Evidence-Free (ii)

Menjadi seorang kasir bukanlah pekerjaan yang menggairahkan. Kadang Jean hanya mampu mendesah atau menghamburkan sejumput tawa ringan saat berandalan murahan menggodanya di tengah kesunyian pelayanan drive-thru, terutama menjelang malam buta.

Pun para wanita dengan dandanan tebal dan pakaian senonohnya saling melempar potongan-potongan kentang goreng yang, bagi selera mereka, belum cukup ke dalam kategori well-done.

Kali ini adegan berbeda menyambutnya.

Jean menyadari ada sepasang mata yang mengamatinya sejak tadi sore. Mungkin pula ada beberapa; ia belum sepenuhnya mempelajari keadaan itu apalagi di tengah gerombolan pria-pria besar dan gemuk di pojok ruangan yang terus membuat gaduh dengan memaki-maki rekan kerjanya.

Setelah mengucap terima kasih pada pelanggan terakhirnya malam ini, Jean beranjak menuju ruang karyawan; menguliti sidik jari palsu di telunjuknya dengan hati-hati setelah mengabsenkan diri pada jam penghitung; lalu melepas seragam dan topi yang membuatnya nampak konyol tanpa mengucap selamat jalan pada Allen, rekan kerja yang menatapnya bingung di parkiran belakang seolah Jean sama sekali tak mengenalnya.

Jean kemudian meyakini bahwa sepasang pria dan wanita yang ia amati sebelumnya sedang membuntutinya; membentuk jarak antara langkahnya yang tegas dengan mobil hemat energi berwarna gelap yang jemu tanpa menimbulkan deru mesin yang mencolok. Sepasang mudi itu ia temukan sore hari, memarkirkan diri tak jauh dari jendela drive-thru, melakukan ciuman yang sangat kikuk dengan sesekali melirik ke arah jendelanya.

Sebelum langkahnya mencapai persimpangan jalan, Jean menyempatkan diri untuk memesan bubble tea. Sembari menunggu, ia memerhatikan layar ponselnya. Nyaris tengah malam, dan mobil yang selalu membuntutinya itu terparkir manis di depan toko bunga di ujung jalan. Kacamata hitam yang dikenakan si pria membuktikan bahwa mereka hanyalah suruhan amatir.

Jean mengucap selamat tinggal setelah membayar pesanannya; mencomot sebuah sedotan besar yang disediakan tepat di samping mesin penghitung. Ia sengaja membuat gaduh saat menutup pintu kafe tersebut dengan mengayun bel angin di tepi pintu. Sayup-sayup terdengar sepasang mudi itu turun dari mobil mereka, mengetuk-ngetuk alas sepatu mereka di atas aspal dan kongkrit jalanan seolah memberi peringatan pada Jean bahwa mereka telah siap.

Hati Jean sama sekali tidak menciut. Yang ia khawatirkan saat ini hanyalah perhatian dari manusia lain jika gaduh yang akan diciptakannya terlalu mencolok di tengah senyap kota yang mulai tertidur. Maka Jean mencoba menggiring sepasang amatir yang ditugaskan untuk membunuhnya itu dengan berjalan menuju taman kota, tepat tiga blok saja dari tempatnya berdiri. Nyaris ditelan kegelapan, tepat di belokan gedung tua, Jean terperanjat hingga pukulan yang dilemparkannya membuat sosok lain di hadapannya meringis, mundur selangkah sambil mengusap nyeri di perutnya.

Oh, Lee Hyukjae!” Jean berusaha menelan suaranya sebisa mungkin sementara pria itu memakinya dalam bisikan. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Lee Hyukjae sedikit merosot ke dinding di balik tubuhnya, sengaja mengijinkan Jean mengusap perutnya yang bergerinjul oleh otot-otot yang menyembul. Setidaknya ia tahu bahwa Jean melakukannya sebagai aksi pembelaan diri. Bukan karena kehadirannya yang menyebalkan.

“Mungkin aku bersikap lancang tapi,” Hyukjae menjulurkan wajahnya untuk berbisik di wajah Jean, “setelah kucium wangi tubuhmu sebelumnya, kau telah mengubahku menjadi pria jalang yang haus akan perhatianmu,” bisiknya penuh rayuan.

Jean meraup dagu Hyukjae, separuh wajah pria itu kemudian dibungkam paksa untuk menyesak tubuh Hyukjae semakin dalam pada dinding di baliknya, membuat lapisan cat pada dinding yang rapuh itu mengelupas seperti sobekan kertas. Kedua mata Jean menajam; memperingatkan Hyukjae untuk tidak bermain-main dengan gairahnya saat ini.

