Pemburu Imajinasi

Setahuku sosoknya hanyalah bualan para leluhur saja.” Miel menyetir parangnya sedemikian rupa, menghentak-hentak tajamnya hingga babi di atas papan berubah menjadi potongan-potongan kecil.

Wajah pria gemuk di hadapannya mendadak kembung. Alisnya berkedut-kedut acap kali Miel tidak menyukai perbincangan tersebut. “Untuk ukuran seorang tukang daging, kau terlalu banyak membaca buku, Miel. Ini bukan hanya sebuah bualan, melainkan realita tersembunyi yang kini berubah menjadi sebuah legenda,” sanggahnya, dengan nada naik-turun yang tak menentu.

Miel mendesah panjang. Lelaki itu menusuk ujung parangnya pada kepala babi, menyeka peluh di ujung dagunya yang kasar. Ia belum mencukur janggut tipisnya yang kadang menggelitik itu. Sengaja ia tidak melakukannya karena ia menikmati godaan para pelacur di dalam kota yang terpesona oleh kemaskulinannya.

Sepasang mata lelaki itu membelalak, mencari-cari sesuatu, seolah ia tak ingin berada di sana. Bermodalkan wajah dan tubuh berototnya, ia bisa saja menjadi seorang pegawai istana, atau penunggang kuda, mungkin pula seorang gigolo dengan bayaran mahal. Sebaliknya, justru ia menjadi tukang daging khusus di dapur istana kota Onalo, ditemani oleh sepasang pria paruh baya yang sangat cerewet.

“Kudengar kepalanya membusuk, si pemburu sengaja memajangnya di atas perapian rahasia. Yang masih utuh hanyalah sebelah matanya dan bibir ungunya yang mengeras,” giliran si kurus Osmar yang bicara. Mulutnya mengecap-ecap seperti kuda. Setahu Miel, pria itu tidak pernah menyikat giginya yang hangus dilalap bakteri. Namun tak disangka pria itu memiliki tiga isteri dan lima simpanan.

“Ya, dan mereka bilang isi kepalanya bukanlah sebuah otak seperti yang kita punya, melainkan sebongkah batu, yang mengikis oleh lumut yang busuk. Seperti gunung atrakh, oh, jelek sekali,” tutur si pria gemuk sembari menggaruk lumpur di rambutnya yang mengering.

“Tidak, ia cukup menawan untuk ukuran kalangan sebangsanya. Bukan begitu?”

Perbincangan mereka mendadak terhenti saat sesosok pria membuka pintu, menimbulkan suara kerat yang rendah. Osmar dan si pria gemuk menunduk seketika, sementara Miel menarik parangnya kembali, mengayunnya ringan, membalas tatapan pria tua berkumis lebat tersebut tanpa menunjukkan kepatuhan.

Tidak ada suara setelah itu.

Lelaki berkumis itu melangkah maju. Sepatu kulitnya mengetuk lantai, menimbulkan irama yang—anehnya—cukup mengerikan. Bayangan tubuhnya yang mendarat di lengan Miel seolah menjilat-jilati kulitnya, ada kengerian tersendiri yang tiba-tiba menembus tulangnya.

“Perbincangan menarik apa yang sedang berlangsung di sini?” Suaranya membahana, tajam, berat, penuh rahasia.

“Ampuni kami, Tetua Ives.” Osmar dan si pria gemuk nyaris mengucapkannya bersamaan. Keduanya masih menunduk, menenggelamkan wajah kotor mereka dengan mencium lutut masing-masing.

Miel menelisik lelaki tersebut saat jemarinya bergerak menyusuri meja yang digunakannya. Mereka saling menatap. Dan untuk pertama kalinya, Miel seolah mampu membaca apa yang tertulis di benak Ives: kebencian, kemurkaan, dan kegilaan. Meskipun begitu, sepasang mata biru yang dimiliki Ives memancarkan sesuatu yang lain, seperti sebuah permohonan.

“Apa yang harus kugambarkan dari sikapmu itu, anak muda? Angkuh, atau gegabah?” Ives menyembunyikan sepasang tangannya di balik tubuh, menegapkan tubuh yang sama tingginya dengan Miel.

Pria muda itu menyadari, tindakannya tersebut mampu membuatnya mati di tempat. Ives adalah sosok yang selalu diagungkan penghuni kota; entah karena ia merupakan satu-satunya makhluk abadi yang telah membangun Onalo sejak dulu, atau karena Ives dapat membunuh siapa pun yang tidak mematuhi kehendaknya.

