Sabina Mara: The Violet Mermaid “Chapter 04”

PARA PENJAGA YANG MENGAPIT SABINA TAK MENUNJUKKAN gerakan yang menyiksa selain menusuk kesabarannya melalui ujung tombak yang nyaris bersentuhan dengan wajahnya. Hal itu cukup mengintimidasi Sabina; menakutinya.

“Kau masih tak mau bicara?” Leeteuk menyimpan kedua tangannya di balik punggung, menegakkan tubuh, membuat bahunya yang berotot membentuk garis lurus yang sempurna.

Sabina menoleh pada Hyukjae, mencari-cari setitik pembelaan. “Jangan memandangku seperti itu, Lee Hyukjae,” ia mematung di tempatnya, kecewa atas penolakan yang Hyukjae berikan dari bungkam yang sengaja tersorot dari matanya. “Aku tak ingin menciptakan kesalahpahaman dari sikapmu sekarang,” imbuhnya.

Leeteuk kemudian mengayunkan tangan, menyuruh para prajurit untuk menurunkan tombak mereka. Bagaimanapun juga, tidaklah etis menjadikan satu-satunya wanita di dalam ruangan itu sebagai lawan dari seluruh pria yang mendominasi. Ini bukanlah gayanya.

Sang pemimpin wilayah Utara itu menatap Hyukjae, saling memandang selama beberapa saat, lantas pergi dalam hening tanpa mengucap kalimat lain pada Sabina. Para prajurit mengikutinya, sementara sepasang dari mereka mengawasi dari kejauhan.

Tinggallah disana, Hyukjae dan Sabina.

Pria itu mengusap wajah, menyisir rambut kecokelatannya yang berantakan. “Aku tak pernah menemukan Leeteuk kebingungan seperti itu. Ia bimbang akan dua hal yang saling bertolak-belakang,” Hyukjae nyaris bergumam. “Ia bertemu dengan Suho dan Sehun setelah upacara andoeva berakhir. Keduanya sedang mencari seekor duyung berekor violet,” kemudian ia beralih, menyoroti Sabina dengan penuh keingintahuan, “seorang buronan berbahaya dan mereka menginginkannya hidup-hidup.”

Sabina tertegun.

Sebuah kepalan tangan terbentuk dari jari-jarinya yang ramping. Wanita itu lalu menyeringai, mengucap kembali penuturan Hyukjae dalam benaknya.

“Buronan berbahaya,” kali ini Sabina mendesis seorang diri.

“Kau hanya perlu menjelaskan dengan baik, Sabina. Jika tidak, Leeteuk akan menyerahkanmu pada mereka,” Hyukjae bertutur tanpa memberi jeda, masih mencari sesuatu dari gerakan kecil yang Sabina ciptakan.

Sabina meremas-remas jemarinya, mencoba untuk menenangkan pikirannya yang kacau. “Percayalah, akupun masih belum menemukan jawaban itu, Lee Hyukjae. Aku membutuhkan Sviesa, dan wanita-wanita sialan itu menangkapnya.”

Detik berikutnya, Hyukjae beranjak dari duduknya yang melelahkan dengan tergesa. Ia mencapai Sabina dengan beberapa langkah yang besar-besar, menangkap kedua lengan wanita itu dan mengeratkan seluruh jemarinya di sana, mencengkeram dengan kuat, membuat Sabina menahan sakit yang ditimbulkan.

“Jadi katakanlah padaku, mengapa kau membutuhkan Sviesa, mengapa kutemukan kau dalam keadaan hampir mati di wilayah kami, mengapa kau begitu membenci wanita-wanita itu!” Hyukjae kali ini benar-benar berteriak, “jika kau ingin menyelamatkannya, kau hanya perlu menjelaskan padaku. Perlahan pun tak apa, aku akan mendengarkan dengan baik.”

Ketika Hyukjae menemukan seberkas enggan yang terpancar dari tatapan Sabina, ia memilih untuk menenangkan diri. Jerat pada lengan Sabina terlepas, menyisakan kemerahan yang terlukis pada kulit Sabina yang berubah pucat.

Hyukjae menyisir rambutnya lagi. Terkadang hal itu membantunya untuk berpikir, “Kita hidup di dalam dunia yang rumit. Penguasa Dunia membagi dunia ini menjadi empat daerah kekuasaan: Wilayah Timur, dikuasai oleh kami, kerajaan Super Junior, kerajaan tertua setelah kota Shinki. Wilayah Selatan, dikuasai oleh Seonyeo Shidae, satu-satunya kerajaan yang dipimpin oleh para wanita. Lalu Wilayah Barat, dikuasai oleh kerajaan SHINee, dan Wilayah Utara yang dikelola oleh anak-anak muda kerajaan EXO.

