2020: In 10 Pages

Gagasan utama The Year In Review tak lain adalah mengenai sebuah koleksi momen terbaik dalam ulasan singkat yang mudah untuk diringkas.

Kali ini, aku akan bercerita tentang dirinya—lagipula blog ini sedang (lebih tepatnya sudah) sekarat sejak beberapa tahun terakhir dan tak ada satupun yang perlu untuk diulas. Selama waktu yang terhenti itu, ia mengizinkannya terjadi begitu saja. So, let’s take a look at the past year from her perspective.


| PAGE 01

Sejak tadi masih kutunggu.

Entahlah. Mungkin satu jam telah berlalu; mungkin juga lebih dari itu. Waktu adalah sesuatu yang sulit untuk diukur, terutama di dalam ruangan ini.

Kuperhatikan ia masih duduk di sana, pada kursi berlengan berlapis katun tebal berwarna putih tulang yang sengaja kupilih dengan hati-hati. Akupun duduk di hadapannya pada kursi yang sama persis, memutar-mutar sebatang pulpen bertinta putih bersama sebuah buku catatan berwarna hitam di atas pangkuanku.

Bisa dibilang jarak di antara kami hanya dipisahkan oleh sebuah pembatas yang kasat mata. Saat kupikir kehadirannya begitu dekat, kepalaku tiba-tiba mempengaruhi cara pandangku padanya, membuat sosoknya seolah begitu jauh. Begitupun sebaliknya.

Jadi sengaja kubiarkan pembatas dari udara hampa itu berdiri di antara kami berdua; memisahkan kami dengan jarak sosial yang sewajarnya.

Photo by Mikhail Nilov on Pexels.com

Ia masih termenung; menatap kosong jendela kaca yang melapisi dinding di sampingnya. Yang kutahu, hanya cahaya putih terang saja yang menghiasi pemandangan di luar sana. Sambil menopang daguku yang semakin berat, sesekali kutilik wajahnya yang membisu. Kuhitung tiap kedipan matanya karena hanya sementara ini yang dapat kulakukan. Tentu saja, selain menunggunya untuk bicara.

Aku benar-benar bingung dibuatnya.

“Bosan?” ia akhirnya bertanya, membuatku nyaris menjatuhkan daguku yang mengantuk.

“Pantatku berkeringat. You should know that,” dan jawabanku membuatnya menyeringai seketika. Kubenahi letak bokongku yang memanas; menyalahkan waktu yang tak mampu mendeteksi seberapa lama kegiatan ini telah berlangsung.

“Sepertinya kau masih belum menyerah,” kulihat tangannya menyandar pada lengan kursi, membentuk sebuah siku, menopang keningnya untuk menjerat perhatianku pada sepasang matanya yang menyipit—terutama saat ia menggodaku seperti ini. “Kau sudah mengetahui semuanya, Hugs. Untuk apa kau catat pertemuan kita,” lalu ia mendelik pada buku dengan kertas hitam di bawah pelupuk mataku.

Kutepuk jidatku hingga kepalaku mendadak pusing. Tiap kali ia memanggilku dengan sebutan itu, ada perasaan ngeri dan juga geli yang bersamaan; antara sebutan romantis atau sebutan seorang majikan pada peliharaannya.

Huglooms, what a name.

| PAGE 02

“Aku belum mencatat satu katapun, okay,” aku membela diri dengan menunjukkan halaman kosong yang muram nan gelap itu di depan wajahnya. Wanita itu terkekeh; tawa singkat yang kadang membuatku jengkel.

“Kau tak akan membuatku bercerita jika kau tidak menyingkirkan benda itu dari pandanganku sekarang.”

Oh, come on,” gerutuanku menggema hingga ruangan yang kami tempati mendengungkan suaraku yang nyaring bagai penyihir maallum yang sangat kubenci.

“Jangan bertingkah seperti mereka, kumohon.”

