The Guy With The Fiery Eyes

Kotak kayu selebar bahuku tetap terduduk malas di bawah pelupuk mata. Kedua tanganku yang berkeringat saling bertolak-pinggang sementara napasku masih menderu sejak kepindahan kami dalam semalam.

Kumaki nama Do Kyungsoo sedemikian rupa setelah kutendang kotak tersebut dengan ujung jari kakiku yang berkedut nyeri. Jika bukan karena kehadirannya yang datang secara tiba-tiba, pencarian ini tak akan berujung menjadi sebuah pengejaran yang melelahkan.

Hendak kuletakkan kotak terakhir di atas meja konter, perhatianku teralihkan oleh kepulan asap yang membumbung di balik jendela. Kulepas sarung tangan yang telah melindungiku dari berbagai luka ringan mengingat kecerobohanku terkadang muncul tiap kali kuayunkan perkakas tajam, mengamati kabut pekat di antara kerumunan pepohonan tak jauh dari pondok baruku.

Aku mengaduh, mengusap keningku yang mendadak pusing. Matahari belum sepenuhnya turun dari langit dan keadaan di luar sana justru mengusik lelahku yang sejak tadi belum mereda. Hembusan napasku dipenuhi kejengkelan sebelum akhirnya kuniatkan diri untuk berlari melewati padang rumput yang membatasi antara hunian kami dan pohon-pohon pinus ponderosa yang menjulang tinggi.

Sekitar sepuluh menit, kuhabiskan waktuku untuk berlari melewati rumput-rumput hijau yang sangat kukagumi. Sebilah sabit di tangan kiriku saling berayun bersama rambutku yang terurai. Lagipula, aku tidak memiliki alat pemadam api, jadi pilihan saat ini hanya ada pada sabit dan parang saja.

Setibanya di tepi kepulan asap, kembali kulayangkan berbagai makian mengingat api yang membakar batang-batang pinus telah menjalar secara perlahan—menggoda rerumputan yang menghiasi pinggiran hutan agar ikut terbakar bersama pohon-pohon kering yang naas. Sambil menyipit mengamati keberadaan adikku yang tergeletak malang di rumah kami, kutebas rerumputan yang menyentuh api dan berharap bara itu akan berhenti menjalar mencapai tempatku.

I just moved here, you fucking idiot!” kuteriaki lidah-lidah api yang saling bersentuhan dengan pucuk rerumputan yang segar, mencangkuli dengan antusias melawan angkuh dari panasnya yang sama sekali tak ingin mengalah dariku.

Kehabisan tenaga, dengan berat hati kupilih untuk menyerah. Kulempar sabit itu ke dalam sulut api di antara pepohonan mengingat seorang wanita sepertiku tak akan menang melawan kobaran tersebut. Hendak kembali ke tempatku, perhatianku kembali teralihkan ke balik kepulan asap di antara bara api yang menghanguskan pepohonan.

Di sana, di tengah kerumunan api dan pinus yang membara, kutemukan sesosok pria dengan jaket birunya yang panjang, memunggungiku tanpa melakukan setitik gerakan yang mencolok. Aku mendengus, menyisir rambut panjangku yang berayun-ayun oleh angin sore yang membantu api itu semakin membesar. Tak kusangka akan kutemukan dirinya di tengah kekacauan ini.

ᐅ Arizona 17:11

Hey!” kucoba meneriakinya meskipun suaraku malah tenggelam di tengah gemerisik api yang meronta-ronta, dan pria itu masih bergeming tanpa terusik oleh lengkinganku.

Kuulangi hal itu selama beberapa kali dan ia masih membeku di sana,  berdiri kokoh dengan kakinya yang tegap sementara sepasang tangannya jatuh terkulai di kedua sisi tubuhnya.

Lelah untuk berpikir, kuterobos nyala api yang berkibar di antara pinus-pinus tersebut setelah menyumpahinya dengan lantang. Kutarik pergelangan tangannya semampuku sambil menahan bau yang menyengat sekaligus manis dari pinus yang terbakar. Pria itu sedang menatap hampa ke dalam hutan yang lebih jauh. Jadi sengaja kucubit lembut ibu jarinya seraya menarik diriku dari lidah-lidah api yang menjulur untuk menggapai rambutku—berharap aksiku akan mengembalikan benaknya yang masih melalang-buana.