“Kau benar-benar menggangguku,” Jean membenamkan tangannya pada bahu Hyukjae, menahan pria itu untuk tidak meninggalkan tempatnya berdiri sementara ia mengintip sebaik mungkin dari balik dinding untuk meneliti keberadaan sang pemangsa.

“Biar kubantu,” ujar Hyukjae seraya menarik lengan Jean hingga membuatnya nyaris terkesiap.

Jean mengatupkan bibirnya tatkala Hyukjae menanamkan sebuah ciuman singkat di sana. Entah mengapa perasaannya itu mengingatkannya pada muffin cokelat yang selalu dipajang di kedai kopi sebelah rumahnya. Bau dari kesegaran itu selalu menusuk kepalanya di pagi hari; sementara ia tak mampu menikmati seutuhnya terkecuali dengan merogoh uang saku dan membelinya.

Hyukjae melepas bibirnya dari ciuman itu secara perlahan. Sengaja meninggalkan seberkas tanda; menghujam bibir Jean dengan sebuah gigitan manja yang menggoda. Hal itu membuat Jean berpikir, apakah ia harus merogoh uang saku untuk membeli sebuah ciuman dari Hyukjae, meneliti perasaan candu yang belum pernah ia arungi sebelumnya.

Sebelum meninggalkan Jean dengan sebuah kerlingan, Hyukjae meraih helai rambutnya yang panjang dengan menghirup wanginya hingga ke ujung. Kemudian pria itu menyisir rambut gelapnya beberapa kali sembari bersiul ringan. Kurang dari lima menit saja, Jean menemukan pria itu menyeret tubuh sepasang mudi di hadapannya yang tak lagi menunjukkan tanda kehidupan. Mulut mereka menganga lebar; menunjukkan korslet pada ujung tenggorokan mereka yang telah dirobek paksa.

Dalam gelap, siluet Hyukjae saat menyeret masing-masing lengan mereka berubah mengerikan. Terutama saat Jean menemukan Hyukjae membuang tubuh mereka ke dalam tong kosong di ujung jalan. Jean menyeringai di bawah sinar rembulan yang tak seberapa, mengetahui bahwa Hyukjae mampu menguasai permainan ini sebaik dirinya.

Hyukjae membenahi jaket yang sama gelapnya dengan sang malam. Sekali lagi, menyisir rambutnya sebelum meraih pergelangan tangan Jean, mengajaknya pergi.

“Kau pikir kau bisa menjatuhkan mereka hanya dengan menggunakan benda itu?” tanya Hyukjae, menyadari bahwa Jean tengah menggenggam erat sedotan tajam dalam genggamannya.

Jean mendengus, menancapkan ujung sedotan itu pada bubble tea yang sebelumnya ia sembunyikan dengan baik di dalam tas pinggang. “Kau tak akan tahu seberapa banyak kerusakan yang mampu kuciptakan dengan benda ini,” ujarnya, menyeruput minumannya dan membiarkan Hyukjae memimpin langkah mereka.

Tak disangka, pria itu dapat menghentikan pemangsanya tanpa meninggalkan riuh yang berlebihan.


Daun pintu itu selalu menciptakan derit yang cukup nyaring tiap kali Jean menutupnya. Anjuran sederhana untuk mengganti engsel baru senantiasa dibantah si pemilik gedung. Jean bahkan mengucap dengan nyaring bahwa ia akan membayar perbaikan itu dengan uangnya sendiri. Namun sang empunya tetap menolak; hingga suatu hari Jean mempelajari satu alasan jitu mengapa pria itu menampik usulan baiknya mentah-mentah.

Derit pintu merupakan pertanda bahwa Jean telah pulang; pertanda bahwa si pemilik gedung dapat meluncurkan tipu muslihatnya demi menemukan sebersit adegan yang mampu memuaskannya. Sebagai contoh, mengintipnya dari balik tirai saat ia tengah berganti pakaian.

Jean mengunci pintu setelah Hyukjae dan dirinya memasuki ruangan. Memastikan bahwa tak ada celah yang mampu dilalui seberkas cahaya dari lampu penerang di lorong gedung dengan membenahi tirai-tirai jendela. Sepatunya ia lepas sembarangan lantas menarik seutas tali dari butiran-butiran perak yang berantai, menyalakan lampu duduk di sudut ruangan dengan nyala jingga yang muram.

