Sabina Mara: The Violet Mermaid (Chapter 6)

Semua yang hadir pada prosesi pemakaman itu menunduk hingga dagu mereka nyaris menyentuh tenggorokan; menggenggam seluruh jemari masing-masing untuk terhanyut dalam alunan lagu yang dikumandangkan pagi itu.

Setelah nada terakhir berhenti, keenam pria dari arah pintu utama berjalan dengan langkah yang lambat nan berirama. Mereka mengangkat peti mati yang diselimuti oleh kain mewah berhiaskan lambang SHINee. Dan seiring kemunculan mereka, para wanita bertopi kembali bersenandung di balik cadar mereka, mengantar kepergian Jonghyun dengan menyebarkan duka cita dan segala kehilangan yang terpancar dari lagu yang menggema pada beranda teratas istana kerajaan wilayah Barat.

SONG OF SORROW

Dengan mematuhi apa yang dititahkan oleh Leeteuk dan Hyukjae, Sabina hanya mampu berpura-pura menciptakan gerakan-gerakan kecil di bahunya seolah ia juga sedang melantunkan nyanyian penuh lara itu. Selain sebagai bentuk terima kasih kepada Choi Minho yang telah melindungi Dolca, penyamarannya sebagai salah satu pemandu nyanyian sengaja ia lakukan untuk mengamati hal-hal yang mencurigakan di tengah prosesi tersebut.

Leeteuk, Hyukjae dan Donghae membopong peti mati dengan anggun di sebelah kiri; sementara Onew, Key dan Lee Taemin berada di sisi kanan. Choi Minho berjalan dengan bahunya yang tegap di hadapan mereka, membawa sebingkai gambar berhiaskan bunga-bunga elok dan pita berwarna pearl aqua. Sabina meyakini bahwa gambar itu merupakan wajah Jonghyun, salah satu anggota kerajaan wilayah Barat yang terkenal dengan keelokan suaranya serta sikap dan tatakramanya yang bersahaja.

The West Kingdom

Keenam pria hampir mencapai tempatnya berdiri; Sabina berada di barisan sebelah kiri bersama deretan wanita penyanyi berjumlah sepuluh orang—termasuk dirinya—yang dijaga ketat oleh pengawal bertombak baja. Di seberangnya, sepuluh wanita dengan cadar yang sama menebarkan kelopak-kelopak bunga di atas jalan yang memisahkan mereka.

Kelopak bunga itu meredup saat Choi Minho dan keenam pria yang membawa peti mati saling menginjakinya dalam bungkam. Lalu mereka berhenti di hadapan sebuah perahu kecil yang berada di ujung jalan, tepat pada tepi aliran air yang tenang. Leeteuk, Hyukjae dan Donghae mundur beberapa langkah, saling menyejajarkan diri dengan menyatukan jemari mereka yang terbalut sarung tangan putih.

Seluruh anggota kerajaan SHINee telah memotong rambut mereka menjadi sangat pendek sebagai bentuk penghormatan terakhir. Mereka kemudian mengangkat tubuh Jonghyun ke atas perahu, berlutut di hadapannya seraya mengumandangkan sebuah lagu mengiringi para wanita penyanyi dengan nada yang penuh pilu di telinga Sabina.

Sabina tercekat, menelan liurnya kuat-kuat untuk menahan kesedihannya yang timbul bak air bandang; terutama ketika tangis Key yang tak mampu dibendung lagi meruntuhkan kekuatan Choi Minho yang sedari tadi mencoba untuk tabah di tengah prosesi pemakaman. Sebisa mungkin Sabina mencoba untuk tidak menoleh ke sisi kanannya. Hanya terpaut oleh ketujuh wanita pemandu nyanyian, sekelompok pengawal dengan simbol EXO di dada mereka saling berbaris di antara kehadiran Suho dan Lay—sang pengendali air dan sang penyembuh, penguasa wilayahnya.

Ia juga menemukan anggota kerajaan wilayah Selatan, Seo Nyeo Shi Dae, saling berbaris dibalut gaun hitam megah dan topi lebar dengan warna yang senada. Setahunya, wilayah Selatan dipimpin oleh sembilan wanita tercantik di jagad raya. Saat ini hanya delapan anggota saja yang hadir, dan ia tidak salah menghitung.

Dari tatapan kesedihan mereka, Sabina tidak mengenal wanita-wanita itu terkecuali Hyoyeon dan Tiffany. Lima di antara mereka mengenakan kalung mutiara berwarna violet, mengilat-ngilat diterpa cahaya mentari yang baru saja bersinar pagi itu. Kilau palsu yang saling berlomba itu semakin menyayat hati Sabina. Mutiara semacam itu hanya dapat diperoleh dari tangis alami manusia duyung. Sedangkan warna violet hanya dimiliki olehnya dan Sviesa saja di dunia ini.

Nyanyian para wanita lalu diakhiri oleh senandung duka dari Onew, sang pemimpin wilayah Barat. Choi Minho dan yang lain berdiri dari lutut mereka yang letih, menatap perahu yang perlahan mulai bergerak meninggalkan mereka, membawa tubuh Jonghyun mengikuti arus air dan membimbingnya menuju Penghujung Dunia, melalui samudera Baltaz yang tenang diiringi sinar mentari pagi yang hangat.

Hendak mengamati gerakan Suho dan Lay, perhatian Sabina terusik oleh tatapan dingin dari arah yang berlawanan. Dari air mata ringan yang jatuh membasahi pipinya yang mulus, Tiffany mengamati Sabina dari tempatnya berdiri. Sabina membalasnya dengan menyoroti kebencian itu meskipun cadar hitam yang melindungi wajahnya membuat segala dendam itu tersembunyi dengan baik.

