I am Not Harry

GADIS ITU TAK BANYAK BICARA. HANYA BERSIMPUH di kedua lututnya mengacuhkan suara-suara hembusan angin yang berlalu-lalang di telinga. Sejujurnya ia tidak sanggup menahan lebih jauh.

Matanya memerah, terbakar oleh kekecewaan dan penyesalan.

“Seharusnya aku datang lebih cepat,” ia bergumam berulang kali. Menyaksikan sesosok pria dengan wajah sepucat awan yang tertutupi oleh kegelapan malam.

Napas pria itu tersendat, tak mampu mengalir melewati kerongkongannya yang berlubang akibat benda tajam. Tubuhnya bergetar seiring guyuran darah yang saling mendahului melewati lubang tersebut.

Hangat.

Pikiran gadis itu berbisik saat cairan merah pekat tersebut menyusup di sela-sela jemarinya. Sama hangatnya dengan suhu tubuh yang berpacu seiring detak jantungnya.

Sambil memeluk si pria dalam dekapan, gadis dengan mata cokelat yang meneduh itu menangis. Melepas segala ketakutan yang membelenggu jiwa.

Tak ada siapa-siapa disana. Hanya gundukan bebatuan dan rumput yang mengering. Tak ada yang mampu mendengar bantuannya. Sekali pun ia meraung dan menggonggong seperti Rottweiler.

Tangan si pria yang bergetar meraihnya. Samar-samar ia melihat gadis itu tengah terisak. Lantas ia menggeleng lemah, menyuruhnya untuk meredam suara. Isakan itu penuh dengan ketakutan dan ia sama sekali tidak menyukainya.

“Siapa yang melakukannya, Babe? Tell me.” Bisikan gadis itu membaur bersama suara gemerisik dedaunan. Meski nyatanya pertanyaan tersebut merupakan keberanian terakhir yang tersisa.

Karena ketakutan itu benar-benar telah menelannya.

Pria itu tidak banyak bergerak. Memaksakan sebuah kata keluar melalui celah bibirnya yang mulai membiru. Gadis itu mendiagnosa saat gerakan tanpa suara di bibir si pria terbias oleh cahaya bulan yang menerpa wajahnya.

Suara desing dari balik pepohonan menghilangkan segala kerisauan. Dengan kesadaran yang minim, si pria mendapati gadisnya memaku.

Sesuatu yang mengilat-ngilat menembus kepala si gadis. Dan sosok itu seketika ambruk di atas permukaan tanah. Menggelepar seperti ikan. Dalam hitungan detik, si gadis tak sadarkan diri berkat satu peluru perak lain yang bersemayam di dalam otaknya.

Lubang di leher si pria menggagalkan niatnya untuk berlari. Organ tubuhnya mati total. Karenanya ia hanya bisa berteriak di dalam hati, memaki ketidakbecusannya melindungi gadisnya.

Bunyi siulan yang makin terdengar jelas dari kejauhan membuat adrenalin pria itu meninggi. Melodi itu seperti lagu yang akan mengiringnya bertemu malaikat pencabut nyawa.

Ia dapat menebak siapa sosok yang mencekalnya di tempat terkutuk tersebut. Dan apa yang ia terka membuahkan hasil saat sosok itu berdiri kaku di dekatnya.

Tatapannya kosong. Sama kosongnya dengan hatinya.

“H-h-harry,” suara si pria terdengar parau.

Sosok itu menyeringai kemudian meludah, menganggap bahwa pria yang hidupnya tinggal menghitung detik tersebut seolah sedang meminta belas kasihan. Tanpa ragu, ia mengarahkan pistol Mac 10 yang menggelantung di antara jemarinya ke arah si pria. Pelatuknya bergerak, diiringi ketidaksadaran si pria saat isi pistol tersebut menembus jantungnya.

I’m not Harry, anyway. He’s dead a minute ago,” ucapnya seraya menyisir poni rambut sebatas alis yang ia pelihara.

Sosok itu menggulung lengan jaket mesh yang dikenakannya sebelum menyeret dua bangkai manusia tersebut dan menjatuhkannya di atas tumpukan mayat lain. Ia terkekeh kemudian mencoret nama ‘Lee Donghae’ dari daftar buruannya.

“Saatnya berburu yang tersisa,” gumamnya.

Pistol yang menjadi sahabat terbaiknya tersebut ia selipkan di dalam kantung jaket. Satu-satunya benda yang ia tinggalkan hanyalah selembar kain putih yang menutupi wajah si gadis.

“K.H.C”

★★ END ★★

Header 01 (Cut)