Sinfully Sweet

Ia mengangkat kerah jaket sepanjang lutut untuk menyembunyikan lehernya yang terbuka. Pun udara malam yang berkeliaran di sepanjang jalan sempit di sampingnya ikut menghalau rambut panjangnya untuk melindungi sepasang telinganya yang nyaris membeku.

Sekali lagi, pandangannya berkeliaran di sekitarnya. Masih ada beberapa orang yang belum menyerah untuk saling berderet di balik punggungnya. Sementara itu, tersisa satu orang saja yang memisahkannya dengan pintu utama pada toko permen dimana tanda ‘Tutup’ yang menggantung di sana menyala kehijauan.

Lampu-lampu pada ruko di sepanjang jalan telah meredup. Ia mendongak, mengamati nama yang terbentuk dari neon putih pada toko permen dimana sorotnya sesekali berkedip dengan warna yang muram.

Sinfully Sweet.

Ia mendengus sambil menyeringai. Tak disangka pemilik toko tersebut memilih nama yang begitu norak sekaligus memalukan.

Seseorang kemudian muncul dari dalam toko dengan wajahnya yang sumringah, dan wanita tua di hadapannya memasuki tempat itu setelah sepasang pria berkaus hitam yang mengapit pintu utama mengijinkannya.

Sambil mennyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku jaket, iapun menunduk, mengamati stiletto merah falu yang sangat disukainya. Di antara mereka yang sedang menunggu, hanya dirinya saja yang nampak bersih dan rapih. Selebihnya, jika bukan gelandangan, mereka adalah golongan orang-orang tua yang rapuh nan layu. Namun ia tak peduli dengan latar-belakangnya. Tak ada perbedaan antara dirinya dan mereka yang sedang berbaris di sana. Mereka memiliki tujuan dan keinginan yang terpendam, sama seperti yang ia dambakan.

Wanita tua itu keluar sambil tersenyum mengamati kantung putih yang digenggam erat oleh tangannya yang bergetar. Saat si tua melewatinya, wanita itu menunjukkan sepasang matanya yang melengkung membentuk bulan sabit.

“Semoga berhasil,” ucapnya, kemudian berlalu tanpa menerima sebuah anggukan dari dirinya.

Sepasang pria berkaus hitam itu membuka pintu lebih lebar, dan tanpa berpikir panjang iapun memasukinya.

Credit: Pinterest

Ruangan tersebut diterangi oleh satu-satunya lampu yang tenggelam di pusat langit-langitnya yang tinggi. Sekelilingnya di cat putih, begitu pula rak-rak kayu di sebelah kiri dan kanannya. Semuanya tertata dengan rapih, termasuk toples-toples kaca yang ditempeli stiker kotak berwarna putih dengan garis-garis hitam pada tepiannya.

“Selamat datang,” seorang pria di balik konter di hadapannya menyambut dengan senyum yang kaku. Sudut bibirnya berkedut-kedut, seolah sambutan hangatnya itu hanyalah sebuah rayuan palsu.

Sebuah jam antik yang menguasai dinding di balik punggungnya mendengungkan suara tajam nan pendek pada tiap detik yang berlalu. Bunyi teratur yang berulang-ulang itu seolah menghipnotisnya. Sementara sepasang jendela tinggi yang mengapit jam dinding menyinari cahaya putih yang menyilaukan; seolah memikatnya untuk semakin mendekat.

Ia berjalan mengikuti alunan detak jam yang berongga. Setelah melewati tanda oktagon di tengah lantai, iapun menegakkan bahu untuk berhadapan dengan si pria. Dagu dan rahangnya mengeras membentuk sudut yang istimewa.

“Nama,” pria itu berucap setelah mengeluarkan sebuah tablet untuk mencatat.

Ia tidak menjawab, justru menunjukkan kartu identitas padanya di tengah bungkam yang menguasai mulut dan bibirnya.

Pria itu melirik sejenak kemudian menyalin nama dan informasi lainnya tanpa menolak.

“Ingatan apa yang ingin kau hidupkan kembali, nona?” tanya si pria, tangannya terbuka untuk mencengkeram masing-masing tepian konter yang transparan, menunjukkan padanya berbagai permen berwarna-warni berbentuk pil sebesar buku jempolnya.

“Sesuatu yang indah, namun mengerikan; sesuatu yang menyenangkan, namun juga menyakitkan,” jawabnya, tanpa berkedip, memerhatikan potongan rambut si pria yang begitu pendek seperti mangkuk yang menelungkup di bagian puncak kepalanya.

Pria itu tersenyum, “Aku tahu persis apa yang kau butuhkan,” kemudian menggeser pintu kaca pada konter setelah mengenakan sarung tangan vinil untuk membalut jemarinya yang kurus. Ia menunduk untuk meraih permen di lantai terbawah.

Pria itu menyelipkan sebuah permen ke dalam kantung plastik yang jernih lalu meletakkannya di atas konter yang memisahkan keduanya. Permen itu bukan hanya dilapisi satu warna saja, melainkan gabungan dari warna merah, biru, hitam, dan putih. Seperti warna galaksi di alam semesta.

“Hasilnya akan bergantung pada seberapa besar keinginanmu untuk mewujudkannya,” jelasnya, kemudian memasukkan permen tersebut ke dalam kantung putih dari kain linen yang lembut. Tak lupa, ia melipat sepotong kertas berisi petunjuk dan juga efek samping bagi para pelanggannya.

