EXO PLANET “Chapter 15” (END)

CHO BERKELEJAT. JEMARINYA BERGERAK-GERAK MENJANGKAU apapun yang mampu diraihnya. Kesadarannya pulih setelah retinanya menyilaukan berbagai warna. Sebelumnya hanya putih; seperti warna saat menatap matahari di siang bolong, menyilaukan.

Ia menyentuh kain yang menutup sebagian tubuhnya. Meskipun dilapisi emas, rasanya begitu lembut menyentuh kulit, seperti marshmallow. Kehendaknya untuk menjelajah lebih jauh pun terhenti; ada sepasang gadis muda yang berdiri di ujung mata, semakin menjauh darinya.

Mereka terkejut seraya menunduk. Setelah meyakinkan Cho bahwa ia tidak akan menggigit atau menerkamnya, salah satu di antara mereka berbisik menyebut nama seseorang yang familiar sementara yang lain mendekatinya.

Cho tidak banyak menolak. Ia membiarkan gadis dengan busana yang serupa itu untuk menyentuhnya. Getaran kecil mengalir dari sentuhan gadis muda tersebut saat dirinya mengenakan sehelai kain tipis pada tubuh Cho.

Ia berbisik, menyuruh si gadis untuk tenang. Sial, ucapannya justru membuat gadis muda itu mendadak mundur. Si gadis menunduk di atas lututnya yang menekuk. Kedua tangannya saling menyatu, menunjukkan sebuah simbol yang melekat pada salah satu punggung tangannya.

Cho mengeryit.

Terakhir yang diingatnya hanyalah wajah Jay yang terbalut oleh jiwa Kai; bukan di dalam ruangan besar dengan ornamen-ornamen tua; bukan pula di atas ranjang pada yang dikelilingi bunga dengan bau bawang putih yang menyengat.

“Mengapa kau memiliki tanda itu—simbol EXO di tanganmu?” Pandangan Cho mengeras saat menatap si gadis yang masih menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Anda berada di istana, Zouis.”

Cho menghela napas.

Ia menduganya. Jawaban gadis itu telah diduganya.

Tak lama kemudian muncul gadis lain diiringi sepasang penjaga berbadan tinggi. Lapisan besi yang mengelilingi tubuh mereka saling menyentuh, menciptakan bunyi derit yang menghentak.

Cho mengedarkan pandangan saat sepasang pria dengan merah yang mendominasi warna pakaian mereka muncul dari balik para penjaga. Meskipun ia tidak menemukan benda tajam, hal itu tetap membuatnya gelisah.

“Aku tidak akan melukaimu, Huglooms.”

Tinggi, gagah, mempesona, serta gayanya yang sedikit angkuh.

Cho mengenal pria dengan suara bariton itu sebagai Kris. Rambutnya yang ditata bak penyanyi boyband itu belum juga berubah; saddlebrown dengan sentuhan warna gandum di ujungnya. Jemari tangannya tersembunyi dengan baik di balik seragam castè. Sedangkan mata hitamnya menatap intens tanpa menunjukkan pergerakan yang mencolok.

Pria dengan seragam yang sama disampingnyapun mengangguk. Yeah, tak sulit bagi Cho untuk mendeteksi Lay. Lesung di pipinya selalu menciptakan senyum yang menggoda.

Cho merelakan pria itu mendekat, merasakan sentuhan yang direntangkan Lay di sepanjang lengannya. Pria dengan kulit putihnya yang terang itu menggumam, mengalihkan perhatian Kris yang masih membusungkan dada di hadapannya.

“Bagaimana aku bisa terdampar kembali di planet ini lagi?” Tanya yang diucapkan Cho Ikha dengan suara paraunya membuat Kris menyipitkan mata. Ia melirik tegang pada Lay sementara si penyembuh menghiraukannya, membuat Kris mengusir kekakuan tersebut dengan mendeham singkat.

“Kami belum menemukan jawaban yang tepat untukmu. Kukira kau mengetahuinya,” katanya.

Cho merapatkan tubuhnya pada Lay, “Apakah Kris masih dirasuki oleh jiwa dari SHINee World?” Bisikannya mengiang di telinga si penyembuh. Ia masih tak mengerti mengapa Kris berdiri di ujung ranjangnya dan melongo seperti patung dewa apollo.

“Dia memang selalu seperti itu—berlagak seperti pria angkuh.” Jawaban Lay disertai cekikikan yang sangat kentara.

