EXO PLANET – Chapter 14

PADA LORONG PANJANG, DI ANTARA SEPASANG PRIA MUDA, muncul berbagai kekhawatiran yang terselip di setiap langkah mereka yang berpadu mesra. Sesekali keduanya saling mengajukan pertanyaan kecil. Mempelajari makna tersembunyi di balik raut masing-masing.

Tak ada gelak tawa di tengah kesunyian tersebut. Bangunan istimewa yang dipijak keduanyapun membuat mereka semakin canggung.

Kematian Parleemos masih menjadi bagian dari tragedi mengerikan bagi seluruh penghuni planet. Dan setelahnya, gelar castè yang disandang membuat keduanya menjadi penerus berikutnya.

Ya.

Apalagi jika bukan karena politik istana.

Baik Luhan maupun Baekh tak pernah mengira akan berurusan dengan problema tersebut dalam waktu singkat. Pertemuan dengan berbagai pengurus membuat kepala mereka hampir membusuk.

Castè hanyalah bagian kecil dari pasukan penjaga kedamaian. Ketelanjangan mereka mengenai kekuasaan dan peraturan membuat keduanya tak mampu menyerap berbagai hal yang diterimanya. Bahkan Kris dan Suho, pemimpin gugus mereka, lebih buruk lagi—buku-buku tebal di perpustakaan istana masih menjadi pekerjaan rumah mereka selama beberapa hari terakhir.

“Kudengar kau sering mendepak bokong Tao dan castè Myrath lain. Tapi kali ini kau terlihat lebih tenang.”

Baekh mengangkat kedua tangan, menggeliat seperti kuda nil di dalam lumpur.

Disampingnya, Luhan hanya menyeringai. Jangan salahkan Baekh jika pria itu nampak bosan. Tetua-tetua di pertemuan kali ini benar-benar melelahkan otot mereka. Menjaga sikap dan tata bicara bukanlah gaya Baekh. Dan pria itu telah menghabiskan separuh harinya demi pembusukkan otak oleh aturan dan tugas istana.

“Para tetua membuatku lelah, Baekh. Kau tahu,” kemudian Luhan mengubah mimiknya seperti Tetua Hobb dengan kerutan yang tegas saat penasehat istana itu menguap.

Baekh menepuk bahu Luhan, menyetujuinya. Beruntung ia memilih Luhan sebagai teman di waktu senggang. Raut wajahnya menenangkan, tidak seperti Ómorfos yang selalu menggelitik dengan sepasang telinga peri yang dimilikinya.

“Bagaimana kau mengetahuinya, fratheer?” Baekh bicara dari sisi Luhan sementara jemari rampingnya menelisik perutnya yang mulai membuncit.

“Wajah Tetua Hobb lebih menarik dibandingkan Tetua Seon. Lagipula tubuh pendeknya membuat ia semakin terlihat kerdil,” kemudian Luhan berdeham seolah menekan tawanya.

“Bukan—bukan tentang mimik wajah tetua bau itu, fratheer. Melainkan Huglooms.”

Sejenak Luhan mengerutkan bibir.

Langkahnya mendadak pelan dan hal itu diketahui oleh Baekh. Adegan itu nampak lucu karena Baekh malah merapatkan kakinya; hendak menyalin kekakuan Luhan yang masih menundukkan kepala.

“Para castè masih bertanya-tanya mengenai kemunculan Huglooms.” Lagi-lagi Baekhyun berucap.

Luhan masih mengatupkan bibir. Ia berusaha mengalihkan perhatian Baekhyun dengan menoleh pada tiap jendela yang dilaluinya. Pria dengan garis tegas di rahangnya tersebut cukup cerdas dengan terus menembakkan berbagai pertanyaan dimana jawaban-jawaban itu tak dimiliki Luhan.

“Kita mengetahuinya; bahwa hanya Kai yang mampu membawa jiwa sang Huglooms. Tak ada yang memiliki kemampuan itu selain dirinya.”

“Dan Kai telah tiada,” Luhan berucap tegas, tanpa berteriak, meski suaranya membuat Baekhyun terperanjat.

Disampingnya, Baekhyun melirik singkat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam ucapan Luhan acap kali pria itu berkilah. Seolah sesuatu tersembunyi rapat di balik jeruji benaknya.

