The Guy With The Invisible Shadow

Tiga hari telah berlalu, dan aku sudah muak oleh dingin yang menyelimuti kota ini. Kukira pria yang sedang kucari-cari akan muncul tak terduga seperti yang Park Chanyeol lakukan beberapa waktu lalu. Namun sepertinya salju yang turun sore ini akan menjatuhkan kesadaranku terlebih dahulu.

Kuhabiskan hari-hariku itu dengan mengelilingi kota, memaki tiap insan yang membentur bahuku tanpa mengucap maaf ataupun permisi yang bersahaja. Meski tak menyadari kehadiranku di hadapan mereka, seharusnya mereka mampu merasakan hentakan tersebut tanpa perlu bertanya-tanya pada udara hampa. Jika kutunjukkan diriku saat itu juga, kuyakin mereka akan terkejut dan lari terbirit-birit.

Setelah memilih ruko sempit di samping Rock Shop yang saling berderet di pojok Old Park Lane, kutata ruang tersebut dengan meja dan kursi panjang yang empuk pada pojokan di paling depan, tepat di samping sepasang jendela besar yang mengapit pintu bercat biru. Tak lupa sebuah televisi berlayar datar menggantung di seberang pintu—di bawah konter sederhana setinggi dadaku yang menunjukkan tanda La. Vie. dengan neon putih yang muram.

Baru saja kuturuni tangga-tangga dimana adikku tengah terlelap di lantai kedua, aku nyaris terperanjat menemukan seorang pria memasuki kafeku dengan terburu-buru. Ia bersembunyi di balik pintu sambil sesekali mengintip dari balik tirai yang menutupi kaca pada sebagian pintu kayu. Kuperhatikan dirinya memegang kenop dengan erat sementara matanya berlalu-lalang mengawasi jalan sempit di depan kafe yang nampak sunyi.

Sepertinya ia belum menyadari kehadiranku yang masih mematung di depan anak tangga. Jadi kulakukan kesempatan itu untuk melewati sebuah kamar kecil yang kusediakan bagi pengunjungku—terletak di balik konter, sambil berjinjit  untuk mencapai tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku.

LA. VIE.: THE CAFE OF LIFE [Chapter 3]

Kuposisikan diriku untuk berdiri tepat di balik tubuhnya. Kubunyikan seberkas deham yang cukup nyaring, membuatnya menoleh seketika hingga terjaga dari pengawasannya.

Are you a thief? Or something else?” tanyaku, sengaja mengulum seluruh jemariku di balik punggung, mengangkat kedua bahuku untuk menunjukkan sebuah isyarat bahwa ia telah menerobos tempatku tanpa izin.

Pria itu berubah kewalahan.

Sejenak ia memerhatikan tanda La. Vie dari huruf-huruf Marchelina Script di balik tubuhku, lalu memindai seluruh ruangan untuk menemukan saklar pada dinding di sebelah konter—meredupkan cahaya di dalam ruang yang kemudian berubah gelap.

London selalu begitu di tengah musim dingin; muram dan tak bersahabat. Lagipula, badai akan datang sebentar lagi karena sejak tadi awan-awan gelap di angkasa masih berkeliaran menahan mentari untuk tidak mendaratkan kehangatannya ke atas bumi.

Akupun membalikkan tubuh untuk mengawasi gerakannya.

Setelah berjalan dengan langkahnya yang besar-besar, ia kembali mencapai tempatku berdiri untuk membungkam mulutku, menikam tengkuk leherku dengan tangannya yang kokoh, memaksaku untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Kami berdua saling memandang sementara kunikmati deru napasnya yang cepat. Sejenak kukira ia hendak menciumku, tapi tidak, ia sedang menyembunyikan sosoknya—melindungi dirinya dari sayup-sayup kehebohan yang mendadak muncul di jalanan.

Dari napasnya yang memburu, aku dapat mencium bau amis dari darah segar yang menetes di kening dan juga luka goresan yang cukup dalam di pipi kanannya. Kudengar pria-pria yang berkeliaran di jalan saling beradu pendapat setelah menyebutkan sebuah nama dan juga ciri-ciri dari sosok pria di hadapanku.

Setelah samar dari keributan itu meredup, ia melepas jeratannya untuk mundur menciptakan jarak di antara kami. Sepasang alis tebalnya mengerut, mengamati kehadiranku yang masih mematung mengikuti anjurannya.

I won’t hurt you, and I’m not a thiefor something else,” jawabannya yang kuinginkan disebutkan dengan sedikit rintihan. Suara maskulinnya nyaris sedalam yang dimiliki Park Chanyeol tapi juga manis di telingaku; begitu enak hingga memberikan kesan seperti di dalam mimpi, lembut dan bertenaga.

Aku mengerjap untuk mengembalikan jiwaku yang sempat melayang-layang di dalam mimpi itu.

Hide yourself at the corner,” suruhku, kemudian menunjuk pojokan yang lebih dalam di samping tangga-tangga. Kututup tirai-tirai pada kaca besar dan membuat ruangan sempit ini semakin dilingkupi gelap gulana.

Sementara kusiapkan baskom dengan air hangat dan handuk kecil, kuperhatikan pria itu berjalan dengan terhuyung-huyung, melewati kamar kecil dengan merintih mengusap perutnya. Ia duduk pada satu-satunya kursi yang kuletakkan di bawah tangga, menyejajarkan kedua kakinya yang panjang setelah menyandarkan tubuhnya yang letih. Matanya terpejam sambil berusaha untuk mengatur napasnya yang masih tak beraturan.