Cho kemudian mencuri pandang. Dilihatnya Kris merentangkan senyum di wajahnya. Oh, sesungguhnya itu tidak termasuk kategori sebuah senyum. Kris justru nampak sedang menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya saja.

“Ia masih tidak percaya akan sedekat ini dengan sang Huglooms,” ujar Lay lantas mengaduh karena Kris menembak setitik api pada siku lengannya.

Ketakjuban Kris akan kehadiran Cho Ikha seketika lenyap saat mendengar gaduh yang datang dari pintu. Pucat di wajah gadis itu membaik meski tak mengubah putih yang mendominasi. Sosok lain dengan seragam castè yang sama menarik Cho Ikha untuk berjengit dari pembaringannya.

Ia berlari untuk menggapainya, menjatuhkan sebuah pelukan dan membenamkan segala ketakutan dan kekeliruan di dalam benaknya. Sosok itu menerima dengan membalas pelukannya. Hingga Cho Ikha tak menyadari bahwa sosok lain di samping pria itu tengah mendumal.

Ya.

Dugaan Baekhyun akan kedatangan Cho Ikha dalam pelukannya pupus sudah. Dan yang mampu ia lakukan saat ini hanyalah menjejak lantai sekuat tenaga.

“Luhan,” Cho menyebut namanya dalam sebuah bisikan.

Si pria hanya mampu membelainya dengan senyuman. Bersama serangkaian argumen Baekhyun yang tak kunjung henti di balik punggungnya, ia tak mendengar kata lain yang diucapkan Cho Ikha. Luhan bertaruh, gadis di dalam pelukannya mungkin sedang menangis—meski pada kenyataannya Cho tak mampu melakukan hal tersebut saat ini.

“Selamat datang kembali,” ucap Luhan, menyeret gadis itu ke dalam kedamaian.

-o-

CHO IKHA MENAHAN LANGKAHNYA SETELAH MENELUSURI lorong panjang yang mengitari sisi timur istana. Ia melakukan hal itu karena Luhan memimpinnya, jauh lebih baik ketimbang harus dihadapkan oleh puluhan pasang mata yang mengganggunya.

Ia mencoba untuk mengoreksi kata-kata Luhan, bahwa ketenaran bukanlah hal penting yang didambakannya. Jangan heran; gelarnya sebagai Huglooms, sang penjaga Scutus, sang pemilik aftheurcaly, telah menjadi sorotan setiap makhluk penghuni planet. Dan pengamatan Suho setelah kesadarannya pulih merupakan cara jitu untuk meledakkan kepalanya.

Ukiran pada pintu tinggi membuat Cho mendongak. Ketika wajah yang terlukis di sana tak lagi menyala, ia akan melakukan apapun untuk memanggil jiwa Parleemos. Memohon pada Tuhan tidak membantunya untuk mendapatkan jawaban secara instan. Sedangkan saat ini pikirannya sedang kacau dan buntu.

“Ukiran itu lebih indah saat bersinar,” Cho mengangkat tangannya untuk mengusap detail seni tersebut. Tak peduli dengan sepasang pria tinggi berlapis baja yang berdiri tegap bersama tombak perunggunya.

Masih melekat di benak Cho saat kematian Leeteuk menohok kepiluannya. Sama seperti Luhan, yang tak berdaya menyaksikan adegan yang tak pantas ditonton oleh jutaan mata tersebut.

“Terlalu mudah bagi Parleemos untuk mengakhiri hidupnya. Sama sekali tidak masuk akal,” Luhan berucap lirih.

“Seandainya kita memiliki jawaban di balik pilihannya.”

Kemudian keduanya mendekam dalam keheningan.

Leeteuk memiliki kekuatan naracaz yang terpendam di dalam jiwa para prajurit Serr Juan. Dengan kata lain, pria itu memiliki segalanya. Jika karena usia yang membuat naracaz melebur bersama kekuatannya, rasanya sulit dipercaya Leeteuk akan merelakan hidupnya begitu saja. Tanpa perlawanan; di tangan salah satu pemimpin SHINee World yang kotor.

Keduanya lantas memasuki ruangan. Cho Ikha menarik ujung gaun putihnya yang terseret-seret dan berlari menuju meja persembahan dengan relik kuno di tiap sisinya, meninggalkan Luhan dengan langkah kecilnya yang bergerak konstan.

