Sabina Mara: The Violet Mermaid (Chapter 8)

Keduanya muncul di balik dinding kering nan rapuh yang terletak di pojok tersunyi, tanpa para pekerja benteng yang berlalu-lalang sambil menggerutu dan memaki upah mereka yang tak seberapa. Dan gurun aharu menyambut keduanya dengan ketidakhadiran kesejukan maupun angin segar yang bersahabat.

Sebelum Kai meninggalkannya, ia sengaja menggenggam jemari Sabina selagi menatapnya sekelam kabut, meremasnya hingga pembuluh darah pada punggung tangannya menyembul seolah ia tak menginginkan perpisahan itu terjadi.

“Pergilah—sebelum kemurahan hatiku memudar,” ucap Sabina, menyelipkan sejumput gertakan di dalam kata-katanya yang singkat.

Keduanya kemudian diselimuti oleh hening yang berbaur dengan sayup-sayup riuh dari kejauhan. Sementara Kai masih menatap Sabina, bibirnya semakin merapat saat rahangnya bergetar untuk menahan segala ucap yang terus mengiang, memaksanya untuk menolak perintah Sabina.

Namun pria itu mengerti, penyesalan dan rasa bersalahnya lebih banyak meluluhkan keegoisannya. Maka ia melepas tautan jemarinya, mundur selangkah untuk menegakkan bahunya yang kukuh.

“Kau akan membutuhkan bantuanku,” ucap Kai, mengangkat tangannya untuk menjentikkan jari, menghilang dari hadapan Sabina bersama partikel noménosnya yang gelap.

Di tengah hembusan angin yang panas berpadu dengan serpihan pasir yang kasar, Sabina hanya mampu menghembuskan napasnya yang berat. Sejenak ia ragu, apakah Kai, Sang Pengalih Materi dari kerajaan wilayah Utara, bersungguh-sungguh menolongnya dengan menunjukkan letak Sviesa di dalam pabrik, atau pria itu hanya sedang mengelabuinya saja.

Sambil berjalan melewati bangunan-bangunan yang berdebu, Sabina mengamati kembali peta dan juga sebilah kayu pipih yang Kai berikan padanya. Dan ketika akalnya masih kehilangan kendali untuk berpikir dengan jernih, seseorang menepuk pundaknya tanpa aba-aba. Diiringi jantungnya yang berdegup kencang, Sabina menoleh selagi merogoh kantung celananya yang kusam lantas melayangkan daganya untuk membelah udara.

Sosok itu mengelak dengan mencengkeram pergelangan tangan Sabina, menutup warna biru safir pada pegangan daga yang begitu mencolok di tengah padang pasir.

“Beraninya kau melayangkan daga itu padaku setelah menghilang begitu saja,” sosok itu menurunkan kain perca yang menutupi sebagian wajahnya, menunjukkan kulitnya yang pucat tanpa melepas kacamata hitamnya yang merekat kuat.

Lee Hyuk Jae merebut daga di tangan Sabina lantas menyembunyikannya dengan terburu-buru. Ia menggerutu karena Sabina malah berubah menjadi seseorang yang ceroboh. Biru safir yang berkilau dari daga terlalu mudah untuk menjadi pusat perhatian para penghuni gurun aharu mengingat daerah ini berada di bawah kekuasaan wilayah Selatan.

“Aku tak mengenalimu mengingat kau telah mengganti pakaianmu,” Sabina hanya mampu mengusap dada, lega karena Hyuk Jae lah yang menemukannya di sana.

“Kau seharusnya mengerti bahwa kode yang Donghae tunjukkan padamu berarti bahwa kau harus sembunyi dari musuh dan bukannya melarikan diri dariku,” telunjuk dan jari manis ramping yang dimiliki Hyuk Jae kemudian saling mengait, menunjukkan kembali pada Sabina bahwa dirinya telah mengabaikan petunjuk tersebut.

“Seseorang mencurigaiku, jadi aku harus berkeliling untuk membuatnya kebingungan,” elak Sabina, berbohong.

Hyuk Jae menopang kedua tangannya di pinggang, menghempaskan napasnya dengan kasar saat ia mengeluh panjang. Tak ingin membuat uraian singkat mereka menjadi sebuah percekcokan abadi, Hyuk Jae mengajak Sabina untuk berjalan menelusuri kedai-kedai di sekeliling dinding pabrik terluar, menuju warung kecil dimana Donghae sedang menunggu keduanya sejak kepergian Sabina.

“Siapa wanita yang menghampirimu dan Donghae barusan?” tanya Sabina, mengacu pada perbincangan kedua pria yang mendadak ditemani oleh seorang wanita dengan pakaian istimewa yang melindungi tubuhnya dari terik matahari.

Hyuk Jae memperbaiki letak penutup wajahnya. “Soo Young, vermilion itu telah mengetahui keberadaanku dan Donghae. Meskipun telah kuubah cara berpakaianku, akan sulit bagi kami untuk memasuki benteng ini,” ucapnya, diselingi kekesalan yang sekonyong-konyong membuatnya gusar.

Sejenak pria itu mendongak untuk menatap ujung tertinggi dari dinding terluar pabrik yang mengingatkannya pada benteng kekuasaan wilayahnya. Dengan penjagaan yang begitu ketat, sangat tak masuk akal jika para penguasa wilayah Selatan hanya membangun pabrik ini sebagai pusat pembuatan alat kemiliteran mereka saja.

Ada sesuatu yang lain, yang sengaja mereka lindungi dari mata dunia.