Tak memakan waktu lama bagiku untuk menyediakan air hangat tersebut, namun saat aku mencapai pojokan, pria itu sudah terlelap. Sepertinya ia habis berkelahi dengan hebat. Mantel hitam yang nyaris menyentuh tumitnya dihiasi bercak merah di sekitar lengannya. Jeans biru muda yang ia kenakan robek pada bagian lutut, sementara saat kubuka kancing mantel yang menyembunyikan kemeja putihnya itu telah dipenuh darah yang telah mengering dari luka di tulang selangkanya; seperti sabetan dari belati yang tajam.

Aku jadi semakin kasihan. Sungguh disayangkan wajahnya yang tampan itu dihiasi lebam di sudut bibirnya juga.

Setelah kuletakkan baskom di bawah kakinya, aku kembali pada konter untuk menyediakan secangkir teh hangat. Sambil mengangkat sebuah kursi kecil dan meletakkannya diam-diam di hadapannya, kubiarkan harum dari campuran melati dan kamomil pada cangkir teh mengayun-ayun di atas meja kecil disampingnya.

Kugeser tubuhnya dengan hati-hati agar kakiku dapat menyelip di antara kakinya yang panjang, menyeret kaki kursiku untuk lebih mendekat dan memangku baskom dari air hangat itu di pahaku.

Sambil menepuk-nepuk kening dan pipinya dengan handuk di tanganku, kuperhatikan lagi wajahnya yang lelah itu dengan lebih seksama. Tanpa menyangkal secercah prasangka di benakku, entah mengapa ada sesuatu dari sosoknya yang justru menarik perhatianku saat ini. Bukan karena rambut hitamnya yang berantakan begitu serasi dengan warna kulitnya yang sangat kusuka—sawo matang keemasan serta eksotis yang menawan; bukan pula karena dagunya yang tegas disertai bibir tebalnya yang merona membuat kesempurnaannya saling bersaing dengan sosok Do Kyungsoo dan Park Chanyeol.

Ada sesuatu menyangkut kehadirannya yang mengingatkanku pada kejadian itu.

Gumamannya yang mengiang di tengah mimpinya membuatku mengerjap lagi. Akupun mendesah, mengenyahkan ingatan yang menyakitkan itu dengan kembali menyeka darah segar yang menghiasi wajahnya.

Kuamati rupanya tanpa melewati rincian-rincian kecil termasuk kumisnya yang baru saja dicukur, meninggalkan seberkas rambut-rambut halus yang lebih gelap dari pigmen di bawah hidungnya yang mancung, membuatnya nampak seperti pria sejati yang sesungguhnya. Dari segala pengamatan itu, tiba-tiba punggungku sedikit membungkuk di hadapannya saat gairah itu mengajakku untuk lebih mendekat.

Dengan keinginan untuk menyentuh bibirnya dengan milikku, pria itu seketika membuka kelopak matanya secepat angin untuk membentuk garis ganda yang kokoh di kelopak matanya; membuat kami saling beradu tatap hingga ujung hidungnya yang tumpul nyaris bergesekan dengan hidungku.

What are you doing?” tanyanya penuh curiga.

ᐅ London 15:00

Sengaja kutatap manik matanya yang gelap tanpa menjauhkan diri darinya. Ia membeku, sama sekali tidak risih dengan napas kami yang saling beradu. Tak ingin menciptakan canggung yang terlalu lama, kulayangkan seberkas senyum seraya meluruskan punggungku kembali pada kursi. Sangat disayangkan karena aku begitu menikmati wangi maskulin yang berbaur dengan bau amis dari tubuhnya.

What am I doing?” kuulang kembali tanyanya yang tidak bersahabat, “mengagumi wajahmu yang penuh dengan lebam,” jawabku, membuat pria itu seketika mengeryitkan dahinya mendengar penuturan singkat yang kuajukan.

“I heard you mumbling in your sleep with that language,” ucapku, menyeret kursi untuk memberikan sedikit celah di antara kami, “I made you a hot tea but let me know if you need anything else. I’ll put the menu right there.”

Aku beranjak lalu mengarahkan telunjukku pada kursi panjang beralaskan bantal duduk di samping kaca, mengajaknya untuk pindah ke sana karena pojok ini lebih gelap dan sempit. Seiring langkahku menuju konter, kudengar sepatu hitamnya mengetuk-ngetuk lantai dengan gontai, menyalin langkahku dengan sedikit menyeret alas sepatunya yang terlihat mahal.

Sejujurnya, aku sedikit kecewa karena ia mengabaikan teh hangat yang telah kusediakan sebelumnya, mengabaikan uap hangat dari cangkir putih semungil tapak kucing tersebut hingga harum bunga itu memudar di sana.

“Jadi, Kai adalah namamu?” kutanyakan hal itu setelah mengingat kembali percakapan singkat dari pria-pria berjaket hitam yang mengejarnya.

Kukira, diriku akan bertemu dengan pria berambut cokelat pelana di kota ini seperti yang Park Chanyeol deskripsikan sebelumnya. Tak kusangka, sore yang gelap ini mengijinkan diriku untuk bertemu dengan Kai terlebih dahulu.

