The Guy With The Heart-Shaped Lips

Kebanyakan dari mereka menyebut Desember sebagai sebuah keindahan; salju yang menyelubungi seluruh kota menyeret persepsi mereka pada bulan yang penuh kesucian. Tiap kali kudengar omong-kosong itu, secarik senyum bodoh yang terpaut di wajahku terukir seketika.

Snow, my ass, gumamku di dalam hati. Sayang sekali, aku bukanlah penggemar Desember. Terutama saat diriku terpaksa bermukim di atas ketinggian enam ribu kaki; di tengah belantara, tanpa kehangatan dari sang mentari.

La. Vie.: The Cafe of Life [Chapter 01]

Gelap telah menyambutku sebelum jam enam sore, dan kukutuk matahari dengan berbagai makian karena sinarnya tak mampu menembus deretan pohon pinus yang menjulang menyembunyikan kediamanku. Malam ini, telah kutata kembali rambut panjangku yang bergelombang. Firasatku memancarkan sesuatu yang baik sejak pagi tadi. Mungkin tamu pertamaku akhirnya akan datang berkunjung.

Tapak kakiku sengaja mengetuk-ngetuk lantai kayu saat aku melangkah menuruni beberapa anak tangga di depan pintu masuk. Tatapanku menerawang dalam kegelapan, mencari kehidupan di balik suara burung gagak yang saling mendekur di tengah malam. Sudah lewat dari jam sembilan, dan aku masih tak menemukan siapapun di luar sana.

Masih berdiri di ujung anak tangga, semakin kukeratkan pelukanku dengan sesekali mengusap lenganku yang telanjang. Musim dingin tak akan mengubah tekadku untuk mengenakan jaket tebal. Bagiku, pakaian itu hanya menyembunyikan lekuk tubuhku yang kubanggakan. Dan tak akan kusia-siakan kesombongan ini setelah kusiksa tubuhku setiap hari dengan melakukan berbagai macam senam dan diet yang bermasalah.

Menggigil, akhirnya kupilih untuk memutar badan; memaksakan diri menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kehangatan di dalam ruangan. Kupastikan tanda La. Vie. yang terpancar dari neon putih di atas pintu menyala tanpa berkedip. Kemudian pintu kafe itu kubuka lebar, membuatku menghela napas panjang kala kenyamanan itu mendadak menyelubungiku.

https://www.society19.com/

Hendak mencapai konter yang terletak di sudut ruangan, sepatu bot yang membalut sepasang kakiku mendadak berhenti mengetuk-ngetuk lantai. Belaian semilir angin yang berhembus dari balik pintu membuat seringaian di sudut bibirku terbentuk sempurna. Tubuhku berputar, menghadap sesosok pria yang tengah berdiri tegap di antara kerangka pintu.

Seringaianku pun berubah menjadi sebuah senyuman.

Sesungguhnya, aku masih belum mengerti bagaimana pria itu berada di sana tanpa terdeteksi oleh seluruh inderaku. Yang mampu kutemukan hanyalah jejak kaki dari sepatu hitamnya di atas anak-anak tangga yang diselimuti serpihan salju malam ini. Aku tak peduli meski sosok itu adalah seorang bandit ataupun pedagang kematian. Malam ini, tak lagi kuhabiskan waktuku seorang diri karena kemunculan pria itu berhasil memupus keputus-asaanku.

Ia hanya melangkah sekali saja, memastikan bahwa tubuhnya melewati daun pintu yang lebar untuk menikmati kehangatan yang sama. Sepasang alis tebalnya mengerut, menciptakan ketegangan saat matanya yang besar mengamati sekeliling ruangan tanpa jeda.

Colorado 09:01

Welcome,” kuputuskan untuk menyapanya meski kusesali setelah mendengar lengkingan yang sangat jelek dari tenggorokanku. Di hadapanku, si pria masih membungkam diri tanpa gerakan yang mencolok.

Tatapanku ikut beredar bersama dengan sorotannya yang masih menjelajahi seisi ruangan. Kafe yang diciptakan olehku memang tidak seluas yang dibayangkan. Di dalam ruangan yang terselubung oleh kehangatan ajaib, hanya sepasang kursi dan meja yang menghiasi pojokan di dekat pintu utama, sementara pojokan lain sebagian besar dirancang khusus untuk konter kebanggaanku.

I know it’s a small place. Would you like sit outside?” aku menyarankan karena pria itu masih mengatupkan bibir sambil sesekali mengedutkan rahangnya yang mengeras.

