EXO PLANET “CHAPTER 07” (REPACKAGED)

SIAL! SIAL! SIAL!” BEGITULAH CHANYEOL MEMAKI sebagai satu-satunya cara melampiaskan segala kekesalannya.

Untuk kesekian kalinya pria itu mencoba menghunuskan afftheurcaly pada sebilah kayu yang sengaja Cho tunjukan pagi ini di hadapan para castè Krypth. Hasilnya tetap sama, pedang itu sama sekali tak mau berayun bersama kelihaian tangan Chanyeol meski dirinya telah dibantu oleh kekuatannya sendiri.

Tungkai kakinya memberat setiap kali mengangkat pedang yang sama ringannya dengan bilah kayu yang biasa digunakan para anak muda Krypth City di kelas seni pedang. Benda yang selalu menyilaukan sinar keperakan saat bertubrukan dengan cahaya matahari tersebut seolah menjatuhkan beban seberat dua ton di kedua pundak seseorang yang mencoba mengendalikannya, kecuali si pemilik tentunya.

Fratheer, tolong! Sembunyikan sinar itu dari kepalaku! Itu sangat mengganggu!” pekik Chanyeol seraya menunjuk kumpulan awan hitam di atas langit yang terbelah membentuk beberapa retakan.

Sinar matahari yang muncul di antara retakan tersebut memang tidak menyengat. Chanyeol hanya tidak suka jika Baekhyun selalu bereksperimen dengan kekuatannya. Hari ini pria tengil itu memunculkan sinar matahari di bawah lapisan atmosfer planet, esok hari bisa saja ia membawa gumpalan radiasi matahari dan membakarnya hidup-hidup.

“Menyerah saja, ómorfos20. Sehun dan Dio sudah mencoba melunakkan pedang itu. Sepertinya benda itu hanya menurut pada perintah si pemiliknya,” tutur Baekhyun.

Pria itu duduk berdampingan dengan Dio di bawah pohon rindang. Cho dan Sehun pun tidak absen dari kumpulan tersebut. Memperhatikan kelakuan Chanyeol yang nampak seperti pria dungu—karena sedari tadi sama sekali tak mampu mengangkat afftheurcaly yang tertancap manis di atas lapisan tanah gembus—ternyata hiburan yang begitu langka.

Tubuh Chanyeol menguap, mengeluarkan asap hitam pekat yang menggunung di atas kepala. Seiring suara teriakannya yang membahana di atas lapisan sabana, tangan pria itu mengeluarkan kobaran api yang menyala-nyala menghanguskan rerumputan di sekitarnya. Dengan kobaran api tersebut, ia berharap afftheurcaly dapat musnah menjadi serpihan abu.

Sayang.

Dugaannya meleset.

Afftheurcaly justru semakin mengilat-ngilat seperti sebutir mutiara yang terpendam dalam lumpur. Chanyeol memaki, menendang-nendang bebatuan, bahkan mengusir gerumulan getee21 yang tengah berkumpul mematuk bangkai bambi22 di ujung selasar saat pedang itu masih berdiri tegak mengecoh kemampuannya.

“Bagaimana jika kutunjukan sebuah trik?” tawar Cho, berteriak pada Chanyeol yang tidak begitu senang dengan pengalihan perhatiannya.

“Apa kau bercanda? Kau sudah mengalahkan Sehun dan Baekhyun saat adu pedang beberapa menit lalu, Cho Ikha! Aku tidak ingin semakin terlihat bodoh—setelah susah payah tak bisa mengayunkan afftheurcaly!”

Chanyeol merutuki gadis yang sedang duduk tenang memperhatikannya dari kejauhan. Ia juga menyebutkan beberapa kata yang tak dimengerti Cho—yang ia yakini merupakan kata-kata sumpah serapah khas planetnya.

Cho terkekeh. Jangan salahkan Chanyeol jika pria jangkung itu tiba-tiba melampiaskan amarah padanya. Semua orang tahu jika Chanyeol tak ingin dipandang lemah di hadapan seorang wanita. Kali ini, pertama dalam sejarahnya, ia berhasil membuat Chanyeol harus berjuang mengokohkan salah satu pedoman hidupnya tersebut.

Saat Dio dan Baekhyun mencoba untuk menenangkan Chanyeol, sepasang matanya kemudian tertuju pada sosok pria yang tengah bersandar pada batang runos23. Pria itu nampak teduh saat terlelap. Tenang dan damai, berbeda dengan sikap acuh dan arogan yang selalu mendominasi caranya bicara.

Cho menekuk lutut kemudian melingkarkan kedua tangannya. Meski Kai bukanlah pria yang patut untuk diawasi, kadang perhatiannya sulit terlepas dari pria pertama yang dikenalnya selama tinggal di planet tersebut.

Bibir Kai terkatup rapat. Sama rapatnya dengan kelopak matanya. Si pria sama sekali tidak bergerak saat angin semilir meniupkan poni hitamnya hingga menutupi sebelah mata. Dan entah Cho menyadari hal tersebut atau tidak, ia mengukir senyum di wajahnya dengan garis-garis tegas. Disanalah letak ketertarikan Kai, saat pria itu tengah merajut dunia alam bawah sadarnya.

