Hey, Idiot! I Love You!

Lama menunggu?” Suara yang mendesir halus di balik rambutku menerjang gendang telinga. Menyusup di sela-sela rongga tubuh dan berhasil membuat jantungku mengguncang hebat. Selama beberapa detik aku memaku. Membiarkan angin semilir musim dingin mengayunkan helai rambutku yang memerah terbias matahari.

Kucoba mengontrol diri dengan menahan napas dan cara itu cukup jitu. Aku mendongak. Menemukan si pemilik suara tengah mengukir seulas senyum di wajah tampannya.

Well, not at all. Hanya saja minumanku sudah tidak hangat lagi,” jawabku. Tentu saja dengan mind-control yang baik.

Pria itu terkekeh. Sialnya kekehan sederhananya tersebut mampu membuat jantungku kembali melompat kegirangan. Bahkan aku dapat merasakan jemariku menegang saat memegang paper cup berisi tiramisu chocolate yang kubeli satu jam lalu.

Beruntunglah pria itu tak menyadarinya. Ia duduk dengan natural disampingku—dan aku memuji diri karena telah memilih tempat ini. Ya. Sungai Han. Salah satu tempat terpopuler di Seoul—serta romantis, menurut opiniku.

Kami duduk di tepian sungai. Pria itu sama sekali tidak nampak risih. Meski aku tahu coat cokelat muda yang menutupi bokongnya akan menoda akibat debu dari semen yang kami duduki. Ia merebut paper cup di tanganku dan menggantinya dengan yang baru. Ah, itu dia. Aku baru sadar jika ia membawa dua minuman lain di tangannya.

“Kuharap ini hanya perasaanku saja—“ Tatapan kami bertemu saat kupalingkan wajahku padanya. Ia menatapku dengan pupil hitamnya yang kian membesar. “—kau terlihat berbeda.” lanjutnya.

Damn.

Aku tahu dia sedang tidak menggombaliku atau entahlah apa itu namanya. Namun aku berani bertaruh akan satu hal. Api yang menyala di hatiku menyulut, berkobar-kobar dan membakar sekujur tubuhku. Wajah ini pasti memerah.

Aku yakin itu.

“Sepertinya sapuan blush-on di pipiku berhasil membuatmu terpesona,” aku menimpalinya disertai senyum kaku yang lebih mirip seperti smirk.

Oke. Aku memang tidak pandai tersenyum. Kau bisa menulis hal itu pada list berjudul “Cho Ikha’s Weeknesses”.

Kulihat otot-otot di wajah pria itu bergerak. Tawanya nampak tertahan namun tidak mengurangi sedikit pun aura yang dimilikinya.

Absolutely no,” kilahnya kemudian meletakan ujung telunjuk di bibir tebalnya. Ia menepuk-nepuk beberapa kali untuk memberi pesan bahwa lipstik soft-pink yang memoles bibirku telah menarik perhatiannya.

Aku menunduk. Menyesap minumanku dan sesekali menatap riak permukaan sungai saat sebuah mini boat melintas di sana. Rasanya aku ingin matahari yang ada di balik punggungku segera tenggelam. Sinarnya terlalu terang hingga pria disampingku menyadari motifku.

“Kesibukanku berhasil membuat wajahku mengusam. Aku hanya butuh sedikit polesan agar kau tak menyalahartikanku sebagai seorang gelandangan,” itulah alibi yang kupakai.

Lagi. Pria itu terkekeh manis. Suaranya yang begitu manly membuatnya nampak dewasa. Meski nyatanya ia lebih muda dariku.

Empat tahun.

“Haruskah kuulangi statement-ku lagi saat pertama kali kita bertemu?” tanya si pria. Alis kirinya terangkat. Hal yang paling kusuka saat dirinya sedang kesal.

Kini giliranku yang tertawa. Menciptakan irama lain yang menyatu dengan suara rerumputan yang berayun. “Tak perlu. Aku dapat mengingatnya dengan baik.”

How’s your day?” ia kembali bertanya. Suaranya merendah. Membuat hatiku mendesir saat mendengar lantunannya.

Horrible,” jawabku asal. “Mungkin karena aku sama sekali tak bisa melihat wajah angkuhmu.”

