The Players

Note: Pernah baca salah satu cerita yang Chocholia buat tentang Key? Yep, pada akhirnya aku buat after-story versi Huglooms dari ‘My Birthday Gift Key Version’ sebagai bentuk dari penolakan. Gosh! Aku masih gak bisa membayangkan Key dikarakterkan bersama gadis itu! 🙂

***

I LIKE YOUR SCENT.”

Jean tersenyum kecut tatkala mendapati seseorang tengah menghujani lehernya dengan ciuman. Itu membuatnya rikuh, terutama di saat moodnya sedang diambang kejenuhan. Ia tahu persis apa yang menyebabkan pria dengan suara maskulin itu menghampirinya tiba-tiba, jawabannya tentu saja karena motif sensual.

“Menyingkirlah—jika kau tidak ingin alas botol ini berciuman dengan kepalamu.”

Botol anggur putih di hadapan Jean berayun ringan sebagai tanda peringatan. Dalam keadaan normal, ia tidak pernah keberatan sekalipun sosok itu mencumbunya di toilet pria selama berjam-jam. Tapi kini, napsunya seolah terpupus seiring tegukan kelima yang ia nikmati malam itu.

Tindakan Jean tak membuat si pria gentar. Di balik punggungnya, pria itu justru semakin menyentuhkan tubuh bagai ular piton yang melilit erat. “Jika kau benar-benar melakukannya, Manager Hyun akan segera memberikan special report pada si smelly-glasses-ahjusshi untuk membatalkan debutmu tahun ini,” gumamnya erotis.

Jean mendengus. Sambil melirik diam-diam pada bartender di hadapannya, ia menarik pergelangan tangan si pria sebelum lawan jenisnya itu menggapai-gapai perutnya. Ia tidak mempermasalahkan orang lain, termasuk si bartender, yang menangkap kelakuan mesum si pria di tengah alunan jazz di dalam bar milik si smelly-glasses-ahjusshi.

Seperti yang disinggung sebelumnya, mood, telah berhasil membuat Jean menjadi makhluk bermulut dingin.

Si pria menarik pelukannya lantas menempatkan diri pada bangku tinggi di samping Jean. Seperti yang diduga, gadis itu tak banyak bicara selama memfokuskan diri mengosongkan botol alkohol di hadapannya. Perasaannya semakin memburuk—mengingat pria di sampingnya itu sempat mengangkat topik debut ke dalam percakapan mereka.

“Kau tahu? Saat kau kesal, bibirmu semakin menebal dan menggiurkan. Mengingatkanku pada Dio dan Luhan,” ucap si pria kemudian meneguk alkohol yang direbutnya paksa dari tangan Jean.

Jean menoleh, menemukan pria dengan rambut kecokelatan yang hampir menutupi alis dan matanya tengah meringis setelah menelan alkohol dalam sekali teguk. “Kehomoanmu itu semakin tak diragukan lagi, Kai. Mata para EXO-L ternyata cukup jeli—mengenai keintimanmu bersama Dio maupun Luhan setiap kali menangkap momen-momen kalian di atas panggung.”

Kai mengecap-ngecap mulutnya diselingi gerakan telunjuk sebagai tanda penolakan. Ia berusaha menghilangkan rasa pahit bercampur manis di lidahnya sebelum memberikan reaksi atas kalimat Jean.

“Tidak. Aku hanya menyukai tubuh lawan jenisku saja, darling. Kau bisa menyebut momentum itu sebagai fan service. Baekhyun sedikit mengajariku cara untuk menyenangkan hati mereka, salah satunya adalah dengan pairing bias.”

Bola mata Jean berputar, geli mendengar Kai menyebut namanya—yang ia sendiripun tak begitu menyukainya. “Whatsoever,” kemudian ia menopang dagu sambil sesekali mengaduk gelas yang hanya berisi pecahan es batu.

“Kekasihmu berada di luar jangkauanmu lagi?” tanya Kai. Kedua tangannya terlipat di atas meja, sementara sepasang matanya menatap intens pada Jean.

“Sekarang kau jadi ahli dalam menebak isi otakku.” Gadis itu balas menatap Kai.

