Sabina Mara: The Violet Mermaid (Chapter 7)

Daga di tangan kirinya digenggam kuat, mengarahkan runcing dari ujung pisau tersebut kepada puncak bukit yang menonjol di tengah kota, tepat di bawah pelupuk matanya, di antara ruang kosong pada dinding tinggi yang tercipta dari bata-bata yang telah dicat putih.

Sementara daga yang berada di tangan kanannya bersembunyi di balik punggungnya, Sabina menarik napas dalam-dalam sebelum membentuk sebuah kuda-kuda, menjejak lantai dengan kuat seolah ia menginginkan bumi yang dipijaknya menyatu dengan tubuhnya.

Masih memusatkan diri pada puncak bukit, Sabina mengayunkan daga-daga dalam cengkeramannya dengan membentuk sebuah tarian yang tegas; pisau-pisau itu mencakar semilir angin yang berhembus, melupakan keringat yang mulai membasahi lengannya yang letih. Rambut panjangnya yang dikepang membentuk seuntai tali pun ikut melayang saat ia berputar, mengiangkan desir angin dari gerakan tariannya yang kini berubah sadis.

Source: Pinterest

Sabina mengeratkan bibirnya saat kedua tangannya mengoyak-ngoyak udara, menciptakan garis-garis putih dari kilauan daga yang saling beradu dengan sinar matahari pagi itu. Napasnya mendadak saling memburu, mengingat kembali percakapan singkatnya dengan Taeyeon kemarin sore, sang pemimpin wilayah Selatan yang lemah, sebelum vermilion itu memutuskan untuk menyembunyikan diri di bawah pengawasan Leeteuk.

Setelah melayangkan sebuah tamparan singkat hingga Taeyeon terjatuh ke lantai, hanya tangis penyesalannya saja yang mampu diberikan vermilion itu sebagai jawaban. Sabina nyaris menjatuhkan sebuah pukulan di wajahnya jika saja Lee Hyuk Jae tidak menyeretnya pergi dari ruangan tersebut.

Hal itu membuat Sabina semakin memutar-mutar daga dengan membabi-buta, terus mengulangi seni bela diri yang telah ia pelajari tanpa membiarkan sedikitpun celah bagi dadanya untuk bernapas. Ia menendang udara, kemudian mengumandangkan sebuah jerit murka selagi menusuk lantai berlapis semen tersebut dengan kedua pisaunya.

“Kau mengayunkan tanganmu terlalu lambat.”

Suara maskulin itu muncul dari balik tubuh Sabina, membuatnya berdiri untuk meninggalkan pisaunya yang menancap dengan kokoh di atas lantai. Tubuhnya berputar, menemukan Hyuk Jae tengah menyantap sepotong roti sambil duduk pada satu-satunya bangku panjang yang ada di sana, di pucuk menara ketiga dari istana wilayah Timur yang mewah.

Sepasang mata Hyuk Jae nampak sembab, sementara rambutnya yang kecokelatan belum disisir dengan sempurna. Kemeja putih tulang yang dikenakannya diselipkan sembarangan ke dalam celana hitamnya yang ketat. Pria itupun belum sepenuhnya mengaitkan kancing-kancing yang berderet di dada hingga ke perutnya, mempertontonkan kulit tubuhnya yang pucat dan membuat Sabina diam-diam menebar seringaiannya.

“Kau terlihat berantakan, Lee Hyuk Jae,” ucap Sabina seraya menyeka peluh yang nyaris menetes di dagunya. Ia tak lagi menumpang di dalam kamar Lee Hyuk Jae sejak Leeteuk menyediakan kamar lain di menara ketiga untuknya. Karena itu ia mengerucut heran, menemukan pria itu selalu menunjukkan lelah yang berkepanjangan di wajahnya.

“Ada pertemuan penting yang harus kuhadiri pagi ini,” jawabnya, menggeliat seperti kucing yang mengantuk sebelum akhirnya membuang roti yang tinggal separuh itu di bawah pohon dogwood di mana bunga-bunga merah yang menyala saling bermekaran menghiasi dinding batu yang kelihatan begitu hambar.

Sambil mengamati sepasang gagak berbulu putih yang saling berkelahi untuk mencuri potongan roti, Hyuk Jae menggulung lengan kemejanya dan menghampiri Sabina melalui enam anak tangga yang rendah.

“Caramu mengayunkan pisau merupakan ciri khas kerajaan EXO,” ucap Hyuk Jae, menarik sepasang daga yang berdiri tegak di samping kaki Sabina, “apakah Tao yang mengajarimu?”

Sabina melangkah membentuk sebuah putaran sementara Hyukjae menggulung kemejanya yang lain. “Apakah kau penasaran siapa yang akan menang jika kita berkelahi?”

Pria itu tersenyum, “Asal kau tidak membunuhku, mari kita temukan jawaban itu bersama-sama,” ujarnya, masih setengah mengantuk.