Kelopak mataku sengaja kubuka dengan lebar saat mataku yang seperti mayat ini berputar, mengejeknya. “Baiklah, karena kau telah memohon—” sambil meluruskan kedua tanganku, kulempar buku catatan dan pulpen abadi ini ke luar jendela. Benda itu menghilang dalam terang di luar sana. Sungguh menakjubkan. “—and you are are welcome,” sepasang tanganku terbuka lebar, menunjukkan padanya bahwa peranku di sini bukanlah sebagai psikiater atau dokter spesialis lainnya.

Masih dengan posisi yang sama, kudengar ia bersenandung dalam nada yang rendah. Bibir tebalnya bergetar mengumandangkan sebuah lirik yang sangat kusukai. Suaranya memang tidak semulus Roberta Flack, tapi setidaknya ia mampu mengontrol nada mana saja yang pantas didengar oleh telingaku.

Ia selalu melakukan hal itu untuk menenangkan pikirannya. Aku bersumpah tidak sedang mengolok-oloknya saat ini. Cara itu justru lebih baik dibandingkan dengan menebas pohon-pohon raksasa di hutan pineas; seperti yang selalu kulakukan tiap kali ia memutuskan untuk tidak menulis kelanjutan dari kisahku yang menyedihkan.

Bagaimanapun juga, ia adalah penciptaku. Tentu saja ia bukan Tuhan—kau pasti mengerti maksud dari ucapanku di sini. Aku adalah sang Huglooms, dan ialah yang membuat sosokku menjadi bagian dari salah satu fiksinya. Kehidupannya di dunia nyata memberikan pengaruh besar terhadap alur kehidupanku, jadi, jangan mengartikan penuturanku sebagai ucapannya karena saat ini akulah yang bercerita; dari sudut pandangku, bukan dari sudut pandangnya.

| PAGE 03

Yes, I’m talking about her; sosok yang telah menciptakanku sebagai seorang petarung yang luar biasa dalam fiksinya. Dan sekarang ia sedang tidak sehat; rapuh.

Kudengar ia berhenti bersenandung.

Tubuhku mendadak meloncat seolah dipenuhi gairah; aku berani bertaruh perasaannya kini jauh lebih baik. Itu berarti akan ada lebih banyak keceriaan pada perbincangan kami kali ini.

Kulayangkan sebuah senyum padanya. Ia membalasnya dengan senyum yang sama. Kuperhatikan bentuk dari seringaiannya kali ini lebih tertuju pada pengertian yang lain: sebuah ketidakpuasan. Aku tahu, ia tak hanya memandang wajahku yang pucat. Ia menelisik sosokku lebih dalam—mengangguk penuh pertimbangan terutama pada rambut hitamku dengan poni sebatas alis yang mengempis.

Sesaat sepasang matanya terpejam. Dan ketika ia membuka mata, rambutku kini berkibar dengan warna putih keabu-abuan, tanpa poni, dengan gelombang yang terlihat lebih menarik. Warna ini lebih cocok dengan pupil mataku, tapi saling bertubrukan dengan warna kulitku.

Red would be much better, especially the color of blood,” ucapku, dan ia hanya menggedikkan bahu, menolak gagasanku.

Dalam ruangan ini, ia mampu mengubah penampilanku sesuka hati. Ia menamai tempat ini sebagai ‘the bridge’; sebuah ruang berbentuk persegi dengan warna putih yang melingkupi seluruh dinding, tempat di mana kami dapat duduk bersama dan saling berkomunikasi. Sudah cukup lama ia menghilang dan tak pernah menampakkan diri di sini. Karena itu aku terlalu bersemangat saat ia memutuskan untuk sejenak menutup mata, mengakses ruang rahasia yang hanya mampu dihuni oleh kami berdua saja.

Can I call you with your real name?” tanyaku sambil menyisir rambut keabu-abuanku yang melayang-layang.

Ia mencibir, menopang dagunya tanpa menolak pandanganku yang penuh gairah, “Mereka menyebutku Ikha, jadi panggillah aku dengan sebutan itu. Dan jangan pula kau berbicara dengan bahasa lain. Kepalaku terlalu lelah untuk berpikir.”

Aku mendesah. Ia bertingkah lagi; kumat lagi.

| PAGE 04

“Sudah terlalu lama kau tidak menulis,” sengaja kuselipkan setitik keputus-asaan dari suaraku yang rendah. Kepalaku menunduk, memberenggut seperti anak kecil.