Sebelum ia benar-benar duduk, kubantu dirinya untuk melepas mantelnya yang berat. Bibirnya merapat untuk menahan rintihannya namun aku masih mampu mendengar geram singkat saat aku tak sengaja melepas tautan mantel pada bahunya dengan tergesa-gesa. Ia kemudian duduk dengan hati-hati, tentu saja, tanpa menjawab tanyaku yang sederhana.

“Mafia? Pengedar obat-obatan?” tanyaku untuk kedua kali selagi meletakkan menu terbaruku di atas meja bundar di hadapannya. Tak lupa, baskom yang telah kuganti dengan air hangat yang baru serta kotak berisi pertolongan pertama yang tak pernah kusentuh selama ini.

None of your business,” ia menjawabnya tanpa memandangku, seolah kehadiranku di sini begitu hina dan tak berarti.

“Aku tak ingin membantu orang jahat, jika kau benar-benar seseorang yang jahat.”

“Apakah aku terlihat seperti orang jahat?” kali ini ia menjawabku seketika, menajamkan tatapannya yang begitu dingin dan menakutkan. Terutama saat sepasang matanya yang hitam mengilat-ngilat di dalam kegelapan.

Akupun mendesah panjang, “Jika kau terus membentakku seperti ini,” kuberikan sebuah jeda atas ucapanku dengan membuka tirai jendela selebar mungkin, membuat pria itu meringis akibat cahaya muram dari awan-awan kelam di luar sana yang tak seberapa, “akan kuteriaki para pecundang yang sudah berlari jauh itu agar mereka kembali untuk menghajarmu.”

Kai menyeringai. Sambil menekan kepalanya pada dinding, kuperhatikan dirinya menggigiti bibir bawahnya bersama kedipan matanya yang tak biasa. Tak ada siapa-siapa lagi selain angin dingin yang berlalu-lalang di jalan. Rupanya, ia masih khawatir karena sesekali pria itu melirik diam-diam melalui sudut matanya.

“Kau sungguh tak akan menghubungi polisi?” ia bertanya dengan suaranya yang rendah. Kali ini sepasang matanya terpejam, mungkin sedang menyesali tindakannya saat ia memaksakan diri untuk bersembunyi di sini, di tempatku.

Aku hanya mampu tersenyum, memposisikan diriku untuk duduk di hadapannya, memeras handuk untuk menepuk lembut pada lebam di sudut bibirnya, “Anggap saja kau berhutang budi padaku,” ucapku, kemudian sengaja kulepas tiga kancing teratas dari kemeja putihnya yang kotor, menyibakkan luka yang cukup dalam di bawah bahu sebelah kanannya.

Ia diam saja selagi kubersihkan lukanya; sama sekali tidak merasa dilecehkan saat kusibakkan kemejanya, menampilkan dadanya yang terbuka.

“Apa yang akan kau lakukan jika seseorang terus membuntuti kemanapun kau pergi?” tanyanya menggema di dalam ruangan yang sunyi ini. Ia kembali menggigit bibirnya saat kuolesi luka di tulang selangkanya dengan krim bening berbau sirup mapel yang manis.

“Akan kutuntut mereka ke pengadilan,” jawabku sekenanya, kemudian menutup lukanya dengan potongan perban yang telah kutata dengan baik.

Sementara bahunya masih berkedut nyeri, tangan kirinya dengan lunglai menjangkau menu, memindai halaman sederhana dipenuhi tulisan yang kecil-kecil itu hanya dengan seberkas gerakan lurus di matanya; seolah ia tidak tertarik dengan rancanganku.

“Meskipun mereka memiliki berbagai koneksi di pemerintahan, kau yakin akan memenangkan tuntutan tersebut di pengadilan?” tanyanya lagi, menjadikan percakapan kami sebuah perdebatan singkat.

“Maksudmu, pria-pria yang mengejarmu bekerja sebagai agen dinas rahasia di kerajaan?” aku menunjuk ke luar jendela untuk mengacu kepada Old Park Lane yang kosong. Pemerintahan, kerajaan, London memang kota yang rumit untuk ditinggali. “Seharusnya dengan fisikmu yang kuat ini, aku bertaruh kau dapat membunuh mereka dalam sekali jentikan jari,” ujarku selagi membersihkan berkas darah yang mengering di sekitar bahunya.

Ia mengeluh panjang, menemukan ucapanku yang baginya, mungkin, sangat menyebalkan. “Americano, please,” lantas ia menaruh kembali menu sederhana itu di atas meja dengan melemparnya sembarangan. Sepasang matanya kembali terpejam, mengistirahatkan kelopaknya yang nampak mengantuk.

Entahlah, dari kantung matanya yang menebal, sepertinya ia telah melewati hari-harinya dengan terus berlari tanpa henti.

I’ll get you something else. You look messy, young man.



Dari konterku yang sempit ini, kuperhatikan Kai dengan susah payah melepas kemeja sambil menciptakan kusut di wajahnya. Aku hanya mampu menunduk dibuatnya. Meskipun bekas luka lama di perut bagian kirinya membuat sepasang tahi lalat pada tulang rusuknya terlihat seperti titik-titik noda saja, aku tak akan memungkiri debar jantungku saat kupandang tubuhnya yang bertelanjang dada, menampilkan perutnya yang rata dan berotot—namun tidak berlebihan.