Kemudian semua orang yang hadir membubarkan diri, berjalan ke dalam istana secara acak tanpa aturan. Sabina percaya, sebelum Tiffany menghilang dari tatapannya, wanita itu sempat menyeringai untuk meremehkannya. Saat ia berusaha untuk mencari kehadiran Tiffany di antara hiruk pikuk itu, seorang wanita jatuh tak sadarkan diri di antara pengawal dari wilayah Selatan. Sabina sempat mendengar Leeteuk menyebut nama Taeyeon—yang ia yakini sebagai pemimpin penguasa wilayah Selatan.

Sabina tidak berkutik, tak peduli dengan adegan tersebut.

Ia memilih untuk bergerak mengikuti lautan tamu yang hadir, menemukan Tiffany tengah menyeret salah satu anggota wilayah Selatan ke dalam bagian lain dari istana. Dalam segala ketegangan itu, Sabina berusaha sebaik mungkin untuk tidak terdeteksi oleh Tiffany; membuntuti keduanya dengan melepas sepasang sepatunya untuk berjengit tanpa alas kaki.


KEDUANYA BERHENTI DI BALIK DINDING YANG LEBIH GELAP DARI sudut lain hingga Sabina sempat kesulitan untuk menghafal lorong-lorong istana yang mereka lewati. Dari pojok persembunyiannya, Sabina hanya mampu menangkap isak lembut bercampur gumaman yang mendesis-desis seperti ular. Maka ia mencoba untuk menguping lebih dekat, berharap kedua wanita itu tak menyadari bayangannya sedang berlalu-lalang di dalam lorong yang suram.

“Aku sudah memperingatimu untuk menutup mulut, Yuri.”

Gertakan yang terbalut oleh suaranya yang feminin itu milik Tiffany; dan wanita yang diseret paksa olehnya adalah anggota dari kerajaan mereka sendiri.

Yuri, vermillion dengan bulu-bulu berwarna jingga yang berkilau keemasan. Salah satu dari lima burung-burung terkutuk yang telah memusnahkan habitatnya.

“Rasa bersalah ini masih menyelubungiku, Tiff. Bagaimana mungkin kau masih berlagak angkuh seperti ini di tengah pemakaman Jonghyun?” suara Yuri terputus-putus, masih dirundung kesedihan yang nyata.

Masih di tempatnya berdiri, Sabina menahan diri untuk tidak mengintip dari balik dinding.

“Mengapa kau tiba-tiba peduli? Kita hampir mencapai misi terakhir, kau tahu akan hal itu,” Tiffany kembali menyerang Yuri dengan menekan suaranya di tenggorokan, mendesis lagi seolah ia akan menyebarkan racun mematikan dari perkataannya yang sadis.

“Permainan ini sudah selesai. Bagaimanapun juga, selalu kuanggap mereka sebagai bagian dari keluargaku. Jonghyun tetaplah keluargaku,” jawab Yuri, meninggikan suaranya meski tenggorokannya masih tercekat.

Tak ada percakapan lain setelah itu selain isak tangis Yuri yang menjadi-jadi. Mungkin wanita itu sedang menyesali sesuatu menyangkut kematian Jonghyun, begitulah pikir Sabina.

“Jangan lupa bahwa kita telah melakukan semua ini bersama-sama. Termasuk membunuh duyung tak berguna itu. Kita hanya perlu menemukan yang terkecil dan kau akan segera mendapatkan apapun yang kau mau,” ucap Tiffany, tak lagi mendesis seperti sebelumnya.

Seluruh persendian di tubuh Sabina mendadak tegang. Membunuh duyung tak berguna, pikirannya menghilang sejenak dari kesadarannya, mengulangi kalimat itu berkali-kali bersama kengerian akan hidup Sviesa yang menyedihkan.

“Aku hanya menginginkan kelompok kita untuk bahagia, tetapi tidak dengan melakukan hal ini. Ini sudah terlalu jauh, Tiffany. Kau sudah bertindak terlalu jauh,” tutur Yuri, masih bersama isaknya yang tiada henti.

Sabina mendengar bunyi dentum seperti sebuah pukulan keras pada dinding. Seketika ia mengintip sekecil mungkin dari sudut persembunyiannya, menahan cadar hitamnya untuk tidak melambai-lambai bersama hawa dingin yang datang melewati lorong tersebut.

Ia melihat Tiffany melepas kepalan tangannya di dinding untuk menyekap kedua bahu Yuri yang lunglai.

“Berhentilah berbohong padaku, Yuri. Berhentilah berpura-pura,” kemudian Tiffany meremas bahu Yuri dengan menyesakkan kuku-kukunya yang panjang dan bercat merah muda.

“Tidak,” Yuri menggeleng, menegakkan kepalanya untuk membalas tatapan Tiffany yang sedari tadi ia abaikan, “kaulah yang seharusnya menghentikan dirimu sendiri. Kau menginginkan tahta tertinggi di pusat dunia Shinki, bukan? Kau selalu mendambakan kemasyhuran, kekuasaan, kecantikan abadi—”

“Dan kesemua itu juga untuk membuatmu bahagia, untuk membuat kita semua bahagia,” ucap Tiffany, menginterupsi perkataan Yuri dan menusuk wanita itu dengan sorot matanya yang penuh dendam.

Cengkeraman di bahu Yuri kemudian berubah menjadi pijatan halus. Tiffany mengelus permukaan bajunya karena ia tak ingin menyakiti anggota kerajaannya sendiri. “Ingatkah dirimu ketika Yunho dan Max selalu memberikan perhatian mereka kepada para lelaki saja? Kita adalah Kerajaan Selatan, kerajaan terbesar di dunia ini, dan, keduanya tidak menghormati kita sama sekali.”