Cho Ikha bersimpuh di sana, memeluk tubuh Kai yang membeku oleh págos Xiumin. Rambut hitamnya kian memanjang, berpadu dengan warna slateblue dan turquoise yang disisir lembut oleh bulu teracuse. Cho menelusuri setiap detail pada tubuh Kai. Termasuk seragam castè yang dikenakannya saat perang terjadi.

Satu hal yang membuat Cho Ikha mengukir senyum pilunya; Kai masih mempesona meski pucat di wajahnya menajam tak bernyawa.

“Onew menusuk jantungnya,” ucap Luhan seraya mengusap lapisan terluar di dada Kai. Sepasang matanya berubah sendu. Sama sendunya seperti milik Cho Ikha. “Butuh berhari-hari bagi Lay untuk menyembuhkan luka tersebut namun Kai masih belum kembali.”

Sesuatu tentang memori tersebut membuat Luhan menunduk. Ia masih kesulitan untuk mengenyahkan adegan itu dalam pikirannya.

“Dan jiwanya tak dapat kembali lagi?”

Pertanyaan Cho menegunkan Luhan. Ia berjalan mundur untuk menyamarkan wajahnya yang mengusam, “Kau paham mengapa aku tak mengijinkan mereka membakar tubuh Kai, ‘kan?”

“Jangan katakan padaku bahwa jiwa Kai masih terperangkap di luar sana—tak mampu kembali ke  dalam wujud aslinya.”

Luhan menggeleng, “Aku bukan Parleemos, Cho Ikha. Dan aku bukan Tuhan,” ujarnya menekan ketidaksabaran pada suaranya yang selalu lembut, bahwa ia pun tak memiliki jawaban tersebut.

Mereka sejenak terdiam. Keduanya berusaha menyembunyikan kesenduan mereka dari bayang-bayang malam yang tak tertembus sinar terang dari lampu ruangan.

“Sebelumnya kukira Baekhyun tak mampu menyadarkanmu,” Luhan berucap cukup nyaring hingga membangunkan perhatian pyrvoa39 yang mengintip dari jendela. “Kau terbaring cukup lama dan ia selalu membagikan cahayanya padamu.”

Seringaian Cho terpendam di balik bayangannya.

Luhan benar. Sejak kesadarannya di awal hari, ia sama sekali tak melakukan komunikasi dengan si pengendali cahaya. Perhatian para castè kala itu membuatnya risih. Belum lagi saat salah satu makhluk kerdil yang disebut Luhan sebagai ‘tetua’ memberikan kunjungan singkat yang membosankan.

“Bagaimana kau bisa menemukanku?” tanya Cho tanpa mengalihkan diri dari tubuh mati Kai. Tidak sulit baginya untuk mengetahui informasi tersebut; Lay cukup antusias menceritakan penemuan tubuh telanjangnya di hutan millim.

“Bagaimana kau bisa kembali ke planet ini?” Luhan melemparkan pertanyaan lain dan disuguhkan dengus menyebalkan dari Cho Ikha.

“Jawab aku. Dan aku akan menjawab pertanyaanmu setelah itu,” ia memberikan sebuah penawaran.

Luhan terdiam untuk berpikir. Bibirnya memagut seperti ikan kembung. Tak perlu berlama-lama, pria itu kemudian mendekat untuk menyentuh jemari Kai. “Mimpi adalah sebuah malapetaka. Begitulah yang diyakini planet kami. Fakta lainnya adalah, mimpi hanya datang pada mereka yang akan mati.”

“Lalu?”

Pria itu menoleh, mengagumi keingintahuan Cho Ikha yang terpancar dari pertanyaan singkatnya. “Suatu malam seberkas bayangan hitam muncul dan menuntunku.” Ia memberi jeda sementara gadis itu menyorotinya. “Adegan singkat itu terus berlangsung selama beberapa hari. Hal itu membuatku takut. Kau tahu? Aku belum siap untuk mati.”

Kemudian Cho terkekeh. Tawa yang sopan, bukan tawa yang menggelikan.

“Kutanyakan hal itu pada salah satu tetua istana. Dia menyebutkan bahwa mimpi tak selamanya merupakan sebuah petaka. Kemudian kuputar otak hingga kepalaku sakit. Bodohnya aku menyadari makna tersebut setelah satu minggu berlalu.”