Hendak menghampirinya bersama nampan besar di kedua tanganku, Kai menyempatkan diri untuk menutup tirai putih tulang pada jendela di sampingnya. Ia menggeram saat duduk kembali pada kursi panjang, menekan perut di sebelah kirinya dan semakin merintih saat ia tak sengaja menggerakkan bahunya yang terluka.

Secangkir Americano, sepotong turkey gouda sandwich yang telah kuhangatkan, segelas air putih, dan sepotong kue kayu manis saling berbaris di atas nampan perak yang kuletakkan di atas meja, menyembunyikan menu yang Kai letakkan sembarangan di sana sebelumnya. Namun apa yang dilakukannya setelah itu membuatku mendadak gelisah.

Ia mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat, menahanku untuk tidak beranjak dari hadapannya. Sungguh, aku menyesali tindakanku saat kugulung lengan jaket berwarna hijau giok yang kukenakan terutama saat kusiapkan kopinya. Ada satu alasan mengapa aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyentuh Do Kyungsoo dan Park Chanyeol secara langsung. Dan kuharap, Kai sama sekali tidak mencurigainya karena saat ini tubuhku sekonyong-konyong bergetar akibat dingin yang merasukiku.

Sambil berusaha mengatur raut wajahku, aku menoleh dengan sedikit menunduk, mengamati Kai yang masih bersandar pada dinding selagi membungkam matanya yang letih.

“Jangan biarkan siapapun untuk memasuki tempatmu. Uang sangatlah mudah untuk diatur,” ucapnya, kemudian merogoh saku celananya yang gelap untuk menunjukkan layar ponselnya yang retak.

Aku mengenali aplikasi yang ia tunjukkan itu karena akupun memiliki akun yang sama dari Swiss Bank. Setelah mengetik beberapa angka yang cukup mengagetkanku, ia menyuruhku untuk menuliskan nomor akun pribadiku karena ia bersungguh-sungguh untuk mengirimkan sejumlah uang itu padaku.

Aku hanya mampu menyeringai, menimbulkan seberkas senyum yang ketir dan juga pahit; lega karena Kai tidak merasakan sensasi yang sama saat ia mencengkeramku saat ini, serta heran karena Kai benar-benar tidak menemukan keanehan tersebut.

Seringaianku kemudian berubah menjadi sebuah kebingungan.

Dari cengkeramannya yang kuat itu, muncul seberkas cahaya yang redup pada punggung tangannya. Kupaksakan diri untuk merengkuh pergelangan tangannya agar aku dapat mengamati cahaya putih yang bergerak-gerak membentuk sebuah segitiga, dilanjutkan dengan sebuah lingkaran di dalamnya dengan garis-garis seperti kicir angin dan sebuah titik di pusat segitiga.

Cahaya tersebut lalu memudar, meninggalkan sebuah tanda berwarna hitam legam dengan bentuk tersebut pada punggung tangannya.

Kami berdua saling terkesima menyaksikan keajaiban tersebut mengingat sihir tak lagi menuai kecaman setelah apa yang terjadi pada zaman kolonial di Massachusetts, USA, sekitaran tahun 1692[1]. Namun, hal ini bukanlah sesuatu yang biasa. Kuyakini tanda tersebut menampakkan diri di sana karena Kai menyentuhku. Dan aku tidak menyukainya mengingat tubuhku semakin bergetar seperti sesuatu yang fana telah melemahkanku.

“Apa itu?” tanyaku. Tentu saja dengan segala kepalsuan yang sengaja kulukis di wajahku mengingat aku mengenal dengan baik tanda tersebut.

Itu adalah simbol teleportasi yang kupelajari dari huruf-huruf Yunani kuno.

Kai seketika melepas tautan tangan kami untuk menyembunyikan segitiga di punggung tangannya dengan menggulung-gulung kemeja putih yang terkapar sembarangan di sampingnya.

Nothing,” hanya itu jawabannya. Jemarinya yang ramping menyisir rambutnya yang hitam hingga dapat kutemukan dengan jelas kegelisahan yang mendadak merasukinya.

Sengaja kujatuhkan diriku dengan duduk pada kursi panjang di sampingnya. Aku tak ingin Kai menemukan sepasang kakiku bergetar tak sabaran. Kusilangkan kakiku sementara kedua tanganku terlipat di dada, menyamarkan segala perasaan itu sebelum ia mencurigai keberadaanku.

“Kau tak perlu khawatir seperti itu. Belakangan ini, aku telah bertemu dengan pengunjung-pengunjung yang sangat istimewa. Ada seorang pria dengan segala kemisteriusan di wajahnya yang mampu menggerakkan batu-batu di tangannya—tanpa menyentuh batu tersebut. Ada pula seorang pria dengan matanya yang berapi-api. Dan lihatlah dirimu sekarang,” aku menjelaskan selagi menatap punggung tangannya yang telah dibalut oleh kemejanya yang berdarah.

“Berpura-puralah kau tidak melihatnya,” ucap Kai, mengancamku dengan suaranya yang berubah menjadi geram harimau yang menakutkan.

Ia menoleh ke bahu kanannya dimana diriku masih memeluk tubuhku yang gemetaran, mencari kepatuhan dari gerakan tubuhku atas peringatan yang ia ajukan. Aku mencibir, menggedikkan bahu seraya beranjak dengan langkah yang cepat untuk mencapai konter, tak peduli meskipun Kai mengamatiku tengah menelan sebuah pil berwarna biru dengan terburu-buru yang kuletakkan di antara botol-botol gula di samping mesin penggiling kopi.