Yuri menyeka air matanya, menatap Tiffany tak percaya, “Kita telah kehilangan Jessica. Janganlah membuat hubungan di antara kita semakin retak hanya karena keserakahmu,” ucapnya, lalu meraih kedua pergelangan tangan Tiffany untuk menjauh dari tubuhnya.

Tiffany hendak mengucap sesuatu namun niatnya terhenti seolah seseorang berada di antara mereka. Ia menoleh, menyejajarkan dagu dan bahunya untuk mengamati lorong tersebut.

Di sisi lain, Sabina menggigit lidahnya sendiri sambil memejamkan matanya dengan erat; berharap Tiffany tidak menyadari seberkas kilat merah dari sepasang matanya yang membara. Jantungnya berdebar hebat. Bukan karena ketakutan yang melanda, melainkan karena amarahnya yang bergejolak.

Sabina kemudian berlalu, menjelajahi lorong serupa yang telah ia hafalkan untuk mencari kehadiran Hyukjae di beranda berperahu. Ia tak menyadari bahwa seseorang dengan partikel-partikel hitam yang melindunginya tengah memperhatikannya sejak tadi.

Setelah Sabina pergi, sosok itu menghilang bersama partikel tersebut; tanpa jejak, tanpa bayangan.


KOSONG. TEMPAT ITU TAK LAGI DIPENUHI PARA PELAYAT DARI BERBAGAI PENJURU. Yang Sabina temukan hanyalah kelopak-kelopak bunga melapisi jalan penghubung antara beranda luas di atap tertinggi serta aliran air yang tertuju pada samudera Baltaz yang membentang di hadapannya. Sepertinya mereka telah kembali ke wilayah masing-masing. Jadi, Sabina memanfaatkan kesempatan itu untuk menghayati segala kedamaian yang menyelubunginya saat ini.

Ia berjalan menapaki kelopak bunga, memungut setangkai lili yang tergeletak tak jauh dari aliran air yang tenang lalu menjatuhkannya di sana.

“Aku sudah mencarimu kemana-mana.”

Sabina terperanjat. Ia berpaling dan bersyukur karena Hyuk Jae lah yang tengah berjalan mendekatinya. Choi Minho mengiringi kehadiran Hyuk Jae dengan berjalan berdampingan. Pria itu tak lagi mengenakan seragam hitam yang ia kenakan di tengah prosesi pemakaman. Ia membungkuk dan dibalas pula oleh Sabina dengan gerakan yang sama. Sabina hanya mampu melayangkan senyum simpul setelah itu. Sepasang mata Choi Minho masih memerah, sementara ujung hidung lancipnya tak kalah merona akibat kerap kali menyeka ingusnya yang meluap.

“Mari kita pergi ke tempat yang lebih aman jika kau ingin bicara. Tiffany dan Yuri masih berada di aula gedung itu,” ucap Sabina, menunjuk ke bagian gedung lain tak jauh dari tempat mereka.

“Key sudah mengusir mereka,” jawab Minho, suaranya masih serak dan basah.

“Apa kau sudah tahu,” Sabina menciptakan sedikit jeda untuk melepas cadar hitam dan juga topi yang ia kenakan, “bahwa wanita-wanita itulah yang telah melakukan hal ini pada Jonghyun?” tanyanya, kemudian menatap kedua pria itu satu per satu.

Choi Minho hanya terdiam sementara rahangnya semakin mengeras; menahan diri untuk tidak membangkitkan amarah yang sejak tadi sengaja ia pendam.

“Aku tidak melihat Dolca dan Liu di sini,” ucap Sabina, mengalihkan pembicaraan mereka karena saat ini Choi Minho justru tengah menyorotinya dalam kebisuan.

Disampingnya, Lee Hyuk Jae menyentuh bahu Choi Minho seolah menyalurkan sedikit ketenangan untuknya. Pria itu menghela napas panjang, menunduk sejenak sebelum menatap hampa sebuah menara dengan bentuk atapnya yang runcing di ujung penglihatannya.

“Penjaga menara pengawas kami meninggal setelah seseorang mencoba untuk membunuhnya; namun sebelum ia benar-benar mati, ia menjelaskan padaku perihal kejadian itu,” tutur Choi Minho seraya menelan liurnya bulat-bulat. Sepasang alis tebalnya bertautan, menahan amarah itu yang lagi-lagi menggerogoti benaknya.

Pria itu melanjutkan, “Sore itu Jonghyun menemani Liu dengan berperahu ke samudera Baltaz,” sejenak bibirnya mengatup rapat ketika jemari Choi Minho membentuk kepalan-kepalan yang kuat, “saat Liu sedang menyelam dan sementara Jonghyun duduk sambil membaca buku, ia menemukan tiga vermillion melayang-layang di udara dengan rendah, nyaris tidak terdeteksi.”

Sambil membayangkan adegan itu, Sabina tak kalah membenamkan diri dalam segala penyesalan yang menaunginya. Terutama ketika Choi Minho menyebutkan bahwa Jonghyun telah menganggap Liu sebagai adik perempuannya sendiri. Ia bahkan belum sempat bertemu dengan pria tersebut untuk sekedar mengucap syukur atas tindakannya yang mulia.

“Jonghyun menyadari bahwa vermillion itu akan menangkapnya. Karena itu ia meloncat, berenang untuk menggapai Liu sesegera mungkin. Saat itulah penjaga kami memberikan sinyal untuk mengirimkan beberapa pasukan untuk melindungi Jonghyun,” imbuh Choi Minho. Ia kembali menatap menara pengawas yang berdiri sendirian di kejauhan.

Sabina ikut menoleh untuk menatap sebuah bangunan putih yang ramping seperti tiang bendera.