Sebelum mencapai belokan terakhir, Hyuk Jae mencengkeram bahu Sabina agar mereka saling berhadapan. “Jangan pergi terlalu jauh tanpa seijinku. Apa kau paham?” lalu ia menyirami tangan Sabina yang mulai bersisik dengan air dingin yang sengaja ia simpan di dalam kulit unta berbentuk oval.

Mengamati perlakuan Hyuk Jae terhadapnya, Sabina kini menyadari bahwa pria itu begitu peduli akan keadaannya. Dan Kai sama sekali tak menyadarinya meski Sang Pengalih Materi itu telah melewati jarak pribadinya.

Dengan berbohong telah menguping para penjaga di kamar kecil, Sabina menunjukkan peta yang diberikan Kai padanya untuk merencanakan penyelamatan Sviesa. Hyuk Jae tidak menunjukkan kecurigaan di wajahnya meski terkadang pria itu melirik sambil mengamati dengan diam-diam, mencoba menemukan setitik kebohongan yang sengaja Sabina sembunyikan darinya.

“Karena itu aku akan melakukannya seorang diri. Akan kutemui kalian pada menara penjaga di bagian timur setelah kutemukan kakakku,” Sabina mengakhiri strateginya dengan menunjuk bentuk bulat di ujung lain, berseberangan dengan tempat mereka berdiri saat ini.

“Aku sangat mengagumi keberanianmu, Sabina. Tapi rencana ini begitu gegabah. Kau tak tahu seperti apa penjagaan di dalam benteng pabrik ini dan jika peta ini merupakan sebuah perangkap, aku tak akan bisa melindungimu di sana,” Hyuk Jae menjelaskan dalam satu tarikan napas.

Sabina menunduk, mengamati coretan-coretan hitam di atas perkamen yang kusut. “Tak ada pilihan lain, Lee Hyuk Jae. Dan kurasa waktu tak akan berpihak padaku lagi jika kuabaikan kesempatan ini,” ucapnya, nyaris bergumam.

Hyuk Jae mengusap keningnya yang berkeringat, memaksakan diri untuk lebih mendekat dan mendaratkan kedua tangannya pada bahu Sabina yang kurus. “Kau yakin tidak sedang dibohongi, Sabina?” tanyanya, memancarkan berbagai keraguan yang mampu mengusir keberanian yang dimiliki duyung tersebut.

Sabina terdiam, menolak tanya yang diajukan Hyuk Jae dengan melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda. Saat ini ia sedang putus-asa. Sekalipun Kai sedang menjebaknya, ia akan tetap mencoba. Ia telah berada di sana, melewati samudera, pegunungan dan juga gurun yang tidak ramah, dan tak ada salahnya untuk bersikeras.



The Lost Pearl and The Dark Blessing

Bunyi sirene dari pusat pabrik serentak memekik memancarkan gema yang berkepanjang hingga ke bagian dinding terluar. Sabina menatap Hyuk Jae dan Donghae secara bergantian; mempelajari bahwa bunyi tersebut merupakan isyarat bagi mereka untuk segera bertindak.

Bersama dengan pekerja pabrik yang telah menghabiskan waktu istirahat dan makan siang mereka, Sabina membariskan diri di antara wanita dan pria dengan pakaian mereka yang kusam, membentuk satu garis lurus memasuki pintu gerbang dari dinding tinggi yang menjulang di hadapannya.

Hyuk Jae dan Donghae mengamati dari kejauhan. Gelombang tegas yang tercipta dari alis tebal yang dimiliki Hyuk Jae mampu memancarkan keresahan yang pria itu takutkan saat ini. Sabina mengangguk sekali, memberikan sebuah keyakinan pada Hyuk Jae bahwa ia akan baik-baik saja.

Credit: Pinterest

Dinding terluar pada benteng bergemuruh saat sepasang bilah pintu bergerigi terbuka secara perlahan. Sebelum Sabina benar-benar melewati lorong yang cukup dalam di balik pintu bergerigi, ia menyempatkan diri untuk melirik pada Hyuk Jae dan Donghae. Keduanya berdiri tegap bersama keraguan mereka yang saling memantul bersama terik matahari.

Sabina mengeratkan penutup wajah dan kacamata hitamnya, menunjukkan kartu yang diberikan Henry pada penjaga di balik jendela kecil yang tersembunyi pada dinding lorong yang gelap. Kemudian ia berjalan mengekori seorang pekerja wanita di hadapannya saat penjaga tersebut membentuk tanda ceklis pada dokumennya.

Jempol Manis. Begitulah nama yang ditandai oleh si penjaga.

Entah apa yang diperbuat Henry agar pria itu mendapatkan kartu yang dimiliki si Jempol Manis yang asli. Yang jelas, seorang penjaga berpakaian ketat dengan topi tebal berlapis kaca yang melindungi wajahnya menyuruh Sabina untuk melewati lorong pada dinding kedua di dalam pabrik.

Setelah berpapasan dengan beberapa bangunan rendah, Sabina kemudian melewati lorong kedua dengan mengikuti perintah yang sama, dan penjaga pada jendela kecil keduapun menandai nama yang sama untuknya.

Bangunan di dalam lapisan dinding kedua tidak sekotor pada dinding pertama. Semuanya di cat kecokelatan, nyaris menyerupai warna pasir di gurun aharu. Tiap bangunan memiliki luas dan lebar yang sama, dengan dihiasi satu pintu berwarna serupa, tanpa nomor, tanpa jendela maupun ventilasi lainnya. Sebuah perencanaan yang baik, tentu saja. Letak tersebut mampu membingungkan siapapun yang belum pernah memasuki area tersebut.