“Apakah masing-masing peran kita di dalam dunia ini?”

Aku dapat mendengar tanya itu seolah Kai berada di sampingku. Tapi tidak, ia masih di tempatnya, memejamkan mata selagi mengatur napasnya yang kini berangsur normal. Sambil bersandar pada kabinet, kulonggarkan gulungan jaket di siku tanganku untuk melindungi kulitku yang terbuka. Sekedar untuk berjaga-jaga mengingat sentuhan Kai telah melemahkanku.

“Aku hanyalah seorang pemilik kafe. La. Vie., The Cafe of Life. Nama yang bagus, bukan?” jawabku, membuatnya mendengus di tengah meditasi yang sedang ia lakukan.

“Kupikir, dunia ini sangatlah kejam.”

Aku memberenggut mendengar ucapannya, “Pasti ada sebuah alasan dari pernyataanmu itu.”

Kai memperbaiki letak bokongnya agar ia dapat menatap langit-langit. Badai sepertinya telah mencapai Kensington Palace. Awan-awan hitam di atas Hyde Park berlarian mengikuti arah angin yang berhembus melewati Old Park Lane, membuat tempat ini semakin gelap terlindung oleh tirai tipis di jendela.

“Kita adalah sama-sama manusia, ‘kan?” Kai bertanya dan kusambut dengan sebuah anggukan, “tetapi mengapa sesama manusia saling berburu satu sama lain, melukai satu sama lain, membunuh satu sama lain, demi memenuhi kepentingan mereka sendiri?”

“Kita memang manusia, Kai. Namun ingatlah, manusia adalah hewan berintelektual tinggi. Jadi sesungguhnya, kita tak jauh berbeda dengan hewan-hewan lainnya,” lalu kunyalakan televisi yang menggantung di atas kepalaku untuk menunjukkan sebuah rekaman yang telah dengan sengaja kusimpan sebelumnya dari sebuah program sejarah dunia. “Dan aku mengerti dengan baik mengapa kau berpikir seperti itu.”

“Apa yang dapat kau simpulkan dari tayangan ini?” Aku bertanya di tengah langkahku dari bawah anak tangga setelah mengambil setumpuk pakaian.

Kulihat Kai membungkam diri, menatap layar televisi yang menunjukkan bagian terakhir dari episode tersebut. Sebuah tanda hexagon yang melingkar-lingkar di atas gurun pasir, ditemukan pada kisaran tahun 1700an tak jauh dari wilayah Mesir.

“Dunia ini menjadi semakin kacau-balau sejak meteorit-meteorit itu ditemukan dahulu kala. Beberapa pemerintahan di berbagai penjuru dunia—yang mengetahui keberadaan meteor—mencoba sedemikian rupa untuk menyembunyikan hal itu dari publik. Dengan begitu mereka dapat memburu batu-batu angkasa tersebut tanpa harus saling membunuh,” jelasku, kali ini menempatkan diriku untuk duduk di hadapannya setelah pil yang kukonsumsi sebelumnya membantu menenangkan tubuhku.

Kai memandangiku saat kududuki kursi kecil yang sengaja kuseret lebih dekat. Masih tak kupercaya pria ini bertelanjang dada di tengah musim dingin yang selalu mengecam kulitku—yang mudah tersinggung oleh cuaca yang tak bersahabat ini.

Kuletakkan tumpukan pakaian di sampingnya setelah menyingkirkan baskom yang lupa untuk kupindahkan. Sepasang matanya yang hitam masih menelisik gerak-gerikku, jadi sengaja kuhentikan tubuhku untuk membalas tatapannya, menikmati raut wajahnya yang rupawan.

“Kemudian salah satu saksi mata kala itu mempelajari bahwa meteor yang telah selamat dari atmosfer bumi membentuk manusia seperti kita, manusia seutuhnya, berbaur dan menjadi bagian dari penghuni planet ini, dan karenanya mereka semakin tergila-gila untuk menemukannya. Terutama saat meteor itu dipercaya memiliki kekuatan yang dapat menghancurkan bumi.

Tahun berlalu, abad berlalu, mereka yang mengetahui informasi tersebut kemudian menyampaikan kerahasiaan itu pada tiap generasi mereka, untuk tetap melakukan pengejaran secara rahasia, untuk menemukan jejak-jejak meteorit dengan diam-diam. Nyatanya, keserakahan untuk menguasai dunia menjadikan mereka manusia-manusia yang keji. Dari Revolusi Prancis di tahun 1787, Perang Dunia I di tahun 1914, dan seluruh peperangan lain di dunia; tuduhan palsu yang mereka ciptakan agar peperangan tersebut terjadi hanyalah demi menginginkan informasi dari keberadaan mereka.”

Aku menghela napas untuk menghentikan penuturanku yang terlalu panjang dan rumit. Kutepuk tanganku tiga kali hingga membuat sebuah silinder perak yang sengaja kuletakkan di atas konter mengedipkan nyala kebiruan. Kusebut nama Alexa[2] kemudian menyuruh android tersebut untuk mematikan nyala dari televisi.

