Peterpan

Ini tidak lucu, eonni! Berhentilah menertawaiku!” Yeonra tidak senang dengan kondisi itu. Ia tidak berkata apa-apa setelah melengkingkan suaranya.

Satu per satu Yeonra memandangi tiga gadis lain—di dalam ruangan yang sama—dengan sorot mata seolah menodongkan pisau cukur tajam. Ketiganya melakukan reaksi yang sama setiap kali ia mendongengkan kembali apa yang menghiasi mimpinya semalam.

Menertawainya.

Yang lebih buruk lagi adalah: tiga gadis dengan usia yang sama itu tertawa disertai ejekan yang cukup menyayat hatinya.

Yeah. Menyayat hati. Karena mulut ketiganya lebih mematikan daripada gigitan Edward Cullen.

Come on, Yeonra. Don’t you think it’s too much? It’s just a dream, baby. A dream!” Kaki panjang gadis itu menendang bantal sofa. Menyingkirkan benda apapun yang menghalanginya sebelum ia merebahkan tubuh di sana.

“Jika kau sedang mengarang cerita, sebaiknya kau menambahkan sepasang sayap pada pria tampan yang mengintipmu berpakaian itu.”

“Dan, ubahlah pakaian kekasih gelapmu dengan rakitan daun-daun dan topi segitiga seperti layaknya Si Longlasting Kid Peterpan.”

Dua gadis lain ikut menyahuti, membuat Yeonra nyaris saja menumpahkan air mineral ke wajah para eonni di sekelilingnya.

Hidung Yeonra bergerak kembang-kempis. “Dia tidak mengintipku berpakaian, Miinah Eonni. Pria itu hanya sekedar mengamatiku dari celah tirai jendela. Dia juga bukan kekasih gelapku karena pria itu hanyalah sosok misterius yang selama beberapa hari terakhir ini muncul di mimpiku, Rizka Eonni.” Ia mulai nampak gemas. Kuku-kukunya menyesak boneka Piglet kesayangan Rizka hingga mengempis.

Pandangan mematikan Yeonra kemudian beralih pada satu eonni lain yang masih tersisa. Gadis berambut red-brown sebahu di atas sofa berusaha ia bekukan oleh laser pendingin yang dipelajari lewat kartun Power Puff Girl.

“Dan kau, Jean Eonni. Aku tahu kau memahami Bahasa Korea jadi berhentilah dengan sok mengucapkan kalimat Bahasa Inggris! Aku pusing!” tukasnya, membuat kerutan di kening Yeonra semakin tampak.

Jean malah terkekeh tak peduli. Tentu saja, tawanya berubah menjadi lantunan melody disertai nada dari tawa Miinah dan Rizka.

“Choi Yeonra, uri magnae.” Miinah melingkarkan lengan kurusnya di sekeliling leher Yeonra. “Bagaimana jika kukenalkan seorang pria imut penghuni kelas Psikologi Komunikasi? Kacamata Harry Potter-nya memang sedikit mengganggu tapi kau tahu ‘kan—pria pendiam kadang memiliki sifat terpendam yang mengejutkan.”

Yeah. Live too long with that title makes you confused about reality and fantasy,” lanjut Jean, menyambung kalimat Miinah.

Stop it, Jean. Aku tidak ingin mendengar Yeonra merengek karena ulah kalian berdua.” Rizka menengahi setelah menemukan kekusutan di wajah si paling muda.

Yeonra menyipitkan mata sembari mendengus sebal saat dua gadis abnormal itu saling melempar high five.

Single.

Titel yang dimaksud Jean memang sudah—dan masih—hinggap di kedua bahunya sejak ia diselingkuhi sang mantan empat tahun lalu. Alasan utamanya bukan karena Yeonra sulit untuk move on, bukan pula karena penyakit ‘alergi lelaki’ yang pernah diderita Rizka sebelum gadis itu menemukan tambatan hatinya yang baru.

