Sabina Mara: The Violet Mermaid (Chapter 7)

Daga di tangan kirinya digenggam kuat, mengarahkan runcing dari ujung pisau tersebut kepada puncak bukit yang menonjol di tengah kota, tepat di bawah pelupuk matanya, di antara ruang kosong pada dinding tinggi yang tercipta dari bata-bata yang telah dicat putih.

Continue reading “Sabina Mara: The Violet Mermaid (Chapter 7)”

Evidence-Free (ii)

Menjadi seorang kasir bukanlah pekerjaan yang menggairahkan. Kadang Jean hanya mampu mendesah atau menghamburkan sejumput tawa ringan saat berandalan murahan menggodanya di tengah kesunyian pelayanan drive-thru, terutama menjelang malam buta.

Continue reading “Evidence-Free (ii)”

Z.E.R.O “Chapter 01”

MEREKA MENYEBUTKU JAE KARENA SI MUDA KERITING mengenalku— meskipun hanya ingatan kecil yang samar. Namanya Tahiti, gadis belia dengan rambut hitam ikal yang menjadi ciri khasnya.

Continue reading “Z.E.R.O “Chapter 01””

SPY (ii)

 

JENNIFER HANYA MAMPU MEMBAYANGKAN. Sepasang kaki jenjangnya membentuk sebuah pola di dalam ruang vip yang telah disiapkan Victoria untuknya. Ketukan heels membuatnya makin gelisah. Hal yang mampu menenangkannya saat ini hanyalah dengan menciptakan skenario-skenario palsu di dalam benaknya.

Continue reading “SPY (ii)”

SPY (i)

SEINGAT JEAN, POHON PINUS YANG SALING BERJAJAR RAPI DI KEDUA SISI jalan tak beraspal tersebut akan membawa siapa pun ke kaki Gunung Gyeryong saat mencapai titik terujung. Salju berjatuhan cukup lebat melewati ranting-ranting pinus, menutupi jalanan sempit yang menjadi satu-satunya penghubung menuju kota besar yang ia telah lewati satu jam lalu.

Continue reading “SPY (i)”