Setelah meloloskan diri dari kobaran tersebut, kudorong tubuhnya hingga pria itu jatuh di atas padang rumput, merentangkan kedua lengan kekarnya untuk menatap angkasa yang hanya dihiaskan oleh sekelebat awan putih yang tipis. Sementara kugapai-gapai udara bersih di sekelilingku, aku jatuh terduduk sambil bertumpu pada kedua lututku. Pria itu ternyata jauh lebih tinggi dari yang kuduga. Mungkin lebih dari enam kaki; perawakannya mengingatkanku pada tetangga lamaku yang telah mati, pemain basket handal dengan kaki yang panjang dan bahunya yang lebar, sama seperti miliknya.

Are you crazy?” kali ini aku berteriak di depan wajahnya, membuat pria itu akhirnya terkesiap.

Kukibas-kibaskan tanganku karena pria itu masih dikelilingi asap seolah kepulan itu muncul dari tubuhnya sendiri. Ia terbangun dari tempatnya, bersamaan denganku untuk menatap pinus-pinus yang terbakar, menyadari bahwa pusaran api tersebut mulai merambat melalui rumput-rumput yang lebih kering di sisi kanan.

Lagi-lagi aku mengumpat. Pertemuan ini bukanlah yang kuharapkan.

We gotta go before the fire kills us both,” saranku, menggerak-gerakkan bahunya karena pria itu masih mengamati kobaran api yang semakin membesar, “my house is right there. Come!” imbuhku, seraya menunjuk dua bangunan yang saling berdekatan di seberang padang rumput.

Ia tak banyak bicara, hanya mengikuti saranku tanpa menolak. Jadi kucengkeram pergelangan tangannya untuk kedua kali dan berlalu sambil berlari. Sesekali pria itu menoleh untuk mengamati kebakaran tersebut, dan setiap kali ia melakukan hal itu, kutarik lengannya seperti memaksa seekor sapi yang tangguh untuk bersembunyi ke dalam kandangnya.



LA.VIE.: THE CAFE OF LIFE [Chapter 02]

Selama perjalanan menuju tempatku, pria itu bergumam menyebutkan berbagai kalimat yang tidak masuk akal. Kadang pula mengalunkan beberapa bait dalam bahasa kuno yang tidak kumengerti. Melewati jalan setapak di antara rumah terbesar dan bangunan terkecil, kupaksa pria itu untuk tidak mengintip dari balik tirai rumahku saat kami berpapasan dengan ruang tamu.

Setelah menaiki beberapa anak tangga yang rendah, kami tiba di dalam kafe baruku dimana berbagai kotak-kotak kayu masih berkeliaran di sekeliling ruangan. Kusuruh dirinya untuk duduk di pojok kanan yang telah kurias dengan kursi panjang setengah lonjong dengan dua meja bulat dari kayu mahoni. Ada sebuah tungku perapian di sampingnya yang belum kubersihkan. Belum lagi sepasang kursi kayu yang lebih kecil menelungkup di atas meja.

Jendela pada dinding yang melekat dengan kursi terpanjang menyibak sinar matahari yang cukup menyengat sore itu, menyilaukan bingkai lukisan manusia bertanduk rusa yang bertengger di sebelah dinding lain. Alih-alih mematuhi perintahku, pria itu malah mengamati kepulan asap yang melayang-layang dari balik jendela. Tentu saja, dengan gumamannya yang belum juga mereda.

What did I do?” si pria berbisik lirih meskipun suaranya mampu kudengar dengan jelas dari tempatku berdiri.

What did you do?” kuajukan kembali tanyanya dengan sarkasme yang berlebihan.

Setelah menyediakan segelas air dan handuk yang sengaja kubasahi dengan air dingin, kuamati dirinya masih menatap hampa ke luar jendela. Dengan paksa, kutarik lengannya menuju pojokan, melepas jaket yang sama tingginya dengan tubuhku lantas menaruhnya sembarangan di atas kursi kayu yang belum kutata di pojok lain.

Lagi, kukibaskan tanganku karena asap keputihan masih mengepul dari kemejanya. Ia akhirnya duduk di atas busa yang melapisi kursi terpanjang. Kutaruh dengan sembrono handuk basah di kepalanya sementara segelas air kuletakkan di atas meja bulat—setelah kuturunkan kedua kursi dari meja. Kemudian kubuka jendela itu agar kepulan asap dari tubuhnya tidak membuat ruangan ini berubah pengap.