Tempat sewaan itu berbentuk segi empat. Satu sudut berhiaskan ranjang besi dengan empat penyangga di tiap sisinya, dilindungi oleh kain tenun tipis untuk menjaga tubuh Jean dari sengatan nyamuk yang lihai. Sudut di sampingnya tersedia kamar mandi terbuka dengan kepala pancuran yang pendek; Hyukjae mengetahuinya dengan baik terutama setelah kunjungan singkatnya minggu lalu. Sudut berikutnya merupakan gabungan dapur sempit dan sofa usang; juga seberkas penerang yang baru saja Jean nyalakan. Dan yang terakhir, sudut dengan pintu akses yang selalu berderit, ditemani oleh rak baju yang tingginya nyaris menyentuh atap tripleks murahan di atas kepalanya, tak lupa sebuah televisi yang menggelantung seperti hantu.

Hyukjae berhenti di hadapan ranjang untuk melepas jaketnya. Tempat tinggal Jean tidak dilengkapi dengan mesin pendingin—tentu saja karena Jean tak membutuhkannya. Jendela di depan balkon sempit yang terletak antara ranjang dan kamar mandi itu sengaja dibuka lebar oleh Jean. Lebih mudah bagi wanita itu untuk membuang Hyukjae dari sana jika pria itu tiba-tiba berubah ganas.

“Kau masih belum mengganti selimutmu?”

Dilihatnya pria itu mengibas tangannya seolah benda itu merupakan sebongkah mayat bernanah. Jean mendesah, merengsak maju hingga tubuh Hyukjae dipaksa untuk mundur, menjangkau selimut usangnya untuk melipat dengan kasar membentuk lingkaran, membuang kain lusuh itu dengan melemparnya ke tempat sampah setinggi lutut di pinggir pintu. Menjadikan gundukan itu seperti es krim cokelat dengan contong yang kecil.

“Misi telah selesai,”  ucap Jean, penuh dengan sindiran.

Hyukjae terkekeh sambil mengangguk, memenangkan perdebatan kecil mereka tanpa saling bertikai.

Selagi Hyukjae memposisikan diri dengan duduk di atas ranjang, pria itu mengamati garis-garis hitam dari bayangan tubuh Jean saat wanita itu tengah mengganti pakaian. Lekuk tubuh Jean bergerak gesit dan lentur, terutama saat ia melepas kausnya ke atas kepala, melerai rambut panjangnya yang berantakan, membiarkan ujung-ujungnya menggelitik punggungnya yang telanjang.

Hyukjae menyentuhkan punggungnya pada dinding, membiarkan kakinya yang panjang melayang-layang di tepi ranjang. Alisnya yang memberenggut menunjukkan bahwa ia menikmati adegan itu. Apalagi dengan temaram dari cahaya lampu di dalam ruangan yang mengingatkannya pada sebuah bar khusus dewasa di kota besar. Hal itu membuat Hyukjae berdeham kasar; membayangkan Jean merayunya manja justru membuat selangkangannya berkedut-kedut. Ia tak ingin membiarkannya menunjukkan sesuatu yang memalukan. Bukan saat ini.

“Tanda mereka berwarna merah,” ucap Hyukjae, mengacu pada sepasang mudi yang telah dibinasakannya beberapa waktu lalu.

Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut Jean setelah itu. Dengan malas, Jean masih mengikat piyama kimononya sembarangan sambil menatap kosong jendela balkonnya yang terbuka. Ia mendengus. Seingatnya, merah merupakan tanda kegagalan. Cukup mengherankan mengingat mereka hanya mengirim robot usang saja untuk menyingkirkannya.

“Kau masih berhutang sebuah penjelasan padaku,” Hyukjae lagi-lagi berucap, mencari perhatian Jean yang mendadak menghilang.

Jean berpaling sejenak, menatap Hyukjae tanpa berkedip seraya memiringkan kepala seolah ia tengah memindai sosoknya. Setelah membentuk simpul pita sederhana di sebelah kiri perutnya, ia merapat pada sudut dapur kecil untuk merogoh kaleng soda di dalam mesin pendingin, mencapai ranjang hanya dalam beberapa langkah saja untuk mengulurkannya pada Hyukjae.

Angin semilir berhembus manis dari sela jendela, perlahan menyapu rambut Jean saat ia menyeret kursi kayu di tepi meja kecil yang menghiasi sudut ruang tamu. Sengaja ia memposisikan diri di hadapan Hyukjae, menyatukan masing-masing lengannya di atas kepala kursi, membenamkan separuh wajahnya di sana seolah ia sedang menyembunyikan kesedihannya.