Sabina mengeluarkan peta yang diberikan Kai, mengikuti petunjuk yang diberikan Sang Pengalih Materi dengan menghitung tiap bangunan yang ia lewati. Ia sempat tak ingin melanjutkan perjalanannya karena di sekelilingnya mendadak sepi. Dan betapa terkejutnya Sabina saat jalanan yang sunyi itu telah dilaluinya; puluhan penjaga dan juga beberapa pekerja jatuh bergelimpangan di sepanjang jalan. Sebuah tusukan menghiasi dada mereka dengan jitu, membuat darah segar dari arteri mereka yang telah robek mengalir deras dari lubang tersebut.

Seseorang membantu ekspedisinya.

Sabina melewati tubuh-tubuh yang bergeletakan itu tak peduli. Setelah belok ke bagian kiri dan ke bagian kanan sesuai hitungan, ia berhenti pada sebuah bangunan yang lebih tinggi dari yang lain. Yakin dirinya berada di depan pintu yang benar, Sabina lantas  mengamati kotak kecil di pusat pintu, yang seakan-akan menjadi penghubung antara sepasang daun pintu tersebut.

Ia merogoh kantung celananya, mengangkat lempengan pipih dengan warna yang berbeda untuk diamati lebih seksama. Sabina lalu menyelipkannya pada sekat tipis pada kotak. Ia menunggu sejenak hingga pintu tersebut mengeluarkan bunyi klik yang lembut; terbuka dengan sendirinya untuk menyambut kedatangannya.

Ruangan tersebut memiliki langit-langit yang tinggi dimana bagian tengahnya membentang dari pintu masuk hingga ke ujung yang lain. Empat pilar silinder dengan permukaan yang bergelombang saling berdiri tegap menyentuh hingga ke atap yang gelap. Sekalipun keramik putih pada lantai dan cat putih melapisi dindingnya yang datar mencoba untuk membiaskan warna lain untuknya, suram dari kegelapan tersebut nyatanya masih mendominasi kehampaan tersebut.

Tak ada jendela di sekelilingnya, hanya ada sebuah kaca berbentuk persegi di pusat langit-langit yang lebarnya mungkin tak lebih dari bahu Sabina. Sepatu botnya seolah terendam dalam lumpur saat ia melangkah menuju sinar matahari yang jatuh ke lantai, ruang hampa itu seakan menelan berbagai suara yang tidak diundang, dan segala kebisuan yang mencekam di sana membuat perhatian Sabina tercerai-berai.

Setelah mendongak sejenak untuk mengamati kaca persegi yang menyilaukan, Sabina kemudian bergerak menuju sebuah pintu berbentuk setengah oval di seberangnya. Cat putih yang menyamarkan pintu tersebut sempat mengelabuinya jika saja ia tidak memerhatikan ukiran-ukiran yang saling tersambung membentuk seekor burung yang megah di permukaannya.

Sabina meremas-remas jemarinya, risau yang sejak tadi mengganggu benaknya mendadak menggerogoti keberaniannya. Ia kecewa, mengetahui bahwa Kai telah membohonginya. Ia tidak menemukan apapun di dalam ruangan selain dirinya dan kehampaan. Saat ia memutuskan untuk kembali, derit lembut yang sama kemudian mengisi kesunyian di dalam ruang. Sabina melepas kacamata hitamnya, membelalakkan mata saat pintu dengan ukiran di hadapannya terbelah untuk menunjukkan ruangan lain yang tersembunyi di sana.

Napas Sabina seketika terhenti di tenggorokannya. Lehernya menegang, seluruh tubuhnya bergetar.

Credit: Pinterest

Ada sebuah ruang lain dengan luas yang sama di hadapannya. Tempatnya berdiri dengan ruang tersebut dibatasi oleh lorong panjang nan kelam dengan langit-langit yang lebih rendah. Lantainya tak lagi dilapisi keramik, melainkan semen kasar dengan pola jajar genjang bersudut lancip—lebih kotor dan tak beraturan.

Sementara itu, ruang lain di seberangnya jauh lebih terang mengingat atapnya yang tinggi terbentuk dari sebuah kubah dengan dikelilingi kaca-kaca, memantulkan cahaya matahari dari gurun aharu yang gemerlap. Di tengah ruang, terdapat sebuah paviliun berbentuk oktagon yang dibangun dari bata dan semen yang kuat. Di atas paviliun, berdiri pula sebuah patung vermilion dimana puncak kepalanya nyaris menyentuh kubah, sepasang sayapnya yang lebar membentang di sepanjang ruangan.

Di depan paviliun berpintu merah yang menghadap Sabina, terdapat sebuah kolam berbentuk persegi dengan air keruh yang meletup-letup. Dan di antara sepasang api yang berkobar-kobar pada masing-masing tepian kolam, Sabina melihat sesosok wanita tengah menunduk tak sadarkan diri, dengan rambut hitamnya yang basah dan layu, dan masing-masing tangannya terjerat oleh untaian rantai yang terhubung dengan sayap patung vermilion yang megah.

Sabina menggeram, rahangnya mengeras sementara sepasang tangannya membentuk kepalan yang kuat.

Tubuh itu adalah milik Sviesa.

Sebagian tubuhnya yang muncul di permukaan kolam keruh itu mengering akibat panas matahari yang memancar dari kubah. Sementara ekor duyungnya tenggelam di dalam air hitam yang nampak mengerikan.