Hati-hati kulirik pria berambut hitam gelap di sampingku. Senyumnya terus mengembang. Bahkan ketika ia menatap langit sore di atas kepalanya. Aku mengedipkan mata saat kusadar alat penglihatanku ini terasa mengering.

Oh Tuhan. Berapa banyak kesadaranku saat berada di dekatnya hingga aku lupa bagaimana cara berkedip?

“Apa kau tahu?” Pada akhirnya kucoba untuk mengajukan pertanyaan lebih awal. Sekedar mengantisipasi jika suatu saat ia memutuskan untuk meninggalkanku di tempat ini hanya karena hal sepele. Aku mengacuhkannya, itu salah satu contoh sederhana.

Si pria berdeham pelan. Menggemurutukan gigi begitu angin semi kembali menerebos ke sela-sela pori-pori wajahnya.

“Aku benar-benar bodoh karena lebih banyak menyisakan waktuku hanya demi hal-hal duniawi,” kutundukkan kepala semakin dalam. Menelaah kembali deretan kata yang barusan kudendangkan.

Ia pasti mengira bahwa aku sedang membuat pengakuan. Pengakuan yang terdengar seperti sesuatu hal yang sangat kusesali.

Well, memang begitulah keadaannya. Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah ketika aku memutuskan untuk mengejar kebahagiaan fana dan mengabaikan perhatian dari semua orang.

Termasuk dua orang yang telah membuatku menjadi gadis hebat seperti saat ini, Mom and Dad.

“Kau merasa bersalah karena hal itu?” ia balik bertanya dan aku mengangguk.

“Syukurlah,” ucapnya—bergumam lebih tepatnya. Beruntunglah indera pendengaranku dapat menangkap sinyalnya. Jika tidak, bisa saja kukira pria ini sedang melontarkan sumpah-serapahnya padaku.

Tubuhku berayun ringan. Seakan beban berat di kepalaku tertumpuk hanya pada satu sisi. Bahu si pria berhasil menahanku. Dan aku bersyukur karena dapat meringkuk manis di sampingnya. Hal yang sangat kunantikan sepanjang bulan ini.

“Rasanya begitu damai bersandar di bahumu. Bahkan alat-alat pijat atau spa sekali pun tak mampu mengusir semua lelahku.”

Ini pengakuan keduaku dan pria yang tengah menggenggam paper cup tersebut hanya terkekeh pelan.

“Sepertinya kau melupakan satu hal, Cho Ikha. Bukankah bahu ini selalu ada untukmu?”

Aku tertawa. Tawa tulus yang baru kali ini kukumandangkan setelah sekian lama menciptakan tawa palsu yang selalu kulemparkan khusus pada para klien-ku. Kuharap pria ini bersungguh-sungguh. Karena ia telah berhasil membuatku serasa tengah berdiri di tepian Monumen Nasional Indonesia. Tenang sekaligus menegangkan.

“Kai,” kusebutkan namanya.

“Hmm?” dan pria itu menjawab.

Kususupkan tanganku di antara tubuhnya. Membelit lengan maskulin Kai dan berharap pria itu tak menyadarinya. “Kenapa kau selalu ada saat aku membutuhkanmu? Tak pernahkah terlintas di benakmu bahwa aku seolah-olah hanya sedang memanfaatkanmu saja?”

Kai merespon. Ia menyentuhku. Tepat di tanganku.

“Seberapa tebal kesibukanmu itu hingga kau melupakan banyak hal, eum?”

Sentuhan lembut dari wajah Kai menyapu permukaan rambutku. Aku mengerat. Merasakan betapa hebatnya pengaruh dari perbuatan kecil yang dilakukannya. Sambil memejamkan mata, bibirku terus berbisik. Memohon agar pria yang lebih tepat disebut ‘adik’ ini tidak risih dengan sikapku kali ini.

“Dengarkan kata-kataku baik-baik dan jangan sampai kau melupakannya lagi, arasseo?” Kedua tangan Kai bergerak menggenggam jemariku. Tepat setelah ia meletakkan cup di sampingnya.

Sebelum ia kembali melanjutkan, kudengar pria berkulit lebih gelap dariku ini menghembuskan napas kasar. Aku tak dapat menatap matanya tapi aku tahu jika ia tengah menerawang. Maka kubiarkan Kai terbenam bersama pikirannya sementara aku menunggu.