Hyuk Jae menyerahkan sepasang daga tersebut pada Sabina; mengenal dengan baik pegangan ramping yang dihias batu safir pada ujungnya yang bulat. Ia memberikannya pada Sabina tadi malam, mengingatkannya akan perseteruan singkat mereka mengenai kehadiran Taeyeon dan membuat Hyuk Jae melempar pisau tersebut pada Sabina, menyuruh duyung itu untuk melampiaskan amarah itu padanya.

Namun malam itu Sabina menolak dengan menyekap kedua pisau tajam itu dan berkata bahwa ia akan menusuk Hyuk Jae dengan daga itu suatu hari nanti jika pria itu menghalangi jalannya untuk membunuh para vermilion.

Dan di sinilah mereka sekarang, saling beradu tatap bersama seringaian keduanya yang berbaur dengan deras air terjun dari tepian menara kedua. Hyuk Jae menyempatkan diri untuk menyisir rambutnya yang berantakan. Lantas ia berkacak pinggang, mengajak Sabina untuk menyerangnya terlebih dahulu dengan menggerakkan jemarinya; menggodanya.

Sabina menyambut ajakan tersebut dengan menyeringai. Ia mengayunkan kedua pisau ramping itu dan menyerbu dalam selangkah. Hyuk Jae menghindar saat ujung daga itu hendak menusuk matanya, memiringkan tubuh sebelum akhirnya Sabina mencoba menyerangnya lagi dengan menyikut torso dan menyepak kakinya.

Hyuk Jae menolak serangan tersebut dengan kembali menghindar. Keduanya saling berkelahi dengan anggun hingga Hyuk Jae berhasil merampas daga di tangan kanan Sabina setelah mencengkeramnya kuat; memutar tubuh Sabina untuk membalut lengannya yang kokoh di sekeliling pinggangnya dan membuat mereka saling berhadapan. Terlalu dekat, hingga Sabina dapat merasakan napas Hyuk Jae yang lebih tenang darinya.

“Aku memang tidak pandai menyerang, tapi aku cukup tangguh untuk membela diri,” bisik Hyuk Jae, kemudian melempar bilah pisau tersebut ke balik tubuhnya, menimbulkan bunyi denting saat besi tajam itu menyentuh lantai.

Sabina mundur selangkah, menyadari tatapan Hyuk Jae tertuju pada bibirnya saat pria itu bicara, mengingatkannya akan ciuman mereka yang menyakitkan kemarin sore. Ia berjalan memutar lagi, membenahi rambutnya yang masih terikat rapi sementara isi kepalanya menepis kelembutan dari sentuhan bibir Hyuk Jae yang dijamah olehnya kala itu. Sepasang mata Sabina berubah kecokelatan, bersemangat untuk mengalahkan Hyuk Jae.

Ia kembali menyerang lebih dulu, menghantamkan segala pukulan dari berbagai arah diiringi sayat-sayat hampa dari daga yang digenggam di tangan kirinya. Hyuk Jae menghindari segala bentuk serbuannya dengan gerakan kaki yang lincah. Hingga detik berikutnya Sabina tak menyadari pria itu berada di belakangnya, menekan pergelangan tangan kirinya di balik punggung hingga daga itu jatuh ke lantai. Tangan Hyuk Jae yang lain menyergap lehernya, nyaris mencekiknya jika saja Hyuk Jae tidak berbelas kasih.

“Tenang saja, membunuh seorang wanita bukanlah gayaku,” pria itu kembali berbisik, kali ini tepat di samping wajahnya, membuat telinga Sabina tergelitik oleh lantunan kata-kata Hyuk Jae yang singkat.

Sementara tangan kirinya terkunci di antara tubuh mereka yang saling menyentuh, Sabina mencengkeram lengan Hyuk Jae di lehernya seraya mengangkat kakinya ke udara, melayang untuk membentuk lingkaran hingga kini dirinyalah yang menyergap leher Hyuk Jae. Perawakan tubuh Hyuk Jae yang lebih tinggi darinya membuat Sabina benar-benar mencekiknya. Ia menendang sudut kaki Hyuk Jae hingga pria itu jatuh berlutut; menggulingkan tubuhnya ke lantai lalu mengunci tubuh Hyuk Jae di antara pahanya sementara siku tangannya menukik di leher Hyuk Jae, mengarahkan ujung daga yang sempat ia raih kembali di bawah kakinya.

“Jangan kurangi kewaspadaanmu hanya karena aku seorang wanita,” gumam Sabina ditengah napasnya yang berat.

“Itu karena aku baru bangun tidur, Sabina. Aku belum sepenuhnya terjaga,” elak Hyuk Jae. Sepasang tangannya terkulai, menatap langit-langit di atap menara ketiga yang dikelilingi oleh kaca dan tanaman parasit berdaun kasar.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Hentikan!”

Hendak membagi masing-masing dari senyuman mereka, keduanya diserang tiba-tiba oleh lengking nyaring dari suara Henry. Pria itu melempar dokumen yang dipeluknya sembarangan ke atas bangku panjang untuk mencapai tangan Sabina yang masih mengarahkan daga tersebut di wajah Hyuk Jae. Henry mencoba melerai keduanya dengan mendorong bahu Sabina hingga ia terduduk di atas lantai.