“Saat salah satu busur itu mencoba untuk menangkap Liu, benda itu justru menancap di tubuh Jonghyun, tepat di jantungnya,” imbuh Choi Minho, kali ini dengan suaranya yang tercekat-cekat, “Liu berhasil membawa Jonghyun ke permukaan, ke pantai terdekat. Membuat para burung sialan itu menahan diri dan pergi menghilang. Tentu saja, Liu mengalami luka-luka hebat juga.”

“Bagaimana dengan Dolca?” Sabina menginterupsi.

Choi Minho mengusap wajahnya dengan kasar, “Setelah kami—aku dan Dolca—kembali dari pertemuan kita di istana Super Junior, Dolca pergi seorang diri tanpa kuketahui. Tak lama setelah itu, Onew menemukan tubuhnya tak berdaya di pantai selat barat,” ucapnya, kemudian menunjukkan sepotong busur yang sengaja ia sembunyikan di balik tubuhnya.

Busur itu mengilat keemasan di terpa cahaya matahari pagi, menyayat-nyayat hati Sabina sedemikian rupa karena ia mengenal baik busur-busur yang telah menangkap segala makhluk hidup di dalam habitatnya yang kini telah musnah. Sabina hanya mampu menatap busur di tangan Choi Minho tanpa berucap. Sepasang matanya yang menghitam mulai berkaca-kaca. Yang mampu ia lakukan hanyalah memaki dirinya sendiri dalam berbagai bisikan yang tak dimengerti oleh Choi Minho dan Lee Hyuk Jae.

“Tubuh Dolca sudah kukembalikan ke samudera Gorgona tadi malam. Sementara Liu, karena ia merasa bersalah atas kematian Jonghyun dan Dolca, ia meninggalkan tempat ini dini hari.” Choi Minho menjelaskan lebih rinci, “Ingin rasanya kubunuh dirimu saat itu juga mengingat usaha Jonghyun berakhir sia-sia. Ia melindungi Liu karena berharap bahwa vermillion itu tak akan melukainya dan memilih untuk berhenti. Tapi tidak, mereka tetap menyerang Jonghyun meskipun mereka tahu bahwa Jonghyun adalah anggota kerajaan ini.”

Choi Minho berhenti untuk menyeka air matanya yang menetes. “Kau beruntung karena Leeteuk dan Hyuk Jae menjelaskan padaku bahwa kejadian ini bukan hanya tentang hidupmu, hidup Dolca, atau hidup Liu, tapi mengenai sesuatu yang lebih besar menyangkut dunia yang kita tinggali. Rasa dendamku terhadapmu tak lagi menguap karena bagaimanapun juga, kaulah yang harus mengakhiri pencarian mereka. Vermillion itu menginginkan sesuatu darimu, dan kau harus segera bertindak sebelum kematian-kematian lain menghinggapimu.”

Sabina meremas dadanya hingga ia jatuh terduduk di atas lantai beralaskan batu-batu granit yang halus. Sementara Choi Minho masih berdiri di tempatnya, pria itu sengaja menjatuhkan busur itu hingga bunyi denting yang diciptakan semakin menohok tubuh Sabina.

Sementara air matanya sendiri saling berjatuhan, Sabina memungut busur itu lalu menggenggamnya dengan erat. Tak ada isak di dalam kesedihannya, karena sepasang matanya yang hitam kini berubah menjadi kilatan merah yang membara.

Lee Hyuk Jae memilih untuk berlutut, mencoba menjadi penengah yang baik meski yang ia lakukan hanyalah memerhatikan keduanya saja agar tidak saling mengayunkan belati masing-masing.

Masih menunduk menyembunyikan segala amarah dan kesedihan yang berkecamuk, Sabina kini mengerti bahwa dari ucapan Tiffany dan Yuri sebelumnya, alih-alih mengira bahwa mereka telah membunuh Sviesa, kedua vermillion itu ternyata telah dengan keji membunuh Dolca tanpa sepengetahuan Choi Minho. Sepasang mata merahnya tertuju pada ujung panah keemasan yang masih digenggamnya dengan penuh kebencian. Meski Choi Minho telah membersihkan panah tersebut, ia masih menemukan sebercak darah pada ujungnya yang ia yakini berasal dari tubuh Dolca.

“Maafkan aku atas segala kekacauan ini, Choi Minho,” bisik Sabina, masih menunduk menyebarkan kebencian pada busur di tangannya.

Choi Minho lantas berlutut, menyentuh bahu Sabina dan membuat duyung itu mendongak, “Aku tak bisa bertindak gegabah tanpa bukti yang kuat, tapi kumohon, balaskan dendamku, Sabina,” ucapnya, kemudian menggenggam tangan Sabina yang bergetar, “demi Jonghyunku, demi Jonghyun kami.”

Sabina hanya mampu menatap Choi Minho bertubi-tubi dengan segala dendam yang ia miliki. “Percayalah, akan kubunuh mereka dengan tanganku sendiri.”


SETELAH BERADU PENDAPAT CUKUP LAMA, HYUK JAE TERPAKSA MENGALAH dan mengajak Sabina untuk mengunjungi kepulauan Azure sore itu juga—tepat di mana dirinya menemukan tubuh Sabina terkapar tak berdaya beberapa minggu lalu. Alasannya hanya satu: Arklys, kuda bersayapnya, selalu mengeluh sambil menggerakkan bokong dan sepasang kaki belakangnya tiap kali ada lebih dari satu orang menunggangi punggungnya. Arklys sangatlah manja, tidak menyukai berat badan manusia yang berlebihan.

Karena itulah saat ini Arklys terus mencambukkan ekor berbulunya pada punggung Hyuk Jae sementara Sabina duduk di bagian terdepan. Setelah Arklys menyerong untuk mendarat dan berhenti di dekat karang-karang yang besar, Sabina menepuk punggungnya sebagai tanda terima kasih sementara kuda itu hanya mendengus sebal pada Hyuk Jae, menendang pasir hitam di pantai Azure untuk mengotori ujung sepatu Hyuk Jae tanpa sepengetahuan Sabina.