“Jika kau membutuhkan seseorang untuk memuaskanmu malam ini, kau bisa melakukannya dengan orang lain. Fyi, pria disampingmu ini memiliki cukup stamina untuk melakukan tiga  permainan.”

Kai mencondongkan badan, bicara dengan nada yang lirih seolah sedang menggodanya. Ia juga menunjukkan keberaniannya dengan mengusap paha Jean pada celah yang tercipta di antara jarak keduanya. Jean tidak melakukan reaksi penolakan. Ia hanya perlu menunggu hingga trainee ataupun artis lain memergoki Kai tengah merayu kekasih dari Key SHINee.

“Kutemukan mobilnya bersembunyi di balik gedung apartemen Miinah,” Jean mulai bicara, “I couln’t make a call because his phone was off. I knew he was with her. Kadang beberapa kali kutangkap si mesum itu melirik hati-hati pada Miinah saat berduaan denganku,” ia menjelaskan penyebab utama yang membuat moodnya menurun hingga tak merespon setiap sentuhan yang diberikan Kai.

And then?”

“Aku ingin tahu sejauhmana mereka berdua akan bertahan.”

Bibir Kai bergerak membentuk seulas senyum. Kulit gelapnya semakin memberikan kesan seksi saat diterpa sinar oranye dari atap ruangan. Jean mengamati ciptaan Tuhan itu tanpa melewati hal-hal kecil sedikitpun. Ia cukup beruntung karena mampu menggaet Kai, the night dancer yang mengaum-ngaum seperti serigala saat berada di panggung. Anggap saja sebagai upaya balas dendam—berkaitan dengan penyelewengan Key terhadap teman satu agensinya.

“Apakah gadis-gadis sepertimu memiliki banyak kesamaan? Sepertinya kalian berdua menyukai tantangan,” tutur Kai.

“Maksudmu?”

Kai mengucapkan terima kasih saat bartender menyediakan segelas alkohol pula untuknya. “Miinah adalah kekasih Lee Taemin yang berselingkuh dengan kekasihmu sendiri. Sedangkan kau adalah kekasih Key yang berani bermain api denganku setiap kali kesempatan itu datang. Itu berarti kalian memang menyukai tantangan, bukan?”

Jean mendengus seperti Monggu, anjing peliharaan Kai. Ia hampir saja melupakan fakta lain bahwa dirinya dan Miinah memiliki titisan darah yang sama, berasal dari negara yang cukup dikenal menyimpan ratusan wanita simpanan bagi orang-orang asing dari berbagai belahan dunia.

“Aku hanya tidak mengira Miinah akan menggoda kekasihku sendiri—bukan Sungmin atau Donghae yang selalu dielu-elukannya setiap kali kita bertemu.” Hembusan napas Jean terdengar berat.

“Bagaimana jadinya jika Key mengetahui apa yang kita lakukan selama ini?”

“Anggap saja kami—aku dan Key—memiliki skor yang sama. Aku tak akan sungkan jika pria itu menangkap basah saat kita sedang berciuman. We are the good players, aren’t we? Masing-masing di antara kami memiliki teman bermain sendiri.”

Yeah, dan saat hal itu terjadi, hubungan antara dua boyband-mate agensi ini akan berakhir menjadi perang dingin.” Kai mencibir.

Jean mengulurkan tangan meraih dagu Kai, menggiring tatapan pria itu agar menemui sepasang mata cokelatnya. “Tenang saja, little kid. Key lebih menjunjung tinggi persahabatan daripada cinta. Yang kutakutkan justru saat Miinah mengetahui kehadiranmu di sisiku. Sejak kukenalkan gadis itu pada Key, kedua matanya menyorotkan napsu yang menggebu-gebu. Aku tak tahu jurus apa yang akan ia keluarkan jika kukenalkan kau padanya suatu hari nanti.”

Dengan jemari-jemari tegasnya, Kai meraih tangan Jean lantas menuntun telapak tangan gadis itu menuju wajahnya yang terasa memanas. “Jika gadis bernama Miinah itu mampu memuaskanku, akan kupertimbangkan kehadirannya dengan hati-hati.”

