Sore Tanpamu

Aku duduk di atap rumah, menatap langit sore yang mulai memerah. Pilu rasanya.  Mengingat masa-masa itu hatiku sakit.

Kenapa kamu tidak angkat telepon dariku lagi?

Tak terasa air mata meleleh di pipiku, lagi. Semenjak kamu hilang dari hari-hariku, entah berapa juta tetes air mata yang sudah jatuh. Mungkin ratusan bungkus tissue yang sudah kubeli.

Kamu tidak tau, ‘kan?

Di satu sisi, aku mau kamu merasakan rasa sakit yang sama. Namun di sisi lain, aku ingat dengan janji-janji kita. Hari itu di Bulan Juni, saat ulang tahunku kita bertengkar. Alasannya sepele, saking sepelenya hingga aku tak ingat lagi apa alasannya. Waktu itu aku mengatakan kata-kata yang membuatmu sangat tekejut, aku meminta putus—memutuskan hubungan kita yang sudah kita jalani selama dua tahun. Hubungan tanpa tatap muka, hubungan yang haanya bersua lewat suara.

Tapi itu ternyata tidak bertahan lama, dalam selang waktu kurang dari dua puluh empat jam kemudian aku menyesal, memohon untuk memberi maafmu padaku.

Aku tidak sanggup.

Saat itu, hanya membayangkan sehari tanpa lembutnya suaramu saja sudah membuatku tersiksa. Akhirnya kita pun berjanji, untuk tidak lagi saling menyakiti, apapun alasannya. Tapi ternyata akupun tersadar, hal itu adalah sesuatu yang paling mustahil di dunia. Semustahil awan dengan rasa gulali.

Kepergian kamu, walaupun dengan suara yang masih tetap lembut dan rentetan ucapan maaf tetap menyakitiku.

Bagai ditikam ribuan sembilu tepat di dada.

Tiupan angin sore itu seakan mengerti perasaanku, berkali-kali hembusannya membelai pipi. Mencoba menenangkanku.

Masih dengan mata yang basah, perlahan aku tersenyum tipis.

“Terima kasih…” ujarku pelan, nyaris berbisik.

Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat, kamu tahu, semakin hubungan kita dipaksakan semakin banyak orang yang merasa tersakiti.

Kamu sayang aku, tapi aku tahu kamu lebih sayang orang-tuamu.

Sekali lagi, terima kasih.

Karena aku tahu, meninggalkanku dan semua tentang kita adalah hal terbaik yang harus kamu lakukan.

Jakarta, April 2018.