Si pria menoleh ke balik jendela besar untuk mengamati sepasang kursi yang lebih kecil di beranda. Ia mendengus, menganggap tawaranku sebagai sebuah canda. Bagaimanapun juga, ia tak akan duduk di luar bersama lapisan salju yang nyaris menggerogoti benaknya yang lelah. Aku yakin akan hal itu.

No, here is fine,” jawab si pria.

Sejenak, aku terkesiap; mengagumi suara maskulin alami diiringi nuansa yang gelap dan lembut secara bersamaan. Pria itu menyisir rambut hitamnya dan membiarkan serpihan salju berjatuhan ke lantai. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun mantel hitam yang nyaris menyembunyikan sebagian kakinya membuat pria itu seperti model di atas panggung.

Dari jarak yang sengaja terbelah di antara kami, kuamati lebih seksama saat pria itu memilih untuk duduk di pojok kiri. Tak ada suara yang terdeteksi dari langkah sepatu hitamnya. Tidak seperti ketukan berirama dari sepatu bot yang kukenakan. Sungguh tidak masuk akal.

Are you sure?” aku bertanya lagi, memutar tubuh agar berhadapan dengan si pria, “this corner is too dark for you,” ucapku, masih mencari-cari sedikit perhatian karena sejak tadi kami masih belum beradu pandang.

Here is fine. And I’ve said it twice now,” suaranya menegas.

Awalnya pria itu hanya mengintip dari balik bahunya yang mungil, menatap ujung sepatu botku yang basah akibat lembab dari salju. Lantas sepasang matanya bergerak perlahan mengamati celana jeans berwarna biru muda dan juga tank top rajut berwarna putih tulang yang kukenakan. Mata yang sama hitamnya dengan rambut pendeknya itu berhenti pada kedua mataku. Selama beberapa saat, kami saling memandang, dan momentum itu berakhir saat kulayangkan sebilah senyum padanya.

If you are uncomfortable, we may speak with your preferred language,” saranku lagi, menyadari aksen yang cukup kuat ketika pria itu terselubung emosi di tengah ucapannya.

Tak kusangka nasehatku membuat pria itu tersenyum; melunturkan kengerian yang terpancar dari matanya sejak kedatangannya barusan.

Setelah menepuk-nepuk mantelnya, ia memutuskan untuk duduk di pojok kiri, menyilangkan kakinya yang terbalut jeans dengan warna yang sama gelapnya dengan pupil matanya. “Jika kau mengerti apa yang kukatakan saat ini, akan kubayar kopimu sepuluh kali lipat,” pria itu berujar, merangkum seluruh jemarinya untuk bertengger di atas pahanya yang berisi. Kepalanya sedikit mendongak, membuat senyum simpul yang merekah dari bibirnya melunturkan kikuk di antara kami.

Seketika akupun terkekeh, “Aku akan kaya raya!” kubalas ucapannya dengan bahasa yang sama, menciptakan kerucut di wajah si pria yang nampak mulus tanpa noda. “Aku dapat menguasai beberapa bahasa yang berbeda termasuk yang satu ini. Kau sangatlah beruntung.”

Kemudian aku beranjak menuju konter, meraih sebingkai menu yang telah kurancang dengan tekun sejak bulan lalu. Warna musim gugur yang menguasai daftar hidangan nyaris tersamarkan akibat terang jingga dari lampu yang memancar di dalam ruangan. Menu itu kubagikan pada si pria, lalu kutinggalkan dirinya sejenak meski kerut takjub yang dipenuhi segala keingintahuan masih menguasai wajahnya yang jantan.



“Apakah kau sudah memutuskan apa yang ingin kau pesan?”

Kuperhatikan pria itu masih membolak-balik menu hidangan yang kutawarkan dengan keengganan yang sangat kentara.

“Pilihannya sangat terbatas namun desainmu sungguh menarik,” ia memberenggut, membuat bibir tebalnya mengerucut. “Hot cappuccino, please. Extra shot, with two sugar in a raw,” akhirnya ia memutuskan, “and a cookie.

Tawaku nyaris saja membahana jika bibirku tidak kugigit sekencang mungkin. Pria itu masih mengamati halaman menu tanpa ketertarikan yang membuncah. Baguslah, ia tak perlu menemukanku sedang menahan tawa akibat geli dari ucapan terakhirnya.