Jean memberikan sebuah tamparan kecil di pipi Kai sebelum melepaskan tangannya dari sana. Pahit dari anggur yang diteguknya serasa hambar karena menguap bersama emosi yang ditimbulkan oleh Kai.

Come on, darling. Jangan mengerucutkan bibirmu seperti itu,” ucap Kai, di tengah usahanya merayu Jean.

“Tidak. Terima kasih,” tolak Jean kilat lantas kembali meneguk minumannya yang ke sekian kali.

Ia sudah menelan pil yang lebih pahit dari alkohol namun kehidupannya justru lebih pahit dari ribuan pil tersebut. Pengkhianatan seolah terus mengekori setiap perjalanan cintanya. Dan saat ia bertemu Key, pria itu juga sama belangnya dengan deretan mantan-mantan kekasihnya terdahulu.

Kai tidak termasuk ke dalam hitungan. Jean menghabiskan malam-malam hampanya bersama pria itu karena keduanya memiliki kisah yang sama. Baik Jean maupun Kai bertemu atas dasar pelampiasan dan napsu belaka. Bukan atas dasar cinta—faktor itu belum berkembang di antara mereka selain rasa kagum atas tubuh masing-masing. Lagipula keduanya sama-sama tidak waras. Jean selalu asyik bermain pria dan begitu pula sebaliknya—Kai adalah mesin penggoda wanita yang mampu mengoyak-ngoyak hati siapapun yang diinginkannya.

“Kenapa kau tidak menggaet Lee Taemin sebagai aksi balas dendam?” tanya Kai.

Jean lagi-lagi mendengus. “Are you kidding me? He’s a child. Aku tidak bermain dengan pria polos dan lugu seperti dirinya.”

“Aku lebih muda dari Lee Taemin. Asal kau tahu itu, noona,” ejeknya.

“Namun kau jauh lebih dewasa darinya,” bola mata Jean bergerak liar memindai setiap sudut tubuh Kai. Dari ujung kepala hingga ujung kaki dan berhenti pada satu titik terbaik, “dalam segi apa pun,” ia berbisik.

Kai mengikuti setiap pergerakan mata Jean dan entah mengapa ia begitu menyukai bagian dimana gadis itu mengamatinya seolah ia adalah santapan lezat penutup makan malamnya. “Pantas Lee Sooman akan menjadikanmu sebagai pemimpin di grupmu. Selain pintar bicara dan berdalih, kau juga pintar menentukan pilihan.”

“Yang jelas aku akan menolak ajakan Key minggu ini untuk berkencan. Aku masih tak bisa membayangkan seandainya pria itu bercinta dengan sahabatku sendiri.”

Kai meloncat dari bangku. Saat berdiri, tubuh tingginya hampir sejajar dengan Jean—yang masih duduk manis di tempatnya. Dengan gerakan pasti, diputarnya bangku yang diduduki Jean hingga gadis itu berhadapan dengannya. Kedua kaki Jean terpisah, memberi ruang kosong bagi Kai agar pria itu dapat menggapainya lebih dekat.

You have another choice, you know.

Kai menatap manik mata Jean dengan ketajaman sekaligus hasrat yang berbaur menjadi satu. Baru beberapa menit lalu keduanya saling berbagi senyum dan tawa sederhana. Sekarang, tiba-tiba saja mereka saling menatap, diam, tegang, dan tak bernapas.

Alkohol hampir menguasai pikirannya hingga membuat dada Jean sesak karena terlalu lama menahan diri untuk tidak menggigit Kai. Bibir Jean bergetar, tak kuasa untuk menahan lebih jauh. Ia tergoda untuk menyatukan bibirnya pada bibir Kai. Terakhir kali ia berciuman adalah kemarin lusa, saat Key menyisakan sedikit waktu untuk menemuinya. Namun ekspresi yang ditimbulkan Jean terlalu nyata, terutama saat ia memandangi bibir Kai tanpa berkedip.

Kai membelai rambut Jean, menuntun sepasang tangan gadis itu untuk bertengger di bahu tegapnya. Ia ingin mengenyahkan getaran di bibir Jean dengan sebuah kecupan lembut. Namun keingintahuannya membuat pria itu tidak menyerang lebih dulu. Kai mulai menghitung hingga sejauhmana gadis itu bertahan.