Keduanya berjalan beriringan menuju bagian pantai yang lebih luas tanpa bebatuan yang saling menumpuk. Meninggalkan Arklys sendirian tengah terpekur di bawah bayangan tebing yang lebih tinggi.

“Apa kau yakin?”

Sabina hanya mengangguk menjawab tanya tersebut, “Kau tahu bahwa aku tak mampu menggunakan kekuatanku selama tubuhku dalam bentuk manusia seperti ini. Setidaknya izinkan diriku memulihkan tenagaku terlebih dahulu,” ucapnya, seraya melepas sepatu hitam dari seragam para pemandu nyanyian dan meletakkannya dengan baik di bawah satu-satunya batu karang yang terkikis air laut di sekitarnya. “Aku sudah mengulur waktuku terlalu lama,” imbuhnya, membayangkan nasib Sviesa dan juga kematian yang memaksa Dolca untuk pergi dari kehidupannya—selamanya.

“Wilayah Selatan begitu luas. Sebenarnya, aku masih tak tahu harus mencari kakakmu dari titik mana,” Hyuk Jae mengulum seluruh jemari di balik tubuhnya, membiarkan sepasang sepatunya yang mahal menjadi sangat becek saat keduanya berjalan lebih dekat pada air laut yang berlalu-lalang di atas pasir hitam.

“Keberadaanmu di sini sudah cukup membantu, Lee Hyuk Jae,” Sabina tersenyum, kemudian menyentuh lengan Lee Hyuk Jae yang tersembunyi di balik pakaian berkabungnya, “Aku belum sepenuhnya mengucap terima kasih padamu.”

Sambil memberikan seberkas senyuman, Sabina mengulurkan tangan, mengajak Hyuk Jae untuk menjabatnya. Pria itu memaku sesaat, mengamati jemari ramping milik Sabina dengan kuku-kuku pendeknya yang rapih dan pucat. Senyum Sabina berubah riang tatkala Hyuk Jae menyambutnya dengan membungkus jemarinya dalam sebuah genggaman.

Keduanya saling memandang cukup lama. Dari kesempatan itu, Sabina baru menyadari bahwa ada seberkas warna cokelat dari gelap yang menguasai pupil mata Hyuk Jae. Ujung hidungnya tidak seperti milik Choi Minho yang lancip, melainkan sedikit lebih tebal dan merunduk. Pria itu juga nampak kehilangan berat badannya; terbukti dari tulang selangkangannya yang muncul tiap kali ia bernapas, diikuti oleh rahangnya yang membentuk garis-garis tegas. Membuat sepasang telinga lebarnya mengusir helaian rambut kecokelatannya yang sedari tadi melambai-lambai diterpa angin.

Hyuk Jae mengerjap untuk menghilangkan kesunyian di antara mereka. Setelah melepas genggaman tangannya dengan lembut, ia hanya dapat mengusap tengkuknya yang mendadak dingin. Sudah lama ia tidak merasakan percik api yang muncul di dalam perutnya. Dan ia berharap bahwa perasaannya itu hanya sedang mengelabuinya saja.

“Apakah ada hal lain yang kau temukan dari percakapan Tiffany dan Yuri?” tanya Hyuk Jae, masih mengusap bulu kuduknya yang menari-nari di permukaan tengkuknya yang dingin.

Sabina menunduk, “Setidaknya mereka belum membunuh Sviesa,” jawabnya. Ia menoleh untuk menghadap lautan yang perlahan mulai gelap. “Karena  sesuatu hal, mereka menginginkanku hidup-hidup,” kemudian ia melangkah lebih jauh hingga air laut yang datang menuju pantai itu menyentuh sebagian dari tulang keringnya.

Sabina merasakan sentuhan lembut dari sapaan air laut itu di kakinya. Membuat kulit mulusnya berubah menjadi sisik-sisik violet seolah tubuhnya menginginkannya untuk melompat lebih jauh ke dalam lautan. “Dugaanmu benar, aku memiliki perasaan yang cukup dalam pada Kai, si pengalih materi. Dan perasaan itu telah membutakanku,” ucapnya sambil meraup air laut di tangannya, membiarkan air itu berjatuhan dari sela-sela jemarinya.

Dari balik tubuhnya, Sabina mendengar Hyuk Jae mendesah panjang.

“Kau masih menyukainya?” ia bertanya.

Sabina kembali menatap lautan yang hampa di hadapannya. “Entahlah, ia hanya memanfaatkanku saja.”

Masih memunggungi Hyuk Jae, Sabina melepas seragam dan helai kain lain yang membalutnya, membiarkan tubuh telanjangnya merasakan percikan ombak yang saling bersahutan. Hyuk Jae berpaling untuk tidak memperhatikan adegan tersebut. Bagaimanapun juga, Sabina tetaplah sosok wanita yang menarik dipandang mata. Namun setelah Hyuk Jae kembali mengamati, ia tidak lagi menemukan Sabina di sana karena duyung itu telah pergi ke dalam lautan.

Cukup lama Hyuk Jae berdiri di atas sepatunya yang basah dan ia menjadi gelisah karena Sabina belum juga kembali. Setelah menimang-nimang, akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Sabina ke dalam lautan. Sepatu dan sarung tangannya dilepas, sementara kemejanya dilucuti sembarangan. Ia mengabaikan ringkih Arklys dari kejauhan dengan berteriak pada kudanya bahwa ia akan baik-baik saja.