Hyukjae pun ikut mengamati sementara ujung telunjuknya bergerak mengitari kaleng sodanya. Dari cahaya rembulan yang samar-samar menyusup dari sela jendela, tidak sulit bagi Hyukjae meneliti gerak-gerik Jean. Kimono dari satin berenda yang dikenakan oleh Jean seolah bersinar keperakan, menunjukkan rona kulitnya yang lembut berpadu dengan sejuk angin semilir yang sesekali membuat rambut panjangnya menari-nari.

Sepasang kaki Jean yang telanjang nampak tegang sewaktu ia bergumam seorang diri. Lalu ia mengangkat kepala, membalas tatapan Hyukjae yang sedari tadi masih mengamatinya. Lututnya disentuh dengan cengkeraman yang kuat saat ia menghela napas, membuat tumit kakinya berjinjit membiarkan kimono sebatas pahanya semakin tersibak.

Hyukjae berdeham sekali lagi; kegiatan itu terlalu elok untuk dicermati.

“Tubuhku sepenuhnya terbuat dari mesin—tentu saja dengan kulit sintetik yang luar biasa sempurna. Pria itu menanamkan isi kepala ini padaku dengan maksud agar mesin ini dapat berpikir seperti manusia,” gumam Jean seraya menatap Hyukjae, menyadari bahwa pria itu berubah kaku. “Hingga suatu malam aku dapat merasakannya.”

Jean memberi jeda pada penuturannya dengan menelusuri kening dan pipi kirinya. Di hadapannya, napas Hyukjae seolah ikut bergerak lambat seiring sentuhan Jean di wajahnya sendiri. Pria itu sedang menunggu.

“Saat kubuka mata, beberapa hal terbesit kilat seperti paduan gambar pada proyektor. Sesuatu yang menyakitkan, seperti seseorang sedang menyiksaku,” lalu Jean menyentuh lehernya. Tatapannya memudar untuk menjamahi mimpi buruknya sekali lagi, “bayangan itu milik seorang wanita. Ini—isi kepala ini—milik seorang wanita,” ucapnya, menatap foto berbingkai yang terpajang manis pada meja kecil di samping ranjang.

Bibir Jean berubah tegang, menciptakan garis tegas terutama saat rahangnya mengeras, menahan berbagai sumpah-serapah yang mengulum di dalam mulutnya. Setelah para ilmuwan itu menanamkan otak Jennifer yang sesungguhnya, ia mempelajari kehidupan wanita itu secara bertahap: Jennifer Cho, wanita malang yang menghilang lima belas tahun lalu, percobaan yang mengakibatkan dirinya kehilangan tubuhnya sendiri, menggantikannya menjadi bagian-bagian robot hingga mereka memutuskan untuk mengambil alih otaknya.

Mendesah, Jean mengangkat sepasang lengannya yang ramping, memerhatikan detail di tiap buku-buku jarinya sambil membolak-balik telapak tangannya beberapa kali. Hari berlalu, tubuh mekaniknya kadang mulai merasakan dingin maupun perasaan lain yang ia kira hanyalah sebuah kejanggalan saja. Kini, isi kepala Jennifer mulai berpadu dengan tubuh mekaniknya, mengijinkannya menjadi seorang manusia yang seutuhnya.

“Bagaimana dengan ceritamu?” tanya Jean, mengalihkan pembicaraan singkat mereka.

Hyukjae mendengus kasar, “Yang jelas tidak menyenangkan,” ia menggeleng pelan, membuka penutup kaleng untuk menyeruput minumannya, “aku masih bisa berdarah jika kau menggores kulitku,” ucapnya, menyisipkan sedikit ejekan di sana.

Salah satu tangan Hyukjae menarik ujung kaus hitamnya yang sengaja dimasukan dengan rapih ke dalam jeans; menunjukkan tanda yang membekas akibat tusukan benda-benda tajam serta lebam abadi pada perut dan punggungnya. “Mereka menyebutku Eksperimen BX, manusia dengan kekebalan tubuh yang kuat,” jelasnya.

Sindiran Jean melayang melalui tawa singkatnya, “Tak kusangka mereka benar-benar terinspirasi dari Logan dan Wade Wilson,” ejeknya, menopang dagu pada kepala kursi, mengedip lambat sambil menggigiti bibir tebalnya yang mulai mengering.

