Two Sides

Baekhyun mengerang dalam sebuah rintihan, mengusap pelipis yang masih berdenyut-denyut menghantarkan nyeri menuju saraf-saraf di kepalanya. Pandangannya yang mengabur perlahan berangsur pulih, kelopaknya berkedip lambat bersama napasnya yang pendek.

Pupilnya yang semakin gelap bergerak kian-kemari, terhenti sejenak di sudut matanya untuk mengintai kesunyian yang menaunginya sejak tadi. Masih diserang oleh ngilu di kepalanya, Baekhyun memilih untuk berbaring di atas lapisan es dimana dinginnya menyengat hingga ke seluruh pori-pori tubuhnya yang pucat.

Sambil menyeka keningnya yang basah, Baekhyun menerawang memerhatikan langit luas yang membentang di atas sana. Ia mengamati telapak tangannya yang lembab, mengerutkan dahinya saat menemukan cairan biru yang berkilauan menghiasi keningnya yang perih.

Suara statis yang tak beraturan kemudian mengusik ketenangannya. Baekhyun meraba-raba tangannya yang kotor untuk mencari sumber suara, meraih sebuah radio sebesar genggaman tangannya yang tergeletak di bawah kakinya.

“Kai, apakah ini suaramu?”

“Syukurlah, kau baik-baik saja,” ucap pria dengan suaranya yang sengau sekaligus semanis madu yang mengaum di antara bunyi keritik yang menggangu, “sepertinya kita semua telah terpisah satu sama lain,” imbuhnya, dan bunyi yang mendesis-desis itu kembali mengusik suara Kai yang kini hanya berupa potongan-potongan tak beraturan.

Baekhyun mengerang, mencoba untuk mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas lapisan es yang dipijaknya. Tatapannya penuh pengawasan, mempelajari sekelilingnya yang hanya dikepung oleh bukit-bukit es serta genangan air yang tenang.

“Kai, aku tak mampu menangkap celotehanmu,” Baekhyun sengaja memekik karena suara Kai semakin timbul-tenggelam tak menentu.

“Tak ada yang mampu menangkap sinyalku selain dirimu, Baekhyun. Dan aku tak tahu dimana koordinatku sekarang,” rutuk Kai, tak kalah memekik darinya.

Baekhyun lantas termenung, mengingatkannya kembali pada pertarungan mereka dengan X-EXO sebelum Red Force tersebut mengalahkan mereka, memaksa anggota EXO untuk melarikan diri dari bumi yang menjadi tempat persembunyian mereka selama ini. Sementara itu, Baekhyun pun masih belum mengerti bagaimana ia dapat terasingkan di tempat ini. Pesawat mereka diserang sebelum berhasil membawa mereka pergi melompati ruang-ruang di alam semesta, hingga akhirnya Suho memutuskan untuk berpencar, meninggalkannya sendirian di planet antah-berantah.

“Bagaimana keadaan di sekitarmu?” tanya Kai. Sinyalnya lebih baik dari semula.

“Hening,” jawab Baekhyun singkat selagi meneliti berbagai warna di tengah muram yang mengerikan, “langitnya diselubungi oleh awan merah yang pekat nan gelap,” ia melanjutkan dengan menginjak-nginjak lapisan es yang tangguh di bawah bayangan tubuhnya, “dan tempat ini dilindungi pula oleh dingin yang kekal.”

“Di sini begitu kering dan gersang. Saat ini ku hanya dikelilingi oleh padang pasir yang berdebu,” Kai lalu terbatuk-batuk, “anginnya begitu kencang dan tak ada apapun selain bebatuan yang berserakan,” imbuhnya, mengijinkan berisik angin menguasai radionya.

Statis yang panjang selanjutnya menghalangi ucapan Kai, membuat Baekhyun menyerah untuk sekedar menghela napas. Belum lagi kepalanya yang pening masih bercucuran cairan biru yang berkilauan.

Saat Baekhyun menoleh untuk memeriksa hembusan angin yang berlalu di balik pundaknya, ia menemukan siluet seseorang tengah berdiri pada gundukan es yang melayang-layang di atas permukaan air, mendekatinya secara perlahan seolah terdapat sepasang roda yang mengendalikannya. Di bawah awan gelap, Baekhyun tak mampu mendeteksi siluet tersebut hingga bayangan yang dimiliki oleh seorang pria itu meloncat ke atas lapisan es yang sama—dimana dirinya tengah berdiri.

Baekhyun terkejut, menyadari bahwa sosok tersebut tengah menatapnya dengan sebelah pupil matanya yang memutih—sementara pupil lainnya tenggelam dalam kegelapan. Sosok itu mengenakan pakaian yang sama putihnya dengan es di sekitarnya.

“Kai, bukankah Suho sudah mengirimkan sinyal darurat pada Do Kyungsoo dan juga Xiumin?” Baekhyun mencoba untuk berkomunikasi kembali namun tak ada jawaban dari Kai selain suara statis yang menyebalkan.

Pria di hadapannya menatap dengan ekpresi yang datar. Rambutnya yang hitam berayun ringan saat tangannya mengepal, mengubah udara lembab di sekitar jemarinya menjadi sebilah daga dari potongan es yang berkilau keperakan.

“Xiumin?” Baekhyun mengajukan tanya tersebut meskipun jauh di dalam hatinya ia mengetahui dengan baik bahwa tatapan keji itu bukanlah yang dimiliki oleh pria yang menjadi bagian dari anggota EXO.