Sensasinya cukup menggetarkan keberanian Miel. Ia hanya mampu menyeringai, “Aku terlahir seorang diri, jadi aku tak perlu takut kehilangan apa pun—termasuk leherku sendiri,” lantas Miel menyeka parangnya dengan kain perca yang telah dipenuhi darah  segar dari potongan babi sebelumnya.

Sebilah senyum menyungging di bibir Ives. Ia memutar tubuh, menyuruh sepasang pengecut yang masih menunduk itu untuk berdiri. “Keingintahuan kalian terhadap wanita itu menarik perhatianku,” ucapnya, terdengar lebih santai.

“Bagaimana mungkin pemimpin Onalo sepertimu menguntit perbincangan kecil kami disini?” tanya Miel, sepasang matanya yang gelap menyipit, penasaran.

“Bagaimana kau masih mengingat sosoknya, Tetua Ives. Tahun demi tahun berlalu, dan kau masih duduk di sini, bersama kami.” Pertanyaan si gemuk mengaung di antara mereka, membuat Miel mendelik tajam seolah kobaran di matanya itu memanggang tubuh gemuknya mentah-mentah.

Lagi-lagi Ives tersenyum, memilih untuk mengabaikan si pria gemuk. “Jawaban apa yang ingin kau ketahui, anak muda?”

“Tak ada buku mengenai sejarahnya. Hanya obrolan-obrolan bodoh saja yang menjadi sumber cerita,” kini Miel menunjukkan hasratnya mengenai perbincangan tersebut, mengenai si wanita, pada akhirnya.

“Kudengar tubuhnya masih tergeletak di ranjangnya, menelungkup tanpa busana, membiarkan cuaca yang silih-berganti membakar kulitnya yang eksotik,” Osmar menyela, penuh semangat. “Tidak, tidak. Mereka bilang tubuhnya dililit oleh akar bunga matahari raksasa yang tumbuh di hutan trond. Bunga tersebut sewaktu-waktu akan menelan tubuhnya saat mereka tidak lagi menghisap sinar mentari. Jadi sesungguhnya, ia sedang menunggu penyelamatnya di sana.”

“Bukan bunga matahari, Osmar. Itu dandelion. Setiap tahun bunga tersebut melepas satu dari ribuan kelopaknya. Setelah kelopaknya habis, tubuhnya menjadi bagian dari dandelion, menyatu lalu ikut menghilang ditelan angin.”

Osmar berdecak, menolak pemikiran si gemuk tersebut, “Pria yang suka bercerita di alun-alun utama menyebutkan bahwa ia masih tertidur pulas. Ada sebuah tangga kecil menancap di mulutnya, dan para kerdil setinggi ibu jari saling bergantian menuruni tangga, membawa ember yang sama besarnya dengan tubuh mereka, meraup berbagai imajinasi yang wanita itu punya, mengangkutnya di punggung sambil menaiki tangga itu lagi, dan dikumpulkan di balik segumpal awan di ujung tangga.”

Miel menepuk jidat, menggeleng pasrah. Keadaan ini terus berlangsung sejak pertemuan mereka minggu lalu, seolah hidup Osmar dan si gemuk hanya dipersembahkan khusus untuk menjadi penyair cerita.

Alih-alih menghukum mereka karena keterlambatan menyediakan potongan daging, kedatangan Ives nyatanya jauh di luar dugaan. Pria itu mengayun lengan, mengajak ketiganya mengikuti tapak kakinya.

Maka Miel mengikuti tanpa banyak bicara sementara Osmar dan si gemuk yang tak diketahui namanya semakin girang tak karuan. Sengaja Miel memposisikan diri untuk berada di belakang Osmar dan si gemuk, sementara Ives di depan mereka, memimpin jalan. Hal itu Miel gunakan untuk meneliti sosok Ives, yang menurut kakek moyangnya adalah seorang pengkhianat.

Setelah sepuluh menit melewati berbagai pintu dan pengawal berlapis baja, Miel bisa melihat menara utama di pusat istana, menjulang keperakan diterpa matahari yang mulai tenggelam.

Si gemuk menggosok-gosok telapak tangannya saat Ives menjanjikan makan malam besar, sedangkan Osmar hanya menyeringai beberapa kali. Miel memahami betul kelakuan itu. Pria itu tengah mengkhayalkan sesuatu yang tak pantas dituturkan pada anak di bawah umur. Bagi Osmar, makan besar di istana berarti pesta alkohol dan wanita-wanita bayaran yang berkelas.