Diam-diam kulihat bibirnya mengerucut, bersama dengan kerut dari sepasang alis matanya yang rapih, “Mungkin tiga tahun yang lalu? Atau lima?” pikirnya.

Cara itu berhasil. Ia menjawabku dengan baik tanpa meninggalkan ruangan ini seketika.

You know your head is full with ideas” tenggorokanku seketika tercekat saat kutemukan ia tengah mendelik tajam karena tidak menyukai ucapanku dalam bahasa ini. Akupun berdeham, berharap ia tak lagi menunjukkan tatapannya yang mengerikan. “Hari ini adalah hari pertama di tahun 2021, dan aku ingin menulis sebuah ringkasan untuk tahun 2020. Mungkin dengan begitu tulisanku akan membangkitkan gairah menulismu lagi,” saranku, lebih tepatnya setengah memohon.

Ia kembali mendesah. Kali ini desahnya cukup panjang, membuatnya seperti kesulitan bernapas.

“Aku tahu kau masih menyimpan konsep ini—The Year in Review—untuk tahun 2017, 2018, dan 2019,” kutilik sebuah berkas pada laptopnya yang tiba-tiba muncul di sampingku, “dan konsep ini masih tersembunyi di sana, terlambat untuk dibagikan ke situs blogmu—bersama dengan cerita-cerita lain yang masih bersambung. Kesemua itu membuatku marah, Jay.”

Jay—seperti huruf J, begitulah diriku memanggil namanya. Ia mengelus jerawat di bawah bibirnya yang baru saja meledak pagi tadi, meninggalkan denyut perih yang dapat kurasakan di wajahku juga.

“Jangan khawatir, Hugs,” ia menyejajarkan kakinya yang terlalu lama menyilang satu sama lain. Iapun menggeliat beberapa kali, terlalu banyak berpikir membuat tubuhnya membeku, “kau tetaplah kesayanganku,” imbuhnya, meyakinkanku.

Giliranku yang mencibir padanya. Sejak ia menghilang beberapa tahun lalu, aku tak lagi memercayainya. Tentu saja, Huglooms tak akan hilang dari ingatannya. Hanya saja, terlalu lama menunggu benar-benar membuat kesabaranku menipis.

“Kau lupa bahwa aku dapat merasakan kegelisahanmu,” kulipat kedua tanganku di dada, kali ini kucoba untuk menggertaknya secara perlahan, “sejak kau ditinggalkan olehnya, kau selalu memikirkan sang kematian setiap harinya. Dan kau takut ketika kematian itu datang terlebih dahulu, cerita-ceritamu akan menggantung selamanya.”

Kukira setelah ujaranku menohoknya, ia akan kembali meninggalkanku lagi di sini. Tak kusangka ia masih duduk bersamaku, berpikir.

| PAGE 05

“Jadi marilah kita mulai lagi, Jay. Perlahanpun tak apa,” ucapanku terbenam dalam gusaran. Ia masih diam, dan aku melanjutkan, “baiklah, akan kucoba mengganti perbincangan kita menjadi lebih menarik,” kuubah suaraku dengan nada yang lebih lembut. Lagipula, aku tidak bisa menusuknya dengan pedangku karena ia bisa membuat benda itu menghilang selamanya dariku—atau mengubahnya menjadi sebatang sapu tua sebagai gantinya.

Ia mengiyakan, sama sekali tidak banyak berkomentar.

Senyumku mengembang. Kulayangkan sebuah kerlingan sambil mengucap ‘I love you’ dalam sebuah bisikan, membuat wanita itu menggeleng kepala bersama seringaiannya yang manis.

“Aku tahu betul bahwa sulit bagimu untuk membagikan semua yang terjadi padamu di tahun 2020 pada orang lain. Apakah kau bisa memilih sebuah lagu yang bisa meringkas ke semua itu?”

Ia merenung. Sepertinya ia menyukai pertanyaanku kali ini.

“Sebuah lagu tak akan cukup untuk menyimpulkan semuanya, Hugs. Bagaimana jika lima lagu?” ujarnya.