Sesuatu mengingatkan Cho begitu kata-kata Luhan menggaungi benaknya. Percakapan dengan saudara tiri Kai saat kunjungan singkatnya ke markas Krypth membuat gadis itu diliputi berbagai tanda tanya yang sulit untuk terungkap. Saat mengenal Baekhyun dan Sehun, ia dapat dengan mudah memahami kehidupan mereka. Namun mengapa setiap hari ia selalu menemukan hal-hal baru yang tak diketahuinya mengenai Kai?

Pria itu selalu dilingkupi kerahasiaan. Saat satu rahasia terungkap, masih ada ribuan rahasia lain yang harus ia kuak.

Dan itu sulit…

 –

“Sebagian dari diriku memaksamu untuk menjelaskan mengapa kondisi Kai bisa seburuk itu. Sebagian lagi menyuruhku untuk diam dan menunggu. Apa yang harus kupilih, Cho Ikha?”

Sepasang kaki Luhan berayun menuruni anak tangga dengan anggun. Gadis yang tengah diajak bicara pun mengiring di sampingnya. Keduanya sama-sama tak bersuara. Hanya bunyi derap yang timbul dari alas kaki mereka lah yang berbicara.

Cho tersenyum, mengintip sosok Luhan sekilas melalui sudut matanya lalu kembali merajut langkah. “Apa yang ingin kau ketahui, Luhan-ssi?” tanyanya sugestif.

Pria itu mengulum kesepuluh jemarinya di balik punggung. “Sepertinya kau masih belum memahaminya, Cho Ikha.” Kemudian menatap gadis itu dengan air muka bak seorang pengawas ujian semester. Memperingatinya.

“Ini adalah kedua kalinya kita berbincang dan kau masih saja memberiku teka-teki yang siapapun tak akan mampu menjawabnya,” tutur Cho. Kenyataan bahwa Luhan mengetahui segala hal mengenai Kailah yang membuatnya paham. Pria itu merupakan kunci dari pertanyaan yang baru saja ia ajukan padanya.

“Caramu bicara kini jauh lebih bijak,” aku Luhan saat merasakan sesuatu yang lain dari gadis tersebut.

“Secara tidak langsung aku belajar darimu.” Cho menyanjung, membuat Luhan menyentuhkan punggung tangannya pada bibir—menyembunyikan senyumnya.

“Apakah masa lalu Kai masih belum cukup?” tanya Luhan, memancing keingintahuan Cho.

“Seperti yang kau katakan sebelumnya, aku masih belum memahaminya. Kuharap jawaban itu berhasil memuaskanmu, Luhan-ssi.” jawabnya.

Gadis itu lantas tersenyum. Ingin rasanya ia mengaku pada Luhan bahwa tidak hanya pria itu saja yang merasakan perubahan tersebut. Dirinya sendiripun merasakan hal yang sama. Efek tersebut ia alami sejak afftheurcaly menjadi bagian dari hidupnya.

Ya. Afftheurcaly lah yang mengubahnya. Seolah pedang tersebut menyimpan kemampuan terpendamnya selama ini.

“Kai,” pria itu mendesah. “Jika ia berteleportasi ke tempat yang jauh dengan beban berat yang melebihi tiga kali tubuhnya, secara otomatis tubuhnya akan kehilangan tiga per empat dari seluruh tenaganya.”

Luhan memberi jeda sebelum mencapai pintu utama. Sementara Cho lebih memilih untuk menyimak. “Dibalik kekuatan yang sangat diinginkan castè lain, ia memiliki satu kelemahan—dan sangat rentan.”

Pria yang mengenakan pakaian serba putih tersebut terdiam kaku di hadapan Cho. Bibirnya merapat membentuk sebuah garis lurus. Bola matanya sempat bergerak mengamati keadaan sekitar, berharap tak ada seorang pun yang mendengar perbincangan mereka—termasuk Lay.

Jemari Luhan yang terbungkus rapat oleh sarung ketat kemudian merogoh sesuatu di balik kantung pakaiannya. Ia mengeluarkan secarik kertas yang telah dilipat membentuk segi enam. Setelah jemarinya bergerak sedemikian rupa, sisi-sisi kertas tersebut menajam seperti sebilah pisau.

Awalnya Cho berpikir, pria dengan kepribadian bak seorang pangeran di zaman Dinasti Yang itu hanya sedang menunjukkan sebuah trik dari kekuatannya. Saat Luhan menggoreskan bagian kertas yang tajam tersebut pada permukaan telapak tangannya, ia menyadari pesan apa yang sedang pria itu bagikan.

Kertas itu menyayat sarung tangan Luhan hingga menembus kulit. Gadis itu bahkan dapat melihat benda tersebut membelah telapak tangannya hingga membentuk sebuah lubang seperti halnya retakan lapisan tanah bumi akibat pergeseran lempeng tektonik. Tapi tidak, bukan itu yang menarik perhatian Cho saat ini.

