Sabina Mara: The Violet Mermaid “Chapter 03”

MESKI CAHAYA MENTARI PAGI INI MENEMBUS KATUP MATANYA sejak separuh waktu lalu, Sabina masih tetap di sana; di dalam tub bersama air laut yang menyelubungi tubuhnya.

Ia tak peduli saat sepasang wanita dengan pakaian pesuruh istana memasuki ruangan. Ini bukan tempatnya dan mereka tak perlu meminta izin darinya. Sayup-sayup ia mendengar salah satu di antara wanita pesuruh membisikkan sesuatu—mengira bahwa Sabina adalah sebongkah patung berlumut yang terendam air. Dan saat ia dengan sengaja menciptakan riak kecil, keduanya terkejut menimbulkan suara ringkih kuda yang memekik telinganya.

Sabina menghela napas. Kepalanya yang menyembul mendadak berkedut nyeri. Ia selalu merasakan sensasi itu tiap kali terlalu lama menghirup udara daratan: tubuhnya bergetar karena lemah dan ekornya berubah keabu-abuan. Ia tak memiliki pilihan lain saat ini. Untuk menemukan Sviesa, ia membutuhkan kekuatan dan hal itu dimulai dari tub sempit selebar tubuhnya.

“Kau masih berdiam diri di sana?”

Suara itu seketika mengejutkan Sabina. Ekornya mengepak seperti sayap Arklys, memercik air, membasahi ujung sepatu Hyukjae yang muncul tanpa terdeteksi oleh inderanya.

“Nyaris saja kau membunuhku, Lee Hyukjae,” Sabina berucap seperti desis ular. Sambil menyisir rambutnya yang basah, ia melihat si pria tercenung. Antara rasa bersalah karena keterkejutan Sabina dan jengkel akibat lantainya yang becek.

“Asal kau tahu, terlalu banyak berpikir akan membuatmu bodoh,” Hyukjae membungkuk untuk menyeka sepatunya. Ia baru menyadari bahwa wanita yang menghuni ruangannya tadi malam sama sekali tak menyentuh ranjangnya.

Sabina masih di tempatnya, mengamati setiap gerakan kecil yang Hyukjae tunjukkan. “Sudah kuputuskan dalam semalam,” ia meraih handuk yang tersampir di samping tub, meremas-remas rambutnya yang basah dan lembab, “aku membutuhkan pertolongan Leeteuk dengan menceritakan apa yang terjadi sebelum aku berubah pikiran.”

“Upacara andoeva akan dilaksanakan sebentar lagi. Kurasa kesempatanmu untuk bertemu Leeteuk tak akan datang hingga esok hari,” Hyukjae menjawab singkat.

Dari ucapan Hyukjae yang tegas tanpa ketus yang berlebihan itu, Sabina menarik kesimpulan bahwa pria itu tidak menyukai makna tersebut. Yang ia ketahui, andoeva adalah upacara penyerahan penjaga wilayah kepada Pemimpin Dunia yang berpusat di kota Shinki; tepat berada di titik pertemuan keempat kerajaan. Ia mengetahuinya dari Suho, penguasa Utara, saat mereka mendapatkan surat perintah tersebut bulan lalu.

“Kau tidak dikirim ke sana untuk menjadi bagian dari kemiliteran Donbang bukan?”

Hyukjae mengerjap, terkejut atas ucapan Sabina barusan. Keduanya terdiam cukup lama, saling membaca pikiran mereka yang tak mampu terjamah. “Cukup banyak—Hangeng, Sungmin, Kangin, dan Kibum. Aku masih tak mengerti mengapa Leeteuk memutuskan untuk mengirim mereka,” kemudian ia menunduk seolah menyimpan beban di dalam kepalanya.

Katup mata Hyukjae yang semakin sayu membuat Sabina kesulitan untuk menatap Hyukjae. Ia tidak menyukai garis-garis hitam yang membuat wajah pria itu mengusut. Ia tidak menyukai kegalauan yang mengusik cara Hyukjae bicara.