“Kami hanya sedang berlatih, Henry,” ucap Hyuk Jae, masih terbaring di atas lantai dan menguap selebar mungkin.

“Kau ingin mencobanya—berkelahi denganku?” tanya Sabina, menepuk-nepuk celana hitam ketatnya yang sedikit kotor di bagian paha dan lututnya.

Bersama dengan raut wajahnya yang mendadak waspada, Henry seketika berdiri lalu membentuk kepalan di depan wajahnya, menunjukkan sebuah aba-aba bahwa ia telah siap.

Sabina dan Hyuk Jae terkekeh. Apalagi ketika Henry melompat-lompat dengan ringan sambil menghembuskan napasnya tak karuan. Beranjak dari tempatnya, Hyuk Jae menepuk bokong Henry agar ia mengikutinya untuk duduk bersama. Sabina menyetujuinya dengan menyalin gerakan Hyuk Jae setelah ia memungut daga lain yang masih tergeletak tak jauh darinya.

“Bagaimana penyelidikanmu tadi malam?” Hyuk Jae bertanya selagi mengamati sebuah peta di halaman ketiga yang telah dilukis dengan baik.

“Para wanita itu memasang penjagaan yang kuat, termasuk pada gubuk kecil mereka di Pulau Leta,” jelas Henry. Ia menunjukkan secarik kertas lain di antara dokumennya yang cukup tebal, “tapi kau beruntung karena dengan ketampananku ini, kudapatkan segala informasi itu dengan mudah.”

Hyukjae mengangguk kemudian berbisik pada Sabina dengan suaranya yang nyaring bahwa Henry selalu menempatkan diri untuk melakukan penyelidikan dengan pergi ke rumah bordir. Bagi Henry, kebanyakan pria di jagad raya memiliki kelemahan yang cukup kentara terutama mengenai naluri binatang mereka; dan rumah bordir merupakan petunjuk untuk mencari kelemahan tersebut.

Henry nyaris saja memukul Hyukjae jika saja pria itu tidak melotot.

“Kau tahu wilayah kering di bagian paling selatan pulau terbesar?” lalu Henry menunjukkan peta dunia kepada mereka, “seperti yang Taeyeon sarankan, kuperiksa sebuah daerah yang dipagar kawat dan dinding yang tinggi di sekitar sini. Mereka membangun sebuah pabrik yang jauh lebih besar dari yang ditemukan Leeteuk sebelumnya,” ia menerangkan sembari menunjukkan sebuah gambar yang lebih kecil.

“Bagaimana kita akan memeriksa tempat itu jika mereka memiliki pengawasan yang ketat?” kali ini Sabina yang bicara, mengamati peta yang lebih rinci dimana sebentuk oktagon dikelilingi padang yang luas hingga setengah dari pabrik tersebut telah tertimbun pasir.

Henry menepuk dadanya seolah membanggakan diri, “Karena itulah kau memilikiku sebagai anggota kerajaan ini,” lalu menunjukkan tiga lempengan kotak selebar ibu jari dengan lambang vermilion di pusatnya.

“Ini adalah kartu identitas untuk memasuki wilayah pabrik. Aku membayar seorang wanita di daerah ini untuk menggoda beberapa pekerja yang sering mengunjungi rumah bordir—,” ucapan Henry terhenti saat ia  menerima pukulan singkat di kepalanya dari Hyukjae.

“Sudah kukatakan berulang-ulang kali untuk tidak bermain-main di tempat macam itu,” Hyuk Jae menggerutu.

Sabina menghentikan gusar dari wajah Hyuk Jae yang mendadak sembuh dari kantuknya dengan mengusap kepala Henry. Anggota kerajaan termuda itu mengerucutkan bibir pada Sabina, merengus selagi mencari sedikit pembelaan darinya.

Henry lantas melanjutkan, “Tak jauh dari pintu utama, ada berbagai bangunan rendah yang disediakan sebagai tempat peristirahatan para pekerja,” jelasnya, menunjuk kotak-kotak dengan cat abu-abu yang membentuk garis lurus serupa dengan dinding pabrik terdepan.

“Kau telah bekerja dengan baik,” ucap Sabina seraya menyita seluruh dokumen tersebut dan tiga lempengan pipih dari tangan Henry.

“Kita bertiga akan pergi bersama, ‘kan?” tanya Henry, kebingungan.

Hyukjae menepuk pundak Henry lalu mengajak Sabina untuk berlalu meninggalkannya. Sebelum mengikuti langkah Hyuk Jae, Sabina membungkuk untuk memberikan sebuah penghormatan atas usaha yang telah Henry lakukan untuk mereka.

Hyung, aku telah bekerja dengan keras, kau tahu itu, ‘kan? Aku butuh sebuah penghargaan!”

STRANGER OF THE NORTH

Butuh enam hari penuh bagi mereka untuk mencapai gurun aharu; padang pasir terluas yang konon terletak dengan jarak yang lebih dekat dengan matahari, membuat daerah tanpa pepohonan tersebut disengat sinarnya yang mampu membutakan mata.