Kuangkat kaki kanannya untuk kuletakkan di atas pangkuanku. Kai menolak perlakuanku dengan meringis seperti rengekan balita, lalu kutolak pula tindakannya dengan menyipitkan mataku. Aku tak ingin luka di lututnya meradang, dan kali ini kugunakan sarung tangan vinil putih untuk melindungiku dari sentuhannya.

Akupun melanjutkan, “Saat kau bertanya apakah peran kita di dalam dunia yang rumit ini, sebenarnya kita hanyalah budak-budak dari mereka yang selalu melecehkan orang lain dengan kekuasaan yang mereka miliki—bekerja sepanjang tahun hanya untuk membayar pajak demi mendanai biaya perang yang mereka ciptakan.”

Sambil menggunting celana jeans yang telah robek di bagian lututnya, aku melirik untuk mencari perhatian Kai. Pria itu sedang termenung, sama sekali tidak terusik saat gunting di tanganku membelah celananya hingga ke bagian paha. Sepertinya, ia sedang memikirkan tayangan tersebut. Bola matanya bergerak kesana-kemari seolah ia sedang mengingat kembali segala yang telah dialaminya selama ini.

“Apakah program ini masih berlangsung?” tanyanya.

Aku menggeleng, “Hanya satu episode saja. Setelah itu tayangan ini dihapus secara mutlak dari berbagai peron. Alasannya karena seluruh tim yang memproduksi program ini mengalami kecelakaan secara bersamaan. Belum lagi perusahaan penyiar televisi tersebut mendadak bangkrut keesokan harinya,” kemudian kujelaskan bagian dimana kurekam episode ini atas ketertarikanku akan sejarah dunia.

Kai memberenggut, mengamati wajahku hingga matanya ikut menyipit. Kubiarkan dirinya melakukan hal itu cukup lama sementara kubersihkan luka di lututnya dengan spiritus.

“Jadi, siapa mereka—pria yang mengejarmu?” tanyaku selagi mencampakkan potongan jeans ke atas lantai.

“MI6[3],” jawabnya singkat.

Aku berpura-pura terkesiap, membelalakkan mataku dan menutup mulutku yang menganga, “Kau adalah seorang teroris?” lantas ia menggeleng menjawab terkaanku, “Kau telah membunuh seseorang, huh?” dan lagi-lagi ia menggeleng.

“Mereka menginginkan sesuatu dariku.”

Jawabannya seketika membuatku mengusap kening dengan gusar. Aku tidak menyukai fakta dimana pria-pria itu masih berkeliaran mencari sosok mereka. Kupikir, aku telah memberantas manusia-manusia tamak itu secara perlahan. Organisasi rahasia seperti MI6 maupun CIA benar-benar tidak pernah mengenal putus-asa.

Hanya diriku saja yang kuperbolehkan untuk menemukan mereka. Hanya diriku saja.

“Apapun yang terjadi antara dirimu dan MI6, jangan ragu untuk membela diri jika mereka menyakitimu,” tuturku, kali ini berbicara dengan nada yang lembut.

Setelah menutup lukanya dengan perban, aku baru menyadari bahwa Kai terus menatapku tiada henti. Kulayangkan seberkas senyum padanya tapi tak ada ekspresi apapun di wajahnya, membuat bibirnya semakin menebal saat ia memberenggut.

Kutopang daguku setelah kuturunkan kakinya kembali di atas lantai. “Apa kau tahu? Kau benar-benar terlihat familiar. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku, masih memandanginya tanpa berkedip, mencoba untuk mengingat kembali sosok pria berdasarkan penuturan adikku, yang membawa tubuhku kembali setelah tak sadarkan diri di antara luas pasir yang mengelilingi gunung krakatoa.

Kai menggeleng disertai sejumput senyum dari gerakan di sudut bibirnya yang kentara.

“Apakah kau ingin berbicara sedikit mengenai dirimu?” tanyaku lagi, kali ini kutepuk-tepuk pipiku dengan ujung jemariku. Masih menopang dagu, mengamati kehadirannya yang memancarkan kehangatan di dalam ruang yang hampa ini.

“Tak ada yang perlu dibicarakan—mengenai diriku,” jawab Kai. Tubuhnya masih bersandar pada dinding sementara tangannya memijati tulang rusuknya dengan gerakan yang sama.

Akupun mencibir, “Kalau begitu, apakah kau ingin tahu tentang diriku?”

“Terakhir kali aku mencoba untuk berteman dengan seseorang, pria itu terbunuh dengan mengenaskan tak lama kemudian.”

Jawabannya lantas membuatku membunyikan suara ketakutan yang berlebihan, menggerakkan bahuku hingga leherku menghilang seperti seekor penyu yang berlindung di dalam cangkangnya, “Bolehkah kutanyakan ‘mengapa’?”

Kai menghembuskan napasnya dengan kasar, “Ia memberitahu seseorang mengenai rahasiaku,” ucapnya, kemudian meraih cangkir kopi yang sejak tadi belum disentuhnya.

“Kita tak perlu berbicara terlalu dalam, Kai. Aku tak ingin mendiskusikan rahasiamu, dan lagi, aku juga tak ingin kau mengetahui rahasiaku,” terselip sejumput ejekan dari ucapanku yang berhasil membuat pria itu tersenyum.