That’s even better!” aku memekik, terlalu gembira. Ia mengikuti permainanku dan itu berarti bahwa perasaannya tak lagi memburuk seperti biasa.

“Apakah kau punya satu, sebagai sebuah contoh?” ia balik bertanya.

Well, kau tahu,” sengaja kuberanjak dari kursi untuk berdiri dengan sepasang kakiku yang telanjang, “Mmmh oleh Kai akan selalu menjadi pemenang,” jawabku kemudian diikuti oleh gerakan tarianku seperti yang Kai lakukan di bagian chorus.

Jay mengikuti gerakan itu. Sesaat kami saling bersenandung Mmmh, Mmmh, Mmmh, dengan nada yang tak beraturan. Mencoba menari dengan penuh godaan meskipun pada akhirnya kami berdua lebih nampak seperti sepasang cacing liar.

Kami saling tertawa. Ia tak akan menolak lagu itu sebagai salah satu yang terbaik. Rhythm and Blues yang penuh candu merupakan kesukaanku, kesukaannya. Sayangnya, lagu itu tidak sesuai dengan tema kali ini. Jadi kami sisihkan sebagai terbaik dari yang terbaik.

| PAGE 06

“Kau tahu film dari Prancis, Amélie?” tanyanya, kemudian duduk kembali pada kursi sambil menyisir rambut panjangnya yang berantakan.

Aku hanya mengangguk, masih mengatur napas akibat tarian singkat yang telah menghisap separuh tenagaku.

Comptine d’un autre été, l’après-midi adalah lagu pertama yang kupilih.”

The Rhyme of Another Summer,” nada suaraku sedikit meninggi seolah menciptakan sebuah tanya di akhir kalimat, “tapi ini hanyalah instrumen saja. Tak ada senandung lirik di dalamnya.”

Seketika ia menyorotiku dengan tatapannya yang menakutkan; dan lagi-lagi sikapnya membuatku menyerah.

“Berikan sebuah alasan,” ujarku, menyalin gaya duduknya hingga tubuhku seperti pantulan tubuhnya sendiri dalam sebuah cermin.

“Kau hanya perlu mendengarkan dengan baik, lalu kau akan mengerti,” jawabnya.

Sebuah pemutar piringan hitam tiba-tiba muncul disampingnya, memainkan lagu itu hingga gema dari tiap alunan piano yang bersemangat mulai meraung-raung mengisi gendang telingaku.

| PAGE 07

Aku hendak berucap sebelum kurasakan lidahku berubah kelu seolah ia sengaja melakukannya. Maka kubiarkan dirinya tenggelam dalam pikirannya sendiri untuk sementara waktu, setidaknya hingga lagu berdurasi dua menit ini berakhir.

Setelah kupikir-pikir lagi, tingkahku ini sungguh egois. Pantas saja ia tak pernah meluangkan waktunya untuk sekedar menciptakan sebuah prompt singkat di blog ini. Tahun lalu telah menguji segala yang ia miliki; segalanya, secara harfiah.

Awal tahun 2020, saat ia ditugaskan untuk pergi ke salah satu kota besar di Vietnam sebagai bagian dari pekerjaannya yang membosankan, ia tiba-tiba diserang oleh sakit yang tak mampu terdeteksi oleh siapapun. Kegelisahannya itu berubah menjadi mimpi-mimpi buruk yang lantas menghantui tiap malamnya. Tak disangka bahwa mimpi yang tak kenal lelah mengetuk-ngetuk kedamaiannya itu merupakan sebuah pertanda.

Kabar mengenai kesehatan ibunya semakin mengusik cemas yang telah mengganggunya. Di saat isu pandemik yang melanda mengirimkan kode merah ke seluruh negara di bulan Maret, kabar itu telah menjadi teror di Thailand, negara yang ditinggalinya, sejak akhir Januari. Pengurangan pendapatan akibat travel ban yang dideklarasikan oleh pemerintah membuat hotel tempatnya bekerja mengalami penyusutan; sementara itu kesehatan ibunya kian memburuk tiap harinya dan ia kesulitan untuk sekedar menjenguknya.