Hanya saja, Yeonra cukup bangga dengan kesetiaan yang dimilikinya. Ia bukan seorang player. Tidak seperti Miinah atau Jean yang selalu bergonta-ganti pasangan acap kali malam minggu tiba. Bahkan minggu lalu Yeonra sempat diberi uang tutup mulut karena menemukan Miinah tengah berpelukan dengan mantan kekasih Jean, Kim Key Bum.

Rambut ekor kuda Yeonra berayun ringan saat bahunya terkulai lemas. Sepertinya ia harus mencari kawanan gadis lain yang akan menerimanya sebagai bagian dari kelompok. Bergabung bersama gadis-gadis yang lebih tua darinya ternyata membuat ia menjadi korban bullying.

Yeah. Bullying.

-o-

TEMPAT TIDUR BERLAPIS BED COVER HELLO KITTY ITU BERGERAK perlahan, menandakan bahwa sesuatu dengan beban yang melebihi kekuatan quilting menimpa benda tersebut.

Yeonra berguling seperti babi panggang disertai aduhan panjang yang tak berujung. Selain karena nilai ujian tengah semesternya tidak mencapai target, hal yang membuat Yeonra mencakar-cakar lapisan bed cover adalah akibat dari pertemuan singkatnya dengan tiga eonni teman terdekatnya.

Wajar jika ia menceritakan mimpi yang merasuki setiap malam di minggu pertama bulan Juni pada Jean karena ia tidak memiliki hal-hal lain yang patut untuk diceritakan. Yeonra tidak mungkin mengatakan pada Miinah bahwa saat ia melewati pasar buah Cuncheon kepalanya tertimpuk kulit pisang yang dilempar oleh seseorang. Tak mungkin pula ia menceritakan pada Rizka betapa malunya ia saat Guru Jang menyuruhnya mengepel lorong—hukuman yang diterimanya karena tidak mengumpulkan tugas.

Okay. Anggap saja dua cerita yang menjadi diary pribadinya itu adalah bagian kecil dari ketidakberuntungannya. Masih banyak cerita-cerita lain yang ia punya jika mereka dengan gigih mau mengorek-ngorek isi otaknya. Namun, diluar dari semua itu, Yeonra cukup tersinggung saat tiga manusia abnormal itu mengejek apa yang menjadi mimpinya.

Sejujurnya ia ingin mengklarifikasi sesuatu pada Jean, Miinah maupun Rizka.

Pertama, pria yang menghiasi mimpi Yeonra memang muncul dari jendela dan melayang-layang rendah di seisi kamarnya. Menemani malam-malam tenangnya bersama ratusan senyuman yang dilontarkan pria itu untuknya. Yang perlu digarisbawahi adalah: si pria tidak memiliki sayap.

Rambut hitamnya; kulit putih mulusnya; mata cokelatnya; wajah sempurnanya; ke semua itu cukup membuktikan bahwa pria itu sama sepertinya, manusia biasa dengan kemampuan yang tidak biasa.

Kedua, jika Rizka mengira pria itu sejenis Peterpan, Yeonra sedikit menyetujui statement konyolnya. Hanya saja si pria tampan itu tidak mengenakan celana yang dipenuhi dedaunan, topless, ataupun pakaian serba hijau dengan topi segitiga serta sepatu boots yang menutupi jari-jari kakinya.

Pria yang muncul di mimpinya mengenakan T-Shirt sederhana berwarna biru muda. Jeans hitam ketat membentuk kaki jenjangnya dan tulisan Calvin Klein di kausnya menandakan bahwa pria itu datang dari masa kini.

Tidak.

Bukan itu yang dikeluhkan Yeonra.

Ia tidak peduli dengan segala bentuk klarifikasi yang ingin ditujukan pada Jean, Miinah dan Rizka.

Yeonra hanya ingin mereka menghargai mimpinya. Mimpi itu adalah salah satu dari keberuntungan yang sangat jarang ia temui dalam kehidupannya.

Pikiran Yeonra kemudian melayang hingga ke atap kamar. Ia butuh penyegaran. Setidaknya, kehadiran seseorang yang hanya mampu membisu dan duduk di sampingnya pun sudah lebih dari cukup.