“Apakah kau sedang mencoba untuk bunuh diri di sana?” kali ini suaraku dipenuhi ketidaksabaran.

Aku berjalan kembali kepada konter kosong yang berada di pojok lain, tepat di depan pintu masuk kafe ini. Sebelum kuraih gagang telepon, aku baru menyadari bahwa sepatu kets yang kukenakan telah dipenuhi tanah lembab dari padang rumput, menciptakan tapak-tapak kaki yang kini mengotori lantai ruangan yang sebelumnya telah kubersihkan.

Gigiku bergemeretak. Aku akan sangat membutuhkan seorang pembantu maupun asisten pribadi dalam waktu singkat.

Kuperhatikan pria itu tidak menjawab tanya yang kuajukan. Ia menyingkap handuk di kepalanya untuk menatapku. Sepertinya ia sedang kebingungan, dan kuyakini hal itu mengingat ucapanku yang berbeda dari semula.

“Kau meracau sejak tadi menggunakan bahasa ini. Jadi berhentilah menunjukkan wajahmu yang bodoh itu padaku,” ucapku, menyanggah pikirannya yang kurasa sedang kacau-balau.

Pria itu menunduk, terdengar seperti sedang menertawai dirinya sendiri. Ia menggunakan handukku untuk mengusap rambut cokelatnya yang berantakan. Tak lupa iapun menyeka wajah dan kedua tangannya dengan baik. Saat ia menyisir rambutnya yang basah dengan jari-jarinya yang gagah, sepasang telinganya yang besar seolah muncul mengepak-ngepak seperti sayap peri. Membuat wajahnya nampak lebih mungil.

“Kau tidak sedang memanggil polisi, ‘kan?” tanyanya.

Suaranya mengingatkanku pada Do Kyungsoo; bariton dengan rentang yang lebih rendah.

“Petugas pemadam kebakaran, tentu saja. Lihatlah apa yang telah kau lakukan di sana? Aku tak ingin api yang berkobar-kobar itu membakar rumahku,” jawabku seraya meraih telepon berbentuk persegi dengan model yang lebih tua.

“Tapi aku tidak melakukannya—membakar hutan itu,” ia berkilah.

Kuhentikan jariku di nomor terakhir sebelum benar-benar menghubungi petugas pemadam, “Lalu siapa lagi jika bukan dirimu? Kau baru saja mengoceh mengenai api itu beberapa menit lalu,” ujarku dengan nada yang lebih tinggi.

Pria itu meremas seluruh jemarinya. Ada sedikit rasa bersalah yang menjangkitiku setelah itu. Aku tidak bermaksud untuk membentaknya. Hanya saja, kepindahanku dari Colorado dalam semalam telah menghisap seluruh tenagaku. Dan saat ini, aku tidak memiliki tenaga yang tersisa untuk mencari tempat baru.

Aku terdiam sesaat setelah melepas napasku dengan kasar. Kubiarkan pria itu menyendiri sementara kuhubungi para petugas yang bisa menghentikan nyala api di seberang sana. Setelah menyebutkan lokasiku dan mengakhiri perbincangan singkat kami, kuketuk tanda La. Vie. yang cukup besar di balik konter untuk mencari perhatian si pria.

Ia mendongak, menatapku lagi meski kali ini dengan sorot matanya yang sendu.

“Karena aku telah menyelamatkan hidupmu, setidaknya pesanlah sesuatu sebagai ucapan terima kasih,” suaraku tak lagi melengking dan hal itu membuatku lega. Bagaimanapun juga, aku tak ingin ia berubah pikiran dan meninggalkanku seorang diri di sini.

“Maaf,” hanya kata itu yang diucapkannya.

Setelah mencapai meja kecilnya, kutunjukkan sebuah menu yang sebagian telah kuubah dengan minuman bernuansa musim panas. Pria itu meraihnya dengan senang hati, mengamati garis-garis hitam yang saling tersusun rapi di atas kertas hijau muda berlapis plastik tebal. Ruangan ini sedikit lebih sempit dibandingkan pondok kecil sebelumnya. Belum lagi sepasang tiang besar yang berdiri di tengah ruangan, menghalangi langkahku yang tidak seberapa.