Di balik tubuh Jay, dinding putih itu menciptakan bayangan-bayangan singkat. Kuperhatikan, bayangan itu memainkan kilatan adegan pendek. Jay masih memejamkan mata, menikmati alunan musik Yan Tiersen di menit kedua. Ia tak menyadari saat proyeksi pada dinding menampilkan sebuah ruang tidur dengan penerangan yang muram. Sosok Jay berdiri di samping jendela kaca yang sama tingginya dengan atap apartemen. Sambil berbicara pada ponselnya, ia menangis sejadinya.

Oh, aku benar-benar egois.

Jay sedang mengingat kembali saat adik tersayangnya menghubunginya; saling meminta maaf karena keduanya telah ditinggalkan oleh sang ibunda. Jay hanya mampu menjerit; ia tak menemukan pesawat manapun malam itu karena pandemik telah menutup segala penerbangan hingga minggu selanjutnya.

| PAGE 08

Adegan berikutnya berubah.

Adiknya dipeluk erat, sementara dirinya menatap tajam sang ayah dan kakak laki-lakinya yang, baginya, hanyalah kehadiran yang tak berguna. Sambil menabur bunga di pemakaman keesokan harinya, ia masih menyembunyikan fakta perihal pekerjaannya di negeri seberang: ia diberhentikan dengan alasan tak ada pemasukan mengingat pandemik telah mengoyak industri perhotelan.

“Kau benar, Hugs. Satu lagu ternyata cukup untuk meringkas semuanya,” Jay membuka mata setelah lagu itu selesai berputar, meleburkan proyeksi pada dinding di balik tubuhnya menjadi lapisan keputihan yang kekal.

Aku kehilangan kata-kata.

Tatapanku yang melanglang-buana perlahan mengabur saat Jay mencoba mengembalikan fokusku dengan menjentikkan jari. Ia menunggu, apakah aku akan melanjutkan wawancara singkat ini atau mengakhirinya sesegera mungkin.

Aku juga lupa. Sebanyak apapun caraku mengembalikan imajinasinya untuk menulis, segala kehilangan yang ia alami ternyata lebih menyakitkan dari yang kubayangkan.

“Kadang kuharap semua ini hanyalah mimpi-mimpi buruk saja,” kuperhatian dirinya menelisik garis-garis rumit pada kedua telapak tangannya, “tak kusangka ini adalah kenyataanku yang sesungguhnya,” imbuhnya, kemudian telapak tangannya menyentuh wajahnya yang melayu, menyembunyikan kesedihan yang kuyakini kembali merasuki akalnya yang lelah.

You’re dreaming here too,” aku berujar, beranjak dari kursiku untuk mendekati pembatas kasat mata di antara kami, “and I’ll make sure to make you smile, darling,” sengaja kumiringkan kepalaku untuk mencari perhatiannya.

Ia mendongak di tempatnya, menatapku dengan sepasang matanya yang berkaca-kaca.

“Kau beruntung karena masih memilikiku. Di dalam kepalamu itu, tanpa kau sadari aku selalu menghiburmu, membuatmu tetap waras,” kuselipkan sedikit ejekan dalam kalimatku barusan dan berharap ia akan menggertakku.

Tak kusangka ia malah tersenyum.

| PAGE 09

“Cobalah untuk mengingat kehadirannya tiap kali kau merasakan sedih itu lagi,” saranku, nyaris berbisik.

Ada sesuatu yang salah dari ucapanku karena setelahnya wajah Jay semakin memerah. Sepertinya ia sedang menahan tangisnya yang membludak. Ini terlalu rumit, aku tak bisa membaca pikirannya kali ini. Aku tahu ia selalu merasakan kebahagiaan tiap kali mengingat ibunya. Tapi di sisi lain, ia juga seperti tersakiti.

Kugigiti bibir bawahku tak sabaran, menyesali ucapanku yang kadang terlepas dari sensor penyaring perasaan. “Adakah sedikit kebahagiaan yang bisa kau bagikan di tahun 2020?” tanyaku, mencoba untuk mengalihkan kesedihannya.