Luhan menunduk, kembali memberikan sentuhan lembutnya pada lengan Kai. “Yang-telah-mati memberiku sebuah pesan, Cho Ikha. Kai menuntunku untuk menjemputmu di hutan millim,” gumamnya.

“Aku masih tidak mengerti, Luhan.” Kerutan di wajah Cho Ikha mengukir tegas, menguras otaknya untuk menemukan memori yang ia cari. “Terakhir kali kuingat, Kai mencoba untuk menempati tubuh seseorang. Aku tak mampu mengingat apapun kecuali sinar terang yang menarik jiwaku ke planet ini—lagi.”

“Apa?”

Suara Luhan tidak terdengar keras namun mengejutkan. Ia nampak sedikit bodoh dengan tampangnya yang mengesankan kebingungan. Cho mendongak, memberikan perhatian penuh padanya.

“Jiwanya muncul di duniaku tapi aku tak bisa mendeteksi keberadaannya di sini. Mataku selalu berfungsi baik di bumi sedangkan di sini aku hanya mampu mengamati dari jarak jauh. Ia juga menyebutkan bahwa tubuhnya telah mati,” kemudian gadis itu menceritakan secara gamblang atas kemunculan roh Kai hingga perjalanannya dalam merasuki tubuh pria bernama Jay.

Luhan mengitari meja pemujaan lantas mencengkeram lengan Cho kuat-kuat. “Mengapa kau tidak mengatakannya padaku sejak awal?” Ia mendesis di ujung lidah. Temaram yang menelisik wajah membuat rahangnya semakin tegas menahan amarah.

“Aku mencoba untuk lebih waspada, Luhan. Setelah perang itu, tidak mudah bagiku untuk memercayai siapapun.”

“Begitu pula denganku!”

Suaranya meninggi. Luhan memandang ke kiri dan ke kanan, sadar bahwa vas bunga dan hiasan dinding kini melayang tak terkendali. “Kusembunyikan mimpi ini dari siapa pun karena aku tak ingin penyihir mallum menggapai tubuhnya,” ucapnya seraya meletakkan kembali benda-benda yang melayang oleh kekuatan amarahnya.

“Siapa dia?” Tatapan Cho Ikha membeku bersama ucapannya.

Tidak. Sesungguhnya ia tidak ingin mendengar nama itu sementara teka-teki lain masih menunggu untuk terungkap. Baginya, penyihir memiliki makna mistis yang menyengat. Dan kekuatannya menolak kehadiran jenis makhluk tersebut.

Dia yang membangkitkan tulang-tulang SHINee dan dia masih menjadi buronan. Hal terpenting saat ini adalah menemukan cara untuk membangkitkan Kai,” kata Luhan kemudian merenung.

“Lalu dimana aftheurcaly?” Cho masih menempatkan diri di antara Luhan dan Kai. Si telekinesis mematung di tempatnya, mirip seperti singgasana kerajaan yang berdebu dan usang.

“Tak ada yang mampu menyentuhnya setelah lastragha yang kau berikan padakuCh.11. Pedangmu masih di lapangan stadium, dilindungi oleh corion dan sharon.” Kemudian Luhan menciptakan langkah kecil di sekitar ruangan.

Sepasang bilah kayu yang melekat pada dinding bertirai memancing perhatiannya. Luhan sempat memandang cukup lama, memicu daya tarik Cho Ikha untuk melakukan hal yang sama. Sepasang bilah itu saling menyatu dengan gembok berukir lambang EXO yang mengait diantara kedua sisinya.

“Kau tahu benda ini bukan?” tanya Cho, menggerakkan dagunya hingga sejajar dengan cermin besar di balik kayu bertirai.

Yeah. Parleemos sempat menunjukkannya padaku. Tentu saja, dengan kalimat-kalimat yang tak kumengerti,” ucap Luhan frustrasi.

Luhan mengawasi dengan bibir yang bergumam. Tapak kakinya menjejaki beberapa anak tangga kecil menuju kayu bertirai. Pria itu menghampiri, menyentuh gembok dan membisikkan kata tertentu sebagai kode rahasia.

“Cermin ini adalah sejenis buku bagi para pemimpin planet. Sman, Kogta, Aric, dan Leeteuk, sang Parleemos terakhir. Hanya mereka yang mengetahui akses dari berbagai rahasia planet yang tersembunyi di dalamnya. Sedangkan saat ini, tak ada pemimpin terpilih untuk menggantikan Parleemos,” jelasnya.