Setelah melewati samudera h’sosh, mereka tiba di pucuk pulau terbesar dan melanjutkan perjalanan dengan menaiki unta selama dua puluh jam. Sabina, ditemani oleh Hyuk Jae dan Donghae, meninggalkan unta mereka pada pos penjagaan yang terletak di depan dinding pabrik yang tingginya mampu membuat kepala mereka mendongak.

Ketiganya memilih untuk duduk pada bangku tinggi di sebuah warung terbuka dimana seorang pelayan dengan kacamata hitamnya menyajikan kotak-kotak kayu berisi makanan yang berbeda. Sabina di tengah, diapit oleh Hyuk Jae dan Donghae, tak henti-hentinya memerhatikan pergerakan sekecil apapun yang melintas di matanya.

“Wajahmu terlalu menarik perhatian, Lee Donghae,” ujar Hyuk Jae. Ia meraih piring cembung hitam yang tersedia di pojok meja tinggi, melumatkan bubuk putih yang telah dibasahi dengan alkohol tersebut di wajah Donghae yang bersih.

Donghae merengek, menyeka putih di wajahnya yang menebarkan bau alkohol yang menyengat. Ia menyadari para pekerja di pabrik ini menghiasi wajah mereka dengan bubuk tersebut untuk melindungi kulit mereka dari sengatan matahari. Tapi Donghae tidak membutuhkannya, karena ia telah melindungi kulitnya dengan krim transparan dari sari bunga bakung kebanggaan wilayah timur.

“Aku memang tampan tapi kumohon, Lee Hyuk Jae, jangan lagi menyentuh wajahku tanpa seijinku.”

“Jadi pria ini sering menyentuh tanpa seijinmu, huh?” Sabina berbisik pada Donghae meskipun Hyuk Jae mampu mendengarnya dengan jelas.

“Terutama saat aku tertidur. Ia benar-benar mengerikan,” ungkap Donghae, membuat Hyuk Jae tertawa sebagai bentuk penyangkalannya.

Sabina tersenyum dari balik kain perca yang melindungi wajahnya. Saat tertawa, Hyuk Jae menunjukkan gusi-gusinya yang merah muda, mengingatkannya pada Kim Heechul yang juga memiliki bentuk tawa yang sama.

Setelah memesan minuman mereka, Sabina memperbaiki letak kacamata gargoyle dan topinya. Masih mengamati gerak-gerik para pekerja yang tengah menikmati waktu luang mereka, Hyuk Jae melepas kacamatanya seraya memberenggut, menelisik punggung tangannya yang terbuka.

“Padang pasir ini terlalu kering untukmu. Lihatlah,” pekik Hyuk Jae, menunjukkan permukaan kulitnya yang mulai mengeriput.

Sabina ikut mengamati, menyelidiki pori-pori kulitnya yang menua dalam hitungan detik. Hembusan napasnya berubah frustasi, melupakan kenyataan dimana tubuh duyungnya tidak akan bertahan cukup lama di tengah gurun pasir tersebut.

“Aku akan segera kembali,” ucapnya, menunjuk sebuah tanda yang melayang di samping bangunan sempit berpintu merah tak jauh dari warung yang mereka duduki; tempat yang disediakan bagi para pekerja sebagai kamar mandi umum.

Kemudian Sabina pergi meninggalkan mereka berdua.

Setelah menunjukkan kartu yang didapatnya dari Henry, seorang petugas mengijinkannya masuk ke arah pintu dengan gambar bunga yang melekat di sana. Ruangan luas di dalamnya menunjukkan deretan kepala pancuran di sisi kanan dimana para wanita bertelanjang dada tengah menikmati kucuran air dingin yang melegakan. Di sisi kiri, kaca seluas dinding menyajikan wastafel panjang dengan puluhan keran air yang dipisahkan oleh tumpukan handuk kecil.

Sabina membasuh wajah dan tangannya setelah melepas kacamata dan pelindung wajahnya. Ia benar-benar kepanasan, seolah sengat dari sinar matahari itu terperangkap di tengah gurun yang dikelilingi oleh lembah lembah tinggi, menyebabkan udara dingin dari pegunungan tak mampu menembus gurun.

Ia mendengar beberapa wanita mengaduh karena pekerjaan mereka tidak dianggap baik oleh salah satu vermilion bernama Soo Young. Sabina hanya menunduk, menghindari perhatian para wanita yang masih mengeluh tiada henti. Setelah memastikan kulitnya tak lagi mengerucut, ia kenakan kembali pelindung wajahnya untuk segera bergabung bersama Hyuk Jae dan Donghae.

Sebelum Sabina mencapai warung, langkahnya terhenti begitu ia menemukan Donghae menatapnya dari kejauhan, menunjukkan sebuah tanda di jemarinya dengan sembunyi-sembunyi. Mereka sudah berlatih sebelumnya untuk mempelajari beberapa tanda di tengah krisis. Dan tanda yang diciptakan oleh telunjuk dan jari manis Donghae menunjukkan sebuah pembatalan, menyuruhnya untuk tidak mendekat.