“Mengajukan sebuah maaf hanya membuatmu terdengar seperti seseorang yang memiliki hati yang lemah,” ujarku, lalu duduk di hadapannya setelah menyeret kursi kecil yang kutaruh sembarangan.

Pria itu tidak melakukan hal-hal mencolok selain menatap menu terbaruku tanpa berkedip, seolah jiwanya melayang bersama asap kelabu yang masih menguap di sekitar tubuhnya. Ia tidak seperti Do Kyungsoo yang selalu menembakiku dengan berbagai pertanyaan. Dari wajahnya yang maskulin, aku percaya bahwa ia akan menyebarkan segala keindahan dari senyumnya yang merekah.

Sayang, saat ini ia sedang berpilu hati.

“Apa yang sebenarnya terjadi, tuan muda?” kulayangkan tanya itu sambil melipat kedua tanganku di atas meja.

Sepasang alis tebalnya mendadak mengerucut sementara hidungnya yang mancung bergerak kembang-kempis—terutama saat ia mengatupkan bibirnya serapat mungkin. Kantung matanya menebal, menimbulkan sebercak garis merah di pelupuk matanya yang berkaca-kaca.

Entahlah, sepertinya kutemukan percikan api pada kedua pupil hitamnya. Saat kutilik lagi lebih seksama, percik itu menghilang setelah ia mengedip-ngedipkan matanya yang besar.

“Akupun tak tahu,” jawabnya, nyaris bergumam, “Ini, umm, sangatlah rumit.”

Aku mendesah, kali ini menatapnya iba.

Sepasang bahuku bergerak saat kuulurkan salah satu tanganku padanya, membuat pria itu memandangku keheranan. “Pemantik apimu, please,” titahku dengan mencondongkan tubuhku lebih dekat.

Sejenak pria itu mengamati telapak tanganku yang tak lagi kotor setelah mencangkuli rerumputan di tepi hutan. Lalu ia balik menatapku, menahan kekehnya yang sengaja ia sembunyikan di balik kepalan tangannya. Dari senyumnya yang singkat, kutemukan sepasang dempul yang sangat jelas di pipinya, membuat wajah pria itu semakin tampan diterpa sinar matahari dari jendela dengan warna oranye yang pucat.

“Aku tidak merokok,” ia menjawab tanyaku dengan penuh percaya diri.

Akupun mencibir, meletakkan telapak tanganku yang kosong untuk menopang daguku. “Lalu bagaimana kau bisa menyulut api di sana jika bukan dengan menggunakan pemantik api? Kecuali jika kau adalah seorang penyihir yang memiliki kekuatan seperti Scarlet Witch atau Dr. Strange dan menciptakan api itu seperti—”

Ucapanku terhenti saat kudapati dirinya menunjukkan deretan gigi-giginya yang putih; membentuk sebuah senyum yang sangat kaku dan hambar. Kugelengkan kepalaku sambil menepuk jidatku yang berkeringat. Tak kusangka ia akan melakukan hal itu untuk menolak ucapanku.

“Anak-anak jaman sekarang memang dipenuhi khayalan yang berlebihan,” gumamku lirih, masih tak percaya dengan reaksi yang ditunjukkan oleh wajahnya yang tampan.

“Aku bukan seorang penyihir. Dan aku juga tidak memiliki pemantik ataupun korek api,” elaknya.

Dan aku hanya mampu menggeleng tak karuan mengingat pria itu masih belum memberikanku jawaban yang memuaskan.

Aku beranjak; benar-benar lupa untuk menyalakan mesin pendingin sedangkan pria itu masih menciptakan asap kelabu yang juga menghantarkan panas di sekitarku. Kubiarkan dirinya memeriksa sebuah ponsel yang bersembunyi dengan baik di dalam kantung celana panjang hitamnya. Ia mengangkat ponselnya beberapa kali, mencari-cari setitik sinyal yang tak akan ia temukan di sini.

Hendak kembali padanya, kutemukan pria itu kini mengamati sebuah kompas tua dengan warna keemasan yang mengkilau. Petunjuk arah yang direngkuhnya dalam sekali genggaman itu sepertinya tidak memberikan jawaban yang ia telusuri. Terbukti ketika pria itu menekan tombol pada kepala kompas selama beberapa kali sambil membuka dan menutup cangkangnya tak sabaran.