“Kisahnya telah membahana sejak zaman kakek moyangku namun aku masih belum mengetahui namanya,” Miel membuka suara setelah mereka melewati pintu rahasia di belakang menara utama. Inderanya menajam, mengamati jalan yang ia lalui karena Ives sama sekali tidak menjelaskan kemana mereka akan pergi.

Pria yang tak diketahui umurnya itu terdengar mendengus sebelum bicara, “Ia terlahir dengan imajinasi yang luar biasa, membuatnya mampu menerka masa depan. Ia bahkan mampu menciptakan penerang yang melayang hanya dengan berimajinasi dan menjentikkan jari. Penduduk di sekitar mengira bahwa ia telah dikutuk oleh Tuhan. Namun seseorang mempelajari kekuatan imajinasinya, mengendalikan keajaiban tersebut untuk kepentingan yang lebih baik,” jelas Ives, sambil menapaki anak tangga panjang yang melaju hingga ke bawah pelupuk mata.

Mereka berjalan ke tempat yang lebih gelap, dan Ives semakin mengajaknya memasuki hutan di balik menara dan batu-batu tinggi. Dari penjaga-penjaga yang berdiri di tiap titik, Miel mengetahui bahwa Ives akan menunjukkan sesuatu yang bukan menjadi konsumsi penduduk kota.

Maka ia mencoba untuk menunggu, menanti sesuatu yang mungkin saja lebih buruk dari yang ia bayangkan. Miel bisa saja lari, tapi ia memilih untuk memuaskan keingintahuannya.

“Mereka menyebutnya sang huglooms,” dari balik titik-titik cahaya matahari yang mulai tenggelam dan menghilang di hadapan Miel, Ives menoleh padanya, menatap singkat wajah Miel yang nyaris tertutup rambut sebahunya yang melambai-lambai diterpa semilir angin.

Miel menghentikan langkahnya, “Maksudmu, Kota Onalo ini menjadi pusat kekuasaan dunia karena bantuan dari sang huglooms?” tanyanya lantang. Suaranya meringkih seperti kuda yang kesakitan.

Ives tidak menggubris, ia tetap meniti langkahnya diiring Osmar dan si gemuk yang setia. Miel mengulang tanya tersebut beberapa kali, memaksakan diri untuk terus mengekori Ives. Hingga menit berikutnya ia memutuskan untuk menyerah. Pria tua yang masih gagah itu mendadak membungkam diri.

Setelah melewati tangga-tangga yang tersusun rapi di antara batu-batu besar, mereka berhenti di ujung terjal. Ives mempersilahkan ketiganya untuk mengamati. Awalnya Miel ragu, hingga sepasang bodoh itu menatap takjub pada cahaya terang di bawah jurang tersebut.

“Terkadang sebuah pengorbanan kecil perlu dilakukan untuk kedamaian di masa depan, anak muda.” Ives menggumam, melayangkan sebuah senyum singkat pada Miel sebelum akhirnya merogoh kantung di balik jubah maroonnya.

Sepasang belati perak berayun ringan bersama gerakan tangan Ives, mendarat tajam pada punggung Osmar dan si pria gemuk dalam sebuah kedipan mata, menembus dada mereka hingga keduanya hanya mampu mendesah hampa. Miel melangkah mundur, mengutuk dirinya sendiri. Selain selembar sapu tangan lusuh, ia tidak mengantongi apa pun untuk melindunginya dari Ives—jika saja sewaktu-waktu pria itu menyerangnya.

Pria tua itu mendorong tubuh keduanya hingga jatuh ke dalam jurang. Sepasang lengan kekarnya terlentang, menyiramkan berbagai mantra yang tak dimengerti Miel. Terang dari bawah terjal itu semakin menjadi-jadi, sinar putihnya seolah saling mendahului menciumi wajah Miel. Pada akhirnya ketakutan itu berubah, membuatnya memilih untuk bertahan di sana.

Sejenak setelah terang itu meredup, Ives mengalihkan perhatiannya pada Miel. Ia berdiri di antara tetes darah Osmar dan si gemuk. Mata birunya melebar, menyebarkan kekuatan yang tak kasat mata.