Dilingkupi oleh amarah dan dendam, Sabina pun beranjak untuk melewati lorong gelap tersebut. Sayangnya, ia segera menarik diri ke dalam ruang semula setelah ia menapaki lorong dalam dua langkah pendek saja. Udara di dalam lorong yang gelap itu membakar kulitnya. Sabina meringis, melepas penutup wajahnya untuk menutup luka pada kulit di punggung tangannya yang mengerut.

Jadi, inilah yang disebutkan Kai sebelumnya, mengenai sebuah ruangan yang mampu membakar partikel nomenosnya.

“Tak kusangka kau akan datang padaku seorang diri.”

Suara yang Sabina kenali itu muncul dari balik pintu merah pada paviliun. Di sana, Tiffany, salah satu penguasa wilayah Selatan, membenahi sarung tangan yang dikenakannya yang dilingkupi sisik-sisik berkilauan—sama halnya dengan pakaiannya yang ketat dan juga tudung yang menutupi wajahnya.

“Hanya diriku dan penguasa wilayah Selatan saja yang mampu melewati ruangan ini, duyung gorgona. Jangan merusak kulitmu yang indah itu sebelum aku menyentuhnya,” imbuh Tiffany.

Wanita itu mengitari kolam di hadapannya untuk menuruni beberapa anak tangga yang mengelilingi paviliun. Sabina tak bergeming, ia menunggu kedatangan Tiffany di hadapannya; menunggu saat yang tepat untuk melayangkan pukulannya yang dipenuhi dendam.

Sepatu bot yang dikenakan Tiffany ikut berkilauan saat dirinya berjalan mendekat. Wanita itu berhenti di tengah lorong, mengetahui dengan baik bahwa Sabina tak akan mampu untuk sekedar mendekatinya.

“Pengecut,” gumam Sabina, sebelum ia benar-benar berlari ke arah Tiffany, menerobos udara yang menusuk-nusuk kulitnya dengan panasnya yang menyakitkan.

Tinju yang hendak diluncurkan Sabina ditepis oleh pukulan sederhana yang Tiffany layangkan, membuat tubuh Sabina terpental jauh hingga ia terseret di atas lantai keramik yang bersih. Tiffany berjalan dengan langkahnya yang malas, melewati lorong untuk berada di dalam ruang putih yang sama dengan Sabina.

“Apakah kau mampu menyelamatkan Sviesa dan juga Lee Hyuk Jae secara bersamaan?” tanya Tiffany dengan angkuh. Ia melepas tudungnya yang bersisik untuk menunjukkan seringai singkat di wajahnya yang cantik.

Sabina memaksakan diri untuk berdiri, mengusap dadanya yang berkedut nyeri. “Jika kau melukai mereka—”

“Jangan khawatir, Lee Hyuk Jae dan Lee Donghae akan baik-baik saja,” lantas Tiffany melepas sepasang sarung tangannya dengan sesekali melirik pada Sabina, “kecuali jika mereka masih bersikeras untuk menerobos tempat ini, tentu saja. Soo Young dan Seo Hyun adalah yang terbaik dalam merangkai cerita.”

Sabina memijat lehernya, menggerak-gerakkan bahu dan lengannya yang payah untuk menyingkirkan nyeri yang ia rasakan dari pukulan singkat yang Tiffany berikan padanya. Sepasang matanya yang menghitam menatap wanita itu tanpa berkedip, berusaha untuk mencari jawaban atas tindakan Tiffany yang tidak biasa.

Ia tak pernah menyangka, kekuatan Tiffany akan sehebat itu saat sang vermilion berada dalam wujud manusia.

“Bagaimana dengan ‘Sepasang Anggota Kerajaan Timur Ditemukan Mati Diserang Duyung Laut Gorgona’,” ucap Tiffany sembari melipat kedua tangannya di dada, “atau ‘Lee Hyuk Jae dan Lee Dong Hae, Para Pengkhianat Bangsa’.”

“Tutup mulut busukmu itu, Tiffany.”

Sabina menggertak, dan Tiffany melawannya dengan senyum yang meremehkan.

“Jangan menatapku seperti itu, duyung gorgona. Jika kau bersikap baik, akan kuijinkan dirimu untuk menemui Sviesa,” kepala Tiffany bergerak ke balik tubuhnya, menunjukkan pemandangan mengerikan yang tak mampu Sabina tatapi, “Lagipula, aku membutuhkan dirimu hidup-hidup sebelum membunuh kalian berdua,” kemudian ia mengikat rambutnya yang terurai, melangkah menuju cahaya matahari yang menerobos dari jendela kaca pada atap ruang, membuat pakaiannya yang bersisik semakin berkilau keabu-abuan.

Sabina mencoba mengendalikan amarahnya dengan mengeratkan penutup wajah yang membalut tangannya. “Apa yang kau inginkan, Tiffany?” tanyanya, seraya melepas topinya yang berdebu, menepuk-nepuk puncak kepala dimana rambutnya yang diikat rapih sedikit lembab akibat keringat yang terperangkap.

Tiffany menggelengkan kepala dan berdecak, “Jangan berpura-pura bodoh, duyung violet. Rahasia kecilmu tak perlu disembunyikan lagi.”

Dahi Sabina mengerut saat ia menyipitkan mata. Ucapan Tiffany menunda niatnya untuk menyerang. Ada sesuatu yang lain, yang harus ia ketahui sebelum ia bertindak gegabah.

“Apa yang sesungguhnya kau inginkan, Tiffany?” Sabina bertanya untuk kedua kali, mencoba bermain-main dengan sedikit mengulur waktu.