Sama seperti apa yang dilakukan pria itu di dalam mimpinya.

Di tengah suara kipas angin yang berputar-putar di sudut kamar, Yeonra mengalihkan bola mata saat hembusan angin dari jendela mengejutkan bulu kuduknya. Gadis itu mendesah berat begitu tirai biru tipis yang menjadi penghalang sinar matahari tersebut berkibar-kibar seperti bendera kebangsaan.

Berperang dengan rasa malas, gadis itu menyeret tubuhnya dengan paksa untuk menutup si ventilasi udara. Ia tidak ingin angin malam merasuki tubuhnya. Masuk angin—seperti itulah yang orang Indonesia sebutkan—adalah penyakit yang cukup merepotkan.

“Seperti apa yang kau bilang, teman-temanmu memang sedikit abnormal.”

Terperanjat, gadis itu seketika memutar tubuh saat mendengar lantunan suara dari balik punggungnya. Yeonra tidak sempat menyalakan lampu begitu tiba di kamar tercinta. Perjalanan pulang dari rumah Rizka cukup menyita waktu dan tenaganya.

Bermodalkan cahaya neon dari lampu halaman rumahnya, Yeonra mencoba untuk menerka.

Suara itu nampak maskulin. Yang berarti sosok tersebut adalah seorang pria.

Siluet tinggi yang bersembunyi di tengah bayangan lemari dan buffet bukunya menguatkan faktor pertama. Yeah, dia adalah seorang pria.

Yeonra meremas tirai biru di balik tubuhnya cukup erat saat sosok itu perlahan mendekatinya. Sebaiknya ia menghentikan kebiasaan mengoleksi film-film horror dan juga action. Saat ini pikirannya dipenuhi hal-hal aneh dan intuisi-intuisi bodohnya.

Pria itu adalah pembunuh berdarah dingin di Bloody Valentine.

Atau,

Pria itu adalah Uruk Hai pemakan bangkai di Lord of The Ring.

Dan mungkin saja,

Pria itu adalah Edward Cullen yang akan menjadikannya kekasih terakhir sepanjang usianya.

Begitu siluet tinggi itu mulai menampakkan sosok aslinya, Yeonra tertegun selama beberapa detik hingga ia lupa untuk sekedar menghela napas.

Bola mata yang berkilat kecokelatan itu masih diingat Yeonra dengan jelas.

Pria itu…

Pria yang sama, yang muncul di dalam mimpinya.

Rambut yang sama; kulit putih yang sama; wajah yang sama. Dan saat pria itu tersenyum, Yeonra bertaruh pria itu memang si bunga mimpi dengan senyum yang sama pula.

Yeonra mengamati bayangan si pria yang muncul dari bias lampu neon. Bayangan itu bergerak seiring pria itu menghampirinya. Yeonra ingin berteriak memanggil ibunya. Ia juga ingin berteriak memanggil Jean, Miinah atau pun Rizka yang sangat jauh di luar jangkauannya. Sayang sekali, pita suaranya tak mampu bergetar untuk sekedar mengucapkan kata ‘tidak’.

Pria itu kini berdiri di dalam jarak personalnya. Kepala Yeonra tiba-tiba mendadak pusing. Sepertinya ia mulai terpengaruh dengan kata-kata Jean—mengenai bagaimana ia lupa membedakan mana yang nyata dan fana.

“Perlukah kucubit pipimu—memastikan bahwa kau tidak sedang bermimpi?”

Pria itu berkata denga suaranya yang rendah.

Pusing di kepala Yeonra semakin menjadi tatkala si pria membelai halus helai rambutnya. Mendadak Yeonra mendongak menatap pria tinggi itu. Tubuhnya hanya tiga per empat dari tinggi tubuh si Peterpan—begitulah Rizka menyebut si pria. Pria itu balas menatapnya, memberikan senyuman yang mampu melelehkan seluruh syaraf dan ototnya, kemudian memberikan usapan halus di pipi Yeonra menggunakan ibu jarinya.