Entah sejak kapan wilayah kami sering diserang secara diam-diam, habitat istimewa yang kami lindungi menghilang secara perlahan, belum lagi tingkah para wanita dari Wilayah Selatan yang semena-mena. Kami baru saja kehilangan beberapa anggota akibat Penguasa Dunia menginginkan mereka untuk menjadi prajurit pribadi,” Hyukjae mendesah panjang. Ia menjauhi Sabina, menuju jendela besar yang nyaris menyentuh langit-langit dan menghujamkan kepalanya pada kaca.

“Semua kejadian ini saling terkait satu sama lain, Sabina. Terutama setelah kau menyebutkan para vermillion itu menyerangmu, menyerang wilayah EXO tanpa sepengetahuan pemimpin mereka,” Hyukjae kemudian membenamkan wajahnya semakin dalam, kali ini pada telapak tangannya.

Sabina hanya mampu terdiam, menimang-nimang. Ia tak menyukai keadaan itu; terutama saat Hyukjae tengah kehilangan arah seperti saat ini.

“Para  penguasa wilayah Utara mengenalku dengan baik, juga Sviesa,” akhirnya Sabina berucap. Dadanya menaik seolah ia tengah menahan napas. Ia hendak berhenti hingga tatapan Hyukjae meluluhkannya, “salah satu dari mereka menyelamatkanku dan Sviesa saat pelindung EXO mencoba untuk memusnahkan kami.”

Sabina menciptakan hening sebagai sebuah jeda. Ia mencoba untuk memilah kata, menghindari kata-kata kotor yang tak pantas untuk diucapkan, serta memilih memori-memori yang tak perlu untuk dituturkan.

North Kingdom

“Saat itu kami sedang mengejar seekor duyung yang mencuri sesuatu dari lumbung milik ratu Mary. Si pencuri itu memancing kami menuju perbatasan dan tak kusangka kami menyentuh pelindung tersebut. Aku tak tahu seperti apa pelindung istana ini tapi EXO yang dimiliki wilayah Utara sangatlah mengerikan,” pikiran Sabina melayang bersama penuturannya. Sesekali ia tersenyum membayangkan wajah konyol Sviesa saat wanita itu ketakutan.

“Sejak itu aku dan Sviesa menghabiskan banyak waktu di kerajaan. Kami mengenal penguasa Utara dengan baik karena mereka mengajari kami banyak hal,” Sabina menyentuh jari manisnya yang hampa, mengingat tak ada lagi cincin yang tersemat di sana.

“Jika anggota EXO mengenalmu, sangatlah tak masuk akal saat mereka sama sekali tak melindungi habitatmu,” Hyukjae menyandarkan tubuhnya pada kaki jendela, masih sesekali menyisir rambutnya dengan gusar.

“Karena Sviesa menolak permintaan mereka. Ia menolak permintaan Kai.”

Hyukjae mengerutkan dahi dan Sabina kembali memberenggut, “Anggota EXO mengetahui sesuatu yang kami miliki. Sviesa menolak, dan setelah itu kami bertengkar hebat. Itulah saat terakhir kali aku bertemu dengan mereka.”

“Sesuatu?” Kali ini Hyukjae benar-benar menuntut.

“Aku sama sekali tak tahu. Tak lama setelah perbincanganku dengan Sviesa, para vermillion melakukan penyerangan,” tutur Sabina.

Hyukjae memilih untuk menghampiri Sabina, menyentuh seberkas tanda dari cincin yang tak lagi tersemat di jari Sabina, membuat wanita itu terkesiap dibuatnya. “Lalu siapakah yang kau sakiti di antara penguasa Utara hingga mereka begitu murka,” tanya dari ucapannya benar-benar membuat Sabina tak berkutik. “Kai, si pengalih materi? Atau Suho, si pengendali air?”

Sabina melepas sentuhan Hyukjae dengan paksa, menyembunyikan jemari di balik punggungnya yang dingin. “Ada beberapa hal yang tak perlu kau ketahui, terutama perihal yang sangat pribadi.”