Tiffany mengeluh, kedua tangannya terkulai akibat ketidaksabaran yang ditunjukkannya. “Kau mengetahui dengan baik bahwa Do’a Kegelapan yang Mary kuasai hanya mampu dikumandangkan oleh Sviesa dan juga dirimu saja. Ayolah, aku sudah lelah mencarimu kemana-mana,” ia sedikit merengek.

Sabina memejamkan mata untuk berpikir sejenak. Lalu ia menatap tajam Tiffany dan menyeringai tegas. Jadi, Sviesa sengaja memperlambat waktu untuk mengelabui Tiffany agar Sabina dapat menemukannya. Karena sesungguhnya, Sabina mengetahui dengan baik bahwa hanya Sviesa saja yang mampu melantunkan do’a tersebut.

“Kau pikir dapat menangkapku semudah yang kau bayangkan?” Sabina mendengus, mengejek Tiffany dalam bait-bait kata yang terdengar menjengkelkan.

Tiffany masih nampak tenang di hadapannya. “Sebelum kita menyerang satu sama lain, apakah kau sama sekali tak ingin mendengar kata-kata terakhir yang duyung jelita itu ucapkan padaku?”

Amarah yang sempat dikendalikan dengan baik oleh Sabina mendadak berdenyut-denyut.

“Siapa namanya, aku lupa. Dolca?” imbuh Tiffany.

Kesabarannya yang telah hilang menjadikan Sabina dirundung murka yang bergejolak. Kematian Dolca nyatanya berhasil merangsang amarahnya untuk kembali tersulut. Terlampau dendam, ia lalu menyerang dengan melayangkan beberapa pukulan.

Sambil menghindarinya, Tiffany pun tak kalah menyerang. Sabina menepis pukulan Tiffany yang mengincar dadanya. Dan saat silau dari pakaian Tiffany mengusik pandangannya, wanita itu memukul Sabina tepat di dadanya, untuk kedua kali, dan membuat Sabina kembali terjungkal hebat.

“Duyung malang itu memohon padaku untuk tidak membunuh dirinya, bersujud meminta sebuah pengampunan sebelum busurku menembus tubuhnya,” ucap Tiffany, berdiri tegap di bawah sinar matahari yang menyilaukan.

Dipenuhi oleh kebencian, Sabina berdiri untuk menyerang lagi. Namun Tiffany terlalu cerdik. Amarah dan benci yang berlebihan mampu membuat siapapun tak mampu berpikir jernih, dan saat ini Tiffany berhasil menguasai emosi Sabina yang tak karuan. Tiap kali Sabina menyerang, Tiffany terus memukul dadanya, membuat Sabina jatuh, lagi dan lagi.

“Sama seperti Dolca, haruskah kuceritakan padamu saat Sviesa menangisi hidupnya hanya untuk mendapatkan setitik belas kasih dariku?”

Sabina mengerang sambil mengelus dada. Lututnya belum berhasil mengangkat kembali tubuhnya yang lelah. Maka ia memutuskan untuk duduk dengan melipat salah satu kakinya, menopang kepalanya yang pusing di sana dan menyeka sejumput darah pada sudut bibirnya yang terluka.

Ia telah jatuh berkali-kali, dan sudah saatnya ia mengijinkan diri untuk sejenak berhenti.

Di hadapannya, Tiffany mengusap telapak tangannya sembari mengeluh. Ia tak menyangka akan semudah itu menjatuhkan Sabina. “Dolca dan Sviesa, aku masih tak mengerti mengapa mereka begitu bersikeras melindungimu meskipun pada akhirnya nyawa merekalah yang dipertaruhkan,” ucapnya, mengusap rambutnya yang sedikit berantakan.

Sepasang tangan Sabina menyentuh lantai. Ia sedikit condong ke belakang untuk mendongak, menopang tubuhnya yang letih selagi mengistirahatkan kepala di bahunya. “Aku tidak memiliki apapun itu yang kau cari, Tiffany,” kali ini Sabina benar-benar menyeringai. Senyumnya nyaris membentuk sebuah tawa renyah yang tersembunyi.

“Ayolah, duyung violet. Lihatlah dirimu sekarang. Kau tak akan bisa lari dari tempat ini dan kaupun tahu bahwa kau telah terperangkap. Tak ada gunanya untuk menyangkal apapun,” ujar Tiffany. Ia melangkah dengan anggun, menyentuhkan salah satu lututnya di lantai untuk menyetarakan wajahnya dengan Sabina yang masih terduduk, “katakan saja padaku—semuanya, sebelum kubunuh dirimu tanpa ampun.”

Masih menopang tubuhnya, Sabina justru memilih untuk mendengus selagi menatap Tiffany yang menjadi kebingungan. Keduanya saling mencoba untuk membaca pikiran masing-masing, hingga tawa Sabina yang menggelegar membuat Tiffany tercenung.

“Kau benar-benar mengira bahwa kau dapat mengalahkanku dengan beberapa pukulan saja?” detik berikutnya wajah Sabina yang sumringah berubah datar. Sepasang matanya semakin menghitam.

Sebelum Tiffany hendak melayangkan pukulannya, kaki Sabina menerjang perut lawannya hingga Tiffany terjungkal. Kesempatan itu digunakan Sabina untuk membentuk kuda-kuda, merogoh daga di kantung celananya lalu menyerang Tiffany dengan gerakan yang lebih lihai dari sebelumnya.