Saat kedua sudut bibirnya melebar, gigi-giginya yang putih dan tersusun rapih menampakkan diri dan membuat kantung matanya menebal. Dagunya berubah lancip, dan tak ada dempul di pipinya seperti yang dimiliki Do Kyungsoo dan Park Chanyeol.

Aku mengutuk berbagai nama Tuhan yang menguasai alam semesta ini atas perbuatan mereka menciptakan Kai. Sangat menjengkelkan melihat senyumnya yang begitu mempesona seperti itu.

“Kau sama sekali tidak tertarik dengan namaku?” kutawarkan diri untuk bertanya lagi karena Kai masih belum menghentikan senyumnya.

“Ini adalah pertemuan pertama dan juga terakhir di antara kita. Jadi tidak, aku tidak tertarik,” jawabnya disertai alis tebalnya yang bergerak naik-turun.

Kekagumanku atas dirinya mendadak kelam. Aku hanya mendengus kasar, ia benar-benar tidak peduli.

“Apa kau tahu, nama Kai dalam bahasa Frisia dari Jerman Barat berarti seorang prajurit; dalam bahasa asli Hawaii berarti samudera; lalu dalam bahasa Thai berarti ayam. Kesimpulan dari seluruh artian tersebut adalah kau merupakan seorang prajurit yang menyantap ayam goreng sambil berlayar di samudera. Bukan begitu?”

Kucoba meledekinya dengan penuturanku namun tak disangka pria itu justru meledakkan tawanya yang renyah. Dan aku tak tahu apakah aku harus ikut terbahak seperti yang ia lakukan saat ini atau tetap memasang raut wajahku yang hambar. Kekecewaanku masih meluap karena ia sama sekali tidak tertarik untuk sekedar mengetahui namaku.

Kai berusaha bernapas untuk menghentikan tawanya, “Aku memang suka ayam goreng, tapi aku bukan seorang prajurit, dan aku tidak begitu menyukai lautan,” ujarnya, mengoreksi.

Masih tersinggung atas ucapannya, kuraih baskom bercampur air dan darah di bawah kakinya lantas berjalan menuju konter. Kulepas sarung tangan vinil untuk mencuci tanganku pada wastafel, meninggalkan Kai sendirian di kursinya.

“Tapi kau masih membuatku penasaran, Kai. Bagaimana kau bisa dihajar habis-habisan seperti ini?” tanyaku tanpa menjuruskan tatapanku padanya.

Kai tidak langsung menjawab tanyaku. Saat aku menoleh sedetik saja, kulihat sepasang matanya yang hitam kehilangan fokus mengamati permukaan kopinya. Ia sedang termenung; diam yang cukup lama.

“Aku tidak berhati-hati,” ucapnya, mengggenggam lengan cangkir di depan dadanya dengan erat, “aku tak dapat mengontrol tenagaku dengan baik,” ia menambahkan.

Ia meletakkan cangkirnya di atas nampan seraya menyandarkan kembali tubuhnya yang lelah. Dadanya yang bidang bergerak naik-turun saat ia bernapas dengan kasar. Keberadaannya di dalam ruang yang remang ini semakin tenggelam di dalam kegelapan setelah kuamati badai di luar sana telah mencapai tempatku. Bunyi gemuruh dari angin dan kabut yang lebat saling mengetuk-ngetuk jendela.

“Beruntunglah aku masih menyimpan beberapa pakaian pria. Gantilah pakaianmu sebelum kau mati kedinginan,” suruhku, menunjuk setumpuk pakaian di sampingnya setelah kunyalakan saklar untuk menerangi kafeku yang mendadak suram.

Nuansa putih yang lembut dari pancaran lampu di pusat atap jatuh membentur kulitnya yang eksotis. Kai menggerakkan kepalanya untuk menatapku yang masih berdiri di balik konter; mencoba untuk membaca pikiranku apakah aku menyadari bahwa lebam di wajahnya telah menghilang atau aku hanya manusia bodoh yang acuh akan perubahan tersebut.

Kupaksa kedua tanganku untuk berkacak pinggang setelah kukibaskan rambutku yang terurai, “Jangan menatapku seperti itu, Kai. Aku tidak sedang menggenggam pisau maupun pistol untuk mengancammu,” aku berkilah, sekali lagi mengabaikan keanehan tersebut dan berpura-pura untuk tak peduli.

Pria itu terdiam, mungkin pula sedang menyulutkan berbagai makian karena kami tak lagi berbicara di dalam kegelapan. Kulihat dirinya berusaha berdiri dengan susah-payah untuk berjalan menghampiriku. Dan saat langkahnya yang payah menyusuri lantai, kini kupahami mengapa Kai menyukai kegelapan tersebut: aku sama sekali tidak menemukan bayangan dari tubuhnya, membuat sosoknya nampak seperti drakula yang mematikan.

“Aku tahu kau tidak bodoh, jadi berikan nomor rekeningmu karena aku tak akan segan untuk membungkam mulutmu dengan uangku,” ucapnya seraya meletakkan ponselnya di atas konter.

Kai berlalu menuju kamar mandi di balik dinding konter setelah menyambar setumpuk pakaian yang telah kusediakan. Sementara ia berganti pakaian, kuamati layar ponsel yang sudah tidak layak itu untuk memeriksa sebuah folder yang kuyakini berisi kumpulan foto-fotonya. Sayangnya, folder tersebut dilindungi oleh kata sandi yang rumit. Jadi aku menyerah begitu saja.

