Mirror, Mirror, On The Wall

“Kau yang melakukannya bukan?” Ia berbisik dalam gelisah. Suaranya nyaris pudar oleh udara hampa yang menyelubunginya.

Pria itu menunduk. Tubuhnya bertumpu pada satu kaki sementara jemarinya mencengkeram kedua sisi meja dengan kuat. Bibirnya bergetar saat menggumam. Bola matanya pun bergerak tak menentu.

Ia ketakutan dan hal itu membuat tubuhnya rapuh tak berdaya. Jika sepasang tungkainya tak mampu menopang tubuhnya, jika kuku-kuku jemarinya yang kotor tak melesak kayu meja setinggi pinggulnya, mungkin ia akan dijatuhi tetesan lilin-lilin panas yang menjadi satu-satunya penerang di dalam ruangan lembab tersebut.

“Mengapa kau diam saja?” Ia kembali berbisik. Bibirnya mengatup rapat untuk menahan giginya yang bergemerutuk. Mendadak dadanya terasa perih. Ia yakin emosinya bisa saja meledak tanpa diramalkan. Namun ia mencoba mengendalikannya dengan baik—seperti apa yang selalu ia lakukan setiap saat.

“Jangan menjadi seorang pengecut, Kai. Jangan bersembunyi dariku!”

Kali ini ia berteriak; memukul cermin di hadapannya hingga terdengar nyaring dari retakan. Alisnya mengerut saat ia menatap pantulan wajahnya di sana. Rambut hitam kecokelatannya berantakan; wajahnya dipenuhi goresan luka; sudut bibirnya dihiasi darah kering sementara kaus hitamnya robek-robek, kotor oleh debu dan tanah.

Ia kembali menunduk—mencoba menahan tangis dengan memukul-mukul dadanya. Ia tak peduli dengan luka di wajahnya, tak pula peduli dengan cermin-cermin lain yang melekat pada tiap dinding di dalam ruangan. Yang ia inginkan hanyalah Kai muncul di hadapannya.

“Kau tahu aku tak pernah menyembunyikan diri darimu, Jongin.”

Sambutan itu membuat si pria terjaga. Kepalanya menegak, menatap pantulan tubuhnya dalam cermin. Sosok itu memiliki rupa yang sama, terkecuali sepasang mata merahnya yang menenggelamkan pupil hitam yang dimilikinya. Salinan tubuhnya itu melayangkan setitik senyum. Ia menyeringai seolah sedang mencemoohnya. Ada sedikit ngeri yang dirasakan Jongin saat pantulan itu menatapnya. Seperti saat ia tengah berjalan di dalam kegelapan hutan dan diamati oleh mata-mata serigala yang siap menyerangnya untuk dijadikan santapan makan malam.

“Siapakah pengecut sesungguhnya di antara kita, bocah kecil?”

Pantulan tubuh Jongin berbicara dan hal itu membuatnya diselubungi takut yang luar biasa. Bayangannya bergerak tanpa perintahnya; mengangguk, tersenyum, bahkan menyeka luka di pipinya.

“Aku bukan bocah kecil! Kau seharusnya menggaris-bawahi kata-kataku!” Jongin berusaha untuk bersikap tegar. Ia balas menatap bayangan itu meski kelopak matanya bergerak lambat.

Kai, sang bayangan, menggelengkan kepala. Jemarinya tertuju pada cermin; hendak menyentuh Jongin meskipun ia tak akan pernah bisa menyentuhnya. “Kau berkata bahwa akan melakukannya oleh tanganmu sendiri. Aku telah memberimu kesempatan itu dan kau tak menggunakannya dengan baik,” ucapnya.

“Aku tak bisa!” Jongin menggertak dengan memukul cermin. Sama seperti Kai, ia tak akan bisa menyakiti bayangannya sendiri. Begitu pula sebaliknya. “Aku tak bisa melakukannya. Terlalu keji, Kai. Terlalu menyakitkan,” suara Jongin meredam. Ia merintih saat mengingat kembali mayat seseorang di dalam pangkuannya.

“Bahkan seorang kapten harus mengorbankan puluhan prajuritnya untuk memenangkan perang. Ini hanyalah hal sepele, Jongin.”

“Sepele?” Jongin membulatkan matanya, “Membunuh Mia hanyalah hal sepele bagimu?”

“Kau menginginkan tahta itu bukan?”

“Tapi tidak dengan membunuhnya! Tidak dengan membunuh dia yang kucintai!” Jongin berubah liar. Lilin-lilin merah berguling di lantai saat tangannya menyapu apa pun di atas meja.

“Tekadmu masih lemah, Jongin.” Kai berkumandang di dalam pikirannya, membuat Jongin dihinggapi ngilu yang menyakitkan dada.

Seharusnya saat itu ia memilih untuk diam.

Seharusnya saat itu ia tidak perlu mendengarkan ide gila dari Suho.

Demi mendapatkan perhatian Mia, sang puteri bangsawan, Jongin rela menerobos Danau Hitam dan memanjatkan doa pada mereka-yang-terkutuk. Berawal dari pertemuannya dengan sang bayangan di malam purnama, hati tamaknya menginginkan yang-telah-mati menjadi bagian dari hidupnya.

Ia memiliki harta. Ia memiliki tahta dan ia mendapatkan cinta Mia. Hingga malam itu menjadi tragedi yang memilukan baginya.

Saat Jongin tersadar, para pengawal mengelilinginya tanpa celah. Berbagai tangis di dalam ruangan membuatnya terjaga. Ketika penjaga berbaju besi menahannya, ia menerobos dan menemukan tubuh Mia di atas tempat tidur mereka; bermandikan darah, dihujani tusukan dan tikaman.

Mereka masih mencari sang buronan namun Jongin mengetahuinya.

Kai yang telah melakukannya.

Kedua tangannya sendirilah yang telah membunuh Mia.

“Kau harus membayar semua ini, Kai.” Kemudian Jongin menghancurkan cermin di hadapannya hingga menjadi kepingan-kepingan kecil.

“Kau tahu bahwa sejak kau menginginkanku muncul, aku akan tetap menjadi bagian dari hidupmu.”

Jongin seketika menoleh. Ia berjalan dengan langkahnya yang besar menuju cermin di sisi lain. Ia menendang, menikam, memukul-mukul cermin tersebut hingga ia tak mampu menemukan bayangannya sendiri di dalamnya.

“Pergi dan jangan pernah kembali!”

Tubuh Jongin perlahan berguling di lantai. Ia memeluk tubuhnya yang bergetar, merasakan dingin yang menjalar dari tanah berlapis kongkret. Jongin tak pernah mengira bahwa yang-telah-mati akan mengurungnya dalam kegelapan.

Kutukan itu akan tetap bersamanya. Kai akan tetap menghantuinya.

***

Thank For Your Visit Huglooms