Aku berdeham rendah, “Hanya kue kering saja?” tanyaku memastikan. Kurasa alisku tak kalah mengerucut seperti yang terlukis di wajahnya.

Ia tersenyum, kali ini senyum yang menyenangkan. “Berat badanku sedang dalam masa orientasi,” jawabnya, dan disambut oleh tawaku yang kali ini benar-benar menggema.

Kuulangi pesanannya sejenak dan berlalu meninggalkan dirinya dalam lembut kegelapan di pojok ruang. Sambil mengenakan apron pada pinggangku, kutilik dengan hati-hati saat pria itu bermain-main dengan ponselnya, menyilaukan seberkas cahaya putih dari layar kecil agar aku dapat menelisik wajahnya yang misterius  lebih jauh.

Ia lalu menyembunyikan ponselnya ke balik mantel, membuatku seketika berpaling pada mesin pembuat kopi. Berharap ia tidak menemukanku tengah mengamatinya dari kejauhan.

“Apakah kau akan membuatnya di sana?” tanyanya, masih dengan suara yang sangat kusukai.

“Tentu saja. Dimana lagi akan kubuat kopimu, tuan muda? It’s a small space, you know. And I’ve said it twice now,” aku menjawab dengan melontarkan sebuah kerlingan padanya.

Dari remang jingga yang terpusat dari lampu di tengah ruangan, kutemukan dirinya kembali tersenyum. Setelah itu, kutinggalkan perhatiannya untuk melanjutkan proses penggilingan biji-biji kopi yang segar.

Meski tak kudeteksi langkah kakinya, semilir angin yang kurasakan di bahuku membagikan informasi bahwa pria itu tengah berjalan menghampiriku. Kudengar salah satu bangku tinggi pada konterku diseret pelan, menandakan bahwa pria itu kini duduk di sana.

“Caramu memerhatikan gerak-gerikku sangatlah menakutkan, tuan muda,” masih memunggunginya, kulayangkan asumsi itu mengingat bulu kudukku saling menggelitik tanpa henti.

“Bukankah sangat tak biasa memiliki kafe di tempat antah-berantah seperti ini?”

Aku sedikit menoleh, mendapatinya mengedarkan pandangan pada benda-benda di atas konter. Sesekali dirinya mengamatiku, dan tiap kali mata kami saling bertemu, ia kemudian berpaling dalam hitungan detik.

I got a permission from the state,” lalu kutunjukkan secarik surat ijin yang telah kubingkai dengan manis pada dinding di sebelah kanan tubuhnya. Ia mengikuti arah daguku, mengeryitkan keningnya dengan hebat hingga kedua matanya nyaris menghilang saat menyipit.

“Kau tinggal seorang diri?”

“Tidak, adikku sudah terlelap di rumah kami. Jam sebelas hampir terlewat. Waktunya bermimpi bagi jiwa kecilnya yang malang,” kemudian untuk kedua kalinya daguku bergerak ke sisi kanan si pria, menunjukkan sebuah bangunan yang lebih besar di samping pondok kecil ini.

Dari jendela besar di dalam ruangan, pria itu menatap lurus pada rumah bertingkat tak jauh dari kafe. Ia hanya mengangguk sekali lantas tertuju padaku lagi.

“Bukankah berbahaya tinggal di tengah belantara seperti ini? Terutama bagi wanita sepertimu.”

Aku hanya tersenyum, “Tidak juga. Kupelajari sedikit seni bertarung—setidaknya mengenai sebuah cara untuk membuat seseorang kehilangan kesadaran,” jawabanku membuatnya menyeringai, menimbulkan cembung dempul yang nyaris tersembunyi di balik pipinya yang berisi.

“Sudah berapa lama kau menjalankan kafe ini?”

“Baru saja,” lalu kuletakkan kopinya yang telah kuhias dengan sebentuk daun dari buih-buih di permukaan, “dan kau adalah tamu pertamaku.”

Kuraih sepasang piring kecil di balik laci, menghiasnya dengan cokelat lumer sebelum kusungguhkan pesanan kecilnya. “Kue keringmu,” ucapku seraya meletakkannya di samping kopi, “dan sepotong kue istimewa untuk tamu istimewaku.”