“Sabina,”

Duyung itu menyahut sapaan Hyukjae dengan berdeham.

Hyukjae menghampirinya, sedikit menunduk dengan bertumpu pada lututnya yang bersentuhan dengan lantai yang basah. “Aku tidak bermaksud untuk menggertakmu. Hanya saja, kemunculanmu di tengah kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini membuatku bingung,” kemudian ia berpaling untuk menghindari tatapan Sabina yang berlebihan, “Leeteuk telah meyakinkanku bahwa kau adalah satu di antara hal-hal lain yang tak perlu kukhawatirkan. Meski masih kutanyakan pada diriku sendiri mengapa kubawa dirimu kemari saat itu.”

Ada sesuatu yang mengusik pikiran Hyukjae. Ia terlihat kehilangan arah, fokusnya terbilah saat bicara. “Sekalipun kau tak menyelamatkanku, aku akan tetap berusaha untuk mencapai pemimpin penguasa terdekat,” kemudian Sabina menunduk saat kilatan penyerangan yang menyakitkan itu kembali mengoyak perasaannya. “dan tubuhku terdampar di wilayahmu, yang berarti bahwa kita akan tetap saling bertemu.”

Hyukjae tersenyum. Senyum pertama yang ditemukan Sabina hari ini.

“Bersiaplah, jika kau tak ingin melewatkan perayaan tersebut,” ucap Hyukjae seraya menyambar jubah merah tua yang telah disiapkan pelayan dengan simbol Super Junior yang tersemat di bagian dadanya.

Di balik tubuhnya, Sabina membisu. Yang terbaik baginya saat ini adalah menerima ajakan Hyukjae tanpa menyela. Andoeva hanya diketahui oleh tiap generasi pemimpin dan petinggi istana terpilih. Bukan publik maupun seekor duyung seperti dirinya.


JALAN YANG MEMBENTUK JEMBATAN PANJANG dan berliku membawa Sabina ke gedung lain. Masih pada tempat yang sama; masih pada bukit terjal yang sama. Melewati terowongan pada salah satu air terjun yang menghimpit istana, pun diiringi sepasang penjaga dengan baja yang menyelubungi lengan mereka, Sabina membentuk langkah berirama bersama hentak dari ujung tombak sang penjaga.

Dinding bukit yang menyatu dengan sisi jembatan tiba-tiba mengingatkannya pada Sviesa. Saat itu keduanya tengah melintasi jembatan di dalam laut bonito untuk berburu duyung liar yang mencuri di gudang mereka. Hingga akhirnya patung sepasang pria pembawa penyu di tiap sisi jembatan menghentikan mereka untuk bergerak lebih dalam. Itulah saat pertama kali ia mengetahui letak istana Kerajaan Utara. Dan ingatan itu membuatnya merindukan Sviesa.

Langkah mereka terhenti setelah melewati lembah di antara bukit. Di hadapan mereka kini hanya ada sepasang pintu dari kayu balsa. Tingginya hampir sama dengan lima penjaga yang saling berderet. Karena keamanan yang tinggi, ia diharuskan untuk menjawab beberapa hal yang dilontarkan penjaga lain dari kotak kecil yang melekat pada daun pintu. Setelah mendengar pintu tersebut menderu, barulah ia sadar bahwa ia telah lulus.

Sepasang penjaga yang mengapitnya menyuruh Sabina untuk mengikuti arah panah biru di lantai. Ia menurut dengan mendaki anak-anak tangga yang membawanya pada sebuah alun-alun raksasa. Sabina kemudian memandang takjub. Di sana, di pusat alun-alun yang dilapisi rumput hijau nan segar, ia menemukan sebuah formasi manusia. Keempat pria dengan pakaian penguasa Timur duduk di atas lutut masing-masing. Saling menunduk, seseorang dengan ponco dan tudung putih yang terang menyentuh kepala mereka satu per satu. Tak ada suara selain kata-kata kuno yang dikumandangkan si pria berponco—dimana Sabina sama sekali tak memahaminya.