Kudapati jarum ramping di permukaan kompas bergerak tak karuan, dan pria itu tidak memberikanku kesempatan lain untuk meninjau lebih jauh karena ia segera menyimpan kompasnya lagi ke dalam sakunya yang lain. Jadi kuposisikan diriku duduk kembali pada kursi kecil, memerhatikan asap kelabu yang muncul dari tubuhnya sedang menari-nari mengikuti gerakan kipas pendingin di tengah ruangan.

“Dimanakah lokasi kita sekarang?” ia sepertinya menyerah untuk mencari keberadaannya saat ini.

“White Mountains, Arizona,” jawabku singkat, kecewa karena pria itu memutuskan untuk tidak menelisik menu baruku lebih lama. Secarik kertas itu ia letakkan di atas kursi, tepat di sampingnya. Sementara ia kembali termenung untuk tenggelam dalam benaknya sendiri.

Gelas air putih yang kuajukan padanya pun masih belum disentuh. Embun dari dingin yang mengumbar dari permukaan gelas telah berubah menjadi tetesan air yang saling berjatuhan ke permukaan meja, menciptakan bercak lingkaran dari kaki gelas yang bulat. Pria itu kembali memeriksa ponselnya. Sesekali ia berdiri untuk mengamati ke luar jendela meninjau kobar api yang masih membara tiada henti.

“Apakah kita akan baik-baik saja?” tanyanya diselimuti cemas yang cukup kentara.

Ia belum menatapku lagi sejak kutemukan percik api di kedua pupil matanya. “Kita akan baik-baik saja, tapi tidak dengan rumahku,” kemudian aku menoleh ke sisi kanan untuk mengamati halaman sempit di depan rumah, “kita berada di luar jangkauan kota besar. Butuh waktu bagi petugas pemadam kebakaran untuk mencapai lokasi ini.”

Ponselnya ia taruh dengan kasar di atas meja, menimbulkan bunyi ketuk yang mengagetkanku. Kuperhatikan dirinya mengusap wajahnya yang maskulin, dilanjutkan dengan menyisir rambutnya ke belakang, menunjukkan keningnya yang lebar sekaligus indah untuk dipandang.

“Kau nampak cemas,” ucapku, berharap ia akan mengungkapkan sesuatu yang ingin kudengar.

Pria itu lantas menatapku setelah mengedipkan matanya beberapa kali. Kali ini bola matanya lebih hitam dari sebelumnya. Tubuhnya bersandar pada punggung kursi sementara kedua tangannya terlipat di dada. Ia melepas ketiga kancing yang berjejer di dadanya, menunjukkan lapisan kaus berwarna putih di bawah kemeja kuning medalionnya yang kusam.

“Ketika aku terjaga, aku merasakan gelisah yang berkepanjangan. Dan ketika aku terlelap, aku terus bermimpi tiada henti,” tuturnya, menyentuhkan puncak kepalanya pada dinding dan membuat dagu dan lehernya membentuk sebuah garis lurus. “Aku tak bisa menemukan kedamaian. Aku tak bisa melarikan diri kemanapun aku pergi.”

Kulipat kedua tanganku di atas meja tanpa mengalihkan perhatianku padanya. Pria itu memejamkan mata, dan kesempatan itu kugunakan untuk mengamati buah jakun yang timbul di permukaan lehernya yang jenjang.

“Aku tidak mengerti,” ucapku, sekenanya.

Ia masih terpejam, mengerutkan sepasang alis tebal yang sama hitamnya dengan matanya. “Seingatku, aku berada di atas reruntuhan bangunan tua—entah letaknya dimana. Kupejamkan mataku dan saat aku terjaga, kau sedang memaki sambil berlutut di hadapanku,” jelasnya, suara baritonnya melebur dengan kesunyian di dalam ruangan.

Sepasang tangannya lalu terangkat, menunjukkan telapak tangannya sendiri di hadapan matanya yang kini melebar. Ia menelisik buku-buku jemarinya yang sedikit bergetar, membaliknya untuk mengamati punggung tangannya yang tegang, lalu kembali membalikkan tangannya untuk menelisik kuku-kukunya yang pendek.