“Kalau begitu tolong jelaskan padaku mengapa saat itu kau memanggilku dan mengajakku ke hutan millim.”

Luhan memalingkan muka. Ia memilih untuk melepas jubah castènya ketimbang melayani haus Baekhyun akan segala keingintahuannya.

“Aku tidak tahu, Baekh,” ia bergumam, nyaris tak terdengar.

“Kau tidak pernah membagi cerita apapun denganku, Luhan. Apakah karena gugus kita berbeda?”

Kali ini nada Baekhyun memelas. Ia menyerah. Ada beberapa hal dalam diri Luhan yang mengingatkannya pada Parleemos: keduanya menyukai teka-teki di dalam ucapan mereka. Dan ia yakin bukan hanya dirinya saja yang memiliki pendapat serupa.

“Berpikir dan berdiam diri untuk menyembunyikan sesuatu adalah dua hal yang sangat berbeda.”

Jawab Luhan, dan disambut oleh ocehan Baekhyun yang menguntai bersama langkah mereka pada lorong berikutnya.

“Apakah hal tersebut menyangkut mimpi burukmu?” tanya Baekhyun, masih berusaha mengorek sesuatu dari si pengendali benda.

“Sebagian, yeah.” Begitulah Luhan menjawab.

Setelah menuruni anak tangga di ujung lorong, keduanya terhenti di hadapan sebuah ruangan dengan pintu besar yang terbuka. Sepasang penjaga mengapit di tiap sisi, ujung kepalanya hampir menyentuh ukiran wajah pada daun pintu.

Tak ada nyala yang membuat ukiran tersebut lebih hidup. Wajah Parleemos meredup; bersama dengan wajah Sora, sang ratu. Ruangan istimewa tersebut kini menjadi bagian dari sejarah. Sama seperti kematian Parleemos.

Luhan mengawasi sepasang pelayan yang melewatinya. Mereka membungkuk sebelum akhirnya berpamitan. Sayup-sayup ia mendengar Baekhyun mengomentari pelayan berhidung mancung karena bokongnya yang menonjol. Namun Luhan menghiraukannya. Pikirannya meledak-ledak; mencari-cari beberapa bagian yang belum menyempurnakan potongan teka-teki tersebut.

“Aku masih tidak mengerti mengapa kau menginginkan tubuh Kai tetap di sana. Bukankah tidak baik jika mayatnya hanya dibaringkan di atas pemujaan?”

Luhan menoleh. Tak disangka jika Baekhyun benar-benar mengekorinya hingga ke dalam ruangan Parleemos.

Ya. Benar.

Di sana, di tengah ruangan, terbaring tubuh makhluk yang telah membeku sempurna. Wajah pucatnya selalu menggores luka di dalam hati Luhan. Sepasang kelopak matanya menutup sempurna, menandakan makhluk itu sedang menjalani tidurnya yang panjang.

Seorang pelayan dengan dandanan yang menor menghampiri Luhan.

Di atas pipih kayu, setangkai tulip crimson disodorkan padanya. Luhan meraihnya, kemudian meletakkan bunga tersebut di antara jemari tubuh Kai. Ia menyentuh lembut lapisan terluar mayat tersebut, merasakan dingin yang diciptakan Xiumin untuk mengawetkan tubuhnya.

Luhan mendesah.

Meski Lay telah menyembuhkan luka di pusat kehidupan tubuh Kai; meski Lay telah menghilangkan goresan di wajahnya; meski Lay telah memperbaiki patah di kaki kirinya; tak ada cara lain untuk membangkitkan yang-telah-mati.

Parleemos telah tiada. Tak ada yang mampu menolongnya.

“Tak ada seorangpun yang akan membakar tubuh Kai menjadi butiran abu. Akan kumakamkan tubuhnya di saat yang tepat.”

Kemudian Luhan dan Baekhyun meninggalkan tubuh Kai bersama tulipnya yang berubah hitam. Ia tak pernah berlama-lama di dalam ruangan tersebut. Ia belum sepenuhnya siap menemukan hal-hal lain yang mungkin saja terjadi di sana.

 

…bersambung…

 

Header 01 (Cut)