Setidaknya aku bisa berlama-lama menghirup wangi tubuhnya. Wangi yang dapat meningkatkan libido dan testosteronku.

“Aku… adalah pria terbodoh di dunia.”

Kudengar ia mulai bicara. Suaranya pelan namun terkesan dalam—dan lagi-lagi aku hanya bisa terdiam menikmati fantasi yang diciptakan oleh otak kiriku saat mendengar lantunannya.

“Aku adalah pria bodoh yang tertarik pada seorang gadis yang kecantikannya masih di bawah rata-rata jika dibandingkan dengan member Girls Generation atau pun Hyuna 4Minute.

Aku adalah pria bodoh yang terpesona pada seorang gadis angkuh yang tak pernah menunduk atau memalingkan wajahnya saat berjalan. Saking angkuhnya, gadis itu bahkan hanya memiliki satu teman pria saja.”

Entah ia sedang memuji atau mengejekku. Yang jelas kekehanku berhasil menyela ucapannya.

Ia melanjutkan. “Aku adalah pria bodoh yang terkesima pada seorang gadis dengan tatapan setajam elang dan sedingin kutub utara saat ia memandang apa pun di sekelilingnya. Dan aku adalah pria bodoh yang terjerat oleh rayuan seorang gadis—meski gadis itu hanya sekedar mengedipkan mata atau pun melayangkan senyum tipisnya padaku.”

Mataku semakin terpejam mendengar kalimatnya. Seperti sajak. Mampu membuatku tersentuh dan terkesima.

“Karena kebodohanku itulah, aku sama sekali tak bisa memarahinya—meski gadis itu pernah membuat mobilku rusak parah; memakinya—meski gadis itu pernah melayangkan sebuah tamparan keras di pipiku saat aku menyatakan cinta padanya; mencelanya—meski gadis itu akhirnya memutuskan untuk menjadi temanku setelah membuatku malu di depan umum; menghindarinya—meski gadis itu sama sekali tidak menghubungiku selama tiga bulan penuh setelah itu; apalagi meninggalkannya—saat gadis itu memilih untuk fokus pada tujuan hidupnya.”

Kai berhenti bicara. Saat jemarinya mengenggam tanganku, perubahan itu dapat kurasakan dengan baik.

Dingin.

Aku tak yakin jika pria ini tengah dilanda kegugupan. Ia masih nampak tenang membiarkan sebagian tubuhnya untuk kujadikan penopang.

“Sebodoh itukah dirimu?” kuucapkan dengan setengah mengejek.

Well, jika kau masih kaku untuk memanggilku si bodoh, kau bisa menyebutku si buta—itu pun jika kau mau.” Kai menyela.

Aku tahu ia sedang tertawa. Karena aku juga tertawa bersamanya.

Geurigo? (Lalu?)” Kukeratkan tubuhku semakin rapat. Jiwaku masih haus dengan sajak yang Kai lantunkan.

“Lantas aku menyadari sesuatu dari semua kebodohanku itu,” ucapnya.

Mwoya igeo? (Apa itu?)”

Ia menggenggamku semakin kuat. “Saat melihat gadis itu bicara ataupun berjalan, aku tidak menemukan keangkuhan yang selalu ia tunjukan pada semua orang,” ungkapnya. “Gadis itu kesepian. Rasanya aku ingin memeluknya erat saat matanya memancarkan kekosongan yang begitu kentara.”

Oh, tidak. Kedua mataku memanas!

“Melihat gadis itu bertingkah dengan penuh kepalsuan nyatanya sungguh menyakitkanku. Terutama saat tersenyum, ia benar-benar sedang membohongi dirinya sendiri dan membohongi semua orang. Karena itu aku ingin merengkuhnya di dalam pelukanku.”

Setelah itu kurasakan Kai melepas jemarinya. Tangannya bergerak. Dan detik berikutnya kurasakan pria ini memelukku.

By the way, aku melakukannya bukan karena rasa iba.” Kemudian mata tajamnya beralih padaku. “Melainkan karena aku mencintainya,” tandasnya.

Aku terpukau saat pria ini menatap tepat hingga ke dasar retinaku. Kutemukan keyakinan di tiap kalimatnya. Aku percaya akan hal itu.