“Mungkin kau masih bermimpi,” kucoba untuk berkilah untuk menghiburnya.

Kudorong gelas transparan yang kini tak lagi sedingin sebelumnya dengan ujung telunjukku, mengajak pria itu untuk menikmati sedikit ketenangan yang mungkin akan ia dapatkan dari setetes air dingin. Pria itu menyeringai sebelum meraihnya, meminumnya dalam sekali tegukan tanpa kecurigaan dan kewaspadaan yang membuncah.

“Bagaimana dengan perasaanmu sekarang?”

Kuperhatikan pria itu menghembuskan napas panjangnya sebelum meletakkan gelas yang kosong ke atas meja. Ia mengangguk dan kembali menyentuhkan punggungnya pada kursi. Kuperhatikan, asap kelabu yang muncul dari tubuhnya berangsur menenang.

“Setidaknya kau dapat menemukan sedikit ketenteraman di sini,” ucapku.

“Tak lama—sebelum api itu mencapai tempat ini,” ujarnya, kembali memejamkan mata untuk menyembunyikan rasa bersalahnya.

“Sebenarnya aku ingin mengajukan beberapa tanya. Namun melihat dirimu begitu murung seperti ini, kuijinkan kau untuk menenangkan diri terlebih dahulu,” kepalaku sengaja kumiringkan untuk mengamati wajahnya dari sisi lain. Pria itu memiliki rahang dan dagu yang tegas. Dan harus kuakui, rambutnya yang nyaris menyentuh bahu dan dihiasi gelombang-gelombang tipis membuatnya semakin memikat hatiku.

“Aku juga,” pria itu lalu membuka mata, kali ini menatapku sambil melipat kedua tangannya. “Ada banyak tanya mengenai kehadiranmu di sini, di tengah belantara. Tapi kau beruntung karena aku begitu lelah untuk sekedar mengajukan sebuah tanya.”

Aku tersenyum dan iapun melakukan hal yang sama.

“Jika kuceritakan sesuatu, apakah kau akan berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapapun?” ia mencondongkan tubuhnya untuk meletakkan kedua tangannya di atas meja, membuat jarak kami begitu dekat hingga dapat kucium wangi tubuhnya yang membara seperti kayu yang hangus terbakar.

Kuangkat bahuku dengan acuh, “Selama cerita itu adalah sesuatu yang masuk akal.”

“Itulah masalahnya. Ini sangatlah tidak masuk akal,” ia sama sekali tidak berpaling dariku saat bicara, membuatku mendadak ngeri menikmati pandangannya yang kini berubah diselubungi berbagai kesungguhan.

“Setidaknya cerita itu tak akan membuatku gila, ‘kan?” aku berpura-pura dengan menyeringai kikuk.

Masih melipat kedua tangannya, kami saling beradu pandang tanpa mengucapkan sepatah kata. Kepalaku sedikit mendongak mengingat tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Ia sedang mengamatiku, kupelajari hal itu karena gerakan di matanya yang nyaris tidak terdeteksi, secara sembunyi-sembunyi menelisik wajahku yang berkeringat.

“Ada seorang pria—mungkin pula lebih dari itu, tiba-tiba terjaga dari tidurnya dan tak mampu mengingat apapun. Tahun demi tahun berlalu, ia mencoba untuk melupakan apa yang telah hilang dan membangun kehidupannya yang baru. Hingga suatu hari sesuatu yang fana menghantuinya. Dan sesuatu itu menginginkannya. Sangat menginginkannya hingga membuat hari-harinya tak nyaman.”

Ia mengucapkan kalimat-kalimat itu tanpa berkedip. Suaranya konstan, seolah aku sedang mendengarkan seorang narator pada salah satu acara di stasiun radio.

Pria itu melanjutkan, “Ia memiliki kekuatan yang tak dimiliki manusia lainnya. Dan sesuatu itu mulai mengganggu pikirannya, membuatnya kehilangan kendali.”

Aku menunduk untuk menyembunyikan tawa kecilku yang tak seberapa. “It’s all nonsense,” elakku, “cerita macam apa yang sedang kau utarakan, tuan muda?”

Ia masih menatapku meski pandanganku sesekali melirik pada jendela maupun sekelebat asap yang berkeliaran di antara rambutnya.