Sabina menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik dinding bangunan terdekat, mengamati seorang wanita yang kurus dan tinggi tengah berbincang dengan Hyuk Jae. Rambutnya pendek dan hitam legam. Pakaiannya yang ketat dan mengilat-ngilat menunjukkan bahwa ia adalah seorang bangsawan, salah satu anggota dari kerajaan Selatan.

Ia memerhatian Hyuk Jae mencoba untuk mengusir kehadirannya tapi wanita itu tetap menolak. Dilihatnya wanita itu menyeruput minuman yang dipesankan Hyuk Jae untuknya. Sabina mengeluh; wanita itu mengetahui keberadaan Hyuk Jae dan Donghae, dan itu berarti perjalanan mereka telah berakhir sia-sia.

“Butuh bantuanku?”

Suara seorang pria di balik punggungnya menegunkan Sabina.

Ia merasakan amarah yang mendadak menjalar di seluruh tubuhnya setelah berhadapan dengan sosok tersebut; mengenal dengan baik suara maskulin yang rendah itu serta perawakannya yang tegap dan berwibawa.

Pria itu sama sekali tidak melindungi wajahnya yang mulus. Ia mengenakan pakaian yang sama lusuhnya dengan yang Sabina kenakan—untuk berbaur dengan para pekerja. Tatapan matanya yang gelap membuat Sabina menggertakkan giginya.

“Kai,” gumamnya.

Tanpa mengucap kata, pria itu memaksa Sabina untuk mendekap ke dalam pelukannya, membawa tubuh mereka untuk bersama-sama berteleportasi ke suatu tempat.


Tubuh mereka muncul di tepi jurang yang dibatasi oleh pagar bebatuan setinggi pinggulnya. Kai melepas pelukannya, membuat Sabina terhuyung-huyung karena sepasang kakinya mendadak lunglai setelah berteleportasi. Selagi menjaga jarak dengan sang pemindah materi, Sabina menopang tubuhnya dengan menyandarkan diri pada pagar pembatas jurang yang dihiasi rerumputan, menilik tepian pantai yang terjal dan dipenuhi karang-karang tajam di bawah matanya.

Sabina mendongak untuk menusuk-nusuk sepasang mata Kai yang sendu. Pria itu sama sekali tidak bergerak, membiarkan rambut hitam kecokelatannya berayun-ayun diterpa angin laut yang dingin saat itu. Tiba-tiba mata Sabina yang mengilat merah berkaca-kaca, mengutuk Kai di dalam benaknya karena pria itu membawanya ke tempat ini; tempat di mana ia dan Sviesa terperangkap dan nyaris mati; tempat di mana ia bertemu dengan Kai untuk pertama kali.

Dirundung oleh segala kemurkaan, Sabina merogoh sepasang daga di dalam saku celananya dan menyerang Kai tanpa keraguan. Ia mengayunkan pisau-pisau itu dengan gerakan tegas yang berkecamuk seperti ombak yang menggulung-gulung. Meski Kai hanya menghindar saja, Sabina terus menyerang dengan mencambuk-cambuk udara tiada henti.

“Lawan aku, dasar pengecut!” Sabina menggeram. Air matanya menggenang di dalam kacamata hitam yang masih dikenakannya.

Karena Kai selalu menghindarinya, pisaunya sengaja ia simpan kembali ke dalam sakunya. Dan kali ini Sabina memasang kuda-kuda dengan membentuk sepasang kepalan. Ia tidak peduli meskipun di hadapannya pria itu hanya berdiri kokoh menatapnya tanpa berkedip. Ia benar-benar tidak peduli meskipun Kai di sana sedang menahan tangisnya yang nyaris bergejolak seperti yang ia rasakan saat ini.

Sabina kembali menyerang dengan melayangkan sebuah pukulan di perut Kai. Pria itu membiarkannya meski ia berhasil mengelak pukulan berikutnya dengan melangkah mundur. Keduanya saling berkelahi, namun Kai sama sekali tidak menyerang, membiarkan Sabina menebarkan segala kebencian yang ia pendam selama ini pada dirinya.

“Kau masih memiliki keberanian untuk menemuiku, huh?”

Sabina menghentikan pukulannya untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Hembusan angin dari laut gorgona seakan-akan semakin keras menampar luka di hatinya. Pulau Duco masih sama seperti dulu, tempat suci bagi para penguasa EXO dimana Pohon Kehidupan yang merupakan pusat dari kekuatan mereka berdiri kokoh tak jauh dari tempat keduanya berpijak.

“Kau masih tak tahu malu untuk menemuiku,” kali ini Sabina menyerang Kai sembarangan tanpa menggunakan teknik tertentu.

Pria itu menerimanya tanpa menolak hujaman di perut dan dadanya. Masih menghujaninya dengan pukulan dari kepalannya yang kuat, tangis Sabina kemudian pecah karena tak mampu untuk dibendung lagi. Sabina melepas kacamatanya yang berdebu untuk menyeka air mata yang membanjiri lensa hitam tersebut. Keadaan itu membuat Kai menelan ludahnya, menunduk untuk menyembunyikan tangisnya juga. Pria itu hendak memberinya sebuah pelukan hingga Sabina memilih untuk menolaknya dengan melangkah mundur.