Pada sayatan itu, ia tidak menemukan tetesan darah mengalir di sana. Ia melihat butiran-butiran pasir halus berwarna hitam jatuh deras melalui sela-sela luka yang dibuat Luhan. Butiran tersebut mendarat dan berkumpul di dekat kaki Luhan. Cho terhenyak saat pasir yang menjadi substitusi darah tubuh pria itu berubah menjadi uap hitam yang menghilang tertiup angin.

Cho menatap Luhan tak percaya.

“Di antara seluruh penghuni planet ini, hanya Kai yang memiliki darah seperti makhluk Bumi. Bagi para castè, hal tersebut merupakan sebuah kutukan. Butiran pasir yang muncul dari tubuhku membuat diriku dan makhluk lain memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat. Apa kau lihat bagaimana Lay menyembuhkan Kai?” Pria itu menyelipkan sebuah tanya dan dengan cepat Cho mengangguk sebagai jawaban.

“Saat Kai terluka, sama saja ia sedang mencoba untuk bertahan hidup. Darah dalam tubuhnya akan terus mengalir selama luka pada tubuhnya tetap menganga.”

Cho menggigit bibir bawahnya cukup kencang. Kepalanya mendongak, mencari-cari sosok Lay yang tengah bermeditasi ditemani Sehun. Ia terkejut saat menyaksikan tubuh Lay ambruk sesaat sebelum kedua castè Myrath itu berpamitan. Hal itulah yang membuat Luhan masih bertahan di markas—dan Cho memanfaatkan kondisi tersebut. Setidaknya ia dapat mengorek informasi lebih jauh untuk memuaskan rasa hausnya akan rahasia Kai.

“Kenapa Kai menyembunyikan hal sepenting itu?” Cho berbisik pada dirinya sendiri. Meski tak sadar jika Luhan mendengar bisikannya dengan jelas.

“Aku sudah memperingatinya untuk lebih berhati-hati. Dia akan menjadi lawanku pada duel pertandingan nanti,” ucap Luhan. Telapak tangannya yang lain mengusap sayatan tersebut dan detik berikutnya butiran pasir itu membeku di sekitar lukanya.

Tatapan Cho tertuju pada Luhan. Pernyataan pria itu seperti sebongkah batu yang mendarat mengenai tengkoraknya. Rasanya ngilu dan mampu menghentakkan pikirannya. “Mengapa harus kau yang menjadi lawan Kai di pertandingan nanti?” gumamnya.

Luhan mengangkat bahu. “Kami hanya mengikuti keputusan kerajaan.”

Cengkeraman tangan Cho pada lengan Luhan membuat pria itu mengeryit. Bibir gadis itu bergetar seolah tak mampu bicara. Luhan dapat melihat berbagai pertanyaan yang ingin Cho ajukan padanya berkedut-kedut melalui gerakan alisnya. Ia hanya perlu menunggu, apa yang akan diutarakan gadis itu lebih dulu.

Buku-buku tulang leher gadis itu bergerak perlahan, menelan ludah yang serasa sulit membasahi dinding kerongkongannya. Ia menatap Luhan dalam diam, membuat pria yang jauh lebih tinggi darinya tersebut dilingkupi rasa heran. Sesuatu yang tersemat di antara rambut Cho sempat menyoroti pandangan Luhan. Sebuah binyeo24 bersinar keperakan, bersamaan dengan sorot mata Cho yang menyala-nyala menusuk matanya.

“Entahlah. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan selain ucapan terima kasih,” ia bergumam lirih.

Luhan hanya memberi sebuah senyuman. Kini ia belajar sesuatu dari perbincangan singkatnya dengan Cho. Sesuatu mengenai perasaan dari gadis yang sempat menjadi perbincangan Kris di sela pertemuan castè Myrath beberapa waktu lalu. Gadis yang dicurigai menyimpan rahasia penting dari strategi mereka.

“Sejujurnya aku sedikit cemburu akan keintimanmu dengan Kai. Namun sudah saatnya pria itu memperjuangkan apa yang layak ia dapatkan. Satu yang harus kau ingat, Cho Ikha—“ Luhan balas menatapnya, menatap pupil keputihan milik Cho yang nampak mengilat terbias cahaya matahari yang tertutup awan kelabu. “—kadang tidak semua rahasia itu baik untuk diketahui.”

 –

“Siapa yang akan menjadi pasanganmu di pesta pembukaan nanti?”

Ucapan Sehun berhasil membuat gadis dengan pita biru yang terselip di antara rambut panjangnya tersebut terhenyak dari pikirannya. Pria itu masih di tempat yang sama, hanya saja tatapannya tertuju pada ketiga castè lain yang masih mempergunjingkan afftheurcaly di tengah padang.

Seperti sihir, gadis itu menyunggingkan senyum tatkala mendapati Sehun tengah menunjukkan kekeh tawa yang membuat kedua matanya menyipit sempurna. Ia selalu menyukai apapun yang ada pada diri pria disampingnya. Ketulusan seolah menaungi segala tindak-tanduk Sehun. Termasuk saat pria itu sedang mencoba untuk berbohong sekalipun.