Sabina hendak mencapai mereka hingga sesuatu menghentikan niatnya. Bukan karena ia menemukan Leeteuk berdiri rapi bersama penguasa Timur lain di balik para lelaki persembahan andoeva. Melainkan formasi empat penjuru yang menyilaukan matanya dengan warna-warna mereka yang berbeda. Ini kali pertama ia melihat pearl-blue dari penguasa Barat, SHINee, tapi tidak untuk warna merah muda dan perak dari penguasa Selatan dan Utara.

Mendadak jantung Sabina berdebar hebat. Getar di tubuhnya merambat hingga ke ujung kaki, membuatnya kesulitan untuk menghirup udara. Sabina melangkah mundur, memutar arah untuk kembali. Ia tak perlu mencari tahu siapa-siapa saja dari penguasa Utara yang datang pada upacara andoeva ini. Ia tak ingin kehadirannya diketahui oleh mereka.

“Hei, kau.”

Suara itu berdering dari arah lain, membuat Sabina semakin menunduk menyembunyikan wajahnya. Itu suara seorang wanita. Dan dari caranya bicara, wanita itu bukanlah penjaga maupun pengurus istana yang mengenalnya.

“Tak ada seorangpun yang berani menghadiri andoeva di tengah upacara.”

Suara itu mendekat. Sabina bahkan mampu melihat ujung gaun linen yang ditenun oleh sutera dan emas di bawah matanya. Warna merah muda yang lembut dari gaun si wanita semakin menggetarkan tubuhnya. Warna dari sosok itu bukanlah pertanda penduduk Timur, bukan pula dimiliki oleh para penguasa Timur.

“Pakaianmu terlalu indah untuk dijadikan seragam pesuruh maupun pelayan istana. Tunjukkan padaku bahwa kau memang layak untuk menjadi bagian dari upacara andoeva,” lagi-lagi wanita itu berujar.

Sabina mengeratkan helai-helai rambutnya saat wanita itu hendak menyentuhnya. Ia tak ingin wanita itu mencurigainya jika ia memberikan penolakan.

“Dia pelayanku, jadi pergilah dan jangan membuat kericuhan dengan suara lengkingmu yang menakutkan.”

Setelah suara yang lebih maskulin tersebut mengakhiri ucapannya, Sabina merasakan cengkeraman kuat di bahunya. Jari-jari berotot itu mendorong tubuhnya hingga jatuh berlutut. Penuh paksaan, kasar dan menyakitkan, Sabina bahkan nyaris memberontak jika saja wanita dari penguasa Selatan tersebut tidak berada di sana.

“Sejak kapan kau memiliki pelayan pribadi?”

“Sejak kau selalu menggangguku. Sekarang pergilah atau aku akan memaksa penjaga untuk menyeretmu.”

“Jangan mendikteku, Lee Hyukjae. Bisa saja kurobohkan tempat ini jika kumau.”

“Kau tak akan bisa melakukannya. Kau tahu itu.”

Keduanya saling membalas; beradu argumen cukup lama. Konfrontasi itu semakin panjang dengan pengaduan si wanita atas hal-hal kecil yang terjadi di antara keduanya. Sabina tak mampu menelisik sepasang manusia dari wilayah berbeda tersebut karena tubuh Lee Hyukjae menghalanginya—lebih tepatnya melindunginya.

“Kau,” sambil menunduk Sabina mendapati gerakan kecil dari tangan Hyukjae. Ia mendongak, menatap Hyukjae yang menjulang seperti pohon Ẻternit. “Tetaplah duduk di sana hingga aku kembali.”