“Jangan pernah menyentuhku lagi atau aku tak akan segan membunuhmu,” ucapan Sabina tercekat di tenggorokan. Tubuhnya kembali bersandar pada pagar bebatuan, menatap laut gorgona yang gelap di tengah panas terik di atas kepalanya.

“Ijinkan diriku—”

“Jangan sentuh diriku dengan tanganmu yang kotor itu!” Sabina menjerit, menghentikan gerakan tubuh Kai saat pria itu mengulurkan kedua tangannya.

Lagi-lagi Kai hanya mampu mematungkan diri. Ia telah kehilangan wewenang untuk membela dirinya sendiri. Dan tangis Sabina yang meledak-ledak telah melemahkannya.

“Kau tak tahu betapa bahagianya diriku saat kutemukan dirimu masih—”

“Pembohong,” Sabina kembali mencegah Kai untuk bicara.

Tak ingin hatinya semakin terkoyak-koyak, Sabina lantas melepas topi, pelindung wajah dan sepasang sepatu botnya lalu berjalan menuju bibir jurang yang runcing. Ia hendak melompat ke dalam ombak yang mengaum-ngaum di bawah matanya hingga niatnya tersebut ditahan oleh sebuah pelukan yang begitu erat di balik punggungnya.

Kai mengunci tubuh Sabina di dalam rengkuhannya, mencegahnya untuk pergi begitu saja.

“Kau menghalangiku untuk menyelamatkan Sviesa,” ucap Sabina, mengoyak pelukan tersebut meski jeratan yang diciptakan Kai membuatnya tak berkutik.

“Setidaknya dengarkan penuturanku terlebih dahulu sebelum kau pergi,” Kai mencoba membela diri dengan berbisik di telinganya, membenamkan wajahnya pada rambut Sabina yang sengaja dibiarkan terurai.

“Kau hanya menghalangiku saja,” Sabina menolak dengan menggeliat untuk meloloskan diri dari pelukan Kai. Ia tak ingin mencium wangi tubuh pria itu untuk mencegahnya jatuh lagi ke dalam pesonanya. Ia tak ingin kehangatan dari tubuh pria itu menggetarkan keteguhan hatinya.

“Mengapa kau begitu bersikeras, Sabina!” kali ini Kai berteriak.

Keduanya mendadak terdiam, membiarkan suara desir ombak dan gemerisik dedaunan dari Pohon Kehidupan saling bertalu-talu mendahului kesunyian tersebut. Kai melepas pelukannya, menyesali diri karena telah membentak Sabina dengan mulutnya sendiri.

“Kau bertanya mengapa?” tanya Sabina, seraya memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Kai. Matanya yang lembab menyipit agar ia mampu membalas pandangan Kai yang semakin menyedihkan. “Jika kau peduli, seharusnya kau melindungiku dan bukannya memungkiri keadaan ini.”

Hati Sabina yang berdebar-debar menunjukkan seberkas dilema. Bagaimanapun juga pria yang berdiri di hadapannya itu adalah seseorang yang begitu dicintainya. Sepasang mata itu, bibir itu, tubuh itu, semuanya sempat dimilikinya seutuhnya. Dan segala kekalutan dunia ini telah memisahkan mereka, mengubah kasih itu menjadi dendam dan pilu.

“Apa kau tahu bahwa telah kuhabiskan waktuku sejak penyerangan mereka ke laut gorgona untuk mencarimu ke seluruh jagad raya?” tanya Kai dengan suaranya yang melembut.

Sabina terdiam, tenaganya seolah berangsur hilang setelah tangisnya yang membludak.

“Apa kau juga tahu bahwa telah kucoba sedemikian rupa menembus ruangan di dalam pabrik untuk menyelamatkan Sviesa?” tanya Kai untuk kedua kali.

Dan Sabina masih terdiam. Terutama setelah mengetahui bahwa Kai telah mempelajari keberadaan Sviesa yang masih terperangkap di antara gedung-gedung pabrik terkutuk tersebut. Ia mengeratkan bibirnya selagi menggigit lidahnya sendiri, menyalahkan diri akan kebodohan dan ketakutan yang menaunginya selama ini.

“Aku tak bisa mencari keberadaanmu di wilayah Super Junior karena mereka memiliki pelindung kuno yang menjaga wilayah mereka. Namun setelah kau pergi dari wilayah tersebut untuk berkabung ke kerajaan SHINee, saat itulah kusadari bahwa kau telah selamat.”

Sabina masih menatap Kai dengan pupil matanya yang mengilat merah. Tangisnya pecah lagi, dan ia berusaha sebaik mungkin untuk menghentikannya dengan mengatur napasnya yang tak menentu.

Kai mendesah, “Ada banyak kesalahpahaman di antara kita dan aku tak ingin segala hal itu memisahkanku denganmu lagi,” ia memberanikan diri untuk menyentuh kedua lengan Sabina, sedikit meremasnya untuk menyalurkan berbagai kesungguhan dari ucapannya.