Keduanya berkelahi seperti sepasang penari; terutama saat Tiffany berusaha menghindari alunan daga di tangan Sabina yang tiba-tiba menjadi lebih kokoh. Sang vermilion itu tak menyadari, Sabina memiliki daga lain yang belum ia tunjukkan. Dan saat Sabina merogoh daga kedua, sabetan tajam itu mengenai lengan kanan Tiffany, menyayat lapisan pakaian bersisik hingga darah segar saling bercucuran dari kulitnya yang pucat.

Tiffany mundur untuk mengamati lukanya. “Beraninya kau,” desisnya, mengeryit untuk menatap Sabina meski kemudian sepasang kakinya berubah lunglai. Ia jatuh dengan menopang pada kedua lututnya yang bergetar hebat.

Sabina kembali menyeringai, mengayunkan sepasang daga di tangannya seolah pisau keperakan itu telah menjadi bagian dari tubuhnya. Alasan mengapa Hyuk Jae memberinya daga tersebut karena daga bermata batu safir itu telah dilapisi baja yang mampu melemahkan Tiffany. Dan saat Tiffany lemah, ia tak akan berubah menjadi vermilion.

“Jangan lupa bahwa kita berdua memiliki ciri khas yang sama—hewan terkutuk dalam wujud manusia,” ungkap Sabina sembari mengamati bilah daga di tangan kirinya yang dihiasi darah Tiffany yang merah pekat. “Baik dirimu dan diriku tak akan menguasai kekuatan yang kita miliki dalam wujud ini, dan aku tak akan membiarkanmu merubah diri.”

Giliran Tiffany yang berubah geram. Bersama dengan rambut panjangnya yang berayun, ia berusaha untuk menyerang Sabina tanpa ampun. Tentu saja, Sabina telah mempelajari bahwa Tiffany hanya menyerang pada titik di dadanya saja, dan kini Sabina jauh lebih cerdik dari dirinya.

Saat Tiffany hendak mencakarnya, sabetan daga di tangan kiri Sabina melukai punggung Tiffany, dan yang lain menusuk pahanya dengan gerakan yang cepat. Tiffany mengerang, terkulai di atas lantai putih di mana darah segarnya saling berhamburan.

Sabina menghampiri Tiffany, berdiri di sampingnya selagi menunduk melayangkan cemooh dari tatapan matanya. Sepasang daganya digenggam erat sementara ia mengatur napasnya yang sempat terengah-engah.

“Kau tak perlu merengek seperti itu, Tiffany. Kau adalah penguasa wilayah Selatan. Kurasa kekuatanmu akan membangkitkanmu dalam waktu kurang dari satu jam,” ucap Sabina. Ia mengangkat kedua daganya untuk membiarkan darah pada pisau tajam tersebut mengalir dengan lambat menuju pergelangan tangannya. “Meskipun kami hanyalah duyung-duyung terkutuk, Dolca dan juga Sviesa adalah yang terhormat di antara kami semua. Dan mereka tak akan pernah memohon pengampunan dari burung terkutuk sepertimu.”

Lalu Sabina menendang wajah Tiffany hingga wanita itu meringis kesakitan. Daga di tangan kirinya diayunkan dengan lihai sebelum Sabina mendaratkan sebuah tusukan di bahu Tiffany.

“Sungguh menarik, bukan?” Sabina melepas tusukannya dan membuat Tiffany menjerit, “seekor vermilion sepertimu memiliki sebuah kelemahan,” imbuhnya.

Dengan tubuhnya yang masih bergetar hebat, Tiffany mengayunkan tangannya yang lemah untuk menjangkau Sabina, dan Sabina menepisnya dengan tendangan di kakinya. “Bahkan Taeyeon, pemimpinmu, memohon perlindungan dari Leeteuk atas segala keserahanmu.”

“Kau tak akan pernah mengerti apa yang telah kulalui selama ini sebagai bagian dari penguasa Selatan,” cecar Tiffany dengan suaranya yang tak lagi angkuh seperti sebelumnya.

“Aku mencoba untuk mengerti, Tiffany. Bagaimanapun juga, aku dan dirimu adalah sama-sama seorang wanita,” Sabina menyeka darah di kedua daganya dengan penutup wajah yang sejak tadi membalut punggung tangannya, “namun aku tak akan membunuh atau memusnahkan habitat lain hanya demi merangkai sebuah alur keji untuk menguasai dunia,” kemudian ia menyimpan daga-daga itu ke dalam kantung celananya.

Tiffany mengedipkan matanya yang mulai mengabur, “Kau hanyalah seekor duyung yang tak mengerti kehidupan di daratan,” gumamnya.

Sabina memperbaiki postur tubuhnya dengan mengokohkan kedua kakinya, mengeratkan kepalan di kedua tangan sementara ia menunduk untuk menatap Tiffany yang tergeletak tak berdaya. “Namaku adalah Sabina Mara, Tiffany, dan aku bukanlah sekedar duyung gorgona,” lalu ia menyepak wajah Tiffany dengan sepatu botnya yang kotor, menjadikan Tiffany tak sadarkan diri dalam waktu singkat.

Yakin bahwa Tiffany telah berada di alam bawah sadarnya, Sabina melucuti pakaian Tiffany yang bersisik untuk melindungi tubuhnya dari udara di dalam lorong. Setelah melepas pakaiannya sendiri dan mengenakan pakaian dan tudung bersisik, Sabina berlari menuju Sviesa tanpa berpikir panjang.