Ia menggeleng, “Kebanyakan kebahagiaan itu ada di beberapa tahun terakhir. Karena itulah aku menulis konsep ini sebelumnya,” jawabnya seraya mengintip laptop kesayangannya yang masih bertengger di atas meja kecil di balik tubuhku.

“Kau sedang diuji. Yang kau butuhkan saat ini adalah waktu untuk menyembuhkan segalanya,” ucapanku mungkin terdengar bodoh tapi setidaknya kucoba untuk menghibur dirinya.

Ia menengadah, menatap langit-langit yang sama putihnya dengan dinding yang mengelilingi kami berdua. Ia tak banyak melakukan gerakan lain selain mendesah dan menghempas napasnya yang panjang. Pemutar piringan hitam disampingnya menghilang, digantikan oleh meja kayu dengan vas bunga dari keramik yang kosong.

“Apakah ada sebuah harapan di tahun ini?”

Bahunya terangkat, “Entahlah. Mungkin untuk memulai lagi—menulis maksudku,” jawabnya lirih.  “Kau benar, sudah terlalu lama,” imbuhnya, lantas menyisir rambut hitamnya yang mulai kemerahan.

Senyumku mengembang karena aku tak sanggup untuk menyembunyikannya. Kali ini bukan karena keegoisanku. Sejak dulu, menulis adalah cara Jay untuk menghibur diri. Percayalah, saat ini ia membutuhkan hal itu lebih dari apapun.

| PAGE 10

“Bicara tentang waktu, apa kau sadar bahwa kita telah berada di sini beberapa bulan?” tanyanya sambil membenahi switer merah muda untuk menutupi tubuhnya dengan sempurna.

Aku mengerutkan kening, mengejeknya, “Tidak mungkin. Aku memanggil kehadiranmu di hari pertama tahun 2021. Aku yakin kita hanya menghabiskan waktu satu jam saja di sini,” kilahku.

Nope,” ia beranjak dari tempatnya, kembali menyisir rambut panjangnya yang bergelombang, saling berhadapan denganku bersama pembatas setinggi ruang yang memisahkan kami. “It’s March now,” ujarnya.

Mulutku menganga sementara sepasang tanganku bertolak pinggang, “Ini adalah kesempatan pertamaku untuk menulis sebuah fitur dan kau malah bermain-main dengan waktu? I’m planning to post it on the first of January!

Sengaja teriakanku mengaum-ngaum di dalam ruang. Aku yakin lengkingan itu menembus pembatas di antara kami. Lihat saja, wanita itu malah mengumandangkan tawa yang menjengkelkan.

See you around, Hugs. EXOPLANET series is coming soon,” ia menatapku sejenak kemudian menghilang dari tempatnya.

Kuhela napasku cukup panjang setelah kepergiannya. Aku membalikkan tubuh, meloncat ke atas kursi yang kini berubah menjadi sebuah sofa panjang yang empuk. Kusandarkan kepalaku karena tubuhku menegang selama perbincanganku dengannya. Sungguh, aku benar-benar peduli padanya. Hanya saja, sosokku tidaklah nyata. Aku hanyalah sebuah karakter yang hidup pada sudut kecil di dalam isi kepalanya.

Setidaknya kali ini ia mau bicara. Tak dapat kubayangkan jika dirikulah yang mengalami segala keterpurukan itu di dunianya yang rumit. Belum lagi hal-hal lain yang membuat hidupnya semakin gelap. Dikhianati teman kerjanya? Ya. Kehilangan teman terbaiknya? Ya. Tak dihargai oleh sanak saudaranya sendiri? Ya.

What else? She had it all in 2020.

Begitulah ringkasan hidupnya tahun lalu. Kucoba merangkumnya tanpa memberikan penjelasan yang lebih rinci. Tujuanku di sini hanyalah untuk memancing hasratnya kembali; menulis, melanjutkan kisahku di dalam EXOPLANET karena aku sudah tak sabar untuk mengencani Baekhyun yang masih menungguku sejak di seri pertama.

Kuharap sesuatu yang menarik akan terjadi di tahun ini. Sesuatu yang baik, tentunya.

Huglooms, on behalf of JS

March, 2021