Hyukjae meneguk sodanya sambil berpaling ke jendela, mengalihkan hasratnya yang mendadak menggebu-gebu oleh sikap sederhana yang Jean tunjukan. Ia berharap Jean tidak benar-benar sedang memikat hatinya. Jika memang benar adanya, nalurinya telah tunduk seutuhnya tanpa memberontak. Ia meletakkan kaleng soda di pinggir meja, tepat di samping foto berbingkai. Kausnya dilepas sembarangan, tak peduli sekalipun Jean sedang memperdayanya dengan menguji ketabahan hatinya; tak peduli meskipun Jean akan membunuhnya setelah ini.

“Kau ingin mengujinya—maksudku, tubuhku?” Hyukjae membentangkan kaki, seolah menunjukkan pada Jean bahwa ia memiliki kuda-kuda yang tangguh.

Jean berdiri, menciptakan bunyi kikis saat kursi yang didudukinya bergeser, “Jangan menantangku, Lee Hyukjae,” kemudian ia melangkah mendekat, mendaratkan kedua telapak tangannya pada bahu Hyukjae yang tegap, mengunci tatapan pria itu saat ia duduk di atas pangkuannya, mengapit tubuhnya dengan sepasang kakinya seolah ia tak mengijinkan Hyukjae untuk lari dari jeratannya.

“Jika kau masih terus berdiam diri, kuperingati terlebih dahulu bahwa aku tidak akan memulai sebelum kau memohon,” Jean berbisik di wajah Hyukjae, begitu dekat hingga pria itu dapat mencium napasnya yang hampa.

Hyukjae merasakan jemari Jean menelusuri luka-luka yang berkeliaran pada bahu dan lengannya yang telanjang. Sentuhan yang tercipta itu mampu menyalurkan kekuatan yang hebat; membangkitkan keinginan Hyukjae untuk menawan Jean ke dalam pelukannya saat ini juga.

“Bagaimana caranya—memohon padamu,” gumamnya. Sepasang mata Hyukjae menelisik wajah Jean yang tenang. Ia yakin bahwa Jean mampu mendeteksi detak jantungnya yang berdetak tak karuan.

Tatapan Jean berkeliaran mengamati sepasang mata Hyukjae yang gelap, hidungnya yang runcing, hingga terhenti pada bibir tipisnya yang sedikit terbuka. Jemarinya menggelitik Hyukjae dengan manja, terutama saat ibu jarinya mengusap bibirnya dengan hati-hati, seolah terbuat dari porselen antik nan rapuh.

“Kau tahu caranya,” Jean berbisik sementara menimang-nimang untuk menghujam bibir Hyukjae yang berubah kemerahan.

“Kalau begitu kecup diriku,” pria itu semakin mendekat, menyentuhkan ujung hidungnya yang ramping pada pipi Jean, meraba-raba tubuh wanitanya dengan dadanya yang telanjang, “kumohon,” bisiknya, membentuk sedikit ruang antara keduanya untuk memberikan kesempatan pada Jean.

Jean menyeringai. Ranjang tuanya menciptakan suara tangisan saat Jean membenahi duduknya; sedikit mengangkat bokongnya untuk mencapai bibir Hyukjae yang bergetar. Jean merengkuh wajahnya, menahan napas saat ia mendaratkan sebuah ciuman sederhana di sudut bibirnya yang runcing.

Sekali, dua kali, Jean tidak menunjukkan permainan yang menarik selain mengecup singkat di tiap sudut bibir Hyukjae. Yang ia pelajari, Hyukjae sedang menahan hasratnya. Terutama saat ia menggigit lembut bibir pria itu berkali-kali, merasakan sesuatu di balik celana Hyukjae berkedut kehilangan kendali.

Jean menghentikan ciumannya untuk menatap sepasang mata Hyukjae yang gelap. “Bagaimana perasaanmu saat ini,” gumamnya, membenamkan wajahnya semakin dalam pada leher Hyukjae, menghirup wangi tubuhnya di sana dengan menghujani berbagai ciuman lembut yang menggoda, “saat aku melakukannya seperti ini,” jemarinya menusuk-nusuk bahu Hyukjae, menelusuri lengannya yang berkeringat, menggetarkan keinginan Hyukjae untuk membalas tindakan kotor yang Jean lakukan padanya.

Hyukjae bersenandung dalam kesunyian.

“Terlalu manis,” jawabannya nyaris tercekat di dalam tenggorokan jika saja Hyukjae tidak mengendurkan rahangnya.