“Bantulah kota ini dengan mengambil imajinasinya. Akan kuberikan apa pun yang kau mau; harta, tahta, wanita, segalanya,” ucap Ives, kemudian menyodorkan botol bening sebesar ibu jari padanya.

Miel tertegun, membiarkan hening membelah jarak di antara mereka. Ia menatap kuku-kuku Ives yang bersih dan dipotong rapih, mengapit botol kecil dengan sumbat gabus kecokelatan tersebut.

“Jangan biarkan keingintahuanmu binasa begitu saja, anak muda,” bujuk Ives. “Bukankah kau ingin mengetahui kebenaran akan sosok huglooms itu sendiri?” imbuhnya.

Jantung Miel bertalu-talu di rusuk dadanya, ingin melompat keluar. Ives sengaja tidak membunuhnya agar ia melakukan tugas itu, memikirkannya saja membuat Miel berubah kalut.

Tangannya. Dengan susah payah Miel meraih botol tersebut. Cengkeraman itu mengetat, seolah ia sedang mencekik botol kecil dalam genggamannya. Jika ia tidak melakukan perintah Ives, pria itu tidak akan segan menikamnya. Sekalipun ia melakukannya, ia tak pernah tahu apa yang akan terjadi di bawah sinar terang di sana. Skenario terburuk adalah sang huglooms akan menjadikannya santapan lezat.

Miel beranjak setelah Ives menyuruhnya menuruni tangga di sisi lain. Mematuhinya, ia kemudian berlari menuju anak tangga pertama. Dengan kasar, jemarinya menelusuri rambutnya yang terbang. Sebelum tubuhnya hilang ditelan sinar terang tersebut, ia mengamati Tetua Ives dari kejauhan, yang juga mengawasinya tanpa berkedip.

Ia terus berjalan, mengikuti kemana arah anak tangga tertuju. Hingga ia tiba di dasar jurang yang dipenuhi oleh bebatuan dan pakaian-pakaian manusia. Miel memberanikan diri, melangkah semakin dalam. Di sana hanya dihiasi lautan pakaian manusia dan ratusan belati yang sama, yang Ives gunakan untuk membunuh Osmar dan si gemuk. Tak ada yang lain.

Miel mendongak, tak mampu menemukan sosok Ives selain atmosfer putih lebat nan tebal di atas kepala. Ia menoleh sesaat ke balik tubuhnya untuk sekedar mengingat kembali arah anak tangga terakhir. Hanya itu satu-satunya jalan keluar yang dimilikinya.

“Miel,”

Terperanjat, suara itu mengagetkan Miel hingga tubuhnya berjingkrak hebat. Pria itu mencari arah suara yang tenggelam di ujung pendengarannya, lalu langkahnya terhenti di sudut jurang yang dilingkupi kegelapan.

Ada seorang wanita di sana, berada di atas tumpukan batu yang lebih tinggi. Kulitnya pucat, sepasang pupil putihnya tertuju padanya. Sementara sepasang lengannya dijerat kuat oleh puluhan rantai perak, rambut putihnya melayang-layang seolah menggapai udara. Miel bertaruh, sekuat apa kata-kata ajaib yang mampu membelenggu wanita malang tersebut di sana.

Yang dilihatnya saat ini bukanlah tubuh telanjang yang membusuk tanpa busana, seperti yang disinggung Osmar sebelumnya. Wanita itu dibalut kain putih selembut sutra, nyaris sama pucatnya dengan warna tubuhnya. Dalam kegelapan itu, tubuh wanita itu seolah bersinar sebagai sumber cahaya. Lembut, seolah membelai-belai keberadaannya.

“Miel.”

Pria itu terdiam, mengamati sosoknya, seperti segumpal kapas yang melayang-layang. Miel terpesona. Ia yakin benar dengan hal itu.

“Kau tahu namaku,” ucap Miel, sembari mengitari tubuh si wanita yang terus berusaha untuk mendekatinya dalam jeratan. Lantas pria itu menatapnya, lebih dekat, hingga ia nyaris mencium bibir pucatnya yang menggoda.

“Jadi, kau adalah seorang huglooms,” bisiknya. Sepasang mata Miel mengamati wajah si wanita dengan seksama. Pucat, tanpa noda.

Sebelum pria itu kehilangan kesadaran pada detik berikutnya, yang ia temukan hanyalah sebilah senyum yang terukir di wajah sang huglooms. Senyum yang indah, namun mengerikan pula dalam waktu yang bersamaan.

**SELESAI**

huglooms_footer_version001_2021