“Sudah terlambat, Kai,” Sabina menggeleng lemah, “semua sudah terlambat,” kemudian ia menyingkirkan cengkeraman Kai di lengannya tanpa paksaan.

Kai hanya mampu menunduk setelah itu. “Tak kusangka bahwa semua ini akan menjadi begitu rumit,” ia beralih dengan melangkah kepada pagar batu, menatap gorgona yang semakin menggelap seolah lautan itu akan menenggelamkannya.

“Apa kau tahu mengapa ratumu tak pernah akur dengan pemimpin kami, seolah kami tidak peduli?” tanya Kai di sampingnya.

Sabina mengatupkan bibir, jari-jarinya semakin tegang membentuk sebuah kepalan. Ia menatap Pohon Kehidupan di hadapannya tanpa berkedip, berharap guntur raksasa menyambar pohon tersebut dan membakarnya hingga hangus, membuat para penguasa EXO kehilangan kekuatan mereka menjadi manusia-manusia biasa saja.

“Mary adalah duyung tertua di seluruh jagad raya. Dan ia memiliki kuasa atas seluruh kehidupan di dalam lautan ini,” Kai menjelaskan lebih jauh.

Setelah Penguasa Dunia melantik Suho, sang pengendali air sebagai pemimpin wilayah Utara, Suho menginginkan Mary berada di pihaknya meskipun Mary menolak ajakan tersebut mentah-mentah. Tentu saja, karena Mary tak ingin Suho mengendalikan kekuasaannya. Karena itu keduanya melakukan sebuah kesepakatan. Bahwa gorgona akan tetap dibawah kekuasaan Mary meskipun lautan mereka merupakan bagian dari wilayah EXO—bersumpah satu sama lain untuk tidak saling menusuk dari belakang.

“Tak disangka, jagad raya berkehendak lain. Ia mempertemukanmu denganku, secara tidak sengaja, di tempat ini,” imbuh Kai, mengamati bentang luas dari lautan di depan matanya. “Kemudian Suho mempelajari bahwa kau dan Sviesa adalah duyung di bawah kepemimpinan Mary. Lalu ia menyuruhku untuk membujukmu dengan alasan kepentingan kerajaan.”

Kai melanjutkan ceritanya mengenai kerajaan mereka yang merupakan yang termuda di antara wilayah lain. Suho menginginkan kerajaan mereka untuk berada di tingkat yang sama dengan Super Junior, kerajaan tertua setelah Penguasa Dunia. Pemimpinnya memiliki keserakahan yang sama seperti yang dimiliki para vermilion. Hal itu membuat Sabina nyaris muntah akibat keegoisan manusia-manusia yang berpijak di atas bumi.

“Apa yang sebenarnya Suho inginkan dari Sviesa hingga ia mengijinkan burung-burung terkutuk itu memusnahkan habitatku?” Sabina menggeram, kuku-kukunya menyesak telapak tangannya sendiri saat ia mengeratkan kepalannya.

“Mary menguasai sebuah lagu kuno bernama Do’a Kegelapan, lagu yang mampu mengundang berbagai makhluk lautan yang terlelap dan bersembunyi jauh di dasar laut, lagu yang hanya dapat dikumandangkan olehnya dan penerusnya saja.”

Sabina menoleh, mencari tatapan Kai dari matanya yang bengkak akibat menahan tangis. “Maksudmu,”

Kai menunduk, “Suho mengetahui bahwa Sviesa adalah penerus Mary, dan Sviesa adalah kakakmu. Lalu kau dan aku saling berbagi kasih, dan kesempatan itu digunakan Suho untuk mengelabuiku,” sepasang matanya terpejam untuk mengingat kembali pertikaiannya dengan Suho kala itu. “Aku menolak gagasan itu namun Sviesa tak sengaja mendengarkan, mengira bahwa aku akan menyakitimu, menyakitinya, hanya demi merampas Do’a Kegelapan yang Sviesa ketahui.”

“Karena itukah Suho meminta bantuan burung-burung terkutuk itu untuk menangkap Sviesa?”

Kai terdiam, “Aku tak tahu persis rencana Suho mengenai penyerangan itu hingga Sehun mengabariku beberapa hari setelah ia menemukan bangkai-bangkai penghuni gorgona di sana,” jelasnya, kali ini menoleh untuk membalas tatapan Sabina yang sejak tadi sengaja dihindarinya. “Dan akhirnya kutahu bahwa Suho mengundang para vermillion kemari secara diam-diam. Aku tidak sedang membela Suho atas keserakahannya. Namun ia mengakui bahwa ia sama sekali tidak menyuruh mereka untuk memporak-porandakan habitatmu. Perintahnya hanyalah menangkap Sviesa, tak lebih dari itu.”

Sabina menggertakkan giginya. Seharusnya ia membunuh Suho saat ia menemukan pria itu tengah berkunjung ke wilayah Barat untuk memberi penghormatan terakhirnya pada Jonghyun.