Hyuk Jae mengayuh kedua lengannya tanpa henti hingga ia hanya mampu menemukan sepasang sayap Arklys mengepak-epak seperti sepasang titik putih. Ia menyelam, sekali, dua kali, tiga kali, dan yang ia temukan hanyalah kegelapan dan pengap yang menakutkan di laut yang dalam. Setelah ia muncul ke permukaan, kepalanya mendongak menemukan Arklys melayang-layang di atas kepalanya, menjaganya agar tidak tenggelam.

Hyuk Jae mencoba menyelam lagi, kali ini lebih lama karena ia menghela napas sepanjang mungkin untuk memastikan pasokan oksigen di dalam paru-parunya berada pada kapasitas maksimal. Lalu ia mendengar sebuah nyanyian sendu yang samar, membuatnya berenang menuju arah nyanyian tersebut tanpa berpikir panjang.

Setelah menyembul ke permukaan, Hyuk Jae menemukan Sabina memunggunginya dari kejauhan. Rambut hitamnya menyembunyikan sepasang bahunya yang muncul ke permukaan. Ia masih tak mengerti bagaimana tubuh Sabina nampak berkilauan di terpa sinar matahari yang mulai terbenam, dan ia seolah tergoda oleh kilau tersebut.

Sabina lantas menghilang dengan menyelam kembali—masih bersenandung dengan nada sendu yang pilu. Pandangan Hyuk Jae berkeliaran untuk mencari-cari hingga Sabina mendadak muncul di balik tubuhnya, menjeratnya dengan ekor violetnya yang kokoh.

Sabina menciumnya dengan paksa lalu menarik tubuh Hyuk Jae semakin dalam ke lautan.

Tanpa memberikan berbagai penolakan, Hyuk Jae membiarkan Sabina melakukannya seolah nyanyian yang pilu sebelumnya telah berhasil menghipnotisnya. Kemudian sekelebat ingatan muncul di dalam pikirannya seolah ia sedang membaginya pada Sabina. Hyuk Jae mencoba menolak perintah itu meskipun kepalanya tidak mematuhi kehendaknya.

Pria itu mengerang saat berbagai kenangan yang dimilikinya mendadak menguasai kepalanya. Ia mengingat awal mula dirinya diangkat menjadi penguasa wilayah Timur bersama empat belas pria lain, termasuk Leeteuk. Lantas adegan tersebut digantikan oleh kisah romantisnya dengan Hyoyeon; menunjukkan keduanya tengah berciuman di bawah rindang pohon beringin di taman terdalam istana Super Junior.

Hyuk Jae kembali mengerang sementara Sabina masih mengunci kehadirannya di sana. Sabina semakin menggali masa lalunya dan pria itu menolak dengan menggapai-gapai air laut yang tak mampu digenggamnya. Terutama ketika Sabina menemukan sebuah ingatan dimana Hyuk Jae tengah bersitegang dengan Hyoyeon setelah menemukan wanita itu hanya memanfaatkannya saja demi mendapatkan informasi mengenai Pusat Dunia kekuasaan Dongbang dan Shinki—mempermalukannya di tengah persidangan para penguasa dunia.

Hyuk Jae membuka mata, menyingkirkan Sabina sebisa mungkin lalu berenang menjauh. Setelah mencapai permukaan, Arklys menjulurkan salah satu kakinya menyuruh Hyuk Jae untuk meraihnya. Arklys mengepak sayapnya sekuat mungkin untuk membawa tubuh Hyuk Jae kembali ke pantai. Pria itu menjatuhkan diri di atas pasir hitam, terengah-engah. Sementara Arklys berjalan memutarinya sambil melakukan gerakan-gerakan di kakinya yang letih.

Sabina muncul ke permukaan tak lama kemudian. Setelah mengubah ekornya menjadi sepasang kaki manusia, ia berjalan menuju seragamnya yang masih terlantar di tepi pantai, menutup tubuhnya yang telanjang lalu mendekati Hyuk Jae yang masih mencari-cari udara untuk dihirup.

“Jadi, kita sama-sama telah dikhianati,” ucap Sabina sambil menunduk, menatap Hyuk Jae yang kini merentangkan diri, menyesali perbuatannya.


SETELAH MENINGGALKAN ARKLYS PADA PENGURUS KUDANYA, keduanya berjalan tanpa mengucap sepatah kata. Kedatangan mereka di istana disambut baik oleh sepasang pelayan dengan menyelubungi tubuh mereka yang basah dengan handuk tebal. Sabina hanya mampu menyalin langkah kaki Hyuk Jae yang besar-besar di balik punggungnya karena sejak ciuman singkat yang diciptakannya, pria itu masih mengucilkan diri, menolak tatapannya.

Sabina nyaris saja bertubrukan dengan punggung Hyuk Jae jika saja ia tidak mendongak. Pria itu menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh dengan kasar hingga rambut kecokelatannya yang lengket akibat air laut yang lembab ikut berayun ringan.

“Jangan pernah melakukan hal itu lagi padaku, Sabina,” ucap Hyuk Jae, setengah menggertak.

Sabina mendongak, melayangkan seberkas senyum karena gertakan Hyuk Jae justru nampak menggemaskan, “Aku hanya mencoba untuk mempelajari dirimu sedikit saja,” kilahnya.

“Ini tidak adil, kau tahu,” Hyuk Jae masih tak percaya bahwa Sabina mampu menelisik masa lalunya, termasuk ketika ia tak sengaja jatuh ke dalam lumbung babi yang dipenuhi kotoran karena Shindong dan Kim Heechul bermain-main dengannya.

“Karena itukah kau tak lagi melucu dan jahil seperti sebelumnya? Aku belum pernah melihatmu tertawa—maksudku, benar-benar tertawa—sejak pertama kali kita bertemu,” ucap Sabina, menggedikkan bahu sedemikian rupa karena handuk tebal yang membungkus tubuhnya nyaris menyembunyikan sebagian wajahnya. Kini ia mengerti sepenuhnya mengapa pria itu tak sebebas Henry maupun Yesung.