Jawaban itu mengecewakan Hyukjae. Ia tak berharap Sabina akan terkejut saat ia menuturkan kata-katanya yang bodoh.

“Aku menyesalinya,” Sabina bergumam, “Kupelajari bahwa Sviesa hanya menginginkan yang terbaik untukku.”

Wanita itu termenung, membiarkan keheningan di dalam ruangan menjadi pemisah antara keduanya. Hyukjae nyaris saja menggapai bahu Sabina untuk memberikan seberkas ketentraman. Namun ia tak melakukannya. Ia ikut tenggelam dalam keheningan tersebut.

“Kau benar, Lee Hyukjae. Aku telah membuang waktuku terlalu lama. Sviesa membutuhkanku, dan aku harus segera menemukannya,” kali ini Sabina mendongak, menyejajarkan tatapannya pada Hyukjae yang lebih tinggi darinya.

Seberkas harapan menguak dari pancaran yang ditujukan Sabina pada Hyukjae. Pria itu menundukkan kepala, menyisir rambutnya untuk kesekian kali sebelum memijat otot-otot wajahnya yang menegang.

“Kudengar dari Leeteuk bahwa kau dan Sviesa memiliki kekuatan yang tak dimiliki duyung lain,” Hyukjae menyela tanpa bermaksud menyinggungnya. Ia menunggu, bahwa Sabina tengah mencoba menuturkan sesuatu yang cukup penting untuk didengar.

“Dengan menyentuhmu, aku dapat mempelajari masa lalu yang kau miliki. Tentu saja tidak saat tubuhku seperti manusia seperti ini,” tanpa ragu Sabina bertutur, memandangi kedua telapak tangannya yang kosong, “sementara Sviesa, ia dapat mempelajari masa depan.”

“Mungkin itulah yang mereka cari dari Sviesa; seseorang yang mampu membaca masa depan,” Hyukjae sekedar menerka-nerka dan ucapannya ditangkis kilat dengan gelengan kepala dari Sabina.

“Tidak, aku yakin ada sesuatu yang lain yang mereka inginkan.”


AKU DIPERINTAHKAN YUNHO DAN MAX UNTUK melakukan inspeksi ke empat penjuru wilayah,” begitulah wanita itu menjawab. Gaun mewahnya yang berkilauan terseret-seret pada lantai semen tanpa dilapisi keramik mahal. Bersama sepasang pria yang mengawalnya, ia mengacuhkan Heenim yang enggan menunjukkan setitik kehormatan padanya.

“Sejak kapan kau menjadi mata-mata mereka, Tiffany?” Heenim berdiri kokoh, tetap memberikan petunjuk pada wanita bergaun merah muda tersebut bahwa ia tak mengijinkannya untuk melangkah lebih jauh.

Garis hijau yang menghiasi rambut hitamnya berayun saat Tifanny mengangkat bahu. Dengan melempar sebuah senyum yang mampu melelehkan kembang gula, ia membuat gerakan kecil dan membuat pengawalnya meruntuhkan dinding kokoh yang diciptakan Heenim.

Rahang Heenim bergetar karena menahan diri, “Jangan membuatku jengkel dengan bertindak seolah tempat ini adalah kekuasaanmu. Bersikaplah layaknya seorang tamu,” ia mulai menggertak.

“Kau tahu, kami adalah pengecualian.” Tiffany kembali tersenyum—yang bagi Heenim cukup memuakkan. Dulu, ia menyukainya karena gadis itu nampak sederhana dan lugu setiap kali sepasang mata hitamnya membentuk potongan bulan sabit. Kini senyum indahnya justru memancarkan kebohongan dan kepalsuan.

“Park Jungsu! Choi Siwon! Zhoumi!”

Tiffany meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh Heenim untuk menghentikan lengkingannya yang terdengar mengerikan. “Mereka tidak sedang berada di istana. Baru saja kutemukan Leeteuk berlalu bersama Siwon. Percuma saja kau meneriaki nama mereka, Oppa,” bisiknya.

Heenim berjalan dengan langkah yang besar. Jubah merah tuanya ikut terseret-seret menyaingi shiffon lembut pada gaun Tiffany, “Kau sadar bahwa keberadaanku hanyalah sebagai penasehat disini. Namun hal itu tidak berarti bahwa kalian bisa seenaknya memasuki tempat ini,” ia mencengkeram pergelangan si gadis bangsawan dari Selatan. Tiffany tentu saja menolak dengan menepisnya dalam sekali hentakan.