Yeah, I guess it’s all nonsense,” kemudian kedua matanya menatap permukaan meja yang hanya dipenuhi lipatan tangan kami. Tentu saja, segelas air dan ponselnya yang tergeletak di antara kami.

“Mengapa kau memberitahuku tentang kegilaan ini?” tanyaku, kali ini menikmati wangi tubuhnya yang berubah menjadi sesuatu yang lebih manis, seperti wangi pohon cedar merah.

“Hanya sebuah cerita bodoh,” jawabnya.

“Ini bukan tentang dirimu, ‘kan?”

Ia bergerak untuk mengubah posisi duduknya. Kali ini sepasang kakinya diluruskan sementara ia bersandar lagi pada punggung kursi, “Kau terlihat seperti seseorang yang dapat kupercaya.”

Kali ini aku benar-benar terkekeh dibuatnya.

“Cobalah untuk tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, atau pada dugaanmu saja. Kau harus belajar mengenal karakterku terlebih dulu, sir-

“Chanyeol, namaku Chanyeol.”

Aku terkesiap saat pria itu membagikan namanya tanpa berpikir.

Sir Chanyeol, nama yang sangat unik,” ucapku nyaris berbisik. Kutopang daguku lagi untuk menatapnya. Aku percaya ia sedang menemukan kerutan di keningku karena saat ini aku sedang berpikir keras.

“Jadi maksudmu, kau bukanlah sebaik yang kukira,” ia menyisir rambut kecokelatannya yang mulai mengering.

Aku mencibir, “Bisa saja,” kemudian kulayangkan sebuah kerlingan hanya untuk menggodanya.

Chanyeol tersenyum; senyum singkat yang sungguh mempesona.

“Kau bukanlah siapa-siapa. Dan kita berada di tengah belantara. Kepada siapa kau akan menceritakan hal ini selain pada rumput dan belalang di luar sana,” ucapnya seolah sedang menghibur diri.

Aku termenung sejenak. Ia benar, aku bukanlah siapa-siapa.

“Dan jika kukatakan hal ini pada orang lain,” sanggahku.

“Percayalah, akan kucari dirimu hingga ke ujung dunia hanya untuk melukaimu dalam sekali pukulan,” ujarnya, kemudian menunjukkan sebuah kepalan dimana otot-otot di lengannya saling bermunculan.

Berbeda dengan Do Kyungsoo, kekar di ototnya menunjukkan bahwa Chanyeol melatih tubuhnya sebaik mungkin. Akan kuingat hal itu untuk menulis sebuah catatan kecil mengenai karakternya.

“Itukah alasanmu membakar hutan itu? Karena kau tak mampu mengendalikan kekuatan yang kau miliki?” sengaja kutanyakan hal itu untuk mengamati reaksi yang akan ditunjukkan Chanyeol padaku. Kugerakkan masing-masing telunjuk dan jari manisku untuk membentuk tanda kutip saat mengucap kata ‘kekuatan’.

Chanyeol masih tenang tanpa menunjukkan rikuh maupun gelisah seperti sebelumnya, “Aku hanya bergumam. Kurasa aku sedang tidak berpikir dengan jernih,” ia berkilah.

Aku mendengkur dalam napasku yang rendah. Mengetuk-ngetuk jemariku di atas permukaan meja untuk menimang-nimang. Chanyeol nampak seperti anak yang baik. Namun di sisi lain, ini bukanlah saat yang tepat baginya untuk mengetahui segala kebenaran yang ia cari.

“Seorang pria mencoba untuk mencapai Grand Canyon tadi malam. Perawakannya sangat tak biasa—dan juga istimewa, sama seperti dirimu,” kuberikan sedikit jeda di antara kalimatku untuk berdiri mengamati kepulan asap di hutan sana, “apakah kau secara kebetulan telah bertemu dengannya?”

Masih mengamati kobar api di balik jendela, kudengar Chanyeol menyeret meja kecil agar ia dapat keluar dari sudutnya. Ia berdiri di sampingku, mengamati segala amarah dari api yang semakin menjalar membabi-buta.

“Apakah pria itu sama tingginya denganku—dengan rambut cokelat pelana yang lembut?” ia balik bertanya.

Aku menggeleng, “Pendek, dan berambut hitam.”