Menggunakan daga yang diberikan Hyuk Jae, Sabina mencoba membelah rantai yang menjerat Sviesa dengan mengayunkannya beberapa kali. Setelah berhasil melepasnya, ia menarik tubuh Sviesa ke atas lantai, melepas pakaian bersisik yang ia rampas dari Tiffany untuk melindungi tubuh Sviesa yang mulai terbakar oleh udara panas yang kasat mata.

Pandangan Sabina berkeliaran di sekeliling ruangan di bawah kubah. Ia sama sekali tak menemukan semacam tombol maupun pengendali yang mampu menghentikan udara ajaib itu agar berhenti menyuluti ekor Sviesa dan juga kulitnya yang terbuka. Dinding di sekitarnya begitu polos tanpa jendela. Tertatih-tatih, ia mencoba membuka kenop pintu merah pada paviliun. Namun pintu tersebut terkunci dengan rapat.

Tangis Sabina kemudian membludak. Ia mengusap wajah pucat Sviesa yang masih tak sadarkan diri di dalam pelukannya. Kulit keduanya mengering dengan begitu cepat, dan Sabina mulai merasakan ujung rambutnya mengeluarkan asap.

Saat Sabina mengumandangkan sebuah lagu untuk Sviesa, kubah di atas kepalanya meredup seolah terhalang oleh sesuatu. Ia mendengar bunyi derit dari pintu merah yang terbuka dan udara panas yang membakar tubuhnya tak lagi menusuk-nusuk.

“Sudah lama kuinginkan seseorang untuk memukul wajahnya hingga dipenuhi lebam seperti itu.”

Sabina menyeka air matanya, menemukan seorang wanita dengan rambut pendeknya yang bergelombang mendekati untuk berjongkok di hadapannya. Sabina merogoh daganya dan mengarahkannya tepat di hadapan wajah si wanita.

“Aku berada di pihakmu, jadi kau bisa turunkan ujung pisau itu dari wajahku,” wanita itu tersenyum, senyum yang memancarkan ketulusan.

Lalu Sabina mendengar suara ringkih dari arah pintu utama. Ia menoleh, menemukan Lee Hyuk Jae dan Lee Donghae dari kejauhan. Keduanya berlari untuk menyusuri lorong gelap yang memisahkan ruangan yang memisahkan mereka.

“Dan kalian berdua sangatlah lambat!” pekik si wanita pada Hyuk Jae dan Donghae.

“Terima kasih, Yoona,” ucap Hyuk Jae pada si wanita. Ia melepas jaketnya untuk melindungi tubuh Sabina yang terbuka.

“Taeyeon memberitahuku mengenai rencana kalian. Jadi aku segera terbang untuk mencari keberadaan kalian. Beruntunglah kutemukan Hyuk Jae dan Donghae di menara bagian timur. Aku benar-benar tak tahu-menahu perihal penculikan ini,” si wanita mendekati Sabina untuk menyentuh ekor Sviesa yang berubah gelap.

“Sviesa—” suara Sabina tercekat, menatap Hyuk Jae dengan matanya yang sembab.

“Aku tak akan bisa membawanya terbang. Kau tahu itu,” ucap Yoona.

Kemudian seseorang muncul di tengah lorong yang gelap bersama partikel nomenos yang selalu setia mendampinginya.

“Tapi aku bisa,” ucap Kai, menghampiri mereka dalam sekejap mata.


Terkecuali Yoona, Kai membawa mereka berteleportasi menuju pantai di Pulau Duco, wilayah Utara. Terik matahari yang semula menghiasi langit biru pada siang hari seketika berubah kelam dan tak bersahabat sore ini. Ombak menggulung-gulung di tepi pantai yang dihiasi batu-batu karang tajam. Pasir putihnya berubah keruh, dan angin laut dari samudera gorgona berkecamuk menghempas pohon-pohon kelapa di tepian.

Credit: Pinterest

Dibantu oleh Hyuk Jae dan juga Donghae, Sabina mengajak sepasang pria itu untuk membawa tubuh Sviesa ke bagian pantai yang lebih dalam. Kai hanya mengamati dari kejauhan, enggan untuk sekedar menawarkan diri demi menjaga perasaan Sabina yang sedang bergejolak dirundung kesedihan.

Air laut telah mencapai pinggang mereka. Hyuk Jae dan Donghae saling berhadapan, sedikit menunduk agar tubuh Sviesa terbungkus ombak yang nyaris meruntuhkan kaki mereka untuk tetap berdiri. Sabina, sambil membekap sepasang telinga Sviesa, menundukkan kepala dan berbisik menyanyikan sebuah lagu yang tak dimengerti Hyuk Jae.

Bibir Sabina menyentuh kening Sviesa, kemudian duyung itu mengerjap menghela napas panjang hingga dadanya naik-turun. Hyuk Jae dan Donghae mengeratkan dekapan mereka saat ekor Sviesa mengepak-ngepak di dalam air. Duyung itu membelalakkan sepasang matanya yang mendadak berubah hitam pekat.

Sabina tersenyum, masih mengumandangkan sebuah lagu yang ia pelajari dari para duyung pria sebagai lantunan penyembuh. Kulit Sabina yang mengering dan ujung rambutnya yang semula nyaris terbakarpun berangsur pulih. Namun tidak bagi Sviesa. Meski Sabina menekan telapak tangannya di dada Sviesa yang kurus, lagu tersebut tak bekerja dengan baik untuk menyembuhkan berbagai luka dan ekor Sviesa yang hitam.

