DALAM GELAP

Pelukku menyambutmu dalam rindu, cintaku terangkai manis membentuk segenggam bunga. Namun kau semu, bersembunyi di balik bayang-bayang, menatapku dengan lucutan tanya yang merundung membentuk setumpuk kelabu. Kelabu yang tak mampu kubaca.

Engkau tak berkata. Aku tahu kau murka. Dalam kegelapan itu kau hanya memadu pilu dan luka; membuatku terlena untuk menghujam diri dengan beribu sayat, untuk menjatuhkan diri pada kobar hina neraka terdalam.

Salahkan aku. Aku tak peduli. Percayalah bahwa aku pun berkecamuk menginginkanmu untuk kembali. Jadi kumohon jangan lenyap dari malam-malamku yang singkat. Hanya itu yang dapat membinasakan rapuh dan dukaku, kasih dan rinduku.

Jemari kecilmu menolak tulusku. Selalu seperti itu. Membentur jiwaku pada dinding kenyataan, membuatku terhenyak di tengah senja yang menerang. Aku tak bermaksud untuk meninggalkanmu di sana. Ia telah menghukumku dengan kehilangan. Ia telah menghujaniku dengan ketakutan. Dan aku tak ingin kau menjeratku dengan kepedihan di matamu yang mempesona.

Percayalah.

Aku tak ingin meninggalkan.

Aku tak ingin ditinggalkan.

“Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #StorialGiveaways yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co.”