Benar.

EXO, yang terdiri dari dua gugus besar—Krypth dan Myrath, dipimpin oleh ketua castè yang berbeda. Pemungutan suara sementara pada pertemuan besar bersama para tetua memilih Suho sebagai pengganti. Jangan tanya mengapa, setiap kandidat menimbulkan kecemburuan sosial dan pertentangan. Bahkan ketika nama Kris, Luhan maupun Kai disebut-sebut dalam pertemuan.

Luhan meraih gagang kayu, menariknya keluar dan menunjukkan cermin besar berbingkai emas serta dikelilingi pahatan binatang melata berkepala tiga yang melingkar-lingkar. Ia berdiri di sana sesaat, memerhatikan lekuk tubuhnya.

Pria itu meremas rambutnya gusar. Ia semakin frustasi.

Tak ada yang berubah dari pantulan tubuhnya.

Tak ada kejutan yang ia harapkan.

“Ada sesuatu yang menarik perhatianku pada cermin ini. Seolah-olah benda ini menyimpan bagian dari teka-teki yang masih merenggut tidur lelapku,” ucap Luhan seraya menyentuh lapisan cermin. Sekali lagi, ia mendapatkan kekecewaan lain. Meski berbagai kalimat kuno telah dibisikkan, benda itu hanya menampakkan pantulan tubuhnya yang mengurus.

Luhan hanya mampu mendesah.

“Mungkin memang tak ada jawaban di sana,” Suaranya terdengar menyerah. “Jika minggu esok aku masih tak menemukan cara untuk membangkitkan Kai, kuputuskan untuk membakar tubuhnya di malam pembasuhan Uro.”

Lantas tanpa suara Luhan meninggalkan Cho Ikha di sana seorang diri.

-o-

PARLEEMOS MUNCUL DI BENAKNYA. KILASAN PERISTIWA dan adegan-adegan singkat bersamanya saling menghentak ingatan Cho Ikha. Perasaannya jatuh di ambang keputus-asaan. Menggali berbagai hal kecil yang, mungkin saja, terlewatkan untuk ditelisik. Ia ingin menyerah namun ia tak mengetahui pula cara lain untuk kembali ke dunianya. Maka Cho Ikha mendekam di dalam ruangan Leeteuk hingga langit gelap mulai menerang, membiarkan para pyrvoa merayunya dari balik jendela.

Beberapa kali Cho Ikha mendengar penjaga berlapis baja membentak nyaring. Sepertinya Luhan sengaja mengasingkannya tanpa gangguan dari makhluk lain. Terdengar bagus, saat ini ia memang butuh kesendirian.

Tidak ada suara setelah itu, bahkan suara napasnya sekalipun—karena Cho tidak benar-benar bernapas. Kemudian ia berpaling menuju cermin agung, memungut lemah yang dirasakannya akibat corion Baekhyun yang mulai meredup di dalam tubuh.

“Jika kau memberi petunjuk pada Luhan, mengapa saat itu kau menyuruhku untuk menatap cermin ini dan—sial!

Kepala Cho Ikha mengetuk-ngetuk cermin hingga mendengung di telinga. Seketika adegan istimewa itu merangkum jawaban dari tanya yang menghantuinya. Ia memaki dalam lirih, menyentuh permukaan cermin untuk menatap wajah pucatnya.

“Mengapa kau tidak memberitahuku lebih jelas, Parleemos?” tanya Cho pada bayangannya sendiri.

Pertemuannya dengan Leeteuk di tempat iniCh.9 ternyata memiliki sebuah tujuan. Malamnya yang ia lalui hanya untuk berpikir dan merenung seketika membuahkan hasil yang baik. Cho Ikha kemudian berusaha bangkit dari lemah yang menggerogoti. Rambut hitamnya yang panjang terurai lurus, makin menunjukkan pucat di wajahnya.

“Aku… ingin melihat wajahku yang sesungguhnya.”

Cho bergerak mundur setelah mengucapkan kalimat sederhana tersebut. Cermin agung seraya mengeluarkan riak tipis dari sekeliling bingkai emas. Gerakan air yang melapisi permukaan cermin saling membentuk pusaran. Cho menyentuhnya, menciptakan percikan kecil di ujung gaunnya.