Pria itu memandang hidangan sederhanaku dengan sepasang alisnya yang saling bertautan. Ia sedang mencurigaiku, terlebih saat ia mengendus-eunduskan hidung mancungnya cukup lama pada sepotong kue cokelat berbalut lapisan krim putih di sekelilingnya. Ia mencoba menyeruput kopinya dalam sekali isapan, mengangguk pelan seolah minumanku telah lulus uji dan layak untuk dikonsumsi.

Ia kembali memeriksa ponselnya yang terbalut pelindung berwarna perak. Dari caranya mengetik, kuyakini bahwa ia sedang frustasi. Sementara dirinya masih menyibukkan diri, kubuat secangkir kopi untuk diriku sendiri.

“Mengapa kau membangun tempat ini?”

Bola mataku berputar setelah mendengar tanya berikutnya.

“Sebelum kujawab pertanyaanmu yang sangat menjengkelkan,” kuraih salah satu bangku tinggi di pojok ruangan dan menyeretnya tepat berhadapan dengan pria itu. Tubuhnya menegang saat kuangkat kedua tanganku di atas konter, menelungkupkan keduanya di depan dada. “ijinkan diriku untuk menginterogasimu terlebih dahulu.”

Pria itu tak lagi gelisah mengetahui bahwa sepasang tanganku saling terlipat di sana dan aku tak melakukan apapun setelah itu selain menatap sepasang matanya yang membesar. Lagipula aku berani bertaruh; bahwa ia akan menyerangku secepat harimau jika menemukanku meraih sebilah pisau untuk menghujam dadanya yang bidang. Kadang terukir seberkas kerut di keningnya tiap kali kuhela napas. Sikapnya yang berlebihan benar-benar menggemaskan.

“Ketika kau memasuki kafeku, aku tak menemukan langkah kakimu,” kubuat sebuah jeda untuk memerhatikan lantai terluar, mengamati tapak kaki si pria yang nyaris tertimbun serpihan salju yang baru. “Lalu kau memilih untuk menghampiriku dan duduk di sini karena kau ingin memastikan bahwa aku tak akan menaruh sesuatu ke dalam minumanmu. Percayalah, kurasakan hawa dingin di leherku dari caramu menatapku.”

Ia sama sekali tak berpaling dariku saat aku bicara, seolah mengijinkanku untuk terus mengoceh membiarkan suaraku menghilang dengan perlahan. Sesekali ia menghisap kopinya, masih tak menyentuh kue-kue di hadapannya.

“Kau terus mengirimkankan pesan-pesan singkat—yang berarti kau sedang terburu-buru. Belum lagi kuperhatikan kau mencoba untuk membagikan lokasi ini pada seseorang—yang kusangka bahwa kau sedang tersesat,” ujarku, memerhatikan bilah bibirnya yang tebal saling mengecap tiap kali meneguk kopinya dengan anggun. “Asal kau tahu, tak ada jaringan di sini dan kau tak akan bisa menghubungi atau menerima pesan.”

Kuminum kopiku juga, dan dia melakukan hal yang sama.

Lalu kulanjutkan ocehanku, “Kubangun tempat ini karena kadang kutemukan beberapa pendaki tersesat. Daripada memberikan mereka cokelat panas dan makanan kecil secara cuma-cuma, lebih baik kukenakan sedikit harga karena biaya untuk mengirimkan perbekalan ke daerah ini sangatlah mahal. And I do have a wifi,” kujawab pertanyaan terakhirnya yang sempat tertunda lantas kusodorkan secarik kartu di dekat vas bunga yang berisi kata sandi di dalamnya.

Pria itu menyeringai, “Terima kasih,” ucapnya lalu meraih kartu itu untuk segera mengatur wifi pada ponselnya.

“Sekarang, mengapa kau tersesat, tuan muda?”

Senyumnya berubah geli setiap kali kupanggil dirinya dengan tuan muda. Ia selalu menggelengkan kepala untuk menolak sebutan tersebut. Setelah ia mengirimkan lokasinya pada seseorang, bibirnya bergetar seakan dirundung dilema. Ia sedang menimang-nimang, ragu untuk sekedar membagikan sejumput cerita padaku.

“Aku sedang mencari seseorang,” akhirnya ia bicara. Suaranya nyaris tenggelam di dalam kesunyian ini jika saja tak kupaksa dirinya mengulangi untuk kedua kalinya. Ia menarik kerah baju yang menutupi leher jenjangnya, mengutuk dalam diam akibat suam yang mulai merangkak menyiksanya. “Sayangnya mesin mobilku mendadak mati, tak jauh dari tempat ini,” imbuhnya.