“Alih-alih memberikan Sviesa padanya, para vermilion menyekapnya untuk kepentingan mereka sendiri. Tentu saja, setelah mengetahui bahwa Sviesa menekuni do’a tersebut.”

“Dan kau tidak melaporkan hal ini kepada Penguasa Dunia?”

Sambil menengadah untuk melawan sinar matahari yang menyengat siang itu, Kai menelungkupkan tangannya untuk mengusap wajahnya yang memanas. Ia menyisir rambutnya yang masih menari-nari bersama angin yang bertiup, lalu memposisikan diri dengan duduk pada pagar batu. “Kami hanyalah pria-pria pecundang, Sabina. Para vermillion menggertak kami—jika kami membuka mulut, mereka akan merekayasa sebuah cerita tentang sebuah penyerangan yang kami rencanakan ke Penguasa Dunia.”

Sabina mengusap keningnya frustasi, “Mengapa kalian begitu bodoh, Kai.”

“Karena itulah kucoba sebisa mungkin untuk menyelamatkan Sviesa tanpa sepengetahuan anggotaku. Setidaknya, hanya hal itu yang mampu kulakukan untukmu,” imbuh Kai. Ia merogoh sesuatu dari kantung celananya, menunjukkan sebuah kartu serupa yang Henry berikan padanya dengan warna dan bentuk yang berbeda. Ia juga menunjukkan sebuah peta yang telah ia gambar secara asal.

Sabina meraihnya, mengamati garis-garis hitam yang hampir mirip dengan peta yang Henry tunjukkan.

“Sviesa terperangkap di dalam ruangan yang kutandai dengan warna biru,” Kai mengarahkan ujung telunjuknya pada titik tersebut. “Aku tak bisa menembus ruang itu karena mereka menciptakan sebuah lorong di mana udara yang berhembus di antara celahnya mampu membakar partikel nomenosku—untuk berteleportasi. ”

Sabina meremas kertas tersebut selagi memejamkan matanya yang telah kering. Ia berpaling untuk meraih kacamatanya. “Jangan harap aku akan mengasihimu setelah kau membagikan informasi ini padaku,” ucapnya, kemudian melipat sedemikian rupa kertas dalam genggamannya tersebut dan menyelipkannya ke dalam kacamata gargoyle agar tidak terkoyak oleh air laut.

“Kau tak perlu menyelam untuk mencapai kota itu. Akan kubawa tubuhmu ke tempat semua,” Kai menawarkan diri.

Sabina hanya menatap Kai dalam diam. Ia meraih sepasang sepatu botnya, mengenakannya dengan terburu-buru dan membiarkan pria itu berdiri di hadapannya.

“EXO telah kehilangan sebagian dari anggota kami untuk diserahkan pada upacara andoeva—termasuk Suho. Mereka telah pergi dua hari lalu untuk menjadi pengawal Penguasa Dunia dan Baekhyun lah yang menjadi pemimpin kami untuk sementara,” ungkap Kai.

Setelah membuat sebuah simpul terakhir, Sabina berdiri untuk menyejajarkan diri dengan Kai. “Suho tak akan luput dari pengawasanku. Akan kupastikan ia menderita setelah semua ini berakhir,” kemudian ia mengenakan topi dan pelindung wajahnya.

Kai melangkah, mendekati Sabina dengan hati-hati. “Semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman saja, Sabina,” suaranya berubah menjadi sebuah lirih yang muram. Kedua tangannya merengkuh wajah Sabina, tak peduli meskipun ia akan menusuknya setelah ini. Yang pria itu butuhkan hanyalah setitik kepercayaan yang telah hilang dari keyakinan Sabina.

Dari balik kacamata hitamnya, Sabina mampu menatap manik mata Kai yang gelap. “Dan aku yakin bahwa perasaanku—perasaan kita—hanyalah sebuah kesalahpahaman juga.”

“Aku benar-benar mencintaimu, sungguh,” Kai semakin menekan wajah Sabina hingga keduanya nyaris berciuman; jika saja pelindung wajah yang dikenakan Sabina tidak menghalangi bibir Kai untuk menyentuh miliknya.

Dengan paksaan, kali ini Sabina bersungguh-sungguh menepis kedua tangan Kai di wajahnya. “Kau telah menjadi orang asing bagiku,” gumamnya, dimana suaranya nyaris saja berlalu bersama angin yang berlalu-lalang.

Kai menunduk sambil menyeringai, menyebutkan kata-kata itu sekali lagi dan meyakinkan Sabina bahwa ia tidak akan menyerah untuk merebut kembali perasaannya yang telah hilang. Pria itu mengangkat dagunya begitu menemukan Sabina menjulurkan tangan seolah wanitanya tak peduli dengan apa yang sedang diutarakannya saat ini. Maka Kai menerima uluran tersebut dengan menjabat tangan Sabina kemudian menarik tubuhnya agar wanita itu jatuh ke dalam pelukannya sekali lagi.

Sabina mengijinkan Kai menyalurkan perasaannya melalui pelukan tersebut hingga keduanya menghilang meninggalkan Pohon Kehidupan yang meredup.

…bersambung…