V FOR VOWED (I)

Ia tidak sedang memakai pakaian berkabung, tak pula mengenakan kain putih dengan wangi melati menyengat―yang membalut serta tubuh ibunya sebelum tanah merah mengubur senyum terakhirnya tahun lalu.

Continue reading “V FOR VOWED (I)”

Dalam Sebuah Pelukan

Tentu saja, ia tergugah. Ini bukan kali pertama Lucy menyadarinya.

Continue reading “Dalam Sebuah Pelukan”

THROUGH THE MIRROR

Satu, dua, tiga… kemudian tak kutemukan lagi sisa daya untuk sekedar menyentuh piringan kecil keempat yang berderet rapih di pusat chiffon pelindung tubuhku. Meski telah kuhirup wangi kamomil yang berbaur dengan rempah menyengat, nyatanya masih terasa ngilu di dalam sana; tepat di pusat titik antara sepasang alis gelapku. Lebih dari itu, setiap kali lelah dan penat datang menghampiri, ada sebuah bayangan di antara cahaya redup yang sengaja―dan selalu―dibentuk oleh akalku.

Continue reading “THROUGH THE MIRROR”

NOSTALGIA

Kutundukkan kepala, mendesah beribu kali menandingi sepoi angin yang berlalu-lalang. Seharusnya aku berucap syukur, bukannya mengobar hati dengan segala rindu yang selalu menusuk-nusuk kepalaku.

Continue reading “NOSTALGIA”

Photo Challenge: “Tanah Air”

I just need to take a moment to look at some portraits: Kuningan, Cirebon, Jakarta, Bali. All those beauties, hustle and bustle, immediately disassembles the wall of dread and loneliness. Tanah air is my other half, my sunlight and the moonlight.

Continue reading “Photo Challenge: “Tanah Air””