“Entahlah. Lagipula kau menolak ajakanku kemarin. Rasanya sungguh menyakitkan ditolak seorang pria.” jawabnya, setengah mengejek.

Gadis itu memagut dagu saat Sehun menepis kekecewaannya hanya dengan sebilah senyum. Bukan rahasia umum lagi jika para castè sangat tertarik dengan sosoknya. Baekhyun dan Chanyeol bahkan dengan sukarela menelantarkan kekasih mereka agar bisa berdampingan bersama Cho di pesta pembukaan pertandingan. Namun mengapa orang yang begitu dekat dengannya sama sekali tidak menunjukkan rasa itu?

Kai, Luhan, dan Sehun.

Tiga pria yang ketampanannya jauh melebihi Trio Sobangcha namun sangat sulit untuk digapai.

“Kenapa Kai lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur?” Gadis itu memeluk tubuh saat angin semilir meniupkan anorak lace yang dikenakannya. Pipi kanan Cho menyentuh lutut. Sementara kelopak matanya bergerak perlahan mengamati pria yang cukup jauh dari jangkauan tangannya.

Perhatian Sehun teralihkan, mengikuti kemana bola mata Cho tertuju. Meski percikan api yang dibuat Chanyeol sempat mengenai kakinya, gadis itu seperti harimau Afrika yang sama sekali tak terusik oleh daun-daun berguguran saat mengamati babi hutan yang menggiurkan lidah.

“Ia sedang memulihkan tenaganya. Jadi biarkan saja,” jawab Sehun. Ia kembali mengamati ketiga temannya lantas tertawa girang begitu Dio berhasil menghimpit tubuh Chanyeol dan Baekhyun di dalam lubang tanah yang ia ciptakan.

Cho mendesah. Membiarkan suara-suara bising di sekitarnya memenuhi gendang telinga. Pikirannya melayang bersama papipluvius25 yang tengah menari-nari indah di udara. Selama ini, ia selalu beranggapan bahwa Steve adalah pria yang membawa magnet berkutub selatan yang mampu menarik magnet berkutub utara yang dimilikinya selama ini. Dan saat bertemu Kai, entah mengapa magnetnya selalu tertarik dan tak ingin terpisah dari pria arogan tersebut.

Puas mengamati, salah satu tangannya kemudian terjulur ke arah afftheurcaly yang masih berdiri tegak di atas lapisan tanah. Kelima jarinya bergerak manis seolah memantrai pedang tersebut. Benda itu mengeluarkan sinar keperakan; melayang dengan sendirinya; berubah menjadi binyeo seukuran sumpit kemudian dengan cepat berpindah ke tangannya.

Baekhyun, Dio dan Chanyeol mengaduh dari kejauhan—karena Cho sepertinya memutuskan untuk mengakhiri permainan.

“Aku akan membuat Kai mengakhiri masa tenangnya sementara kau mengajak yang lain menuju markas. Terlalu mencolok jika kita berlama-lama memamerkan afftheurcaly di sini.”

Cho menepuk pundak Sehun lembut. Sama sekali tidak membiarkan pria itu menuntut penjelasan atau sekedar bertanya mengapa. Gadis itu berdiri, sedikit menepuk-nepuk bagian belakang celananya yang dipenuhi debu sebelum memutuskan menghampiri Kai.

Meski langkahnya tidak terkesan buru-buru, rasa gugup sempat menggelanyar membanjiri aliran darah Cho. Semakin jarak antara mereka menyempit, semakin kegelisahannya menjadi-jadi. Kai memang jenis pria yang tidak pandai mengungkapkan apapun. Hanya saja, sosok itu berhasil menguatkan medan magnetnya yang selama ini terlepas dari kungkungan gravitasi Steve.

Ia menghela napas—mengingat bagaimana suara pria itu memanggil namanya; mengingat bagaimana cara pria itu menatapnya; mengingat bagaimana pria itu diam-diam mencuri pandang padanya; mengingat bagaimana pria itu memeluknya. Tidak ada kepalsuan dalam segala gerak-gerik Kai. Dan hal itu justru membuatnya semakin gelisah.

Gadis itu menunduk, menatap wajah Kai dalam diam. Benar. Pria itu nampak tenang dan bersahaja. Alisnya mengerut tatkala mendengar sesuatu saling mendahului bergaung di gendang telinganya. Detik berikutnya ia tersenyum saat mendapati bahwa suara tersebut berasal dari debar jantungnya.

Haruskah ia mengakui perasaannya kali ini? Mungkin. Karena ia juga bersungguh-sungguh tentang itu.

“Kebiasaanmu tidak pernah berubah,” ucap Kai, membuat mata Cho yang semula berbinar seketika berubah haluan. Pria itu masih mengatupkan mata lalu menyimpulkan kedua tangan di dada. Hal yang membuat Cho bertanya-tanya mengapa pria itu selalu bisa memergokinya—tengah memperhatikannya.

“Kali ini kau akan mengakui ketampananku, bukan? Atau kau akan bertekuk lutut memohon padaku untuk menjadi pasanganmu di pesta nanti seperti yang dilakukan gadis-gadis lain? Atau—argh!