Ia menilik pusaran air yang menenang. Ada sebuah bayangan dari pantulan permukaannya. Cho tidak begitu yakin tetapi sekelebat adegan itu cukup menarik perhatian. Sekelompok pria saling membunuh dengan tombak dan pedang berlapis perak mereka. Dan di antara pria-pria besar itu, Leeteuk tengah menebaskan senjatanya pada pria lain dengan seragam yang berbeda.

Pusaran air bergerak lambat, menimbulkan bayangan lain yang saling berkerumun; pernikahan Parleemos dengan Sora, kelahiran para castè, tindakan aneh Parleemos saat ia menghentikan perbincangan mereka akibat visualisasi masa depan yang diperolehnya, hingga bayangan gelap atas tawa Lee Taemin yang membara bersama api-api—melahap EXO dan planet lain di tata surya.

Pantulan menyedihkan terakhir kemudian pupus, digantikan oleh sosok Parleemos bersama jubah kepemimpinannya yang didominasi oleh warna putih.

Cho memandanginya. Meski riak air membuat pantulan tubuh Leeteuk berayun-ayun mengikuti gerakan tersebut, ia masih mampu menemukan seberkas senyum yang didambanya.

“Rupanya kau muncul, Parleemos,” ucapnya sementara ia berusaha untuk menyentuh cermin lebih dalam.

“Ini hanya rekaman saja, Cho Ikha.”

Gadis itu menyeringai, “Lalu bagaimana kau menjelaskan senyummu dan jawabanmu itu?”

Ia menangkap sepasang lengan Leeteuk tersembunyi di balik tubuhnya. Pria itu hanya memberikan senyuman singkat. Mata hijaunya tersamarkan, lebih sipit namun tetap jernih dan menenangkan.

Cho lantas mencibir; sangat mengerti dengan pengertian tersebut.

“Kau tahu bahwa aku dapat membuka cermin agung para pemimpin planet ini, karena itu kau—maksudku, rekamanmu muncul,” ujarnya meninggikan suara untuk mengungguli suara riak dari air di cermin agung.

“Sejak kapan kau suka berbasa-basi, Cho Ikha. Bukankah kau ingin si pemindah materi itu kembali?”

Sosok Leeteuk menggeser ke samping, diikuti oleh pergerakan tubuh Cho Ikha yang memutar, menghadap meja pemujaan tepat di balik punggungnya. Pada tirai cermin yang nyaris terbuka sepenuhnya, Cho kembali melemah saat disajikan oleh mayat Kai yang mengeras.

“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan meski sayangnya kau akan membatasi setiap jawaban yang kau ketahui.” Cho kembali berhadapan dengan pantulan Leeteuk. Kebutuhan akan segala keingintahuannya begitu mendesak hingga membuatnya tercekat. “Termasuk caraku untuk kembali,” imbuhnya.

Leeteuk berdiri tanpa melakukan gerakan yang mencolok. Ia mendengarkan meski agak menghiraukan. “Kau pernah bertanya padaku mengenai visualisasi apa yang kulihat jika Kai tidak membawamu kemari,” kemudian Cho mengingat pertemuan pertama dengannyaCh.3. “Dan kau telah mendapatkan jawabannya beberapa detik lalu.”

Cho terhenyak. Jadi, pantulan yang ditimbulkan cermin agung atas kelakuan Lee Taemin dan kawan-kawan yang membabi-buta adalah bentuk dari ketiadaan rasa tanggung-jawab atas aturan tata surya.

Tuhan menggariskan SHINee World menghancurkan bumi dan planet lain jika Kai tidak membawanya kemari.

“Aku belum berbincang lebih banyak dengan castè lain namun dari cara Luhan bicara, kurasa mereka tengah kehilangan arah. Kematianmu, kematian Kai, kemunculanku yang sangat tiba-tiba,” Cho menelan liurnya yang mengering. “Mereka butuh petunjuk, Parleemos. Begitu pula denganku.”

“Mereka tak akan menjadi pemimpin sejati jika terus berpaku padaku, Cho Ikha. Ada kalanya mereka harus memilih yang buruk untuk belajar menjadi lebih bijaksana.” Selagi Leeteuk bicara, jemarinya saling meremas-remas di dada. “Dan aku bukan Tuhan,” kemudian senyumnya mempermudah Cho Ikha untuk menenangkan diri.

“Kau benar,” gadis itu mengangguk pelan menyembunyikan wajahnya. “Kau selalu benar.”