Hyukjae melepas jeratan Jean dengan mencengkeram kedua bahunya, memaksanya untuk saling menatap satu sama lain, membuat rambut Jean berayun menghalangi separuh wajahnya. Ia menyelipkan sejumput rambut Jean ke balik telinganya yang mungil. Sepasang tangannya yang kokoh lalu menggenggam pergelangan tangan Jean, menuntun untuk memberinya sebuah pelukan.

“Ijinkan aku untuk memulai,” bisik Hyukjae, bibirnya begitu dekat di telinga Jean, menyalurkan gelitik yang menjalar di lehernya yang kurus.

Hyukjae sedikit mengangkat tubuhnya, membenahi posisi Jean agar wanitanya semakin mendekat. Ia membiarkan sepasang kaki Jean yang mulus mencengkeram pinggangnya dengan kasar. Bibir itu, telinga itu, tubuh itu, berada di sekelilingnya, dan ia menertawai dirinya sendiri betapa mudahnya Jean menjatuhkan harga dirinya. Kulitnya yang eksotis dan licin, telah mengacaukannya lagi dan lagi. Namun ia masih rakus; menginginkan kehangatan itu untuk tidak cepat berlalu malam itu.

“Isi kepalaku sepertinya berdenyut-denyut. Disini,” bisik Jean, memimpin tangan Hyukjae untuk menyentuh kepalanya.

Sementara Hyukjae meraba-raba, ia menarik Jean semakin dalam ke pelukannya. Ranjang tua itu berderit-derit saat Hyukjae mendorong tubuh Jean untuk jatuh ke atas ranjang, melengkingkan rintihan singkat di tengah ciuman mereka yang berubah ganas.

“Jean!”

Jeritan dengan nada yang menjengkelkan diiringi ketukan pintu yang tiada henti menghentikan segala keromantisan tersebut.

“Aku tidak pernah menerima tamu,” ucap Jean, masih merengkuh tubuh Hyukjae di dalam pelukannya.

Keduanya hendak membentuk sebuah kecupan lain hingga pukulan bertubi-tubi dari luar pintu rapuhnya itu berubah menjadi sebuah keributan yang berkepanjangan. Jean memaksakan diri dengan beranjak dari tempatnya, memperbaiki rambutnya yang berantakan meninggalkan Hyukjae yang mengeluh kecewa. Setelah dipikir-pikir lagi, suara nyaring itu hanya dimiliki oleh pemilik gedung ini.

Jean lantas menyuruh Hyukjae untuk menunggu sementara pria itu hanya mengaduh dalam bisikan. Tanpa menggunakan alas kakinya, Jean berjalan dengan langkahnya yang malas, melepas segel murahan lalu berdiri di ambang pintu, menantang tubuh pria yang lebih tinggi dan ramping darinya itu sambil membusungkan dada, sengaja membiarkan kimono satinnya menunjukkan bahunya yang telanjang.

“Kukira aku tidak berhutang apapun lagi padamu, Tuan Berambut Pirang,” ucap Jean dengan suaranya yang datar.

“Kim Heechul, Jean. Namaku Kim Heechul!” si pemilik gedung mengendus-ngendus seperti seekor kucing, hendak melempar segala amarahnya jika saja pria itu tidak menatap Jean dengan tamak, mengamatinya sedang menyisir rambut yang masih berantakan.

“Kulihat kau membawa seorang pria kemari,” kemudian Kim Heechul mengetuk-ngetuk secarik kertas yang ditempel pada daun pintu, tepat di samping wajah Jean, menunjuk sebuah titik di mana tak ada pria yang diijinkan memasuki gedung kecuali anggota keluarga.

Jean menatap Kim Heechul sambil melipat kedua tangannya, “Kau tidak akan menendangku dari tempat ini hanya karena aku akan meniduri pria yang kuajak masuk barusan, ‘kan?” ia menolak sambil mengedipkan matanya dengan lambat, menyentuh bahunya dengan lembut melalui ujung jemarinya yang ramping.

Biasanya cara itu selalu meluluhkan hati Kim Heechul setelah itu.

Kim Heechul justru menggerutu, “Jean, my love. Akhir-akhir ini ada banyak pertentangan di gedungku dan kau tahu bahwa aku sama sekali tidak menyukainya,” tuturnya. Ia kemudian mendekat dengan menekan siku tangannya pada dinding di samping Jean, menopang tubuhnya agar ia berdiri lebih dekat dengannya. “Kudengar kau tidak memiliki hubungan baik dengan Risa dan Kelly. Jika kalian tak bisa akur, terpaksa aku harus mengeluarkanmu dari tempat ini,” imbuhnya, berkilah.