Seketika Kai terjaga, mengaduh sambil meringkih merasakan ngilu pada salah satu tulang keringnya. Sepertinya Cho harus menarik kembali kata-katanya. Setiap kali kesombongan Kai berkobar, setiap kali itu pula nilai minusnya meningkat. Pria ini tidak memiliki faktor keromantisan sedikitpun. Kata-kata itu bisa digarisbawahi untuk dijadikan pengingat.

“Pria sombong yang malang. Lain kali jaga sikapmu di hadapanku atau kepalamu akan menghilang dalam sekali tebas,” ledek Cho sembari mengetuk-ngetuk ujung afftheurcaly yang tersemat di rambutnya.

Kai berdecak. “Tebas leherku jika kau mau,” ia menyodorkan lehernya pada gadis itu dan dijawab oleh tepisan ringan di dadanya.

Kekeh tawa Cho menggema, mengejutkan kumpulan papipluvius yang bertengger di antara daun-daun yang menjuntai.

“Aku ingin mengajukan satu pertanyaan,” ia mendahului Kai yang telah membuka mulut terlebih dulu. Ia sudah menebak apa yang akan pria itu sebutkan.

‘Jangan mengganggu tidurku atau aku akan menjatuhkanmu ke dalam jurang kematian.’

Kai mengeratkan jaket yang menutupi lehernya seraya bersandar pada tubuh pohon. Ia lelah dan sedang tidak bernapsu untuk berargumen. Terlebih beragumen dengan Cho Ikha.

Gadis itu duduk di samping Kai, mengamati pria itu yang sama sekali tak tergerak untuk sekedar memberi jawaban. Bahkan Kai tidak berinisiatif untuk bertanya kecuali jika ia yang mengajukan rentetan kalimat terlebih dahulu.

“Inikah efek yang dibuat Lay sesudah menyembuhkanmu? Membuat mulutmu membisu?” Gadis itu menuntut, memberikan tatapan mengerikan yang selalu ia berikan pada Amber—teman sebangkunya di sekolah.

Berisik.

Satu kata yang pria itu gumamkan lewat bibir tipisnya. Rasanya ia ingin memaki pada Cho. Gadis itu sama sekali tidak memiliki kepekaan yang kuat. Jika ia menghindarinya, untuk apa ia selalu mengikuti gadis itu pergi setiap kali ia memintanya untuk tetap bersama?

“Kau ini benar-benar bodoh,” makinya, mendesis pedas di telinga Cho.

Sebuah pukulan mendarat mulus di perut Kai. Pukulan yang diciptakan Cho cukup ringan namun mampu membuat pria itu mengerang. Jelas saja, gadis itu memukulnya di tempat yang sama dengan luka yang Kai peroleh. Dari luar mungkin terlihat baik-baik saja. Dari dalam? Ia sendiri belum bisa memastikannya.

“Bagaimana rasanya hampir mati?” Gadis itu duduk menyila, mengamati Baekhyun yang menggeliat-geliat di dalam lubang karena tak sanggup menahan panas tubuh Chanyeol.

Kai sempat mengintip aktivitas castè lain dari balik untaian poninya, selanjutnya ia memilih untuk menatap awan. Senyumnya kecut, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri. “Menyenangkan. Lagipula aku sudah terbiasa.”

Ucapan Kai membuat Cho memaku diri. Dilihatnya pria itu menunduk, membenahi tali boots yang sama sekali tak perlu. Ia ingin berteriak, memaki di depan wajah Kai bahwa pria yang tak pernah berbagi apapun pada orang lain itu tak perlu memendam rasa sakitnya sendirian. Masih ada yang mencemaskannya selain Luhan. Salah satunya adalah dirinya.

“Melihatmu nyaris terisak waktu itu ternyata cukup menghiburku. Kapan kau akan menangisiku lagi?” tandas Kai.

Lagu ballad yang semula mengiring background pikiran Cho saat membayangkan kesedihan Kai seketika mengusut dan terhenti begitu pria dengan wajah serius yang mendominasinya tersebut mengeluarkan pernyataan tak terduga. Bibir atas Cho terangkat. Menyesal karena telah mencemaskannya.

“Saat kau mati!” raungnya seperti singa. Mematikan.

Untuk pertama kali dalam sejarah pertemuannya dengan Cho, pria itu menggaungkan tawa khasnya hingga menjangkau seisi lapangan. Tawa itu lantas menegunkan Cho, betapa indah dan mempesonanya pria dengan lesung yang tak begitu kentara pada salah satu pipinya.

“Kalau begitu kau akan menangis sebentar lagi. Bersiap-siaplah,” ucap Kai kemudian bangkit dari tempatnya diikuti iringan papipluvius menuju tempat dimana kegaduhan Baekhyun meraung-raung.

Cho menatap punggung lebar Kai yang semakin mengecil di matanya. “Bisakah kau sedikit bersikap manis padaku, Kai? Aku bosan melihatmu terus berpura-pura,” ia berkata dengan sedikit memekik.