“Tidak. Kurasa ini sudah cukup.” Nada suara Yeonra bergetar saat menunjuk jari-jari Si Peterpan di wajahnya.

Shit! Sepertinya ia terlalu lama bergaul dengan Jean dan Miinah. Yeonra mengutuk diri sendiri saat kedua matanya tak berpaling dari bilah bibir si pria yang nampak merah merekah seperti Cherry di kulkasnya.

Pria itu kemudian menyunggingkan sebuah senyum.

Tak perlu banyak menebak, Yeonra sudah hampir mati bersandar di jendela.

“Biasanya jam berkunjungku selalu di atas jam dua belas. Sengaja kupercepat kedatanganku karena aku ingin mengatakan sesuatu, yang sangat penting.” Tutur si pria. Tiga kata terakhir diberikan penekanan yang cukup dalam olehnya.

Mulut Yeonra terbuka lalu menutup lagi saat pria itu meletakkan telunjuk di bibirnya. “Kau tidak diizinkan untuk bicara malam ini. Jadi dengarkan aku baik-baik, Choi Yeonra.”

Seolah terbius oleh setiap kata-kata Sang Peterpan, Yeonra hanya mampu menelan air liur untuk menghujani kemarau di dalam tenggorokannya. Terlalu banyak pertanyaan yang berlalu-lalang di dalam pikirannya dan si pria berhasil menelan semua itu hanya dengan sebuah sentuhan sederhana.

“Ini hanya rahasia kecil antara kita berdua. Berhentilah menceritakan ‘mimpimu’ pada Jean, Miinah maupun Rizka. Selain sia-sia, kau akan kehilanganku saat mereka mempercayai ceritamu.” Si Peterpan bergumam di wajah Yeonra, total membuat gadis itu mengeluarkan semburat merah yang terbias oleh bayangan pria tersebut.

“Tapi bagaimana—“

“Ssstt!” Pria itu memperkecil jarak di antara keduanya. Bahkan Yeonra merasa hanya jari Si Peterpan saja yang memisahkan bibirnya dan bibir si pria.

“Sudah kubilang bahwa kau tidak memiliki kuasa untuk bicara, Baby.” Imbuh pria berkulit putih mulus tersebut.

Dan saat pria tinggi itu mendekatkan tubuhnya, Yeonra mulai berpikir kotor mengenai apa yang akan dilakukan Si Peterpan selanjutnya.

Dugaannya berbuah hasil. Pria itu menciumnya setelah menarik tubuh gadis itu mendekat lebih baik padanya. Ciuman yang dilakukan pria misterius itu tidak dipenuhi napsu, sangat lembut dan penuh kasih. Seolah keduanya adalah sepasang kekasih yang terpisahkan oleh suatu kondisi yang membingungkan.

Ciuman singkat mereka hanya bertahan selama beberapa detik saja. Si Peterpan melepasnya meski sorot mata itu menunjukkan kekecewaan.

“Di duniaku, mereka memanggilku dengan nama Sehun.” Jelas si pria.

Jemari halusnya menggenggam kedua pergelangan tangan Yeonra, menggiring gadis itu untuk menjauh dari jendela.

Yeonra menatap Sehun dengan jutaan tanya yang tak mampu diungkapkan. Pria dengan senyum menawan itu membelai wajah Yeonra sekali lagi sebelum ia menjatuhkan diri ke luar jendela.

Good night.

Sapaan terakhir Sehun pada malam itu membuat Yeonra seperti gadis tolol. Ia tak mampu berpikir jernih. Tidak untuk saat ini.

Terlebih saat rambut hitam berkilau yang dimiliki Sehun berubah menjadi warna-warna pelangi yang mencolok sesaat sebelum pria itu menghilang dari jendela.

Jika memang kata-kata Sehun mengandung arti, maka ia akan menunggu keesokan hari.

Jika Peterpan bernama Sehun muncul kembali, ia akan mencoba untuk fokus sekaligus menuntut perbuatan pria itu atas ciuman yang dilakukannya barusan.

Ugh. That’s an impressive kiss from a mysterious stranger.

END

Thank For Your Visit Huglooms