Why are you so stupid, Kai? Bukankah gadis itu sama sekali tidak memberimu kebahagiaan?” sengaja kualihkan pembicaraan. Sekedar ingin tahu apa jawaban yang akan ia utarakan kali ini.

Who say that?” Ia kembali memelukku. “Aku bahagia saat gadis itu selalu berlari padaku setiap kali ia membutuhkan seseorang.” akunya.

Saat pria itu tengah memelukku, aku membisu membayangkan betapa sulitnya menjadi seorang Kai. Benar. Gadis picik mana yang selalu memanfaatkan dan memberikan harapan palsu padanya? Jawabannya tentu hanya satu nama, yaitu aku.

“Aku tahu ia mencintaiku. Hanya saja ia belum mampu menemukan cara yang tepat untuk mengutarakannya.”

Kulihat pria itu memandang lurus ke depan. Entah apa yang ia lihat namun aku menemukan kesejukan di matanya. Hal lain yang sangat ku suka dari seorang Kai.

“Bagaimana jika suatu hari aku memutuskan untuk meninggalkanmu? Sebagai teman?” tanyaku, menginterupsi.

Ia mengerutkan alis. Menatapku.

“Maksudmu?”

“Bukankah gadis yang kau maksud itu adalah aku?”

Seketika pria itu terkekeh. “What a confidence!” ia menekan puncak kepalaku. Tanpa merusak tatanan rambutku.

“Maaf,” tanpa sadar kuucapkan kata yang bagiku sangat tabu untuk diutarakan.

Kai merenggangkan tubuh kami. Menyisakan sedikit jarak hingga kurasakan angin sore itu berputar-putar di antara celah itu. “Kau tak perlu mengucapkan kata itu. Aku juga tak pernah berharap kau akan menyebutkannya,”

“Kalau begitu terima kasih,” aku tersenyum dan syukurlah ia menyambut senyumku dengan ketulusan yang selalu ia berikan untukku.

Kai beranjak. Ia berdiri lebih dulu. Setelah menepuk bokongnya yang dipenuhi debu, ia menjulurkan tangan. Mengajakku untuk mengikuti gerakannya.

Aku meraihnya. Begitu aku telah sepenuhnya berdiri tegap, pria itu malah merendahkan tubuhnya—membungkuk seperti pelayan istana.

Sejenak pikiranku tidak dapat menerka keadaan. Namun saat tangannya merogoh sesuatu di kantung coat-nya. Aku tidak perlu berpikir panjang untuk sekedar menerka-nerka. Setiap ada waktu luang, aku selalu menyempatkan waktu untuk menonton drama atau telenovela. Dan inilah hasilnya…

Kai menunjukkan kubus kecil itu di hadapanku. Membukanya perlahan hingga tampaklah sejumput benda yang terlihat berkilau meski tanpa sorotan sinar yang menerpanya.

“Kurasa empat tahun sudah cukup lama bagiku untuk meyakinkanmu bahwa aku bersungguh-sungguh,” Kai menatapku penuh harap. Kurasa ia sedikit bingung untuk mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan selanjutnya.

Will you marry me?

Telingaku berdengung. Otakku seketika berjalan lebih lambat dari biasa. Pandanganku mengabur dan sadarlah jika air mata yang sejak tadi kutahan telah merengsak keluar menembus pertahananku.

Hey, idiot…” Kuraih kotak itu lalu menutupnya rapat.

Pria itu dilanda kebingungan. Ekspresi wajahnya tidak dapat membohongiku. Tapi aku tidak bermaksud.

Aku hanya ingin menggenggam tangan yang selalu membawaku ke tempat-tempat yang mampu menghilangkan stressku.

Aku hanya ingin menggenggam tangan yang selalu menunjukkan sesuatu yang aku pun baru sadar jika sesuatu yang kecil itu nampak indah dan terlewatkan.

Aku hanya ingin menggenggam tangan yang selalu merengkuhku saat aku kesepian.

Ya.

Tangan inilah yang selama ini membuatku mensyukuri hidup.

I love you.”

Kutundukkan tubuhku dan kuberikan sebuah kecupan manis di bibirnya. Hal yang begitu kunantikan selama ini.

Menjamahi bibirnya…

** END **

Cut One