Tiffany kembali menyunggingkan senyum, “Karena itu lebih baik kau diam. Bertarung denganku sama sekali tak akan membantumu,” kemudian wajah cantiknya berubah datar saat menatap Heenim—menantangnya.

“Sejak kapan Taeyeon membiarkan kalian menjadi liar seperti ini?” Heenim mengucapkannya dalam geraman.

“Oh, tenang saja, Oppa. Pemimpin kami sangatlah fleksibel dan mudah untuk diatur. Lagipula saat ini ia sedang terbaring tak berdaya,” Tiffany mengakhiri perbincangan mereka dengan menyuruh kedua pengawal bertubuh tinggi-besar untuk mengekorinya.

Heenim terdiam. Mungkin itulah alasan mengapa sang pemimpin vermillion dari Selatan itu tak menampakkan diri dan menghindari kontak dengannya sejak beberapa minggu terakhir. Taeyeon sulit untuk ditemui dan hal itu mulai meresahkannya. Meski sebagian vermillion memiliki tutur yang cukup menjengkelkan, Taeyeon adalah satu di antara kemurnian yang tidak boleh terusik oleh kebinalan tersebut.

“Tifanny!” teriaknya.

Heenim menyebut nama wanita itu berkali-kali, berharap hal kecil itu dapat menghentikannya. Hingga pada detik berikutnya Tiffany memundurkan diri saat mencapai tikungan. Ia mendengar wanita itu menjerit sambil menyebut beberapa kata kutukan yang tak pantas untuk diucap. Sepasang penjaganya bergerak membentuk perisai, membuat Heenim disulut heran.

“Kau mengagetkanku, Lee Hyukjae!” gertak Tiffany seraya mengusap dadanya.

Heenim mengikuti dalam satu baris. Dari sela tubuh pengawal Tiffany yang lebih jangkung darinya, ia melihat Lee Hyukjae menggenggam seseorang dengan jubah kehormatan Wilayah Timur yang menyembunyikan tubuh dan wajahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hyukjae. Ia mengucapkannya dengan penuh ketidakpedulian.

“Dan apa yang kau lakukan di sini?”

Hyukjae lantas menyeringai, “Kau tidak sadar dengan siapa kau ajak bicara?” kali ini ia menyelipkan nada tinggi dengan maksud untuk merendahkannya.

“Jangan terlalu kaku, Oppa. Oh—“ keterkejutan Tiffany menghentikan kalimatnya. Kepalanya bergeser untuk mengamati sosok misterius di balik tubuh si pemilik Arklys.

“Hei, kau seharusnya mengurusi peliharaanku!” Heenim menyela keduanya, menarik paksa seseorang dengan jubah kehormatan tersebut dan menyeretnya menjauh. Tak peduli dengan sepasang kakinya yang tertatih-tatih menapaki lantai semen yang kasar. Di saat kepergiannya, ia sempat mengutuk seseorang tersebut mengenai tugas dan perintahnya. Menyisakan bingung yang tergurat di wajah Tiffany.

“Kukira Hyoyeon hanya bergurau. Tak kusangka kau benar-benar merekrut seorang pelayan pribadi—dan kau membaginya bersama Heenim.”

“Hanya untuk memastikan bahwa tak ada vermillion berbulu hijau yang mengobrak-abrik ruanganku,” Hyukjae melengkapi ucapannya.

Tiffany mengibaskan rambut hitamnya yang bergelombang, “Aku cukup tersinggung, kau tahu?” lantas menyunggingkan senyum kecut yang tak disukai Hyukjae.

“Apa lagi yang kau cari di istana ini, Tiffany?” Pria itu mendesah, membiarkan sepasang pengawal menjadi pemisah di antara mereka.

“Hanya inspeksi kecil jadi menyingkirlah.”

Hyukjae kemudian menghentikan sepasang penjaga dengan menerkam simbol Wilayah Selatan yang melekat pada pelindung kepala mereka. Keduanya jatuh setelah ia menukik torso dan lutut mereka. Tiffany mundur, tak ingin mengotori gaun kehormatannya.

“Pergilah, sebelum kebaikanku menghilang,” ucap Hyukjae setelah mengakhiri pergulatan kecil tersebut.

Tiffany mendongak, “Aku tidak ingin berargumentasi denganmu.”

“Jika hal itu dapat membuatmu hengkang dari tempat ini, aku akan melakukannya.”