Sabina menunduk. Kali ini tak menyukai amarah yang menggoresi wajah Hyukjae. Dengan gerakan yang cepat, Hyukjae membuat si wanita mengaduh saat ia  menarik lengannya kuat-kuat. Sabina hanya mampu menelisik warna pirang dari rambut si wanita—juga suara khasnya.

“Ikut aku dan berusahalah untuk tidak bersuara,” seseorang berbisik di telinganya. Sabina menoleh, menatap pria lain yang hadir bak seorang hantu di sampingnya. “Hyukjae menyuruhku untuk membawamu jadi kau tak usah memandangiku seolah-olah aku adalah seorang penjahat wanita,” ia berkata masih dengan bisikan.

Sabina mempelajari gerak-gerik pria itu dalam sekejap. Sosok itu mengenakan jubah yang sama dengan Leeteuk dan Hyukjae. Rambutnya yang gelap berayun ringan saat diterpa angin semilir saat keduanya beranjak dari tempat itu.  Kulitnya yang pucat seperti gulungan awan dan lesung pipinya ikut tersenyum saat ia menyapa penjaga yang berdiri tegak di pintu utama.

Mencapai terowongan air terjun, pria itu memilih jalan lain menuju bagian belakang istana. Diikuti oleh Sabina, keduanya terhenti di pusat halaman yang dikelilingi oleh rumput beluntas yang berpola. Pria itu terengah-engah saat duduk pada salah satu bangku. Ia mengaduh pada dirinya sendiri betapa ia membenci keringat dan bau apek yang ditimbulkan dari pori-pori tubuhnya.

“Kemarilah,” ia menyuruh Sabina untuk mendekat. “Namaku Kim Heechul dan kau boleh memanggilku Heenim.”


MATANYA TERPEJAM SEMENTARA LENGANNYA SALING menyimpul di dada. Yang mampu dipandangi Sabina saat ini hanyalah seorang pria berparas cantik dimana bibir tipisnya memagut-magut seperti tikus pengerat. Ia bernapas dengan hati-hati, masih kebingungan untuk sekedar menciptakan gerakan kecil.

“Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu, Sabina?”

Sabina mengedip dalam sekejap. Ia yakin Heenim tak memiliki mata lain yang tersembunyi di balik rambutnya yang legam dan tertata. Karena saat ini sang Penguasa Utara itu masih terpejam.

Kaku, Sabina menjawab, “Sampai kau bicara padaku,” ucapannya disertai sebuah tanda tanya yang mengabur di ujung kalimat.

Heenim menyeringai. Kecantikan yang terpancar di wajahnya lagi-lagi membuat Sabina terpukau.

“Hyukjae tidak mengatakan padaku bahwa akan ada tamu dari penjuru lain,” Sabina memberanikan diri untuk memulai perbincangan mereka.

“Tentu saja, Sabina. Andoeva adalah upacara penting bagi seluruh negeri. Yunho dan Max, sang Penguasa Dunia, bahkan hadir di sana,” kini Heenim menatap Sabina tak percaya.

“Jadi,” Heenim mengalihkan perhatian Sabina. “Mengapa kau berubah cemas saat mengetahui keberadaan penguasa Utara dan Selatan?”

“Kau tahu mengapa,” Sabina tak banyak bicara.

“Alasanmu terlalu sederhana, Sabina. Hanya untuk mencari kakakmu? Benarkah?”

Sabina menoleh ke arah lain, sengaja menolak tatapan Heenim yang berubah menjengkelkan. “Mengapa kau tidak bersama Leeteuk di tengah formasi andoeva?” ia mengalihkan pembicaraan.

“Hanya tiga anggota penguasa saja untuk tiap perwakilan kerajaan. Aku dan Hyukjae hanya mengawasi,” jelas Heenim. “Aku tidak menyukai politik seperti Leeteuk karena itu aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar istana. Meski begitu, dalam beberapa hal mereka sangat membutuhkanku dan aku pun membutuhkan mereka. Jadi posisiku di dalam istana hanyalah sebagai penasehat saja.”