Hyuk Jae hanya menggeleng untuk menolak ucapan Sabina. Bukan hanya tragedi lumbung babi yang memalukan, Sabina tak sengaja mengorek sesuatu yang tak ingin diingat oleh Hyuk Jae mengenai kisah cintanya yang kandas.

Sabina melanjutkan lagi langkahnya setelah Hyuk Jae menghabiskan gerutuannya seorang diri. Keduanya menuju lorong utama, melewati aula terbesar di mana kursi tahta Leeteuk berdiri di atas pondasi yang lebih tinggi, kemudian berlalu melalui ruang-ruang lain dengan tirai biru safir yang membentang.

Hyuk Jae meluruskan tangan kirinya sementara telunjuk di tangan kanan menyentuh bibirnya sendiri, menyuruh Sabina untuk tidak bersuara. Sabina mencoba untuk mengintip ke balik pintu besar yang nyaris tertutup di samping Hyuk Jae namun pria itu menahannya, membuat keduanya saling mendorong punggung masing-masing pada dinding kokoh yang memisahkannya dengan ruangan tersebut.

Sayup-sayup, Sabina mendengar tangis seorang wanita melalui celah pintu. Hyuk Jae menoleh pada Sabina, bibirnya bergerak menyebut nama Leeteuk dan Taeyeon, penguasa wilayah Selatan. Beruntung celah yang kecil itu masih mampu mengumandang segala kata yang terucap dari sepasang pemimpin tersebut. Lagipula, Hyuk Jae tidak menyuruh Sabina untuk pergi, melainkan berdiri di sana untuk menguping.

“Bagi mereka, aku hanyalah seorang pemimpin yang lemah. Maka kubiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan karena aku sudah muak dengan segala kepalsuan ini.”

Itu suara Taeyeon yang sama rapuhnya dengan suara Yuri apgi ini—dipenuhi isak tangis yang tiada henti.

“Pada akhirnya mereka bertindak terlalu jauh,” Taeyeon menambahkan. Kemudian tak ada suara apapun selain bunyi nyaring dari kaki kursi yang diseret.

“Lalu?”

Kali ini Leeteuk yang bicara. Sabina mengenal suara itu dengan baik.

“Kau mengetahui segalanya, Oppa. Kau tak perlu bertingkah bodoh di hadapanku.” Suara Taeyeon yang semula lembut mendadak bergetar seperti serigala—menggeram dengan nada yang rendah. Selanjutnya, Leeteuk menyuruhnya untuk menenangkan diri karena sejak pemakaman Jonghyun, wanita itu belum juga berhenti menangis.

“Mengapa kau tidak marah padaku setelah semua yang kau ketahui?” tanya Taeyeon. Suaranya terbenam, seolah ia sedang berada dalam pelukan Leeteuk.

“Bahkan kemurkaan pun membutuhkan waktu yang tepat untuk muncul, Taeyeon.”

Sabina memberenggut karena perkataan terakhir yang Leeteuk sebutkan nyaris tak terdengar. Ia mendorong lengan Hyuk Jae, menyuruh pria itu untuk lebih mendekat. Dengan diam-diam, Hyuk Jae mendorong daun pintu untuk memberikan celah yang cukup lebar, membuat keduanya kini mengintip hati-hati seperti seorang mata-mata amatir.

Ia menemukan Leeteuk menepuk-nepuk pundak Taeyeon di tengah pelukannya yang nampak hangat; bukan sebuah pelukan yang dipenuhi romantisme dan gejolak asmara, melainkan pelukan yang diberikan seorang kakak kepada adiknya.

“Awalnya kuterima keputusan Yunho dan Max untuk menjadikanku pemimpin wilayah Selatan karena segala yang mereka tawarkan untukku. Tapi keduanya tak menjelaskan bahwa mereka akan mengutukku, mengutuk kami, menjadi seekor burung megah dengan warna yang mengilat-ngilat; menjadikanku dan anggota lainnya sebagai yang terkutuk,” tutur Taeyeon, suaranya tak lagi tersendat-sendat.

“Kau bukanlah yang terkutuk, Taeyeon,” sanggah Leeteuk, masih menepuk-nepuk bahunya yang tampak rapuh.

Dilihatnya wanita itu menggeleng lemah; membuat rambut hitamnya yang lurus berubah kusut di bawah dagu Leeteuk.

“Memang, kami dapat hidup lebih lama—mungkin pula hidup selamanya. Tapi semua ini membuatku gila, semua ini menjadi mimpi burukku,” Taeyeon nyaris menggumam, membenamkan wajahnya semakin dalam ke dada Leeteuk yang lebar. “Dan aku cemburu, kami semua cemburu, melihatmu dan kerajaanmu dalam keseimbangan yang luar biasa dengan kemampuanmu yang bersahaja. Sama seperti EXO, anak-anak muda dengan berbagai bakat dan kemampuan yang hebat. Meskipun SHINee tidak memiliki kemampuan seperti kita, mereka hidup dalam damai dan sentosa.”

Leeteuk membiarkan Taeyeon berdecit-decit seperti tikus yang terjerat dalam perangkap, berharap wanita itu akan berubah tenang setelah menuturkan kesedihannya.

Taeyeon melanjutkan, “Lalu kami semua menjadi serakah. Kami menginginkan sesuatu yang lebih,” ucapnya. Kepalanya terangkat, menatap Leeteuk dengan kedua matanya yang bengkak. “Lalu, lalu… Jonghyun telah pergi. Seseorang yang sangat kusayangi di kerajaan wilayah Barat telah pergi,” ia kembali terisak sambil menggenggam kedua tangan Leeteuk.