Kuperhatikan, ia menyeka keringat di lehernya beberapa kali.

“Kau bisa melepas mantelmu. Aku tahu di luar sangat dingin namun di sini jauh lebih hangat dari yang kau bayangkan,” kutawarkan hal itu karena aku tak tega melihatnya kehilangan fokus.

“Tak apa,” hanya itu jawabannya.

Tak ingin tamuku berpikir bahwa aku adalah seorang penguntit, sengaja kualihkan perhatianku pada pemutar piringan hitam yang terpampang di sudut lain. Kupilih lagu opera untuk menghiasi suasana malam ini, membiarkan lantunan soprano dari penyanyi wanita untuk mendengung bagai lebah-lebah jahat yang menyengat kakiku minggu lalu.

“Apakah kau seorang polisi? Kau bilang sedang mencari seseorang,” ujarku, seraya berjalan kembali pada bangku tinggi di seberang si pria, tepat di hadapan cangkir kopiku yang masih penuh.

Ia tak langsung menjawab, hanya tersenyum seperti biasa. Mungkin saat ini pikirannya sedang bertaruh untuk menyantap kueku atau menyingkirkannya. Karena sejak tadi ia hanya menatap krim putih di atas kue terbesar yang mulai meleleh.

“Apakah orang itu berbahaya?” tanyaku lagi.

Ia menggedikkan bahu sambil menyesap kopinya.

“Haruskah aku merasa cemas? Kau terus mencurigaiku dan bersikap hati-hati sepanjang waktu.” Kuyakini pertanyaanku ini dipenuhi rengek yang berkepanjangan. Pria itu hanya menertawaiku dengan menyembunyikan wajahnya sambil menunduk. Hidungku mengembang, menahan hasratku untuk tidak menggigitnya karena pria itu malah menjilati bibir tebalnya yang menggoda.

“Jika kau dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran, kau tak perlu khawatir akan hal itu,” ia berkilah.

“Aku serius. Jika seorang buronan berkeliaran di sekitar sini, aku akan berpindah tempat sesegera mungkin,” ucapku, benar-benar mengomel.

I don’t think she will harm you,” ia mencoba untuk menenangkanku dalam sebuah bisikan.

Aku tertegun, “She,” kuubah posisiku dengan meluruskan punggungku yang mendadak pegal, “seorang perempuan, huh?” kuteguk kopiku dengan kasar meski minumanku nyaris membakar tenggorokanku.

Pria itu menatapku heran saat kikihku kemudian melolong seperti ringkih kuda. “Bagaimana mungkin pria sepertimu takut pada seorang wanita?” kusanggah kalimatnya sambil menopang dagu, menelisik wajahnya yang sangat kusukai dengan pandangan mataku yang sengaja kuubah menjadi sebuah rayuan.

Asal kau tahu, ia cukup tampan jika dibandingkan dengan pria lain yang sering menggodaku. Lebih tepatnya, ia memiliki berbagai kualitas yang secara tradisional menunjukkan perawakannya sebagai seorang lelaki yang jantan.

You have no idea who she is,” ia melirik padaku sambil menunduk, membuat sepasang matanya membesar memancarkan kegelapan dari pupilnya yang semakin menghitam.

And yet you think she will not harm me,” kutangkis perkataannya hingga pria itu nyaris tertohok oleh kopinya sendiri.

Ia kini mengangguk, sepertinya menyetujui sanggahanku.

“Kau bisa membagikan sedikit informasi mengenai dirinya. Mungkin orang yang kau cari adalah wanita yang kutemui beberapa hari yang lalu,” kataku, masih menopang dagu untuk memerhatikan reaksi yang akan ia bagikan padaku.

Benar saja, kali ini ia meluruskan dagunya, menajamkan tatapannya seolah ia akan memakan tubuhku hidup-hidup. “Kau bertemu dengan seseorang? Di sini?” ia memastikan bahwa aku tidak sedang berbohong.

“Lebih tepatnya ketika aku sedang membenahi interior ruangan ini. Dia hanya menanyakan arah menuju Grand Canyon bagian selatan, Arizona,” kemudian kuteguk kopiku yang berangsur dingin.

Pembuluh darah di punggung tangannya menonjol saat ia merogoh saku mantel terdalamnya, jemarinya bermain dengan lincah, memeriksa aplikasi peta digital pada ponselnya. “Wifimu sangat jelek,” ia mengaduh karena pesan awalnya masih belum terkirim, “jadi pada dasarnya, kita sedang berada di tengah White River, ‘kan?”