Setelah benaknya mendengungkan angka sepuluh, Kai merengkuh tengkuk Jean di balik rambut panjangnya. Ia mencium gadis itu cukup kasar sebelum menyentuhkan lidahnya ke bibir Jean. Jean tersenyum di tengah kecupan yang dihujamkan Kai. Inilah salah satu hal yang tak ditemuinya dari Key. Kai tak pernah sungkan menciumnya; tindakan yang jauh lebih romantis jika dibandingkan dengan karangan bunga yang selalu kekasihnya berikan setiap minggu.

“Maaf atas kelancanganku, Jean. Kadang aku melakukannya tanpa berpikir. Itu kebiasaan burukku,” gumam Kai lirih.

Jean menggigit bibir bawahnya, menggesekkan ujung hidung mereka sebelum mengakhiri perbuatan mereka. “Permintaan maafmu kuterima,” ucapnya.

Jean meraih pergelangan tangan Kai dan mengajaknya beranjak dari tempat privasi agensi tersebut—setelah memberikan beberapa lembar uang cash untuk membayar minumannya. Pria itu terkekeh, merangkul Jean selama langkah kaki mereka tertuju pada pintu keluar.

Tawa keduanya tak berlangsung lama saat Kai melepas rangkulannya dan memaki pelan. Di hadapan mereka, seorang pria dan gadis bertubuh ramping di sampingnya, menghentikan langkah sebelum bertubrukan dengan Jean maupun Kai. Pria yang mengenakan jaket yang nyaris menutupi setengah wajahnya itu sama terkejutnya dengan Jean. Keadaan tersebut hanya bertahan selama beberapa detik sebelum pria berambut pirang di hadapan Jean memutuskan untuk bicara.

What are you doing here, Jean? With that kid?

Suara parau nan nyaring itu dikenal Jean dengan baik. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi situasi itu dengan kepala dingin. Tatapan si pria menusuk-nusuk bola mata Kai. Jean menoleh dan ia cukup lega karena pria disampingnya menghadapi sorotan itu dengan seringaian.

The same question I’d like to ask you, honey,” Jean melemparkan kembali pertanyaan pria tersebut dengan sorot amarah pada wanita di sampingnya.

Ya. Jean tak pernah menyebut pria lain dengan sebutan ‘honey’ selain pada kekasihnya sendiri, Key. Dan di sanalah pria itu berada, berdiri kokoh dengan pautan jarak dua meter darinya bersama seseorang yang tak lagi membuat Jean terkejut. Shin Miinah, sahabat sekaligus anggota dari group yang akan didebutkan agensi dibawah kepemimpinannya.

Ekspresi gadis itu hampir sama dengan Jean. Kaget, sekaligus bingung. Tatapan Jean tak lagi tertuju pada Key sejak kehadiran Miinah mengalihkan seluruh inderanya. Di sampingnya, Kai, malah merangkul tubuhnya dengan penuh napsu saat Key memancarkan laser mematikan lewat mata kucingnya. Jean membiarkan Kai melakukan apapun yang ingin dilakukannya, karena di hadapannya, Key justru menggenggam jemari Miinah dengan erat seolah tak ingin kehilangan gadis itu dari sisinya.

Saat Jean dan Miinah saling beradu pandang, bola mata Miinah berputar ke sudut matanya dan menyipit. Wajahnya lebih terkejut dibandingkan saat memergoki Jean dan Kai saling merangkul melewati pintu keluar beberapa detik lalu.

“Lee Taemin?”

Sahutan Miinah membuat Jean berpaling ke satu titik. Begitu pula dengan Key maupun Kai. Ketiganya mengikuti arah sorotan lensa mata Miinah. Tak hanya Key, Jean dan Kai pun ikut menganga begitu mendapati Lee Taemin membeku di ujung lorong bersama seorang gadis di sampingnya.

Jean dan Miinah kembali menatap satu sama lain.

Gadis disamping Taemin, yang dipeluknya mesra sejak muncul dari belokan lorong, tak lain dan tak bukan adalah anggota lain dari project group yang sama dengan Jean dan Miinah.

“Rizka?”

♥ END ♥

Thank For Your Visit Huglooms