“Seiring dengan waktu, kau akan mendapatkan jawaban-jawaban itu. Bersabarlah,” ucap Leeteuk. Suaranya meredam di balik pantulan cermin.

“Cerita ini tidak akan berakhir hampa, bukan?”

Dilihatnya Leeteuk menggedikkan bahu. “Tergantung. Segi pandang tiap orang berbeda-beda. Bukan begitu?”

Cho meraih helai rambutnya yang tertiup angin dari sela jendela. Ia berbalik, kembali memandangi tubuh Kai yang terbaring indah di sana.

“Bisakah kau menjawab pertanyaanku lagi?”  Gadis itu berbisik di dalam hati perihal jiwanya yang terdampar di hutan millim. Tak perlu bersusah-payah dalam berucap, ia meyakini bahwa Leeteuk mengetahui apa yang ingin diketahuinya.

“Aku tak tahu jawaban yang pasti mengenai hal itu. Namun teori sementara yang kuyakini adalah ada semacam koneksi antara jiwamu dan jiwa Kai. Ketika ia tak mampu mengendalikan tubuh manusia dan mencoba untuk kembali, tak sengaja kekuatannya menyeretmu bersamanya. Tidak masuk akal bukan?”

Cho berusaha menekan tawa pertamanya yang akan dihias hari itu. Ada sedikit geli dari ucapan Leeteuk. Ternyata tak seburuk yang ia bayangkan. “Tak apa. Aku sudah terbiasa mendengar hal-hal yang tidak masuk akal,” ucapnya.

“Apa kau suka membaca buku?”

“Aku lebih suka duduk santai di depan komputerku—menonton video di youtube atau berinteraksi dengan dunia maya.” Cho menyipitkan mata, merasakan sebuah perangkap. “Kau akan menyuruhku untuk membaca buku?” Lengannya terlipat di dada, jelas tak menyukainya jika Leeteuk menjawab ya.

Pria itu menggeleng antusias tanpa menunjukkan telapak tangannya yang memucat. “Tidak. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku menyukai cerita puteri salju.”

Cho memalingkan wajahnya tak percaya. “Kau menyukai puteri salju atau kurcaci-kurcaci jelek itu?”

Kikik tawa Cho Ikha dibalas oleh senyuman ringan di wajah Leeteuk. Ia hendak mengucapkan kata lain hingga derap langkah yang cukup berat di kejauhan menembus penjaga dan pintu ruangan.

“Kau bicara seorang diri, Cho Ikha?”

Suaranya lembut namun berbeda dengan Luhan. Perawakannya terlihat kecil meski kulit putih terangnya mampu menembus tirai yang menghalangi pandangan Cho Ikha. Sosok itu berjalan dengan tempo yang cepat, mengawasinya di antara meja pemujaan dan tempatnya berpijak.

Oh, Baekhyun. Tidak, tentu saja tidak. Parleemos—“

Ucapan gadis itu terhenti kala menemukan cermin agung memantulkan tubuhnya. Sekilas ia memandang Baekhyun dan cermin tersebut secara bergantian. Tak ada sosok Parleemos, hanya sosok seorang gadis dengan gaun yang sama pucat dengannya.

Baekhyun menggeleng, mengayunkan poni rambut sebatas alisnya. “Luhan cukup mengkhawatirkanku karena membiarkanmu di tempat mencekam ini,” Ia menelusuri tiap sudut ruangan dengan menunjukkan raut mukanya yang tidak baik. “Para castè menunggumu dan kau butuh pengisian energi, segera.” ucapnya dengan penekanan penuh pada kata terakhir.

“Aku akan segera menyusul. Beri aku beberapa menit saja.” Cho menjangkau Baekhyun setelah menuruni beberapa anak tangga, memberinya sentuhan lembut di lengan dan membuat pria itu berubah kikuk.

Baekhyun lantas beranjak pergi bersama rona merah di wajahnya yang sengaja ia sembunyikan oleh kedua telapak tangan. Cho tak pernah tahu sebesar apa Baekhyun mengidolakannya. Ia hanya sedikit khawatir; semoga pria itu bukan tipe penggila yang senantiasa mengorbankan hidupnya demi menelisik kehidupan pribadinya.

Yakin Baekhyun telah meninggalkan ruangan, Cho merentangkan tangan dan kembali menyebut kata ajaib. Gadis itu kecewa setelahnya; cermin agung tak menunjukkan perubahan yang semula ia temukan. Ia terus mengulang hingga bibirnya mengering. Sayangnya tak ada riak air, tak ada pantulan sosok Parleemos.