Aku mengangguk, mengiyakan, “Tanah pribadi, lebih tepatnya.”

Setelah kubiarkan dirinya berkutat dengan aplikasi itu, ia menyadari bahwa sedari tadi aku hanya menatap bibirnya yang lagi-lagi menarik seluruh perhatianku.

“Maaf,” kutundukkan kepalaku selama beberapa saat, mencoba untuk menghilangkan rasa malu yang merekah di pipiku, “bibirmu sungguh mempesona.”

Kukira ia akan menyerangku karena aku telah mengucapkan komentar seksual yang tidak pantas. Justru pria itu malah menyeka bibirnya dengan selembar serbet yang kusediakan sebelumnya; membentuk sebuah hati saat bibirnya mengembang—menunjukkan senyum yang semakin menggiurkan.

Ia tidak menolak atau membenarkan ucapanku.

“Sayang sekali, Tuhan tidak memberikanku bilah bibir yang sama sepertimu,” aku berbisik saat ia kembali memeriksa ponselnya, berharap ia tak akan mendengar omong-kosongku.

Sepasang matanya mendelik padaku seketika. Ia menghentikan perhatiannya dari ponsel. Meletakkan benda itu di atas konter seraya melipat kedua tangannya seperti yang sebelumnya kulakukan. “Bibirmu jauh lebih cantik dari bibirku,” ujarnya, membuatku menutup wajahku karena nyaris mati tersipu malu.

Aku berdeham, menghilangkan kikuk yang telah kuciptakan atas ucapan bodohku itu.

“Jadi, tentang wanita itu,” kucoba untuk mengalihkan pembicaraan kami, “mengapa ia berbahaya bagimu?”

Senyum di wajah pria itu lambat laun menghilang. Sorot matanya mendadak kelabu, dan tatapannya melanglang buana. “Akupun tak tahu,” desahnya, kemudian ia berkedip untuk kembali pada dunianya saat ini.

Tak ada yang kuucapkan setelah itu karena ia masih berpikir. Ia singkirkan sepasang tangannya yang terlipat di atas konter karena kutemukan jemarinya bergetar ringan. Aku yakin di balik kayu yang memisahkan kami, ia sedang meremas jemarinya dengan kuat.

Ia selalu menghantuiku, menghantui kami. Ia menginginkan sesuatu dari kami, sangat. Seperti hidupnya bergantung pada hal itu,” pria itu menggumam sambil menunduk mengamati kedua tangannya.

Perasaanku berubah iba tatkala kudapati raut wajahnya meredup. “Apakah kau tahu bentuk rupanya?”

Ia hanya menggeleng, “Hal itu justru membuatku semakin bingung. Aku sama sekali tak mengerti apa yang diinginkannya; tetapi di satu sisi aku harus menemukannya.”

“Bukankah tidak baik untuk menemukannya seorang diri—maksudku, jika wanita itu sungguh berbahaya?” kutanyakan hal itu untuk sekedar memberinya sedikit petunjuk. Pria itu hanya mendesah panjang menanggapi ucapanku. “Apapun itu, kau harus berhati-hati, tuan muda. Mungkin wanita itu menginginkanmu untuk datang padanya.”

Pria itu semakin membungkam diri akibat ocehanku. Mungkin sebaiknya kuhentikan segala keingintahuanku dari sudut pandangnya. Lagipula, masih ada beberapa pria lain yang tersesat di luar sana. Aku yakin hanya dengan beberapa kerlingan manja, mereka akan memberiku lebih banyak informasi.

“Kuijinkan kau bermalam di sini jika kau mau. Akan kucek mobilmu keesokan hari. Biasanya jaringan di sini lebih baik di siang hari. Jadi aku dapat memanggil petugas highway patrol untuk menolongmu,” kudorong piring kecil berhiaskan kue kering itu untuk semakin mendekat padanya. Ia masih belum menyentuhnya sejak tadi.

“Aku sangat menghargai tawaranmu, tapi, waktu terus berjalan. Sejujurnya, aku tidak seharusnya berada di sini,” suara maskulinnya bersenandung ringan, saling bersahutan dengan lagu opera berikutnya yang sengaja kumainkan dengan bunyi yang rendah.