Jean memutar bola matanya, “Beritahu diriku dengan segala kejujuranmu, Kim Heechul. Siapa yang lebih menarik di antara kami: pelacur tua dengan keriput di selangkangannya itu, wanita gemuk pengangguran itu, atau diriku,” ia mengucapkannya dengan suara yang pelan.

Suatu malam, ia tak sengaja melewati pintu kamar Risa yang sedikit terbuka. Si pelacur tua itu memarmerkan celana dalam barunya pada Kim Heechul dengan memeragakannya seperti seorang model murahan. Jean menyesali tindakan tersebut. Sungguh menyakitkan pemandangannya tiap kali adegan itu menghiasi pikirannya.

“Tentu saja aku tidak ingin kehilangan penyewa terbaikku, my love. Kau tak pernah telat membayar uang sewamu,” jawab Kim Heechul dengan nada yang sama rendahnya dengan suara Jean sebelumnya. Rambut pirang sebahunya dikibaskan, menunjukkan lesung pipi yang cukup dalam saat ia membentuk senyum sederhana.

“Apakah karena kau belum pernah meniduriku?”

Kim Heechul pura-pura terkejut dengan mengibaskan tangan di depan wajahnya, “Oh, Jean. Kau tahu aku adalah pria baik-baik di lingkungan ini. Bagaimana mungkin kau tega menghujatku dengan rumor murahan itu. Lagipula—Jean!

Seketika ucapan pria itu terhenti setelah Jean membantingkan pintunya hingga menimbulkan suara gaduh yang tajam. Sepasang tangannya bertolak-pinggang, menatap langit-langit dan berharap hal itu dapat meredakan kejengkelannya.

“Kukira kau hidup dengan penuh kerahasiaan,” ucap Hyukjae yang masih terbaring menatap kelambunya.

“Hanya beberapa kali saja—membuat gaduh. Itupun karena seseorang berusaha membakarku hidup-hidup, atau saat seseorang berusaha menyayat punggungku dengan kapak. Merahasiakannya dari Kim Heechul membutuhkan kesabaran yang sempurna,” Jean merebahkan diri di samping Hyukjae dengan mengeratkan tubuhnya sebaik mungkin. Ranjangnya yang sempit tidak memberikan cukup ruang bagi keduanya.

Hyukjae bergeser dengan menopang kepalanya, memandangi wajah Jean yang tak pernah menunjukkan ekspresi berlebihan sekalipun ia dilanda berbagai perasaan yang berbeda.

“Pria hidung belang itu benar-benar telah kehilangan harga dirinya sebagai seorang yang religius. Senin pagi, ia selalu menyempatkan diri menikmati teh hangat di tempat Sacha—dan kupergoki pria menyedihkan itu memijati paha si wanita sebagai bagian dari ‘terapi’ yang mujarab,” tutur Jean.

Ia menoleh, mendapati Hyukjae dengan tekun tengah menatapnya di dalam remang yang lembut. Kesempatan itu digunakan Jean untuk mendaratkan sebuah ciuman di rahang Hyukjae yang membentuk garis lurus yang tegas.

“Selain itu,” Jean melanjutkan dengan menyelipkan pahanya di antara selangkangan Hyukjae yang rapat, “Selasa sore, Heechul selalu memberikan pidato murahan pada para gadis di lantai kedua. Bahwa ia mampu mendeteksi kanker payudara pada tiap individu,” ucapnya, menghirup wangi maskulin yang terperangkap di leher Hyukjae yang tegang.

Jean mengajari Hyukjae bagaimana Kim Heechul menyentuh payudara para gadis dengan mengendalikan jari-jari kasarnya untuk merengkuh miliknya. Pria itu tidak melakukan gerakan senonoh, hanya menikmati sentuhan itu tanpa hasrat yang bergejolak.

Sesaat Jean terpaku mengamati tindakan Hyukjae setelah itu. Pria itu sama sekali tidak menyerangnya, melainkan mendekapnya dalam sebuah pelukan yang manis, menciumi puncak kepalanya untuk membenamkan wajah Jean semakin dalam di lehernya. Jean termenung, ia sama sekali tidak merasakan jijik tiap kali pria itu menyentuhnya.

“Rabu malam, si pelacur di sebelah kamarku terus meneriaki nama Kim Heechul seolah hubungan intim yang mereka lakukan merupakan sesuatu hal yang dahsyat,” kali ini Jean berbisik di telinga Hyukjae agar pelukan yang diciptakan keduanya semakin erat.