Pria itu mendesah, memelankan langkahnya saat kupu-kupu bersayap elang itu mengitarinya. “Berpura-pura itu bukanlah styleku, Cho Ikha. Kau saja yang tidak pintar menebak jalan pikiranku,” jawabnya tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

“Aku akan pergi bersama Suho! Tatakramanya jauh lebih baik darimu!” Cho kembali menyerang. Berharap Kai akan berubah haluan.

Pria berambut hitam itu mendengus. Jemarinya berayun mengikuti gerakan papipluvius. “Lakukan saja sesuka hatimu. Selagi kau masih di planet ini.”

Jantung Cho bergemuruh diiringi suara geraman dalam tenggorokannya yang menyatu dengan hembusan angin. Jika ia berada di dunia komik, mungkin pada halaman ini terdapat sebuah coretan berbentuk guntur tepat di atas kepalanya. Guntur itu menyambar-nyambar rambutnya dan menghanguskan sebelah tengkoraknya.

“Kau sangat menyebalkan, Kai.” rutuknya seraya melempar beberapa kerikil ke arah Kai.

Di balik punggungnya pria itu tersenyum. Kini ia memiliki keahlian lain selain dapat melakukan teleportasi, yakni membuat amarah huglooms labil yang menyita perhatiannya tersebut memanjat tubuhnya hingga ke ubun-ubun.

-o-

KAU TAK PERLU MENCARI TAHU, KRIS. Sebaiknya kau kembali ke markas sebelum yang lain memergokimu,” Suho meneguk segelas air mineral tanpa menyuruh tamu tak diundangnya untuk duduk terlebih dahulu.

Tatapan orang yang diajaknya bicara menusuk-nusuk tajam seolah sedang meminta sedikit perhatiannya. Pria bernama Kris itu setinggi penyangga tiang bendera di istana. Kedua alisnya membentuk garis lurus, sama dengan lipatan pada kelopak matanya. Bibirnya terkatup sempurna sementara tubuhnya berdiri tegak seperti patung Dewa Apollo.

Bola mata Kris bergerak perlahan mengikuti gerakan Suho. Ia mengamati dengan penuh kehatian-hatian. Pria itu juga nampak kaku, seperti robot yang baru saja diciptakan dan tengah menjalani tes uji untuk pertama kali.

“Seharusnya kau ingat bahwa kita adalah teman baik,” ucap Kris tanpa nada.

Suho tersenyum, deretan gigi-giginya menyembul di balik bibir meronanya. “Apa kau lupa dengan tujuan akhir kita, Kris? Pertandingan itu. Tahta itu. Parleemos. Kai.” ia kembali menegaskan.

Indera pendengaran Kris seketika menguat begitu Suho selesai berucap. Kegarangan mendominasi tatapannya. Ia mengawasi Suho dalam diam seolah memperingatinya. “Jaga bicaramu atau—“

“Atau apa? Atau gadis yang menyandang gelar huglooms itu mendengar perbincangan kita?” Suho menghampiri Kris. Ia menepuk-nepuk dada lawan bicaranya sambil menaikan kerah peplum yang menjadi bagian dari pakaiannya.

“Tidak ada yang dapat menyentuh pedang itu selain pemiliknya. Kau harus mengingat kata-kata itu dengan baik,” desis Suho. Ujung telunjuknya menekan-nekan dada Kris dan pria itu menepisnya.

“Jaga sikapmu atau aku akan membunuhmu sekarang juga.”

“Ah, ya! Aku lupa jika aku lebih muda darimu. Benar begitu? Kris?” Salah satu alis Suho terangkat, ekpresinya berbicara bahwa ia meragukan pernyataan pria berapi tersebut—mengenai rasa hormat terhadap seorang fratheer.

“Tunggu sampai semua ini berakhir,” gertak Kris.

“Yang jelas tidak boleh ada satupun yang membunuh gadis itu tanpa seizinku.”

Huglooms hanyalah sebuah omong-kosong. Dia—“

“Suho?”

Kris menelan bulat-bulat perkataannya saat mendengar seseorang menyahuti pria berkulit putih di hadapannya. Baik Suho maupun Kris menoleh ke arah sumber suara. Cho Ikha, gadis yang sejak tadi menjadi topik di sore hari mereka, menatapnya curiga. Gadis itu dikelilingi castè lain dan hal itu jelas menyudutkan Kris.

Bukankah sedikit aneh jika kedua pemimpin gugus yang tidak begitu akur akhir-akhir ini bertemu di depan markas Krypth.

“Temui aku di tempat Bapak Tua Nopheun esok hari.” Suho mengakhiri pertemuan mereka sesegera mungkin untuk menyelamatkan Kris dari tatapan kecurigaan Chanyeol, Dio, Sehun dan Baekhyun.

Kris menuruni anak tangga tanpa sekedar memberi salam pada kelima makhluk yang menghalangi jalan. Sensornya sempat bertubrukan dengan sensor Cho. Pria jangkung itu mengenalnya, gadis yang sempat ia temui bersama Kai di Hutan Millim.

“Pemandangan yang aneh,” gumam Baekhyun sesaat setelah Kris menghilang ditelan kepulan api yang diciptakannya.