“Dan aku yakin kau tidak menyukai pedang seperti halnya Siwon dan Zhoumi.”

Ejekan Sabina cukup menyinggung harga diri Heechul setelah itu. Si pria mengucap kata-kata yang tak dimengertinya seraya menunjukkan lengannya yang terbalut kemeja hitam; rata dan tak berotot. Hal itu membuat Sabina menahan tawa.

“Baiklah. Saatnya pergi. Leeteuk dan Hyukjae sedang menunggumu,” ujarnya, tak sabar.

Heechul beranjak dan Sabina mengikutinya. Seperti seorang pelayan, gadis itu mengekori Heechul sambil menunduk. Mereka melewati lobi dengan lorong yang panjang; dihiasi oleh jendela-jendela besar untuk memberikan akses pada cahaya matahari. Pria itu menggerutu saat mereka harus menjejaki tangga berantai untuk mencapai lantai ketiga.

Mereka mencapai satu ruangan tanpa pintu. Dikelilingi oleh berbagai jenis bingkai dengan gambar yang berbeda, tempat tersebut nampak seperti museum seni. Permadani merah yang melapisi pusat ruangan membuat kursi-kursi panjang yang mengelilingi meja kecil menjadi lebih berwarna. Hyukjae duduk di sana, memijat kening, kelelahan. Sementara sosok pria lain dengan mahkota mawar hitam di kepalanya tersebut mengamati sesuatu dari luar jendela. Terik matahari menyoroti ruangan, menyilaukan guci-guci kuningan yang menjadi bagian dari hiasan.

“Duyungmu sudah kuselamatkan. Ingat, kau berhutang selusin anggur padaku,” Heenim menyuruh Sabina untuk mendekat pada Hyukjae. Setelah mengucap salam pada Leeteuk dan mengucap sesal atas ketidakikutsertaannya pada pelepasan kawan mereka, ia bergegas pergi seolah tak ingin menimbrungi urusan mereka.

Hyukjae menolak untuk menemui sepasang matanya sementara Leeteuk memberikan pandangan yang menakutkan. Cara Leeteuk memandangnya seperti seorang petani yang hendak menangkap dombanya untuk disembelih. Menggelenyar sisik-sisik tubuhnya yang berlindung di balik kulit manusia.

“Kuharap kau tak mengubah pikiranmu untuk bicara padaku, Sabina,” Pada akhirnya Leeteuk bicara. Suaranya lembut, masih sama saat pertama kali ia mengajaknya bicara.

“Apa yang terjadi?” serak dari suara Sabina menandakan bahwa ia gugup. Ia mencium sesuatu yang tidak baik. Sesuatu yang menakutkan indera hewaninya.

“Mengapa kau bersikeras untuk mencari Sviesa?” Leeteuk memberi jeda untuk menghela udara yang lebih segar. “Rahasia apa yang tersembunyi dari eksistensinya?”

“Sudah kukatakan padamu sebelumnya bahwa dia adalah kakakku, dan para penguasa Selatan itulah yang telah menangkapnya,” Sabina menjawab sejujurnya.

Kemudian sekelompok penjaga berlapis baja datang saling berderet mengelilingi mereka. Leeteuk memejamkan mata tengah berusaha untuk mengendalikan diri. Sabina tahu bahwa pemimpin penguasa Timur itu sedang berpikir, namun ia merasa terpojokkan saat ini. Dan Lee Hyukjae, sejak semula ia terus menghindari tatapannya.

Ada sesuatu yang mengubah pikiran Leeteuk.

Ada sesuatu yang membuat keduanya berperang dalam pikiran masing-masing.

“Sebelum aku menyakitimu, Sabina. Jadi bicaralah,” ucap Leeteuk diiringi gerakan para penjaga dengan ujung tombak yang mengarah padanya. “Kau akan menjadi tahanan istana hingga kau berkata jujur padaku.”

…bersambung…