Leeteuk menarik kedua tangannya, memaksa Taeyeon untuk kembali ke dalam pelukannya yang tak seberapa, “Kau benar, kita semua telah dikutuk,” ucapnya, tak kalah bergumam. “Aku tak akan menyalahkanmu atas segala perbuatanmu padaku, tapi membunuh hewan-hewan kami untuk melakukan eksperimen kecantikan abadi, membangun pabrik untuk membuat senjata, menyerang habitat lain termasuk Gorgona dari Utara?”

Taeyeon kini mendongak untuk menatap Leeteuk, terkejut akan perkataannya, ”Bagaimana kau mengetahuinya—tentang apa yang mereka lakukan diluar wilayahmu? Apakah anak-anak muda dari EXO mengatakannya padamu?” sepasang mata Taeyeon yang dibanjiri air mata mendadak membesar.

“Aku tahu apa yang kutahu,” jawab Leeteuk sederhana. “Jadi kau tahu bahwa anggotamu telah membunuh Jonghyun?”

Taeyeon mengangguk lalu menundukkan kepala. Rambut hitam legamnya terurai menyembunyikan wajahnya yang kusam. “Tak sengaja kudengar mereka tengah melacak seseorang dari wilayah SHINee. Aku tak tahu persis apa yang mereka cari. Yang jelas, kucoba untuk menghentikan mereka untuk tidak menyakiti anggota kerajaan.”

Setelah itu Taeyeon menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya kembali menjadi-jadi, “Kembalikan Jonghyunku, Oppa. Kumohon,” isaknya, seraya jatuh dengan kedua lututnya yang saling menciumi lantai. Ia merengkuh sepasang kaki Leeteuk seolah dirinya sedang memohon sebuah pengampunan.

“Aku tak bisa,” ucap Leeteuk, kemudian mengajak Taeyeon untuk kembali duduk di atas kursi panjang yang dilapisi katun yang empuk.

Sabina nyaris mendobrak pintu jika saja Hyuk Jae tidak menahannya untuk menghujam Taeyeon dengan berbagai kebencian yang dipendamnya—memeluk tubuhnya yang basah ke dalam jeratannya yang tangguh. Ia mendengar Hyuk Jae berbisik di telinganya untuk tetap mengagungkan kesabaran. Dari percakapan tersebut, keduanya mengetahui bahwa tidak semua anggota kerajaan Selatan melakukan tindakan keji yang diperbuat oleh Tiffany.

“Sembunyikan aku dari siapapun, kumohon. Sembunyikan diriku dari mereka,” ucapan Taeyeon kali ini dipenuhi dengan berbagai kengerian.

Leeteuk mengangguk sebagai janjinya, lalu merengkuh tubuh Taeyeon untuk menenangkannya. Tubuhnya bergetar hebat, seolah wanita itu dirundung pilu yang akan melahapnya hidup-hidup.

“Yunho dan Max sepertinya mengetahui akan hal ini—bahwa kerajaanmu akan melakukan penyerangan suatu hari nanti untuk menguasai Pusat Dunia.  Karena itu mereka menciptakan upacara andoeva, untuk mengambil empat anggota kerajaan kami, dan setengah dari anggota kerajaan EXO,” Leeteuk menjelaskan dengan maksud merangkai segala kehebohan di dunia ini menjadi satu alur cerita yang saling berkaitan. “Lalu mengapa kau membutuhkan seorang duyung, Taeyeon?”

“Duyung apa maksudmu?” wanita itu balik bertanya.

“Kau tahu bahwa Tiffany dan yang lain memburu duyung di laut Gorgona, bukan?”

Taeyeon mengeryitkan kedua alisnya yang tebal, mendadak membangunkan diri dari rengkuhan Leeteuk sebelumnya, “Aku tak tahu menahu soal duyung. Aku bersumpah.”

“Berpikirlah dengan baik, Taeyeon,” Leeteuk nyaris menggertak. Sepasang matanya menatap Taeyeon tanpa berkedip, mencengkeram kedua bahunya seolah ia menginginkan jawaban yang benar.

“A-aku hanya mengetahui bahwa mereka membutuhkan sesuatu untuk membangun pasukan yang besar karena kami tidak memiliki sebanyak yang kau punya. Aku benar-benar tak tahu perihal duyung yang kau sebutkan,” Taeyeon masih mengelak.

Karena amarahnya benar-benar telah mencapai batas kesabaran, Sabina melepas pelukan Hyuk Jae dengan paksa hingga ia nyaris menohok perutnya yang rata. Daun pintu yang lebar itu dibuka dengan tendangan yang kuat, menimbulkan debam lantang saat pintu tersebut saling beradu dengan dinding.

Leeteuk dan Taeyeon terkejut. Keduanya hanya mampu mengikuti gerakan di tubuh Sabina yang berjalan dengan setengah berlari. Leeteuk bahkan tidak menghentikannya ketika Sabina menarik pergelangan tangan Taeyeon, memaksa wanita itu untuk berdiri lantas menamparnya sekencang mungkin; meninggalkan berkas merah di pipinya yang pucat.

“Kau tak tahu apa yang telah kau lakukan,” Sabina mengancam Taeyeon dengan berbagai perasaannya yang berkecamuk selama ini.

Leeteuk melerai keduanya dengan berdiri di antara Sabina dan Taeyeon, sementara Hyuk Jae menyeretnya untuk menjauh meski Sabina menolak perintah tersebut dengan melayangkan sebuah tinju di perut Hyuk Jae.

“Dimana kau sembunyikan kakakku?” tanyanya, menyoroti Taeyeon dengan matanya yang bersinar kemerahan.

…bersambung…

Special Note: Mengenang kepergian Jonghyun Kim dan Sulli