Chanyeol tidak menjawab pertanyaanku setelah itu—apakah ia telah bertemu dengan Do Kyungsoo atau belum. Kami berdua hanya mengagumi kobaran api yang saling menderu-deru diterpa angin sore. Jadi, bukan Do Kyungsoo yang telah Chanyeol temui sebelumnya, melainkan sesosok pria lain yang sama tinggi dengannya.

Aku mendesah, “Sepertinya aku harus pergi. Petugas pemadam kebakaran masih belum mencapai tempat ini,” ucapku seraya berjalan menuju konter, menendang kotak kayu yang masih tergeletak di tepi daun pintu.

“Kemana kau akan pergi?” tanyanya, masih berdiri di tempatnya tanpa berpaling dari jendela.

“Entahlah. Sesungguhnya, aku baru tiba pagi ini,” kali ini desahku semakin jelas karena lelah itu kembali menggerogoti tubuhku.

“Aku bisa membantumu,” ucapnya yang disambut oleh gelengan kepalaku untuk menolak tawarannya.

“Kau bisa membantuku dengan menjaga dirimu sendiri,” suaraku terdengar layu. Kulepas tanda La. Vie. yang baru saja kugantungkan pada dinding siang ini, membungkusnya sedemikian rupa dengan kertas-kertas putih lalu secermat mungkin meletakkannya ke dalam kotak yang lebih besar.

“Bahkan aku tidak membeli sesuatu dari kafemu untuk menghadiahimu—mengingat kau telah menyelamatku sebelumnya,” ucapnya lagi.

Kuintip dari sudut mataku saat kutemukan ia sedang memandangi menu yang tergeletak di atas kursi panjang. Aku menyeringai sambil memindahkan kotak lain ke daun pintu. “Kau bisa melakukannya lain kali.”

“Akankah kita bertemu lagi?”

“Sepertinya begitu. Aku percaya akan hal itu,” kutatap Chanyeol sejenak hanya untuk melayangkan sebuah senyum padanya. Perhatianku lantas beralih pada jendela kecil yang terletak di samping tanda La. Vie.; menatap api yang masih menyala-nyala menghanguskan berbagai kehidupan di sana.

“Pergilah, sebelum kupanggil polisi karena kau telah membakar hutan itu,” ucapku.

Dengan gontai, kutilik kehadiran Chanyeol dari sudut mataku, menemukannya tengah meraih jaket birunya yang tersampir sembarangan di pojok lain. Aku tidak mengijinkannya menatapku karena pandanganku kembali tertuju pada api yang menjadi-jadi. Kudengar langkah kaki dari sepatu ketsnya berhenti di ambang pintu. Sepertinya ia hendak mengucap sesuatu.

Bye now.

Kubalik tubuhku saat mendengar suaranya yang maskulin mengucap salam perpisahan. Seketika itu juga kehadirannya menghilang dari tempatku. Aku berjalan menuju beranda dan mengamati sekitarku untuk mencari sosoknya. Chanyeol telah pergi secepat api yang menjalar membakar segala yang mampu digapainya. Tak ada jejak maupun tanda lain yang ditinggalkan.

Kubiarkan pintu kafeku terbuka lebar saat kutinggalkan tempat itu untuk mencapai rumahku. Kubuka pintu utama melewati ruang tamu dan juga dapur yang sama luasnya dengan kafeku. Aku menaiki anak tangga mencapai lantai kedua, meraih gagang pintu pada ruangan pertama yang kutemukan, dan mendapati sosok adikku tengah terbaring tak berdaya di tengah kelambu yang sengaja kubiarkan bergelantungan melindunginya.

Kusampirkan kain tipis itu agar aku bisa duduk disampingnya.

“Kita harus segera pergi, adikku sayang,” ucapku, kemudian menggenggam jemarinya, mengamati garis-garis yang berantakan saling terhubung dari telapak tangannya, melewati pergelangan tangan, mencapai sebagian dari lengan bawahnya yang rapuh.

Kuamati tangan kananku yang kini hanya tersisa satu garis nyata di permukaan telapaknya, mengingat segala kesakitan yang kualami demi membangkitkan jiwanya yang malang.

Kuusap rambut hitamnya yang pendek, melayangkan secarik senyum singkat dan berharap gadis itu akan menemukan ketulusanku dengan baik.

“Apakah kau menyukai London?”