“Bukankah lebih baik jika kita semua kembali seperti dulu?” tandas Suho. “Tinggalkan kami berdua. Ada yang ingin kubicarakan dengannya.” Bola matanya bergerak, terhenti pada sosok Cho yang masih mengamati sisa-sisa percikan api yang ditinggalkan Kris.

Keempat castè tidak berucap. Meninggalkan Cho bersama Suho setelah berdecak hebat atas perintah pemimpinnya yang cenderung liberalistik.

“Kukira tak ada hal penting yang harus kita bicarakan,” ujar Cho. Ia berjalan menuju tangga utama ruangan. Sama sekali tidak tertarik dengan kehadiran Suho.

Pria itu bergerak cepat, menghalangi tubuh gadis itu saat langkahnya baru saja melewati beberapa anak tangga. “Mengenai tawaranku kemarin,” ia mengingatkan. “Kau membuatku menunggu.”

Gadis itu tidak bereaksi. Ia berdiri dengan bertumpu pada satu kaki sementara kedua tangannya terlipat di dada. Rahangnya bergerak saat gigi-giginya bergesekan di dalam mulut. “Aku bukan gadis yang tertarik dengan pria yang sudah memiliki kekasih. Lagipula, akan kau apa kan gadis bangsawan itu? Siapa namanya? Sangri?”

Suho mengerucutkan bibir sensualnya. Berharap Cho dapat melihat sorot kekecewaan yang timbul dari ekspresi tersebut. “Dia tidak bisa datang. Karena itu, alangkah baiknya jika huglooms yang terhormat ini dapat bersandang di sampingku malam nanti.”

“Setelah nyaris membuatku mati, kau masih berani menawariku menjadi pasanganmu di gala nanti,” jawab Cho pada intinya.

Ia mendorong tubuh Suho agar bergeser memberinya sedikit celah untuk meneruskan langkahnya. Suho memaku. Tak disangka jika gadis yang semula bersikap kekanak-kanakan itu dapat mengucapkan kata-kata tersebut.

Tubuhnya berbalik, menatap Cho yang semakin jauh menaiki anak tangga. “Asal kau tahu, Cho Ikha. Kai tidak akan pergi ke pesta itu bersama gadis lain termasuk dirimu.”

Cho berdecak. Masih menghitung anak tangga sambil menarik jemarinya menyusuri besi pembatas. “Begitukah?” ucapnya acuh.

“Pesta itu merupakan pesta pembukaan pertandingan sekaligus pesta pertunangan Kai dengan Sulli—cucu dari Parleemos,” jelas Suho.

Tepat sesuai dugaan pria itu, keterangannya berhasil memicu Cho untuk berhenti. Gadis dengan hidung yang tidak selicin dan setinggi hidung Sehun itu menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan. Ia berbalik, mendapati Suho tengah tersenyum padanya.

“Yang kutangkap saat berada di dekatmu adalah rasa iri, Suho-ssi. Maukah kau menyebutkan satu alasan saja yang membuat Kai dan juga dirimu terlihat seperti dua pria yang sedang bersitegang?”

Suho, yang semula berniat menyulut api pada obor di dalam tubuh Cho, malah tertohok. Senyumnya menghilang, digantikan oleh seringaian.

“Aku hanya merasa bahwa seluruh mata di dunia selalu tertuju pada Kai. Apa salahnya jika aku juga memiliki apa yang seharusnya dimilikinya?” ucapnya datar. “Akan kupastikan aku ada disampingmu saat Kai menyematkan cincin pertunangan di jari Sulli.”

Pria itu tersenyum lantas beranjak pergi. Senyum yang bagi Cho mengandung makna terpendam yang tak disukainya. Ejekan; seruan; bahkan pengkhianatan. Pengkhianatan terhadap Sangri dan juga Kai. Kekasih dan temannya.

“Suho,” sahut Cho.

Yang dipanggil berbalik, menatapnya antusias. Sekali lagi, gadis itu menajamkan indera penglihatannya pada mata Suho. Mencari-cari sesuatu untuk sekedar membenarkan perasaannya.

Aniyo—maksudku, tidak. Kita akan bertemu di pesta nanti jika itu maumu.” Cho berkata sebelum benar-benar mengakhiri pertemuan singkatnya dengan Suho.

Ada sesuatu dalam diri Suho. Saat pria itu menatapnya dengan tajam untuk menuntut sebuah jawaban darinya, aura dalam diri Suho hampir sama dengan aura seseorang. Aneh rasanya melihat mata Suho bisa semerah itu di wajah putihnya.

Sambil berjalan menuju ruangan tercintanya, gadis itu mengetuk-ngetuk dagu menggunakan ujung telunjuk. Ia yakin pernah merasakan aura tersebut, tapi dimana.

“Kris,” bisiknya pada diri sendiri saat mengingat kunjungan pertamanya ke Hutan Millim di gugus Myrath bersama Kai.

Sesungguhnya ia tidak begitu yakin, tapi mata merah mengerikan yang mengilat-ngilat itu hanya ia temukan pada tatapan Kris.