Selama beberapa saat, keduanya tetap bersikeras pada pendirian masing-masing.

“Sepertinya Leeteuk melatih kalian untuk menjadi pria tegas dan menyeramkan,” ucap Tiffany, mengejek.

“Kami tidak memiliki sesuatu yang kau cari,” dan tatapan Hyukjae menajam.

Dengan sekali gerakan, pria itu menyeret Tiffany pada tempat terbuka di lorong menara pengawas. Ia mengarahnya pada balkon kecil. Tak peduli meskipun wanita itu meraung-raung kesakitan. Seharusnya Tiffany tak perlu menantangnya. Karena setiap kali ia melakukannya, Hyukjae akan menyeretnya seperti bangkai babi hasil buruan hutan.

Tiffany membenahi gaunnya setelah Hyukjae melepas jeratannya. Helaan napasnya yang terburu-buru menunjukkan bahwa ia telah kalah. Ia menatap Hyukjae dan pria itu merentangkan tangan pada udara bebas—menyuruhnya pergi.

“Aku akan datang kembali esok hari,” ia berkata sebelum akhirnya menerjunkan diri dari balkon. Tubuhnya yang melayang bebas kemudian berubah menjadi seekor burung megah dengan bulu yang meyilaukan. Ia melengkingkan suaranya dan melayang menembus mentari.

Setelah memastikan vermillion itu telah pergi, Hyukjae menggemakan suaranya hingga menembus tiap sudut menara. Separuh lusin pria berkepala besi datang menyambutnya dengan sebuah formasi, memberikan sebuah penghormatan padanya seolah isi otak mereka telah diatur untuk melakukan hal tersebut.

“Seret kedua pengawal Tiffany dari hadapanku. Kulihat masih ada ruangan kosong di lantai ketiga—lantai yang digunakan khusus untuk mendekap para penguntit istana,” ucapnya datar.


SETELAH HEENIM MENYINGKIRKANNYA DARI PERSETERUAN KECIL antara Lee Hyukjae dan Tiffany, Sabina kini hanya mampu menunggu. Jemari kakinya yang mungil saling menyentuh satu sama lain. Bunyi derit yang menyakitkan lantas menggugah lamunan Sabina. Ia mendongak, menemukan Hyukjae membanting pintu seolah menutup diri secara paksa dari berbagai kemunafikan yang mengikutinya. Dadanya bergerak naik-turun; layaknya seekor salmon yang terdampar di tepian sungai. Pria itu menggumam sebelum akhirnya melempar segumpal kain padanya. Sabina meraih tanpa berkomentar. Ia masih menunggu; menunggu Hyukjae untuk bicara.

“Apakah kau bertarung melawan wanita itu?” Sabina memancing pria itu dengan sebuah tanya.

Hyukjae menggeleng. Rambut kecokelatannya disisir kasar tak menentu, “Kau akan menyumpahiku jika seorang pria memukul seorang wanita. Meskipun wanita itu tak pantas dipanggil seorang wanita,” kemudian menyuruh Sabina untuk mengenakan pakaian yang diberikannya.

“Aku tak ingin mengurungmu di ruanganku selamanya,” ucap Hyukjae, gusar, “pakailah dan bertingkahlah seperti seorang pelayan.”

Sabina mempelajari bentuk gumpalan tersebut dalam waktu singkat. Sebuah gaun sederhana berwarna biru sapphire, sebuah ikat pinggang dengan warna senada, sebuah ikat rambut dengan hiasan mawar biru dan seuntai kain yang biasa dikenakan pelayan istana pada pergelangan tangan—ia hanya perlu menguntainya menjadi pita.

“Seorang penguasa dari Barat sedang berkunjung. Kau hanya perlu menunduk dan merapatkan mulut,” Hyukjae memberinya perintah lain. Ia bergerak tak menentu. Seperti seorang pria yang tengah kehilangan arah. “Kunjungan Tiffany sungguh di luar dugaan dan hal itu membuatku mencurigai seseorang,” imbuhnya.

Hyukjae membantunya mengikat untaian kain serta ikatan di rambutnya. Ia benar-benar sedang terburu-buru. Bahkan pria itu tak peduli saat Sabina mengganti pakaian di hadapannya. Setelah yakin penyamaran duyung itu telah sempurna, sepasang bahu Hyukjae bergerak lemah, menenang.

“Tetaplah di belakangku,” titahnya. Hyukjae menatap bola mata Sabina yang menghitam. Kemudian keduanya berjalan menuju gedung utama istana.

