Last Signal

Sehun seketika membelalakkan mata, mengenyahkan mimpi yang terus mengusik alam bawah sadarnya sejak kesadarannya menghilang. Ia sejenak termenung, mengamati kumpulan awan di angkasa yang membentuk selimut abu yang begitu rapat.

Sialan, ia mengutuk di dalam hati.

Pria itu mengerti bahwa pendaratan darurat yang terpaksa diputuskan oleh Suho akan berakhir tidak keruan. Terbukti dengan spekulasi yang dikemukakan oleh Baekhyun—yang disetujui pula oleh dirinya dan juga Jongdae—mengenai kondisi pesawat mereka yang tidak sempurna serta kemungkinan kecil akan keselamatan mereka.

Dan mereka kini tercerai-berai.

Sehun kemudian mengaduh saat mencoba untuk membangkitkan diri, menemukan tubuhnya yang basah terbengkalai di atas genangan air hitam yang tenang. Rambutnya yang lepek disisir ke belakang, membuat jemari rampingnya semakin basah saat mengenyahkan air dari kegelapan yang memberatkan kepalanya.

Sepasang alis tebal yang dimiliki Sehun saling bergelombang saat ia mengerut. Tak ada siapa-siapa di sekelilingnya; hanya dataran pipih yang digenangi oleh air hitam hingga ke ujung penglihatannya. Sehun tidak pula menemukan pod pengaman yang telah melindunginya saat ia mendarat ke tempat tersebut; tidak pula menggenggam bola kristal berwarna hijau dengan simbol kekuatannya.

Iapun mendadak gelisah. Sepasang tangannya yang hampa lantas meraba-raba tubuhnya.

Sehun mengusap dada menyadari sebilah radio sebesar telapak tangannya tersumbat manis pada ikat pinggang. Senyumnya terangkai di tengah kekalutannya saat radio tersebut menyala dan mengumandang suara-suara statis yang rendah, mengatur pencarian otomatis sementara dirinya meninjau sekelilingnya.

Sehun sekali lagi mendongak. Langit di atas kepalanya masih dipadati awan gelap tanpa memberikan secercah kesempatan bagi matahari untuk menerobos formasinya; mendung, suram, seakan-akan badai hendak turun menerjang kehadirannya. Bukan hanya itu saja, tiba-tiba bola-bola padat bermunculan dari permukaan genangan air hitam dan melayang-layang tak beraturan. Ukurannya berbeda-beda, dengan warna perak maupun hitam legam yang saling tersebar di sekelilingnya.

Keadaan tersebut mengingatkannya pada seseorang yang bahkan Sehun tak sanggup lagi untuk menyebutkan namanya; Sang Pengendali Materi.

Dirundung segala keingin-tahuan, Sehun mendekati bola terbesar di hadapannya lalu menyentuhnya melalui ujung telunjuk. Detik berikutnya, ia menemukan penyajian gambar dari sosok Kai, Sang Pengalih Materi, dimana raut wajahnya yang kebingungan tengah mengamati tempatnya yang dilingkupi oleh daratan dipenuhi batu-batu yang gersang.

Terburu-buru, Sehun mencoba untuk menciptakan sebuah komunikasi dengan Kai melalui radionya. Setelah menyebut namanya berkali-kali, tak ada tanggapan maupun sekilas sinyal yang dikirimkan oleh Kai. Pria itu masih kebingungan, mencari-cari makhluk hidup lain di tengah planet yang dijejakinya.

Sehun berputar menuju bola-bola lain lalu menemukan proyeksi Xiumin, Do Kyungsoo, dan Byun Baekhyun pada ukuran yang berbeda. Ia mencoba sebisa mungkin untuk memanggil mereka namun hasilnya masih nihil; anggota-anggotanya tak mampu menangkap sinyalnya.

Putus-asa, Sehun lantas menuju bola perak yang lebih besar, menemukan Park Chanyeol sedang berjalan seorang diri sambil menggerutu.

“Park Chanyeol,” pekik Sehun pada radio yang digenggamnya.

“Sehun?” suara Chanyeol yang terputus-putus mengaum-ngaum di tengah udara hampa di sekeliling Sehun.

Bersama itu pula, Sehun melihat gerakan yang sama pada bibir Chanyeol dalam proyeksi di lapisan bola perak di hadapannya.

“Aku tak dapat mengirimkan sinyalku pada yang lain selain dirimu,” ungkap Sehun. Suaranya bergetar karena ia mendadak khawatir.

“Dimana kau sekarang?”

“Akupun tak tahu, tapi dengarkan aku,” Sehun memberi jeda untuk mengamati proyeksi Baekhyun pada bola hitam tak jauh darinya yang kini sedang berhadapan dengan sosok Xiumin—meski Xiumin yang sesungguhnya berhadapan dengan Baekhyun yang palsu di planet lain, “jika kau menemukanku di sana, berlarilah sejauh mungkin.”

Suara statis yang tak menentu menghalau ucapan Chanyeol yang membabi-buta pada radionya. Sehun mengerutkan keningnya saat ia melihat Kai tengah berhadapan dengan Park Chanyeol; kepalanya mendadak diserang pening yang berkedut-kedut tak menentu.

“Sepertinya aku menemukan Kyungsoo,” ucap Chanyeol lalu berlari ke satu arah dimana ia meloncat-loncat kegirangan untuk mencapai siluet seseorang tak jauh dari bukit batu yang kandas.

“Tidak, please, jangan pergi, Chanyeol!” Sehun berusaha mencegah Sang Pengendali Api dengan berteriak hingga udara di dalam dadanya mengempis.

Di tengah kegalauannya tersebut, napas Sehun mendadak tercekat di tenggorakannya saat melihat bayangan seseorang menghampirinya. Ia menoleh dengan hati-hati, mengedipkan matanya berulang kali untuk memastikan bahwa ia tak lagi sedang bermimpi.

“Tidak mungkin,” bisiknya lirih.