Ia lantas menyerah.

Bersama gaunnya yang terseret-seret, ia berjalan gontai menuju meja pemujaan. Dari sela pintu yang terbuka, sayup-sayup ia mendengar dentuman musik daerah dengan instrumen yang aneh di telinga. Cho menunduk, menyentuhkan dadanya pada tubuh Kai yang membeku sempurna.

“Kuharap kau bersamaku saat ini. Aku tak layak untuk tinggal di tempat ini, Kai.”

Cho mengulurkan jemarinya, menelusuri tiap kelembutan dari kulit tubuh Kai yang masih tersisa. Ia memikirkan kenyamanan yang dirasakannya saat pria itu memeluknya, atau saat si pengalih materi itu hanya sekedar menyentuh lengannya.

Ia mendesah, menyadari dengan pasti bahwa ia mencintai Kai.

Cho semakin menunduk, menciptakan sebuah ciuman yang begitu dalam hingga membuat perasaannya sakit. Bibirnya bergetar, membungkam kata-katanya di dalam tenggorokan. Cho hanya mampu menatap sepasang mata Kai yang terkatup rapat kemudian menciumnya lagi dengan kelembutan yang sama.

“Kembalilah,” ia berbisik mesra.

Cho sama sekali tak memahami apa yang terjadi setelah itu. Ia mengerjap saat sebongkah cahaya bersinar mengubah semua warna menjadi putih terang. Bahkan ia tak menyadari tubuhnya melayang hingga membentur cermin agung, jatuh berdebam bersama kepingan kaca yang tajam dan kasar.

Ia mengedarkan pandangan meski sepasang matanya mengabur. Tubuhnya yang melemah tak membantunya untuk berdiri. Dengan kekuatan penglihatan yang tersisa, ia menemukan reruntuhan dinding merusak politur dan perabot kamar yang mengilat. Ia mengerang, merasakan sesuatu yang menusuk-nusuk tubuhnya.

Sepasang lengan kekar menyentuhnya. Tidak banyak berkata, hanya mendekapnya dalam pelukan. Cho menggali kesadarannya dengan segala upaya. Ia tak menemukan tubuh Kai di atas pemujaan. Justru ia menemukan sesosok pria dengan ujung rambutnya yang berayun membelai-belai wajahnya.

Ia mengenal wajah itu.

Ia mengenal senyum itu.

“Aku tak pernah tahu jika cerita puteri salju adalah mengenai ciuman kecil yang kau berikan padaku,” ucapnya. Sosok itu mendekat untuk meletakkan jemari di wajah Cho.

Sepasang mata gadis itu bergerak lambat. “Kau,”

“Di ruangan Leeteuk, bersamamu.” Ia berdiri kemudian menunduk rendah di atas meja pemujaan, meletakkan tubuh rapuh Cho dengan hati-hati. Partikel nomenós berkeliaran di sekeliling tubuhnya. Kadang bergerak beriringan bersama rambutnya yang panjang.

“Katakan padaku bahwa ini tidak nyata, Kai.” Terselip ragu dalam ucapan Cho saat ia menyebut nama tersebut.

“Semua ini nyata, dan aku nyata.” Kai berbisik di telinganya, menggesekkan sentuhan lembut pada wajah Cho untuk membagikan kehangatan yang baru saja dimilikinya.

Cho membuka mata. Cahaya tak lagi menyakiti matanya. Di hadapannya, Kai tengah mendekapnya, menyelipkan tulip hitam di tangannya yang kemudian berubah merah muda. Pria itu membisikkan kata-kata manis seraya mencium bibirnya lembut. Hingga ia menyadari teriakan Baekhyun menghentak kesadarannya.

Si pengendali cahaya itu histeris, menyuruh penjaga memanggil Lay dan castè lain. Sementara ia sendiri berlari untuk memeluk Kai. Tangisnya pecah, terisak-isak seperti bayi. Kemudian ia beralih pada Cho Ikha dan membagikan corion di dalam tubuhnya.

Kai bangkit kembali. Mereka hanya butuh waktu untuk menemukan jawaban lain atas teka-teki yang menggiling otak mereka menjadi potongan kecil.

Hari masih berlalu.

Petualangan baru sedang menanti mereka.

¨ Selesai ¨

Header 01 (Cut)