“Bagaimana dengan Kamis hingga Minggu?”

Tawa Jean terhembus dari napasnya yang singkat. “Percayalah, kau tak ingin mendengarkan ceritaku,” ucapnya seraya melepas jeratan keduanya dengan menatap sepasang mata Hyukjae yang melemah.

Keduanya hendak menjatuhkan sebuah ciuman di bibir mereka hingga ketukan pintu yang penuh dengan ketidaksabaran membuat keduanya nyaris meloncat dari ranjang.

“Apa lagi yang ia mau?” Jean menggeram seperti serigala.

Tergesa-gesa, ia berjalan menuju pintunya untuk kedua kali sementara Hyukjae hanya terbaring lemah karena putus-asa.

Jean terkesiap begitu menemukan seseorang tengah mencengkeram leher Kim Heechul, mencekiknya agar tubuh pria itu berdiri tegak, seolah pemilik gedungnya itu hanyalah sebongkah wayang tak berguna. Sosok tersebut bersembunyi di balik tubuh Kim Heechul yang telah tak bernyawa, mengenakan topeng hitam dan topi fedora dengan warna yang senada. Sepasang mata Kim Heechul membelalak sementara sudut bibirnya meneteskan darah segar. Sebuah peluru tertancap di pusat keningnya, membuat wajah Kim Heechul yang bersih kini berlumuran merah yang menyengat.

Jean segera melompat ke balik lemarinya sebelum peluru lain menembus tubuhnya. Mendengar bising dari peluru yang merusak dinding kamar mandi, Hyukjae beranjak dan menarik tubuh Jean merapat sementara dirinya menendang sepasang kaki bersepatu hitam di balik tubuh Kim Heechul yang melayang.

Sosok tersebut jatuh bersama tubuh Kim Heechul yang terkulai. Sebelum Hyukjae melayangkan tinjunya, tubuhnya terpental hingga merusak kepala pancuran yang menggantung di kamar mandi. Sepasang pria dengan tinggi yang sama memasuki ruangan Jean untuk menyerang Hyukjae. Namun Jean melayangkan pukulan dan tendangannya untuk melindungi Hyukjae.

Sepasang sosok berpakaian hitam kembali berdiri, menyorotkan sinar merah dari masing-masing mata mereka yang gelap. Hendak menghajar keduanya, sosok bertopeng di luar ruangan menembakkan seberkas laser biru tepat pada tengkuk Jean, membuat wanita itu seketika jatuh tak berdaya di atas lantai.

Hyukjae kemudian menyerang, berhasil merobek kepala dari salah satu sosok tersebut setelah menukik tubuhnya sedemikian rupa. Sosok yang lain bergerak lebih cepat, menghentikan Hyukjae saat ia hendak menghajar pria bertopeng yang sedang menyeret tubuh Jean menuju tangga. Setelah berkelahi dengan teknik yang dipelajarinya, Hyukjae berhasil mencabik-cabik tubuh sosok itu menjadi beberapa bagian, menjatuhkan potongan lengannya sebelum ia melompat menuju lantai kedua.

Ia mendepak punggung pria bertopeng hingga jatuh berguling dari tangga. Sayangnya, tubuh Hyukjae mendadak jatuh tak jauh dari tubuh Jean yang tergeletak sembarangan di antara anak-anak tangga setelah pria bertopeng itu menyorotkan laser biru di tengkuk Hyukjae.

Pria bertopeng merintih, berusaha untuk berdiri mengingat sepasang kakinya masih berdenyut akibat tendangan Hyukjae sebelumnya. Setelah menyepak tubuh Hyukjae dan Jean dengan ujung sepatunya yang bersih, ia melepas topengnya seraya merogoh saku jaket hitamnya, meraih ponsel untuk membuat sebuah panggilan rahasia.

“Dokter, siapkan imbalan yang telah kau janjikan sebelumnya. Oh, suruh pula pengawalmu untuk membersihkan tempat ini. Tubuhku terlalu tua untuk melakukan hal-hal semacam ini.”

Setelah mengakhiri ucapannya, siulan pria itu mengumandang di antara lorong-lorong gelap, menawarkan sebuah senyum saat Kelly tak sengaja mengintip dari balik jendelanya.

Tentu saja, setelah senyum singkatnya tersebut, ia menembak wanita malang itu tepat di kepalanya, menggunakan peluru terakhir yang tersisa malam itu.

…bersambung…