“Jika kau berubah pikiran, biaya untuk menyewa tempat tidur adalah lima puluh lima dolar. Harga itu termasuk toilet gratis dan juga air untuk mandi,” tawarku seraya menggerakkan bahu, membanggakan diri.

Pria itu melayangkan senyumnya lagi, membiarkan alunan musik mengisi kesunyian di antara kami. Ia memejamkan mata, menghela napas dengan panjang hingga separuh tubuhnya bergerak bersamaan. Ia kembali menyeka peluh di lehernya dan masih menolak untuk melepas mantelnya yang tebal.

Saat ia membuka mata, tatapannya semakin menyedihkan, seolah musik ini telah menghisap tenaganya. Kelopak matanya bergerak dengan pelan, membuatnya mengusap wajah beberapa kali untuk membangkitkan kembali kesadarannya.

Ia kemudian beranjak, mengamati rumah yang kutinggali dari balik jendela. Tangannya merogoh saku mantel terluar, merengkuh tiga bola hitam—mungkin pula batu yang telah dipoles dengan baik—dalam genggamannya lalu meremas bola-bola itu dengan gerakan yang berirama. Kubiarkan dirinya melakukan hal itu selama beberapa saat, mengamati penerang di rumahku yang hanya terpancar dari ruang tamu. Hingga kemudian kudengar ia menghentak tubuhnya seolah dirinya baru saja terbangun dari mimpi buruk.

Akupun mendongak seketika, “Are you okay?” tanyaku, memastikan bahwa kesadarannya masih terbentuk sempurna.

Pria itu masih terdiam, menatapku tanpa berkedip cukup lama. Genggaman jemarinya terlepas dan menjatuhkan bola-bola itu ke atas lantai. “Jalan mana yang harus kulalui untuk mencapai Grand Canyon?” tanyanya, suaranya mendadak tercekat seolah ia kehabisan napas di dalam lautan yang gelap.

Bingung, aku hanya mampu menunjuk ke satu arah tanpa kalimat lain yang mengiringi. “Tapi, mobilmu—”

Ia merogoh dompetnya, meletakkan sejumlah uang di atas konter, tepat di samping kopinya yang telah habis.

Are you leaving?” tanyaku di sela kebingungan yang mendadak menyerbuku.

Thank you for your hospitality,” ucapnya, seraya memungut bola-bola di lantai dan menyembunyikannya di dalam saku mantel. Ia berjalan dengan tergesa-gesa ke arah pintu, membuat sosoknya nampak seperti malaikat pencabut nyawa saat mantelnya melambai-lambai bersama semilir angin.

“Siapa namamu, tuan muda?” suaraku menjerit sebelum pria itu mencapai anak tangga di beranda.

Ia menoleh, membiarkan serpihan salju yang turun malam ini menghiasi rambut hitamnya yang berkilau. “Aku sudah membayar kopimu dengan baik—jadi aku tidak berhutang apapun padamu, termasuk namaku.”

I really can’t stop you, can I?

Ucapanku kembali menghentikan langkahnya. Ia memalingkan wajahnya padaku untuk menunjukkan senyumnya yang indah, “Good night,” lalu ia membungkuk sebelum pergi menembus kegelapan, ke arah yang kutunjuk sebelumnya.

Aku mengikuti kemana pria itu tertuju. Sosoknya menghilang tanpa jejak, seolah malam yang dingin membiarkan pria itu terselubung oleh segala misteri yang tersimpan di dalamnya. Tak ada yang berubah; para gagak masih bersenandung, angin dan salju saling bersentuhan menyergapku dalam kengerian malam.

“Sungguh menarik,” sambil mengelus bibir bawahku, kubisikkan kata itu sebagai sapaan singkat pada seekor gagak yang tiba-tiba bertengger pada ujung pagar pondok ini. Tentu saja, setelah yakin bahwa pria itu telah benar-benar pergi.

Kumatikan lampu yang menyala di luar pondok, diiringi alunan lagu yang juga ikut terlelap setelah kuhentikan. Jam dua belas malam. Tak kusangka kuhabiskan malamku ini bersama tamu yang misterius itu.

Kuperiksa lembaran uang yang pria itu berikan padaku. Setelah kuhitung dengan baik, ia benar-benar membayar kopiku sepuluh kali lipat.

“Do Kyungsoo,” kusebut nama si pria dalam lirih—nama yang telah sekian lama berada dalam daftar utama tamu istimewaku, kehadirannya yang telah lama kunantikan.

The guy with the heart-shaped lips.