Emergency Landing

Suaranya yang rendah menderam di dalam tenggorokannya yang kering sementara jemarinya yang kotor meremas lutut, memaksanya untuk berdiri. Dagunya terangkat, memberi perintah pada kepalanya yang pening untuk mengamati sekelilingnya.

Betapa terkejutnya Do Kyungsoo saat ia menyadari tempat itu diselimuti oleh awan merah yang membara. Tanah yang dipijaknya tak lagi bersahabat—hitam dan mengeras seolah bumi tak bisa lagi dikendalikan oleh kekuatannya.

Ia mengusap butir-butir kasar di atas permukaan tanah yang bergerindil, merasakan kehangatan akibat lahar dari inti bumi yang timbul dan saling bergejolak melepas gairah mereka untuk menghanguskan apapun yang dilewatinya.

“Sebut namaku tiga kali jika kau mendengar suaraku, Do Kyungsoo.”

Suara yang nyaris terputus-putus itu muncul dari sepasang earpiece yang terselip dengan baik di lubang telinganya, membuat Kyungsoo menoleh untuk menatap udara hampa di balik tubuhnya karena terkejut.

Shut up,” jawabnya, kemudian mendengar seberkas kekeh dari tawa Xiumin yang terendam oleh potongan bunyi statis yang menjengkelkan.

“Dimana posisimu sekarang?” tanya Xiumin lagi, “pod pengamanku hancur menerjang bukit,” lalu ringkihnya mengusik telinga Kyungsoo saat ia tak sengaja menginjak bangkai hewan yang lembek mengotori sepatu bot hitamnya.

Saat Sang Pengendali Embun Beku itu terus mengucap berbagai makian di seberang dunia, sesekali Kyungsoo menangkap hembusan angin dan gemuruh yang menenggelamkan suara Xiumin secara bersamaan. Ia kembali memindai tempatnya berpinjak. Semuanya nampak rata. Dari ujung sepatu bot hitamnya hingga ke garis horizon di penghujung mata, samudera dan daratan kini berubah menjadi kacau-balau. Keduanya bercampur-aduk hingga daerah ini tak lagi layak untuk ditinggali.

“Akupun tak tahu,” jawaban Kyungsoo dilingkupi oleh cemas yang berkepanjangan.

Biasanya, pesawat yang mereka gunakan dapat menembus arus udara yang kasar pada lapisan atmosfer bumi. Setelah menerima sinyal darurat dari Suho, keduanya kembali setelah menyelesaikan ekspedisi mereka ke Planet-1485, meninggalkan berjuta tanya saat kedatangan mereka diserbu oleh kabut tebal dan petir yang bergejolak, membuat keduanya terpisah akibat pendaratan darurat di tengah kekacauan di angkasa.

“Bagaimana dengan kondisi di sana?” Kyungsoo balik bertanya selagi berjalan menapaki tanah hitam yang berkerikil.

“Gelap, disertai sinar biru dan keunguan yang berkeliaran di langit yang berkabut,” suara Xiumin kini lebih tenang dari semula, “tak kusangka dunia ini kini menjadi berantakan semenjak kita berdua menjelajahi semesta dua tahun lalu.”

“Kita harus segera menemukan yang lain sebelum Red Force menghancurkan yang tersisa,” ucapan Kyungsoo dilayangkan dalam sekali hembusan napas.

Udara hampa yang melingkupi tubuhnya mendadak lembab. Kyungsoo mengeratkan jemarinya selagi mengayunkan tangan dalam sebuah tarian singkat. Ia menggerutu karena tanah hitam di bawah pelupuk matanya tak mampu ia kendalikan untuk melindunginya. Awan yang membara di atas kepalanya mendadak bergerak tak menentu. Ia sama sekali tidak menyukai keadaan itu.

“Oh, tidak,” gumam Kyungsoo saat ia menyadari sesosok pria muncul di antara bara api dari kejauhan.

“Apa?” Xiumin berteriak di telinganya, “Do Kyungsoo, apakah kau baik-baik saja?”

Bibir Kyungsoo bergetar saat sosok itu berjalan dengan langkahnya yang tegas, menerobos lahar seakan-akan percikan api pada batuan cair yang panas itu menjilati sepasang kakinya yang telanjang.

Sosok itu dimiliki oleh seorang pria; pria yang begitu dikenalnya dengan baik.

Kyungsoo sama sekali tidak membiarkan sepasang matanya yang gelap untuk berkedip, sekedar untuk berjaga-jaga karena pria itu semakin mendekatinya—menatapnya tajam bersama api yang berkibar-kibar di sepanjang lengannya yang kokoh. Tatapan itu jauh lebih mengerikan, seakan-akan pria itu siap menelan Kyungsoo dalam sekali tegukan.

Hal itu membuat Kyungsoo bertanya-tanya, apakah bagian dunia ini telah porak-poranda akibat api sharon yang dikuasai oleh sosok tersebut.

“Park Chanyeol?”