Ia menolak penjelasan lain yang dikumandangkan oleh si pria dengan merampas kantung tersebut dan meninggalkan secarik cek dengan angka nol yang cukup panjang. Tak peduli meskipun pria itu memperingatinya untuk mematuhi petunjuk di dalam kantung sebelum mengkonsumsi permen ajaib yang diciptakannya.

Kemudian ia berlalu dengan membanting pintu utama hingga pria tua yang berada di barisan terdepan menjingkrak karena terkejut. Setelah mencapai mobilnya yang sengaja diparkirkan beberapa blok dari lingkungan yang kumuh tersebut, ia sengaja melaju secepat angin menuju satu tempat yang selalu ia kunjungi setiap Kamis malam.

Setelah mengendarainya dengan membabi-buta, ia menginjak rem hingga roda mobilnya menimbulkan bekas hitam pada lapisan aspal yang rata. Tak ada siapa-siapa di sana mengingat malam telah melelapkan berbagai insan dan meredupkan hiruk-pikuk kota yang selalu membuatnya sakit kepala.

Ia berjalan menuju sebuah bangku panjang, duduk di sana untuk mengamati gedung-gedung tinggi di bawah pelupuk matanya. Bangku tersebut nampak kotor, dan rumput-rumput liar menunjukkan bahwa tempat tersebut tak lagi dijaga dengan baik. Waktu telah melupakan bukit yang menjadi saksi mata dari kasih yang selalu diberikan olehnya, dan waktu pula telah memupus kenangan terbaiknya.

Ia kemudian merogoh saku jaketnya, melepas tautan simpul sederhana pada kantung putih yang ia tunggu-tunggu sejak tadi. Permen berwarna galaksi itu ia letakkan di atas telapak tangannya. Sepasang matanya sejenak menerawang untuk menggali kembali ingatan yang didambakannya sambil berbisik menyebut namanya berkali-kali.

Permen tersebut lalu dikulum dalam mulutnya, membiarkan percikan-percikan yang menggelitik sendi di wajahnya menjalar hingga mencapai ubun-ubun. Sepasang matanya sengaja dipejam kuat begitu percikan itu menyerang dadanya. Sambil memeluk tubuhnya sendiri, ia kembali mengiangkan nama kasihnya hingga ia menjerit menahan pedih di kedua matanya.

Percikan tersebut mendadak pergi setelah meninggalkan getar di sekujur tubuhnya.

Ia menunduk, memukul-mukul dadanya yang berdenyut-denyut. Matanya berkedip-kedip untuk mengusir silau yang mengganggu penglihatannya—silau yang sama tiap kali ia tak sengaja menatap pantulan sinar matahari di siang hari.

Saat ia mendongak, sorotnya yang berangsur normal mendadak sendu, menemukan sosok yang didambanya tengah berdiri di hadapannya, melayangkan secarik senyuman yang begitu dirindukannya. Tak kuasa menahan segala kerinduan itu, ia beranjak untuk mendekapnya meski pada akhirnya tubuhnya malah terjatuh di atas tanah yang becek.

Sejenak ia mengaduh, kemudian mendongak lagi untuk memperhatikan lebih seksama pada sosok yang hanyalah merupakan sebuah bayangan saja.

“Kembalillah,” ucapnya lirih, menghiraukan tangis—yang selalu dikurung dibalik wajahnya yang tegas—yang kini meledak tak menentu, terutama saat bayangan tersebut berlutut di depannya, menjulurkan tangannya yang nampak kokoh untuk meraih wajahnya yang sembab.

“Aku sendirian,” gumamnya, tak peduli apakah bayangan tersebut tak mampu mendengarkan penderitaannya.

Dan pria itu lagi-lagi hanya tersenyum.

Ia menyeka air matanya yang saling berjatuhan. Pria itu masih sama seperti terakhir kali diingatnya; rambut hitamnya terbelah di tepi kanan setelah disisir dengan rapih, pupilnya yang hitam menghiasi sepasang matanya yang bulat, dan saat pria itu tersenyum, sepasang lesung di pipinya terukir dengan indah pada wajahnya yang maskulin.

Sambil mengendalikan pilu di hatinya, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah pada sosok pria yang fana. Namun bayangan tersebut memudar seiring permen yang dihisapnya telah habis dikonsumsi.

Ia berubah panik, menyebutkan sumpah-serapah untuk memaki udara hampa di sekelilingnya.

Dengan berbagai ketakutan yang tak terkendali, ia kembali menuju toko permen yang kini digembok rapat tanpa warna neon yang menyala. Dan selain dirinya, orang-orang lain telah menunggu lebih dahulu, tak sabaran dan saling berpencar di sekitar gang tersebut; letih, kotor, bahkan beberapa di antara mereka kelihatan seperti kehilangan akal mereka sendiri.

Ia tak peduli. Karena itu iapun menunggu dengan duduk di atas trotoar yang basah.

Ia akan melakukan cara apapun agar sang belahan jiwa kembali padanya; hingga kekayaan tak lagi dimilikinya, hingga usia berlalu menelan kekuatannya, dan hingga waktu perlahan membunuhnya.

***