Tak lama kemudian, ia kembali sambil menyeka kedua tangannya dengan handuk yang telah kotor oleh darahnya sendiri. Pria itu nampak lebih segar dengan dibalut oleh kaus hitam ketat dan celana dengan warna yang senada. Rambut hitamnya yang basah terlihat licin dan berkilau, terutama setelah ia menyisirnya ke belakang dan membuat sepasang cuping telinganya yang besar membuatnya semakin terlihat gagah.

“Berapa banyak yang harus kubayar?” ia berhenti tepat di hadapanku, meletakkan handuk kecil itu di atas konter yang memisahkan kami.

“Aku mentraktirmu. Kau bisa membayarku lain kali,” ucapku, mengulurkan ponselnya lalu menelungkupkan kedua tanganku pada konter, mencondongkan sedikit tubuhku agar aku mampu mencium wangi rerumputan yang berkeliaran di sekitar tubuhnya.

Kai menoleh ke arah meja dimana kopi dan makanan yang kusediakan masih utuh di sana. Ia mengecek ponselnya lagi, menyadari bahwa aku benar-benar tidak tertarik dengan uangnya.

“Aku berencana untuk tidak kembali ke kota ini,” elak Kai.

“Aku tahu,” kemudian kulekatkan ujung ibu jari dan telunjukku dan secara bersamaan menyentuh bibirku untuk membentuk sebuah garis lurus; memberitahunya bahwa aku akan menutup mulutku sebaik mungkin. “Tak perlu khawatir, aku tak akan menceritakan hal ini pada siapapun,” imbuhku.

Ia menyelipkan ponselnya ke dalam saku celana, dan tatapanku mengikuti gerakannya. Tanda segitiga yang sebelumnya muncul di permukaan punggung tangannya telah menghilang.

“Kau bisa membungkam mulutku dengan cara lain,” tawarku, mengubah raut wajahnya tak lagi murung. “bagaimana jika kau mengencaniku?” lalu kulayangkan seberkas senyum yang kuyakini lebih tertuju kepada seringaian kotor yang penuh nafsu.

Kai menunduk, menyembunyikan senyumnya yang lebih lebar dari semula.

Ia melipat kedua tangannya di atas konter, menyalin tindakanku dengan mencondongkan dirinya lebih dekat. Dari jarak itu, aku dapat merasakan hembusan napasnya yang hangat. Ia menatapku dengan sorot matanya yang tajam, membuat pupil matanya melebar seakan-akan menunjukkan bahwa ia tertarik dengan tawaranku.

Senyumnya menenang, kali ini sudut bibirnya menyunggingkan secarik seringaian yang manis, “Kau benar. Saat dipikir-pikir lagi, wajahmu sangat tidak asing bagiku,” ucapnya, menggunakan nada yang ia ciptakan dari dalam perutnya.

Pengakuannya membuatku tiba-tiba tersenyum, membenarkan naluriku yang sejak tadi menerka-nerka atas kejadian lalu yang menimpaku.

Sengaja tak kuucapkan apapun setelah Kai meninggalkan tempatnya berdiri untuk menyambar mantel hitamnya yang tersampir pada kursi. Wangi tubuhnya masih mengusik gairahku sejak tadi. Sambil memegang kenop pintu di hadapanku, ia membalikkan tubuh untuk melayangkan senyum terakhirnya padaku sore itu.

Kulihat ia berlalu setelah menutup pintu, menembus badai yang mengoyak rambutnya tak sabaran. Meski angin dan kabut saling menerpa, tubuhnya berdiri tanpa goyah, seperti patung liberti.

Tidak, aku tak ingin ia pergi begitu saja.

Jadi akupun beranjak untuk menghentikannya. Namun saat kubuka pintuku untuk mengamati Old Park Lane yang kosong, kulihat dirinya perlahan menghilang bersama partikel-partikel gelap di ujung jalan, berteleportasi meninggalkan kota ini dalam sekejap mata.

Aku mengaduh seorang diri. Ia benar-benar tidak berhati-hati saat menggunakan kekuatannya.

Yakin bahwa Kai benar-benar telah menghilang dari Old Park Lane, akupun berlari dengan tergesa-gesa untuk menaiki tangga-tangga menuju lantai kedua. Suara dentuman saat kutapaki anak-anak tangga membuat kesunyian di dalam tempat ini tak lagi melingkupiku.

Kuperiksa adikku yang terbaring lemah di atas ranjang yang menghadap jendela. Badai yang telah datang mengetuk-ngetuk kaca yang rapuh tersebut hingga menimbulkan suara ringkihan yang berisik.

“Kau harus segera bangun, adikku sayang. Akhirnya aku bertemu dengannya, pria yang telah membantumu untuk menjagaku dahulu kala. Dan aku hampir menciumnya,” kuremas lengannya yang lemah sambil berteriak di depan wajahnya yang pucat.

Namun kegiranganku tidak bertahan lama saat kuingat kembali berbagai luka yang menghiasi wajah Kai. Dendamku atas manusia-manusia serakah itu membuatku menjadi gusar.

“Aku akan segera kembali. Ada satu hal yang harus kulakukan untuk memberi pelajaran pada pria-pria yang telah melukainya.”

Kucium keningnya lalu pergi menembus badai setelah mengikat rambut panjangku yang terurai.