“Usahamu tak akan berhasil, Sabina,” Sviesa menyentuh pergelangan tangan Sabina dengan jemarinya yang hanya terbalut kulit berkeriput. Kuku-kukunya rontok, dan buku-buku tulangnya nampak jelas sekaligus rapuh.

Sabina menggeleng, menyeka air matanya sebelum jatuh membentuk mutiara-mutiara violet saat menyentuh air laut. “Maafkan atas keterlambatanku, Sviesa,” ucapnya lirih, kembali bernyanyi sambil menekan dada Sviesa dengan denyut yang lemah.

“Aku tahu kau akan datang,” gumam Sviesa, sebisa mungkin menarik tangan Sabina di dadanya agar ia menghentikan lantunannya.

Donghae menyuruh Sabina untuk berdiri di tepi kirinya sementara ia mengangkat ekor Sviesa yang semakin menghitam. Ketika Sviesa meletakkan telapak tangan Sabina di wajahnya, duyung itu hanya mampu membentuk sejumput gerakan pada ujung bibirnya. Kulit wajahnya telah mengering, tirus di pipinya membuat tulang di wajahnya menyembul.

Sejenak Sviesa memerhatikan wajah Hyuk Jae dan juga Donghae, lalu matanya melirik ke arah pantai, terhenti pada sosok Kai yang masih berdiri kaku di atas pasir kering. Sviesa mengangkat tangannya yang kurus, jemarinya bergerak mengajak Kai untuk mendekat.

Dalam satu jentikkan jari, Sang Pengalih Materi muncul di tepi ekornya. Dan hal itu tak lagi mengejutkan mereka.

“Apakah kau sudah memberitahunya mengenai Do’a Kegelapan?” tanya Sviesa, dengan kata yang terpotong-potong mengingat dirinya masih kesulitan untuk bernapas.

Kai hanya mengangguk dalam diam.

“Mengapa kau berbohong pada vermilion itu bahwa do’a tersebut hanya mampu dinyanyikan oleh kita berdua secara bersamaan?” kali ini Sabina menggertak tanpa melepas sentuhannya di wajah Sviesa.

“Aku butuh waktu,” ucap Sviesa lirih, “untuk menemuimu, agar do’a ini tak akan mati bersamaku,” imbuhnya.

“Tindakanmu hanya membuat mereka semakin menyiksamu seperti ini,” tangis Sabina kembali menjadi-jadi. Ia berbisik lagi di telinga Sviesa untuk menyanyikan lantunan penyembuh.

“Dan waktuku tidak banyak, Sabina,” ucap Sviesa. Ia menggapai wajah Sabina, menyuruh adik tercintanya untuk menatapnya, “Lagipula, aku tak ingin ingatan terakhirmu denganku adalah saat kita berdua saling beradu pendapat,” suaranya tercekat, dadanya bergerak naik-turun dan membuat Sabina berubah cemas.

“Maafkan aku, maafkan aku,” Sabina meracau di antara lagunya yang kini terdengar berantakan.

Sviesa lagi-lagi tersenyum, mengusap air mata Sabina yang tak kunjung mereda. “Mari kita pergi,” ajaknya, kemudian melayangkan senyumnya yang ketir pada Hyuk Jae, Donghae dan Kai secara bergantian.

Sabina mengangguk pasrah. Sambil mendekapnya dalam sebuah pelukan, ia membawa serta tubuh Sviesa menerjang ombak yang masih menggulung-gulung tak terkendali, memasuki kedalaman yang lebih gelap di samudera gorgona yang membentang di hadapan mereka. Tanpa berpamitan, Sabina berlalu meninggalkan Hyuk Jae dan Donghae di tengah kekalutannya.

Dan setelah Sabina dan Sviesa menghilang dari pandangan mereka, ombak dan angin laut yang menderu-deru tiba-tiba berubah tenang dan damai. Awan gelap tak lagi menaungi mereka, dan dari ujung horizon, sinar oranye yang pekat muncul menyinari Pulau Duco. Tenggelamnya matahari sore itu membuat ketenteraman melingkupi mereka yang mulai berjalan menuju pantai yang lebih dangkal.

“Tak kusangka kau akan datang menolongnya,” ucap Hyuk Jae di tengah langkahnya yang berat, “tapi kau telah membunuh banyak orang, Kai,” imbuhnya, menoleh pada Sang Pengalih Materi untuk mengacu pada para penjaga dan beberapa pekerja yang bergeletakan di dalam pabrik—yang telah dibunuh oleh Kai dalam sekali tusukan.

Kai membalas tatapan Hyuk Jae tanpa mengintimidasi, “Mereka juga telah membunuh penduduk kami lebih banyak. Hal itu tidaklah seberapa,” ia membela diri.

“Dendam hanya akan menjerumuskanmu kepada kebencian yang tak kunjung padam,” Hyuk Jae berkata sembari menatap matahari yang mulai menghilang di telan malam.

“Cerita ini adalah tentang dirinya—Sabina, dan bukan tentang diriku,” Kai kembali membela diri.

Ia melangkah ke hadapan Hyuk Jae dan Donghae. “Terima kasih karena telah menjaganya, Suju1 Lee,” kemudian membungkuk memberikan sebuah penghormatan.

Tak lama setelah itu, sebuah kapal layar muncul dari balik lembah di sebelah kiri Pulau Duco. Bersama Sehun, Sang Pengendali Angin, dan beberapa pengawal berseragam kerajaan EXO, mereka mengajak Hyuk Jae dan Donghae untuk kembali ke wilayah Timur, kerajaan Super Junior.

…bersambung…

Suju : gelar bagi para penguasa wilayah Timur, Super Junior