhnya, aku akan tetap mengawasimu, Sabina.”

“Dan kuanggap hal itu sebagai sebuah kehormatan—bukan peringatan,” balas Sabina, tenang.

Hyukjae tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum.

“Kau tetap akan bersembunyi di sini menggunakan nama itu—Cho Ikha?” tanya Hyukjae. Sikapnya kini lebih baik—meski ia tetap menghindari kontak mata.

“Setidaknya cara itu lebih baik daripada berkeliaran di luar sana,” jawab Sabina.

Ia mengamati Hyukjae. Pria itu bersandar pada patung pria tua. Gelas anggur di tangannya bergerak perlahan. Sesekali ia menghirup wanginya sebelum meneguknya dengan enggan. Selama beberapa saat, keheningan menyesap di antara keduanya. Melihat wanita itu duduk kaku, desah panjang dari mulut Hyukjae pun terdengar seperti lenguhan kerbau.

“Jadi, namamu adalah Sabina Mara,” Hyukjae seolah berkata pada dirinya sendiri, “nama itu jauh lebih baik dibanding Cho Ikha,” ia menyeringai. “Leeteuk memberimu nama yang buruk.”

Sabina beringsut dari tempatnya sembari menahan tawa. “Lebih baik kita lanjutkan perbincangan ini esok hari. Kau nampak lelah dan percakapan ini sesungguhnya membuatku canggung.”

Hyukjae sama sekali tidak memberi respon.

“Bagiku kau tetaplah penyelamatku. Jadi aku akan menghargai setiap ucapanmu—yang menyiratkan seolah-olah aku adalah seseorang yang sedang memata-mataimu. Tujuanku hanyalah untuk menemukan Sviesa dan menyelamatkan habitatku. Tak lebih dari itu.”

Rambut Sabina bergerak mengikuti ayunan tubuhnya. Duduk di tepian tub, ia membenamkan sebagian jemarinya ke dalam air. Kulitnya yang bersisik saat menyentuh air bahkan membuat Sabina sendiripun takjub.

“Kau tak akan tidur di sana,” sergahan Hyukjae di sampingnya membuat Sabina tertegun.

Hyukjae meraih lengannya. Kasar, ia menyeret Sabina menuju tempat tidur kebanggaannya dan memaksa sang duyung untuk duduk. Wajah Sabina dipenuhi garis-garis kebingungan membuatnya nampak bodoh. Namun kali ini ia benar-benar sedang bingung.

“Kuputuskan untuk tinggal di ruangan Donghae jadi kupersilahkan kau untuk menikmati selimutku malam ini. Jangan menyentuh benda apapun atau kau tak akan kuampuni jika esok hari ruangan ini berubah menjadi pasar malam. Mengerti?” Hyukjae lantas menenggak habis anggurnya, menggerutu dalam bisikan seorang diri tanpa menyadari bahwa di sampingnya, Sabina mencoba untuk mendengarkan.

“Jika kuketahui kebohonganmu, aku tak akan mengampunimu, Sabina.” Entah mengapa suara Hyukjae mendadak lembut, menggapai daun pintu dan menimbulkan suara derit yang sama lembutnya saat ia membukanya lebar, “Jadi janganlah kau coba untuk menipuku,” imbuhnya.

Sabina beranjak, menghentikan kepergian Hyukjae dengan satu ketukan dari sepatunya yang nyaring, “Leeteuk tak akan menahanku di sini bersamamu jika ia mengetahui kebohonganku,” sanggahnya seraya meremas jemarinya dalam sekali genggaman, “Aku mengerti, bahwa saat ini keempat kerajaan tengah saling mencurigai satu sama lain. Dan aku mengerti bahwa kau mungkin mengira bahwa aku adalah seorang mata-mata.”

Sabina melangkah dengan irama yang rendah, semakin mendekati Hyukjae yang hanya mampu mengeryit mewaspadai setiap gerakannya. “Ada banyak hal yang ingin kuungkapkan selain mengucap terima kasih karena kau telah menyelamatkanku. Sama halnya seperti dirimu. Saat ini aku belum sepenuhnya yakin, apakah kau bersekongkol dengan Kerajaan Utara EXO, Kerajaan Selatan Seonyeo Shidae, atau Kerajaan Barat Shinee.”

Hyukjae melangkah mundur. Bau rumput laut dari helai rambut Sabina tiba-tiba membuatnya pusing. Entahlah, mungkin anggur yang melakukannya—dan bukan dari si duyung.

“Kita lihat saja nanti,” gumamnya seraya meninggalkan Sabina.

…bersambung…