Saat gadis itu masih tenggelam dalam pikirannya, tubuhnya diseret paksa oleh seseorang ke dalam sisi ruangan lain dan menghentaknya ke dinding. Kedua tangan pria itu menguncinya, bahkan lulut keduanya saling mengetuk. Cho sempat berhenti bernapas sebelum mengetahui bahwa pria itu adalah Kai. Pria yang meninggalkannya berteleportasi di lapangan sabana bersama yang lain.

“Apa yang—“

“Ssstt!”

Kai meletakkan telunjuknya di bibir. Menyuruh Cho untuk tidak membuat gaduh. Tatapannya beredar mengawasi sekitar. Sekedar memastikan tak ada yang tahu akan kehadirannya.

“Apa kau sempat bertemu Kris di bawah?” gumam Kai, meredam suaranya sebisa mungkin.

Cho mengangguk, mengiyakan. “Apa kalian bertiga sempat bertengkar?” tanyanya dipenuhi rasa ingin-tahu.

“Suho tidak mengetahui keberadaanku saat berbincang dengan Kris. Yang jelas ada yang aneh dengan mereka berdua,” ucapnya tergesa.

Cho menelan ludah dalam-dalam. Tanpa disadari Kai atau tidak, ia merasakan tubuhnya memanas saat berdekatan dengan pria itu. Jarak ini… jarak ini terlalu dekat baginya. Mungkin hanya dirinya saja yang berlebihan, karena Kai sama sekali tidak bereaksi.

Pria itu menatap Cho setelah meyakinkan tak ada seorangpun yang berada di sekitar mereka. Saat mata mereka saling bertemu, pria itu baru menyadari hal itu. Mereka sangat dekat hingga ia sendiri dapat merasakan suhu tubuh Cho. Terselip rasa syukur dalam diri Kai ketika gadis itu sama sekali tidak memutuskan untuk menjauh darinya.

Selama beberapa detik, keduanya tak banyak bergerak dan memaku di tempat. Begitu Kai bergerak menjauh, pikiran mereka barulah kembali ke alam nyata.

“Aku harus pergi,” ucap Kai. Ia berjalan mundur, menghindari sesuatu yang lebih kuat berdetak di dalam jantungnya.

“Tapi, Kai, aku—“

Partikel no̱ménos dari tubuh Kai telah lebih dulu menguap membawa serta pria itu menghilang menembus waktu. Tepat sebelum gadis itu berkata.

Cho mendesah. Seharusnya ia bergerak lebih cepat.

“Aku hanya ingin bertanya mengenai Sulli. Apakah yang Suho katakan padaku benar seperti itu adanya?” tanyanya pada angin hampa yang mengisi ruangan yang ditinggali Kai.

Ia menatap partikel-partikel no̱ménos yang masih tertinggal. Rasa kecewa itu kian menggerogoti tubuhnya.

Ia cemburu. Dan ia yakin akan hal itu.

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

—————————–

20Ómorfos : Nama asli Chanyeol. Sempat dibahas di beberapa part sebelumnya.

21Burung Getee : Burung pemakan bangkai. Tubuhnya mungil. Bulunya berwarna merah mencolok dengan ekor yang melengkung seperti mahkota Gatot Kaca.  Paruhnya setajam paruh elang dan cakarnya mampu mengoyak perut Razours. Hanya tertarik pada bangkai, tidak pada daging segar. Hidupnya berkelompok. Bahkan orang-orang sering tertipu dengan penampakan kumpulan getee yang mampu menyerupai bentuk binatang atau makhluk lainnya.

22Bambi : Semacam babi hutan berkepala kelinci. Kulitnya yang sehalus kulit manusia dan tubuhnya yang semerbak wangi bunga flamboyan membuat hewan ini menjadi buruan dan santapan utama penduduk Exo Planet. Cepat berkembang biak namun di lain pihak hewan ini juga sangat mudah untuk mati. Salah satunya adalah, ketika bambi berlari lebih dari seratus meter tiap harinya, maka jantungnya akan mengerucut dan mengakibatkan kematian.

23Runos : Pohon dengan batang besar berdiameter ± 0,45 m. Daun-daunnya tumbuh lebat; menyirip panjang. Beberapa daun yang lebih tua menjuntai hingga ke permukaan tanah seperti tali. Mitos Exo Planet menyebutkan jika dengan merebus tiga helai daun Runos, orang yang meminum air tersebut akan mendapatkan jodoh dalam waktu singkat.

24Binyeo : Semacam tusuk konde khas Korea Selatan. Biasanya dipakai gadis kerajaan zaman dulu sebagai penghias rambut.

25Papipluvius : Semacam kupu-kupu bersayap empat. Kedua pasang sayapnya seperti sayap elang; lebar dan panjang. Bulu-bulu halusnya berwarna putih dan saat terkena sinar apapun, warnanya berubah kebiruan serta berkelap-kelip seperti pelangi. Ekornya seperti untaian pita. Saat Papipluvius terbang bersama, mereka akan terlihat seperti seorang atlet senam irama. Pemandangan yang sulit dicerna.