Melewati beberapa anak tangga, lorong tinggi, dan penjaga berkepala besi di berbagai sudut, mereka berhenti pada sebuah ruangan terbuka. Menghadap balkon tanpa jendela, ruangan yang dikelilingi tirai maroon keemasan itu dipenuhi udara yang melambai-lambai. Gemericik air terjun yang mengapit istana menciptakan sebuah ilusi; seolah ia sedang berada di tengah hutan rimba bersama suara aliran sungai dan nyanyian burung pipit.

Seseorang menyebut nama Hyukjae dengan nyaring. Sontak Sabina menunduk saat penguasa dari Barat menghampirinya. Hati-hati ia mencoba menelisik; perawakan tinggi, kulitnya putih bersih, wajah kecil dengan rambut cokelat yang nyaris sama dengan warna yang dimiliki Hyukjae, sepasang matanya melebar saat ia bergairah untuk bicara dan suaranya sungguh-sungguh maskulin.

Di balik tubuh sepasang pria yang saling memberikan pelukan, ia menemukan sosok lain yang tengah menunduk. Gadis belia, jauh lebih muda darinya. Rambut panjangnya diikat menyamping sementara ia meremas jemarinya tiada henti. Si gadis sempat menatapnya saat pandangan mereka bertemu, namun segera menunduk untuk menggigit bibirnya yang tipis.

Sabina tak peduli dengan hal-hal yang dikumandangan sepasang penguasa dari dua penjuru arah tersebut. Ia hanya memedulikan sosok lain yang datang bersama pria itu. Rambut hitamnya membuat Sabina ragu meski tahi lalat di pipi si gadis mengingatkannya pada seseorang.

“Pelayanmu?”

Pertanyaan Hyukjae pada si pria muda membuat Sabina tertegun. Buru-buru ia menunduk, mencoba mengamati mereka dari sudut mata.

“Bagaimana dengan dia?” Sang penguasa dari Barat melempar kembali pertanyaannya pada Hyukjae.

Sendi di tubuh Sabina menegang. Karena ia tahu bahwa pria itu tengah tertuju padanya. Sabina merasakan sentuhan Hyukjae di bahunya. Hal sederhana yang menciptakan keajaiban bagi dirinya, meneduhkannya.

“Agak aneh bukan? Kita berdua tidak menyukai seseorang yang mengurusi benda-benda pribadi,” Hyukjae tertawa dan disambut oleh kekehan dari si pria. Keduanya lantas menyebutkan lelucon mengenai wanita seksi yang tak dimengertinya. Yang ia tahu, tamu dari Barat itu bernama Minho, Choi Minho.

“Darimana kau berasal, gadis muda?” tanya Hyukjae pada pelayan Choi Minho.

Gadis belia itu menatap Minho hati-hati. Sabina melihat seuntai senyum dari sang pemimpin wilayah Barat kemudian si gadis menjawab, “Baltaz.”

Suaranya.

Sabina mengenali suara tersebut meski gadis belia itu berusaha menutupinya dengan serak palsu yang cukup kentara. Ketika Lee Hyukjae hendak mengajukan pertanyaan berikutnya, Sabina tak ingin menunggu lebih lama lagi. Ia menghampiri si gadis belia, mencengkeram lengannya dengan paksa hingga keduanya berhadapan.

“Kau tahu mengapa lautan gorgóna menghitam saat matahari tenggelam?”

Pertanyaan Sabina mungkin membuat Lee Hyukjae dan Choi Minho saling bertanya. Namun tidak bagi si gadis belia. Matanya membulat, ia terkejut. Bibir tipisnya bergetar sementara ia masih meremas-remas jemarinya. “Karena pomma mengeluarkan cairan hitam dengan bau busuk yang menyengat,” jawabnya terbata.

Firasatnya benar.

Lelucon itu ternyata masih diingat baik oleh seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang kini berada dalam genggamannya. Gadis belia itu meletakkan sepasang telapaknya pada bahu. Ia menunduk, wajahnya memerah seperti daging rebus yang belum matang.

“Sabina,” bisiknya.

Lalu mereka saling berpelukan. Tak peduli dengan bingung yang menguasai sepasang pria di antara mereka.

“Dolca,” ia menyebut nama si gadis dengan pasti.

Gadis itu selamat.

Dolca berhasil menyelamatkan diri.

…bersambung…